Hampir dua minggu semenjak kedatangan Kaito.
Baik Mikuo maupun Miku berusaha tetap bersabar dalam menjalani kehidupan mereka dengan oom-oom pedo di rumah dan mama yang tergila-gila itu. Mikuo berusaha membebalkan telinganya dengan segala ucapan mama yang menyakiti hati. Miku jadi lebih sering pakai earphone atau headphone yang menyambung ke ponsel setiap ia keluar dari kamar, jaga-jaga siapa tahu mamanya kembali membandingkan si kakak-adik Hatsune dengan anak tunggal Shion itu. Entah disengaja atau tidak, keduanya jadi sering mendekam di kamar. Suasana diluar kamar terasa mengintimidasi buat mereka.
Yah, siapa yang mau dibanding-bandingkan seperti itu?
Sebenarnya, baik Mikuo maupun Miku masih menyimpan beban tersendiri di hati mereka - di satu sisi, mereka harus sopan dengan Kaito. Bagaimanapun, dia tamu, bukan? Masih ada hubungan darah lagi. Sudah sepantasnya diperlakukan baik-baik. Tapi, tingkah mama seolah-olah membuat mereka itu anak paling buruk bagi semua orang tua di dunia. Padahal, kalau dirasa-rasa Mikuo dan Miku tidak melakukan hal yang salah atau melanggar norma. Ingin rasanya Miku ngomong terang-terangan di depan mama. Tapi nanti, kalau mama nangis, dia durhaka dong. Belum lagi kalau Kaito kembali menghibur tante tercinta. Salah-salah, Miku diserahkan ke tempat khusus anak-anak bandel.
Gak deh, makasih.
Tapi, kedatangan Kaito ada sisi positifnya juga. Mikuo dan Miku mulai sadar akan hal yang sebenarnya bisa mereka lakukan sendiri. Sehabis makan atau ngemil, mereka mencuci sendiri alat-alat yang mereka pakai. Setiap melihat tong sampah yang sudah penuh, mereka langsung membungkus sampahnya, membuang ke luar dan mengganti plastik untuk tong sampah. Mereka mulai menyapu dan mengepel kamar sendiri (dan kadang-kadang,seluruh lantai dua. Kalau gak mager). Makanan yang bisa mereka masak tak sekedar mie instan atau nasi goreng, tapi tumisan sederhana dan sup dengan bahan seadanya. Bahkan, mereka juga sudah bisa menyetrika dan melipat baju mereka sendiri.
Gak jelek-jelek banget, kan?
Miku hanya mengedikkan bahu saat tak sengaja memikirkan itu. Tapi toh, hatinya tak merespon semudah itu; pikiran ngasal sore hari akhirnya berlanjut sampai malam Minggu menjelang.
Miku mengambil dompetnya, lalu melirik isinya. Wah, lumayan juga - cukup untuk sekedar keliling-keliling cari makan atau nonton film. Sekarang masih jam setengah tujuh,masih dua setengah jam lebih sebelum jam malamnya berakhir. Hm, sepertinya jalan-jalan sebentar boleh juga!
Miku berjalan bosan. Malam ini, di taman kota sedang ada banyak foodtruck. Semua makanannya enak-enak, Miku doyan semua. Hanya sayang, tak semua harganya pas dengan kantong Miku. Ia kan juga harus berhemat, jadi ia tak bisa khilaf belanja banyak disini.
Ice cream pot yang tadi dibelinya sudah tandas. Aduhh, Miku pengen lagi - rasanya enak. Memang sih, waktu pertama kali makan, rasanya seperti makan tanah dan debu - untung Miku sadar itu sekedar biskuit dihancurkan dan bubuk susu. Wafer dan chocochip dengan es krim itu enak sekali, lho.
Aduhh, kalau bukan karena budgetnya terbatas, ia akan beli es krim itu lagi!
Miku berjalan di atas walking track yang berbatu-batu. Langkahnya pelan, pelan, semakin pelan seiring Miku menghitung jumlah kerikil yang ia lihat. Ada yang besar, ada yang kecil, ada yang menonjol,ada juga yang agak tenggelam. Gimana ya cara bikin beginian? Gak capek apa?
Walking track dengan kerikil seperti ini terlihat seperti granola bar dengan kacang dan karamel. Agak lengket dan rempong makannya - tapi enak. Makin lama, pikiran Miku makin ngelantur. Ia makin lengah dengan suasana sekitarnya yang ramai, bahkan ia mulai berjalan ke tempat yang sepi.
Bruk!
"Ah! Maaf!", Miku buru-buru mundur dan membungkuk kepada orang yang ia tabrak. Orang itu, seorang pria berusia duapuluhan tahun, hanya tersentak kaget sedikit, kemudian lanjut tersenyum."Ah, gak papa kok - saya juga minta maaf."
Miku mendongak, melihat siapa yang ditabraknya. Seorang pria berambut ungu panjang yang diikat berantakan berdiri di depannya. Dari pakaiannya, terlihat kalau dia tipe-tipe young adult yang kekinian. Tubuhnya lebih tinggi dan lebih o em ji daripada Kaito. Ia terlihat seperti pangeran para putri raja yang nyasar ke tahun 2015.
"M-Misi!", Miku buru-buru berusaha ngacir kabur, tak enak dengan orang seperti dia. Bahkan dia lebih wangi daripada Miku! Gak deh, lebih baik Miku jauh-jauh dari dia sebelum kalah dengan pesonanya. Lagian, entah mengapa, Miku merasa seperti ada...bad feeling?
Ya, bad feeling. Baru lima langkah ia ngacir, terdengar bunyi zressss yang kencang disusul hujaman air dari langit. Hujan malam Minggu. Alias hujan saat Miku sedang malam Mingguan.
Kurang ajar.
"Ah, sini sini sama saya aja.", laki-laki tadi segera melepas jaketnya dan memayungi Miku. O em jiii! Berasa di drama-drama! Miku membatin senang. Pria itu membawanya ke salah satu gedung sport centre yang masih sepi untuk berteduh disana. Miku tak menaruh curiga, ia ngikut saja karena ia juga sudah sering nongkrong di gedung itu.
Tapi belum pernah bersama pria itu.
Tapi toh gadis inosen (tapi boong) macam Miku, tentu tak berpikir sampai jauh-jauh. Ia segera duduk di salah satu tempat duduk, laki-laki itu duduk di sampingnya. Miku tersenyum manis. Maksudnya sopan gitu. Kan nggak enak, udah diajak berteduh, datar aja mukanya kayak tembok. Laki-laki itu juga balas tersenyum. "Maaf ya dek, tadi saya mendadak narik gitu..."
Oke, cowok ini tidak memanggil dia dengan 'mbak' atau 'neng' seperti mas-mas (hah?), kebanyakan - tapi dengan 'dek'. Dek, singkatan dari adek, bahasa slang dari adik. Adik adalah saudara kakak yang lebih tua. Berarti, secara tidak langsung, laki-laki ini menganggap Miku adiknya!
O em jiii!
"Ah, gak apa-apa kok, kak...", ucap Miku pelan. Astaga, suaranya lembut-lembut unyu gitu, pas sekali! Wah, mereka sepertinya cocok jadi pasangan - yang cowoknya gagah manly, ceweknya lembut dan manis. Mantab jiwa. Apalagi, kisah pertemuan mereka drama-drama banget - jalan buru-buru, yang satu nabrak, terus hujan, cowoknya mayungin pake jaket terus berteduh bareng, ngobrol bareng, keren-keren. Terus nanti Miku sengaja pura-pura lupa nanya nama, dan nongol lagi di taman ini minggu depan, supaya mereka papasan lagi dan menatap satu sama lain.
"Hai! Kamu yang disini minggu lalu ya?"
"Umm...yang mana?"
"Yang kita berteduh bareng itu!"
"Ohh yang itu! Iya itu saya!"
Terus senang.
Terus ngobrol.
Terus kenalan.
Tukeran sosmed.
Deket. PDKT. Jalan bareng. Mulai kenalan ke keluarga masing-masing. Semua orang sudah biasa dengan hubungan mereka. Semua orang akan memprediksi mereka akan menikah.
Terus di friendzone.
Eh jangan! Amit-amit! Miku geleng-geleng sendiri saat khayalannya salah jalan.
Oke oke, bangun! Gak lucu cuma berdua gini terus bengong!
"Kamu ngapain sendirian disini?", laki-laki itu membuka pembicaraan.
"Malem Mingguan. Bosen soalnya di rumah!"
"Nggak ada yang ngapelin nih?"
"Enggak...lagian ada mama di rumah. Gak bisa bebas."
"Bebas? Bebas gimana?"
"Bebas...ya bebas. Bebas berantakin rumah, obrak-abrik dapur, ngabisin isi kulkas..."
Laki-laki bersurai ungu itu tersenyum tipis. Hm, polos juga gadis ini. Agak berbeda dengan teman-temannya yang (mungkin) seumuran dengan gadis ini. Biasanya, anak muda zaman sekarang itu luar biasa kerjaannya - ada yang hatjep, minum-minum, aneh-aneh lah. Dan yang satu ini, hanya jalan sendirian di taman kota - yang notabenenya, agak tidak kondusif untuk dipakai macam-macam jika dibanding dengan kafe atau klub malam.
"Mau saya antar pulang?"
"Hah? Gak usah...rumah saya deket kok, jalan kaki juga nyampe!"
"Tapi kan sudah malam. Kenapa-napa nanti, ribet lagi..."
"Aduhh ntar ngerepotin!"
"Enggak kok. Toh saya juga sendiri, lagi pengen keliling-keliling aja."
Miku terdiam .
"Kita nggak pernah tahu lho, kapan kecelakaan bisa terjadi..."
Bacot banget sih, batin Miku. Tapi sebenarnya nggak salah juga. Nggak ada yang tahu kan, kalau waktu Miku jalan kaki ke rumah, tahu-tahu ada orang iseng nyulik dia? Kalau sama kakak ini kan, setidaknya ada yang bisa melindungi.
Tapi kalau malah dia yang sudah ada niat jahat? Bisa saja kan, katanya Miku mau diantar pulang, tahunya pas sudah depan rumah malah lurusss terus ke tempat yang Miku tidak kenal. Malah tambah berabe lagi! Mending dia jalan kaki terus diculik, seenggaknya pas pulang ke rumah dia tidak disalahkan. Kalau malah dibawa kabur sama kakak ini? Pulang-pulang, bisa dipingit dia. Nggak boleh keluar-keluar lagi.
Umm...please deh, Miku. Kalau dipikir-pikir lagi, nggak ada yang mendingan diantara dua pilihan itu.
"Ahahaha...takut ya saya ngapa-ngapain? Nggak akan kok, dek!", laki-laki itu mengeluarkan sebuah benda dari kantung celananya. Sebuah pisau saku.
Diserahkannya pisau itu pada Miku."Kalau saya ngapa-ngapain, tusuk saja.", laki-laki itu mengambil sebuah ranting yang sudah jatuh tapi masih kuat dan menebasnya. Terpotong rapi.
"Umm...ya sudah, deh...", Miku mengambil pisau itu dan mengikuti laki-laki itu menuju parkiran motor.
"Makasih ya, kak!"
Miku membungkuk sopan. Ya, pada akhirnya, dia selamat sampai rumah.
"Iya, sama-sama. Salam buat papa-mama ya!"
Sopan juga aslinya. Miku tersenyum. "Iya kak! Dahhh!"
Miku dadah-dadah seiring motor itu melaju menghilang dari pandangan.
Jam berapa sekarang? Kalau menurut feeling sih, sekarang sudah sekitar jam sepuluh. Dan benar saja, saat Miku masuk, rumah sudah sepi. Jam segini, biasanya mama nonton tv di kamar. Baguslah, Miku nggak perlu ditanya-tanyain soal 'kemana aja daritadi'. Apalagi, dia sudah melewati jam malamnya. Pasti kalau sampai ketemu, pertanyaannya bakal lebih heboh lagi.
Miku nyelonong ke kamarnya. Bagus, aman. Mama tampaknya asyik nonton, terdengar suara tv yang cukup kencang. Segera ia berganti pakaian dan sikat gigi, menggelung diri dalam selimut.
Jam satu pagi.
Gakupo memasuki klub malam itu sambil memijit-mijit lehernya. Yaampun, jalan raya kalau malam Minggu itu macet sekali. Perasaan, biasanya setengah jam saja sampai. Ini sudah tiga jam! Hampir lepas lehernya tadi.
Segera dihampirinya sebuah meja di pojok, dimana sudah ada tiga orang lainnya duduk santai disana. Seorang diantara mereka menyapa Gakupo. "Hai!"
Gakupo membalasnya dengan senyum tipis." Hai, selamat pagi !"
"Wah, sudah pagi ya...", yang berambut cokelat melirik jam nya."Gimana tadi? Dapet mangsa gak lo?"
Senyum puas terukir di wajah Gakupo."Dapet."
"Kayak gimana? Asyik nih kayaknya!"
"Hmm...pendapat gue sih, dia masih SMA. Mulus, bening. Enak buat diajak main kayaknya. Pendek sih, tapi gue yakin lo-lo pada suka. Masih seger lho."
"Mantapp...udah sampe mana? Enak gak dia?"
"...gue lepas."
Tiga laki-laki yang mendengar jawaban Gakupo menoleh saat itu juga."Lo lepas?"
"Iya."
"Kok lo bego sih?"
"Gak tega gue."
Laki-laki berambut cokelat yang tadi hanya melongo."Yaelah...gue mulai abis stok nih. Bosen malming mesti nyari yang baru lagi."
Yang berambut pink juga menyahut."Gue udah nyiapin banyak, siap kapan aja. Tapi mangsanya yang gak ada."
Gakupo tertawa kecil. Ia menyesap sebuah rokok dan menghembuskan asapnya."Polos banget, bro. Gak tega gue ngajak macem-macem. Udah gue pancing awalnya, tapi dia kayaknya gak nangkep."
Yang daritadi terdiam, langsung buka mulut."Emang kayak gimana orangnya? Kali aja bisa gue lacak."
"Lacak dah, lacak! Mangsa bagus tuh, jangan sampai lepas!"
"Hmm...",Gakupo coba mengingat-ingat."Kulitnya putih, kebakar dikit. Rambutnya teal, irisnya juga teal. Rambutnya panjang. Tingginya...bisa dibilang hampir 160-an. "
Laki-laki yang tadi menanyai Gakupo terdiam mendengar penjelasan Gakupo. Semua yang dideskripsikan Gakupo itu familiar sekali dengannya. Tapi...siapa?
"Rumahnya di deket taman kota."
Oke. Laki-laki itu langsung membulatkan matanya. Sesaat kemudian, ia tertawa lepas.
"Anjir. Napa lo?", si rambut pink mengacak-acak rambut biru laki-laki itu. "Kenapa? Lo udah dapet info? Mantab nih, baru pindah udah bisa lacak mangsa aja!", rambut cokelat menyahut.
"Gue gak usah ngelacak lagi."
"Hah?"
"Gue tahu siapa orangnya. Namanya, semuanya. Easy lah. Minggu depan gue bawa semuanya.
author note
Saya update nya lama ya.
Maaf ya~ belakangan ini banyak kegiatan dan saya jadinya lelah sekali.
Ah iya, untuk idenya, terima kasih ya. Ini salah satu alur ceritanya. Nanti, akan ada surprise loh. Bahkan, kalau kalian peka, surprisenya sudah ada disini *smirk*
Love, Aya.
