Princess & Prince School
.
.
.
Kim Elin Present
.
.
.
.
Jeon Jung Kook
.
Kim Taehyung
.
Park Jimin
.
Min Yoongi
.
Kim Seok Jin
.
Kim Namjoon
.
Jung Hoseok
.
.
.
.
.
.
.
Seorang Yeoja manis bergigi kelinci berlari dengan sebuah senyuman lebar yang menghiasi bibir tipisnya. Dari jauh dia melihat sang ibu yang sedang merawat bunga bunga aster berwarna putih di toko bunga kesayangannya.
"ibu! Ibu! Lihat! Kookie berhasil masuk sekolah kerajaan!" seru yeoja itu sambil memeluk tubuh ibunya.
"itu hebat sayang.. kau harus berjuang! Bersekolahlah dengan baik dan jadilah putri terbaik di negeri ini.."ujar sang ibu
"iya ibu" balas anak itu sambil tersenyum.
Anak itu bernama Jeon Jungkook.
Ia terlahir disebuah keluarga kecil yang sangat sederhana.. ia dan ibunya hanya bekerja sebagai tukang penjual bunga yang tentunya hasil kerja mereka tidak seberapa.. ayahnya tengah merantau di jepang mencari pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan mereka.
Menjadi salah satu personil putri kerajaan di sekolah kerajaan Seoul merupakan kebanggaan tersendiri bagi Jungkook. Gadis periang ini selalu ingin menjadi seorang putri.. oleh karena itu dia mengikuti program beasiswa yang nyatanya dapat membawa ia sampai ke sekolah kerajaan itu.
Jungkook tumbuh dengang baik selayaknya remaja lainnya. Ia tumbuh menjadi wanita yang cantik dan manis, berperawakan ramah dan baik hati..
.
.
.
Malam itu Jungkook menutup tokonya dengan kecewa. Ia dan ibunya tidak mendapat uang sepersenpun.
"tidak apa apa.. masih ada hari esok kookie.." ujar sang ibu mengetahui perubahan diwajah Jungkook
"baik bu.. esok pasti akan ada banyak pembeli bunga.." ujar Jungkook sambil tersenyum.
Jungkook ingin setiap hari adalah hari valentine dan white day. Agar tokonya bisa laku. Namun, hidup tidak semudah itu kan?
Jungkook menatap makan malamnya . semangkuk kimchi sisa kemarin yang sudah hampir habis. Dihidangkan sang ibu untuknya. Sedangkan sang ibu hanya memakan nasi dengan taburan bubuk kaldu.
"waeyo? Kookie? Apa kimchinya sudah tidak enak?" tanya sang ibu yang melihat sang anak hanya bermain dengan nasi dimangkuknya.
"a-aniya eomma.. ini enak.." kata Jungkook sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
"apa kookie ingin makanan yang lain? Kookie ingin apa? Ramen? Bulgogi? Bibimbab?"tanya sang ibu sambil beranjak.
"tidak bu.. kookie tidak ingin apapun.. ini saja sudah lebih dari cukup.. ibu makan bersama kookie saja.. kookie tidak tega melihat ibu hanya memakan nasi dengan bumbu kaldu saja.." ujar Jungkook sambil menyendokkan sebagian kimchi itu ke mangkuk milik ibunya.
"tidak apa apa.. ibu bisa makan walau dengan ini... tapi kookie? Kookie masih dalam masa pertumbuhan.. kookie harus mendapat asupan gizi yang cukup.." ujar sang ibu sambil menyuapi Jungkook.
Jungkook tersenyum dalam hati ia sangat berterimakasih pada tuhan, telah menciptakan manusia seperti ibunya yang sangat baik hati..
Dengan lahap Jungkook menghabiskan makan malam yang ibunya suapkan untuknya.
.
.
.
.
Pagi pagi sekali Jungkook sudah bangun dan bergegas ia membawa sepeda kuning miliknya yang terisi berbotol botol susu segar. Dengan riang ia membawa sepeda nya berkeliling kompleks dengan meninggalkan setiap rumah sebotol susu segar yang ia bawa.
Sesampainya di rumah ia segera bergegas mandi dan bersiap menuju ke sekolah barunya.
"selamat pagi ibu!" seru Jungkook sambil mencium pipi ibunya.
"selamat pagi sayang.. ini.." ujar sang ibu sambil memberi Jungkook segelas susu.
"terimakasih.." ujar Jungkook sambil meminum susunya.
Sang ibu bergegas mengkuncir rambut panjang milik Jungkook dan menyematkan sebuah mahkota kecil khas sekolah kerajaan. Jungkook kini terlihat sangat manis.
"bergegaslah.. mobil jemputanmu sudah tiba." Ujar sang ibu sambil membersihkan bekas susu yang menempel di bibir Jungkook.
"dah ibu!" seru Jungkook sebelum memasuki mobilnya.
.
.
.
Seoul Kingdom School tempat segala pusat sekolah kerajaan di korea. Sekolah ini sangat mewah dan luas. Dinding dindingnya dilapisi dengan keramik porselen yang mahal didatangkan langsung dari eropa. Berbagai macam ornamen mahal yang terbuat dari emas dan perak menambah kesan kemewahan sekolah ini.
Jungkook memperbaiki seragamnya. Sebuah rok hitam berbahan sutra mahal dengan renda rajutan tangan yang terlihat sangat elegan, serta balutan pita berwarna emas dibagian belakang mnambah kesan feminim dan elegan yang luar biasa, blouse yang terbuat dari kain katun nomer satu berwarna putih membuat siapa pun yang memakainya menjadi nyaman. Sebuah mahkota terbuat dari perak yang bertahtahkan kristal sangan meneguhkan bahwa Jungkook adalah anggota sekolah kerajaan.
.
Jungkook melangkahkan kakinya keluar dari mobil.
"selamat jalan nona muda.." ujar sang sopir. Jungkook berbalik dan tersenyum sambil melambai.
"terimakasih pak!"
.
Jungkook bingung setengah mati sekolah ini sangat besar baginya.
"hei lewat sini.." seru seorang anak perempuan berambut pirang.
"eh? Iya.."
"kau pasti murid baru.. hari yang cerah.." ujar anak itu sambil membungkuk dan menarik roknya khas seorang putri.
"eh iya hari ini cerah sekali.." cerocos Jungkook. Anak itu menganga.
"eh kenalan yuk!" seru Jungkook sambil menghampiri seorang anak wanita berambut merah.
.
"lihat dia.. tatakramanya buruk sekali!" ujar anak dengan cepolan rambut tinggi
"bahkan dia tidak menjawab salamku! Huh!" jawab anak berambut pirang
"dia datang dari desa.. maklum saja.." balas anak dengan rambut tergerai.
"mereka membicarakanku.." jungkook menunduk ia berjalan dengan lesu mengikuti anak anak lain yang mengarah ke aula besar.
.
Di dalam aula semua anak tengah duduk dengan diam dan tertib.
"anak anak sekalian, hari ini, tahun ajaran baru dimulai.. poin kalian akan dimulai dari nol, jadi kuharap kalian tetap bekerja sama satu sama lain, saling berteman, menjaga sopan santun dan menghormati satu sama lain." Ujar sang kepala sekolah.
"kuperkenalkan, ini Madam Choi. Dia yang akan mengamati perkembangan kalian di dalam istana ini."
"dan untuk tahun ini kalian akan diasramakan.. silahkan hubungi Mr. Stanford untuk soal asrama ini..."
"sudah cukup. Silahkan kembali.. pelajaran akan dimulai sebentar lagi.."
.
Jungkook berjalan sambil menunduk ia merasa sangat buruk hari ini.. sepanjang jalan ia ditatapi dengan tatapan aneh dari teman temannya.. memangnya apa yang salah dengan tatakramanya?
"hari yang cerah" sapa seorang putri dengan rambut kecokelatan miliknya.
"hari yang cerah.." balas Jungkook.
"aku Kim Seok Jin kau bisa memanggilku Miss. Seokjin dan ini temanku Min Yoongi."
"Senang berkenalan dengan kalian Miss. Seokjin, Miss. Yoongi" ujar Jungkook sambil membungkuk.
"semoga kita berteman baik.." ujar Jin.
"apa?! Berteman baik dengannya? Aku tidak mau! Aku tidak mau berteman dengan anak tak tau tatakrama seperti dia." Ujar Yoongi.
" Miss Yoongi! Berbicara kasar! Minus 10 poin!" seru Madam Choi yang entah muncul dari mana.
"seharusnya aku memang sadar sedari dulu, kalau aku memang tidk pantas menjadi seorang putri.." ujar Jungkook sambil menunduk
"biarkan saja Miss Jeon, Yoongi memang seperti itu,.. tenang saja aku akan membantumu!" ujar Jin
"benarkah?! Ah! Aku senang sekali!" seru Jungkook
"Miss. Jeon! Berteriak minus 30!" seru Madam Choi
"aku berterima kasih..." seru Jungkook kembali sambil melompat lompat.
"Miss Jeon! Melompat lompat! Minus 30!"
.
KRINGGG!
Bel pertanda pelajaran pertama pun dimulai.
"pelajaran macam apa ini?"
Memang patut Jungkook berucap seperti itu, pelajaran yang dimaksud adalah pelajaran meminum teh dan makan kue.
"silahkan dimulai!"
Jungkook merasa bingung, ia memperhatikan Jin yang berada dihadapannya yang tengah menuangkan teh dari teko ke gelas miliknya, mengambil beberapa buah gula batu dan mengaduknya serta meminum tehmiliknya.
"ini mudah!"
Jungkook melai menuangkan teh miliknya, namun ia kesulian mengambil gula batu dengan penjepit khusus, akhirnya ia malah menggunakan tangannya. Ia mengaduk tehnya dengan kuat meningglkan suara dentingan yang memecah keheningan. Ia pun meminum tehnya dengan sendok yang tertinggal didalam gelasnya.
"Oh My God! Miss. Jeon! Itu sangat buruk! Nilaimu 10!" seru Madam Albert
"apa yang salah sih?" jejar jungkook sambil memotong kuenya dengan sendok.
"kau lihat itu Jin? Apa kau gila mennyuruhku berteman dengan gadis yang minum teh dengan sendok yang melekat di cangkirnya?" ujar Yoongi. Jin hanya tersenyum.
"Miss Jeon, makan kuenya dengan garpu khusus kue ini.." ujar Jin sambil mengangkat garpu khusus kue miliknya. Jungkook mengangguk.
"terimakasih.."
"kerja bagus Miss. Jeon! Nilai 70"ujar Madam Albert
.
Jungkook tengah berada di sebuah ruangan yang penuh dengan meja rias. Jin yang berada di sebelahnya terlihat tenang.
"mulailah.. dengan rambut kalian.." ujar Madam Jung
Semua murid wanita sibuk memperbaiki tatanan rambutnya Jin yang berada di sebelah Jungkook tengah menyisir rambut caramelnya dengan sisir dengan sangat lembut.
Perlahan Jin mulai mengangkat rambutnya, ia membuat sebuah cepolan sederhana yang menampilkan leher jenjang putih mulus miliknya, setelah selesai ia kembali menyematkan kembali mahkota miliknya.
Jungkook mencoba mengikuti Jin, diangkatnya rambut hitam miliknya dan mulai ia coba mencepolnya. Namun sayang, hasilnya sangat berantakan namun menurut Jungkook itu terlihat bagus.
"bagus sekkali Miss. Seokjin nilai sempurna kau sangat cantik dan elegan!" ujar Madam Jung
"apa apaan ini Miss. Jeon?! Ini sangat berantakan! Perbaiki! Tak ada nilai untukmu!" seru Madam Jung
"kali ini salahlagi.." ujar Jungkook
"sini.." Yoongi menarik rambut milik Jungkook.
Yoongi mulai menyisir rambut Jungkook mengikat dan mencepolnya dengan rapih.
"terimakasih Miss. Yoongi" ujar Jungkook namun hanya dijawab acuh. Saat itu juga ia berfikir Yoongi memiliki sifat yang baik..
"sekarang berdandanlah.." ujar Madam Jung.
Semua mrid wanita pun berdandan dengan segala macam kosmetik yang berada di atas meja.
Jungkook hanya memperhatikan Jin dan Yoongi yang sibuk berdandan. Jin yang sudah sangat cantik dengan wajah alami bertambah cantik dengan polesan makeup natural diwajahnya. Sedangkan Yoongi bertambah manis dengan polesan makeup diwajahnya.
"apa yang kau lakukan? Cepatlah berdandan.." ujar Yoongi.
"aku tidak bisa.. aku tidak pernah menggunakan kosmetik.." jawab Jungkook
"itu sebabnya wajahmu sangat jelek dan tidak terawat." Ujar Yoongi.
"jangan banyak bicara.. Yoong! Ayo kita dandani dia.. aku tidak ingin Madam mengamuk." Ujar Jin kemudian mengambil bedak dan mulai mendandani Jungkook. Begitupun dengan Yoongi.
..
"usaha yang bagus Miss. Seokjin nilai 90, ayeshadow milikmu terlalu pucat." Ujar madam Jung.
"bagus.. sempurna Miss. Yoongi nilai 80, kau lupa menggunakan bulu mata"
"hmm.. bagus, sempurna.. nilai 85, lipstikmu seharusnya warna peach bukan merah. Miss. Jeon"
.
.
.
Jungkook keluar kelas dengan riang gembira.
"terimakasih! Kalian sangat baik! Aku harap aku sekamar dengan kalian." Seru Jungkook
"Miss. Jeon! Minus 10!"
"hei bodoh! Kau baru saja mengumpulkan nilai dan langsung kau hilangkan seperti itu?! Otakmu dimana?" jejar Yoongi.
"otakku disini.."ujar Jungkook sambil menunjuk kepalanya.
"yaaa!"
"Miss. Yoongi! Min 10!"
"daripada kalian berteriak tidak jelas, mending kita ke papan pengumuman.. sebentar lagi sore, makan malam akan segera di mulai, kita harus mencari kamar,.." ujar Jin sambil berjalan.
.
.
"lihatlah dia, sangat aneh.. hanya dia putri yang bertingkah seperti itu."
"yaa.. dia memang sangat unik.. aku jadi tertarik"
.
.
Sepertinya dewi fortuna tengah berpihak pada Jungkook. Ia sekamar bersama Jin dan Yoongi.
"Miss. Seokjin! Kita akan kemana setelah ini?" tanya Jungkook.
"panggil saja Jinnie.. aku sudah menganggapmu sebagai teman.. kita akan ke ruang makan.. mulai besok sekolah kita akan kedatangan murid lelaki, jadi sekolah kita mengadakan makan malam besar bersama anak lelaki.." jelas Jin
"oh begitu.."
"yaa! Bodoh jangan memakai pakaian seperti itu! Pakai gaunmu! Ini makan malam!" seru Yoongi sambil mencopoti blouse dan celana pendek Jungkook.
Jin membuka lemari baju milik mereka.
"ini akan menyenangkan!"
Jin sibuk mencari gaun yang pas untuk mereka, sementara Jungkook mengikuti Yoongi masuk ke kamar mandi.
"gunakan ini.." ujar Yoongi sambil memberikan sebotol alat kosmetik.
"ini untuk apa?" tanya Jungkook.
"ini akan membuat wajahmu tambah segar.. cepat cuci wajahmu dengan ini.." ujar Yoongi sambil mencipratkan air ke wajah Jungkook dan Jungkook pun membersihkan wajahnya.
"Setelah itu pakai ini.. ikuti aku.." Yoongi menumpahkan sebuah pelembab wajah di telapak tngannya dan Jungkook.
Yoongi mulai mengusapkan pelembab itu ke kulit wajahnya. Jungkook pun mengikuti.
"bagus! Sekarang ayo kita keluar.."
Yoongi dan Jungkook pun keluar kamar mandi.
"lihat ini! Ini punyaku, ini untuk Kookie, dan ini untukmu Yoong!" ujar Jin sambil mengangkat gaun sutera pendek yang terlihat sangat manis..
Jin menggunakan gaun sutera berwarna soft pink. Gaun itu berlengan panjang dengan belahan bahu yang agak lebar menampilkan bahu mulus dan leher jenjangnya. Gaun itu polos tanpa motif apapun memang cukup sederhana, tapi jika dipakai oleh Jin terlihat lebih elegan..
Yoongi menggunakan gaun sutera berwarna putih. Gaun itu tidak memiliki lengan dan hanya dihiasi oleh sebuah pita berenda yang berada dibelakangnya.
Jungkook memakai gaun yang sangat manis dengan atasan sebuah bustier berwarna putih dan bawahan rok yang berwarna merah membuat ia bertambah manis..
"sudah kuduga.. ini cocok untukmu.." ujar Jin sambil menarik Jungkook ke meja rias.
"sekarang apa lagi?" tanya Yoongi.
"Yoong rambutku akan kucepol.. kau?" tanya Jin sambil menyisir rambut Jungkook.
"hanya ku kepang, oh tidak jangan bilang kau akan menarik perhatian pangeran Kim Nam Joon itu dengan keseksianmu.." goda Yoongi sambil mengepang rambutnya.
"apa apaan kau... ti-tidak seperti itu..." ujar Jin sambil merona.
"aku melihatmu merona seokjinie,,," ujar Yoongi.
"sudahlah, lupakan.." ujar Jin sambil menyematkan sebuah jepitan di rambut Jungkook.
"siapa itu Kim Nam Joon?" tanya Jungkook.
"dia itu salah satu pangeran di sekolah ini.. kau tahu, sejak dulu Jin tertarik padanya.." jelas Yoongi.
" jinjayo? Wah.. apa ia tampan?" tanya Jungkook
"tentu saja... tapi.."
"tapi apa?"
"Jin terikat dengan seseorang.." ujar Yoongi.
"hah? Siapa?"
"sudahlah.. jangan banyak bicara... cepat pakai bedak dan benahi penampilanmu.." ujar Jin yang sudah memakai sepatu stiletto hitamnya.
Jungkook pun memakai bedak dan beranjak.
TUKK
Yoongi melempar sebuah stiletto berwarna hitam tepat dihadapan Jungkook.
"pakai itu..." ujar Yoongi. Dan Jungkook pun memakainya.
.
.
.
.
.
.
DINING ROOM.
Jin, Yoongi, dan Jungkook berjalan beriringan menuju meja mereka. Tak perlu diragukan lagi, Jin Yoongi dan Jungkook sudah terkenal.. Jin yang terkenal sebagai best Princess, Yoongi yang terkenal sebagai penyihir blak blakan dan Jungkook yang terkenal karena kesan buruknya pagi tadi.
"hari yang cerah Miss. Seokjin..." sapa seorang pria yang membungkuk sambil mencium punggung tangan Jin.
"hari yang cerah pangeran. Hyosang" balas Jin
"seperti biasa, anda selalu terlihat cantik, silahkan duduk Miss." Ujar Hyosang sambil menarik kursi dan mempersilahkan Jin duduk.
"terimakasih.."
Jungkook yang melihat adegan antara Jin dan Hyosang hanya bisa terdiam.
"jin sudah mendapatkan pasangan makan malam, lihatlah.. sekolah ini semua muridnya dalam proporsi yang sama.. jadi semuanya akan mendapat teman makan malam.. pergi berbaurlah.. oh iya.. yang tadi itu pangeran Jin Hyosang. Dialah pangeran yang terikat bersama Jin.. mereka dijodohkan sejak dulu..." jelas Yoongi
"benarkah? Jadi karena itu Jinnie tidak bisa berhubungan dengan pangeran Namjoon?'' tanya Jungkook
"yaa.. karena itu.. sudahlah.. segera cari teman makan malammu.. kuharap kau mendapat pangeran yang tampan.. hahahah.." ujar Yoongi sambil melangkah menjauh.
.
Jungkook mengelilingi ruang makan, acara makan malam memang belum dimulai karena masih banyak orang yang belum mendapat tempat duduk dan paangan.
Karena terlalu asik melihat sekeliling Jungkook tidak sadar kalau dihadapannya ada seseorang yang akan siap ia..
BRUKK
Tabrak..
Pria bersurai oranye itu menoleh kala ia merasa seseorang atau sesuatu menabrak punggungnya namun, ia terkejut yang menabraknya adalah seorang wanita.
"maaf, apa ada yang sakit?" ujar Pria itu sambil membantu Jungkook berdiri.
"apa ada yang terluka?"
Cup.
Pria itu mengecup punggung tangan jungkook membuatnya terkejut dan..
"haaah?!"
Berteriak
"Miss. Jeon! Minus 10 poin!" seru madam. Choi
"kenapa kau berteriak? Apa benar ada yang sakit? Atau terluka?" ujar pria itu sambil mengegam tangan jingkook dan memperhatikan tubuhnya.
"yak! Kau mesum! Lepaskan tanganku!" ujar Jungkook sambil menarik tangannya.
"jaga mulutmu, apa ada seorang putri yang sepertimu? Kasar sekali!" ujar pria itu.
Jungkook hendak membalas namun, TIINGG TIINGG. Suara gelas yang berdentingan dengan garpu itu menginterupsi, pertanda makan malam akan segera dimulai.
Jungkook dan pria itu duduk bersamaan di meja yang berada di samping kiri mereka dengan tatapan belum berdamai.
"perhatian semuanya! Makan malam akan dimulai, jadi makanlah dengan teratur." Ujar madam. Choi
Jungkook melihat hidangan dihadapannya, hidangannya memang sangat enak dan ia juga sangat lapar tapi ia jadi mengingat ibunya..
Apa yang ibunya makan untuk makan malam hari ini? Apa itu makanan yang sehat? Makanan yang enak?. Karena mengingat ibunya Jungkook jadi tidak selera makan sedikitpun..
"ada apa denganmu? Cepat makanlah.." ujar pria itu.
"a-ah, aku teringat ibuku.. jadi.."
"peraturan di sekolah ini, setiap murid harus menghabiskan makan malamnya kalau tidak akan dihukum.." ujar Pria itu
"apa? Kalau begitu aku harus makan, aku sudah kehilangan banyak poin hari ini.." ujar Jungkook sambil memakan makanannya.
Pria itu tersenyum jahil. Ia merasa sudah membohongi anak kecil, tidak menghabiskan makan malam akan dihukum? Hei apa kau bercanda.. hahaha..
.
TINGG TINGG!
Suara gelas yang berdentingan dengan garpu itu kembali terdengar menyita erhatian. Sang kepala sekola berdiri dan menatap semua muridnya.
"selamat malam semuanya" sapa kepala sekolah.
"selamat malam."
"malam ini ada sesuatu yang sangat penting untuk disampaikan, kembali lagi sekolah kita membuka program pendidikan sekolah gratis melalui Platinum student. Dimana, para siswa yang mendapat gelar platinum akan saling bersaing untuk mempertahankan mahkota platinum mereka. Siswa siswa itu adalah, Pangeran. Park Jimin, Pangeran Kim Taehyung, dan peraih nilai tertinggi adalah Miss. Jeon Jungkook" ujar kepala sekolah.
Mereka para siswa yang mendapatkan gelar platinum student pun berdiri, Jungkook sedikit terkejut, pria yang berambut oranye dihadapannya ini juga ikut berdiri.
"silahkan duduk. Mereka inilah yang akan bertarung mempertahankan gelar platinum yang mereka dapatkan dengan poin mereka akhir semester nanti."
"wah.."
PROKK PROKK PROOKK.. para murid pun bertepuk tangan.
.
.
"jadi? Kau yang bernama Park Jimin?" tanya Jungkook
"enak saja! Jangan samakan aku dengan bocah jelek sepertinya.." jawab pria dihadapan Jungkook acuh
"jadi? Kau Kim Taehyung?" tanya Jungkook lagi yang hanya di anggapi dengan deheman oleh pria bernama Taehyung itu.
"aku Jungkook."
TAKK
Yoongi tiba tiba menyentil dahi Jungkook.
"seharusnya kau membungkuk dengan benar saat mengajak seorang pangeran berkenalan." Ujar yoongi.
"hari yang cerah pangeran.." ujar yoongi kemudian.
"hari yang cerah.." balas Taehyung. "ini sudah terlalu malam, kalian para putri seharusnya sudah berada di dalam puri sekarang." Lanjutnya
"kami memang akan pergi ke puri, selamat malam pangeran.." ujar Yoongi "tsk menunduklah jungkook dia pangeran!" lanut Yoongi sambil menjitak Jungkook.
"selamat malam. Uggh! Yoong!" seru Jungkook sambil mengikuti langkah Jungkook.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tidak terasa sudah 5 hari Jungkook beraada di sekolah kerajaan, ia sangat merindukan rumahnya.. beruntung hari ini sekolahnya meliburkan seluruh siswa siswi kerajaan agar beristirahat dirumah..
Jungkook melangkah keluar puri sambil menenteng sebuah tas berwarna merah dan merangkul ranselnya. Jangan tanyakan kenapa ia pergi sendiri, itu karena Jin yang pagi pagi sekali sudah dijemput keluarganya di puri untuk melakukan perawatan dan macam macam kursus, begitu pula Yoongi yang tadi pagi seorang pria yang mungkin dari kalangan pangeran menjemputnya tepat didepan pintu puri untuk pulang kerumah.. jadilah jungkook yang terakhir.
Untung saja jarak dari sekolah kerajaan menuju rumahnya tidak terlalu jauh, jadi Jungkook bisa jalan kaki. Jungkook menatap langit yang berada diatasnya. Kemudian tersenyum.
"sudah siang, pasti ibu sedang menyemprot bunga bunga, dan memberi pupuk... ibu pasti lupa makan siang," ujar Jungkook
Jungkook memercepat langkahnya menuju rumah tercintanya.. memang benar perkataannya, sang ibu tengah menyemprot bunga bunga yang berada dihadapannya.
"Ibuu!" Jungkook berseru sambil berlari kearah ibunya yang langsung menoleh mendengar suara anaknya.
"Kookie~! Aigoo anak ibu, kau tambah sehat rupanya.. bagaimana sekolahmu? Aigoo,, ibu sangat merindukanmu!" ujar sang ibu
"Kookie, baik-baik saja... sekolahku juga menyenangkan nanti akan aku ceritakan.. apa ibu sudah makan siang? Aku membawa oleh oleh.. Jinnie dan Yoongi memberikannya untukku.." ujar Jungkook sambil mengangkat tas berwarna merah yang ada di tangannya.
"ibu sudah makan siang sayang... masuklah dan bereskan barang barangmu.. "
"baik bu.."
Jungkook pun melangkah masuk dengan riang, ia senang melihat ibunya sehat sehat saja.. ia mulai membereskan semua tugasnya. Jungkook sudah tau bahwa ssang ibu memang mengerjakan semuanya, tapi pasti pekerjaan itu tidak maksimal jadilah Jungkook yang mengerjakannya lagi..
Jungkook melangkah ke arah taman belakang, ia meraih semua pakaian kering yang berada di tali jemuran kemudian melangkah masuk dan memasukan kain itu kedalam keranjang.
Jungkook sudah menyapu seluruh daerah dalam rumah bahkan sampai ditokonya sekalipun. Ia kembali ke ruang tengah dan mulai melipat semua kain yang tadi diangkatnya kemudian membawa kain itu masuk kedalam lemari. Karena terlalu sibuk Jungkook lupa kalau hari sudah beranjak sore dan ia harus menyiapkan makan malam..
"ibu, tutup saja tokonya, sebentar lagi malam, kita harus menyiapkan makan malam.. atau Jungkook saja yang menyiapkan?" ujar Jungkook sambil memakai sepatunya
"biarkan saja tokonya buka... ibu yang menjaganya, ah tidak perlu ibu saja yang menyiapkan Kookie pati capek.. dan sekarang kookie mau kemana?" tanya sang ibu.
"tidak apa apa.. Jinnie memberi kita Kimchi dan daging, Sambgyeobsal jadi kookie bisa memasaknya.. ini, tadi ibu menulis daftar belanja dan menaruh uang diatasnya lalu kookie menemukannya, mungkin ibu lupa untuk pergi berbelanja.."
"ah! Iya.. ibu lupa itu untuk berbelanja... jadi bisa Kookie tolong ibu pergi berbelanja?" tanya sang ibu Jungkook mengangguk.
"aku pergii..."
.
.
.
.
.
.
.
Seorang gadis cantik tengah enatap seorang pria paruh baya dihadapannya.
"jadi bagaimana hubunganmu bersama Hyosang?" tanya pria paruh baya itu.
"baik baik saja ayah.. kami akur.." balas sang gadis yang diketahui adalah anaknya.
"baguslah, kau tahukan SeokJin, sudah berapa lama kita sekeluarga berkerabat dekat dengan keluarga Jin Hyo Sang? Jadi, kami sudah mengatur perjodohan ini sedari dulu.. olehkarena itu, kumohon jangan mengacaukannya." Ujar pria paruh baya yang dikeahui adalah ayah dari Jin.
"tapi ayah, aku.. tidak bisa menerima perjodohan ini.. aku tidak mencintai Hyosang." Bantah Jin.
"ayah memasukanmu ke sekolah kerajaan untuk mengajarkanmu tata krama yang baik! Dan darimana kau belajar semua ini hah! Membantah orang tua! Kau fikir ayah tidak sulit membesarkanmu!" bentak sang ayah.
"ayah maafkan aku, tapi..."
"Kim Seok Jin! Semuanya akan berjalan seiring waktu! Kau tahu, cinta.. cinta ini tidak ada! Cinta tidak pernah ada di dunia ini! Kau tau betapa bejadnya ibumu yang membuat ayah jatuh hati! Itu semua yang kau sebut cinta!" lagi laggi sang ayah membentak
"ayah.."
"ibumu! Ibumu! Yang membuat ayah harus menanggung semuanya! Ibumu yang menggoda ayah untuk masuk kedalam dosa besar.. menjadi bandar mafia! Tapi, setelah ayah tertangkap dan jatuh miskin ia meninggalkan ayah bersamamu! Ayah berjuang sendiri tanpa cinta! Ayah mendidikmu! Ayah berusaha memasukanmu ke sekolah yang terbaik sampai kita bisa kembail sekaya ini dengan uang hasil jeripayah ayah sendiri dan itu yang kau sebut dengan cinta!"
"ayah, tapi aku dan ibu..."
"diam! Kau fikir kau bisa hidup, makan , dan bersekolah dengan cinta?! Tidak! Kau perlu uang! Kau peru kekuasaan! Lihatlah keluarga Hyosang! Lihatlah Hyosang, lahir dari keluarga yang super duper kaya! Berpendidikan dan memiliki pemikiran intelektual! Dia yang pantas untukmu Jin! Kau bisa berbahagia bersamanya dengan atau tanpa cinta!" ujar sang ayah membuat Jin terdiam menahan air matanya.
"baik ayah, aku mengerti.. aku akan menerima perjodohan ini.. perjodohan antara aku dan Hyosang yang dapat membuat ayah bahagia.." ujar Jin.
"baguslah, kalau begitu pergi ke kamarmu dan belajarlah, sampai waktu makan malam.." ujar sang ayah membuat Jin bangkit.
"baik ayah,"
.
"seharusnya aku tahu dari dulu, kalau kita tidak akan pernah saling memiliki dan kita tidak akan pernah bersatu, walaupun aku mencintaimu dan kau mungkin juga mencintaiku.. Kim Nam Joon"
.
.
.
.
Hari sudah semakin sore, Jungkook menenteng belanjaannya ia harus segera memasak makan malam.. namun saat melewati sebuah padang ilalang yang luas Jungkook mendengar sesuatu.
"kau tidak apa apa kan anjing manis?"
Jungkook tersentak, siapa yang berbicara ditengah padang ilalang ini? Suaranya seperti suara seorang pria.. jungkook yang penasaran pun melangkah memasuki padang ilalang itu. Namun baru beberapa langkah Jungkook menemukan sebuah lubang.
"kakimu pasti sakit.. nanti kalau kita menemukan bantuan aku akan mengobatimu.."
Jungkook kembali terkejutsuara itu jelas berasal dari lubang yang lumayan dalam itu.
"ha-halo?" ujar Jungkook.
"hei! Apa ada orang diluar sana? Tolong kami!"
Jungkook benar! Suara itu memang berasal dari lubang itu. Jungkook mendekati lubang itu kemudian berlutut agar bisa melihat siapa yang berada di dalam lubang itu.
Betapa terkejutnya Jungkook saat melihat seorang Pria berambut hitam tengah memeluk seekor anjing kecil berwarna putih.. seluruh tubuhnya kotor dan beberapa ada yang tergores.
"hei? Apa kau tidak apa apa?" tanya Jungkook.
"aku tidak apa apa, tolong bantu aku dan anjing ini keluar dari lubang sialan ini.." ujar Pria itu. Jungkook tersenyum manis.
"kemarikan anjingnya..." ujar Jungkook. Pria itupun mengangkat anjing itu yang langsung diraih oleh Jungkook.
"kemarikan tanganmu.." ujar Jungkook sambil menjulurkan tangannya.
"hah?" pria itu tampak terkejut.
"kau tidak mau naik? Aku mau menolongmu.." ujar Jungkook.
"ah, baiklah.." ujar pria itu kemudian mengambit tangan Jungkook. Jungkook menarik pria itu sekuat tenaga agar pria itu bisa keluar dari lubang itu. Dan berhasil.!
"tubuhmu terluka.." ujar Jungkook.
"ah, tidak apa apa, kurasa ini luka biasa.. hei, bagaimana keadaanmu anjing kecil?" ujar pria itu sambil mengelus kepala anjing yang berada dalam gendongan Jungkook
" tadi kulihat dia pincang, sepertinya kakinya patah.. ibu pasti bisa mengobati ini... oh iya, namaku Jungkook." Ujar Jungkook.
"aku Jimin.."
" oh ya, Jimin, pergilah kerumahku, biar kuobati semua lukamu.. dan anjing ini... lagi pula sebentar lagi malam.. rumahku toko bunga yang ada di seberang sana.." ujar Jungkook
" aku takut merepotkan.." ujar Jimin. Jungkook menggeleng.
"tidak.. tidak apa apa.. ayo.. pegang anjing ini.." ujar Jungkook sambil menyerahkan anjing itu kearah gendongan jimin.
Jungkook pun menenteng belanjaan di tangan kanannya. Perlahan ia menarik lengan Jimin dan menyampirkannya ke bahu kecil miliknya. Jungkook pun membopong tubuh Jimin hingga sampai kerumahnya.
.
.
.
Sesampainya dirumah, ibunya segera menyambut jungkook dengan terkejut.
"aigoo.. ada apa ini?" tanya ibunya.
"ini Jimin eomma, dia temanku.. dia terjatuh kedalam lubang karena menyelamatkan anjing ini..." ujar Jungkook..
"agoo aigoo tubuhmu penuh luka nak.. sebaiknya kau mandilah dulu.. Kookie~ tunjukkan kamar mandinya. Ibu akan menutup toko.." ujar sang ibu sambil beranjak.
"baiklah.. Jimin, ayo... kau mandi sana, sekalian mandikan anak anjing ini juga.. pakaianmu tinggalkan saja, nanti aku yang cuci.. kau pakai baju kakakku saja.. kamarmandinya yang itu.." ujar Jungkook saat berada di dalam rumah sambil menunjuk sebuah pintu berwarna putih.
"baik,.. terima kasih Jungkook.." ujar Jimin sambil memasuki kamarmandi.
.
.
.
.
Setelah beberapa menit Jimin mandi, ia pun keluar dengan bathrobe yang melingkar ditubuhnya..
Karena posisi kamar mandi yang berdekatan dengan dapur Jimin dapat melihat langsung apa yang Jungkook lakukan. Gadis cantik itu tengah memasak beberapa bahan makanan untuk makan malam bersama ibunya.. sungguh potret yang sempurna.
"ah, kau sudah selesai Jimin? Ini, untukmu.. ibu sudah mempersiapkannya.." ujar ibu Jungkook membuat Jimin tersadar dan segera mengambil setelan baju yang ada ditangan ibu Jungkook.
"terimakasih," ujar Jimin.
"kau bisa pakai kamar yang itu untuk ganti baju.. itu kamarku.. kemarikan anjingnya biar ibuku yang obati.." ujar Jungkook sambil mengambil anjing yang berada di tangan Jimin dan menggendongnya.
"ah.. baiklah.." ujar Jimin sambil melangkah pergi kearah kamar Jungkook.
.
.
Jimin telah mengganti bajunya, namun Jimin masih berada di dalam kamar Jungkook. Jimin menjelajahi seluruh daerah kamar Jungkook yang ber cat putih dengan sticker dinding bunga mawar merah.
Jimin melihat sebuah bingkai foto yang tengah tertutup di meja belajar Jungkook karena penasaran ia pun membuka dan melihat foto itu.
Sebua potret keluarga yang bahagia.. ya, itu memang foto keluarga Jungkook. Jungkook kecil yang berusia 10 tahun yang tengah duduk manis dengan dress merah yang cantik tengah dipeluk oleh seorang anak lelaki berusia sekitar 15 tahun wajahnya hampir mirip dengan Jungkook. Disamping kanan dan kiri mereka terdapat seorang wanita cantik yang mengulas senyum bersama seorang pria yang juga tersenyum kearah kamera.
"ini pasti kakaknya, dan ini ayahnya.." ujar jimin sambil kembali meletakkan bingkai foto itu semula.
"Jimin beralih kearah tempat tidur yang tepat disampingnya ada sebuah meja nakas berwarna putih yang diatasnya terdapat bingkai foto.
"apa ini?"
Jimin mengangkat bingkai foto itu, dan melihatnya dengan seksama. Foto Jungkook yang barusaja lulus sekolah menengah memegang sebuah kue cokelat dan berdiri berdampingan dengan kakaknya yang tengah memeluknya dari belakang sambil tersenyum bahagia.
"wah.. kakaknya Jungkook tampan juga.. pantas saja dia cantik.. memang serasi.. aawh!" Jimin tiba tiba berseru,luka di kakinya kembali terasa sakit.
"sebaiknya aku cepat keluar dan meminta bibi mengobati lukaku.." ujar Jimin sambil melangkah keluar kamar Jungkook.
.
.
"Jungkook kemana ibumu?" tanya Jimin saat melihat hanya Jungkook sendiri yang berada di meja makan.
"ah, ibu sedang pergi.. ibu diminta bibi Hae untuk mendekorasi taman tempat pernikahan anaknya besok dengan bunga dari toko.. jadi ibu pergi untuk memastikan berapa banyak bunga yang dibutuhkan.." ujar Jungkook
"kemana anjing itu?" tanya Jimin kembali sambil duduk.
"gukk gukk~" anjing itu bersuara membuat Jimin menoleh kebawah meja.
"ah, disini kau rupanya.." ujar Jimin sambil hendak megambil anjing itu, namun.. "akh!"
"ada apa Jimin?" jungkook yang mendengar seruan Jimin segera berbalik, tadinya dia ingin mengambil mangkuk sup.
"lukaku.."
"astaga iya! Aku belum mengobati lukamu.." ujar Jungkok sambil duduk disamping Jimin.
Jungkook mulai membuka kotak obat yang berada di hadapannya. Dengan telaten dia mengobati luka yang erada di kaki, leengan dan wajah Jimin.
"sudah selesai.." ujar Jungkook. "jimin, makanlah.. kau pasti lapar.." ujarnya kemudian.
" oh iya, dimana kakakmu?" tanya Jimin membuat Jungkoook terdiam.
"sedari tadi aku tidak melihat siapapun disini.. selain kau dan juga ibumu.." ujar Jimin sambil menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
"..." jungkook erdiam.
"a-ah, eum.. Jungkoook? Ma-maaf kalau aku.. aku tidak bermaksud—"
"dia sudah pergi.. dia sudah bahagia.." ujar Jungkook sambil tersenyum.
"Jungkook?"
"makanlah Jimin.. akan aku ceritakan.." ujar Jungkook sambil melanjutkan makannnya.
"setahun yang lalu.. saat aku lulus dari sekolah menengah.. kakak dan ibu datang membawa kejutan.. kejutan yang tak terduga.. sebelumnya, pagi itu kakak dan ibu tidak berbicara satu atah kata pun padaku.. mereka bahkan tidak datang saat kepala sekolah membacakan nilaiku adalah nilai yang terbaik.. tapi siapa sangka, mereka datang.."
"tapi, saat mereka datang merayakan kelulusanku, saat itu juga menjadi hari terakhir kakaku berada di dunia." Sambung Jungkook. Ia telah menghabiskan makanannya.
"kakakmu meninggal karena apa?" tanya Jimin.
"dia tertimpa atap sekolahku.. dia sudah tau, bangunan itu akan jatuh.. tapi seharusnya bangunan itu jatuh dibawahku tapi ia malah mendorongku untuk melihat foto yang diambil ibu.." ujar Jungkook sambil menggenggam sumpitnya kuat.
"seharusnya kakakku semangat seperti Sungjae dan Haekyeon yang turut tertimpa atap itu.. tapi.. ternyata, kakakku juga tertusuk sebuah besi dari belakang.." ujar Jungkookk.
"Jungkook, maaf.."
"tidak apa Jimin.. aku dan kakakku selalu terikat.. kami punya ini.." ujar Jungkook sambil menunjukkan sepasang kalung yang melingkar di lehernya. Kalung itu berbentuk hati yang saling menggait.
"sebelum kakakku meninggal ia menyuruhku memakai kalungnya.. katanya.. rohku akan tersimpan di kalung itu.. akan selalu menjagamu dari dekat dan selalu tersimpan dihatimu.. oleh karena itu aku memakainya.." ujar Jungkook.
"kalung yang bagus..." ujar Jimin.
.
"ibu pulang..." seru ibu Jugkook
"ah, sedang apa kalian? Sudah makan malam?" tanya ibu Jungkook saat melihat Jimin dan Jungkook.
"sudah bi.. terimakasih sudah meminjamkan baju.." ujar Jimin.
"iya, sama sama.. lagipula itu baju milik Jongki.. kakak jungkook yang sudah meninggal 3 tahun yang lalu.. tapi entah kenapa dia selalu terasa berada di dalam rumah ini, mengawasi kami.. terutama Jungkook yang memakai kalungnya.." ujar ibu Jungkook
"Jongki hyung pasti sangat menyayangi Jungkook." Ujar Jimin.
" iya, sepertinya.."
"ah, bibi.. ini sudah terlalu larut.. aku harus segera pulang.. " ujar Jimin sembari bangkit.
"Jimin, anjingmu?" tanya Jungkook
"buatmu saja... terimakasih Jungkook, bibi.. kita pasti akan ketemu lagi.. sampai Jumpa" ujar Jimin sambil berlari..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
AHUYY... GW BALIK AMA FF BARU.. HAHAHA... SORRY JELEK BANGET FFNYA... BUAT YANG NUNGGU FF NEOTTAEMUNHAE-NYA NAMJIN SABAR YA,,.. PAS COMENTARNYA UDAH SAMPE 70 ELIN POST DEH FFNYA...
AKHIRKATA JANGAN LUPA REVIEW JUSEYO.. JANGAN CUMA JADI GHOSTIEE
.
