sebulan sudah berlalu, Jungkook berlatih keras ia juga tidak menyangka bahwa ibunya datang dan membawakan ia sebuah baju yang dibuat oleh ibunya sendiri.. gaun itu sangat indah.. bahkan ia sangat terharu saat memakainya. Malam ini.. semua akan dibuktikan.. akankah dia masih bertahan atau tidak..
.
"aku tahu kau menyukainya.." todong seorang pmuda.
"huh?" pemuda yang satunya hanya diam tak mengerti
"aku tahu. Gerak gerikmu sudah terlalu jelas.."
"oh jadi begitu."
"kalau bisa rebut dia dariku brengsek!"
"maaf aku sedang tidak ood kawan."
"jangan menjadi pengecut, rebut dia sebelum aku mengambilnya selamanya darimu."
"baiklah kau yang minta.."
.
.
.
.
Seorang laki laki tersenyum miring saat melihat seorang gadis masuk dengan gaunnya yang indah, senyum yang merekah harus dia akui bahwa gadis itu memang sangat cantik malam ini, membuat jantungnya berdebar tak karuan..
"apa kau sudah siap untuk tersandung hari ini huh?" ujar peia itu yang tak lain adalah Taehyung
"apa apaan kau! Aku sudah berlatih selama sebulan penuh! Aku pasti akan menang..!" sergah Jungkook
"sainganmu dia! Dia putri terbaik sejak 3 tahun lalu." Taehyung menunjuk seorang wanita dengan gaun Pinknya di tengah paviliun
"Jinnie?"
"yup.. apa kau tidak tau? Oh astaga tak heran kalau kau bodoh.." Jungkook masih membelalakkan matanya
"kau lihat dia, betapa anggunnya dia terlihat dari luar saja auranya sudah sangat bercahaya dan gemerlap.. banyak pangeran yang ingin menikahinya, tapi hanyalah Jin Hyosang yang beruntung.. dia itu sangat berbakat dalam hal apapun.. kau tau itu.." Taehyung menjelaskan.
Jungkook sempat menunduk, ia tidak mungkin melawan Jin yang sudah menjabat 3 kali dalam platinum Tiara.
Tepukan tangan terdengar membuat semua pangeran dan putri berbaris rapih acarasegera dimulai.
Jungkook menunduk dalam saat ia tahu dia tidak akan punya pasangan.. namun tiba tiba sepasang tangan terulur padanya.
"Tae...hyung?"
"mari berdansa putri.." Taehyung membeerikan telapak tangannya setelah di sambut oleh Jungkook ia pun mulai berdansa.
Ia dapat melihat dengan jelas perempatan muncul di wajah Jimin yang gagal berdansa dengan Jungkook yang membuat ia sedikit terpaksa untuk berdansa dengan Yoongi.
.
"ka menyukainya ne?" tanya Yoongi yang memperhatikan Jimin sambil menahan sakit dihatinya
"sangat! Yoongi kau tau dia itu sangat menakjubkan.. senyumnya, tawanya, semuanya membuatku bahagia.."jawab Jimin tanpa dosa
"jangan lepaskan dia kalau dia membuatmu bahagia.." ujar Yoongi
"terimakasih.. aku tidak akan pernah menyerahkannya pada siapapun." Jimin tersenyum dan musik pun berganti membuat Jimin melepaskan Yoongi untuk mengganti pasangan.
.
Pesta berjalan dengan lancar, sebelum ia melihat seorang anak kecil yang melihat lihat kebawah dengan pandangan yang tidak bisa diartikan, ia seperti kehilangan sesuatu. Jungkook mengikuti arah pandang adik kecil itu sebelum melihat sebuah kalung tergantung indah di gaun Haeri.
Jungkook melepas pegangannya dan berusaha secepat mungkin mengambil kalung itu. Ia berhasil memang, namun haeri kehilangan konsentrasinya hingga ia menginjak kai Jaekyung dan membuat pria itu menyenggol seseorang disebelahnya dan ajaibnya seperti sebuah estafet serempak orang yang berada di tengah paviliun terjatuh baik putri maupun pangeran.
Jungkook tidak perduli jika nanti ia akan dikeluarkan dari sekolah atau tidak ia hanya ingin menolong. Ia memberikan kalung itu pada anak kecil iu dan kembali berdiri, membuat Haeri menatap marah kearahnya.
.
Pesta sudah selesai, dengan kecewa Jungkook berjalan kearah pintu principal's room itu dengan wajah sedih.
"Miss. Jeon! Kau melakukan kesalahan fatal!" Jungkook hanya bisa menunduk dalam, ia merasa malu dan ingin menangis sekarang..
" maafkan aku.. ini sepenuhnya salahku." Jawabnya berlinang air mata
"kau akan dikeluarkan dari sekolah ini!" ujar kepala sekolah dengan lantang membuat pertahanan Jungkook runtuh. Ia menangis juga..
BRAK!
"jangan! Aku menggunakan lencanaku! Aku yang menjamin dia!" tiba-tiba Taehyung sudah ada dihadapan kepala sekolah dengan nafas tergesa.
Ia langsung panik ketika mengetahui bahwa bukan Jungkooklah yang menang, melainkan Jin-lah yang menang. Dengan cepat ia segera berlari ke ruangan orang tertua di sekolah kerajaan itu.
"Pangeran Kim?"
.
Jungkook menarik Jas yang dikenakan Taehyung begitu keluar dari ruang kepala sekolah
"terimakasih.."
Dan Taehyung pun pergi.
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi bangun dengan keadaan sangat berantakan, rambutnya berantakan, kamarnya juga berantakan banyak tissue dimana mana.. ia habis menangis semalam.. terbukti dengan matanya yang sembab dan bengkak serta hidungnya yang memerah.
Yoongi mengambil secarik kertas.
'dan pada akhirnya akulah yang mengalah, aku tau kau tidak pernah sedikitpun memikiran perasaanku. Kenapa tidak sekalipun kau memikirkanku sebagai seorang wanita? Aku menyukaimu, anii bahkan mencintaimu park. Tidak kah kau tau aku menangis semalaman karenamu.. mungkin aku gagal.. gagal.. aku menyerah.. aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Jungkook dihatimu..
Aku kasar, jelek, berbicara blak blakan, arogant, pemarah, egois... berbanding terbalik dengan Jungkook.
Maaf jika aku menodai persahabatan kita dengan perasaan ini.. 5 tahun jimin.. kita bersahabat sudah lama, selama itu juga aku menahan perasaanku untukmu.. aku tidak ingin kau menjauh.. tapi sekarang au menyerah.. aku tidak akan mengganggumu lagi.. terimakasih atas bahagia dan sakitnya selama ini..
-Yoongi'
Yoongi memasukkan kertas itu kedalam sebuah amplop dan mengelmnya, kemudian semua surat yang ia pernah tulis dulu kini ia masukkan kedalam kotak sesuai dengan nomor urutnya.
Kemudian ia keluar kamar setelah ia membersihkan dirinya.
Ditengah makan siang itu Yoongi menahan tangisnya.
"aku menyerah dad.. sudah cukup.. 5 tahun aku berjuang.. hikss.." Yoongi menumpahkan tangisannya. Woozi yang melihatnya turrut merasa matanya berair.
"Yoongi.." ibunya datang memeluknya..
"huwaaaa... mom.. hikss hikkss.. moomm.. huhuhu" ibunya menenangkan Yoongi sementara Woozi sudah menangis juga, ia dapat merasakan luka hati yang diderita Noonanya.
5 tahun sudah noonanya berjuang namun tidak berasa atau mendapatkan apapun..
"aku terima daad.. nikahkan aku dengan Jung Ho Seok. Hikss..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
..
.
"AYAH EGOIS!"
BLAM!
bantingan pintu cukup keras dari arah kamar seorang gadis yang ini meraung dikamarnya. Gadis itu—Jin—tidak menyangka kalau ayahnya akan menikah dengan Seo Ha Jeon. Ibu Namjoon.
Begitu melihat wajah ibu Namjoon dan Namjoon yang muncul di depan pintu membuat ia naik darah. Ayahnya begitu egois sekarang. Kenapa harus ibu Namjoon! Kenapa?! Masih banyak wanita lajang berduit diluar sana dan kenapa harus ibu Namjoon?
"WAEE?! GEURIGO WAEEE! HIKSS.. AAAAAHHH!" Jin mengerang keras
PRANG!
BRAAAKKK!
BUAAGHH!
"AAAHHHH! TERKUTUKLAH KAU Kim Jong Woon!" Jin merutuki ayahnya
Tanpa ia ketahui Namjoon panik begitu pula dengan ibu Namjoon dan ayah Jin yang segera berlari ke kamar Jin yang dikunci rapat dengan berbagai gembok dari dalam.
"JIINN! Appa bisa jelaskan"
"Jin.. kumohon hentikan itu.." Namjoon memohon didepan pintu.
"AAAARGGGHH! PERGILAH! TERKUTUK KALIAN! KALIAN TIDAK PERNAH MENGHARGAI PERASAANKU!" suara Jin melengking kuat hingga ia merasa pita suaranya akan putus..
PRAANGG!
BRAAKK!
PRAAANGG!
PRAAANGG!
BUAGH!
BUAGH!
Jin melempar semua barang barang yang ada di kamarnya dan memecahkan semua yang ada di dalamnya jika itu berbentuk kaca. Kelambu kamarnya ia tarik hingga terlepas begitu saja dan bahkan merobek robeknya.
"JIIN! JIIIN!"
BRUKK
Dan mungkin itu bunyi Jin yang pingsan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook tersenyum bahagia, bunga lily pemberian Taehyung sudah mekar.. semekar perasaanya selama ini. Ia menykai Taehyung apalagi semenjak kejadian diruang kepala sekolah ia dan Taehyung sering melewati waktu bersama berdua.
Perasaan Jungkook sedang berbunga bunga saat ini.. ia bahagia.. ingin rasanya pergi kerumah Taehyung. Namun ia harus menunggu sebentar lagi.. dan TENGG!
Jam 2 tepat!
Jungkook meraih topinya dia akan ke taman itu.
15 menit ia berjalan kaki ia sampai di taman itu juga.. tapi ia sedikit terkejut karena melihat Taehyung yang duduk bersama Yein di bangku taman. Namun, walau begitu ia tetap mendekati taehyung dengan bunga lilly yang sudah mekar di tangannya.
"taee!"
Taehyung menoleh.
"lihat bunganya sudah mekar.." ujar Jungkook senang.
"lalu"
"e-eh?" jungkook sedikit terkejut taehyung bersifat seperti itu padanya "begini.. bunga lillynya sudah mekar, sepeerti kata oppaku.. semakin lama au dekat denganmu perasaan ini semakin me—"
"oh tidak, jangan bilang kau salah sangka? Mengira aku mengungkapkan perasaanku padamu lewat bunga ini?" jungkook tercengang, ia tidak menyangka taehyung akan berkata seperti itu, matanya berkilat kecewa. Yein menatap taehyung ia tahu bukan itu yang akan taehyung katakan.
"a- aku.. maksudku.." Taehyung tidak menyangka bahwa Jungkook akan merespon seperti ini.
"anu.. Jungkook.."
"aku mengerti.." Jungkook berlari pergi meninggalkan bunga Lilly itu yang tergeletak begitu saja dengan pot yang setengah pecah.
"bodoh!" Yein meninju lengan Taehyung.
"mian Yein tapi aku malu karena ada kau aku aku.. lagipula Jungkook tadi sangat manis.. aku astaga!"
"kau sangat bodoh Kim taehyung."
.
.
..
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc.
Mian ini Cuma 1000+ word karena aku buntu ide dan agak lupa jalan ceritanya gimana.. jadi selamat membaca aja yaaaa?
