Gak ada angin gak ada hujan, liburan pun baru mau mulai, Kaito, Mikuo, dan Miku kumpul bareng di teras belakang. Entah kesambet apa.
Mikuo, sebagai anak tahun terakhir yang baik, terlihat sibuk berlatih futsal. Iya, gak nyambung memang - wong mau UN kok malah latihan futsal. Tapi, sebentar lagi, ia akan menghadapi pertandingan terakhirnya dalam membela SMA tercinta sebelum ujian datang. Karena itu, Mikuo menikmati Sabtu paginya dengan lari-lari kecil di halaman belakang.
Kaito, sebagai anak kuliahan yang baik, juga tak kalah sibuknya. Matanya yang kini dibingkai kacamata minus terus memandangi sebuntel kertas bersampul yang disebut buku. Iya, setelah pesta tahun baru nanti, ujian sudah menunggu. Dari pada harus 'pacaran' sama materi waktu malam tahun baru atau waktu 1 Januari, mending sekarang dijejelin ke kepala. Lagipula, malam tahun baru nanti kan, dia sudah ada undangan - atau lebih tepatnya, ia yang mengundang. Undangan ngapain? Pesta kah? Ngapain aja? Ssst, anak kecil gak usah tahu.
Miku, sebagai anak baru gede sekaligus anak baru masuk SMA, tentu santai-santai saja di akhir semester satunya. Ia duduk mojok di ayunan single, main tablet dengan headphone nempel di telinga. Kakinya ditekuk, membuat tabletnya makin dekat ke matanya. Iris Miku sendiri sudah mengecil, kontras dengan bola matanya yang melebar. Bisa dibilang, Miku sudah lupa daratan.
Tangan kanan Miku bergerak, menuju tombol volume. Pencet tombol yang atas. Lagi. Lagi. Sekali lagi.
Pagi hari di kediaman keluarga Hatsune, diiringi suara burung peliharaan tetangga, derapan kaki Mikuo, gesekan kertas buku Kaito, dan suara desahan laki-laki yang samar.
Begitu mendengar bunyi yang terakhir, hening merajalela.
Sesaat kemudian, Kaito dan Mikuo menghentikan kegiatannya masing-masing, lalu berpandangan. Iris teal itu bertukar pandang dengan sepasang iris biru yang dalam.
Hushh, yang fujo diem dulu. Muka mereka sama sekali nggak menggambarkan tanda-tanda akan ada adegan ena ena atau sekedar romance yang fluffy gitu. Mikuo mangap speechless, sementara Kaito pasang poker face. Rasa-rasanya, semua materi ujian yang baru saja dipelajari Kaito hilang begitu saja.
Lagian, siapa deh yang cukup gila untuk muter suara gituan?
"...Mikuo, lo daritadi cuma olah raga kan?"
"Iyalah. Lo? Gak nonton begituan di tempat dan saat yang salah kan?"
"Kagaklah. Yakali."
Hening lagi. Suara itu terdengar lagi. What the fudge is that voice!?
Mikuo menoleh ke arah Miku."Mik, lo denger ga-"
Sekali lagi, Mikuo bengong. Kali ini, mangapnya lebih lebar. Kaito pun makin nyata poker face nya. Keningnya berkerut sesaat kemudian,"Mik? Miku?"
Tanpa ditanya lagi, Kaito dan Mikuo tahu darimana sumber suara itu - tablet Miku. Agak aneh memang Miku ini. Sudah pakai headphone, masih saja lolos suaranya. Mending lagu apa gitu yang enak, atau suara dari film biar serasa denger drama radio. Tapi ini? Ini sih kemungkinan besar suara visual novel atau semacamnya. Bukan visual novel biasa, tapi visual novel yang memang didesain untuk memanjakan kaum hawa - terutama yang masih gampang kya kya sejenis Miku ini.
Mikuo gondok. Kesel. Latihan paginya rusak gara-gara makhluk yang sedarah dengannya (tapi lebih sinting) ini. Tanpa menyeka keringatnya, ia naik ke teras, berdiri di depan Miku dengan bersedekap.
Miku sendiri masih belum kembali ke dunia nyata. Matanya masih membaca deretan teks yang terus berganti, mulutnya sedikit terbuka karena adegan nganu dan suara seiyuu yang lebih ngebass sekaligus lebih seksi daripada suara Mikuo. Setiap kali ganti adegan atau ganti dialog, rona merah di wajah Miku makin nyata. Nggak salah juga otome game yang direkomendasikan Rin semalam, mantab jiwa!
"Miku?"
"Miku?"
"Mik?", Mikuo mulai baper.
"WOI!"
"Eh anjir-", Miku latah seiring tangannya menyentuh tombol pause secara otomatis. Matanya langsung bertemu dengan sepasang bola mata yang serupa dengan miliknya. Miku langsung pasang wajah tanpa dosa."Kenapa?"
"Lo buka apaan?"
"Ha? Visual novel biasa."
Mikuo mengerutkan kening."Suara ahn ahn gitu lo bilang biasa?"
"Y-Ya biasa kan!", biasa hentainya, belom hardcore. Miku buang muka. Watadosnya gagal.
Mikuo menarik tab Miku."Sini."
"Hee? Ngapain?"
"Lihat."
"Lihat? Mau lihat apaan lo?"
"Ya lihat lo buka apa."
"Gak, gak boleh."
"Hoo. Buka macem-macem ya?"
"Dibilang enggak!"
"Kalo gitu kenapa gue gaboleh lihat?"
"Ya gak boleh aja."
"Lihatt!"
"Gak!"
"LIHATTTTT!"
"GAKKKK!"
Jadilah Mikuo dan Miku rebutan tab. Miku mendekap tabnya, sementara Mikuo tetap berusaha merebutnya.
"Jauh-jauh lo! Lo keringetan!"
"Seenggaknya gue gak keringetan karena ena-ena!"
Anjir.
Kaito hanya duduk di tempat. Dia tidak ada niatan untuk melerai dua sepupunya itu. Pertama, dia tidak peduli. Kedua, kalaupun Kaito peduli, mereka terlalu menyeramkan untuk dilerai. Bayangkan saja, sekarang keduanya sudah hampir saling smackdown.
Pada akhirnya, perjuangan Mikuo tidak sia-sia. Ia berhasil melihat apa yang dibuka Miku. Meski hanya teksnya. Meski hanya satu kalimat. Meski kalimat itu adalah '...we can't do this! We're siblings...' atau sejenisnya.
Mikuo serangan jantung.
Dan dengan bodohnya, ia membaca kalimat itu kencang-kencang."We're siblings...", ucap Mikuo, cukup untuk terdengar Kaito.
Kaito baru saja balik lagi ke bukunya, langsung nengok lagi. Itu barusan...apa?
"Anjir Miku! Lo buka apaan!? Kok ada incest-incestnya? Anjirrrr! Serem lu ah!", Mikuo langsung jauh-jauh. Miku sendiri langsung men-save gamenya dan mendekap tabnya kencang-kencang. Mukanya cemberut. Imut, tapi ngeselin. "Gue bilang jangan buka-buka!"
"Ya tapi itu apaan!? Lo kehabisan cowok atau apa sih!? Harus ada incestnya gitu!?"
"C-Cowoknya ganteng Mik! Tinggi, kacamata, kekar dan tegap! Suaranya ena! Arghhh!", jawab Miku sambil fangirlingan, membuat Mikuo menoleh ke arah Kaito.
"Tinggi? Kacamata? Maksud lo Kaito?"
...
Kaito hanya nyengir kalem. Atau kalau menurut Miku, nyengir sok kalem.
"...udahlah.", Miku berucap pendek. Ia beranjak berdiri dan masuk ke dalam.
"Jangan bilang mama ya. Ntar gue beliin martabak yang toppingnya 8 jenis itu."
Sekali lagi, Mikuo mengangkat hidung. Ah, indahnya jadi orang jujur!
Ini hari Sabtu. Alias hari libur. Alias hari untuk istirahat.
Bukan hari untuk mengurus kegiatan sekolah!
"Wa? Wuku waunan?"(Hah? Buku tahunan?), Luka berseru dengan sikat gigi masih di dalam mulutnya. "Iya, buku tahunan! Gue lupa kita udah harus ngurusin itu!", Lily, yang ada di seberang telepon, ikutan heboh saat Luka juga baru ingat. Hari ini, ia iseng membuka buku catatan milik OSIS yang ia bawa pulang. Maklum, sekretaris OSIS. Niatnya hanya baca-baca, eh tahunya ia malah menemukan sesuatu yang harusnya ia sampaikan ke Luka.
"Lo dikasih tahunya kapan?", tanya Luka setelah kumur-kumur dan mengelap mulutnya.
"Udah dari sebelom UAS kemaren. Sorry Lu, gue bener-bener fokus ulangan kemaren! Gue lupa ada pesen itu dari kepsek!"
Luka menghela napas. Sebenarnya, ia kesal juga karena Lily baru bilang menjelang liburan. Tapi toh, kalau alasannya seperti itu, tentu ia tak berhak marah."Yang ngurus anak kelas dua belas aja, kan?"
Meski tahu Luka takkan bisa melihatnya, Lily tetap mengangguk."Iya, kelas dua belas aja. Sama minta bantuan dari yang bukan pengurus OSIS."
"Hmm...bolehlah. Oke, besok Senin kan kita classmeeting, nah kita cari dana dulu aja, jualan disitu. Enaknya CM itu jualan apa?"
"Umm...es buah, tapi rempong. Atau jual kayak es teh gitu-gitu aja."
Entah karena punya hubungan batin dengan Lily atau apa, Luka mengangguk-angguk meski tahu Lily tak bisa melihatnya.
"Apa jualnya kayak popsicle aja gitu ya? Yang sprite sama gummy bears itu?"
"Ah, itu boleh! Pasti yang lain setuju. Alat-alatnya nanti gue yang bawa."
"Berarti, tinggal bahan?"
"Iya. Sprite, gummy bears, terus stik es krim."
"Yosh, nanti gue beli. Uangnya ganti pake kas OSIS nanti."
"Oke deh. Eh iya, gue ada cara buat menghemat modal jualan..."
Mendengar kata menghemat, Luka langsung semangat."Apa apa? Apa Ly?"
"Kalo gak salah, ada anak angkatan kita yang namanya Mikuo. Gue denger, dia pernah beli stik es krim banyak banget buat ujian praktek. Eh, tahunya cuma dipake dikit dan sisanya banyak banget. Kita minta aja kali ya?"
Luka begitu bahagia - jujur, dia terlalu malas untuk mencari tempat yang menjual stik es krim dalam jumlah banyak."Ahh Lily, gue cinta sama lo! Boleh boleh. Gue aja yang minta. Makasih ya sayangku!"
"Sama-sama beb!"
Lily mengangkat hidung. Yosh, seenggaknya dia lolos dari amukan ketos yang baperan ini.
Miku boboan di atas ranjangnya. Nafsunya untuk main otome game sudah hilang gara-gara Mikuo tadi.
Miku guling-guling. Ah, dia bosan.
Setengah malas, ia membuka laci meja lampunya, hendak mengambil charger untuk tabnya. Laci pertama, tak ada. Kedua, isinya sisir. Ketiga, nah ini dia - chargernya dan sebuah pisau lipat.
Pisau?
Seketika, Miku melupakan rasa lemas yang menghinggapi tubuhnya. Pisau...pisau apa ini?
Dibolak-baliknya pisau itu. Mencoba mengingat-ingat darimana dia bisa mendapat pisau ini. Beli? Ah, gak pernah. Dibeliin? Enggak ah - separno-parnonya suami-istri Hatsune akan keamanan anak gadisnya, mereka tidak akan sampai hati anaknya melindungi diri dengan pisau. Dikasih? Hadiah ulang tahun gitu?
Miku mengerutkan keningnya saat memikirkan kemungkinan terakhir. Sekalipun ada cowok yang memberinya kado pun, nggak mungkin ngasihnya pisau lipat begini.
Dikasih...itu adalah yang paling mungkin dan masuk akal untuk sekarang ini. Tapi, sama siapa? Dimana? Kapan?
Hmmm, Miku diam sendiri. Sesaat kemudian, otaknya terasa ringan -
"Ohhh iya iya!"
-ia ingat siapa yang memberinya pisau ini. Dimana, ia juga ingat. Kapan dan kenapa ia diberi pisau ini, sudah ada di kepalanya.
Miku tersenyum senang. Kalau dilihat-lihat, pisau lipat ini bukan pisau lipat biasa. Kemungkinan, harganya mahal dan kualitasnya bagus. Baik sekali kakak itu meminjaminya tanpa memintanya kembali.
Miku men-charge tabnya, lalu memasukkan pisau lipat itu ke kantong belakang celana pendeknya. Ia mau pamer ke Mikuo!
Ting ting!
Mikuo melirik ponselnya yang berbunyi. Ada LINE dari...Luka?
Ada apa Luka me-LINE dia? Nggak biasanya. Mau ngelabrak soal Miku waktu itu? Ah, dasar anak mami. Luka itu pintar, kaya lagi. Sayangnya manja.
Mikuo membuka pesan Luka. Dan dugaannya ternyata salah.
Luka Megurine
Mikk, lo ada stik es krim kan?
Oh, soal stik es krim ternyata. Melenceng jauh dugaannya.
Mikuo Hatsune
Iya ada. napa mangnya?
Baru saja ponselnya mati, sudah bunyi lagi. Buset.
Luka Megurine
Bagi boleh gakk? buat buku tahunan nih. mau jualan es. terus katanya lo banyak stik es krim
Boleh ya? pliss. gue mager cari grosiran stik es krim.
Ah, benar kan. Dasar manja. Tapi, Mikuo juga tak keberatan sih. Toh, lumayan juga - stik es krim bekas ujian prakteknya itu bisa bermanfaat. Kalau tak salah, stik nya ada di gudang. Tinggal ambil deh.
Mikuo Hatsune
Boleh boleh. ambil aja. gratis.
Tapi lo yang kesini. gue gamau nganter.
Hahahahahahaha.
Nun jauh di kediaman keluarga Megurine, Luka mulai berpikir untuk beli grosiran aja. Nggak kakak nggak adek, sama belagunya.
Tapi, kalau memikirkan berapa banyak yang bisa dihemat...
Luka Megurine
Iya dah gue kesana. ntar gue dateng sama Gumi.
Eh eh ada Kaito kan di rumah? hehe.
"Mending lo ngambil stik es krim sama Kaito aja sekalian.", gumam Mikuo ngasal sembari jarinya mulai mengetik balasan.
Mikuo Hatsune
Iye iye ada. Mupeng lo.
Seandainya Mikuo tahu apa yang direncanakan Kaito di kamarnya, pasti dia benar-benar berharap kalau Luka datang dan membawa pergi Kaito saat itu juga. Tapi, Mikuo malah melangkah menuju gudang, mencari stik es krim tersebut. Mana dia tahu kalau Kaito sudah siap dengan tali, borgol, dan sejumlah kain di dalam kamarnya?
Miku berhenti di depan kamar Kaito saat ia mendengar bunyi gedebak-gedebuk yang cukup kencang. Hening sebentar. Tak terdengar apa-apa setelah itu.
Miku angkat bahu. Dia melanjutkan lagi langkahnya keliling rumah, mencari Mikuo. Sudah hampir satu jam ia mencari Mikuo kemana-mana, tapi tak kunjung kelihatan batang hidung kakaknya itu. Kapan mau pamer nih?
Tapi, baru berapa langkah ia menjauh, BRAKKK!
...oke. Ada sesuatu di kamar Kaito.
Sebenernya, Miku nggak mau bantuin Kaito. Iyalah, kan Kaito sudah besar! Cowok lagi. Jadi, Miku sudah mau lanjut jalan lagi.
Tapi, kalau mengingat kemungkinan Kaito cerita ke mamanya kalau ia repot sendiri dan tak ada yang membantunya...ya sudahlah. Acuh tak acuh, Miku berteriak di depan pintu kamar Kaito."Woiii, lo kenapa?"
"Nggak, nggak apa-apa kok!"
"Terus itu gedebak-gedebuk apaan?"
"Ah...barang jatoh doang!"
"...gue gak yakin."
Hening.
"Iya deh. Miku, bantuin gue dong!"
Ya ampun. Sudah hampir tiga minggu Miku menghindari kamar tamu ini karena ada penunggunya (iya, penunggunya Kaito), akhirnya ia malah masuk juga. Begitu pintu terbuka, ia melihat Kaito tersungkur di lantai dengan setumpuk buku tebal bertebaran. Ah, melihat buku-buku kuliahan yang tebal itu saja Miku sudah lemas, apalagi kalau sampai harus kena begituan! Miku memandangi Kaito."Nggg...lo gak apa-apa?"
Kaito meringis kesakitan."Aduh...iya, gue gak apa-apa. Bisa minta tolong ambilin buku-bukunya?"
Tanpa curiga, Miku mengambil beberapa buku yang terlihat cukup ringan. Baru tangannya naik berapa senti dari atas lantai, Kaito sudah menariknya ke bawah lagi.
Miku bisa merasakan darahnya berhenti mengalir. "E-Eh?"
"Ssst. Diam. Atau, jangan harap bisa selamat."
Bahasa Kaito berubah drastis. Ekspresinya juga berubah. Untuk sekian lama bersama Kaito, ini pertama kalinya Miku merasa setakut ini. Securiga ini.
"To-Tolonhhgg-!"
Sebelum suara Miku cukup untuk terdengar ke luar, Kaito sudah menjejalkan segulung kain ke mulutnya dan menutup pintu.
Mungkin kali ini, dewi fortuna berpihak kepada Miku.
Tepat sesaat sebelum mulutnya dijejal, Luka dan Gumi masuk ke pekarangan rumah Mikuo-Miku. Kebeulan, mereka masuk lewat samping - dekat kamar tamu yang menjadi kamar Kaito.
Luka pasang muka cuek, dia tak mendengar apa-apa. Iyalah, telinganya sudah ditutup headphone mahalnya. Mulutnya pun menyenandungkan lagu yang ia dengar. Hanya Gumi yang curiga. Ia mendengar suara yang seperti...seseorang yang mau teriak, tapi dibekep duluan. Tak heran kalau Gumi bisa mendengar itu, ia adalah makhluk dengan pendengaran super.
Gumi langsung menoel-noel Luka."Luk, Luka, lo denger itu nggak?"
Luka langsung membuka sebelah headphonenya."Ha? Apaan?"
"Itu, suara orang dibekep!"
"...lo ngomong apa sih?"
Tanpa merasa curiga, Luka masuk ke dalam kediaman Hatsune. Ia duduk di ruang tamu, bersama dengan Gumi yang juga duduk di sebelahnya. Luka menoleh ke kanan-kiri."Mikuo mana ya?"
"Entah. Mungkin masih ngambil barangnya?"
Bruk!
"Ah itu dia. Lagi bongkar-bongkar!", seru Gumi. Luka hanya mengerutkan kening.
"Mmmm! Mmmmmmm!"
Hening. Luka dan Gumi berpandangan.
"Satu.", Luka buka mulut."Yang gue tahu, gudang itu ada di belakang rumah dan kita ini di ruang tamu, bagian depannya. Masa bunyinya bisa sejelas itu?"
Gumi terdiam."Dan kedua, yang barusan tadi...kayak bunyi...orang disekap?"
"Tuh kan bener!",seru Gumi dengan suara yang dipelankan."Ada orang yang dibekep! Tadi gue gak salah!"
"Ya tapi siapa? Dan kenapa disini?", Luka membalas setengah berbisik.
Gumi diam. Tak bisa menjawab. Tapi dari wajahnya jelas ia mulai takut.
PLAK!
Itu suara tamparan. Disusul suara tangisan yang sedikit tak jelas.
Luka melirik ke kanan-kiri."Gumi, oom lo polisi kan?", Gumi mengangguk.
"Telepon om lo, suruh kesini. Gue yang cari tahu ada apa."
Gumi menggeleng, ia tak mau ditinggal sendiri."Tapi, kalo lo kenapa-napa?"
"Gak bakal!", Luka membalas cepat."Udah, cepet telepon! Kalo udah, langsung cari gue!"
Tenggorokkan Miku sudah kering dan tercekat. Air matanya mengalir di pipinya yang sudah memerah bekas ditampar.
Sejak tadi, ia berusaha berontak. Ia menendang semua yang ada di dekatnya. Agak susah sih, karena tangannya diborgol, kakinya juga diikat. Ternyata, dibalik tingkahnya yang selalu santai, Kaito cukup cekatan. Ikatan tambang di kakinya cukup kencang. Bahkan, karena itu dan karena ia terus berusaha menendang, sekarang kakinya sudah mulai mati rasa.
Dadanya naik turun. Ia menangis sesenggukkan. Semua sikapnya yang berani berontak hilang begitu saja.
"Mau main otome game beneran, nggak?", Kaito menghampiri Miku. Diangkatnya dagu Miku, membuat Miku memejamkan matanya ketakutan. Tangisannya juga makin kencang.
"Lo ngerti diem, kan?", Kaito berkata pelan. Tangannya menggenggam sesuatu; cemeti kecil. Ya Tuhan - darimana Kaito mendapat itu? Mata Miku melebar, takut. Sesaat kemudian, tangisannya pecah bersama air matanya yang mengalir lagi. Ctas!
Satu cambukan. Ke lengan kiri.
"Gue tanya, mau main otome game beneran nggak? Yang incest.", Kaito tersenyum licik."Daripada cuma main, mending sekalian, kan?", Kaito mengelus pipi Miku. Mungkin, inilah yandere dan pedofilia yang digabung jadi satu. Miku sudah lemas, takut dan capek bercampur jadi satu. Ia terbatuk pelan, dan langsung merasa sakit karena tenggorokkannya sudah kering. Mikuo kemana, sih?
Mikuo...ah iya, Miku ingat. Ia mau pamer pisau tadi.
...pisau?
Pisau yang diberi oleh si kakak rambut ungu saat ia kehujanan di taman kota.
"Ayo sini, berdiri!", Kaito mengangkat Miku berdiri, lalu disenderkannya Miku ke dinding."Mungkin, kamu harus dipanasin dulu..."
Tangan Miku hanya diborgol. Berarti, masih bisa bergerak sedikit. Ia berusaha merogoh kantongnya, mengambil pisau lipat itu. Dapat!
Bibir Kaito sudah menyusur leher Miku. Tangan Kaito merangkul pinggangnya. Aahh, sialan! Seluruh tubuh Miku mengejang geli. Ini...pertama kalinya ia disentuh oleh laki-laki lain secara seksual. Air matanya mengalir sekali lagi - kali ini bukan air mata ketakutan, tapi penyesalan.
Papa, mama, maaf.
Miku membuka pisau lipat itu. Ia juga tak ingat bagaimana caranya, ia hanya sekedar mengayunkan pisau lipat itu dan terbuka sudah.
Sambil menahan napas kegelian, Miku memejamkan matanya. Ya, ini satu-satunya kesempatan yang ia punya.
Crassh!
Pisau itu ada di tangan kanan Miku. Ia menaikkan lengannya sedikit, mengayunkan tubuhnya ke kiri, mengayunkan pisau itu ke arah Kaito. Oh, tidak - perutnya teriris sedikit, tapi cukup dalam untuk mengalirkan darah. Sakit sekali.
Tapi, taktiknya tak hanya sampai situ. Ia sekalian melempar pisaunya, menyayat pinggang Kaito, lebih dalam daripada irisan di perut Miku. Kaito yang tidak siap, langsung limbung dan jatuh ke bawah. Sayangnya, posisi ia jatuh tidak enak sama sekali.
"Arghhhh!" Krak.
Kaki Kaito patah.
Miku juga langsung jatuh terduduk, tak tahu lagi mesti apa. Tubuhnya lemas total. Darahnya masih terus mengalir. Napasnya juga mulai tercekat.
Hal terakhir yang Miku ingat adalah pintu yang terbuka, serta seseorang yang mirip Luka ada disana. Sosok yang mirip Luka tak sendirian, tapi ada seseorang (yang Miku yakini sebagai Mikuo) di sampingnya. Lalu, samar-samar, Miku bisa mendengar suara Gumi berkata,"Om gue udah sampe."
Setelah itu, Miku tak sadarkan diri.
author note
Iya, maaf. Bersambung dulu.
Ngg...soal incest-incest itu, salahkan fanfic MikuoMiku yang saya baca tepat sebelum saya membuat chapter ini.
Bagian yang Miku menyerang Kaito itu susah sekali. Saya sampe pegang gunting di belakang punggung, muter-muter badan sendiri kayak orang mabok. Untung gak ada yang lihat /sigh/.
Ah, Luka dan Gumi bisa baik hati juga ya /smiles/
Baik, chap selanjutnya adalah epilog. Sebelumnya, saya mohon maaf kalo klimaks fanfic ini kurang greget. Saya...saya gak tahu bahasanya mesti gimana. Dari hasil praktek saya muter-muter badan sih, kayaknya agak mustahil kalau pisau lipat itu bisa sampai menyayat Kaito. Apalagi kalau tenaganya tenaga gadis macam Miku. Tapi...ya anggep aja bisa lah. Ini fanfic kok, bebas berkhayal! /ngeles/
Ditunggu chap selanjutnya!
With love, Aya.
