Princess & Prince School
.
.
.
Kim Elin Present
.
.
.
.
Jeon Jung Kook
.
Kim Taehyung
.
Park Jimin
.
Min Yoongi
.
Kim Seok Jin
.
Kim Namjoon
.
Jung Hoseok
.
.
.
Seorang pria berambut pirang tengah berdiri dibawah pohon oak, ia menunggu seseorang yang beberapa menit lalu menelfonnya..
Daun daun Hijau yang mulai berganti warna menjadi oranye menemani kesendiriannya kini, dengan headset yang masih terpasang di telinga ia mendengarkan alunan lagu itu merasuki jiwanya, membiarkan angin musim gugur membelai wajah tampannya hingga ia sadar seseorang memeluknya dari belakang.
"Jin?" ujarnya.
"sudah lama menunggu?" tanya Jin . orang itu tak lain adalah Namjoon.
"masih pagi seperti ini.. kenapa kau menelfonku dan tumben sekali mau ikut aku ketaman.." ujar Namjoon
"aku bisa maati kebosanan di rumah tau!rumahku seperti rumah hantu. Tak ada suara... terkadang aku begitu menginginkan seorang adik.. agar rumahku kembali ramai.." ujar Jin sambil mengikuti langkah kaki Namjoon.
"aku juga... eomma pergi pagi dia bilang sudah dijemput seseorang.. akhir akhir ini memang eomma sedang dekat dengan seorang pria.. yang aku sendiri tidak tahu itu siapa.." ujar Namjoon.
"jinjja? Ayahku akhir akhir ini sering pergi... aku tak tau kemana.. sepertti kemarin malam, dan pagi ini..." ujar Jin.
"hahaha nasib kita malang sekali.." tawa Namjoon pecah.
"sebelum musim gugur makin datang sebaiknya kita bersenang senang sekarang..."ujar Namjoon
"lalu kita mau kemana?" tanya Jin.
"pertama tama kita ke kedai kopi!" ujar namjoon sambil mengeggam tangan Jin dan menariknya ke kedai kopi di depan Taman.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi tengah menyisir rambut pendeknya kala ia mendengar pintunya diketuk.
"masuk." Ujarnya sambil meneruskan kegiatan menyisir rambutnya
"permisi nona muda, tuan Park sudah ada di depan nona" ujar sang Maid
"suruh dia masuk dan tunggu sebentar.." ujar Yoongi.
"baik nona.."
Yoongi sekali lagi melihat pantulan wajahnya dicermin. Ia tertawa miris.
"lihat dirimu, memang pantas sekali kau disebut penyihir blak blakan.. kau kasar, kau juga tidak cantik... harusnya kau menyerah dari awal..tapi kenapa perasaan ini semakin kuat? Aku benci perasaan ini... kalau saja aku tidak menyukainya aku tidak akan terluka.. Woozi benar... aku tak pantas bersama Jimin.. tapii..."
Yoongi menoleh kearah tumpukan surat yang berada dimeja belajarnya. Surat itu berisi semua curahan perasaannya sejak pertama ia menyukai jimin hingga sekarang.. ia memang menulis semuanya dalam bentuk surat, agar ketika ia lelah ia akan menirim surat itu pada Jimin. Tapi ketika ia dan Jimin bersatu ia akan membakar semua surat itu...
"rasanya sia sia, perjuanganku selama ini... mommy dan Jin menyemangatiku.. aku juga, seharusnya aku semangat,.."
"yasudah, Min Yoongi.. ayo berjuang!" dan Yoongi pun keluar dari kamarnya. Begitu ia keluar ia langung bertemu pandang dengan mata Jimin yang membuat jantungnya berdebar.
"hai Jimin." Sapa Yoongi
"hai, kupikir kau belum bangun, ternyata sudah juga yaa.. hahaha" celetuk Jimin.
"tentu saja sudah bangun, kau ingat Woozi sekolah hari ini, dan di tradisi keluargaku kita harus sarapan saat semua anggota keluarga sudah ada.." ujar Yoongi sambil duduk, "jadi? Ada apa?" tanyanya.
"begini Yoongi, kau pasti sudah punya gaun untuk ke pesta sebentar malam kan, jadi aku kesini untuk memintamu menemaniku berbelanja pakaian untuk pesta sebentar malam.." ujar Jimin
"kau ingin pakai gaun? Kenapa memanggilku? Bukannya ada ibumu yang fashionista itu?" celetuk yoongi. Sambil tertawa.
"bukan.. ini untuk Jungkook.." ujar Jimin. Tawa Yoongi segera langsung pudar
"kalau untuknya untuk apa kau menyuruhku menemanimu?" tanya Yoongi
"Yoong jangan seperti itu, kau sahabat terbaikku, ayolah bantu aku... masa iya aku meminta bantuan seokjin atau hyuna.. ayola kumohon.." ujar jimin sambil menggenggam tangan Yoongi.
'ya, kau hanya menganggapku sebagai sahabat'
"aku tidak akan pergi.. kau cukup pergi ke toko Blanc de Eclaire dan bilang saja kalau kau butuh baju kode E15 baju itu sudah sepasang dengan sepatunya. Kau bisa langsung membungkusnya menjadi hadiah dan berikan pada Jungkook." Ujar Yoongi sambil beranjak.
"oh ya, tak perlu takut sepatunya kebesaran ukuran kaki Jungkook aku dan Jin sama.. jadi silahkan kau boleh mengeceknya sekarang.." ujar Yoongi
Jimin berdiri dari duduknya, ia segera memeluk Yoongi erat
"terimakasih.. kau sahabat terbaik.." ujar Jimin kemudian segera melangkah pergi seusai pamit.
'kau segalanya untukku.. bagiku kau begitu indah.. kau dekat denganku Jimin, tapi begitu sulit diraih..'
.
.
.
.
.
.
Hari sudah siang. Namjoon dan jin kini duduk saling berhadapan sambil memakan makan siang mereka. Karena lokasi cafe mereka yang out door banyak burung burung merpati yang berterbangan di taman itu.
"bagaimana kau senang?" tanya Namjoon sesaa mereka menghabiskan makanan mereka
"tentu,.. ah! Bahagianya bisa keluar dan jalan2 bebas seperti ini.. bahkan lihat kulitku tidak sepucat tadi pagi.." ujar Jin.
"aku juga senang kalau kau senang..." ujar namjoon sambil membelai rambut Jin mesra.
Tiba tiba seekor burung merpati mendarat tepat diatas gelas jin yang berisi milky cream yang membuat gelas itu tumpah dan splash tumpah di coat pink milik Jin.
(ini persis kejadiannya elin loh.. lagi enak enaknya kencan sama Jaekyung di taman eh ada burung yang hinggap di gelas elin yang bikin isinya tumpah alhasil baju elin blepotan susu dan cream. Kesel banget sumpah.. *curhat dikit*)
"aahhh! Burung sialan!" seru Jin sambil mengusap coatnya. Bukannya tambah bersih malah cream susu itu makin meluber di coatnya yang menyebabkan noda menjijikkan.
"aaahh! Menjijikkan! Ini coat favoritku! Ah tidak!" Jin berseru kembali kala melihat noda itu. Sifat aslinya keluar lagi ternyata.
"jin, coba kita ke kamar mandi siapa tau dengan air nodanya bisa hilang.." ujar Namjoon sambil beranjak
"baiklah..." dan mereka pun ke kamar mandi.
.
10 menit berlalu akhirnya Jin keluar dari kamar mandi itu dengan wajah yang kusut.
"ah tidak, pasti hilang saat dicuci nodanya.." ujar Namjoon ketika melihat coat jin yang belum bersih malah kelihatan jelek karena basah.
Namjoon menarik Jin agar duduk disebuah kursi panjang.
"ini jelek sekali dan.. dan menjijikkan... uhk.." Jin sudah menangis saat tiba tiba namjoon berlutut dihadapannya mengeluarkan tisu dan membersihkan sepatunya.
"perhatikan juga sepatumu... uljima.." ujar Namjoon sambil menghapus airmata yang mengalir dipipi jin. "Sekarang lepas coatmu." Lanjut Namjoon
"huh?" Jin memang bingung tapi ia segera melepas coatnya dan memberikannya pada Namjoon. Angin musim gugur yang dingin segera menyapanya.
"pakai ini.." Namjoon melepas coat abu abunya dan memberikannya pada Jin. Coat yang Jin pakai kini hanya dipegangnya.
"lalu kau?" tanya Jin.
"pakai saja.. bajumu terlalu tipis.. aku takut kau kedinginan.. sudah mau pertengahan musim gugur.. tidak baik kalau kau sakit.." ujar Namjoon
"lalu apa kau tidak kedinginan?" tanya Jin.
"tidak... kajja... kita harus pergi.. masih ada satu tempat lagi yang harus kita kunjungi.." ujar Namjoon sambil kembali menggenggam tangan Jin dan mengajaknya pergi.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook tengah melamun di depan tokonya hingga seorang anak kecil berlari padanya dan berujar.
"hai eonni..."
"uh omona.. kkamchagiya.. nugu?" tanya Jungkook.
"Kim sarang imnida.. eonni yang kemarin di toko appa kan?" tanya anak kecil itu.
"ah? Toko Kim Taehyung?"
"nee.. sarang adiknya Taeo oppa..." ujar sarang.
"sarang sedang apa disini? Bukannya ini agak jauh dari rumah?" tanya Jungkook
"ia pergi bersamaku.." ujar seorang pria bersurai oranye terang, yang diikuti oleh seorang wanita
"oh, kau.." Jungkook hanya bisa membalas seadanya, melihat dibelakang punggung Taehyung ada wanita yang kemarin. Wanita berkuncir dua.
"ada perlu apa?" tanya Jungkook sambil berdiri dari duduknya.
"Yein ingin membeli bunga.. kami akan kemakam orang tuanya" ujar Taehyung. Jungkook hanya mengangguk
'kalau begitu silahkan masuk.." ujar Jungkook sambil membuka pintu depannya lebar lebar.
Jungkook mengambil beberapa jenis bunga yang berwarna putih, diantaranya mawar, krisan dan aster. Jungkook menghembuskan nafas. Mulai memasang senyum palsu dan mulai berujar.
"Yein-ssi, kau pilih yang mana? Ada mawar Krisan dan aster. Mawar harganya 20 won,karena menanamnya susah.. krisan 10 won dan aster 8 won.." ujar Jungkook.
"ibu suka bunga yang wangi.. ayah suka bunga yang indah.. kira kira yang mana yang bagus untuk mereka Jungkook-ssi?" tanya Yein
"untuk bunga yang wangi mawar cocok untuk itu.. untuk bunga yang indah krisan pas untuk itu.." ujar Jungkook
"kalau begitu aku pilih bunga krisan dan mawar, masing masing 10 tangkai.. dan tolong dipisahkan buketnya." Ujar Yein.
"baiklah, silahkan tunggu sebentar sambil melihat lihat.." ujar Jungkook yang mulai bekerja.
Yein, Taehyung dan Sarang mulai berkeliling toko bunga yang bisa dibilang lumayan luas tapi tidak terlalu luas.. tapi tiba tiba tatapan mata Yein terkunci pada tulip merah yang terletak dalam vas.
Yein mengambil bunga itu.
"cantik sekali.." ujarnya. Tanpa disadari Jungkook mengamati setiap pergerakan mereka.
Yein menghirup aroma tulip yang khas kemudian menoleh kearah Taehyung. Yein memberikan bunga itu padanya.
"terimakasih.." ujar Taehyung.
Jungkook yang melihat tiba tiba merasa panas entah mengapa, karena itu tanpa sadar Jungkook malah menggaitkan pita Hitam di buket bunga itu.
"ini bunganya... semuanya 1000 won karena buket dan pitanya" ujar Jungkook.
"ah iya, tulip ini berapa?" tanya Yein
"itu gratis saja untukmu.. Tulip merah menandakan kepercayaan dan deklarasi cinta.. semoga hari kalian menyenangkan^^" ujar Jungkook sambil tersenyum, tentunya senyum terpaksa.
"kamsahamnidaa.."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"woah... yeppeo!" ujar Jin saat melihat hamparan taman musim gugur yang ia lihat.
Taman itu begitu indah, warna oranye daun daun yang melekat di pohon maple dan oak membuatnya terlihat indah ditambah dengan latar bukit Shinjakku sayng ada dibelakangnya menambah keindahan mereka. Daun daun yang mulai berguguran sudah menyapa tanah dibawah mereka. Memang indah, tapi untuk membawa Jin kemari mereka perlu melewati daerah terlarang.
"kau suka?" tanya Namjoon yang ada disampingnya
"suka sekali..." ujar Jin
Mereka pun terdiam. Angin musim gugur menyapa mereka membuat Namjoon bergidik.
"emm.. Namjoon apa tidak kedinginan?" tanya Jin
"tidak kalau aku memelukmu seperti ini..."
BLUSH..
Jin merona hebat, Namjoon memeluknya dari belakang menaruh kepalanya diperpotongan bahunya yang sempit. Membuat ia dapat merasakan aroma tubuh Namjoon, jantungnya berdebar hebat, darahnya seakan mendidih naik ke ubun ubun dan perutnya terasa geli seperti ada beribu kupu kupu berterbangan.
"tidak keberatan kan?" tanya Namjoon yang sedang memejamkan mata sambil menghirup aroma tubuh jin.
"tidak..." ujar Jin bahkan memeluk lengan Namjoon ia menikmati pelukan itu.
Lima menit mereka terdiam dalam pemikiran masing masing, hingga Namjoon membuka suara.
"Jin..." panggilnya
"iya?" Jin menjawab
"apa kau pikir aku pengecut?" tanya Namjoon
"eh? Kenapa berbicara seperti itu?" tanya Jin sambil berbalik.
"jawab saja.."
"yaa... aku tidak tahu" jawab jin.
"kenapa menjawab seperti itu?" tanya Namjoon
"ya, tadi kau memintaku menjawab kan? Yasudah kujawab.." ujar Jin mengalihkan perhatianny ke depan. Namjoon kembali menaruh kepalanya di bhu Jin
"kau tau... kita diposisi yang sama.. posisi yang sama sama bisa merasa terluka sekaligus bahagia.." ujar Namjoon.
"ya, aku tahu itu.." ujar Jin
"aku begitu menyayangimu Jin, aku mencintaimu.. dan aku ingin memilikimu..." ujar Namjoon. Jin terdiam
"aku ingin kita bersama... aku tidak ingin melihatmu bahagia dengan orang lain walaupun itu palsu.." ujar Namjoon. Jin masih terdiam
"aku ingin memperjuangkanmu... aku ingin merebutmu dari Hyosang.. aku tidak akan pernah rela sekalipun.. dan aku tidak akan pernah melepaskanmu kecuali kau yang memintaku menyerah" ujar Namjoon. Jin berbalik menghadapnya
"jangan pernah menyerah aku juga ingin kita bersama... aku tidak ingin terpisah... perjuangkan aku Namjoon.. aku junga menyayangimu.. mencintaimu teramat sangat... kumohon, jangan pernah pergi.." ujar Jin, matanya mulai berembun
"aku tidak akan pernah pergi.. aku tidak akan menjadi pengecut, aku bersamamu.."
Sedetik kemudian Namjoon pun mencium Jin tidak ada paksaan dan nafsu didalamnya, hanya ada cinta dan kasih sayang..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan toko bunga milik Jungkook membuat beberapa pembeli menoleh. Jimin turun dengan senyuman sambil membawa sebuah kotak persegi panjang yang lebar berbungkus pita berwarna merah dan sebuket bunga berwarna biru.
"annyeong ahjuma" sapa Jimin. Ibu Jungkook langsung mengenalinya
"ah, Jimin.. mari... silahkan masuk.. mencari Kookie?" tanya ibu Jungkook.
"ah iya ahjumma..."
"tunggu sebentar... yaa.. Kookie Kookiee!" ibu Jungkook memanggil Jungkook yang sedang berada di dalam. Jimin hanya tersenyum, membuat beberapa pengunjung wanita disana semakin berbisik
"iya ibu ada apa?" Jungkook turun dengan membawa beberapa hanger pakaian.
"jimin..."
"oh! Hai Jimin...!" sapa Jungkook sambil meletakan hanger pakaian itu di sisi kursi.
"hai Kook.. sedang apa?" tanya Jimin,
"sedang membeli baju.. ayo duduk disana..." jungkook mengajak Jimin duduk di kursi yang ada di depan toko yang langsung diikuti Jimin
"kau memilih baju untuk pesta malam nanti?" tanya Jimin saat mereka telah duduk.
"iya, namun sepertinya aku tidak akan datang.." ujar Jungkook menunduk
"kenapa?"
"aku tidak punya baju yang bagus.. emm.. dan, ibu juga belum memiliki uang untuk membelinya.." ujar Jungkook
"jangan khawatir.. karena itu aku ada disini.. ini untukmu.." Jimin menyerahkan kotak dan buket bunga mawar itu
"apa ini?"
"itu untukmu... baiklah aku pergi dulu.. sampai jumpa.." Jimin mencium pipi Jungkok membuat para gadis yang ada di dalam menjerit Jungkook pun kaget.
Jungkook segera membawa barang pemberian itu kedalam. Ia menaruh mawar itu didalam vas dan mengisinya dengan air.
"jungkooki tampan sekali pacarmu... aaahhh" seru Kei
"pacar? Dia temanku..' ujar Jungkook sambil membuka kotak itu.
"loh? Jimin sudah pulang?" tanya ibunya.
"iya ibu,.. dia langsung pulang selesai memberiku ini.."ujar Jungkook sambil menunjuk kotak dan bunga.
"mawar biru? Perdamaian dan persahabatan..."
"kookie dia bukan pacarmu kan? Siapa namanya? Kau punya nomer ponselnya kan?" tanya Kei
"aku tak tahu... namanya Jimin.. WAAHH!"
Jungkook berseru kala ia membuka kotak itu dan mendapati sbuah gaun yang sangat indah berwarna silver.
"astaga! Gaunnya indah sekaliii... Sujeong!" seru kei sambil menarik lengan temannya
"iya kei, gaun ini pasti mahal!" seru sujeong
"yaampun.. nak Jimin, untuk apa ia memberimu ini sayang, gaun ini terlihat indah... dan.. mahal.." ujar sang ibu.
"aku tak tahhu ibu.. aku harus bagaimana? Astaga.. yaampun... ibu..." Jungkook ikutan berseru saat ia kembali melihat sebuah sepatu yang sangat cantik berwarna putih dengan bunga berwarna silver yang sangat cantik.
"dia juga memberimu sepatu?! Astaga! Beruntung sekali kau kookiee!" Sujeong berseru sambil mengambil sepatu itu
"BLANC de ECLAIRE?! Ini brand terkenal! Baju sepatu dan tas bahkan kacamata brand ini dijual diatas harga 1 juta won!" seru Kei
"APA?! Astaga! Aku harus bagaimana.. barang barang ini terlalu mahal untukku.." ujar Jungkook
"kau harus berterimakasih pada Jimin itu Jungkook! Dia pasti sangat kaya! Astaga... aku juga ingin sekolah di sekolah kerajaan kalau seperti ini..." ujar Sujeong
"aku juga inginn..." tambah Kei.
"Ya! Bukannya kalian pergi kesini untuk mengambil pesanan bunga u ntuk festival? Kalian lupa?" tanya Jungkook
"OMONA! Sujeong kita terlambat!" seru Kei
"ahjuma jungkook kita pergi dulu.." tanpa banyak tanya Sujeong dan Kei segera berlari pergi
"ibu bagaimana ini? Aku harus mengembalikannya pada Jimin.." ujar Jungkook.
"tidak Kookie, kalau kookie kembalikan, Jimin akan meras Kookie tidak menyukai pemberianya. Sebaliknya jika kookie mengenakan gaun ini, jimin akan merasa senang.." ujar sang ibu
"baiklah ibu.."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Begitu banyak gadis gadis dan pria pria tampan yang mulai berdatangan memasuki aula besar yang kini dihiasi oleh berbagai macam ornamen pesta.
Seorang gadis cantik bergaun soft orange turun dari mobilnya. Gaunnya terlihat sangat indah memang, membuat kulit putihnya bercahaya, kalung berlian yang menjuntai di leher jenjangnya menandakan gadis ini dari keluarga orangkaya, rambutnya yang pendek tertata rapih dengan sematan mahkota kecil khas kerajaan diatasnya. Namun sayang, kecantikan itu pudar ketika orang orang melihat wajah sang gadis yang terlipat kebawah khas orang yang sedang tidak memiliki mood, namun bila melihat lebih dekat lagi mata gadis itu memancarkan kesedihan.
Yoongi gadis bergaun orange itu melangkah masuk dengan senyuman yang ia buat buat."
"selamat datang di pesta Miss. Yoongi hari yang cerah.." sapa tuan Edi
"selamat malam Tuan, hari yang cerah.." Yoongi membungkuk hormat
"nikmati pestanya,.." ujar tuan Edi.
"terimakasih"
.
.
.
.
.
.
Jungkook berjalan dengan sedikit kesusahan, ia kurang terbiasa memakai heels tinggi seperti ini. Namun karena ia ingin jimin tidak sedih ia memakainya.. walaupun jujur ia merasa agak risih dengan sepatu ini.
Jungkook melangkahkan kakinya hingga ia tak sadar heelsnya menginjak gaunnya mengebabkan ia limbung ke arah kanan. Namun saat Jungkook seharusnya merasa wajah dan tubuhnya berciuman dengan tanah ia malah merasakan hembusan nafas di tengkuknya.
Sepasang tangan kekar memeluknya, mencegah agar ia tidak terjatuh bersentuhan dengan tanah. Jungkook menoleh.
"perhatikan langkahmu." Ujar Pria dengan surai oranye sambil membantu Jungkook berdiri
"Taehyung?"
"angkat gaunmu dan berjalanlah dengan benar." Taehyung tidak memperdulikan Jungkook ia hanya trus melangkah hingga tubuhnya menghilang memasuki aula besar. Jungkook hanya bisa terdiam. Dan mulai melangkah kembali.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suasana pesta berjalan meriah dan anggun terkecuali 3 orang yang satu ini.
"Jungkook jangan seperti itu.. hahahha" seorang gadis dengan rambut caramel menegur Jungkook yang tengah memakan sushi dengan tangan.
"whaeehff? Inhiii enakhh" ujar Jungkook dengan mulut berisi sushi
"astagah! Itu menjijikkan! Telan makananmu! Minum ini!" ujar Yoongi sambil memberikan sebuah gelas berisi cairan berwarna biru.
Jungkook segera menelan sushinya dan mengambil gelas yang ditawarkan Yoongi
"woaaahh apa ini? Warnanya biru.." ujar Jungkook kemudian meminum isi gelas itu, namun sedetik kemudian wajahnya berubah.
"astaga..."
"HUWEEKK! Ini asam asam asaaammm... beri aku minuman lain.." ujar Jungkook sambil melompat lompat. Jin segera memberikan gelas berisi sirup miliknya yang langsung ditenggak habis oleh Jungkook
"ini lebih baik.." ujar Jungkook
"kook coba kue ini..." ujar Jin sambil memberikan jungkook sepiring kue berwarna cokelat.
"astaga Jin, berhenti beri Jungkook makanan.." ujar Yoongi sambil menarik piring itu.
"yaa! Yoongi, tapi kookie mau ituuu! Berikan!" seru Jungkook sambil berusaha menarik piring itu dari Yoongi dan berhasil.
"lihat ana ini.. apa ini yang pantas disebut sebagai seorang putri huh? Seperti anjing yang menjilat kotorannya sendiri saja.." ujar seorang pria yang beraa tidak jauh dari Jungkook,Yoong dan Jin.
"Tuan Edison.." gumam Jin saat melihat orang yang ternyata pemilik sekolah sekaligus tim penilai sikap.
"siapa dia, perkataannya kasar sekali.." ujar Jungkook sambil menunjuk Tuan Edison
"Jungkook! Jangan menunjuknya!" seru Yoongi. Tuan Edison tersenyum remeh,
"jadi kau anak desa yang terkenal karena kejorokannya itu? Untuk apa kau kesini huh? Gaunmu bagus. Apa itu hasil dari jual diri?" ujar Tuan Edison membuat Jungkook berkaca hendak menangis.
BYUUURR!
Seorang pria bersurai orange menyiraminya dengan segelas koktail membuat rambut dan bajunya basah.
"oh, maaf.. tanganku licin." Ujar Taehyung membuat Jin dan Yoongi menganga. Beraninya anak ini..
"apa yang kau lakukan! Hah siapa kau ini! Kurang ajar!" seru Tuan Edison
"bukannya anda yang lebih kurang ajar tuan?" balas Taehyung
"apa?"
"peraturan no. 1 setiap pria dikerajaan harus melindungi wanita dan tidak boleh melukai fisik maupun batin. Tapi barusan anda melukai batin seorang wanita. Peraturan kerajaan no. 112 tidak boleh mengganggu siapapun yang sedang makan, barusan anda mengganggunya membuat ia tak selera lagi." Ujar Taehyung
Seluruh isi istana mulai terdiam mendengar perdebatan mereka.
"CIH! Kau sudah lupa kedudukanmu bocah! Kau tau kan siapa aku? aku pemilik sekolah ini.. dengan sekali jentikan jari kau bisa dikeluarkan.. hahaha" Tuan Edison tertawa Remeh.
"dan bagaimana jika anda yang saya akan laporkan pada polisi dalam waktu sedetik karena telah mengatai perempuan dengan sebutan binatang dan penuduhan sebagai pelacur?" Taehyung tersenyum miring semakin menantang.
" hah, yang benar saja, apa kau tidak lihat perilakunya tadi yang tidak lebih seperti binatang.?" Ujar Tuan Edison membuat Jungkook meneteskan airmatanya.
"lalu untuk apa ia berada disini Tuan? Kalau bukan ia belajar untuk menjadi lebih baik? Sopan? Santun? Anggun dan mempesona?" balas Taehyung.
"maaf tuan, saya memang tidak tahu siapa anda, tapi anda tidak berhak menghina orang lain seperti itu..." ujar Jungkook
"maaf tuan, sebaiknya kalian bertiga masuk kedalam ruangan saya." Ujar sang kepala sekolah.
.
.
.
.
"kalian sudah membuat suasana pesta menjadi tidak enak kalian tau?" jejar sang kepala sekolah, Jungkook dan Taehyung menunduk.
"aku tidak menyukai kedua anak ini.. aku ingin mengeluarkan mereka dari sekolah. Namun, karena anak laki laki ini pemegang platinum tiara selama 2 tahun ia akan kubiarkan. Tetapi gadis ini..."
BRAK.
Seorang pria menerobos memasuki ruangan itu.
"Jimin?"
"kumohon Tuan, jngan keluarkan Jungkook dari sekolah ini, aku menjaminkan platinum card milikku." Ujar Jimin.
"apa?!"
"kumohon tuan.." Jimin bersedekap.
"baiklah.. aku mengizinkan gadis ini tinggal lebih lama dengan syarat.. ia harus mendapatkan platinum tiara bulan depan"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah seminggu semenjak kejadian itu, Jungkook sempat ingin putus asa dan tidak akan menjadiseorang putri dengan tidak masuk sekolah selama seminggu, namun hari ini, Jin dan Yoongi mengunjunginya di rumah. Menginginkan ia kembali bersekolah di sekolah kerajaan.
.
.
"aku tidak bisa Jin, lebih baik aku tidak usah sekolah lagi dan membantu ibuku bekerja merawat bunga bunga dan menjualnya.." ujar Jungkook.
"tidak kau harus kembali kesekolah Jungkook... kami kesepian karenamu.." ujar Jin.
"kau saja yang kesepian aku tidak," ujar Yoongi.
"kaliankan sudah sering bersama, tanpa aku kalian pasti bisa.." ujar Jungkook
"ayolah kookie, soal pestadansa itu jangan khawatir, aku dan Yoongi akan membantumu!" ujar Yoongi.
"menghadiri pesta biasa saja aku tak bisa, bagaimana pesta dansa.." ujar Jungkook.
"tenang saja... ayolah Jungkook... waktunya sudah dekat.. aku akan berusaha mengajarimu.." ujar Jin.
"terimakasih Jin.. tapi.."
"terima saja Jeon Jungkook! Jarang sekali kami memohon seperti ini.. kau ini benar benar suka melukai hati orang ya.. Jin! Aku tunggu di mobil" tanpa permisi Yoongi segera bangkit dan pergi ke mobil mereka yang berada di depan.
"maafkan aku..."
"aku mengerti Jungkook... tapi kau tidak bisa lari.. kau harus menghadapinya.." ujar Jin
"baiklah! Akan aku hadapi... tolong ajari aku Jin.."
"tenang saja, serahkan padaku.. cepat bereskan barangmu dan kita kembali ke asrama.."
"baik!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Taehyung menonton kegiatan 3 gadis yang berada di bawahnya ini. Heran mengapa mereka begitu semangat.
Jin membawa 5 tumpuk buku tebal dan ia letakan tepat diatas kepala Jungkook.
"jin.. bukunya..'
"kau harus menjaga keseimbanganmu.."
"baik!"
Taehyung tertawa ketika melihat wajah memerah Jungkook yang berusaha menahan keseimbangan di kepala dan tangannya yang ditumpui buku dan vas.
"astaga, anak itu.. sebegitunya ia ingin menang.. padahal itu sama saja dengan bunuh diri.. dia tidak akan menang dan mendapat platinum tiara itu." Ujar Taehyung sambil kembali melihat kegiatan para gadis.
.
.
"1...2...3...4 Lebih anggun!" seru Yoongi
"baik!"
"1...2..3...4...5...6..7...8... sekarang gerakan berputar!" ujar Jin.
BUKKK
Taehyung kembali tertawa ketika melihat jungkook yang jatuh tersungkur di tanah karena menginkjak kaki Jin.
"YAA! Lihat langkahmu.." ujar Yoongi sambil membantu Jungkook berdiri.
"iya.. maaf.."
"mulai dari awal nee, kookie.. 1...2...3...4.." ujar Jin.
..
..
Taehyung terpesona dengan kegigihan Jungkook yang setelah jatuh ia kembali bangkit. Dan melanjutkan kegiatan menarinya. Menari dengan usaha untuk anggun. Namun ia kembali terbahak ketika jungkook kembali jatuh atau menginjak kaki Jin.
"astagah... apa ia benar benar akan menang? Hahaha yang ada dia malah semakin mengacaukan pestanya." Ujar Taehyung sambil melangkah pergi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam itu Namjoon tengah menulis mengerjakan pekerjaan rumahnya, karena bukan berarti menjadi seorang pangeran tidak harus belajar tidak justru menjadi seorang pangeran ia haruslah jenius.
Namun sebuah ketukan menginterupsi kegiatannya.
"masuklah.."
Pintu itu terbuka menampilkan figure seorang wanita cantik yang begitu mirip dengan Namjoon.
"namjoonie.." ibunya memanggil. Namjoon menoleh.
"ada apa?" tanya Namjoon
"eomma ingin mengatakan sesuatu.." ujar sang ibu
"apa?" mendengar perkataan sang ibu Namjoon tau ini mengarah ke pembicaraan serius.
"eomma ingin menikah lagi.." ujar sang ibu. Namjoon sedikit terkejut membuat ia diam beberapa saat.
"..."
"eomma butuh persetujuanmu Namjoon.. besok akan ada pertemuan keluarga.. kau akan bertemu dengan calon ayahmu.. dia juga memiliki seorang putri yang lebih tua darimu." Ujar sang ibu
"lakukan apa yang kau sukai. Jangan pikirkan aku.. memang sejak dulu seperti itu kan? Walaupun aku menolak toh juga kau pasti akan menikah lagi jadi lakukan sesukamu." Ujar Namjoon.
Ya, memang seperti inilah Namjoon, ia begitu dingin dan sekeras batu pada ibunya sendiri, ini karena keegoisan ibunya yang meninggalkan ayahnya yang kala itu tersangkut kasus berat yang rela mengorbankan dirinya hidu tanpa kasih sayang mereka selama 14 tahun..
Namjoon menjadi dendam dan begitu membenci kedua orangtuanya walaupun dalam hatinya terselip rasa sayang dan ingin memeluk mereka namun itu semua takkan pernah tercapai hatinya yang sekeras batu dan sedingin es itu mengalahkan semuanya..
"baiklah, bersiaplah besok, kita akan makan siang bersama mereka..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"1... 2... 3... 4... salah! Lebih anggun!" seru Jin kala melihat gerakan Jungkook.
"akh! Kakiku!"Jungkook berseru kala kaki nya terasa nyeri, tidak terhitung sudah berapa banyak lecet yang ia dapati dikakinya hanya karena menari
"bangun dan anggap aku sebagai pangeran. Kita akan mulai.." ujar Jin. Jungkook berdiri
TTAAK!
Yoongi menyentil dahi Jungkook
"merunduklah saat kau bertemu dengan para pangeran.." ujarnya.
Jungkook segera merunduk memberi Hormat dan mulai menari bersama Jin namun baru sampai pertengahan lagu Yoongi kembali memukulnya.
"bukan seperti itu gadis kampung! Seperti ini! Sesuaikan iramanya!" ujr Yoongi
Yoongi bangkit meraih tanagan Jin dan mulai menari mnesuaikan irama membuat Jungkook hanya bisa memperhatikannya
"sekarang kau coba.." ujar Yoongi sambil menarik Jungkook berdiri
"angkat kakimu! Tegaskan wajahmu! Lihat kedepan dan melangkahlah dengan anggun!"serunya
Tanpa sadar seorang pria mengintip kegiatan mereka dibalik pintu ruangan menari tersebut, ia hanya memperhatikan 1 orang gadis disana.. gadis yang perlahan lahan membuat ia jatuh kedalam pesonanya..
.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook meregangkan kakinya. Tulang tulangnya serasa ingin remuk sekarang... Yoongi sudah pergi mengunjungi sahabatnya yang ternyata pangeran Jimin. Dan Jin dijemput orang tuanya entah ada apa... Jungkook kini sendirian duduk di taman depan istana sambil memandangi beberapa murid murid yang tengah berbincang ataupun bermain. Hingga sesuatu yang dingin dan basah menempel di pipinya.
"Taehyung?" Jungkook sedikit terkejut
"itu untukmu.." ujar Taehyung sambil memberikan minuman kesehatan dan sekantong obat obatan.
"eh? Tumben sekali kau baik.."ujar Jungkook
"i-itu bukan dariku, tapi.. emm.. dari, Jaehyo! Ya Jaehyo!" ujar Taehyung.
"a baiklah.. aku harus berterimakasih pada Jaehyo nanti..." ujar Jungkook.
"bagaimana latihanmu?" tanya Taehyung basa basi.
"yaa.. begitu begitu saja.. oh iya terimakasih sudah menolongku.." ujar Jungkook..
"sama sama, aku harus pergi.." dan taehyung pun pergi bertepatan saat itu Jaehyo lewat dihadapan Jungkook.
"Jae! Terimakasih.." ujar Jungkook
"terimakasih untuk apa?" tanya Jaehyo bingung
"obatnya.."
"loh.. itu? Bukan aku yang memberikannya.. tadi aku sempat melihat Taehyung ke ruang kesehatan mengambil beberapa obat obatan dari Miss adam dan ketika kutanyai ia tidak mereson." Ujar Jaehyo. "sudahlah aku harus pergi" lanjutnya kemudian meninggalkan Jungkook.
.
.
"terimakasih Tae..."
.
.
.
.
.
..
TBC
Jan lupa Review kritik dan sarannya,,,...
