Semenjak Sabtu pagi kemarin, Kaito pergi. Dan belum pulang sampai hari Minggunya.
Ia baru muncul siangnya, beberapa jam setelah hujan deras reda. Saat itu, Miku sedang meringkuk di sofa ruang keluarga dengan berbalut selimut pink yang lebar dan tebal. Ia pasang muka datar saat tahu Kaito datang. Padahal, hatinya berpacu tak karuan - bagaimana tidak, Miku sedang menggado satu kantung besar susu kental manis putih. Kalo sampe ketahuan Kaito, terus mulut embernya itu bocor ke mama, kan bahaya. Terakhir kali Miku ketahuan menggado susu kental manis seperti itu, ia dihukum gak boleh minum susu lagi selama seminggu. Padahal, Miku paling suka minum susu. Itu baru yang sachet, lho. Bayangkan kalau satu pouch begini.
Mata Miku terpaku pada layar televisi, berusaha pasang muka sekalem mungkin. Ah, Kaito nggak akan menyadari kalau dia sedang menyembunyikan susu kental manis - mukanya gak kelihatan bohong kok. Lagian, dia juga sedang menikmati film di TV yang sedang ia tonton dengan Mikuo.
Mikuo, yang terusir dari atas sofa, duduk selonjoran di atas karpet dengan parka tebal dan kaus kaki. Beda dengan Miku yang sembunyi - sembunyi melakukan dosa terlarang (hanya susu kental manis kok, bukan yang macem macem!), Mikuo menyikat satu kantung besar potato chip tanpa dosa. Sebenarnya, itu punya Miku. Tapi, Miku sudah bekerjasama dengan Mikuo, sehingga Miku bisa ngegadoin susu kental manis tanpa dilaporin ke mama, dan Mikuo mendapat potato chip ukuran mega itu.
Ah, bahagianya jadi orang jujur. Mikuo senyam senyum sendiri sambil mengunyah.
"Wah...lagi akur nih!", Kaito menghampiri dua sepupunya itu. Mikuo melirik Kaito melalui ekor matanya dan nyengir sedikit."Kesambet hujan."
"Berarti kalau lagi panas berantem, dong?"
"Ah, nggak juga...kadang kalo dingin begini juga berantem, kok!"
Kaito mengerutkan kening."Kok bisa?"
"Yaa...abisnya, gue udah adem ayem, Mikunya panas. Panasnya bagi-bagi lagi. Berantem deh!"
Ih, becandanya Mikuo kayak om-om ah! Miku memainkan lidahnya kesal. Aduh Kaito, cepetan pergi dong! Kapan dia bisa minum susunya lagi kalau Kaito terus disitu? Masih ada rasa manis tersisa di mulutnya - Ya Tuhan, dia mau lagi.
"Euleuhhh si om! Sok deket lu ah!", batin Miku kesal.
Miku tetap memandang lurus-lurus ke layar televisi, malas bertatapan mata dengan musuh sedarahnya itu. Ia sudah terbiasa jutek-jutekan ke orang dia tidak suka, jadi bukan masalah kalau dia harus menjuteki makhluk sejenis Kaito ini.
Tapi lama-lama, Miku merasa ada yang aneh. Ada yang tak wajar. Rasanya seperti ada yang...mengawasi dia?
Miku melirik kilat ke Kaito. Oh my fudge-ing God! Om pedo itu memandangi dia sekarang! Pandangannya kayak...kayak...ih, nyebelin lah! Miku pasang muka woles, padahal hatinya gak selow sama sekali.
Miku, bahasamu berantakan sekali.
"Mending bahasa gue berantakan daripada hidup gue berantakan gara-gara si om!"
"Mik?", panggil Kaito.
Miku-Mikuo menoleh.
"Ah, enggak...maksud gue, Miku?"
Mikuo menahan tawa dalam hati. Miku dendam kesumat sama Kaito, dan sekarang diajak ngomong. Ohhh, pasti sakit sekali. Mikuo mengunyah potato chipsnya kencang-kencang, membuat wajah Miku makin kecut saja."Kenapa?"
"Lo kelas berapa?"
"...kelas sepuluh..."
"IPA atau IPS?"
"Nggg...belom penjurusan."
"Nanti mau ambil apa?"
"Apa ya...IPA kali."
Kaito mengangguk-angguk.
"HAHAHAHAHAHAHAHAH!" Tawa Mikuo membahana - dalam hati. Miku jawabnya pendek-pendek banget. Tandanya, dia tidak suka. Nadanya jutek lagi. Seandainya bisa, Mikuo siap disuruh ketawa kencang-kencang.
"Ukuran baju kamu apa?"
Oke. Miku merinding." S. M kadang-kadang."
"Ukuran sepatu?"
Apaan sih? "36-37."
"Makanan kesukaan?"
"...Umm...mochi es krim...ice cream pot...es krim Singapura...es krim goreng..."
"pffttt- HAHAHAHAHAHAHAHA!", tawa Mikuo semakin kencang - sekali lagi, dalam hati."Dia juga suka gadoin daun bawang.", celetuk Mikuo.
Miku cemberut.
"Seledri juga suka."
Mati lo. Mati lo.
Kaito tertawa."Hahaha, mau kurus ya? Sayur semua digadoin!"
"Gue makan karena gue suka, anjiang, bukan seperti apa yang ada di otak bokep lo!", Miku merutuk baper dalam hati."Dan sejak kapan daun bawang sama seledri itu sayur? Itu bumbu dapur!"
Nngg - emang iya?
Gak tahu ah, bodo. Miku sudah kesel se kesel keselnya, lebih kesel daripada Mikuo saat bensinnya habis di tengah jalan raya saat pulang sekolah panas-panas. Pokoknya, kalo Kaito ngomong, Miku gak mau jawab!
"Lo lahir tanggal berapa?"
"31 Agustus 2000..."
"Masih lima belas tahun ya..."
Bodoh lu yak, rutuk Miku dalam hati." Iya. Hehe"
Miku itu, sering bilang gak mau ini gak mau itu. Tapi pada kenyataannya, ia tak seberandal itu - suka nggak suka, orang nanya apa pasti dijawab - meski pendek-pendek.
"Oke. Gue ke kamar dulu ya!", ucap Kaito ramah.
"Iyaa!'
Malamnya, Mikuo sibuk mencurahkan hasrat tubuhnya kepada adiknya, Miku. Miku sendiri hanya bisa pasrah telentang.
Hm, agak ambigu ya.
Tapi, memang itulah kenyataannya. Mikuo ngakak kencang-kencang, sementara Miku hanya boboan sambil cemberut.
"Anjirrr...gue capek ketawa...tapi...HAHAHAHAHA!"
Disentuhnya lagi sebuah tombol di ponselnya. Terdengar suara percakapan Miku dan Kaito. Mikuo sudah memutar ulang rekaman itu berapa kali, tapi tampaknya ia belum juga puas mengeluarkan tawanya yang sudah sesak di tenggorokkan. Rupanya, saat Miku diajak ngobrol, Mikuo merekam percakapan itu. Tak ada niat apa-apa, lucu saja.
Miku bangkit, lalu melempar bantal ke Mikuo."Udah dong, Mikuo! Kesel ih gue!"
"Ya lagian! Lo jawabnya kayak gitu!"
"Ya kan kesel! Dia nanya-nanya kayak mucikari aja!"
"Hah? Mucikari?"
"Iya, mucikari!", Miku berucap kesal."Ditanyain ini itu, nanti jadi target, terus tiba-tiba diculik. Bayangin kalo Kaito beneran nanya-nanya buat kayak gituan! Hiii!"
..."Mik, lo kejauhan mikirnya."
"Ya abisnya..."
Hening.
"Ukuran baju kamu apa?"
Oke. Miku merinding." S. M kadang-kadang."
...
Mikuo memutar rekaman itu lagi. Lalu ia ngakak lagi.
"Ihhhhhh Mikuooooo!"
Biasanya, Miku sarapan sebelum mandi. Tapi kali ini, entah mengapa, ia tak mood untuk bangun langsung sarapan. Karena itulah, sekarang ia sudah rapi dengan seragam dan sedang menyantap roti cokelat dan segelas susu. Mama duduk di depannya, membiarkan kopinya mendingin dan sibuk main hape.
Miku menyelesaikan sarapannya dengan menenggak susu. Tepat saat itulah, mama mengalihkan pandangannya ke arah Miku."Mik, kamu udah mau berangkat?". Miku mengangguk."Iya, ma. Aku mau ambil tas dulu diatas."
"Kamu berangkat dianter Kaito ya!"
jeder!
Bahkan langit ikut kaget saat mama menyuruh Miku diantar Kaito ke sekolah."...hah?"
"Iya, kamu berangkat sekolahnya dianter Kaito aja."
What the fudge! "Kenapa, ma? Biasa aku juga berangkat sendiri..."
"Sekarang bahaya, Mik. Penculikan dimana-mana. Apalagi anak sekolah kayak kamu. Gadis lagi, SMA lagi!"
"...masih pagi ma...mana ada yang berani!"
"Tapi kan sepi! Mikir dong!"
Miku kicep. Bah, sensi lagi emaknya. Ya sudah lah ya - dengan setengah hati, Miku berkata oke.
"Naik apa, ma?"
"Naik mobil mama aja. Sudah mau hujan ini. Kamu langsung kesana ya, Kaito udah nunggu disana."
Dengan gondok, Miku mengambil tasnya dan pamit sama mama. Please lah, dia nggak pernah mau punya supir pedo! Mending ganteng, lah ini Kaito! Ya...ganteng juga sih, tapi kan anu banget!
Mobil melesat di jalanan yang licin, bekas hujan semalam. Miku memandang cuek ke luar jendela dengan earphone menempel di telinga. Benar saja, tak lama kemudian, hujan gerimis turun membasahi jalan. Jalan menuju sekolah jadi penuh dengan mobil, dan motor-motor yang penumpangnya memakai jas hujan. Ada yang modelnya baju, ada yang modelnya ponco.
Miku mulai ngelantur. Kalau pake ponco, terus ponconya ketiup angin, terus orangnya terbang, gimana ya?
"Miku, sudah sampai!", suara Kaito membuyarkan lamunan Miku. Miku segera melesat turun dari mobil - tanpa bawa tas.
Begitu turun, sekumpulan gadis berambut warna-warni menyapa Miku."Hai Miku!"
Miku melambai pada teman-temannya - Rin, Haku, dan Aria - yang karena satu dan lain hal, dipanggil IA. Mereka semua sekelas dengan Miku, dan sama-sama termasuk anak kelas sepuluh yang kalem, alim, sangat baik di mata guru tapi sangat songong di mata kakak kelas."Hari ini udah selesai UAS, belom sih?", tiba-tiba, IA nyeletuk tanpa dosa.
Ketiga temannya terdiam."Satu, UAS udah selesai dari kapantau. Dua, kalo pun ini masih UAS, lo telat banget nanyanya!"
"Ah, gak apa-apalah. Kan gue pinter. Belajar lima menit jadi!"
Rin menjitak IA dengan penuh semangat."Halah, jadi budek pas UAS ae belagu lu."
"Gue bukan jadi budek, gue lagi fokus. Biasa orang pinter, jadi gak merhatiin orang sekitarnya kalo lagi sibuk!"
"Ngg...masalahnya, pas UAS kemaren, lo selalu berakhir dengan jambak-jambak rambut sendiri, terus nyari orang buat dimintain jawaban..."
Ucapan Haku membuat semuanya meledak dalam tawa. IA hanya mangap. Kesel. Matanya melirik ke lain arah - dan tiba-tiba, IA tak hanya mangap, tapi juga melotot.
"Miku!"
Miku menoleh, mendapati Kaito yang sedang berjalan ke arahnya. Rambutnya sedikit basah dengan air hujan, begitu pula kemeja hitamnya. Tangan kirinya menenteng ransel Miku. Miku bisa merasakan pandangan semua gadis yang mengarah pada Kaito.
"Nih, tadi tas lo ketinggalan di mobil."
"Ah, iya...makasih!"
Kaito tersenyum manis."Kalo ada ketinggalan apa lagi, telepon nyokap lo aja - nanti gue yang anterin."
"Oke."
Kaito kembali ke parkiran, masuk ke mobil. Begitu Kaito menghilang dari pandangan, Miku langsung diguncang-guncang oleh Rin.
"Anjirrrrr Miku, tadi siapa!? Ganteng banget anjir! Kok bisa kenal sama lo? Kok bawain tas lo? Anjir anjir gue juga mauuuu!"
Miku pusing diguncang-guncang oleh Rin."Itu sepupu gue, terus dia nganter gue ke sekolah..."
Rin terkesiap."Basah-basah kayak gitu? Astaga Mikuuuu! Masih pagi! Lo udah bikin kejang-kejang aja!"
"Ya kagaklah! Itu dia nembus hujan soalnya tas gue ketinggalan.
Rin makin hanyut dalam kekaguman ia sendiri."Gentle banget! Ganteng, tinggi, baik lagi! Gilaaa!"
"Dia umur berapa?", tanya Haku.
"Intinya lebih tua daripada Mikuo."
Haku melebarkan matanya."Wah, om-om. Boleh tuh."
"Dia masih kuliah. Udah napsu ae lo."
Haku mesem.
Rin memandang Miku lekat-lekat."...wait, kenapa dia bisa nganter lo ke sekolah?"
Miku mengerutkan kening."Kan dia nginep di rumah gue!"
"Jadi lo satu rumah sama dia?"
"Iyalah!"
Rin pingsan di tempat.
Biasanya, saat istirahat, meja di ujung hanya berisi Mikuo, Len, dan beberapa anak cowok di geng mereka. Yang lain beli mie, bakso, nasi-lauk atau bubur, Mikuo makan satu piring besar nasi goreng ekstra acar dan kerupuk, dan Len minum berbagai jenis jus.
Tapi sekarang, lihat - meja itu sepertinya bentar lagi rubuh. Penuh orang, cewek-cewek lagi.
"Mikuo, tadi yang nganter adek lo ke sekolah siapa?"
"Mik, lo kenal sama dia?"
"Anjir ya, dia ganteng banget! Lo gak jadi homo aja?"
"Eh anjir. Kagak ya!", Mikuo langsung sewot saat ada yang menyuruh dia jadi homo.
"Ehem!", Mikuo berdeham."Itu adalah Kaito. Jabatannya, sepupu gue. Profesinya, anak kuliahan. Kondisi, rumahnya kejauhan. Sehingga, dia nginep di rumah gue dan nyokap gue nyuruh dia nganterin Miku ke sekolah.
Semua gadis mengangguk-angguk. Tapi, mereka belum puas.
"Umurnya berapa?"
"Single apa nggak?"
"Lagi nyari pacar gak?"
"Lo punya ID LINE-nya nggak?"
Mikuo menghela napas. Mak, anakmu lelah.
"Eh eh, kok dia bisa nganter adek lo sih?"
Mikuo menunjuk sebuah meja di dekat lapangan."Noh, daripada lo mengganggu acara makan gue, mending lo samperin cewek yang mirip gue disana. Dia adek gue dan dianter langsung sama Kaito. Silahkan dengar kesaksian darinya."
Seketika, semua gadis yang tadi ikut 'konferensi pers' di meja Mikuo hijrah ke meja Miku. Mereka lari-larian, rebutan tempat paling asyik buat nanya-nanya. Banyak sekali orang yang hampir kehilangan makanannya karena ditabrak gadis-gadis yang menggila itu. Bahkan, Rin yang sedang membawa nampan berisi bakso dan teh hampir jatuh karena terdorong-dorong.
Namun sayangnya, sebelum gadis-gadis itu bisa mengerubungi Miku, muncul dua gadis lainnya yang menyikut banyak gadis."Minggir lo."
IA melotot melihat dua gadis itu. Mereka anak kelas dua belas, paling kaya, paling pinter, paling songong, paling aktif di OSIS dan merupakan pasangan ketua OSIS - wakil ketua OSIS yang disegani satu sekolah.
"Hai. Miku kan?"
Miku yang lagi mengunyah sate menoleh, mendapati Luka dan Gumi sudah berdiri di sampingnya. Mulut mungilnya langsung berhenti mengunyah.
Rin cepat-cepat nyelonong mengambil tempat duduk di depan Miku, sebelum harus berebut dengan duo cabe (itu julukan yang dibuat Rin) itu. Gumi memandang sinis ke arahnya."Eh, minggir dong. Gue sama Luka mau duduk."
Rin menggeleng."Gak mau. Gue mau makan."
"Ya udah sih minggir bentar!"
"Ah, lo mah ngomongnya bentar-bentar. Gak diitung ngaretnya?"
"Anj***. Belagu juga lo.", Gumi mengangkat dagu Rin.
"Kayak lo gak belagu ae. Ngaca dulu ya mbak.", balas Rin sengit. Semua yang melihat sudah merinding. Rin masih kelas sepuluh dan berani cari ribut dengan Gumi!
Luka angkat bicara."Dek, gak usah songong dulu ya. Gue sama Gumi duluan kok sampe sini. Siapa yang berhak?"
"Katanya, lo ranking satu, ya? Buktiin coba tuh otak.", Luka melanjutkan dengan dingin.
"Yang berhak Rin. Karena dia udah booking duluan disini.". Haku, yang sudah kesal, berkata ke arah Luka dan Gumi.
"Sori ya kak, yang udah daftar duluan, ya kita utamakan. Bukan sekedar dateng terus minta cepet aja dikasih. Emang siapa sih kalian? Bayar lebih lo buat bisa duduk dimanapun lo mau di kantin?", IA ikutan mendebat.
Nyesss. Suasana langsung seketika panas. Miku, yang merupakan musuh utama Luka-Gumi, menggigit satu sate lain dengan cuek - sudah biasa dilabrak oleh ketos-waketos (yang menurutnya tidak pantas) ini. Sambil mengunyah, Miku menoleh ke arah Luka-Gumi."Sebelom lo mancing api, mending cepet aja deh. Ada perlu apa, kakak ketos dan wa-ke-tos?", Miku berkata dengan sombong, kesal dengan dua makhluk ini.
"Kaito siapa lo sih? Kok bisa nganter anak bau kencur kayak lo ke sekolah?", tanya Luka sinis.
Miku mengerutkan keningnya."Oh, si pedo. Dia sepupu gue, kebetulan lagi nginep di rumah gue. Dia nganter gue ke sekolah, soalnya tadi pagi hujan. Dia nganter anak bau kencur kayak gue, soalnya dia suka minum jamu yang ada kencurnya. Dia gak suka jamu yang ada cabenya."
Rin keselek. Haku tertawa kecil. IA berucap pelan dengan wajah dijelek-jelekin."Aaa cie cabe! Uuuu~"
Gumi sudah lecek mukanya."Haha, manja banget lo. Hujan aja dianter naik mobil! Biasa juga jalan kaki kan lo."
"Bukan manja, tapi daripada gue sakit? Kalo gue sakit, pingsan gitu, kan nanti gue malah digendong bridal style sama dia ke UKS atau rumah sakit. Tambah sirik deh lo berdua."
Semua yang mendengar tertawa kecil, bahkan cowok-cowok.
"Yang sirik bukan cuma kita, kok. Banyak juga yang sirik.", cetus Luka jutek.
"Lagian sejak kapan kita bilang sirik?", Gumi menyahut.
Miku memandang mereka dengan tajam."Ya lagian, bahasa lo dua sinis amat. Yang dianter gue, yang tanggung jawab kalo ada apa-apa emak gue, malah lo bedua yang koar-koar!"
"Yang lain itu fangirling-an, bukan sirik sama gue. Keliatan kok ngomongnya gimana. Bodoh lu yak?"
Seketika, seisi kantin tertawa kencang. Dari kejauhan, Mikuo mengangkat hidung penuh kebanggaan, bangga akan adiknya.
"Berani banget adek lo, Mik!", Piko, uke seluruh cowok di sekolah sekaligus anak kelas dua belas paling iseng memuji Miku. Mikuo mengangguk-angguk bangga.
"Udah ah, bikin emosi doang lo! Istirahat tuh harusnya kita istirahat, makan, ke toilet, ngerjain PR yang belom dibikin, apa kek, bukannya cari masalah. Katanya, lo kelas dua belas ya? Buktiin coba tuh umur."
Kata-kata Miku terakhir membuat wajah Luka memerah. Dengan penuh amarah, ia menarik Gumi masuk gedung sekolah lagi. Sesekali, tangannya masih mendorong siapapun yang ia lihat.
"Kudorong semua yang menghalangi jalanku, tanpa rasa takut!", Haku langsung meneriakkan salah satu larik puisi yang diketahui semua angkatan, menyindir Luka yang ringan tangan."Sekalipun pohon besar halangi niatku, takkan ku menyerah!"
"Karena, aku adalah batu!", Rin berteriak.
"Batu karang yang sangat kuat!", IA menyahut.
"Batu karang itu ada di hatiku, di kepalaku, aku sangat batu!", Miku berseru kencang dan langsung disambut tawa geli seisi kantin.
author note
Halo semua!
Ya ampun, rasanya baru kemarin otak saya buntu nggak tahu mau bikin lanjutannya gimana. Tiba-tiba pencerahan datang!
Disini, suasananya seperti di puncak. Dinginnn sekali. Hampir setiap malam hujan dan sepanjang hari berangin. Ah, memang benar ya, musim hujan memberi semangat tersendiri~
Buat yang sudah review, kasih saran, fav, atau sekedar baca, terima kasih ya~ /bows/. Buat yang sudah pernah baca cerita aslinya di novel Lupus, fanfic ini sedikit berbeda. Tapi saya cukup enjoy menulis ini~ ahh, saya sudah punya plottwist sendiri huehe /smirk/
Ngomong-ngomong, sudah ada yang bisa menebak surprise di chap kemarin ya? Kalian luar biasa *^*
Di chap depan, akan ada kejutan lagi. Mohon ditunggu ya~
Love, Aya.
