"Gum, Gum!"
"Apaan sih, Luk? Cara lo manggil gue membuat gue kedengeran kayak permen karet!"
"Liat itu, disana! Di St*rb*ck!"
Gumi mengikuti arah pandangan Luka, membuat matanya yang sudah setengah tidur segar kembali.
"Ngg...itu Kaito, kan?"
"Yasss!"
Saya juga lupa ini chapter berapa. Lima bukan?
Dan saya belum bikin disclaimer sampe sekarang...
Yak, langsung saja
Cerita ini murni fanfiction, dibuat atas dasar suka pada Vocaloid (dan ingin curhat lewat cerita. yha)
Semua nama karakter disini adalah milik Vocaloid
Termasuk semua genderbend, tokoh-tokoh baru yang namanya ada kesamaan, juga punya Vocaloid.
Jika ada kesamaan latar, mohon dimaklumi - supaya kesannya realistis gitulho (?)
Yang milik saya hanyalah idenya. Dan ceritanya. Dan...pokoknya yang memakan pikiran saya itu punya saya :'D
Disclaimer apa ini. Yosh, langsung saja~
Kaito hanya mendelik saat dua orang gadis berdiri di depannya. Yang satu berambut gulali, yang satu seperti selada segar.
Wah, kekontrasan antara hidup tidak sehat dengan hidup sehat dalam bentuk manusia, ya?
Oke, Kaito ngaco. Tapi, dia betulan bertanya-tanya; siapa dua gadis ini?
Kayaknya sih kenal, tapi...siapa, ya?
"Hai.", sapa si gulali. Kaito tersenyum."Hai juga."
Si selada bertanya, "Sendirian aja?"
"Enggak, gue lagi nungguin temen-temen gue."
"Janjian?"
"Iya."
"Oh iya, kalo kalian mau duduk, duduk aja. Mereka datengnya masih lama kok."
Luka dan Gumi berpandangan kaget. Ramah juga pria ini. Jarang-jarang ada orang yang mau mengajak stranger untuk duduk bersama.
"Kalian abis belanja, kan?", Kaito memandang sekitar delapan kantong belanja dengan delapan merek berbeda di tangan Luka dan Gumi."Pasti capek. Sini duduk aja!"
There's no time to say no. Luka dan Gumi langsung duduk di depan Kaito.
"Makasih ya.", ucap Luka sambil melempar senyum andalannya.
Kaito menaikkan alisnya. Jujur saja, itu pertama kalinya ia melihat senyum seperti itu. Manis, tapi seduktif. Kaito membalasnya dengan senyum yang jarang dia sunggingkan."Ya, sama-sama!"
Senyum itu dilemparkan ke Luka, tapi Gumi ikut terperangah. Kakkoi!
"Kalian kayaknya tahu gue. Tahu darimana?", tanya Kaito.
"Kita satu sekolah sama Miku. Kakak kelasnya, lebih tepatnya.", jawab Gumi. Kaito melebarkan matanya."Oh, kakak kelasnya Miku? Kenal gak sama dia?"
Gumi mengangguk."Kenal lah. Soalnya gue juga kenal sama kakaknya. Dan lagi kan, dulu kita ngurusin MOS-MOP, jadi juga gak asing sama adek kelas."
"Gimana Miku di sekolah?"
Gumi memandang Luka."Ya...biasalah. Anak kelas sepuluh, baru lulus SMP, masih gak jelas. Kayak bocah. Pinter sih, tapi agak ngeselin!", ucap Gumi sedikit baper.
"Gue inget banget tuh, pas MOS-MOP hari terakhir, disuruh bawa makanan 4 sehat 5 sempurna buatan rumah buat perjamuan kasih, dia malah beli nasi timbel pagi-pagi di restoran depan sekolah.", Luka bercerita."Begitu ketahuan, disuruh pulang bawa dari rumah, malah nantang dia. Pas banget, dia nantang ke panitia yang galak!"
"Nekat juga dia!", Kaito tertawa kecil."Habis itu?"
"Miku ternyata udah bawa backingan. Papanya nungguin di mobil sambil ngerekam anaknya. Jadinya, sama sekolah Miku nggak diapa-apain deh. Padahal yang lain orangtuanya susah-susah masak!"
"Padahal mamanya Miku selalu di rumah lho, tiap hari masak juga...", ucap Kaito.
"Makanya. Mikuo juga bilang gitu. Tapi katanya Miku lupa bilang, beli pagi-pagi deh. Dasar males."
Kaito tertawa."Yah, namanya juga Miku. Maaf ya. Emang agak miring itu anak."
Luka berseru senang dalam hati. Bahkan Kaito setuju sama gue!
Meiko keluar dari kamar sambil memeluk sebuah bantal. Meito, adiknya, mengalihkan pandangannya dari TV ke arah kakaknya itu. "Gak kerja kak?"
"Hoahmmm...kerja, shift malem.", jawab Meiko sembari berjalan gontai menuju dapur.
"Meito, kopi abis?"
"Iya. Baru kuabisin tadi. Nih, masih sisa setengah. Mau gak?"
Meiko melempar bantalnya kearah Meito yang pasang wajah tanpa dosa."Lah, ditanyain kok. Mau gak?"
"Kurang ajar lu emang."
Selang berapa menit kemudian, Meiko keluar dari dapur sambil membawa secangkir teh. Duduk di balkon apartemennya, ia menyesap tehnya sambil sibuk dengan ponsel.
"Kak, nanti kakak berangkat jam berapa?"
"Bentar lagi paling. Kan aku udah mandi...jadi tinggal cuci muka, ganti baju, terus berangkat. Emang kenapa?"
"Aku anterin ya?"
Meiko mengangkat wajahnya."Tumben..."
"Aku janjian sama temen-temenku. Kita mau ketemuan disana bentar lagi.", jawab Meito sembari mematikan TV dan membawa cangkir kopinya ke dapur.
"Janjian? Main?"
"Ya...main, ya tugas juga. Gak semuanya satu jurusan sih, tapi ada yang sama. Jadi sekalian."
Meiko mencibir, "Gak bahas cewek? Kapan nih nggak jomblo? Masa nganter kakaknya terus?"
Seketika, pipi Meito memerah."Y-Yaa...lihat nanti lah!"
"Ah, nanti mulu. Kapan mau dikenalin ke kakak?"
Meito tengsin. Dia lupa kalau Meiko sudah mulai menjadi tante-tante.
"Udah gih, ntar, pas main, sekalian ngecengin cewek!", ujar Meiko sebelum menenggak tegukan teh terakhirnya."Nanti, kalo kakak free, kenalin ke kakak! Gampang kan?"
Meito terdiam sebentar. Wah, kebetulan.
"Enak aja! Kakaklah yang ngenalin temen kakak ke aku! Masa, dari sekian banyak pelanggan salon kakak, gak ada yang bisa aku gebet?"
"Hmm...ada sih. Masih SMA, tapi udah sering nyalon."
Meito tersenyum kecil. Belakangan ini, hanya Gakupo atau Yuuma yang dapat mangsa. Sekarang, dia bakal bawa satu!
"Siapa sih namanya. Aduh, lupa.", Meiko meletakkan cangkir tehnya di bak cuci piring, kode ke Meito supaya dicuciin. Tanpa basa-basi, Meito langsung menyucinya, berharap info lebih dari Meiko."Orangnya kayak gimana, kak?"
"Rambutnya pink, kayak gulali. Tingginya...kurang lebih se telinga kamu. Cantik, pinter, kaya lagi! Baik lho!"
Meito hanya mengangguk-angguk, pasang muka datar. Tak ada yang tahu apa yang disusunnya di dalam kepalanya itu.
"Nanti, dia udah janji sama kakak di salon. Sekalian lihat aja entar."
Kata-kata Meiko yang terakhir membuat Meito semangat berganti baju dan menyiapkan mobil. Sudah seminggu sejak janji Kaito untuk membawa info tentang mangsa Gakupo, dan dia yakin Yuuma sudah dapat beberapa. Ahh, akhirnya!
Sebuah tawa lepas keluar dari mulut Luka dan Gumi. Tak terasa, sudah setengah jam lewat sejak mereka duduk bareng Kaito. Kopi yang mereka pesan pun sudah sisa sedikit dan piring kecil berisi kue yang dimakan Gumi juga sudah kosong.
"Temen lo kemana? Kok gak dateng-dateng?", tanya Luka. Kaito menatap jam tangannya. "Biasalah, pada ngaret. Lagipula, gue emang sengaja dateng lebih awal, kok.". Luka dan Gumi mengangguk-angguk mendengar jawaban Kaito.
"Habis ini, kalian mau kemana?", tanya Kaito."Habis ini gue pulang. Tahu deh Luka.",Gumi melirik temannya itu.
"Ke salon.", jawab Luka sambil tersenyum."Lumayan, abis dapet gaji bulanan."
"Hmm...lo langganannya Meiko, ya?"
Luka menyerngitkan keningnya."Hei, lo tahu Meiko?"
"Tahulah!", Kaito tersenyum."Adiknya Meiko itu temen kuliah gue. Dan rasanya, semua udah tahu siapa Meiko."
"Iyalah, banyak yang tahu.", Gumi nimbrung."Meiko itu hairdresser yang hebat banget. Katanya, dulu dia cuma kerja di salon biasa. Cuma, saking pinternya, akhirnya dia langsung dilamar sama banyak salon."
Luka terkesiap."Biasanya orang yang ngelamar, Ini perusahaannya yang ngelamar!"
"Iya, laku. Gak kayak lo, Luk. Terlalu seram untuk dilamar cowok.", Gumi nyeletuk tanpa dosa. Luka hanya memandang Gumi dengan pandangan 'lo-tega-sama-gue'.
"Ah, paling ntar lagi juga dapet.", Kaito menyesap tegukan kopi terakhirnya, disambung dengan senyuman menggoda.
Luka, yang sudah expert dalam hubungan dengan laki-laki - dari yang masih berondong sampai yang sudah kepala tiga, membalas senyuman Kaito."Hmm~ Begitukah?"
Kaito dan Luka berpandang-pandangan selama berapa detik, sebelum akhirnya tawa kecil lepas di antara mereka berdua.
Gumi, yang sibuk duluan dengan ponselnya, tak mendengar pembicaraan Kaito dan Luka setelah dia menggoda Luka. Tanpa sadar, ia sudah jadi nyamuk disitu."Eh, Luka, Kaito, gue mau balik duluan nih. Bokap gue ada acara kantor. Biasa, formalitas. Anaknya disuruh ikut biar kelihatan 'sempurna'.", Gumi meminta izin sambil memutar bola matanya. Inilah bagian yang ia benci dari menjadi anak seorang direktur perusahaan: harus ikut setor muka demi nama ayahnya.
Luka, yang mengerti isi pikiran Gumi tanpa bertanya, hanya menghela napas."Yaa, mau bagaimana lagi? Biasalah, orang tua; harus mesti kudu wajib dipahami dan dihormati." Sarkas, tapi kenyataan, kan?
"Ya udah sori ya. Gue duluan ya!", Gumi berdiri sambil membawa barang belanjaannya. Gumi cipika cipiki dengan Luka dan melambai ke Kaito."Bye! TFT ya!"
"Dahh!"
Luka memandang Kaito."Kayaknya, gue juga duluan deh. Daripada telat nanti. Gue udah janji sama Meiko soalnya, hehe."
"Oke. Kapan-kapan ketemuan lagi yuk?"
"Berdua doang?"
"Of course. No disturbance."
"Halo? Iya pa, aku lagi jalan pulang. Iya, aku naik ojek biar cepet. Hah? Nyalon sekalian? Rame kali salon jam segni. Beli baju? Lahh katanya suruh cepet!"
"Beli baju tapi cepet? Yaelah mana bisa! Kan mesti dicoba dulu!"
"Kamu masa gitu doang gak bisa sih?"
Gumi bengong mendengar permintaan ayahnya. Ya ampun, please deh - ada berapa banyak gaun pesta di lemarinya? Tinggal ambil satu juga jadi! Mesti beli berapa lagi! Lagipula, ia sudah ada di ambang pintu mall. Males banget kalo mesti masuk lagi!
"Aduhh papa, mana bisa kayak gitu — ehh maaf!"
Saking sibuknya berdebat dengan sang ayah di telepon, Gumi menabrak orang yang hendak masuk mall. Semua bawaannya berjatuhan, tidak berhamburan isinya tapi cukup bikin repot."Pa, nanti kuetelepon lagi. Ini aku sampe nabrak orang!"
"Hah!? Kamu nabrak orang!?"
"Enggakk aku gak nabrak orang pake mobil, aku nabrak orang di mall! Kan aku juga gak bawa mobil!"
"Oh, iya ya. Kirain."
"Yaudah, Dahh!"
Gumi memutus teleponnya."Aduhh maaf ya! Saya gak sengaja!", Gumi segera membungkuk sambil memungut kantong-katong belanjaannya. Orang yang ditabraknya ikut membantu."Iya, gak apa-apa. Sini saya bantu!"
Gumi mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan dua iris cokelat milik seorang laki-laki muda. Wajahnya tampan, sekelas dengan Kaito. Disampingnya, ada seorang wanita yang mirip, hanya tampak lebih dewasa. Ia memandang mereka dengan kaget."Ngg... gak ada yang rusak kan?"
"Enggak kok, gak ada!", Gumi menggleng."Ya udah, saya duluan ya! Maaf banget!"
"Iya nggak apa-apa! Mari, mbak!"
Dua orang itu, Meiko dan Meito, masuk ke mall berbarengan."Kamu lain kali hati-hati dong! Kasihan tuh!"
"Lah, dia duluan yang nabrak!", protes Meito.
"Ya kan dia lagi ribet! Kakak sebagai sesama ciwi-ciwi jelas paham! Kamu mah apaan! Pantesan jomblo!"
Meito gondok digituin."Mending kakak kasih lihat cewek yang tadi di rumah!"
"Udah ah, mau kerja dulu! Aku ke salon ya! Sana main!", usir Meiko.
Meito cemberut.
"Nanti, kamu lewat aja di depan salon. Siapa tahu kelihatan ceweknya!"
Meito sumringah lagi. Teringat akan mangsa yang akan ia pamerkan ke gengnya.
"Oke deh!"
"Yeuu giliran cewek aja cepet!"
"Hah? Mama mau pergi?"
Miku yang sedang menyantap semangkuk popcorn bersama Mikuo memandangi mamanya yang turun tangga menyeret sebuah koper sedang dan tas tenteng kecil. Begitu pula Mikuo yang sedang bengong dengan popcorn di dalam mulutnya.
"Iya. Papa kerepotan di luar kota. Jadi dia nyuruh mama nyusul. Aduhh berasa punya anak ketiga!"
"Pfft-", Miku menahan tawa. Dia sudah dengar kata-kata itu dari (banyak sekali) ibu-ibu yang ia kenal.
Mama menggeret kopernya sampai ruang tamu. Lalu, ia meletakkan tas tentengnya diatas koper itu. Lalu, ia naik lagi ke atas, mengambil jaket dan sandal. Belum beres ternyata, karena mama jalan lagi ke dapur, membuka lemari makanan kering dan mengambil beberapa makanan untuk dikasih ke papa.
"Ngg...dendeng, abon, kerupuk...", jemari yang mulai menua itu menghitung setiap bungkus makanan di lengannya. Miku dan Mikuo cuek saja, sibuk dengan ponselnya masing-masing dan semangkuk popcorn di antara mereka. Tak ada yang bermasalah, sampai Mikuo tak sengaja mengambil segenggam popcorn terakhir.
"Ihh Mikuo! Gue masih mau makan!", seru Miku baper. Iyalah, siapa yang seneng makanannya diabisin orang?"
Mikuo menoleh."Hah? Abis? Oh, gue gak tau. Sori sori!"
"Yaelahh gue masih pengen!", si gadis pun baper.
"Yaelah, gitu doang. Besok beli juga jadi!"
"Gue pengennya sekarang!"
"Lo mau keluar sekarang? Panas lho?"
"Ya lu lah yang keluar! Lo yang abisin!"
"Lah? Yang pengen kan lo! Masa gue yang harus berkorban?"
"Jahat banget sih jadi kakak!"
"Manja banget sih jadi adek!"
"Ihhhh-"
"Sssst udah udah!", mama menghardik kencang, membungkam Mikuo dan Miku."Kalian apa-apaan sih!? Gituan aja berantem?"
Mikuo dan Miku sama-sama diam. Serius deh, mereka tak berniat untuk berantem beneran. Hanya kesal kesal biasa saja. Paling nanti juga akur lagi.
"Miku, itu kan cuma popcorn biasa? Beli lagi bisa kan? Harus gitu marah-marah? Kalo abis karena Mikuo, ya udah! Kan kalian makan berdua. Kalo Mikuo yang ngabisin gak salah kan?"
Aduhh, Miku jadinya kesel beneran. Apaan sih? Baper banget! Miku merutuki mamanya dalam hati.
"Mikuo juga. Udah tahu adeknya rewel gitu, mbok ya ngalah sedikit. Daripada jadinya ribut begini? Berisik tahu dengernya!"
Mikuo bengong. Lah, dia kan nggak tahu kalau itu yang terakhir? Kok malah dia yang kena?
"Coba bandingin kalian sama Kaito. Rasanya, dia mau diapain juga terima saja, malah dia mau maafin. Nggak minta ganti kalo punya dia diambil, malah dia masih mau bantu-bantu orang yang jahat sama dia. Wah, susah juga punya anak kayak kalian. Bahaya nanti nama keluarga kita."
Hening menjalar diantara tiga orang itu - mama sibuk sendiri sambil ngomel-ngomel, sementara dua anaknya terdiam.
Baper kah mereka? Enggak kok. Mikuo-Miku sudah biasa dibanding-bandingkan seperti itu. Buat apa baper? Hanya makan hati sendiri.
Miku membatin dalam hati,"Toh, memang benar kan?"
"Kaito lebih baik dibanding gue sama adek gue.", rasa-rasanya, hampir delapan belas tahun Mikuo hidup, inilah pertama kalinya ia merasa begitu...sakit hati? Atau apa?Mikuo tidak tahu. Yang jelas, Mikuo merasa sekarang tubuhnya jadi terlalu berat untuk dibawa kemana-mana. Ia jadi malas mau ngapa-ngapain.
"Mikuo, kamu ngapain diem gitu? Bantuin mama bawa ini! Atur di koper, jangan berantakan! Miku, teleponin taksi dong! Jangan entar-entar, sekarang!"
Mau tak mau, Mikuo harus melawan bapernya dan membantu mamanya membawa makanan-makanan itu. Miku sendiri terpaksa menyetop aktivitas baca komiknya dan men-dial nomor operator taksi.
"Mama pulangnya kapan?"
"Tau. Ikut papamu kali. Baik-baik sama Kaito! Tamu lho itu, jangan sampe dia gak betah!"
Please, deh - Ibu Hatsune, anakmu Mikuo-Miku apa Kaito?
"Gimana, Kai? Udah dapet belom infonya?", Meito berseru senang.
Yuuma ikut menepuk bahu Kaito."Iya, gimana nih? Udah janji kan lo!"
"Hahaha...semangat banget kalian! Bentar-bentar!", Kaito mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri. Seketika, ia mojok dari teman-temannya.
"Eh? Kenapa?"
"Jangan lihat. Hape gue."
"Kayak cewek aja sih lo."
Kaito diam. Jarinya terus menari diatas layar hape.
Semenit. Dua menit.
"Lama banget!?"
"Cari foto doang, kan?"
Kaito merengut."Kan ada passwordnya!"
Meito memutar bola mata."Yailah, password doang lama banget!"
"Hape gue juga dipassword, tapi gue bukanya cepet kok!", Yuuma nimbrung.
"Emang, password lo kayak apa?", tanya Gakupo yang penasaran akan kehebohan teman-temannya.
"Dua PIN, tiga password biasa, sama tiga password gambar. Lengkap dengan intruder selfie lho."
Gakupo, Yuuma, dan Meito terdiam dengan wajah 'sumpah-lo-kenapa'.
"Itu buat hape lo?"
"Enggak. Galeri doang."
Wajah 'sumpah-lo-kenapa' berganti jadi 'anjir-jangan-jangan-lo-emang-cewek-yang-kebetulan-salah-homon'.
"Ah, gue typo tiga kali tadi. Kena intruder selfie kan. Mana muka gue aib lagi. Bentar-bentar, apus dulu."
Bahkan Gakupo yang paling kalem sudah gondok duluan. Bukannya Gakupo ngebet soal info tentang buruannya, tapi...masa detektif geng mereka belok begini?
"LAMA LU AHHHHH!", sisi sebenarnya dari diri Meito, yaitu singa liar yang ganas keluar. Ia segera menerjang Kaito. Gakupo dan Yuuma hanya membeku melihat kejadian itu. Tidak, salah satu teman mereka...
...akan mati!
*Symphony no.5 - Beethoven* *dramatic mode*
Nggak, barusan itu bercanda. Sebelum telinga singa Meito keluar, Kaito sudah membalikkan ponselnya."Bercanda.", ucapnya dengan seringai kecil - seringai yang sudah menipu banyak gadis."Sebenernya, daritadi gue nggak cuma bukain password sama ngapus intruder selfie, tapi nyari foto yang bagus buat kalian."
Iris ungu, cokelat, dan pink yang tidak familiar dengan gadis teal dalam ponsel Kaito memandangi lekat layar ponsel itu. Sebuah foto selfie (kali ini bukan intruder selfie) tanpa edit, menampakkan seorang gadis muda dengan rambut teal dan iris senada, dan masih mengenakan seragam sekolah yang dibalut sweater putih. Yuuma menyambar ponsel Kaito, dan menggeser sana-sini."Wuih, gila. Lo dapet foto darimana aja?"
"Himitsu. Secret. Rahasia. Ah, bahasa lain buat rahasia apa, ya?"
"...Kaito, lo korslet parah, ya?"
Kaito kembali ke kepribadian aslinya yang nggak korslet."Namanya Hatsune Miku. Umurnya lima belas. Anak kedua dari sebuah kepala divisi di perusahaan yang cukup berhasil. Kelas sepuluh di sekolah swasta terdekat dari rumahnya. Bukan ranking satu, tapi cukup diperhitungkan. Katanya, terkenal di sekolah. Tapi, info terbaru yang gue dapet...terkenal bandel diantara kakak kelas.", kalimat terakhir Kaito ucapkan setengah tertawa - seolah tanpa dosa.
"Bandel. Hmm. Di ranjang bandel gak ya?", Meito bertanya pelan."Ah, viagra dikit juga jadi kayak gini mah.", Yuuma tersenyum licik.
"Wah, hasil buruan gue!", Gakupo tersenyum bangga.
"Ah, iya. Anaknya emang agak nyolot. Kalo gak suka, dia ngelawan. Blak-blakan gitu ngomongnya. Jadi agak ngeselin. Tapi kalo udah diem...easy lah!"
Gakupo menyerngitkan keningnya."Kok lo bisa tahu sebanyak itu?"
Kaito tersenyum mendengar pertanyaan Gakupo. Tak heran kalau si rambut ungu merasa heran, karena memang agak janggal bagi Kaito untuk bisa menggali informasi sedalam itu, apalagi sampai bersifat personal."Gue tinggal satu atap sama dia."
Seketika itu juga, semua memandang Kaito."...serius?"
"Iya, serius. Ah, gue sepupunya. Kebetulan, rumah gue jauh. Dan nyokap gue nyuruh gue nginep disitu aja. Tante gue juga boleh-boleh aja. Gue malah diterima baik disana."
Yuuma terkesiap."Wait, jangan bilang..."
"Lo nginep disini buat cari mangsa?
"Yaa...apalagi?"
Sekali lagi, semua terdiam.
"Untungnya, gue langsung dapet satu tanpa harus nyari. Well...bukan gue yang dapet sih. Tapi Gakupo. Cuma...ya, gak salah kan?"
Kaito tertawa lepas, wajah sumringahnya kontras dengan kekagetan yang nampak di wajah Yuuma, Meito, dan Gakupo. Antara kaget dengan 'ternyata-gadis-ini-saudara-Kaito' atau sirik karena bisa satu atap dengan sasaran mereka.
"Jadi, gimana? Mau ditangkep gak?", tanya Kaito.
"Tangkep!", jawab Gakupo cepat."Tapi gue yang nyicipin dia duluan."
Kaito nyengir."Iya iya. Lo duluan kok."
"Gue boleh, kan?", Meito angkat bicara, tak rela kalau dia tidak dapat bagian."Iya, boleh kok. Tapi gue puas dulu.", Gakupo menyalakan sebatang rokok - pertanda kalau dia sudah santai. Meito sendiri langsung tersenyum licik, tak sabar mencoba tangkapan baru mereka.
"Eh, kalian pada gak bawa hasil buruan?", Yuuma mengalihkan topik. Seketika itu juga, Kaito dan Meito berseru bersamaan.
"Gue bawa!"
Keduanya berpandangan.
"Luka. Kakak kelas Miku. Ketemu gue pas gue nganter Miku ke sekolah. Barusan ngobrol sama gue sebelom kalian dateng. Kayaknya, dia bukan hasil buruan, karena emang menyerahkan diri."
Kaito langsung nyerocos, memojokkan Meito yang datanya benar-benar dangkal.
"Uhh...langganan kakak gue, pinter, kaya, baik, cantik..."
Mendengar kata 'langganan kakak gue' yang bisa ditranslasikan sebagai 'langganan Meiko', Kaito mengerutkan kening.
"Kakak lo?"
"Iya. Ah, rambutnya, kata kakak gue, warna gulali."
Kaito langsung nyengir penuh kemenangan."Hihi, maaf Meito! Hasil buruan kita sama!"
Hahhh? Semua bingung kali ini.
"Pasti sekarang, dia lagi janjian sama kakak lo, kan?"
Meito mengangguk.
"Yuk, coba lihat ke salonnya. Kita verifikasi dulu."
"Sekalian cabut deh ke klub mana gitu! Gue butuh bir!", ucap Yuuma.
Dan benar saja. Saat mereka lewat secara sengaja di depan salon, cewek yang dimaksud Meito dan Kaito sama. Meito hanya bisa cemberut saat mengetahui Luka sudah kenal duluan dengan Kaito.
Kaito sendiri tampak begitu bahagia, seperti menelan ekstasi dalam bentuk gadis. Sudah dapat Miku, Luka pula. Gumi juga mungkin bisa. Hahh, akhirnya! Ia akan puas-puasin mengerjai Miku! Yahh...masih entah kapan sih, karena kan Tante Hatsune selalu ada di rumah, ia tentu tak bisa bebas.
Tapi, siapa yang tahu?
"Hah? Kenapa tante?"
"Iya nak Kaito, maaf ya. Tante harus nyusul oom-mu. Biasa, bapak-bapak. Susah urus diri sendiri! Tante deh harus ninggalin kamu sama Mikuo-Miku!"
"Ah, gak apa-apa tante...saya bisa jaga diri kok. Saya juga bakal jaga rumah sama Mikuo-Miku."
"Maaf banget ya nak! Malah jadi ngerepotin kamu...tante titip rumah. Kalau ada apa-apa, kamu bisa pakai mobil tante. Kuncinya ada di laci dekat TV di ruang keluarga. Apalagi Miku, tante titip ya! Kasihan anak gadis..."
Kaito terperangah sebentar, tak menyangka kesempatan datang secepat ini.
"Iya tante, saya bakal jagain Miku. Saya pastiin dia gak kenapa-napa."
"Makasih ya nak Kaito!"
"Iya, sama-sama tante!"
Hubungan telepon diputus. Kaito serasa dijatuhkan dari atas roller coaster - mendebarkan, tapi menyenangkan.
Akan menyenangkan.
Pasti menyenangkan.
Sangat menyenangkan.
Ditenggaknya satu shot vodka lagi.
Ia menggumam sendiri."Serahkan saja sama saya, tante. Miku akan aman."
"Aman."
author note
Heahhhhhh selesaiiiiiii.
Saya updatenya lama sekali! Maaf ya /deepbow/ dari awal liburan sampai Christmas eve, saya sibuk bantu mama saya kerja. Dari natalan sampai menjelang akhir tahun, saya sibuk acara natal dan jalan-jalan (shopping, lebih tepatnya). Saya membuat satu bagian fanfic ini setiap malam, ingin lanjut lagi tapi sudah kecapekan. Jadi macet-macet deh. Huhu.
Saya merasa, chap ini agak berbeda. Pertama, perubahan bahasa. Karena saya kecapekan, mungkin ada perubahan mood jadinya belok belok mood ceritanya...maaf sekaliii /deepbow/. Lalu, dibanding chap-chap lain, chap ini lebih rumit karena menggunakan latar tempat yang berbeda. Untuk waktu, semua hampir sama, tapi latar tempatnya pindah-pindah terus. Kalau kalian bingung, silahkan bertanya kepada saya lewat kotak review~
Dan juga, fic ini mencapai 250 view(s)! Mungkin ini angka yang kecil, tapi saya senang. Terima kasih yang sudah membaca~ /deepbow/ kalian semua adalah penyemangat bagi saya. Reviewsnya juga hangat di hati...aduh sayang kalian semua /pelukin satu-satu/
Terus, saya mau ngomong apalagi ya...ah, ingat adegan saat Miku ketemu Gakupo? Ya, inilah lanjutannya. Ingat cowok yang mau 'menyelidiki' soal Miku? Cowok itu Kaito. Jadi, Gakupo, Kaito, Meito, dan Yuuma adalah satu komplotan yang...ah, sudahlah. Lihat saja nanti *wink*
Yosh, silahkan tuangkan pikiran kalian di kotak review. Saya benar-benar mohon maaf atas segala typo, salah kata atau diksi yang sempit sekali. Sebenarnya, saya itu...hanya kentang /crai/
Disini sudah jam 1 pagi saat update...so, have a nice day!
With love, Aya.
