Jongdae benar-benar membawa Minseok pulang. Ia harus kuat mental untuk menerima semburan dari bibi Oh.
"Siapa namamu?", tanya Jongdae.
"Haaaah, apa kau akan percaya?", Minseok balik bertanya.
"Percaya apa?", tanya Jongdae.
Mereka bertiga kini tengah dalam perjalanan pulang ke rumah Jongdae. Jongdae menggendong Jongin dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menggandeng Minseok. "Bahwa aku ini Minseok", ucap Minseok.
"Tentu saja aku percaya, kenapa aku harus ragu dengan nama seseorang, namamu Minseok 'kan?", tanya Jongdae.
Minseok mengusap wajahnya kasar. Ia merasa bertemu orang idiot dengan adik robot. "Bukan, aku adalah PARK MINSEOK! PARK! MINSEOK! teman kelasmu dan juga tetanggamu", ucap Minseok.
"Hahaha, kau tahu Park Minseok dari mana adik kecil? Kau sepupunya?", tanya Jongdae dengan tawa kecil.
"Tuh 'kan! Kau tidak percaya! Aku benar-benar Park Minseok", kesal Minseok menghentakkan kaki kanannya.
"Hah, anak kecil zaman sekarang, imajinasinya berlebihan sekali", kekeh Jongdae.
Minseok menghentakkan tangan kanannya yang digenggam Jongdae dan menatap nyalang kearah Jongdae. "Aku PARK MINSEOK! Anak dari PARK CHANYEOL dan PARK BAEKHYUN! Yang memiliki kakak bernama PARK LUHAN! Orang tuaku ilmuwan gilaaa!", teriak Minseok menggebu.
Jongdae mematung bingung. "Maksudmu 'ilmuwan gila'?", tanya Jongdae sedikit bingung.
Minseok menetralkan napasnya dan mulai berbicara. "Ini rahasia, tapi orang tuaku adalah ilmuwan yang haus akan rasa penasaran, dan alasan kenapa aku selalu absen di kelas karena … Aku. Menjadi. Kelinci. Percobaan. Kedua. Orang tuaku!", bentak Minseok tidak sabaran.
Jongdae terdiam sejenak. "Jadi, kau benar-benar Park Minseok?", tanya Jongdae sedikit ngeri.
Minseok mengangguk semangat dengan senyum lebar. Akhirnya Jongdae mengerti!
.
.
How To Back To Normal?
.
By : Nyanmu
Main Cast : Kim Jongdae and Kim Minseok a.k.a Park Minseok
[ChenMin]
Support Cast : Exo member and BTS
Genre : Sci-fi, Romance, Little bit Humor, Family, Fantasy and Friends
Rated : T
Length : Chaptered
Warn! GENDERSWITCH (GS) | Typo(s) | Alur ngebut | Kata-kata absurd dan KASAR!
.
.
Chapter 2 : Dibalik sifat dingin Jongin, terdapat kehangatan
"Jadi, orang tuamu sekarang sedang membuat obat penawarnya?", tanya Jongdae mulai mengerti cerita Minseok.
Minseok menjelaskan semuanya setelah mereka sampai di rumah Jongdae. Untung saja bibi Oh sedang tidak ada di rumah siang ini, jadi Jongdae tidak akan terkena sembur.
Minseok mengangguk semangat menjawab pertanyaan Jongdae. "Haaah, aku tak mengira hal seperti ini terjadi di dunia nyata", komentar Jongdae.
"Lebih tepatnya terjadi di hidupku", dengus Minseok.
"Hum, lalu kita harus apa? Kau tidak ingin kembali ke rumah?", tanya Jongdae.
Minseok menggeleng keras. "Tidak mau!", kesal Minseok.
"Tapi sepertinya ummamu mengkhawatirkanmu", ucap Jongdae.
"Tetap tidak mau!", kesal Minseok bersedekap.
Jongdae mendesah frustasi dan memijit keningnya. "Apa kau membawa ponsel?", tanya Jongdae.
Minseok menggeleng. "Baju ganti?", tanya Jongdae.
Minseok menggeleng. "Akh! Padahal baju ganti itu sangat penting", frustasi Jongdae.
"Pakai bajunya Jongin saja", usul Minseok.
"Memangnya kau pikir ukuran tubuhmu dan Jongin sama?", jengit Jongdae kesal.
"Hmm, ya … tidak sih", gumam Minseok menunduk.
"Sebenarnya ummaku menyiapkan baju yang seukuran denganku di rumah–baju untuk sementara, tapi aku tidak membawanya", ucap Minseok sambil menundukkan kepalanya lebih dalam lagi.
"Kenapa kau tidak membawanya?", jengit Jongdae mulai emosi.
"Aku 'kan emosi waktu itu!", akhirnya Minseok berjengit juga.
"Tapi kumohon! Gunakanlah otakmu saat emosi!", kesal Jongdae.
"Terserahlah!", kesal Minseok menghentakkan kaki dan duduk di pojokan menghadap tembok. Enggan menatap Jongdae.
"Astaga, kenapa duniaku menjadi aneh", gumam Jongdae sambil menunduk.
"Cepat pulang!", titah Jongdae.
Minseok menoleh kaget. "Kau mengusirku?!", suara Minseok meninggi.
"Tidak, tidak … Oh God! Maksudku, ambil baju gantimu", ucap Jongdae, suaranya mulai melembut.
"Haaah, tidak bisa", Minseok kembali menghadap dinding.
"Kenapa? Kau 'kan hanya tinggal masuk ke dalam rumah, mengambil pakaianmu, dan kembali, beres", ucap Jongdae menggambarkan betapa mudahnya hanya mengambil pakaian ganti.
"Haaah! Baiklah baiklah! Aku tidak ingin bertengkar denganmu", Minseok bangkit dan keluar.
Minseok berjalan cukup cepat menuju rumahnya. Ia segera berlari menaiki anak tangga guna mencapai kamarnya. Dan saat itulah ia bertemu dengan orang yang paling menyebalkan sedunia setelah kedua orang tuanya. Itulah dia, Park Luhan, kakak lelaki Minseok. Andai saja Luhan tinggal di rumah. Minseok tidak akan menjadi kelinci percobaan.
"Oppa", panggil Minseok.
Luhan yang sibuk membaca sesuatu di sebuah kertas menyingkirkan kertas tersebut dari wajahnya dan menatap bingung kearah Minseok.
"Sejak kapan ada anak kecil di rumah ini", bingung Luhan.
"Oppa, kau tidak tahu siapa aku?", ucap Minseok sedikit berharap.
Luhan berpikir sejenak. Kemudian ia seperti terkejut dengan pemikirannya. "Tidak mungkin", lirih Luhan.
"Iya! Tentu saja tidak mungkin!", sergah Minseok emosi mengingat atas perbuatan siapa ia menjadi anak berumur empat tahun.
"Kau–astaga! Apa umma dan appa membuat adik lagi? Lalu mana Minseok? Anak itu pasti kabur", ucap Luhan kalap.
Minseok hanya bengong atas pemikiran aneh kakaknya itu. "Oppa, ini aku Minseok, dan kita tidak punya adik lagi selain aku", teriak Minseok.
"Oh, ini kau … kupikir aku mempunyai adik lagi", ucap Luhan lega. Ia tidak ingin memiliki saingan lagi di rumah ini selain Minseok.
"Kenapa oppa kemari?", tanya Minseok.
"Mengambil sebuah tas", Luhan menunjukkan tas yang berisi pakaian dengan ukuran Minseok kecil.
"Astaga! Itu tasku! Ini akan diberikan pada siapa?", tanya Minseok.
Luhan berpikir sejenak kemudian menyerahkan tas itu pada Minseok. "Padamu, aku tadi lupa karena terkejut hehe", kekeh Luhan.
Minseok mendengus malas. "Itu–kertas apa itu?", tanya Minseok sedikit mengintip setelah menerima tas yang diberikan Luhan.
Berat juga sih tasnya.
"Daftar untuk membuat obat penawar untukmu", ucap Luhan malas.
"Oppa akan mencarikannya untukku?", ucap Minseok senang.
"Seharusnya sih begitu, tapi berhubung aku bertemu denganmu di sini … kau saja yang cari sendiri ya, setelah itu berikan pada umma dan appa, aku sibuk", Luhan menyerahkan begitu saja kertas yang ia baca tadi.
Minseok menggeram tertahan dan beralih membaca daftar bahan untuk membuat penawar.
.
Daftar Penawar Seokkie :
Sehelai rambut Seokkie (Kau cari Seokki sampai ketemu!)
Tiga buah apel ungu (dapatkan di Taeyon ahjuma)
Satu ekor katak (ekornya saja)
.
Minseok sedikit terkejut membaca daftar yang ada. 'Orang tuaku ilmuwan atau penyihir?'. Minseok bergidik memikirkan bahwa kedua orang tuanya adalah penyihir.
"Oppa!", teriak Minseok bersusah payah mengejar Luhan yang sudah berjalan jauh.
Luhan berhenti karena merasa dipanggil oleh Minseok. Minseok menghampiri Luhan dengan napas terengah.
"Ini hal yang mudah, oppa", ucap Minseok.
Minseok menaruh tasnya kemudian mencabut beberapa helai rambutnya. "Ini, sisanya tinggal apel ungu dan katak, oppa yang mencarinya ya", pinta Minseok dengan mata memelas.
"Haaaah, baiklah!", Luhan merebut kasar kertas yang tadi ia pegang dan helaian rambut Minseok.
"Terima kasih oppa!", Minseok secepat kilat mengecup pipi kanan Luhan dan lari ke rumah Jongdae.
"Hei! Mau kemana?", tanya Luhan sedikit berteriak.
"Aku tidak mau tinggal di rumah, aku mau minggat sementara", balas Minseok masuk ke dalam rumah Jongdae.
Luhan hanya bisa geleng-geleng kepala dengan senyum merekah. "Minggat? Minggat ke tetangga? Haha", tawa Luhan memikirkan betapa konyolnya Minseok.
.
.
.
Cklek!
Minseok masuk ke dalam rumah Jongdae. Badannya membeku seketika saat ia bertemu dengan seorang ahjuma. 'Astaga, itu bibi Oh!'
"A-Annyeong", sapa Minseok sambil membungkuk.
Minseok tahu betapa garangnya bibi Oh. "Kau siapa?", tanya bibi Oh ketus.
Minseok menegapkan tubuhnya dengan cepat. "A-Aku … aku–"
"Dia sepupu Minseok!", teriak Jongdae dari lantai dua dengan cepat.
"Jangan berteriak di rumahku!", bentak bibi Oh.
Jongdae sedikit kaget namun ia segera turun dengan sebuah cengir lebar menghiasi wajahnya. "Dia sepupu Minseok, bibi Oh", ucap Jongdae melembut.
"Lalu kenapa dia di sini?"
"Dia-dia akan … dia akan menginap di sini untuk beberapa hari ke depan, boleh 'kan?", pinta Jongdae sedikit takut, bagaimana pun Jongdae tengah berbicara dengan bibi Oh! Bibi OH! OH SEHUN!
"Memangnya kemana keluarga Park?", tanya bibi Oh cuek.
"Mereka ada urusan", ucap Jongdae mengecilkan suaranya.
"Dia juga bisa membantu di sini", sambung Jongdae cepat saat menyadari mimic bibi Oh terlihat sedikit tidak suka.
"Kalau dia bisa membantu tak masalah, asal jangan merepotkan", ucap bibi Oh duduk di sofa ruang tamu.
"T-Terima kasih!", ucap Minseok membungkuk dalam lalu menegapkan punggungnya dengan cepat, ia senang.
"Beristirahatlah", ucap bibi Oh sambil memakai kacamatanya.
Jongdae memberi gesture pada Minseok untuk mengikutinya. Dan Minseok menurut. "Bagaimana di rumahmu?", bisik Jongdae saat Minseok menyamakan langkahnya dengan Jongdae.
"Aman, aku hanya bertemu dengan oppaku", bisik Minseok.
"Oppamu? Yang mana? Aku tak pernah melihatnya, berikan padaku, pasti berat", ucap Jongdae merebut tas milik Minseok yang terlihat cukup berat.
"Terima kasih, kau tak pernah melihatnya–sepertinya", ucap Minseok membuka pintu kamar.
Dan terlihatlah Jongin yang duduk dengan tenang di kasur sambil melihat cerita bergambar.
"Dia suka mebaca buku?", tanya Minseok duduk di sebelah Jongin.
"Kurasa", ucap Jongdae menaruh tas besar milik Minseok di sebelah lemarinya.
"Lalu aku akan tidur dimana?", tanya Minseok sambil merebut dengan pelan cerita bergambar Jongin agar Minseok dapat membacakannya.
"Di sini, dimana lagi?", bingung Jongdae.
Kedua bola mata Minseok seketika membola. "Di sini?! Di kamar ini?! Bersamamu?", tanya Minseok, nadanya sedikit meninggi.
"Kau pikir?", jengah Jongdae membuka lemarinya–ia belum mengganti baju seragam dengan baju santainya.
"Hei! Aku ini yeoja! Kenapa dibiarkan tidur di kamar namja?!", kesal Minseok menggembungkan pipinya, terlihat samar rona merah di pipinya.
"Tapi bibi Oh tidak akan membiarkan anak kecil tidur sendirian", ucap Jongdae–entah kenyataan atau bualan.
"Aku bukan anak kecil, aku seusia denganmu", ucap Minseok mendelik tajam.
"Tapi sekarang kau anak kecil", ucap Jongdae mengeluarkan sebuah kaos dan celana pendek dari dalam lemarinya.
"Tapi aku tetap yeoja!", kesal Minseok.
"Lagi pula kita tidak satu kasur", ucap Jongdae membuka sabuk sekolahnya.
"Oh, syukurlah … aku akan tidur dengan Jongin ya", pinta Minseok sambil memeluk Jongin.
"Tidak bisa, kau bisa saja menindihnya kapan-kapan", ucap Jongdae mulai membuka kancing bajunya.
"Apa?! Aku tidur dengan baik ko–astaga! Jongdae! Apa yang kau lakukan?!", Minseok menutup wajahnya dengan rapat dan memalingkan wajahnya ke arah lain–asal tidak Jongdae.
"Aku kenap–Oh astaga! Kenapa aku– Haish! Gara-gara kau anak kecil, sih!", kesal Jongdae masuk ke dalam kamar mandi.
Untung saja Jongdae baru membuka tiga kancing baju teratasnya. Bagaimana kalau ia sudah membuka celana? Bisa mati Jongdae dihajar Minseok.
Jangan meremehkan kekuatan Taekwondo Minseok kawan~
"Huft, untung saja, Jongin … aku tak tahu kalau hyungmu itu pervert", ucap Minseok membuka halaman pertama cerita bergambar milik Jongin.
Jongin yang tak mengerti apa yang Minseok ucapkan pun hanya diam melirik cerita bergambar yang Minseok pegang.
"Ya! Aku mendengarnya! Dan aku tidak pervert!", teriak Jongdae dari dalam kamar mandi.
"Pervert", ejek Minseok terkekeh.
Cklek!
"Diam", geram Jongdae.
Minseok tersenyum mengejek. "Baiklah, aku bacakan, ya", ucap Minseok pada Jongin. Jongin hanya mengangguk menurut.
"Pada Suatu hari–"
"Oh ya, Minseok", potong Jongdae.
"Apa?", tanggap Minseok menghentikan bacaannya.
"Kau belum menentukan namamu, apa kau akan menggunakan nama 'Minseok'?", tanya Jongdae.
Minseok menggeleng. "Tentu saja tidak, mana mau aku ditahu oleh yang lain", dengus Minseok.
"Kalau begitu mari kita berunding mengenai namamu", ucap Jongdae duduk di lantai–dan dua anak kecil itu duduk di atas kasur.
Minseok turun dan ikut duduk di lantai. Melihat Minseok turun, Jongin pun ikut turun. Tapi Jongin duduk di pangkuan Jongdae. Dan Minseok duduk di hadapan Jongdae dan Jongin.
"Aku mau nama yang memiliki unsur nama asliku", ucap Minseok.
Jongdae berpikir. "Minmin? Minnie? Seok, Seokkie? Minseok, seok, seok", gumam Jongdae sambil berpikir.
"Jangan nama yang aneh", cibir Minseok.
"Ada nama yang kau suka? Sebuah nama atau kata", ucap Jongdae.
Minseok berpikir sejenak. "Oppaku selalu memanggilku dengan sebutan 'Xiumin' kalau dia kesal", ucap Minseok.
"Baiklah, namamu Xiumin", putus Jongdae cepat.
Minseok kaget–tentu saja. "Memangnya kau pikir aku suka dengan panggilan itu? Aku sangat tidak suka!", kesal Minseok.
"Baiklah, bagaimana dengan Umin? Uminnie?", tawar Jongdae dengan kedipan mata.
"Baiklah, Xiumin saja", putus Minseok cepat merasa jijik melihat kedipan mata Jongdae.
Ya, jijik karena ia merasa detak jantungnya terpompa lebih cepat. Rasanya menjijikkan, mengesalkan, dan–anenya–cukup menyenangkan.
.
.
.
Pagi hari yang cerah menyambut ketiga manusia berbeda tinggi ini. Seharusnya pagi yang cerah dimbangi dengan senyum, tawa, dan kata-kata yang cerah.
Namun melihat ketiga manusia ini beradu argument membuat pagi yang cerah tidak seimbang. Karena argument yang diadukan(?) tidak penting sama sekali.
"Pokoknya aku mau berangkat sendiri bersama Jongin!", kesal Minseok menarik tangan kanan Jongin.
"Kalian masih kecil, nanti kalau ada apa-apa, bagaimana?", tanya Jongdae menarik tangan kiri Jongin.
"Tidak akan ada apa-apa! Aku akan mengawasi Jongin penuh, aku janji … kau langsung saja ke sekolah", ucap Minseok.
"Kau bisa mengawasi Jongin di tempat penitipan, aku tetap akan mengantar kalian sampai tujuan", keukuh Jongdae.
"Kau ini keras kepala ya!", sungut Minseok.
"Kau juga!", bentak Jongdae. Entah kenapa sejak bertemu dengan Minseok yang berubah menjadi Xiumin Jongdae lebih sering membentak dan marah.
Dan astaga! Jongdae yang sedang marah sangat menyeramkan. Membuat Minseok bergetar di tempat. Kedua bola mata Minseok berair dan terasa panas. Bibirnya juga bergetar menahan tangis.
Menyadari kesalahannya, Jongdae segera berjongkok di hadapan Minseok–sedikit kalut. "M-Maaf, aku tidak bermaksud", ucap Jongdae menenagkan Minseok.
"Hhik!", Minseok sesenggukan, padahal air matanya belum jatuh setetes pun.
"U-Uljima", pinta Jongdae mengelap air mata yang menggenang di pelupuk mata Minseok.
'Astaga! Kenapa aku ini? Kenapa jadi cengeng?'
"Aku tidak bermaksud, sungguh", ucap Jongdae menenangkan.
'Ppabo! Bukannya tenang aku malah semakin ingin menangis! Menjauhlah dasar kau bebek!'
"Sudah ya", ucap Jongdae pelan lalu memeluk Minseok.
Perlahan Jongdae mengangkat Minseok dan menggendongnya. Minseok hanya diam, ia semakin menangis di pundak Jongdae. "Sifat kekanakanmu terbawa ya", kekeh Jongdae.
'Dasar! Aku ingin menangis sekeras-kerasnya! Ya Tuhan! Apa mataku bermasalah? Kenapa saat ini Jongdae terlihat tampan? Aku ingin menangis terus karena mataku ini'
"Sudahlah, kau 'kan sudah besar", ucap Jongdae menenangkan Minseok sambil menggandeng tangan Jongin.
Jongin hanya memandangi Minseok yang tengah menangis di pundak hyungnya. Jongin semakin erat menggenggam tangan Jongdae karena merasa cemburu.
Cemburu perhatian hyungnya diambil oleh Minseok.
Jongdae yang merasa genggaman Jongin semakin erat pun menoleh. "Kau kenapa, Jongin? Mau digendong juga?", tanya Jongdae.
Namun Jongin malah menunduk. Jongdae menghela napas pelan kemudian menurunkan Minseok yang mulai tenang. Jongdae pun beralih menggendong Jongin.
"Ayo, aku akan mengantar kalian, besok aku tak akan mengantar", ucap Jongdae.
"Janji! Besok", ucap Minseok dengan pipi dan mata yang memerah.
"Janji, tenang saja", ucap Jongdae menggandeng tangan Minseok. Jongdae tersenyum lebar. Ternyata melihat Minseok cemberut sangat menggemaskan.
'Oh God! Jantungku, kenapa bisa–'
Minseok sibuk merutuki jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat seperti orang sehabis berlari marathon.
"Nah, sampai di sini ya, aku akan ke sekolah", ucap Jongdae menurunkan Jongin di sebelah Minseok.
"Jaga Jongin baik-baik ya", ucap Jongdae pada Minseok sambil mengusak puncak kepalanya.
Plak!
"Aku bukan anak kecil", tepis Minseok kasar. Namun Jongdae hanya terkekeh menanggapinya.
"Jangan tiru noona ini ya", nasehat Jongdae pada Jongin dan diangguki oleh Jongin.
"Ya! Aku yang akan menjaganya! Jangan beri dia nasehat yang tidak-tidak", protes Minseok.
Jongdae mengabaikan Minseok dan pergi meninggalkan mereka berdua yang terdiam di gerbang penitipan anak. "Jongin? Kau bersama siap–anak yang kemarin? Kenapa kau di sini? Oh, Jongdae menitipkan kalian di sini? Apa kau tinggal di rumah Jongdae semalam?", cerocos Yixing.
Minseok mendengus malas saat mendengar kata 'anak kemarin'. Minseok merasa dirinya seperti tidak memiliki nama. "Namaku Xiumin", dengus Minseok seakan tak rela seseorang mengetahui identitasnya barang nama saja.
"Oh, akhirnya kau memberitahu namamu, selamat datang Xiumin", ucap Yixing dengan senyum cerah.
"Yixing! Bantu ak–oh, yang kemarin itu", ucap Kyuhyun melirik Minseok.
Minseok merasa bersalah pada Kyuhyun yang sudah berusia (hehe). Minseok segera membungkuk dalam. "Namaku Xiumin", ucap Minseok merasa harus sopan pada Kyuhyun.
"Waah, baru sehari dibawa Jongdae kau menjadi anak baik yang sopan, apa Jongdae memberimu suatu ritual atau obat?", tanya Kyuhyun bercanda.
Xiumin–terpaksa–tersenyum manis mendengar penuturan aneh milik Kyuhyun. Semuanya terpesona oleh senyuman manis Xiumin. Rasanya ingin mencubiti pipi Xiumin.
"Uughh, menggemaskannya", gumam Taozi yang ternyata mengintip.
"Waaa! Ternyata kau menggemaskan kalau tersenyum", Yixing mulai mencubiti pipi Minseok dengan keras.
"Aaaa! Hakit! Hakit!", teriak Minseok mencengkram lengan Yixing yang mencubiti pipinya dengan keras.
Kedua bola mata Minseok berair. Ia serasa ingin menangis. Entah kenapa ia menjadi cengeng akhir-akhir ini.
Jongin yang melihat Minseok seperti kesakitan, segera memukul-mukul lengan Yixing–walau menurut Yixing itu tidak sakit. Tapi ia sedikit heran dengan tingkah Jongin.
Ternyata Jongin tergerak hatinya untuk melindungi Minseok dari serangan Yixing. Karena Jongin telah menganggap Minseok sebagai kakaknya. Bagaimana pun juga Minseok sangat baik padanya sejak kemarin.
Yixing segera melepaskan tangannya dan mengelus lembut kepala Jongin. "Hehe, maaf", ucap Yixing pada Jongin.
"Seharusnya kau meminta maaf padaku", keluh Minseok sambil mengelus kedua pipinya yang terasa melar.
"hehe, maaf juga", Yixing tertawa canggung.
"Baiklah, ayo masuk", ajak Kyuhyun.
Mereka berdua pun masuk ke dalam. Minseok membantu Jongin untuk membuka sepatunya. Jongin adalah tanggung jawabnya sekarang.
"Waaa waaa! Wiuw wiuw wiuw! Polisi datang!", teriak Taehyung.
Taehyung berlari di sekitar Jongin. Membuat Jongin hampir terjatuh. Untung ada Minseok di sebelahnya. "Bermain yang aman!", kesal Minseok pada Taehyung.
"Eh? Kau belbicala denganku?", bingung Taehyung berhenti berlari.
'Pffft! Cadel! Haha'
"Ya, kau! Kau bisa membuat Jongin jatuh", kesal Minseok.
"Ah, maaf", dan Taehyung kembali bermain.
"Jongin, kau tidak ingin bermain dengan yang lain?", tanya Minseok lembut.
Jongin hanya diam. Kedua bola matanya terpaku pada beberapa anak yang bermain. Ia diam, namun tatapannya mengatakan bahwa ia ingin ikut bermain dengan yang lainnya.
Mungkin Jongin agak susah dalam hal berkomunikasi.
"Ayo, kita bermain dengan yang lainnya", ajak Minseok.
.
.
.
"Ayo kita bermain di luar! Cuaca cukup cerah!", teriak Jin dari luar.
Minseok yang menyusun balok menjadi istana pun menoleh. Begitu pula dengan anak yang lain. Semuanya bersorak riang dan bergegas keluar. Berbeda dengan Minseok yang perlu mengajak Jongin terlebih dahulu.
"Ayo Jongin", ajak Minseok kepada Jongin yang masih terdiam di tempatnya.
Jongin menurut dan berjalan ke luar. Minseok memakaikannya sepatu. Kemudian dirinya sendiri memakai sandal. Mereka semua bermain di halaman yang cukup luas.
"Jongin! Mau kemana?!", teriak Minseok saat melihat Jongin berjalan seorang diri menuju kolam ikan.
"Hahahahaha!"
Bruk!
Beberapa anak berlarian tanpa melihat-lihat. Dan Jongin menjadi korbannya. Ia jatuh, tapi tidak menangis. Minseok sedikit terkejut melihat Jongin terjatuh.
Namun saat melihat Jongin langsung berdiri dan menepuk-nepuk kakinya sendiri, Minseok bernapas lega. Jongin kembali melangkah dan berhasil mencapai kolam ikan.
Tak lama, Minseok menyusul. "Jongin suka ikan?", tanya Minseok. Namun Jongin hanya diam memperhatikan beberapa ikan koi yang berenang.
Clup!
Jongin mencelupkan tangannya. Dengan sigap Minseok mengangkat tangan Jongin dengan wajah terkejut. Saat Jongin menatapnya, Minseok nyengir dan menaruh tangan Jongin kembali ke dalam air.
"Xiumin! Awasi Jongin ya! Jangan sampai jatuh!", teriak Yixing.
"Ne!", balas Minseok sambil memperhatikan Jongin.
Minseok merasa Jongin sudah mengerti dan tidak akan macam-macam dengan kolam ikan tersebut. Menurut Minseok kolam ikan itu dangkal, tapi tidak tahu dengan Jongin.
Minseok memperhatikan anak-anak lain yang sedang bermain. Selama ini Minseok selalu di rumah, tidak ada keributan, berantakan, atau anak-anak. Karena Minseok merasa ia tinggal seorang diri di rumahnya–kedua orang tuanya berada di lab bawah tanah.
Tanpa Minseok sadari, Jongin perlahan memasukkan tangannya semakin dalam. Kemudian tangan kirinya menyusul. Sampai badannya tidak seimbang dan–
Byur!
"Astaga Jongin!", teriak Minseok panik dan segera menarik Jongin untuk naik.
Namun berat Jongin dan Minseok berbeda. Minseok malah ikut tertarik. Awalnya ia sedikit kesusahan karena Jongin yang meronta.
'Bahkan dalam keadaan seperti ini pun dia tidak bersuara! Daebakk'
Minseok segera berdiri saat menyadari kolam ikan tersebut dangkal. Minseok menarik Jongin dan mengangkat Jongin keluar kolam. Sekarang mereka berdua basah kuyup.
"Kalian tak apa?", tanya Jin dengan wajah khawatir.
"Mau ikut main ail jugaaa!", teriak Taehyung.
"Taehyung, tidak boleh", nasehat Namjoon yang lebih tua setahun darinya.
"Kenapa?", Taehyung merajuk.
"Nanti hyungmu marah loh", ancam Taozi. Taozi tahu bahwa Taehyung sangat takut dengan hyungnya saat marah.
Taehyung kesal merasa diancam dengan hal yang tidak penting. "Hyung tidak akan malah!", teriak Taehyung.
"Benarkah? Akan kutelfon hyungmu", Yixing segera mencari ponselnya dan berpura-pura menghubunyi Junmyeon–hyung Taehyung.
"Junmyeon? Ya, Taehyung katanya–"
"Tidak hyung! Yixing Noona belbohong! Jangan pelcaya", teriak Taehyung kalap.
Dan semuanya terkekeh geli melihat tingkah Taehyung. "Kalian jadi basah, cepat masuk dan mandi, nanti kalian sakit", ucap Kyuhyun yang datang dari kantornya karena mendengar keributan.
.
.
.
"Terima kasih atas payungnya, besok akan kukembalikan–oh, bisakah aku meminta tas plastik? Aku takut tasku nanti basah", ucap Jongdae.
Minseok hanya bisa menganga diambang pintu menatap Jongdae yang basah kuyup–kecuali tasnya. Ia terlihat konyol sekaligus menawan.
'Ada apa dengan penglihatanku?!'
"Sepertinya kalian benar-benar bersaudara", kekeh Kyuhyun menyerahkan sebuah tas plastic.
"Maksud hyung?", tanya Jongdae tak mengerti dan segera membungkus tasnya dengan tas plastik.
"Tadi pagi mereka berdua masuk ke dalam kolam ik–"
"Oppaaaa!", teriak Minseok mengalihkan, ia tidak mau disembur oleh Jongdae karena tidak becus mengurus Jongin.
"Mereka basah kuyup sepertimu", lanjut Jin yang kebetulan lewat.
"Yang benar?!", ucap Jongdae dengan nada suara yang cukup tinggi karena terkejut.
Minseok melotot horror dan segera memeluk Jongin. "Ta-ta-tapi Jongin tidak apa-apa, sungguh! Ya 'kan Jongin?", tanya Minseok takut.
Jongin tak menyahut. Ia memperhatikan hyungnya sendiri yang basah kuyup itu.
"Bagaimana kau bisa mengatakan dia baik-baik saja?! Mana? Jongin, kemari", Jongdae berjongkok dan Jongin berjalan kearah Jongdae.
Minseok menatap Jongin takut-takut kalau Jongdae marah dan menyemburnya–itu sangat menakutkan.
"Kau tak apa? Ada yang sakit? Apa kau demam? Flu? Pilek? Sesuatu terasa aneh?", tanya Jongdae bertubi-tubi.
Dan Jongin hanya menggeleng. "Oh, syukurlah", ucap Jongdae.
Hatchi!
"Min–Maksudku, Xiumin … kau bersin?", tanya Jongdae dengan kening berkerut.
"Hah? Ya, memangnya kenapa?", tanya Minseok sambil menggesek hidungnya dengan jari telunjuknya karena hidungnya terasa sedikit gatal.
"Padahal tadi sudah mandi air hangat", gumam Kyuhyun.
"Tenang saja, aku tidak mudah sakit … besok juga sudah tidak bersin lagi", ucap Minseok dengan cengiran khasnya.
Jongdae melirik ke luar. Di luar masih hujan deras. Tapi kalau mereka tidak pulang, maka akan terasa semakin dingin.
"Baiklah, kita pulang", ucap Jongdae bangkit.
"Diamlah di sini sampai hujan reda", ucap Yixing yang merasa khawatir.
"Terima kasih, tapi kami harus segera pulang", ucap Jongdae sambil membungkuk dalam.
"Ayo", ajak Jongdae membuka payung yang dipinjamkan oleh Kyuhyun.
"Pegang", ucap Jongdae menyerahkan payung yang sudah terbuka kepada Minseok.
Jongdae membenarkan letak tasnya kemudian menggendong Jongin dengan tangan kanan dan Minseok dengan tangan kiri.
"Eh eh!", Minseok agak takut saat Jongdae mulai berjalan. Jongdae berjalan tidak terlalu seimbang.
"A-Apa aku berat?", tanya Minseok ragu.
"Tidak", ucap Jongdae.
Mereka pun menembus derasnya hujan agar sampai ke rumah dengan cepat dan menghangatkan diri.
.
.
.
Hatchi! Hatchi! Hatchi!
"Ternyata kau lemah sekali ya", komentar Minseok.
"Maafkan aku", gumam Jongdae mengeratkan selimutnya. Suaranya terdengar serak.
Minseok membuka bungkus kompresan yang dibeli oleh bibi Oh di supermarket tadi–setelah mengetahui badan Jongdae sedikit panas.
Cklek!
"Hyung …", Jongin masuk ke dalam.
"Jongin, jangan di sini … nanti kau tertular", ucap Minseok menempelkan kompresan pada dahi Jongdae dan turun dari kasur untuk menghampiri Jongin.
"Ayo kita keluar", ajak Minseok menarik paksa Jongin.
"Hyung …", panggil Jongin lagi.
"Keluarlah Jongin, hatchi! Uhuk! Nanti kau tertu–uhuk–lar", ucap Jongdae susah payah.
"Kau dengar 'kan? Ayo", ajak Minseok keluar.
"Istirahatlah, kalau ada apa-apa panggil aku", ucap Minseok sebelum menutup pintu.
Pintu tertutup. Minseok menghela napas singkat di depan pintu dan hendak pergi meninggalkan kamar Jongdae–untuk sementara Minseok akan tidur dengan Jongin di kamar sebelah agar tidak tertular.
Namun Minseok menghentikan langkahnya saat melhat Jongin yang menatap pintu kamar Jongdae. "Jongin, ayo kita ke kamar", ajak Minseok.
Namun Jongin tak bergeming. Ia diam di depan pintu sambil menatap pintu kamar Jongdae. "Jongin …", lirih Minseok.
Tap!
Minseok menoleh. Ia mendapati bibi Oh baru saja sampai di lantai dua. "Bibi Oh", Minseok membungkuk singkat.
"Jongdae sakit?", tanya bibi Oh. Dan diangguki oleh Minseok.
Bibi Oh melirik Jongin yang tak mau bergeming dari tempatnya. "Aku tahu kau mengkhawatirkan hyungmu", ucap bibi Oh membuat Jongin menoleh–dengan wajah datar andalannya.
"Kalau kau khawatir, lakukan sesuatu … kau tidak akan membantu kalau hanya berdiam diri di sana", ucap bibi Oh berbalik hendak turun ke lantai bawah.
Minseok hanya diam. Ia merasa perkataan bibi Oh terlalu tajam untuk anak seumuran Jongin. "Ikutlah denganku, kita buatkan minuman hangat untuk Jongdae", ucap bibi Oh.
Minseok mengangkat wajahnya cepat. 'Ternyata bibi Oh memiliki sisi baik juga', pikir Minseok. Jongin yang mendengar ucapan bibi Oh pun bergerak dari tempatnya dan mengikuti bibi Oh.
Minseok hanya mengikuti di belakang Jongin. Penasaran apa yang akan Jongin bantu nanti.
Mereka bertiga sampai di dapur. Bibi Oh segera memasak air panas. Minseok bertugas mengambil madu di kulkas. Dan Jongin bertugas untuk memeras jeruk.
Tuk!
Minseok berhasil memotong jeruknya menjadi dua bagian. Jongin mengambil salah satunya dan Minseok satunya. Jongin duduk di lantai, mulai memeras jeruknya menggunakan alat peras manual.
Walau pun Jongin sudah bersusah payah untuk memeras setengah jeruk tersebut, tetap saja hasilnya sangat sedikit. Hanya satu per lima dari besar gelas tersebut, sangat sedikit.
Saat dirasa jeruknya tidak bisa diperas lagi, Jongin bangkit memegang gelas itu dengan kedua tangannya. Ia akan menyerahkannya kepada bibi Oh. Namun–
Bruk!
–Jongin terjatuh karena tersandung alat pemeras jerus yang belum sempat ia bereskan. Air jeruk yang susah payah Jongin peras tumpah tak bersisa.
Minseok tentu saja kaget. "Jong–"
Jongin bangkit dan mengambil gelas yang tumpah. Tidak tersisa satu pun. Jongin melirik bibi Oh. "Peras lagi", ucap bibi Oh menyerahkan setengah jeruk pada Jongin dengan senyumannya.
Jongin mengambilnya dan memerasnya. Ini minuman untuk hyungnya. Jongin akan melakukannya. Karena hanya hyungnyalah keluarganya–keluarga kandung.
Minseok tersentuh. Ia merasa terharu dengan jerih payah Jongin hanya untuk membuatkan minuman hangat untuk Jongdae.
'Kau beruntung memiliki keluarga seperti Jongin'
.
.
.
Akhirnya Jongdae meminum jeruk hangat yang dibuat oleh Jongin susah payah. Dan esoknya, Jongdae sembuh.
Namun saat Jongdae sembuh, Minseok malah sakit. Jongin dengan senang hati memeraskan jeruk untuk membuat minuman hangat untuk Minseok.
'Haaah, kenapa jadi giliranku yang sakit? Biasanya aku tidak akan mudah jatuh sakit seperti ini'
Cklek!
"Minseok, ini minuman yang Jongin buatkan untukmu", bisik Jongdae masuk ke dalam kamar Minseok.
Minseok melirik Jongdae. Ia merasa ada yang aneh. "Minumlah", ucap Jongdae menyodorkan segelas jeruk hangat.
Minseok duduk dengan susah payah–karena sungguh, kepalanya sangat pening–dan menerima gelas tersebut. Ia meminumnya sampai habis. Minseok kembali berbaring dan menaikkan selimutnya sampai dada.
Minseok memandangi Jongdae cukup lama.
'Aaarrrrggghhh! Apa karena aku sakit mataku jadi ikutan sakit?! Lihat! Kenapa dia terlihat tampan?!'
"Cepatlah sembuh", ucap Jongdae mengelus surai coklat Minseok.
'Padahal aku sering melihatnya tersenyum, tapi kenapa saat ini–ah! pasti karena aku sakit, sudahlah!'
Dan perlahan kedua mata Minseok menutup karena terasa berat. Yah, memang seharusnya orang sakit itu beristirahat, bukan?
.
.
.
To Be Continued
A/N : Haaaaiii semuaaaaaa! Gimana chapter duanya? :D Apa aku late update? Kalau iya aku emang sengaja wahahahaha :v Aku bingung mau bales review yang bertanya saja atau semuanya :v tapi untuk sementara aku bales semuanya aja yah :V
Balasan Review :
elswu : Hai els ;) Makasih udah suka sama ffku :* salam kenal juga :D Entah kenapa setiap aku buat fanfict pasti diselingi dengan humor -,- kadang sebel juga sama humornya kalo garing :v Ini udah cepet gak lanjutannya? Mumpung libur khekhekhe, kalo aku udah mulai MOS, mungkin updatenya agak lambat :v apalagi lebaran :V
Husna Higashikuni Chanbaek 48:Oke, ini udah di update :D Wkwkwkwk, kayaknya kyungsoo gak bakal muncul di fanfict ini deh :V #pityJongin:D Di chapter dua ini aku ulangi lagi kalo bibi Oh itu Sehun :v Luhan? Gak mungkin deh :v soalnya Luhan jadi kakaknya Xiumin kkkk~
luckygirl91: Tuh, ada di chap dua ini :D Kakak Minseok Luhan sayang~ Ini couplenya ChenMin :D LuMin sebagai saudara ajah :V
ariviavina6: Haha, iya :D Terharu juga :'D sebenernya aku bingung mau pake cast siapa, tapi pas inget couple yang jarang terkuak #eh? Jadilah seperti ini :V biasanya juga kalo aku nemu ChenMin oneshoot :'D
hanagawalove: Oke oke aku lanjut. Anda penasaran? Sama, saya juga wks :v
Kim Jong Min: Apanya unyu JongMin? :D Aku? Makasih deh #plakk ini udah fast chgaiii~~
pooarie3: Haha, ChanBaek mah emang gitu :v Tapi jangan benci ChanBaek yah :V Jongin? Jongin Cuma males bicara aja :D
anoncikiciw: Iya, Jongdae suka sama Minseok :3 Jongin nangis karena merasa kesepian, gitu aja sih :V Dia gak bisa jauh gitu dari kakaknya, tapi tetep aja diem -,- Terima kasih dukungannya :D
ChenMin EX-Ochy: IYA! INI FF CHENMIN LOOOH! KENAPA SOOMAN DIBAWA2? Dia mah udah tua, kagak masuk jadi pemain -,- Hehe, makasih pujannya chinguya~ IYA! ENTE KAGAK BOLEH KETINGGALAN! AKU UDAH UPDATE INI! ENTE HARUS BACA PERTAMA OKEH?! #IniKenapaCapsLock-,- Iya, Sehun itu bibi Oh :D Luhan? Luhan udah dibooking jadi kakaknya Minseok wks :V
Iyah, maru masih kecil #kedipkedip :V Nggak kok, gak kecil amat :D Aku Line 2000, kalo kamu? Aku suka loh review yang absurd seperti ChanBaek wks :V Hehe, jadi malu deh dibilang imut (namanya doang maru, jangan ge er deh-_-)
seorangyeoja : Iya, Jongdaenya suka Minseok :v tapi yah, begitulah … kagak boleh diungkapin cepet2 biar greget wks :V Aku mah bayangin Jongin nangis ingusnya kemana2-_- haha ;V makasih supportnya :V
Kim Insoo : Ini udah next chagi~
dn : ChanBaek gak jahat, Cuma agak absurd aja :V iya, Minseok always cute~
yeye : Iya? Aku di sini kok, gak kemana-mana :3 Bisaaa kok bisaaa, ini udah lanjut, aku juga pernah jadi pembaca kok :V jadi tahu gimana rasa greget nunggu fanfict wks :V
Oke, ini udah semua belom?._. Jangan lupa cek bio aku yah ;) Inget, jangan panggil aku thor:3 Aku tunggu review kalian loooh xD
