Princess & Prince School

.

.

.

Kim Elin Present

.

.

.

.

Jeon Jung Kook

.

Kim Taehyung

.

Park Jimin

.

Min Yoongi

.

Kim Seok Jin

.

Kim Namjoon

.

Jung Hoseok

.

.

.

.

Jungkook berjalan menyusuri trotoar sekolahnya dengan riang seperti biasa, sepanjang jalan ia tak lupa menyapa orang lain ataupun menjawab sapaan orang lain..

Tanpa sadar seorang gadis dan lelaki tengah memandanginya.

"dia cantik ya Yoongi..." ujar lelaki itu

"hmm..." gadis yang bernama Yoongi itu hanya bergumam.

"Yoongg, kau tau.. kemarin aku ditolong olehnya.." ujar pria itu yang tak lain adalah Jimin.

"bagaimana bisa?" tanya Yoongi dengan wajah datarnya.

"aku menolong seekor anjing yang terjatuh di lubang, tapi malah aku yang terjatuh kedalamnya, tidak lama dia datang dan menolongku" ujar Jimin.

"ah seperti itu.." ujar Yoongi

"aku menyukainya..."

'tidakkah kau menengokku sedikit saja, tidakkah kau menganggapku sebagai wanita dihadapanmu? Tidakkah kau dapat merasakan kalau aku menyukaimu sejak dulu park Jimin?'

.

.

Jungkook melewati taman sekolahnya dengan riang. Namun seketika ia berhenti melihat seekor kucing yang berada diatas pohon. Entah kenapa kucing itu ada disana Jungkook tak tahu.. namun satu hal yang ia kettahui yaitu anak kucing itu takut untuk turun.

Jungkook segera mendekati pohon itu.

"hei kucing kecil.. sedang apa disitu? Cepat turun!" ujar Jungkook. Anak kucing itu hanya menatapnya.

Tanpa disadari Jungkook Taehyung memandanginya dari pilar taman. Pria berambut oranye itu mendelik.

"sedang apa bocah ceroboh itu?"

Jungkook tak tahan lagi melihat anak kucing yang malang itu, Jungkook segera naik keatas pohon itu dengan cara memanjat. Jungkook naik dengan perlahan berusaha agar tidak jatuh.. perlahan Jungkook menapaki dahan tipis tempat anak kucing itu berada.

"kesini kucing manis... ayolah tak usah takut.." ujar Jungkook.

Taehyung mengernyit heran. Bocah ceroboh itu sedang apa diatas pohon? Apa ia berusaha menyelamatkan kucing itu? Dasar bodoh..

"dasar bodoh.. untuk apa ia memanjat pohon demi menyelamatkan kucing itu? Apa ia terlalu kurang kerjaan?" ujarnya.

Dahan itu sedikit bergoyang membuat tubuh kecil Jungkook sedikit terhuyung. Namun dengan cepat ia dapat kembali berpegangan. Anak kucing itu makin keujung dahan pohon, membat Jungkook mengikutinya. Dahan pohon itu berderit hendak patah.

Taehyung yang melihatnya akhirnya keluar dari pilar taman yang menutupi dirinya. Surai oranye-nya yang bersinar karena di tempa matahari membuat ia terlihat semakin tampan.

"Hei! Apa yang kau lakukan?" tanya Taehyung.

"o! Hai pangeran! Aku ingin menyelamatkan kucing ini..." ujar Jungkook

"kau gila?! Dahannya bisa patah!" ujar Taehyung. Entah kenapa ia merasa khawatir terhadap gadis ini.

"tidak akan, aku ringan! Ayolah kucing manis.." jungkook terus merayu kucing itu..

"heii! Cepatlah turun! Aku bisa melihat pakaian dalammu dari sini!" ujar Taehyung. Tentu saja dia berbohong ia bukan mata keranjang yang suka mengintip pakaian dalam para gadis ia hanya ingin Jungkook segera turun. Gadis itu membuat jantungnya berdebum kencang karena diatas pohon.

Jungkook merona hebat. "YAAAKK! BYUNTAEE!(mesum)" seru Jungkook membuat Taehyung menutup telinganya.

Jungkook tidak memperdulikan Taehyung, dengan kesal ia melangkah maju dan segera meraih kucing itu. Namun malang...

KRAAAKKK!

BRUUKK!

Ranting pijakan Jungkook patah membuat Jungkook jatuh dari pohon dengan punggung terlebih dahulu dan bunyi berdebum yang luar biasa kuat.

Taehyung orang yang pertama panik saat melihat Jungkook jatuh. Ia segera mendekat dan menengok apa yang terjadi dengan gadis itu.

"heii!" seru Taehyung, jantungnya berdegup kencang.

"ahhh.. appo.. eungh~! Hai kucing kecil, kau tidak apa?" Jungkook melenguh kesakitan, namun segera bangkit dan melihat kucing yang berada dalam dekapannya.

"dasar bodoh! Untuk apa kau tanyakan tentang keadaan kucing itu! Perhatikan keadaanmu sendiri!" seru Taehyung. Sambil melempar kucing itu pergi membuat Jungkook menunduk.

"astaga! Ada apa ini?!" Madam. Choi dan Mrs. Albert menghampiri mereka.

"Miss Jeon terjatuh dari atas pohon Mrs.." ujar Taehyung membuat Madam. Choi melotot.

"APA?! Minus 50 poin! Mana ada seorang putri yang memanjat pohon huh! Kau!" madam. Choi naik darah.

"astaga! Jungkook! Kau kenapa? Aigoo.."Jin berlari tergopoh gopoh membuat mrs. Choi juga memotong poinnya.

"pengawal! Tolong bawa dia—"

"biar aku saja.." Taehyung memotong perkataan Mrs. Albert. Taehyung membalikkan badannya dan menggendong jungkook di punggungnya. Dan membawanya pergi ke ruang kesehatan.

.

.

Taehyung dan Jungkook merona sepanjang perjalanan banyak para putri dan pangeran yang menatap mereka dengan pandangan iri. Entah degupan jantung siapa yang terdengar membuat mereka semakin merona.

"pangeran.." tegur Jungkook pelan

"hung?"

"ka-kau tidak benar benar melihat pa-pakaian da-dalamku kan?" tanya Jungkook membuat Taehyung menarik sudut bibirnya.

"tidak lah! aku berbohong.." karena aku ingin kau segera turun. Aku takut kau jatuh dan terluka seperti ini.. lanjut Taehyung dalam hati.

Mereka pun kembali terdiam. Taehyung menidurkan Jungkook di ranjang kesehatan. Menunggu Mrs. Adam untuk mengobati Jungkook.

Jungkook memandangi wajah Taehyung membuat ia mengalihkan tatapannya.

"aku tahu aku tampan, tapi tidak perlu menatapku seperti itu Miss. Jeon" ujar Taehyung membuat Jungkook tersenyum

Mrs. Adam datang dengan membawa beberapa obat, taehyung beranjak namun Jungkook menahannya.

"terimakasih Tae~" ujar Jungkook sambil tersenyum membuat Taehyung terpesona sesaat. Kemudian pergi.

.

.

.

.

.

"ada apa denganmu Yoong?! Kenapa sedari tadi kau memarahiku?" tanya seorang gadis cantik berambut caramel.

"Jeon Jung Kook! Dia! Karena dia Jinnie! dia...!" seru Yoongi sambil menjambaki rambutya

"ada apa dengan Jungkook?" tanya Jin

"dia berhasil mengambil pangeran Park dariku.." Yoongi menunduk.

"tunggu.. apa maksudmu?" Jin tampak bingung perlahan ia menduduki kasur Yoongi.

"Jimin menyukainya... Jimin menyukainya.. hikss.. memang benar, hanya aku yang merasakannya.. dia hanya menganggapku sebagai teman,.." Yoongi tersenggal. Jin menatapnya teduh.. baru kali ini Yoongi menangis dihadapannya. Mereka bersahabat sudah 6 tahun dan Jin tidak pernah melihat Yoongi menangis.

Perlahan Jin mengusap air mata Yoongi dan tersenyum.

"hei! Penyihir blak blakan! Kenapa menangis seperti ini huh? Kau tau, pangeran Park hanya menyukai Jungkook, bukan mencintainya.. sedangkan kau, begitu mencintainya.. mungkin saja seluruh penghuni kastil ini tahu kalau kau menyukainya, tapi ia masih belum peka akan itu.. runtuhkan tembok keras hatinya dengan cintamu Yoong.. aku mendukungmu.." ujar Jin membuat Yoongi memeluknya erat.

"terimakasih Jinnie, kau sahabat yang paling baik.. dan jangan bilang siapapun kalau aku menangis.." ujar Yoongi membuat Jin tertawa lepas.

"menangis itu wajar bagi wanita Yoong.." ujar Jin sambil tersenyum

"tapi aku tidak mau menangis." Ujar Yoongi sambil beranjak.

.

.

.

.

.

Taehyung melangkah ke dalam ruang kesehatan sambil mengunyah permen karet miliknya. Tadi ia bertemu dengan madam. Choi yang menyuruhnya untuk memanggil Jungkook ke ruangannya.

Setibanya di depan ruangan Jungkook bukanya masuk Taehyung malah berdiam diri di depan pintu. Menguping.

"Jimin? Kupikir kau bukan pangeran Park Jimin.. " terdengar suara Jungkook

"hahaha Park Jimin yang tampan seperti aku hanya 1 di dunia." Suara pria. ah si pendek ituu! Taehyung berseru dalam hati

"hahaha kau bergurau? Aku banyak menjumpai pangeran tampan di sekolah ini.." ujar Jungkook.

"hahah baiklah bagaimana anjingnya? Dia baik baik saja?" apa? Anjing? Mereka sudah lama mengenal? Apa si pendek itu memberi bocah itu anjing? Taehyung kembali bergumam

"dia baik baik saja, ibu merawatnya dengan baik salama aku di sekolah.. oh iya, aku beri nama dia Candy karena dia sangat manis" ujar Jungkook

"tenang saja kookie, kau akan baik baik saja setelah ini, cukup percaya padaku.."

"terimakasih.. "

"dan menikahlah denganku.."

"a-apa?"

Taehyung melotot Apa dia sudah gila? Meminta Jungkook untuk menikah dengannya? Si pendek itu! Ingin sekali ku tonjok wajahnya! Rasanya Taehyung ingin masuk saja dan segera memisahkan mereka berdua, namun keinginan itu tertahan. Taehyung ingin mendengar jawaban Junkook yang mudah mudahan saja menolak!

"eungh~ maaf Jimin.. kita baru saja saling mengenal.. dan kau sudah mengajakku menikah? Ibuku pasti akan pingsan.. lagi pula sekolahku belum selesai.." ujar Jungkook. Taehyung menyunggingkan senyum kemenangan. Entah kenapa ia merasa begitu senang ketika Jungkook menolaknya.

"aku tidak memaksamu Jungkook, kapan-pun kau siap.. jadilah pengantinku.."

Taehyung akhirnya memasuki ruangan Jungkook.

"Miss. Jeon, kau dipanggil madam. Choi diruangannya" ujar Taehyung.

"ah, pangeran.. baik aku akan datang.." ujar Jungkook sambil berusaha bangkit.

"punggungmu sudah baik?" tanya Taehyung.

"ya, sudah..."

"baguslah.."

.

.

.

.

.

Jin merenggangkan badannya, melakukan split dan poquerto berkali kali. Namun ia tidak merasa lelah.

Jin mulai menari dengan anggun. Namun, jika kita perhatikan Jin tidak hanya menari, tapi ia juga menangis.

Apa yang salah denganku! Kenapa ayah selalu menyepelehkanku! Aku tidak sama seperti ibu! Yang pergi setelah membuat ayah jatuh cinta! Apa yang salah dengan cinta huh!

Jin kembali menari, kali ini dengan ritme yang tidak teratur, ia menari menggunakan emosinya.

Seharusnya aku tidak dilahirkan dikeluarga yang seperti ini.. sudah berkali kali aku bilang kalau aku tidak menyukai Hyosang! Bahkan aku tidak menyukai sekolah ini! Aku benci menjadi kaya.. pura pura bahagia di depan semua namun hatiku menangis.

BRUUKK!

Namun naas, Jin malah jatuh tersungkur.

Tidak ada yang mengerti apa yang aku rasakan... aku menyukai bahkan mencintai orang lain! Tapi kenapa ayah terus memaksaku untuk bersama Hyosang! Aku tidak menyukainya! Dia kasar! Itu yang ayah tidak ketahui!

"aku iri pada Yoongi, yang masih bisa melakukan apapun yang ia inginkan.. dia bisa melakukan apapun yang ia mau walau ia di sekolah kerajaan.." ujar Jin.

"aku iri pada Jungkook yang masih merasakan cinta kasih dan kebahagiaan dalam sebuah keluarga.. walaupun ia hidup dalam keterbatasan.." Jin mengusap air matanya kasar.

"ah, bodoh.. kenapa aku menangis... seharusnya aku menari lagi.." ujar Jin sambil berusaha bangkit, namun tiba tiba ia kembali terduduk, kakinya terkilir kerena ia terjatuh tadi.

"AH! SIAL!" seru Jin.

Baru kali ini sifat aslinya keluar, memang semua yang ia tunjukan di sekolah kerajaan ini palsu, ia bukanlah seorang gadis yang sopan, manis, berwibawa dan tegas. Tapi ia seorang gadis biasa yang pemarah dan suka mengumpat.

"kau tidak perlu memaksakan diri.." ujar seorang pria yang tiba-tiba berlutut dihadapannya.

"pa-pangeran Kim.." Jin tergagap melihat Namjoon yang berlutut dihadapannya.

"tenang saja.. aku mendengar semuanya.. aku tidak akan memberitahu pada siapapun..." ujar namjoon sambil menarik pelan kaki Jin yang terkilir.

"hhh" Jin menghela nafas dalam.

"apa kita harus ke ruang kesehatan? Apa sakit sekali?" tanya Namjoon.

" ah.. tidak usah pangeran, kurasa ini sudah membaik... te-terima kasih.." ujar Jin sambil menunduk.

"heii.. ada apa? Panggil saja aku Namjoon seperti biasa.. " ujar Namjoon sambil ikut duduk di lantai.

"i-iya Namjoon" Jin masih menunduk. Namjoon tersenyum, ia tahu sahabatnya ini sedang sedih dan memiliki banyak beban fikiran. Namjoon mengangkat tangannya dan mengelus surai caramel milik jin.

"aku tahu, kau punya masalah... hei! Kau bisa ceritakan padaku.. aku kan sahabatmu.." ujar Namjoon

Ya, Sahabat..

Selama ini memang mereka hanya bersahabat.. sejak pertama kali mereka bertemu di sekolah kerajaan ini mereka sudah berteman dan lama kelamaan menjadi sahabat, namun siapa sangka.. persahabatan itu yang membuat benih benih cinta tumbuh di keduanya.

Mereka saling menyukai, bahkan mencintai. Namun, tidak ada satupun yang pernah mengungkapkannya baik Namjoon maupun Jin keduanya membiarkan perasaan itu membelenggu, membuat mereka merasakan bahagia dan sakit disaat bersamaan. Bahagia ketika mereka dapat bersama, namun sakit ketika mereka mengingat mereka tidak memiliki hubungan apapun..

Berkali kali Namjoon dan Jin menekankan kata 'sahabat' disetiap perkataan mereka namun berkali kali juga mereka membenci kata itu. Mereka ingin lebih.. namun tidak akan pernah bisa.

Walaupun mereka tidak pernah jujur soal perasaan mereka tapi perasaan cinta itu tergambar jelas melalui mata dan perilaku mereka.

"kau tahu masalahku Namjoon.." ujar Jin masih menunduk.

"jangan menunduk terus, lehermu bisa patah.. kkkk~" ujar Namjoon membuat Jin mendongak dan memukul lengannya.

"Hyosang lagi?" tanya Namjoon, Jin mengangguk

"aku tidak mengerti dengan apa yang ayahku fikirkan.. bagi ayahku Hyosang yang paling sempurnah.. dalam segi apapun" ujar Jin, Namjoon hanya mendengarkan

"bahkan karena Hyosang ayahku tidak pernah mendengarkanku lagi.. ayah bahkan tidak percaya kalau Hyosang kasar padaku.."

"apa? Dia kasar padamu? Tidak sepatutnya seorang pria bersikap kasar terhadap wanita, itu melanggar tatakrama bahkan undang undang.." ujar Namjoon. Jin tersenyum kaku

"ya.. tapi tidak apa apa.. ayah sudah banyak menderita, ia mengurusku seorang diri kala ibu pergi meninggalkannya kami hidup berbalut kemiskinan dan penderitaan.. sudah sepantasnya sekarang aku membalas semua kebaikan ayah." Ujar Jin

"kenapa kau selalu terlalu baik huh? Terkadang aku lelah karena kau terlalu baik.. hei! Hyosang kasar padamu dan kau bilang itu tidak apa apa?" jejar Namjoon. Jin menatapnya—bingung—.

"kenapa kau yang marah dan lelah namjoon? Lagi pula Hyosang kan kasar padaku.. bukan padamu.." ujar Jin

"tentu saja itu karena aku yang begitu mencintaimu Jin!" seru Namjoon

"eh?"

Jin dan Namjoon terdiam.

Dalam hati Namjoon ia merutuki dirinya yang dengan mudah keceplosan seperti itu. Jin malah terdiam karena ia tidak menyangka perkiraannya benar selama ini, ternyata Namjoon tidak hanya menyukainya tapi juga mencintainya. Hal itu membuat jin berdebar debar.

"uh~ hahahahaha ada apa dengan wajahmu! Hahahaha" seru Jin tiba tiba membuat Namjoon menoleh

"apa? Memangnya ada apa?''

"hahaha wajahmu.. hahaha kenapa tegang sekali seperti itu! Hahahaha! Oh tidak perutku sakit!" Jin tidak berhenti tertawa bembuat Namjoon cemberut

"YA! Kalau Madam Choi ada disini! Pasti nilaimu akan dipotong olehnya." Ujar Namjoon

"hahaha itu kalau ada dia disini.. Namjoon wajahmu lucu sekali kalau sedang tegang seperti itu.." ujar Jin sambil mencubit pipi Namjoon.

"jadi itu yang membuatmu tertawa huh?!"

"ahahah iya Namjoon, aku juga merasakannya.." ujar Jin ambigu

"merasakan apa?"

"aku merasa aku juga mencintaimu.." ujar Jin membuat wajah Namjoon memerah.

TUK!

Namjoon menyentil dahi lebar Jin membuatnya meringis.

"jangan main main.. akan lebih baik kalau aku saja yang merasakannya, kau tidak perlu. Aku tidak ingin hati dan perasaanmu terluka.. sudahlah, cepat ganti bajumu, aku akan ke aula besar.. kudengar akan ada pesta besok.." ujar Namjoon sambil beranjak.

.

'sudah kuduga kau tidak akan pernah mengerti'

.

.

.

.

.

.

"kau betul betul tidak ingin pulang denganku Jungkook? Aku ingin melihat rumahmu..." ujar Jin sambil mengamati Jungkook yang sedang berkemas

"tidak perlu Jin, aku tidak ingin merepotkan.. lagi pula kau pasti dijemput oleh pangeran Jin hyosang kan? Biar saja aku jalan kaki, mungkin lain kali" ujar Jungkook

"sudahlah Jin biarkan saja dia pulang sendiri.." ujar Yoong dingin membuat Jungkook menoleh.

"ada apa denganmu Yoong? Kenapa seperti ini?" tanya Jin

"kenapa seperti ini? Seperti apa?" balas Yoongi

"kenapa kau kasar pada Jungkook?" Tanya Jin

"aku tidak kasar, aku hanya bersikap sebagaimana biasanya.. sudahlah.. aku duluan." Ujar Yoongi sambil berlalu.

"ada apa dengan anak itu.."

"sudahlah Jinnie~ Yoongi mungkin sedang menstruasi.. jadi emosinya tidak stabil.. ayuk kita keluar, pangeranmu pasti sudah menunggu.." ujar Jungkook sambil menggandeng tasnya

"baiklah.."

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook berjalan mengintari pasar yang begitu luas di kawasan tempat tinggalnya. Setiba di rumahnya ia memang disambut oleh ibunya dan iapun segera membantu ibunya seperti saat ini.. ia disuruh membeli beberapa bibit bunga baru yang berada di sebuah toko dalam pasar.

Namun dalam perjalanannya ke toko itu ia mlihat seorang pria yang ia kenali perawakannya.

Pria berbadan tegap dengan tinggi semampai, bersurai oranye dan sedang menenteng kantung belanjaan yang jungkook tebak pasti berisi sayuran dan buah.

"Taehyung? Aku tidak salah lihat kan?" ujar Jungkook sambil terus mengikuti pria itu.

Pria dengan surai oranye itu berhenti kala seorang anak kecil tengah menangis di tengah jalan. Ia berlutut di depan anak kecil itu. Jungkook bersembunyi dibalik tembok agar bisa mendengar percakapan keduanya.

"ada apa anak kecil?" suara serak itu menginterupsi tangisan anak kecil itu

"aku kehilangan ibuku.. hiksss.." jawab anak kecil itu

"benarkah? Kalau begitu sini kubantu.." ujar pria itu sambil menggendong anak kecil itu ke bahunya.

"nah sekarang berteriaklah yang kencang, panggil ibumu.." lanjutnya

"IBUUUUUUU!"

"IBUUUUU!"

"HIKKSS... IBUUU!"

Anak kecil itu berseru sehingga seorang wanita cantik berlari kearahnya.

"aigoo Taeoh! Ibu mencarimu kemana mana sayang! Maafkan ibu.." ujar wanita itu sambil meraih anak kecil itu dari pria tsb.

"Taeoh tadi lihat pelmainan dicana tlus ibu hilang... untung ada kakak ini.. dia baik.." ujar anak itu

"aigo-ya.. terimakasih nak.. terimakasih..."

"sama sama ahjumma.. lain kali awasi anak anda lebih baik lagi.."

"iya akan saya awasi.. terimakasih..."

.

.

"tidak salah lagi itu pasti Taehyung!" ujar Jungkook

Jungkook masih mengikuti pria itu hingga ia tak bisa menahan rasa penasarannya lagi. Jungkook mengambil batu kerikil kecil di tanah kemudian membidik batu itu agar kena tepat di kepala namja itu dan...

DUAGHH!

"AH! SIAL!" pria itu segera berbalik, dan.

"TAEHYUNG! Woh! Sudah kuduga! Dugaanku tidak pernah salah! Siapa lagi pria yang memiliki warna rambut oranye seperti kau ini!" seru Jungkook sambil mendekati pria yang ternyata Taehyung

"YAAK! Kau bocah! Tidak bisakah kau menegurku dengan cara sopan? kenapa harus menimpukku dengan batu ini huh!" gerutu Taehyung

"maaff.. aku tidak bermaksud seperti itu.." ujar Jungkook. Taehyung mendengus melanjutkan jalannya.

"tapi kenapa kau bisa berada disini? Kufikir kau keluarga orang kaya seperti yang lain.. habisnya gayamu yang begitu glamour itu loh... oh apa jangan jangan kau mendapat gelar Platinum student juga karena ikut beasiswa sepertiku? Rumahmu disebelah mana? Apa kau tinggal di sekitar sini? Oh ya! Ternyata kau baik juga pada anak kecil—"

" Demi Tuhan! Bocah tidak bisakah kau diam? Kau terus saja berujar macam macam! Aku benci orang yang berisik! Dan kenapa kau mengikuti terus huh!" bentak taehyung.

"aku tidak mengikutimu, eeyy! Aku ingin ke toko bunga yang ada di pojok sana.."ujar Jungkook

" kalau begitu menjauhlah 1 meter dariku." Ujar Taehyung sambil mendorong dahi Jungkook dengan jari telunjuknya. Jungkook yang diperlakukan seperti tu hanya mempoutkan bibirnya dan berjalan dibelakang Taehyung.

.

Sesampainya di toko yang dimaksud pemilik Toko segera menyambut keduanya. Tunggu? Keduanya?

"Kookieee! Lama tak berjumpa.." ujar pria berkumis dengan tubuh sedikit gembul yang tidak lain adalah pemilik toko itu sambil memeluk Jungkook.

"lama tak berjumpa juga paman... aahh aku merindukan paman.." ujar Jungkook sambil memeluk pemilik toko itu.

"jadi apa yang paman bisa bantu?" tanya pemilik toko itu.

"aku mau membeli beberapa bibit bunga.." ujar Jungkook.

"ayah! Belanjaan ini di taruh dimana..?" tiba tiba Taehyung bersuara membuat Jungkook melotot.

"APA? Jadi paman Ayahnya Taehyung!?" seru Jungkook

"taruh saja disitu, iya Jungkook paman ayahnya.. ada apa? Apa kalian saling mengenal?" tanya ayah Taehyung

"kami sekelas ayah.." potong taehyung saat melihat Jungkook ingin membuka suara.

"jadi bunga apa yang ingin Kookie beli?" tanya ayah Taehyung.

"ini daftarnya paman" ujar Jungkook sambiil memberikan secarik kertas. Tanpa sadar taehyung mengambil sebuah kerikil kecil dibawah kakinya.

"ah baik, tunggu sebentar.." ujar Ayah Taehyung sambil melangkah ke dalam.

.

"hei bocah!" seru Taehyung, Jungkook menoleh.

"aku bukan bocah! Aku juga memiliki nama! Namaku Jungkook!" balas Jungkook

"aku tak perduli." Taehyung memainkan kerikil di tangannya. "ambil ini!"

TUKK

BRUGHH

Taehyung melempari Jungkook dengan kerikil yang ia pegang sehingga mengenai Jidatnya dan membuat Jungkook Tersungkur di tanah.

"Yaa!" seru Jungkook Taehyung tak perduli.

.

"Tae!" seru seorang wanita berkuncir 2 yang sedang menggandeng anak kecil berambut hitam .

"Yein! Sarang!" seru Taehyung sambil tersenyum

"Oppa!" anak kecil itu segera berlari memeluk taehyung

"aigoo.. Sarang, darimana?" tanya Taehyung

"Yein eonni membawa Sarang jalan jalan... Sarang senang!" seru anak kecil bernama Sarang

"terimakasih yein, sudah membawa Sarang jalan jalan.."ujar Taehyung sambil mengacak rambut wanita bernama Yein itu.

Jungkook cemberut melihat pemandangan dihadapannya. Sesuatu dalam hatinya berdenyut sakit.

'setidaknya jika aku jatuh karenanya ia menolongku, bukan pura pura tak perduli dan malah berbicara dengan wanita lain'

Jungkook segera bangkit dan membersihkan roknya yang kotor. Ayah Taehyung pun keluar membawa bibit2 bunga yang jungkook inginkan.

"ini dia, semuanya 1200 won.." ujar Ayah Taehyung.

Jungkook mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa ribu won kepada ayah Taehyung.

"terimakasih, paman." Ujar Jungkook sambil membungkuuk.

"tunggu dulu.." ujar ayah Taehyung membuat Jungkook berhenti.

"ini.. bunga lily putih ini untukmu.. Taehyung menanamnya beberapa hari yang lalu.. kurasa ini akan cocok untukmu jungkook.. " ujar ayah Taehyung sambil memberikan sebuah pot kecil berisi lily putih

"ah, terimakasih paman, tapi..."

"tidak apa apa, terima saja.. hitung hitung prmintaan maafku." ujar Taehyung cuek

"baiklah, terimakasih..."

Dan Jungkook pun melangkah pergi..

.

.

.

.

.

.

.

Pagi yang cerah untuk Yoongi yang masih setia bergelut bersama bantal dan selimut miliknya. Gadis berambut cokelat ini memang suka sekali dengan kegiatan yang namanya tidur ini.. terlebih sekolah krajaanya yang libur membuat ia merdeka untuk tidur seharian, namun itu dulu sebelum seseorang datang dan mengetuk pintu kamarnya.

"Nona muda, sudah pagi... anda harus bangun Nona.." suara Maid rumah Yoongi itu sedikit mengusiknya.

"Nona muda,. Tuan dan Nyonya sudah menunggu di ruang makan.. untuk sarapan, ayo nona muda..' seru maidnya lagi.

"jam berapa ini! Kalian berisik sekali!" seru Yoongi

"ini sudah jam 8 pagi nona, saya dengar juga Tuan muda Jimin akan berkunjung pukul 10 nanti, jadi anda harus segera bangun nona.." ujar maidnya lagi.

"baiklah baiklah... aku akan kesana.." ujar Yoongi sambil bangun dan beranjak kearah kamarmandi, sementara para maid segera merapikan tempat tidurnya.

10 menit berlangsung Yoongi telah turun ke meja makan dengan rambut terkuncir keatas dan poninya yang masih acak acakan. I juga masih memakai kamisol dan celana pendek, khas belum mandi.

"noona! Aku sudah kelaparan menunggumu! Kenapa lama sekali sih! Kupikir kau sudah mandi, ternyata baru bangun tidur eoh?!" seru Woozi adik Yoongi.

"diam kau anak kecil! Ini hari libur buatku! Jadi aku bebas mau tidur kapanpun! Salah sendiri menungguku bangun baru sarapan!" jejar yoong tak mau kalah.

"sebenarnya aku ingin makan terlebih dahulu, tapi mom dan dad menyuruhku untuk menunggu panda pemalas sepertimu! Heol! Pantas saja Jimin Hyung tak kunjung menyukaimu karena kau pemalas!" ujar woozi membuat Yoongi naik pitam dan,

DUAKH!

Yoongi memukuli kepala adiknya dengan kepalan tangannya membuat ia meringis

"Heol! Anak kurang ajar! Beraninya kau berbicara seperti itu pada noonamu!" seru Yoongi

"yoong! Sudahlah, jangan terlalu kasar pada adikmu.." ujar sang ibu

"but Mommy.. Woozi start it!" elak Yoongi

"but He's your brother ok?! Sit down and eat your breakfast!" ujar sang ayah membuat yoongi duduk dan melanjutkan sarapannya.

.

.

"jadi bagaimana dengan Jimin?" tanya sang ayah.

"masih seperti itu Dad, ia masih tidak mengetahuinya, bahkan sekarang... ia menyukai orang lain." Ujar Yoongi sambil menunduk.

"uhh... sayangku.. kenapa? Darimana kau tahu sayang?" tanya sang ibu.

'ia yang mengatakannya Mom, ia yang mengatakannya padaku kalau ia menyukai jungkook, teman sekamarku.." ujar Yoongi.

"pasti Jungkook Noona itu cantik,lemah lembut dan baik kan noona? Pantas saja Jimin Hyung suka padanya.. tidak seperti noona yang kasar.." ujar Woozi membuat Yoongi terdiam

"Min Woozi! Jaga mulutmu.." ujar sang ibu

"tidak apa apa mom.. Woozi benar kok, Jungkook memang cantik, lemah lembut dan baik... woozi benar.. Yoongi kasar.." ujar Yoong membuat Woozi tertegun

"noona Woozi minta maaf, bukan maksud Woozi untuk—"

"tidak apa apa.. Woozi benar kok.. tapi Jimin baru menyukainya, jadi masih ada peluang untuk Noona masuk! Cha! Woozi sekolah sana.. maafkan Noona ne sudah memukul dan membuatmu terlambat untung saja hari ini kau pelajaran berenang jadi Woozi tidak perlu ikut.." ujar Yoongi sambil mengelus puncak kepala adiknya.

"Noona, woozi minta maaf.." ujar Woozi.

Satu hal yang woozi sangat ketahui tentang Noonanya Yoongi, Yoongi memang galak, kasar dan suka memukul namun dibalik itu semua Yoongi tidak mudah tersinggung, ia selalu berfikir realistis dan sangat menyayanginya, begitu pula dengan Woozi. Walaupun ia suka menggoda Yoongi ia melakukan itu untuk mendapatkan perhatian sang Noona. Yang walau bagaimanapun Woozi tetap adi yoongi yang tentu saja ingin bermanja padanya.

"tidak ada yang perlu dimaafkan Woozi.. Cha! Sekolah sana! Tuan Kim sudah menunggu di depan.. noona mau mandi!" ujar Yoongi. Woozi mengangguk kemudian mengambit tasnya.

"Woozi berangkat, Dad, Mom,Noona.."

"daahh Woozi.. hati hati!"

.

.

.

.

.

.

Berbeda dengan sarapan pagi keluarga Yoongi, pagi ini dilewati dengan masam oleh Jin.

Jin melewati sarapan paginya dengan sepi, hanya suara dentingan garpu dan sendok yang bersuara antara ia dan ayahnya. Hingga sekarang ia hanya duduk membaca buku di taman belakang miliknya.

"apa yang harus kulakukan! Kalau seperti ini terus aku bisa mati kebosanan.." seru Jin.

Jin mengeluarkan benda berwbentuk kotak dengan warna pink dari saku Coatnya. Menekan beberapa angka dan mendekatkan benda kotak bernama ponsel itu ke telinganya.

"halo?"

"..."

"kau dimana?"

"..."

"mau kemana?"

"..."

"aku ikut!"

"..."

"ayah sedang tidak ada! Ia baru akan kembali sore nanti.."

"..."

"aku punya banyak stamina untuk pesta sebentar malam.."

"..."

"biar aku yang kesana.. ketemu dibawah pohon oak!"

.

Jin pun memutuskan sambungan telfonyya dan pergi melangkah keluar rumah.

"bawa aku ke Jeongjamyeon park!" ujar Jin

.

.

.

.

.

Jungkook tengah menyirami bunga lily putih yang ia dapat dari ayah Taehyung kemarin. Jungkook tersenyum melihat kelopak bunga lily yang mulai keluar.

"bunganya cantik sekali.." ujar seorang pria.

"Minho oppa! Taemin eonni!" seru Jungkook kala yang ia lihat itu tetangganya

"selamat pagi Jungkook, pagi yang cerah.." sapa wanita cantik bernama Taemin itu.

"selamat pagi juga eonni... ada yang bisa di bantu?" tanya Jungkook

"eonni hanya ingin bicara sebentar dengan ibumu.. apa beliau ada?"

"ada... eonni silahkan masuk ... ibu ada di dalam" ujar Jungkook sambil mempersilahkan Taemin masuk.

Jungkook kembali dengan kegiatannya, menyiram kembali bunga lily itu. Minho duduk di depannya mengamati apa yang anak itu lakukan.

"bunganya dari siapa? Oppa tidak ingat ibu memiliki bunga lily" ujar Minho, Jungkook menoleh

'temanku yang memberikan..." jawab Jungkook

"pria?" Jungkook mengangguk.

"aigoo aigooo..uri Kookie sudah dewasa rupanya.." ujar Minho.

"kenapa oppa? Kookie memang sudah dewasa, masa iya kecil terus" ujar Jungkook

"sini oppa kasih tau suatu hal.. jika seorang pria memberikan bunga pada seorang wanita, tentu memiliki maksud tertentu.. dan setiap bunga yang diberikan memiliki arti..'

"seperti bunga lily putih ini,bunga lily melambangkan semangat, kebahagiaan, kasih sayang dan juga cinta. Sedangkan putih melambangkan kesucian, jadi pria itu memberikan bunga ini karena ia mungkin begitu menyayangi jungkook atau mencintai jungkook dengan tulus.." ujar Minho

"tapi Oppa, kami tidak terlalu akrab dia agak kasar juga terhadapku.." tukas jungkook

"kalau begitu dia baru menyukaimu.. seperti bunga ini, bunga ini hidupkan? Itu seperti perasaannya, jika jungkook merawat bunga ini dengan baik, berperilaku dengan baik dihadapannya perasaan pria itu akan terus tumbuh seperti bunga ini..." ujar minho membelai lembut rambut hitam jungkook

"bunga juga punya waktu untuk mekar Jungkook... seperti perasaan yang juga perlu diutarakan.." ujar Taemin yang datang bersama ibu jungkook

" jadi? Bagaimana dengan perasaan kookie?" tanya sang ibu

Jungkook diam sejenak, entah knapa bayang bayang wajah Taehyung menghampirinya membuat wajahnya seketika memerah seperti udang rebus.

.

.

"Kookie bingung.." Jungkook menunduk

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

OKE, UNTUK CHAPTER INI TBC DULU YAWWW.. PAIRNYA MASIH BLUM KELIHATAN NIH... AHAHAHA.. JANGAN LUPA REVIEWNYAA..