Tok! Tok!
"Chagi", panggil Baekhyun dari luar kamar anak bungsunya.
Tok! Tok!
"Chagi", panggil Baekhyun lagi.
Tok! Tok!
"Chagi, keluarlah, Jja! kita makan malam", ajak Baekhyun seceria mungkin.
Chanyeol yang sedari tadi berada di belakang Baekhyun menyentuh pundak Baekhyun. "Biarkan dulu sebentar", ucap Chanyeol bijak.
"Turunlah kalau lapar", ucap Chanyeol dengan suara beratnya dan mengajak Baekhyun untuk makan malam lebih dulu.
Sementara Chanyeol dan Baekhyun sudah turun ke lantai bawah menuju dapur, di dalam sebuah kamar ,seorang yeoja tengah merenung di balik selimut tebal bergambar panda miliknya.
'Bagaimana keadaan Jongdae tadi saat aku pergi?'
'Apa dia sedih?'
'Apa dia senang?'
'Apa dia merindukanku?'
'Apa dia masih menyukaiku?'
Minseok terdiam karena pertanyaan yang ada di dalam benaknya. Minseok mengacak rambutnya secara kasar karena geram.
Minseok segera terduduk dan menyibakkan selimut pandanya. "Lupakan! Lupakan!", teriak Minseok kesal.
Drap! Drap! Drap!
Terdengar suara langkah kaki yang berjalan terburu-buru menaiki tangga. Minseok segera menutup mulutnya rapat. 'Astaga, apa aku membuat yang lainnya khawatir?'
Tok! Tok!
"Chagi, kau tak apa?", ini suara Baekhyun.
"Seokkie, kau kenapa?", ini suara Chanyeol.
"G-Gwenchana", ucap Minseok terbata, tak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir.
"Benarkah?", tanya Baekhyun ragu.
Minseok hanya terdiam. Ia juga ragu apakah ia baik-baik saja.
Di luar kamar terdengar sedikit gaduh karena tak mendapat jawaban dari Minseok. Dan Minseok tetap diam mendengarkan apa yang dibincangkan oleh kedua orang tuanya di luar kamarnya.
"Apa dia memiliki masalah?", khawatir Baekhyun.
"Apa terjadi sesuatu dengannya selama ia tak di rumah?", gumam Baekhyun.
"Apa Seokkie marah terhada kita?", gumam Chanyeol lemas.
Minseok menegakkan tubuhnya mendengar pertanyaan appanya. 'Tidak! Tidak! Aku tidak marah! Aku hanya sedang–'
"Tolong … bergeser sedikit, umma", Kening Minseok mengernyit mendengar suara ini. 'Luhan oppa?'
Dok! Dok! Dok!
Minseok dengan reflex memegangi dadanya yang bergemuruh tak karuan karena mendengar gedoran pintu yang terbilang luar biasa itu.
"XIUMIN! KELUAR! JANGAN MEMBUAT ORANG LAIN KHAWATIR!", bentak Luhan dari luar kamar.
"Enyahlah", desis Minseok kesal dan masuk ke dalam selimut tebal kesayangannya lagi.
"AKU MENDENGARNYA!"
Brak!
Dan pintu kamar Minseok didobrak dengan tidak berkeperikepintuan. Minseok terperanjat kaget dan segera menyingkap selimutnya.
Mulutnya menganga melihat pintu kamarnya yang terjatuh dengan engsel pintu yang rusak parah. Mata Minseok bergerak melihat siapa yang telah merusak pintu kamarnya tersebut.
"A-Ap-Apa yang–", gagap Minseok tak bisa berkata-kata.
Terlihat Luhan berdiri diambang pintu dengan napas terengah dengan kedua orang tua mereka di belakang Luhan. Wajah kedua orang tua mereka memiliki ekspresi yang sangat berbeda.
Baekhyun yang memandang penuh harap kearah Luhan dan Minseok. Sedangkan Chanyeol yang menganga tak percaya bahwa ia memiliki anak lelaki seperti Luhan.
"JANGAN BERCANDA! MEMBUAT ORANG LAIN KHAWATIR SEPERTI ITU! MEMANGNYA ITU LUCU?!", bentak Luhan tak sabaran.
.
.
How To Back To Normal?
.
By : Nyanmu
Main Cast : Kim Jongdae and Kim Minseok a.k.a Park Minseok
[ChenMin]
Support Cast : Xi Yixing, Do Kyungsoo, and Kim Jongin
Genre : Romance, Little bit Humor, Family, Fantasy and Friends
Rated : T
Length : Chaptered
Warn! GENDERSWITCH (GS) | Typo(s) | Alur ngebut | Kata-kata absurd dan KASAR!
.
.
Chapter 4 : Musibah dan Laboratorium bawah tanah?
Saat ini Minseok hanya bisa menunduk sambil memilin selimut kesayangannya. Ia merasa tak enak karena ditatap dengan tatapan mengintimidasi oleh anggota keluarganya selama lebih dari sepuluh menit setelah Minseok menceritakan segalanya mengenai Jongdae.
Mengenai pemikirannya, mengenai deguban jantungnya, mengenai perasaan anehnya, dan mengenai pengungkapan Jongdae.
"Hmmm", Chanyeol bersedekap sambil memejamkan mata.
"Intinya, uri Seokkie sedang bimbang karena jatuh cinta?", tanya Chanyeol membuka matanya.
"Bisa jadi", gumam Baekhyun masih memikirkan entah apa itu.
Malu rasanya menceritakan hal seperti ini kepada kedua orang tuanya. Rasanya Minseok ingin tenggelam di lautan selimut saja.
"A-A-Aku tidak tahu", cicit Minseok semakin menunduk.
Melihat tingkah dongsaengnya yang malu-malu kucing seperti itu membuat Luhan meutar bola mata malas. 'Tidak seperti Seokkie saja', batin Luhan.
"Lalu, bagaimana dengan Jongdae sekarang?", akhirnya Luhan membuka mulut.
Minseok duduk terkesiap karena pertanyaan Luhan. "A-A-A-Aku tak tahu", gagap Minseok.
"Apa kita perlu membuat ramuan cinta?", gumam Baekhyun.
Dan seketika kedua bola mata Luhan dan Minseok membola. Namun Chanyeol sepertinya menyetujui sambil mengangguk. "ANDWAE!", teriak Luhan dan Minseok bersamaan.
Baekhyun terdiam sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Kaget dengan teriakan kompak dari kedua anaknya. "Aigoo, umma hanya bercanda chagi", kekeh Baekhyun.
"Haaah, ini lebih rumit dari ramuan baru kita, yeobo", gumam Chanyeol masih berpikir keras.
"Kenapa kita harus memikirkan ini?", ketus Luhan.
'Iya, kenapaaa?!', batin Minseok menyetujui ucapan oppanya.
"Karena ini menyangkut Seokkie, tentu saja", tegas Baekhyun.
"S-Sudahlah, umma … aku tak apa", ucap Minseok ragu.
"Ck! Oh ya", ucap Luhan teringat sesuatu setelah berdecak lidah.
Chanyeol, Baekhyun, dan Minseok menoleh kearah Luhan. "Mana sisa obat penawarnya?", tagih Luhan.
"Hm-mm", Minseok memeriksa kantong pakaiannya.
"Kau hanya minum seteguk saja, 'kan?", tanya Baekhyun.
Minseok mengangguk meng'iya'kan. "Tadi ada sisa, banyak sekali", gumam Minseok mulai bangkit dari posisi duduknya dan membongkar kasurnya.
"Mana ya", gumam Minseok sambil mencari-cari.
"Apa kalau obat penawarnya dikonsumsi oleh orang normal akan berefek?", tanya Luhan bak detektif.
"Sebenarnya itu ramuan yang membuat Seokkie berubah menjadi anak kecil, hanya diberi tambahan sedikit", ucap Baekhyun.
"Kemungkinan kalau dikonsumsi lagi akan berubah menjadi anak kecil, tapi kita belum sempat mengujinya", lanjut Chanyeol.
"Haaah, bisa gawat kalau orang asing yang memegangnya saat ini", gumam Luhan menopang dagunya dengan tangan kanannya.
"Mana ya", gumam Minseok berkacak pinggang sambil mengingat-ingat.
"Aku ingat sekali aku meletakkannya di dalam kantong", Minseok mulai berjalan menuju tas yang berisi pakaian anak kecilnya.
"Cari yang benar", titah Luhan mengintip kegiatan Minseok.
"Iya iya", gerutu Minseok membongkar tasnya.
"Nah …", Minseok mengeluarkan pakaian yang ia kenakan tadi sebelum kembali normal.
"Nggmmm, kok … kok tidak ada ya", cicit Minseok mulai. Tangannya mulai terasa lembab karena takut.
"Coba diingat lagi", ucap Baekhyun.
"Aku yakin aku menyimpannya di kantong baju ini", ucap Minseok terdiam sejenak.
Di hadapannya terdapat tas yang sudah tak berbentuk dan pakaian yang berserakan.
"Mungkin …", gumam Minseok mulai. Keringat dingin kini mengalir di pelipisnya. Perlahan ia berbalik menghadap keluarganya.
Kedua orang tuanya dan Luhan menatap Minseok dengan kening berkerut. Menantikan kata-kata yang akan dikeluarkan oleh Minseok selanjutnya.
"Mungkin terjatuh", gumam Minseok sambil menggigit kuku telunjuknya. Pandangannya menerawang mengingat kejadian sebelumnya.
"Terjatuh dimana? Bisa bahaya kalau orang lain mengkonsumsinya", ucap Luhan mendesak.
"Obatnya … terjatuh", gumam Minseok teringat. Dipandanginya satu per satu anggota keluarganya.
"Terjatuh dimana?", tanya Chanyeol.
"Di … dekat sofa … rumah Jongdae, saat aku akan berlari ke kamarnya–mungkin?", ucap Minseok dengan wajah pucat pasi dan agak ragu.
"Oppa, umma, appa, tolong aku", cicit Minseok dengan wajah memelas. Ia tidak ingin ke rumah Jongdae hanya untuk mengambil ramuan tersebut. Ia masih sedikit takut dengan kejadian sebelumnya.
"Astaga …"–Chanyeol.
"Harus segera diambil sebelum dipakai"–Baekhyun.
"CEPAT KE RUMAH JONGDAE DAN AMBIL KEMBALI OBAT PENAWARNYA!"–Luhan.
"O-Oppa saja yang pergi ya?", cicit Minseok sambil mengerjapkan matanya memelas. Dan Luhan melayangkan death glarenya.
.
.
.
"Jongin, kenapa reaksinya seperti itu?", gumam seorang namja yang memperhatikan adiknya yang tertidur di sofa.
Duk!
Namja bernama Jongdae ini menjedukkan kepalanya ke meja nakas yang ada di sebelah sofa. "Apa aku salah bicara?", gumam Jongdae.
"Ah, lapar", gumam Jongdae sambil memegangi perutnya.
Ia segera beranjak menuju dapur. Mengambil sepiring makanan dan memakannya di depan televisi di dekat Jongin yang tertidur.
"Astaga, acaranya sangat-sangat tidak bagus", gumam Jongdae sambil mencari remot televisi.
"Dimana remotnya?", monolog Jongdae mencari remotnya di atas sofa.
Jongdae memasukkan tangannya di sela-sela sofa. "Aha! Eh?", bingung Jongdae saat yang ia ambil adalah sebuah botol kecil berisi cairan berwarna hijau.
"Apa ini?", bingung Jongdae. Kemudian ia teringat sesuatu. "Pasti punya Minseok, tidak boleh sembarangan dipakai", gumam Jongdae.
Ia membuka tutup botolnya dan mengendusnya sedikit. Jongdae mengernyitkan dahinya saat tidak mencium bau apa pun. Kemudian Jongdae mengangkat bahu 'tidak-mau-tahu', menutupnya asal, dan meletakkan botol tersebut di sebelah air putih miliknya.
Ia pun kembali mencari remot dan mengganti channelnya setelah menemukannya. Jongdae terus melahap makanannya sampai tersisa seperempat.
"Uhuk! Uhuk!", karena tidak pelan-pelan, Jongdae pun tersedak. Ia segera meminum air putihnya hingga habis tak tersisa.
"Haaa", lega Jongdae meletakkan kembali gelasnya dan mengambil piringnya yang sempat ia letakkan sebelum minum.
Jongdae hendak menyendokkan makanannya ke dalam mulutnya, namun melihat acara yang ditontonnya tengah iklan, ia hendak menggantinya.
"Eh? Kemana lagi remotnya", bingung Jongdae. Seingatnya, remotnya tadi berada di sebelahnya.
'Remotnya tidak setia', gerutu Jongdae dalam hati.
Jongdae menaikkan kedua alisnya kala melihat remotnya berada di bawah meja. Jongdae meletakkan piringnya di lantai yang diapit oleh meja dan sofa.
"Dasar–remot", geram Jongdae sambil menggapai remot yang cukup jauh. Jongdae sampai harus memasukkan kepalanya di bawah meja untuk meraihnya.
Duk!
Karena tidak hati-hati, kepala Jongdae membentur meja yang berada di atasnya. Dan tanpa Jongdae ketahui, botol obat penawar yang berada di atasnya bergoyang dan tumpah.
Jongdae yang menutup botolnya secara asal membuat cairan hijau yang ada di dalam botol tumpah dan langsung menyebar. Beberapanya menetes ke sisi meja dan jatuh tepat ke dalam makanan Jongdae. Bukan hanya setetes, namun bertetes-tetes. Itu melebihi dosis pakai.
"Astaga", gumam Jongdae mengelus kepala belakangnya dan menyeret piringnya mendekat kearahnya lagi.
"Omona!", kejut Jongdae melihat obat milik Minseok tumpah.
Jongdae meletakkan remot yang ia ambil tadi di dekat meja dan segera melahap beberapa sendok makanannya. Kemudian ia berlari ke belakang untuk mengambil kain.
.
.
.
"Aku menunggu di sini", cengir Minseok berdiri diambang pintu.
"Astaga, ini hanya rumah Jongdae, xiumin! Cepat masuk bersamaku!", geram Luhan menatap Minseok dengan tatapan membunuhnya.
"Aku berjaga-jaga, siapa tahu bibi Oh kembali", ucap Minseok cepat.
'Bibi Oh tidak mungkin kembali sekarang, dia pergi ke luar kota untuk beberapa minggu ke depan. Hahaha!'
Luhan lelah memaksa Minseok. Ia biarkan saja Minseok berbuat sesukanya, kemudian ia masuk ke dalam berniat untuk mengambil botol penawar yang–dengan lalainya–terjatuh di dekat sofa depan televisi.
Luhan berjalan perlahan dengan memperhatikan sekelilingnya. Rumah Jongdae ternyata luas. Banyak interior yang sudah terbilang tua berjejer di dinding dan sisi rumah ini.
Sebagian besar jendela yang ada di sana tertutup gorden berwarna coklat. 'Ini masih sore, kenapa cepat sekali ditutup gordennya'
Luhan menaiki tiga anak tangga yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang tengah. Terlihat dari tempat Luhan berdiri saat ini, sebuah televisi yang menyala dan seorang anak kecil tertidur pulas di atas sofa.
Luhan jalan perlahan mendekati sofa tersebut. Ia mulai mencari-cari obat penawar yang dijatuhkan oleh Minseok.
"Dimana", geram Luhan mengangkat beberapa bantal dan mencari di sela-sela sofa.
"Ga ga!"
Luhan terkesiap. Ia merasa mendengar suara anak kecil. Diliriknya anak kecil yang tertidur pulas di atas sofa. 'Anak ini tertidur, apa dia mengigau?'
Luhan terus memperhatikan anak kecil–alias Jongin. "Ga ga! Haha!"
Luhan terkejut. Ia tidak melihat Jongin berucap tapi mendengar suara tawa anak kecil. 'Astaga, apa rumah ini berhantu?'
Luhan mulai bergidik ngeri. "Aku harus menemukan penawarnya dengan cep–apa ini?", bingung Luhan melihat cairan berwarna hijau tercecer di atas meja.
"Hah, ini botol–", Luhan meraih botol kecil yang sudah tidak berisi.
"Jangan-jangan isinya–", Luhan menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Matanya memandang tidak percaya kearah Jongin.
"Apa ini Jongdae? Anak kecil ini?", bingung Luhan mengamati wajah Jongin.
"Tapi tunggu–bukannya anak kecil ini pernah bersama Minseok ke penitipan anak?", bingung Luhan.
Luhan celingukan. Mencari-cari keberadaan Jongdae. "Apa dia keluar?", gumam Luhan mulai bangkit dan berjalan berkeliling.
"Hueeeee!"
Luhan terdiam sejenak. "Ada yang menangis?", gumam Luhan mengikuti sumber suara.
Ia berjalan lebih dalam lagi dan semakin dalam. Ia pun sampai di dapur. Di dapur terlihat seorang bayi menangis. Di sekeliling bayi itu terdapat satu setel pakaian namja. Dan bayi itu telanjang.
"Huh? Bayi siapa ini?", bingung Luhan menghampirinya.
.
.
.
Tuk! Tuk! Tuk!
Minseok mengetuk-ngetukkan jari telunjuk kirinya di atas meja. Tangan kanannya ia gunakan untuk menopang dagunya.
"Haaah", hela Minseok.
Minseok menegakkan duduknya, kemudian menoleh ke sekeliling. Ini sudah lewat dari lima belas menit semenjak Luhan masuk ke dalam. Dan Minseok bosan menunggu selama ini.
"Oppa sedang apa, sih", dengus Minseok sambil bersedekap.
"Cuma ambil obat penawar saja lama", keluh Minseok menggembungkan kedua pipinya.
Cklek!
Minseok menoleh dan segera berdiri. Ia sudah siap untuk mengomel kepada oppa tersayangnya itu.
"Oppa kenapa–"
Mulut Minseok menganga kala melihat Luhan menggendong seorang bayi. Kira-kira bayi tersebut berumur satu tahun lebih. Wajahnya sangat mirip dengan Jongin. Dan hanya memakai sehelai kain yang melilit tubuhnya.
"Oppa, kenapa oppa membawa Jongin? Kenapa dia tidak pakai baj–kemana Jongdae?", tanya Minseok bingung. Ia tidak jadi mengomeli oppa tersayangnya itu.
"Tunggu sebentar", cegat Luhan.
"Jongdae memiliki seorang dongsaeng?", tanya Luhan berusaha tenang. Jujur, ia mulai agak stress dengan kasus yang menimpa keluarganya ini.
"Ya, namdongsaeng tepatnya, bernama Jongin", jelas Minseok.
"Dia memiliki berapa namdongsaeng?", tanya Luhan.
Minseok mengernyitkan dahinya. "Hanya satu, kenapa?", bingung Minseok.
"Hanya satu?", tanya Luhan memastikan dengan kedua alis naik setinggi-tingginya.
Minseok mengangguk mantap. "Apa ini Jongin?", tanya Luhan memperlihatkan bayi yang digendongnya.
Bayi tersebut mengemut jempolnya dan sedikit tertawa karena ditatap oleh Minseok. "B-Bukan, Jongin lebih pendiam, dia bahkan tidak pernah tertawa, dan Jongin … tidak sekecil ini", ucap Minseok setelah mengamati.
"Ya, tadi di dalam ada dua anak kecil, ini salah satunya … yang di dalam sedang tertidur, jadi yang di dalam Jongin?", tanya Luhan memastikan.
"Sepertinya", gumam Minseok.
"Kalau yang di dalam Jongin? Yang oppa gendong siapa? Anak siapa?", bingung Minseok.
Luhan menaikkan kedua bahunya tak tahu. "Haaah, kenapa juga harus dibawa?", keluh Minseok.
"Dia menangis tadi"
"Mana penawarnya?", tagih Minseok.
"Ini", Luhan memberikan sebuah botol kosong.
"Kosong? Kenapa kosong?", bingung Minseok menatap sengit kearah oppanya.
"Aku tidak tahu, tadi di dalam sudahku temukan kosong, sepertinya tum–", Luhan terdiam. Perlahan ia memandangi Minseok.
Minseok yang sepertinya mengerti melirik kearah bayi yang digendong oleh Luhan. "Ga ga ga! Nyahahaha!", bayi tersebut tertawa.
"Jadi dia–", Luhan memandangi bayi yang digendongnya.
"Dia JONGDAE!", teriak Minseok histeris.
"Hyung"
Luhan terperanjat kaget ketika mendengar sebuah suara dari balik pintu. Minseok menunduk sedikit untuk melihat siapa yang berbicara.
"Jongin …", gumam Minseok.
"Ini Jongin?", tanya Luhan menatap Minseok tidak percaya.
Minseok mengangguk dengan keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. 'Astaga! Ini sebuah bencana!'
.
.
.
"Haha! Nyanyanyanya!"
Baekhyun dan Chanyeol mengamati sesosok bayi yang dibawa oleh Luhan. "Aigooo, neomu kyoptaa~", racau Baekhyun memainkan tangan Jongdae kecil.
"Katakan 'papa'", titah Chanyeol–sifat ke'appa'annya kambuh.
"Pa!Papap!Pap", Jongdae kecil berusaha mengikuti ucapan Chanyeol.
"Papa"
"Wah! Dia cepat belajar", kagum Baekhyun.
"Jadi, umma … appa", panggil Minseok yang mulai lelah memperhatikan.
Chanyeol dan Baekhyun menoleh kearah anak bungsu mereka. "Bagaimana dia?", tanya Minseok.
Chanyeol menegapkan tubuhnya dan menaruh jari telunjuknya di dagu–pose berpikir. "Dia berubah menjadi bayi–"
"Kami tahu", potong Luhan malas sambil menemani Jongin bermain mobil-mobilan. Chanyeol segera memberikan death glare terbaiknya untuk Luhan.
"Dan dia tidak seperti kau, Seokkie", ucap Chanyeol.
"Tidak sepertiku? Maksudnya?", bingung Minseok.
"Cara berpikirnya juga seperti anak kecil", ucap Baekhyun menjelaskan.
"Dia berubah menjadi bayi secara total, memulai segalanya dari nol", ucap Baekhyun.
Mulut Minseok menganga mendengar penjelasan Baekhyun. "A-A-Apa?", ucap Minseok terkejut.
"Dia benar-benar seorang bayi", dengus Luhan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.
"L-Lalu bagaimana–bagaimana caranya kembali normal?", tanya Minseok kalap.
"Kita harus membuat obat penawar lagi", ucap Chanyeol.
"Apakah lama?", tanya Minseok ragu.
"Mungkin tiga hari baru jadi", ucap Baekhyun menggendong Jongdae. Kini Jongdae sudah memakai pakaian bayi yang sangat manis.
"Tiga hari?!", ucap Minseok meninggikan suaranya.
"Huhu! Ha! Gagagaga!", racau Jongdae kecil dalam gendongan Baekhyun.
"Iya, tiga hari", ucap Baekhyun.
"L-lalu, siapa yang akan mengurus–mereka berdua selama itu?", tanya Minseok menuding kearah Jongdae dan Jongin bergiliran.
"Aku harus segera kuliah, bye", Luhan beranjak dan meninggalkan rumah tersebut. Ia tidak ingin terlibat lagi, okey.
"Tentu saja kau, Seokkie", ucap Chanyeol.
"Aku?!", jerit Minseok tak percaya.
Baekhyun mengangguk. Ia menyerahkan Jongdae kecil kepada Minseok dan mulai berkacak pinggang. "Kami akan bekerja mulai sekarang, kau tahu cara merawat anak kecil, bukan?", tanya Baekhyun.
Minseok terdiam dengan mulut menganga. "Dia pasti tahu, yang ia rawat adalah JONGDAE, yeobo", ucap Chanyeol jahil sambil mendorong rahang bawah milik Minseok agar mulut Minseok tertutup.
"Haha, bagaimana aku bisa ragu kalau yang dia rawat adalah Jongdae, haha", Baekhyun tertawa renyah.
"Kalau begitu kami akan mulai bekerja, chagi … jangan kasar dengan anak kecil, ingat!", Baekhyun mengecup pipi Minseok sekilas kemudian menghilang bersama Chanyeol menuju ruang bawah tanah.
'Astaga! Ini adalah sebuah bencana untukku'
"Papa!Papa!", Jongdae memukul-mukul pipi kanan Minseok. Namun Minseok hanya diam.
"Haaaah, aku harus sabar", gumam Minseok menggandeng tangan kanan Jongin.
Mereka bertiga pun naik ke lantai atas menuju kamar Minseok–tempat teraman di rumah ini menurutnya.
"Jongin", panggil Minseok saat mereka bertiga sampai di kamar Minseok.
Jongin langsung duduk dengan tenang di atas kasur menunggu kelanjutan perkataan Minseok. "Haaah", Minseok menghela napas (lagi).
Minseok berjalan perlahan kearah Jongin dan duduk di sebelahnya. "Jongin, sekarang hyungmu lebih kecil dari pada kamu", ucap Minseok mencoba untuk menjelaskan.
Jongin hanya diam memandang wajah Minseok yang tengah menjelaskan dengan perlahan. "Jadi, sekarang–maksudku untuk sementara, kau adalah hyung, mengerti?", tanya Minseok dengan senyum lebar berharap Jongin mengangguk. Namun Jongin hanya diam menatap wajah Minseok.
"Aarrrggghhh! Kenapa kalian terlibaaaattt?! Aku juga yang susaahh", erang Minseok frustasi.
"Begini ya Jongin–", ucap Minseok pantang menyerah untuk menjelaskan keadaan yang ada.
"Kau sekarang menjadi hyung dan harus menjaganya, oke?", tanya Minseok mendudukkan Jongdae kecil diantara dirinya dan Jongin.
"Kau harus menjaganya, menyayanginya, dan membantuku merawatnya", lanjut Minseok.
Jongin terdiam sesaat. "Hyung …", gumam Jongin.
'Astaga! Anak ini!'
Minseok mendesah pasrah. Ia berbaring di atas kasur dengan mata terpejam memikirkan sebuah kata-kata sederhana kepada anak berusia dua tahun sejenis Jongin.
Srak!
Minseok bangkit dengan cepat. "Jongin, jaga adik kecil ini ya", ucap Minseok memegangi kedua bahu kecil Jongdae.
Jongin melirik Jongdae kemudian ia mengangguk. 'Akhirnya dia mengertiii~'
"Kau harus menjaga–"
Minseok menutup mulutnya rapat-rapat saat ia memikirkan nama samaran untuk Jongdae.
'Dia harus mendapatkan nama samaran'
'Tapi nama apa?'
"Dia cerewet seperti bebek", gerutu Minseok membayangkan bagaimana sifat Jongdae. Ia ingin menyesuaikan nama samaran Jongdae dengan sifat Jongdae.
"Baiklah …", kedua bola mata Minseok menyusuri seisi kamarnya. Siapa tahu dengan melihat sebuah benda ia mendapatkan sebuah nama.
"Chen!", seru Minseok senang. Ia memperhatikan boneka bebek raksasa miliknya di sudut ruangan.
"Jongin harus menjaga Chen, ne~", ucap Minseok ramah kepada Jongin.
Jongin mengangguk. Ia mengamati tingkah laku Jongdae yang lebih hyper dari pada dirinya. Ia akan mengurus Chen.
Minseok tersenyum senang akhirnya ia bisa membuat Jongin mengerti. Mulai besok pagi ia akan memulai hari baru dengan masalah baru. Bukan masalah terhadap dirinya sendiri, namun masalah yang melibatkan tetangganya–Jongdae.
"Besok pagi", gumam Minseok dengan senyum simpulnya.
"Astaga! Besok pagi! Sekolah!", seru Minseok teringat.
Ia bergegas menuju meja belajarnya untuk menyiapkan segalanya. Ia sudah tertinggal selama beberapa hari terakhir. Ia harus bisa menyusul agar nilainya tidak turun.
.
.
.
'Hal pertama … menuju penitipan'
"Huft, fighting!", gumam Minseok menyemangati dirinya sendiri.
Ia menggenggam erat tangan Jongdae dan membenarkan posisi Jongdae dalam gendongannya. Mereka berjalan memasuki area penitipan anak.
Minseok tentu sudah mengenal penitipan anak ini–mengingat ia pernah dititipkan di sini bersama Jongin untuk beberapa waktu. Tapi pekerja di penitipan ini tidak akan ada yang tahu mengenai Minseok saat ini.
Srek! Srek! Srek!
Seperti biasanya, terlihat Yixing tengah menyapu halaman depan penitipan anak ini. Minseok pun menghampirinya.
"P-Permisi", gugup Minseok.
Yixing mendongak dan memperhatikan wajah Minseok. Cukup lama Yixing memperhatikan wajah Minseok sehingga membuat Minseok tidak nyaman.
"P-Permisi, a-aku mau mengantarkan Jongin", ucap Minseok cepat disertai sedikit kegugupan.
"Seperti Xiumin", gumam Yixing sedikit memiringkan kepalanya.
"Ini, aku ingin–"
"Menganai Xiumin, kenapa dia belum datang", gumam Yixing pada dirinya sendiri.
"Mmm, Y-Yixing-ssi–"
"Apa kau mengenal Xiumin?", tanya Yixing seperti tak mendengarkan semua perkataan Minseok yang terus dipotongnya.
Minseok tersenyum kikuk dan tertawa renyah. "X-Xiumin? Ha ha ha", gugup Minseok.
'Astaga! Sampai kapan aku akan membuat kebohongan?'
"Ini, Jongin", ucap Minseok mengalihkan.
"Apa kau ada hubungan keluarga dengan Xiumin?", tanya Yixing dengan wajah penasarannya.
"Tapi aku ingin menitipkan–"
"Mungkin kau kakaknya Xiumin, apa benar?", tanya Yixing mengubah posisi sapu yang ia pegang agar menjadi sebuah sandaran untuk dirinya.
"Aku–"
"Omona! Kau mengenakan seragam yang sama dengan Jongdae, apa kau mengenal Jongdae? Oh, Jongin", ucap Yixing diakhiri dengan menayapa Jongin.
"Ya, Jongdae–"
"Aigooo! Lucunya bayi iniii~ Apa ini anakmu? Tapi kau masih bersekolah, hm … apa ini adik–"
"AKU KEMARI INGIN MENITIPKAN MEREKA BERDUA! INI BUKAN ANAKKU! DIA INI CHEN! DAN AKU MENGENAL JONGDAE KARENA AKU TETANGGANYA!", bentak Minseok sudah tidak tahan dengan Yixing yang terus saja memotong ucapannya.
Yixing mengerjap-ngerjapkan matanya bingung karena menerima teriakan pagi dari Minseok. "O-Oh, maafkan atas kelakuanku", ucap Minseok membungkuk kecil.
"Yixing! Kenapa pagi-pagi ada keribut–Ooh~ Jongin? Kau bersama–siapa", ucap Kyuhyun yang keluar dari kantornya.
"A-Annyeong", sapa Minseok membungkuk kecil.
"Aku ingin menitipkan mereka berdua, apa bisa?", tanya Minseok.
Kyuhyun terdiam sejenak. "Tentu saja, ini penitipan anak", ucap Kyuhyun dengan senyumannya.
"Apa kau ada suatu hubungan dengan Jongin atau–Jongdae?", tanya Kyuhyun mendekat kearah mereka.
"A-Aku tetangga Jongdae, Jongdae menitipkan Jongin kepadaku agar aku membawanya kemari karena Jongdae saat ini–sedang sakit", ucap Minseok dengan otak yang berfikir keras mencari sebuah alasan rasional.
"Dan ini Chen, sepupu jauh Jongdae … dia juga menyuruhku membawa Chen kemari", ucap Minseok menunjukkan Chen yang masih setengah mengantuk.
"Astaga, Jongdae sakit", gumam Yixing terkejut.
"Mmm, yaaa begitulah", ucap Minseok berusaha tersenyum normal–nyatanya ia tersenyum kikuk.
"Baiklah, siapa namanya tadi? Chen? Cheenn~ Kemariii", ucap Kyuhyun mengulurkan kedua tangannya hendak menggendong Chen.
Belum sempat tangan Kyuhyun menyentuh tubuh Jongdae kecil. Tiba-tiba saja Jongdae kecil menangis tanpa sebab. "Aigoo, kenapa menangis", gumam Minseok bingung.
Drap! Drap! Drap!
"Astaga! Kyuhyun hyung! Apa yang kau lakukan?!", jerit Jin yang baru saja datang dengan langkah terburu.
"Aku?! Aku tidak melakukan–"
"Cup cup", ucap Jin mengambil alih Jongdae kecil dari Minseok. Namun Jongdae kecil terus saja menangis–bahkan semakin keras setelah lepas dari gendongan Minseok.
Minseok tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "A-Aku titipkan mereka … aku harus–bersekolah, selamat tinggal", ucap Minseok membungkuk dalam dengan singkat dan segera menuju sekolah.
"Ayo Jongin, kita masuk", ajak Yixing.
Jin yang menggendong Jongdae kecil segera masuk bersama Kyuhyun. Kemudian Jongin mengikuti mereka dari belakang disusul dengan Yixing–setelah ia menaruh sapu.
.
.
.
"Haaah … haah … haaah"
Napas Minseok terengah parah. Ia merasa seperti tak bisa bernapas lagi karena sesak di dadanya. "Sial!", rutuk Minseok masih berusaha melangkah dalam keadaan seperti ini.
"Mana haah, kutahu hah … kalau ada haah tugas", gumam Minseok dengan napas terengah.
Yap! Saat ini Minseok sedang dihukum oleh Joo Ssaem karena ia tidak mengerjakan tugas. Ia dihukum mengelilingi lapangan outdoor sebanyak lima belas kali.
"Kenapa lapangan ini luas sekali!", teriak Minseok menumpu kedua tangannya pada lututnya.
"Akh! Dasar ssaem sadis", gerutu Minseok menepi.
"Dia lihat tidak ya", Minseok sedikit melirik kearah jendela kelasnya di lantai dua.
"Ah! Terserahlah, aku lelah", rutuk Minseok duduk di bawah pohon yang rindang dengan kedua kaki diluruskan.
Minseok melirik sekeliling. Ternyata saat jam seperti ini sekolahnya terlihat sepi. Kemudian pandangan Minseok beralih menatap langit yang cukup cerah.
'Apa hidupku memang ditakdirkan berdampingan dengan masalah?'
'Apa ada suatu maksud hidupku memiliki banyak masalah?'
"Haaah, yang jelas obat penawarnya harus cepat selesai", gumam Minseok mulai bangkit. Tenaganya sudah kembali.
"Yak! Tinggal sepuluh putaran lagi!", teriak Minseok menyemangati dirinya sendiri.
.
.
.
Bush!
"Aku lelah", rutuk Minseok dengan tubuh terlungkup.
Puk! Puk!
"Gaaa!", Jongdae kecil yang duduk di sebelah Minseok bersama Jongin memukul-mukul punggung Minseok dan berteriak tidak karuan.
"Biarkan aku seperti ini sebentar, aku lelah", ucap Minseok dengan suara yang lemas.
Jongdae kecil terus saja memukul-mukul punggung Minseok. Namun Minseok merasa tak terganggu sama sekali karena ia sudah masuk ke alam mimpinya.
Jongin yang tadinya memperhatikan tingkah Jongdae kecil, kini ia memperhatikan seisi kamar ini. Mereka tidak berada di dalam kamar Minseok. Melainkan berada di kamar tamu.
Entah kenapa mereka bertiga terdampar di kamar tamu ini. Sepertinya Minseok terlalu lelah hanya untuk mencari tahu dimana ia sedang tidur.
"Bwa bwa bwa! Papapa! Nganga!", teriak Jongdae kecil terus memukul punggung Minseok.
"Ngh", Minseok mengangkat lengannya dan membawa Jongdae kecil dalam pelukannya.
"Aaaa! Aaaa! Waaa! Hu-Hueeeeee!", tangis Jongdae kecil pecah.
Jongin mulai bergerak untuk menyingkirkan tangan besar–dalam pandangan Jongin–Minseok dari Jongdae kecil. Namun apa daya, tenaga Jongin tidak sebanding dengan berat tangan Minseok.
"Huuueee! Huuuee!", Jongdae kecil terus menangis dan Jongin terus berusaha.
"Huh! Sepi"
Jongin terkesiap kala mendengar sebuah suara dari luar. Jongin segera turun dari kasur dan berjalan menuju luar kamar tamu tersebut untuk melihat siapa yang datang. Mungkin saja Jongin dapat meminta bantuan orang tersebut.
Cklek!
Tap!
"Jongin", gumam orang tersebut.
Jongin terdiam diambang pintu dengan tangan kanannya yang masih menggantung memegang gagang pintu. Orang yang datang tersebut berjalan mendekati Jongin yang terdiam.
"Kenapa kau di sini? Kau tersesat? Mau bermain dengan Luhan hyung?", tanya orang tersebut yang ternyata adalah Luhan.
Luhan berjongkok dihadapan Jongin dengan senyum menawannya. "Kau sedang apa disini?", tanya Luhan lagi.
Jongin bergerak membuka pintu lebar-lebar agar Luhan dapat melihat 'karena siapa' ia berada di sini. Kepala Luhan bergerak mengintip ke dalam kamar tamu tersebut dan mendapati adik tersayangnya tidur terlungkup dengan Jongdae kecil sebagai guling.
"Heh, anak itu", gumam Luhan kemudian bangkit.
Ia berjalan mendekat kearah Minseok yang tertidur pulas. Dilihatnya Minseok yang tertidur lelap dan Jongdae kecil yang tertidur dengan napas tertaur dengan kelopak mata basah.
Ternyata setelah menangis keras, Jongdae kecil merasa lelah dan malah tertidur dalam pelukan Minseok. "Sepertinya mereka akan semakin dekat", gumam Luhan disertai senyum jahilnya.
Jongin berjalan mendekat dan berusaha menaiki kasur untuk melihat 'Chen'. Namun Luhan menggendong Jongin menjauh. "Mereka lelah, biarkan saja mereka … kau bersama hyung saja, ne", ucap Luhan berjalan keluar kamar dan menutup pintu dengan perlahan.
Luhan berjalan menjauhi kamar yang diapakai Minseok untuk istirahat. Ia berjalan menuju sebuah pintu yang berada di bawah tangga. Luhan yang menggendong Jongin pun masuk ke dalam ruangan tersebut.
Setelah masuk, bukannya menemukan sebuah ruangan, Luhan malah menemukan lorong-lorong yang entah menuju kemana. Dan Luhan bingung.
"Kemana ya", gumam Luhan.
"Umma menyuruhku ke laboratorium", gumam Luhan menengok ke kanan dan ke kiri. Dinding lorong-lorong ini terbuat dari besi, sehingga cukup terasa dingin di sini.
"Aku belum pernah ke laboratorium sebelumnya", keluh Luhan pada Jongin.
Luhan kembali menoleh ke kanan dan ke kiri. Sedikit mengintip beberapa lorong. Kemudian Luhan mengambil lorong sebelah kanan. Lorong-lorong ini sangat terang karena cahaya lampu di setiap jalannya.
"Ini kemana ya", gumam Luhan.
Luhan berhenti berjalan karena menemukan pertigaan. Ia pun kembali bingung. Tapi Luhan memutuskan dengan cepat. Mereka pun berjalan menuju arah kiri.
"Seperti labirin saja", dengus Luhan.
Dan Luhan kembali dibuat bingung karena bertemu percabangan lorong. Jujur saja Luhan mulai lelah. Ia berjalan dengan asal dan mengambil cabang lorong mengandalkan keberuntungan.
Toh, dia tidak sendiri. Ia bersama Jongin, walau Jongin tidak membantu mengambil keputuan sama sekali.
.
.
.
Duk!
"Mngh …", Minseok menggeliat karena ia merasa sesuatu memukul pipinya.
Matanya berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang ada. Setelah semuanya terlihat jelas, ia mengernyitkan dahi merasa asing dengan ruangan yang ia tempati.
'Ah, kamar tamu'
Minseok menyamankan dirinya kembali dan hendak tidur. Namun saat menyadari ada sesuatu di dalam pelukannya, Minseok mengangkat tangannya dan melihat apa yang ia peluk.
Setelah melihat apa yang ia peluk, kedua bola mata Minseok membola. Ia terkejut, tentu saja. Bagaimana bisa Jongdae–
'Eh? Dia tertidur?'
Minseok menurunkan tubuhnya sedikit agar dapat memperhatikan wajah manis Jongdae kecil. Kedua sudut bibir Minseok tertarik membentuk sebuah senyuman saat ia memperhatikan wajah manis Jongdae kecil.
'Ternyata saat masih kecil Jongdae manis juga'
'Tapi kenapa sekarang dia itu–menyebalkan'
Minseok mendengus malas mengingat betapa menyebalkannya Jongdae saat mulutnya sudah berceloteh. Namun tiba-tiba Minseok tersenyum saat mengingat betapa menawannya Jongdae.
'Astaga! Apa yang kupikirkan!'
Minseok memejamkan matanya erat kemudian membukanya. Dihadapannya saat ini adalah Jongdae kecil. Jongdae yang polos yang tak tahu apa-apa.
'Tapi kenapa jantung ini tetap berdegub kencang walaupun dia bukanlah Jongdae yang biasa'
Tangan kanan Minseok bergerak menyentuh dada sebelah kirinya. Sesuatu berdegub dengan senangnya di dalam sana. Walaupun dihadapannya ini Jongdae kecil, tapi jati dirinya tetaplah Jongdae asli. Kim Jongdae.
Minseok tersenyum tulus melihat wajah damai Jongdae kecil saat tertidur. Rasanya ia tidak ingin membuat Jongdae kembali normal.
"Hehe …", kekeh Minseok sambil mengusap rambut halus Jongdae.
Minseok mendekatkan wajahnya kearah Jongdae. Ia mengecup kening Jongdae.
BOOM!
Minseok terperanjat kaget. Jongdae terbangun dan langsung menangis. Minseok segera terduduk dan segera menggendong Jongdae kecil yang menangis karena terkejut.
"Astaga, apa karena aku menciummu terjadi sebuah ledakan?", racau Minseok ngelantur dengan wajah ketakutan.
"Huuuueeee!", tangis Jongdae kecil semakin menjadi.
"S-Sudah sudah", Minseok bangkit dan menenangkan Jongdae kecil.
"Eh! Mana Jongin!", akhirnya Minseok merasakan seseorang tengah menghilang.
Minseok melihat sekeliling. Kemudian ia berlari keluar dengan terburu-buru. "Jongin!", teriak Minseok.
"Jangan-jangan ledakan itu karena Jongin?", gumam Minseok.
"Apa Jongin bermain di laboratorium bawah tanah?", gumam Minseok berjalan menuju pintu laboratorium bawah tanah.
Cklek!
Minseok membuka pintu yang berada di bawah tangga dan ia langsung menganga melihat pemandnagan di hadapannya kini. Ini pertama kalinya ia membuka pintu laboratorium laknat–menurut Minseok–tersebut.
"Kita harus–kemana", cicit Minseok.
Minseok menoleh ke kiri, kemudian ke kanan–
"Peta?", bingung Minseok mendapati sebuah tempat kecil berisi lembaran kecil sejenis brosur.
Minseok mengambilnya satu dan membukanya. Ternyata benar, itu adalah sebuah peta. Minseok mengikuti petunjuk peta tersebut untuk menuju laboratorium.
'Pantas saja mereka tidak pernah mendengar kedatangan seseorang, ternyata laboratoriumnya memiliki labirin seperti ini'
Minseok mendengus kecil karena sudah berjalan beberapa menit namun belum menemukan laboratorium milik kedua orang tuanya tersebut.
BOOM!
Tanah yang Minseok pijak sedikit bergetar. 'Apa lagi sekarang?'
Minseok mempercepat langkahnya saat getarannya sudah hilang. Ia sedikit berlari untuk mencapai tujuan.
"Belok kiri dan itu labnya", gumam Minseok mengingatkan dirinya sendiri.
Saat ia belok kiri, di ujung lorong yang ia lalui terdapat Luhan yang menggendong Jongin tengah berlari juga.
"Oppa?", bingung Minseok.
"Minseok", gumam Luhan.
"Kenapa ada disini?", tanya Minseok saat mereka berdua berada di depan pintu lab.
"Kau sendiri?", tanya Luhan.
"Aku mendengar suara ledakan", jelas Minseok.
"Oppa kenapa disini?", tanya Minseok lagi.
"Disuruh umma", ucap Luhan singkat.
"Lalu, dimana umma?", tanya Minseok.
"Aku tadi sempat tersesat", jelas Luhan.
"Jadi mereka masih berada di dalam?", tanya Minseok menatap pintu besi di hadapannya.
Luhan mengangguk. "Cepat buka", Luhan menyikut Minseok.
Tangan kiri Minseok terulur menyentuh gagang pintu.
Kriek! Brak!
Pintu tersebut langsung jatuh. Untung saja Minseok dapat menghindar. Kalau tidak, ia bisa tertindih pintu besi yang–sepertinya–berat itu.
Kepala Minseok melongok ke dalam. Mengintip keberadaan kedua orang tuanya di balik tebalnya asap berwarna hitam. "Benar-benar kapal pecah", komentar Luhan.
"Ini bukan ulah Jongin, 'kan?", gumam Minseok melangkah masuk.
"Tentu saja bukan, dia bersamaku", bela Luhan.
Luhan mengekor di belakang Minseok. "Umma! Appa!", panggil Minseok di dalam ruangan gelap dengan sekeliling berwarna hitam.
Brak!
"Uhuk! Uhuk!"
Seseorang terbatuk di pojok ruangan. Minseok terkesiap. 'Apakah itu mutan? Alien? Hasil percobaan umma dan appa? Atau–hantu?'
"Kenapa berhenti?", tanya Luhan saat menyadari bahwa Minseok tak melangkah lagi.
"Uhuk! Astaga, itu kecelakaan yang parah–uhuk! Sangat berdebu!", Minseok segera menepis jauh-jauh pemikiran anehnya saat mendengar suara Baekhyun dari pojok ruangan.
"Umma!", teriak Minseok menyipitkan matanya. Ruangan ini benar-benar menjadi gelap.
"Seokkie?", seseorang berjalan mendekati Minseok dan Luhan.
"Astaga! Hantu!", teriak Luhan bersembunyi di balik tubuh Minseok. Baekhyun muncul dengan seluruh tubuh berwarna putih.
"Uhuk! Yak! Siapa yang hantu!", di belakang Baekhyun terlihat Chanyeol menghampiri. Penampilan Chanyeol cukup parah. Seluruh punggungnya berwarna hitam dan sisanya berwarna putih seperti Baekhyun.
"Appa!", teriak Minseok senang karena kedua orang tuanya selamat.
"Kenapa kalian berwarna hitam dan putih?", tanya Luhan sedikit jijik.
Baekhyun memandangi dirinya kemudian memandangi Chanyeol yang berdiri di sampingnya. "Bhhabwaahahahahahahahaha!", Baekhyun tertawa sangat keras melihat penampilan Chanyeol.
Chanyeol hanya bisa berdecak kecil dan menepuk-nepuk dirinya sendiri agar warna hitam di tubuhnya sedikit berkurang.
"Haah, untung kalian selamat", gumam Minseok lega.
"Aku tadi mendengar suara ledakan, apa suara ledakan itu yang membuat ruangan ini menjadi seperti ini?", tanya Minseok mengingat karena apa ia kemari.
"Ya, begitulah–sebuah eksperimen yang luar biasa", dengus Baekhyun memutar bola matanya lalu melirik Chanyeol.
"Apa?", tanya Chanyeol menaikkan kedua alisnya.
"Tunggu–aku tidak mengerti, jelaskan secara detail", pinta Luhan dengan wajah bingungnya.
"Tadi ummamu salah memasukkan cairan, lalu percobaan kami menghasilkan kepulan asap putih yang membuatnya menjadi seputih hantu–aw!", ringis Chanyeol karena dipukuli Baekhyun yang tidak terima disebut sebagai 'hantu'.
"Aku bukan hantu", dengus Baekhyun.
"Aku tahu", jawab Chanyeol singkat.
"Jadi–tolong lanjutkan", pinta Luhan dengan alis terangkat sebelah.
"Setelah ummamu berubah menjadi putih seperti ini–", Chanyeol memperhatikan Baekhyun.
"Ini juga karena kau tak mau menjawab pertanyaanku mengenai cairan apa itu", gerutu Baekhyun yang merasa menjadi sebuah objek presentasi.
"–Ia menyenggol rak yang berisi bermacam-macam hasil percobaan gagal sehingga semua yang berada di rak itu terjatuh ke dalam ekperimen kami–"
"Dan sebuah ledakan terjadi?", tanya Minseok mencoba untuk menebak.
Baekhyun menjentikkan jarinya. "Tepat sekali, Seokkie", ucap Baekhyun dengan wajah serius.
"Lalu kami bersembunyi di pojok ruangan sesaat sebelum ledakan dahsyat ini terjadi", ucap Baekhyun melihat sekeliling.
"Tapi–kenapa appa berwarna hitam dan umma berwarna putih?", tanya Luhan dengan mata menyipit.
Seakan teringat, Baekhyun tersenyum lebar kemudian bergelayut manja di lengan Chanyeol. "Appamu memeluk umma agar tidak terkena secara langsung efek ledakannya, hi hi", kikik Baekhyun.
"How romantic", cibir Minseok dengan kedua bola mata memutar.
"Lalu, bagaimana penawarnya?", tanya Luhan.
"Oh! My! God!", gumam Baekhyun dengan mata melotot.
Baekhyun melirik Chanyeol. "Yeobo, penawarnya–", ucap Baekhyun dengan wajah terkejutnya.
"Yah, untuk sementara lab ini tidak bisa digunakan", ucap Chanyeol santai sambil menggendikkan bahunya.
Kedua mata Minseok membola. Mulut Minseok terbuka lebar. Minseok sulit untuk bernapas. 'Tuhan! Musibah besar apa lagi yang akan datang?!'
Baekhyun menunduk. "M-Maafkan umma, sepertinya penawarnya tidak akan jadi selama tiga hari", cicit Baekhyun.
"L-Lalu bagaimana?!", tanya Minseok nyaris putus asa.
"Apa tidak ada lab lain di ruang bawah tanah ini? Kulihat banyak sekali lorong–hampir menyerupai labirin di sini", gumam Luhan.
Chanyeol menggeleng. "Tidak ada, itu hanya lorong biasa yang mengarah ke beberapa gudang penyimpanan", ucap Chanyeol.
Serasa rahang bawah Minseok akan jatuh ke inti bumi. "Jadi, Jongdae–", Minseok melirik kedua orang tuanya secara bergantian.
"Maafkan umma, sayang", Baekhyun mendekat kearah Minseok dengan wajah menyesalnya.
Chanyeol sendiri sibuk memperhatikan lab yang hampir seluruhnya berwarna hitam. "Butuh berminggu-minggu untuk membereskan ini semua", ucap Chanyeol berkacak pinggang.
Kedua bola mata Minseok melebar (lagi). "Apa?! Berminggu-minggu?!", jerit Minseok tak tertahankan.
"Tenanglah, pasti ada jalan keluar", ucap Luhan yang merasa risih dengan jeritan Minseok.
"Ya, berminggu-minggu", ulang Chanyeol menatap anak bungsunya.
"Oh! Mungkin kita masih bisa melanjutkan", ucap Baekhyun teringat sesuatu.
Minseok yang merasa setengah nyawanya pergi menatap Baekhyun meminta penjelasan. "Yeobo, kau ingat Ryeowook, 'kan?", tanya Baekhyun dengan mata berbinar.
Chanyeol terdiam sejenak kemudian menjawab ragu. "Y-Ya, kenapa?", tanya Chanyeol.
"Dia juga dulu memiliki lab, mungkin kita bisa meminjamnya–jika dia masih memilikinya! Dan mungkin juga dia bisa membantu kita agar penawarnya jadi lebih cepat jadi", ucap Baekhyun senang.
Minseok yang mendengar hal tersebut tersenyum senang. 'Ada harapan ya tuhann!'
Chanyeol menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman lebar. "Ya, mungkin bisa", ucap Chanyeol.
"Ryeowook? Siapa dia?", tanya Luhan.
"Teman kami saat Junior High School", ucap Baekhyun masih dengan senyumannya.
"Junior High School?! Memangnya kalian masih berhubungan dengannya sampai saat ini?", tanya Minseok merasa akan mendapat jawaban yang akan menghancurkan harapannya.
Senyuman Baekhyun dan Chanyeol luntur. "Oh, aku lost conact dengannya saat memasuki dunia perkuliahan", gumam Baekhyun.
"Aku tidak dekat dengannya", cicit Chanyeol kikuk.
Kubur Minseok hidup-hidup saat ini juga agar ia dapat segera bereinkarnasi dan terlahir di keluarga yang lebih normal.
.
.
.
To Be Continued
A/N : Ehmmm, bentar lagi lebaran?._. berarti aku harus pulang kampung dan epep ini akan ngaret dua minggu._. gak apa-apa 'kan? :3 Aku bakal mudik hari senin :'D Jadi maap kalo belum bisa update chap 5 besok-besok :3 MAAF BANGETTT
Ini udah satnight 'kan?._. hehehe :V Aku bahagiiiiaaaaa abiiiiisssss! (^3^) Akhirnya Masa Orientasi selesai! Terkutuklah kalian para osis , Hahaha :V Aku sebel banget dihukum sekelas padahal lagi puasa-,- tapi untunglah masa-masa tersebut telah berlalu :V Oh ya, maaf ya yang kemaren pendeks :V Soalnya aku ngetiknya berdasarkan judul per chap hehe :D Apakah ini sudah panjang? Oh ya, Setelah chap ini, YeWook akan muncul ha ha ha :V Dan maaf kalo sesuatu terjadi di siniiii :V
Balasan review
pooarie3 : Si Baekhyun kan seorang ibu juga, jadi bisa berbuat baek ha ha ha :V Si Minseok masih labil kaka :3 Kalo langsung ke inti pula … cerita ini gak bakal lanjut wks xD
Kim Eun Bom : Iya, Minseok normal … Jongin, belum saatnya Jongin mengeluarkan kata-kata emasnya #eeaaa.
BaoziKim : Makasih beb ;) :* aku gak bisa update kilat karena aku tidak bisa mmebuat kilat._. aku hanya bisa mempercepatnya saja wks xD
dobipuppychanbaek : Aku juga gleget kaka xD Yang nyari ramuan itu si Luhan sayangg~~ Ugh! Maaf ya, aku belum bisa Menuhin requestmu :'3 Jongjong akan mengeluarkan kata-kata emasnya di chapterrrr … pokoknya agak jauh deh :3 Aku masih mau pertahenin sikap (sok) coolnya Jongjong di sini xD
anoncikiciw : Iya, cepet … jangan lama-lama. Minseoknya kagak suka :V tapi di sini seseorang yang malah berubah :V Ini cinta sepihak kok, tenang aja ;) #becanda
hanagawalove : Siip, ini udah lanjut deeek ;) oh, aku line '00, kalo kamu lebih tua dari aku … panggil aja aku maru-maru :3
elfishminxiu : Apa ini udah panjang?._.
ariviavina6 : Umin normal, Jongdae? #tauAh Cintanya bisa diatur … wani piro? xD
noersa : haha sorry sorry … tebecenya gak tepat xD Kalo skrg? :3
ChanHunBaek : ChanBaek kayaknya gak bisa dibanyakin deh :D mereka sudah membuat banyak kesalahan wks, kagak dikasik ama si umin nongol terus xD
Kim Insoo : Kisiing scane._. Hehe maaf kalo ngerasa kena jebakan :V Kissing scanenya belakangan neng-,- kagak boleh cepet-cepet … lagian ada si Jongin di sono masa iya mau kissing scane -.- apa kata BIBI OH nantinyaaa #plakk
Chingu~ Cek bio aku deh, aku gak bakal buat rate M :3 percaya deh ;)
Aku berubah pikiran xD Kyungsoo aku masukin kok, ada di chap depan depannya depan #eh._. pokoknya gitu deh :D
