Minseok mondar-mandir tidak jelas di dalam kamar Jongdae. Ia bingung, bimbang, dan panic! Demi Tuhan!

'Haish! Mataku kenapa?!'

"Aarrrrrggghhh!", Minseok mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gemas.

"Apa yang salah? Kenapa mataku? Apa karena aku baru sembuh setelah sakit?", monolog Minseok.

Jongin yang bingung melihat Minseok bertingkah aneh–menurutnya–hanya bisa diam dan memperhatikan.

"Padahal dia hanya tersenyum biasa, kenapa bisa setampan itu?", gumam Minseok sambil berpikir.

Apa kalian bertanya mengapa mereka hanya berdua di kamar?

Jawabannya adalah : Karena Jongdae sedang mandi di kamar mandi lantai dasar.

"Walaupun baru bangun, dia tetap tampan", gumam Minseok sambil senyum-senyum sendiri.

Ya, Minseok jatuh ke dalam pesona Kim Jongdae. Dan Minseok merasa matanya bermasalah karena menganggap Jongdae tampan. Alhasil Minseok mondar-mandir–sesekali tersenyum–dan bergumam sendiri.

Cklek!

"Minseok? Kenapa belum bersiap? Memangnya kalian tidak ingin ke penitipan anak?", tanya Jongdae dengan kepala yang menyembul dari balik pintu masuk.

Minseok sedikit terlonjak kaget karena kedatangan Jongdae yang terbilang tiba-tiba. "Ketuk pintu dulu, ppabo", cibir Minseok.

"Ini kamarku", ucap Jongdae santai dan berjalan kearah meja belajarnya. Ia sudah rapi dan wangi. Ia hanya perlu menyiapkan buku pelajarannya dan memandikan Jongin.

"Kau kenapa? Kenapa belum mandi? Mau kumandikan?", tanya Jongdae jahil melihat Minseok yang hanya diam mematung memperhatikan gerak-gerik Jongdae.

Seketika wajah Minseok merah padam sampai telinga. Minseok kesal dan malu. "Dasar pervert! Sialan!", dengus Minseok kemudian bergegas menyiapkan diri.

Jongdae hanya terkekeh melihat wajah menggemaskan Minseok saat ia marah.


.

.

How To Back To Normal?

.

By : Nyanmu

Main Cast : Kim Jongdae and Kim Minseok a.k.a Park Minseok

[ChenMin]

Support Cast : Exo's member

Genre : Romance, Little bit Humor, Family, Fantasy and Friends

Rated : T

Length : Chaptered

Warn! GENDERSWITCH (GS) | Typo(s) | Alur ngebut | Kata-kata absurd dan KASAR!

.

.


Chapter 3 : Mungkin aku menyukaimu?

"Nah, sampai di sini–sampai jumpa siang nanti", ucap Jongdae kepada Minseok dan Jongin.

Minseok menggandeng tangan Jongin agak erat–takut Jongin akan pergi tanpa ia ketahui. "Baiklah, sampai jumpa", ucap Minseok.

Sesuai janji Jongdae kemarin, Jongdae hanya mengantar Minseok dan Jongin di ujung jalan. Sisanya, Minseok dan Jongin akan berjalan sendiri ke pentipan anak.

Minseok berjalan dengan ceria. Senyum di wajahnya seakan permanen. Di kepalanya, selalu terbayang wajah rupawan Jongdae.

Tap!

Langkah Minseok terhenti dan senyum Minseok mendadak lenyap. Ia melihat sesosok yeoja yang telah membuatnya menjadi seperti ini : Park Baekhyun–sang umma.

"Umma …", lirih Minseok.

Baekhyun menoleh dan mendapati anak bungsunya yang ia cari-cari. "Aigoo, anak manis umma ternyata sering bermain ke sini? Umma mencarimu kemana-mana", ucap Baekhyun menghampiri Minseok.

"Kenapa umma kemari?", tanya Minseok sinis.

Pletak!

"Sopanlah pada ummamu yang melahirkanmu, Xiumin", ucap sebuah suara.

Minseok meringis sambil mengusap-usap kepalanya yang terkena sebuah jitakan. Minseok melirik siapa yang menjitaknya, ternyata Luhan.

"Oppa …", ringis Minseok tak terima.

"Eh? Siapa ini?", tanya Luhan melihat Jongin.

"Dia Jongin, adiknya Jongdae, aku akan menjaganya", ucap Minseok menarik Jongin agar merapat padanya.

"Kau bekerja sebagai baby sitter?", tanya Luhan menahan tawa.

"Ani! Aku hanya menjaganya saja, karena aku akan bersama Jongin di penitipan anak sampai siang", ucap Minseok.

"Kenapa kalian di sini?", tanya Minseok.

"Oh! Sampai lupa! Umma hanya ingin memberitahu, kalau obat penawarnya sudah selesai", ucap Baekhyun memberikan Minseok sebotol kecil cairan berwarna hijau.

Minseok memperhatikan obat penawar tersebut. "Ini benar 'kan? Tidak salah lagi?", tanya Minseok memastikan.

"Tenang saja, itu sudah pasti", ucap Baekhyun memberikan kepastian dengan senyuman manisnya.

Minseok menatap kedua bola mata Baekhyun. Tangan kanan Minseok semakin menggenggam erat botol yang Baekhyun berikan. Ia ragu–ia ragu ingin menjadi normal kembali.

"Umma sangat senang melihatmu menjadi anak berumur empat tahun, karena kau sangat manisss~", Baekhyun mencubit kedua pipi Minseok membuat Minseok menjerit kesakitan.

"Tapi umma tidak mau melawan kenyataan bahwa kau bukan anak kecil lagi sayang, jadi cepat minum penawarnya dan kembali pulang, nde?", pinta Baekhyun setelah melepaskan cubitannya.

Minseok mengusap-usap kedua pipinya yang terasa nyeri. "Umma …", panggil Minseok dengan wajah merajuk.

"Ne?", jawab Baekhyun.

"B-Bisakah … aku meminumnya nanti saja?", pinta Minseok ragu.

Baekhyun terdiam sejenak. "Itu kehendakmu, yang jelas setelah kembali normal, pulanglah", ucap Baekhyun mengusak puncak kepala Minseok.

"Ini, bajumu", ucap Luhan memberikan sebuah setelan baju ukuran Minseok asli.

Minseok meraihnya dan mencengkramnya erat. Ada rasa senang dan ada rasa tak rela.

'Jika aku kembali normal, berarti aku harus berpisah dengan Jongdae?'

"Baiklah, umma pulang dulu, appamu sudah menunggu di rumah", bisik Baekhyun kemudian mengecup pipi kanan anak bungsunya itu.

Baekhyun segera pergi. Namun tidak dengan Luhan. Luhan memperhatikan perubahan ekspresi wajah Minseok. Sepertinya Minseok sedih?

"Kenapa sedih? Kau seharusnya senang", ucap Luhan bingung.

Minseok menghela napas singkat kemudian mendongak untuk melihat oppanya itu. "Apa oppa pernah menyukai seseorang?", tanya Minseok dengan suara kecil.

Luhan nampak berpikir. "Ya, beberapa kali, hanya sekedar suka melihat, bukan suka dengan hati", ucap Luhan menaikkan kedua bahunya acuh.

"Memangnya kenapa?", lanjut Luhan.

"Kurasa–aku menyukai seseorang–dengan hati", lirih Minseok kemudian menunduk.

.

.

.

"Jongin, hyungmu menjemputmu!", teriak Taozi.

Jongin yang memegang buku segera melepas bukunya dan berjalan kearah Jongdae.

"Apa kau menjadi anak baik?", tanya Jongdae mengelus surai hitam Jongin.

Jongin memeluk kaki Jongdae dan mengangguk. Jongdae tersenyum kecil melihat tingkah menggemaskan Jongin. Namun seketika dahi Jongdae berkerut menyadari seseorang tidak berada di belakang Jongin.

"Kemana Xiumin?", tanya Jongdae kapada Taozi.

"Xiumin? Aku tidak melihatnya bersama Jongin pagi ini", ucap Taozi.

Jongdae tiba-tiba saja cemas. Jelas-jelas tadi pagi ia mengantar Minseok dan Jongin kemari dengan selamat. Apa terjadi sesuatu sebelum mereka masuk ke wilayah penitipan anak? Haaah, seharusnya Jongdae tidak membiarkan mereka berdua jalan seorang diri.

"Ya Tuhan! Kenapa kau sulit sekali diatur, Taehyung!", kesal Jin yang mengejar Taehyung.

"Aku anak baik kok", Taehyung berhenti berlari dan melayangkan puppy eyesnya.

"Taehyu–oh, Jongdae? Apa kau menjemput adikmu juga di sini?", ucap sebuah suara.

Jongdae menoleh ke kiri dan mendapati teman sekelasnya, Junmyeon. "Ya, begitulah … apa kau juga? Sejak kapan? Kenapa kita tidak pernah bertemu? Ha ha", ucap Jongdae diakhiri dengan tawa garing.

Bagaimana pun juga, Jongdae tetap memikirkan kemana perginya Xiumin.

"Ya, aku selalu menitipkan adikku di sini–Taehyung mari pulang!", panggil Junmyeon.

Taehyung yang tadinya memelas kearah Jin beralih menjadi ceria kearah Junmyeon. "Hyung!", teriak Taehyung senang dan berlari kearah Junmyeon.

"Hyung! Belikan aku es klim!", teriak Taehyung sambil memeluk Junmyeon.

"Memangnya kau menjadi anak baik?", tanya Junmyeon meremehkan. Bukannya Junmyeon tidak tahu–ia sangat tahu bahwa adiknya susah diatur. Tapi Junmyeon harus memastikan.

"Tentu saja, tanya saja pada Jin hyung", ucap Taehyung menunjuk kearah Jin yang memegangi pingganya yang terasa nyeri sehabis mengejar Taehyung seharian.

Junmyeon menoleh kearah Jin. "Dia membuat rusuh", gumam Jin.

Junmyeon melirik nyalang kearah Taehyung. Seketika Taehyung merasa dirinya bergidik ngeri. "Tidak hyung! Tidak! Jin hyung! Belbicala yang benal dong!", kesal Taehyung mendapat death glare dari hyungnya itu.

"Ah, terserah kau saja", malas Jin berjalan ke arah sebuah kursi.

"Hyung! Aku benal-benal menjadi anak baik!", seru Taehyung tidak ingin mendapatkan amarah Junmyeon.

Junmyeon terdiam sejenak menatap kedua bola mata Taehyung yang memelas. "Haaah, kau ini … ayo pulang, lain kali jangan mengacau", gumam Junmyeon sambil menggandeng tangan Taehyung.

Namun dengan secepat kilat Taehyung menepis tangan hyungnya itu dan menatapnya kesal. "Aku belsungguh-sungguh hyung! Aku anak baik!", teriak Taehyung merasa ia tidak dipercaya oleh hyungnya sendiri.

"Aku anak baik! Anak baik! Anak baik hyung!", teriak Taehyung sambil menangis.

"Hiks … hyung tidak pelcaya padaku", Taehyung semakin menangis dan menunduk.

Junmyeon hanya diam menatap namdongsaengnya itu. "Tae-taehyung hanya … Taehyung hanya belmain belsama Jin hyung", isak Taehyung.

"Taehyung tidak nakal", lanjut Taehyung sambil sesenggukan.

"Sudahlah, dia anak kecil–percayalah padanya, dia hanya ingin dipercaya", bisik Jongdae yang merasa kasihan melihat Taehyung.

"Haah, baiklah", Junmyeon menggendong Taehyung yang menangis.

"Kita beli es krim, kau mau?", rayu Junmyeon.

Taehyung berhenti menangis dan menatap hyung tersayangnya itu. "Hyung pelcaya sama Taehyung?", tanya Taehyung polos.

Junmyeon mengangguk kecil. "Ayo beli es klim!", teriak Taehyung riang setelah mendapatkan anggukan Junmyeon.

Jongdae tersenyum melihat kedekatan Taehyung dan Junmyeon. "Oh hey hey! Kyuhyun oppa, apa kau melihat Xiumin?", tanya Taozi yang melihat Kyuhyun melintas.

"Hah? Ooo~ Aku tak melihatnya, aku hanya melihat Jongin datang bersama Taehyung tadi", ucap Kyuhyun.

"Umin?", tanya Taehyung dalam gendongan Junmyeon.

"Siapa umin, tae?", tanya Junmyeon penasaran.

"Umin! Itu! Yeoja yang seling belsama Jongin", jelas Taehyung.

"A-Apa kau melihatnya?", tanya Jongdae berharap cemas.

"Ummm, tadi pagi saat hyung mengantalku, aku melihat Umin belsama namja besal", jelas Taehyung.

'Namja? Besar? Siapa?'

"Lalu umin menyuluh Taehyung mengajak Jongin masuk belsama", ucap Taehyung.

"Kau tahu kemana dia pergi?", tanya Jongdae.

Taehyung menggeleng. "Tidak tahu", ucap Taehyung menggendikkan bahunya.

Jongdae mendesah kecewa. "Memangnya siapa itu umin, Jong?", tanya Junmyeon.

Jongdae menaikkan kedua alisnya lalu tersenyum. "Bukan umin, tapi Xiumin, dia … dia … dia sepupu Minseok", ucap Jongdae ragu.

"Hm, mungkin dia ada di rumah Minseok kalau begitu", ucap Junmyeon.

'Tidak mungkin, Minseok tidak akan mau pulang ke rumahnya'

"Hm, mungkin saja, kalau begitu aku duluan", ucap Jongdae pamit dan berjalan pulang bersama Jongin.

.

.

.

Blam!

Anak perempuan berumur empat tahun turun dari mobil dengan wajah tertunduk.

"Pikirkan baik-baik", ucap namja yang mengemudi.

"Baik, oppa … katakan pada umma dan appa, mungkin aku tidak akan kembali hari ini, mungkin besok", ucap yeoja cilik bernama Minseok ini.

"Tentu, asal kau menyelesaikan masalahmu dan tidak melibatkanku, itu bukan masalah", ucap Luhan menutup kaca mobilnya dan melajukan mobilnya di jalanan.

Minseok mendesah kecil kemudian masuk ke dalam rumah sementaranya–rumah Jongdae.

Cklek!

"Dari mana saja kau?", tanya seorang namja yang terduduk manis di sofa ruang tamu. Tingkahnya seperti seorang aboji yang menunggu anak perempuannya yang pergi larut malam–wajahnya sangat garang.

Minseok melirik jam dinding. 'Ini masih jam empat sore, kenapa dia menungguku? Eh–dia menungguku?'

"Mana bibi Oh?", Minseok balik bertanya karena melihat keadaan rumah yang lebih sepi dari biasanya.

"Pergi keluar kota untuk beberapa minggu ke depan", jawab Jongdae santai.

"Dari mana saja kau?", ulang Jongdae yang merasa pertanyaannya tadi belum terjawab.

"Aku pergi dengan oppaku, membicarakan sesuatu", ucap Minseok dengan nada lesu.

Jongdae merasa khawatir dengan wajah lesu Minseok. Jongdae beranjak menghampiri Minseok dan berjongkok di hadapan Minseok.

"Kalau ada masalah kau bisa bercerita padaku", tawar Jongdae dengan senyuman menawannya.

Dan pipi Minseok merona parah. "A-Ak-Aku tidak memiliki masalah! Kau yang memiliki masalah", dengus Minseok mengalihkan pandangannya.

"Aku? Kenapa aku?", tanya Jongdae kebingungan.

'Ya! Wajahmu bermasalah! Kenapa tampan sekali?!'

"Pokoknya kau bermasalah!", kesal Minseok menghentak-hentakkan kakinya.

"Haha, kau lucu sekali … sangat persis seperti anak kecil", kekeh Jongdae.

Minseok menggembungkan pipinya karena kesal. "Aku bukan anak kecil! Aku seusia denganmu!", kesal Minseok dengan wajah memerah.

"Aigoo aigoo, Xiumin sudah merajuk~ Kau bilang kau bukan anak kecil, tapi kenapa tingkahmu seperti anak kecil?", ejek Jongdae.

"Aku tidak–", Minseok menahan amarahnya dengan kedua tangan terkepal kuat.

"Haha, kau sangat lucu–ah! Sudahlah, lebih baik kita menonton televise, Jongin sudah menunggu di depan televise", ucap Jongdae berdiri dari hadapan Minseok.

Jongdae berjalan menuju ruang tengah. Di sana Jongin duduk dengan wajah datarnya. Minseok menghela napas sejenak. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil–obat penawar–yang diberikan oleh Luhan tadi pagi dari kantong bajunya.

"Mungkin lebih baik aku kembali secepatnya", gumam Minseok.

Minseok menatap lekat botol kecil yang ia genggam.

'Apa setelah ini aku bisa lebih dekat dengan Jongdae atau malah semakin menjauh?'

'Lupakan Jongdae! Yang jelas aku kembali normal!'

Minseok membuka tutup botolnya dan meneguknya satu teguk. Setelah itu Minseok menutup kembali botolnya dan memasukkannya ke dalam kantong.

"Minseok, apa yang kau lakukan? Cepat kemari", panggil Jongdae yang sudah duduk di sebelah Jongin.

Minseok sedikit gelagapan dan segera menuju ruang televise. "Memangnya kita akan menonton apa, sih?", bingung Minseok duduk di sofa yang sama dengan Jongdae dan Jongin–namun dibagian paling ujung, sebelah Jongdae.

Jongdae yang duduk diapit oleh dua anak kecil hanya tersenyum dan mulai menyetel naruto the movie 2.

Minseok memutar bola matanya malas kala melihat film apa yang akan mereka tonton. "Kekanakan", desis Minseok malas.

"Aku 'kan sedang mengajak anak kecil menonton tv, jadi tidak masalah kalau kita menonton ini", ucap Jongdae senang.

"Terserah saja", dengus Minseok malas, namun ia tetap menyaksikan apa yang ada.

Sementara Jongdae dan Minseok menonton, Jongin sibuk memainkan mobil-mobilannya.

Tuk!

Jongin memukul pelan lengan Jongdae dengan mobil-mobilannya. Jongdae menoleh cepat. "Ada apa?", tanya Jongdae.

Jongin mengarahkan telunjuk kanannya menuju lantai dua–arah kamar mereka. Jongdae menoleh kearah kamar mereka. "Apa? Kau mau diambilkan sesuatu?", tanya Jongdae lembut.

Jongin mengangguk sekali. "Mainan?", tanya Jongdae. Jongin mengangguk lagi. "Mobil?", tanya Jongdae. Jongin menggeleng sekali. "Boneka?", tanya Jongdae. Dan Jongin mengangguk.

Jongdae menghela napas singkat kemudian bangkit. "Minseok, jaga Jongin sebentar ya … aku mau mengambil boneka Jongin", ucap Jongdae kemudian segera naik ke lantai atas.

Mata Minseok mengikuti arah perginya Jongdae, kemudian melirik Jongin. "Kau suka boneka? Omo …", ucap Minseok pura-pura terkejut.

Jongin hanya diam memperhatikan Minseok berbicara. "Hey Jongin", Minseok menggeser sedikit duduknya agar lebih dekat dengan Jongin.

"Aku …", ucap Minseok menatap mata Jongin.

"Jangan nakal ne", ucap Minseok lembut disertai senyuman manisnya.

Jongin yang tidak mengerti hanya diam memperhatikan setiap kata yang terlontar dari bibir Minseok. "Mungkin aku tidak bisa mengawasimu seperti saat ini", gumam Minseok.

"Baik-baik dengan hyungmu, ne", ucap Minseok mengusak puncak kepala Jongin. Jongin hanya mengangguk menuruti.

Tak lama, Jongdae kembali. Minseok buru-buru menggeser duduknya ke tempat semula. Jongdae membawa sebuah boneka berbentuk kepala bebek yang cukup lebar. Boneka yang bisa menjadi bantal untuk Jongin.

Jongdae segera duduk dan menempatkan boneka tersebut secara tepat agar Jongin dapat menjadikannya sebagai bantal. Namun Jongdae merasa janggal saat duduk. Ia seperti menduduki sesuatu.

Jongdae sedikit memiringkan tubuhnya ke kiri agar ia bisa mengambil sesuatu yang ia duduki. "Minseok-ah", panggil Jongdae masih memiringkan tubuhnya.

"Hm?", Minseok yang tadinya menatap televise kini menoleh ke kanan–kearah Jongdae.

Deg!

Betapa terkejutnya Minseok saat ia menoleh ia langsung dihadapkan dengan kepala Jongdae yang sangat dekat dengan wajahnya. Wangi shampoo Jongdae menguar menusuk alat penciuman Minseok.

Ditatapnya rambut lembut Jongdae. Ingin rasanya ia mengelus rambut halus itu.

Merasa tak ada jawaban yang memuaskan dari Minseok, Jongdae kembali memanggil. "Min–"

"Jangan berbalik!", ucap Minseok terburu, sedikit berteriak.

Jongdae yang kebingungan segera mengambil mainan Jongin yang ia duduki–yang membuatnya tak nyaman. Dan–masih dalam posisi memiringkan tubuh ke kiri–Jongdae menoleh kearah Minseok.

"Kau ini kenap–"

Deg!

Ucapan Jongdae terhenti karena jarak antara wajah mereka yang sangat dekat. Wajah Minseok mendadak terbakar warna kemerahan.

"Sudah kubilang jangan–berbalik", cicit Minseok merasakan deru napas Jongdae.

Seakan tuli, Jongdae tak menghiraukan ucapan Minseok. Jongdae malah menatap setiap sudut wajah Minseok yang menggemaskan.

"Kau masihlah sosok Xiumin", gumam Jongdae sedikit kecewa.

"Huh?", bingung Minseok tak berani berbicara lebih banyak lagi–karena wajah mereka yang sangat dekat.

"Jika aku mengatakannya saat ini, apa aku adalah orang aneh?", tanya Jongdae dengan tatapan yang–entahlah.

"M-Menga-mengatakan apa?", gugup Minseok.

"Mengatakan bahwa aku … menyukaimu", gumam Jongdae tak beranjak seinchi pun.

Wajah Minseok terbakar parah. "D-D-D-Da-Dasar pedopil", cibir Minseok.

"Lupakan dengan umurmu saat ini, menurut hatimu–hati Minseok, bukan Xiumin … apa kau–menyukaiku?", tanya Jongdae serius.

Minseok gugup, bingung, bimbang, pusing, mual, dan terbakar. Tiba-tiba mulut Minseok tak bisa digerakan. Mata Minseok bergerak gelisah dan berhenti menatap sepasang manic indah di hadapannya.

'Kenapa jantungku ini?'

'Kenapa wajahku panas?'

'Kenapa mulutku tak mau terbuka?!'

'Kemana tenagaku?!'

'Jongdae–dia melakukan apa terhadapku?!'

'Kenapa aku merasa … ingin tetap di sisinya?'

'Kenapa aku tidak ingin kembali menjadi Minseok normal?'

'Kenapa aku senang sekali mendengar pernyatannya?'

'Apa mungkin–'

'Mungkin aku menyukainya?'

'Apa tak apa … jika aku–mengatakannya?'

Minseok menelan ludahnya susah payah setelah banyak bertanya di dalam pikirannya. "M-m-m-m-m-mu-mu-mu-mungkin-mungkin aku–juga", cicit Minseok gugup.

Kedua sudut bibir Jongdae tertarik membentuk sebuah senyuman. Sepertinya Jongdae senang mendengar jawaban Minseok.

Perlahan Jongdae menjauhkan tubuhnya dari Minseok. Namun Minseok tetap pada posisinya, ia masih tidak bisa bergerak.

"Yah, kalau begitu aku dapat mengatakannya saat kau kembali normal, dan jawabanmu akan tetap sama, 'kan?", tanya Jongdae dengan senyumannya.

Minseok terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Tapi kepalanya tiba-tiba mengangguk kecil. Tubuhnya bergerak tanpa komando dari otaknya.

"AkuHarusKeKamar", ucap Minseok cepat kemudian ngacir ke kamar Jongdae di lantai dua.

Cklek! Brak!

"Hah-hah-hah-hah", Minseok menutup pintu cepat dan bersandar pada pintu. Napasnya terengah setelah menaiki tangga.

"Kenapa–apa itu tadi? Kenapa Jong–", Minseok tak dapat melanjutkan kata-katanya.

"Yah, kalau begitu aku dapat mengatakannya saat kau kembali normal, dan jawabanmu akan tetap sama, 'kan?"

Tiba-tiba perkataan Jongdae barusan terbayang di kepalanya. 'Apa jawabanku akan sama?'

BUSH!

Tiba-tiba sekeliling Minseok dipenuhi oleh asap berwarna hijau. Sepertinya obat penawar yang diberikan oleh Luhan mulai bekerja.

"Uhuk! Uhuk!", Minseok terbatuk dengan tangan kanannya yang berusaha menghilangkan asap hijau di sekelilingnya.

"Apa ini", bingung Minseok masih mengipasi asap-asap tersebut.

Minseok terus saja terbatuk sampai ia memperhatikan sesuatu yang janggal. Minseok mematung di tempat. Ia memperhatikan tangannya yang berukuran semula.

Minseok buru-buru memperhatikan dirinya. Betapa terkejutnya Minseok saat ia mendapati dirinya tidak mengenakan apa pun.

Baju yang ia kenakan tadi sudah terlepas dari dirinya. Mungkin karena perubahan ukuran tubuh yang terjadi secara cepat.

Minseok dengan segera mencari setelan baju normal yang diberikan oleh Luhan kepadanya tadi pagi. Ia sempat menaruh pakaian itu di dalam tasnya sendiri.

.

.

.

"Uhuk! Uhuk!", Jongdae terkesiap mendengar suara seseorang terbatuk.

Diliriknya Jongin yang sudah tertidur lelap di sampingnya. 'Apa mungkin Minseok?', batin Jongdae. Jongdae berjalan perlahan menuju lantai dua.

Tok! Tok!

"Minseok?", panggil Jongdae sedikit ragu.

Kening Jongdae berkerut karena tak mendapat jawaban dari Minseok.

Cklek!

Jongdae mengintip ke dalam kamar. Kamar terlihat kosong. Dan mata Jongdae melihat pakaian yang Minseok kenakan tadi di atas kasur.

'Ah, sedang mandi?'

Jongdae menutup pintu kembali dan turun ke bawah.

.

.

.

Cklek!

Minseok keluar dari kamar mandi dengan wajah tertunduk. Ia memikirkan banyak hal saat ini.

'Bagaimana caraku menghadapi Jongdae sekarang?'

'Aku harus berbicara apa kepadanya?'

'Bagaimana caraku berpamitan?'

'Ekspresi apa yang harus kuberikan padanya?'

"Aarrgghh", Minseok mengerang frustasi dan duduk di atas kasur.

"Aku harus segera pulang, aku sudah banyak merpotkan", gumam Minseok.

Ia segera berbenah dan merapikan rambutnya yang agak basah. Ia membawa tasnya yang berisi pakaian berukuran anak empat tahun.

Cklek!

Minseok keluar dari kamar dan segera menuruni anak tangga. Tanpa bisa ia hindari, Jongdae melihatnya yang sudah berubah wujud ini.

"Minseok?", panggil Jongdae ragu.

Minseok menoleh. Ia ingin tersenyum, menyapa, berpamitan secara sopan. Namun entah mengapa kedua kaki Minseok seakan ingin lari dari rumah ini.

"Minseok!", Jongdae segera bergerak saat Minseok hendak lari.

Grep!

Digenggamnya pergelangan tangan Minseok agar Minseok tak pergi. "Minseok kau–sudah kembali", gumam Jongdae.

"Y-Y-Yeah, seperti yang kau lihat … jadi, aku akan segera pulang, maaf merepotkanmu", ucap Minseok cepat dan segera melangkah.

"Tunggu dulu", Jongdae menarik pergelangan tangan Minseok yang ia genggam.

Minseok berbalik dengan pandangan jengah. Sungguh, perasaannya saat ini tidak enak. Minseok tak ingin mendengar satu pernyataan maupun pertanyaan dari Jongdae saat ini.

"A-Apa?", tanya Minseok gugup.

"Kau–sudah kembali dan jawabanmu akan sama, 'kan?", tanya Jongdae memastikan.

Namun Minseok hanya diam. Ia malah menundukkan kepalanya agar terhindar dari tatapan lembut Jongdae.

Diam menurut Jongdae adalah ya. "Aku–menyukaimu", ungkap Jongdae.

Minseok semakin menunduk dan mengeratkan tangannya pada tas yang ia bawa. Perasaannya saat ini campur aduk. Minseok masih ragu, apakah ia menyukai Jongdae atau tidak.

Minseok mengigit bibir bawanya kuat-kuat agar tidak langsung menyembur Jongdae. "Lepaskan", cicit Minseok.

Kening Jongdae mengernyit karena perkataan Minseok. "Minseok–"

Srat!

Minseok menarik dengan cepat tangan yang digenggam oleh Jongdae. Sehingga ia terlepas. Kemudian ia segera berlari keluar dari rumah Jongdae.

Sedangkan Jongdae–

–ia hanya bisa menatap nanar kepergian Minseok.

.

.

.

To Be Continued

luckygirl91 : Iyaaaa, Jongin anak kecil chingu~ , okeeeh, makasih semangatnyaaaahhh~~

dobipuppychanbaek : Kenapa pengen nangis? :3 Perasaan biasa aja deh_- haha :V Iya, Jongin mah irit, kayak emak-emak kalo belanja musti irit :3 Kamu harus ekstra sabar nunggu lanjutannya yah :'3 aku lagi MOS :3

noersa : Iya! Ini ChenMin! Makasih pujiannya :'D

ChanHunBaek : Haha xD kagak tau juga kenapa aku pengen Ship-kan LuMin jadi saudara ajahhh. Sehun jadi cewe mah, bayangin wajah emak-emak ajaaa :V

IbnaNurulBaiti1 : Makasih pujiannya^^ Mereka itu adalaaaaaaaaah~~~ ChanBaek adalaaaaaahhh~~~ Pasangan absurd :V Iya (mungkin) Minseok calon kakak iparnya Jongin

anoncikiciw : Nanti bakal ada chap dimana Jongin berbicara dengan kalimat terpanjangnya :V tenang saja~ Minseok jadi kecil, jiwanya mah (sebenernya) kagak, tapi pas deket ama Jongdae tuh, ya begitu tuh_-

elfishminxiu : Wah wah, aku gak nyangka itu moment banyak yang nangis :3 Akan kuusahain chingu :3

pooarie3 : : Iya, ChanBaek gituh :3 Itu emang Baekhyun yg nulis kok :3 Haha :V *tawa nista* Jonginnya cool yah? :'V

elswu : Hai els! Jumpa lagi^^ Jangan sujud ah, biasa aja atuh :V Makasih makasih :3 aku yg imut kan? Kkkk~

ariviavina6 : Jadi punya aku ini limited edition? :'V Ini udh next :3 maaf lama :'3 Uminnya cepet sembuh kok :3

Mifta712161 : Sehunnya janda :V

Jung Jae In : Makasih pujiannya hehe, jadi malu ah :"3 Iya, berterimakasihlah pada chanbaek :V Aku juga pengen punya abang kayak Jongdae bebek :3

Segini aja ya yang review?._. Aku gak ngelewatin siapa pun 'kan?.-. Oke, kalo terlewat, maaf … karena aku gak punya banyak waktu, MOSnya tuh berat bangeuddhh :'3 #Ah!Lebay Oke, See you in satnight :3

Untuk yang new reader, jangan lupa cek bio aku :3 dan tinggalkan review :3