"Yeoboseo, Taeyon-ah, ne … ini aku, Baekhyun … aku ngin bertanya, kau tahu Ryeowook?", tanya Baekhyun.

" …"

"Ah, begitu … bisa kau kirimkan padaku alamatnya? oh, oke … terima kasih", ucap Baekhyun lalu menutup telponnya.

"Bagaimana?", tanya Chanyeol.

"Dia hanya tahu alamat rumah pamannya", gerutu Baekhyun dengan bibir mengerucut.

"Ini sudah nomor telpon ke-23 yang sudah umma hubungi, mau dilanjutkan?", tanya Luhan mendata nomor-nomor telpon yang akan Baekhyun hubungi.

"Kita cari saja ke rumah pamannya dulu, siapa tahu menemukan sesuatu", usul Minseok yang tengah menemani Kim Jong bersaudara bermain.

"Hm, sebentar … biar umma cek dulu alamatnya", ucap Baekhyun membuka e-mailnya.

"Ah! Alamatnya di Pyeongyang", gumam Baekhyun.

"Kenapa Taeyon bisa tahu alamat rumah pamannya Ryeowook?", selidik Chanyeol.

"Karena Ryeowook tinggal bersama pamannya sejak kecil, orang tuanya bekerja di L.A", jelas Baekhyun membalas e-mail Taeyon.

"Dia pulang-pergi dari Pyeongyang ke Seoul?", tanya Luhan menegapkan tubuhnya.

"Tidak, dia tinggal di Seoul bersama Seo Ahjuma", ucap Baekhyun acuh.

"Itu dia!", seru Minseok membuat seisi ruangan terkaget olehnya.

"Apanya yang itu dia?", tanya Luhan lebih mengarah ke mengejek.

"Kenapa tidak tanya ke Seo Ahjuma langsung? Kita tidak perlu ke Pyeongyang", usul Minseok senang.

"Ryeowook itu tinggal bersama Seo ahjuma di Seoul sampai kapan?", tanya Luhan bak detektif.

"Hanya saat Junior high, setelah itu dia kembali ke rumah pamannya", jelas Baekhyun menjawab pertanyaan Luhan.

"Jadi ada dua sumber informasi", gumam Chanyeol seperti sedang menganalisa kemungkinan yang ada.

"Please jangan mengubah diri dari 'ilmuwan' menjadi 'detektif'", dengus Minseok merasa keluarganya semakin aneh saja.

Baekhyun terkekeh. "Ada yang ditanyakan lagi?", tanya Baekhyun pada Luhan.

Luhan mengetuk-ngetukkan pensilnya pada memo yang ia pegang. "Kita membentuk dua kelompok saja–satu ke Seo Ahjuma, satunya lagi ke Pyeongyang", usul Luhan.

"Ide yang bagus, jadi kita akan membuat kelompok", ucap Chanyeol.

"Aku juga ikut?", tanya Minseok menujuk dirinya sendiri.

"Tentu saja", jawab Baekhyun.

"Lalu mereka berdua?", tanya Minseok menunjuk kearah Jongdae dan Jongin yang sedang berbagi beberapa mainan. Saudara yang rukun.

"Ikut bersamamu", jawab Luhan.

Minseok mendengus lalu menggembungkan pipinya kesal. "Jadi, bagaimana cara pembagian kelompoknya?", tanya Minseok dengan wajah kesalnya dan tangan yang dilipat di depan dada.

"Namja dengan namja, yeoja dengan yeoja, bagaimana?", tawar Luhan.

"Tidak bisa!", tolak Chanyeol cepat.

"eh? Wae?", bingung Luhan dengan alis berkerut.

"Kalau begitu caranya, kelompok yeoja pergi dengan kendaraan apa?", tanya Chanyeol dengan hawa kebijaksaannya.

"Mobil?", ucap Luhan ragu.

"Tidak ada yang bisa mengendarai mobil anatar Minseok maupun ummamu", jawab Chanyeol.

'Benar juga'

"Taxi kalau begitu", ucap Luhan.

"Tidak bisa, bagaimana kalau nanti taxinya berniat melakukan penculikan? Lalu mereka berdua dibawa ke suatu tempat", ucap Chanyeol.

'Benar sih'

"Kalau begitu bus", ucap Luhan.

"Sekarang bus semakin ramai, pasti akan penuh nantinya dan mereka berdua tidak akan mendapatkan tempat duduk", ucap Chanyeol.

Minseok mengangguk menyetujui. Ia juga tidak begitu suka menaiki bus karena penuhnya penumpang membuat Minseok tidak begitu leluasa.

"Kereta?", usul Luhan lagi.

"Mereka harus menunggu kereta, lalu kapan mereka akan berangkat?", ucap Chanyeol.

'Kenapa appa mengelak terus?!'

"Sudahlah yeobo, katakan saja kalau kau ingin bersamaku", ucap Baekhyun membuat perdebatan absurd Luhan dan Chanyeol berakhir.

Luhan memutar bola matanya malas saat mendengar penuturan Baekhyun. 'Ternyata maunya hanya bersama umma'

"Baiklah kalau begitu, aku bersama Minseok … umma bersama appa", ucap Luhan final.

"Kelompok yang bagus", puji Chanyeol.

Minseok dan Luhan menghela napas malas mendengar ucapan Chanyeol. "Lalu, kelompok muda kemana dan kelompok tua kemana?", tanya Minseok.

"Kelompok tua? Kelompok muda?", tanya Chanyeol dan Luhan menatap dengan tatapan bingung kearah Minseok.

"Ya, kami muda dan kalian tua", ucap Minseok menunjuk dirinya dan Luhan saat mengatakan 'kami muda' dan menujuk kedua orang tuanya saat mengatakan 'kalian tua'.

"Terserah kau sajalah", dengus Luhan.

"Kami akan ke Pyeongyang dan kalian akan ke Seo Ahjuma", jelas Baekhyun menghiraukan masalah nama kelompok yang Minseok buat dengan semena-mena.

"Tidak bisa! Kami yang ke Pyeongyang", seru Minseok. Ia ingin sekali pergi ke luar kota. Hitung-hitung jalan-jalan bersama oppanya tidak masalah, bukan?

"Kalian masih kecil, tidak boleh keluar kota", ucap Chanyeol bijak.

Jika Chanyeol sudah membuat kata-kata bijak seperti itu, Minseok pasti akan langsung bungkam dengan pipi menggembung manis. "Arasseo Arasseo", ucap Minseok cepat.

"Kajja! Kita berangkat", Baekhyun bangkit.

"Hah? Kita berangkat sekarang?", tanya Minseok menatap Baekhyun yang berdiri.

Luhan bangkit dari posisi malasnya di sofa. "Tentu saja, cepat bersiap", titah Luhan.


.

.

How To Back To Normal?

.

By : Nyanmu

Main Cast : Kim Jongdae and Kim Minseok a.k.a Park Minseok

[ChenMin]

Support Cast : Exo's member and BTS

Genre : Romance, Little bit Humor, Family, Fantasy and Friends

Rated : T

Length : Chaptered

Warn! GENDERSWITCH (GS) | Typo(s) | Alur ngebut | Kata-kata absurd dan KASAR!

.

.

Btw, genrenya aku ganti dari 'Sci-fi' ke 'Fantasy' karena aku merasa cerita ini gak ada hubungannya sama sains dan anehnya baru kusadari setelah lebaran. Maaf ya :'D #Deepbow


Chapter 5 : Aku Li Xu!

"Sekarang kemana?", tanya Luhan yang mendapat persimpangan jalan.

Minseok mencondongkan tubuhnya dan melihat papan nama jalan. "Ke Kanan", ucap Minseok.

Luhan memutar kemudi setir agar berbelok ke kanan. "Apakah sudah dekat?", tanya Luhan.

"Tinggal dua persimpangan dan satu perempatan kita akan sampai", ucap Minseok menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.

"Bum! Bum! Bummmmm!"

Minseok melihat jok belakang. Di sana terdapat Kim Jong bersaudara duduk manis menggunakan safety belt khusus anak-anak.

"Hehe, sudah menemukan kata-kata baru rupanya", ucap Minseok terkekeh.

"Lalu kemana?", tanya Luhan lagi.

Minseok membalikkan tubuhnya agar menghadap ke depan. "Ke kanan lagi", ucap Minseok.

"Setelah ini ke kiri, lalu lurus terus memasuki daerah perumahan", ucap Minseok agar Luhan tak bertanya lagi.

Luhan diam tidak menjawab ucapan Minseok, namun ia mendengarnya. Minseok yang yakin bahwa Luhan mendengarnya segera mengotak-atik ponselnya dan mengirim sebuah pesan.

.

To : Park Family's umma

Apa kalian sudah sampai?

.

Minseok menaruh ponselnya di atas dashboard. Dan tak lama, setelah mereka melewati perempatan terakhir, ponsel Minseok bergetar menandakan sebuah pesan masuk.

.

From : Park Family's umma

Belum, kami masih dalam perjalanan. Menggunakan kereta. Bagaimana dengan kalian?

.

Minseok mengangkat wajahnya setelah membaca pesan masuk dari Baekhyun. Ia melihat sekeliling. Mereka sudah sampai di daerah perumahan.

"Rumah nomor 47E, oppa", ucap Minseok tanpa perlu Luhan bertanya.

Kemudian Minseok menundukkan kepalanya dan mengetik sesuatu di layar ponselnya.

.

To : Park Family's umma

Kami sudah sampai

.

Tepat setelah Minseok mengirim balasan kepada Baekhyun, mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar hitam. Rumahnya tidak terlihat besar, namun terlihat cantik dengan penampilan luar yang tersusun rapi.

Minseok menengok ke jok belakang. "Jangan nakal", pesan Minseok kemudian membuka safety beltnya dan keluar.

"Kalau mereka menangis, beri mereka susu formula, ada di tas ini", Minseok menepuk-nepuk tas yang ada di bawah kakinya lalu ia turun.

Blam!

Minseok menutup pintu dan berjalan menuju bel rumah bernomor 47E.

Ting! Tong!

Minseok menunggu sejenak. Tidak ada yang keluar. Minseok menekan belnya lagi.

Ting! Tong!

Minseok sedikit menjinjit untuk melihat apakah ada orang. Saat merasa rumah itu sepi, Minseok hendak menekan tombol belnya kembali, namun–

Cklek!

"Ya?!", teriak seorang wanita paruh baya.

"Permisi, apa benar ini rumah kediaman keluarga Seo?", tanya Minseok dengan sopan. Ia menyusun kata-kata ini selama perjalanan tadi.

Wanita tersebut berjalan mendekati pagar dan membukanya sedikit agar ia bisa leluasa mengobrol dengan Minseok. "Ya, ini kediaman keluarga Seo, ada apa?", tanya wanita itu setelah pagarnya terbuka.

"Apa ada seseorang yang bernama Ryeowook pernah tinggal di sini?", tanya Minseok dengan pelan.

"Ryeowook? Kau mengenalnya? Kau siapa?", selidik wanita tersebut.

"A-Aku anak dari teman dekat Ryeowook", ucap Minseok dengan senyum dipaksakan.

"Teman dekat? Siapa?", tanya wanita itu dengan mata menyipit.

"B-Byun Baekhyun", ucap Minseok menyebutkan nama asli ummanya sebelum menikah dengan Chanyeol.

"Oh, Baekhyun!", ucap wanita itu teringat kemudian manggut-manggut.

"–Ryeowook sudah lama tidak tinggal di sini, dia kembali ke rumah pamannya, tapi aku dengar dia pergi ke L.A. menyusul kedua orang tuanya setelah lulus Junior High School", ucap wanita paruh baya tersebut.

"Ada perlu apa dengan Ryeowook?", tanya wanita itu.

"Oh, anu … umma mengira Ryeowook masih tinggal di sini, kami hanya ingin memastikan saja", ucap Minseok setengah berbohong dan setengah jujur.

"Ooh, begitu", ucap wanita tersebut.

"B-Baiklah, terima kasih atas informasinya … Aku pamit, permisi", ucap Minseok kemudian membungkuk sopan dan masuk ke dalam mobil.

Blam!

"Bagaimana?", tanya Luhan.

"Ryeowok pergi ke L.A. setelah lulus Junior High, pantas saja umma lost contac dengannya", ucap Minseok sambil memasang safety beltnya.

Minseok meraih ponselnya yang ia letakkan di dashboard dan segera menghubungi Baekhyun.

"Yoeboseo, umma?", ucap Minseok saat panggilan tersambung.

"Seokkie, bagaimana?"

"Katanya, Ryeowook menyusul orang tuanya di L.A. setelah lulus junior high", jelas Minseok.

"Ooo, begitu … sebentar lagi kami akan sampai di rumah pamannya Ryeowook, kalian jangan pulang dulu, mungkin saja kami mendapatkan informasi"

"Baiklah, hati-hati, umma"

Tut!

"Lalu kita kemana?", tanya Luhan yang sedari tadi memasang telinga.

Minseok menoleh ke belakang. Terlihat Jongin yang tenang dan Jongdae kecil yang mengemut tangannya sendiri. "Ini sudah hampir malam, kita makan malam saja", usul Minseok.

"Ide yang ba–"

"Huueeee!", mendadak Jongdae kecil menangis dengan kencangnya.

Minseok panic–tentu saja. "Kenapa?", tanya Minseok. Luhan ikut menoleh ke belakang. "Dia ngompol, kau tidak memakaikannya popok?", Luhan memincingkan matanya kearah Minseok.

"Astaga! Aku lupa! Tadi terlalu buru-buru", Minseok melepaskan safety beltnya dan mengganti celana Jongdae kecil dengan popok.

"Nah, Jongin … awasi Chen, ne", ucap Minseok setelah urusan mengganti popok selesai.

Minseok memakai safety beltnya lagi. Tanpa ia sadari, Luhan menatapnya penuh tanda tanya. "Chen?", bingung Luhan.

Minseok menatap Luhan kemudian tersenyum. "Nama samaran", bisik Minseok.

Luhan memutar kedua bola matanya malas. Ia menyalakan mesin kemudian menginjak kopling dan memasukkan gigi. "Seingatku itu nama bebekmu", ucap Luhan melajukan mobilnya.

.

.

.

"Jadi, ini rumahnya?", ucap Chanyeol bersedekap.

Ia memperhatikan sebuah rumah dengan tembok tinggi dan gerbang tinggi terbuat dari kayu dengan ukiran-ukiran rumit. Terlihat cukup kuno dari luar.

Baekhyun menurunkan ponsel dari hadapannya dan mengangguk mantap. "Begitu yang Taeyon kirimkan, ini rumahnya", jawab Baekhyun.

Baekhyun melangkah dan menekan bel di tembok dekat gerbang. Ia mengernyit saat tidak mendengar suara apa pun saat menekan bel tersebut.

"Apa belnya tidak berfungsi?", gumam Baekhyun.

"Kenapa?", tanya Chanyeol mendekat.

"Mungkin belnya tidak berfungsi", gumam Baekhyun sedikit berjinjit agar dapat melihat ke dalam.

"Coba lagi", ucap Chanyeol.

Baekhyun menurut dan mencobanya lagi. Namun tidak ada suara khas dari bel rumah. Chanyeol menatap lekat pintu kayu yang ada di hadapannya.

"Permisi!", teriak Chanyeol.

Tidak ada jawaban. "Permisi!", teriak Chanyeol lebih keras.

"Mungkin sudah pindah", gumam Baekhyun menghubungi Taeyon untuk memastikan bahwa pamannya Ryeowook tidak pindah.

Krek! Krieeeek!

Pintu kayu di hadapan Chanyeol terbuka. Namun Chanyeol tak melihat adanya seseorang. 'Aih! Hantu?!'

"Y-Ya?", Chanyeol sedikit menundukkan kepalanya dan mendapati seorang yeoja kecil mengintip dari balik pintu kayu.

Chanyeol menyikut Baekhyun yang membelakangi pintu kayu. "Ada ap–oh, sudah terbuka", ucap Baekhyun berbalik cepat.

"Kami mencari–Ryeowook", ucap Chanyeol.

"Ryeowook ahjuma?", ucap yeoja kecil itu.

"Y-Ya, Ryeowook ahjuma", ucap Baekhyun ragu.

"Ryeowook ahjuma tidak ada di sini, Ryeowook ahjuma tidak akan kemari sebelum akhir pekan", jelas yeoja kecil tersebut.

"Sebelum akhir pekan?", gumam Baekhyun.

"Ya, sebelum akhir pekan … karena Ryeowook ahjuma harus bekerja", ucap yeoja kecil itu.

"Kalau boleh tahu apa pekerjaannya?", tanya Chanyeol ramah.

Yeoja kecil itu terdiam sejenak kemudian membalikkan kepalanya agar melihat ke dalam. Chanyeol dan Baekhyun mengikuti arah pandang yeoja kecil itu dan terlihatlah sosok kakek yang tengah merawat bunga.

.

.

.

Blam!

"Ini Café terdekat?", gerutu Minseok setelah menutup pintu mobil.

"Mau bagaimana lagi, kau mencari café–bukan rumah makan", ucap Luhan seperti mengejek setelah keluar dari mobil.

"Terdekat dengan waktu satu jam? Oppa sudah gila, atau mungkin otak oppa sedikit error, itu disebut jauh bukan terdekat", Minseok membuka pintu tengah agar bisa mengambil Jongin.

Luhan mendecak kesal. Ia membuka pintu tengah dan mengambil Jongdae. Tidak mungkin jika Minseok menggendong Jongdae dan Jongin bersamaan, bukan?

"Paling tidak makanan di sini enak", ucap Luhan setelah mengambil Jongdae.

"Dari mana oppa tahu? Memangnya oppa pernah kemari?", tanya Minseok setelah mengambil Jongin.

Minseok berjalan kearah Luhan yang sudah berdiri di depan mobil. "Pernah, tentu saja–cukup jauh dari tempatku, namun makanan di sini enak, aku jamin", ucap Luhan sambil mengunci mobil secara otomatis.

Luhan berbalik hendak masuk. Minseok menghela napas panjang dan mengikuti Luhan. "Apakah ada makanan bayi?", tanya Minseok.

"Aku tidak tahu, aku tidak pernah begitu memperhatikan menu, kita bisa tanya nanti", ucap Luhan sambil membuka pintu masuk café.

"Haaah, tahu begini kita ke tempat Jungkook saja kalau begitu", gerutu Minseok sambil menahan pintu agar ia bisa masuk juga.

Luhan berjalan menuju meja dekat tembok di bagian tengah. Minseok terus saja mengikuti Luhan di belakangnya.

Minseok duduk di bangku panjang yang menyatu dengan tembok bersama dengan Jongin dan Jongdae, sedangkan Luhan duduk di hadapan Minseok.

Luhan mengangkat tangannya dan seorang pelayan wanita datang. Wajahnya cantik, rambutnya–sepertinya panjang–diikat menggulung sedikit berantakan. Beberapa anak rambutnya tidak ikut terikat namun tertata rapi bersama poninya yang hanya sampai alis.

Yeoja itu tersenyum siap mencatat pesanan Luhan maupun Minseok. "Mau pesan apa?", tanya pelayan tersebut sambil menyerahkan buku menu kepada Luhan dan Minseok.

Luhan meraih buku menu tersebut dan membacanya dengan seksama. Berbeda dengan Luhan, Minseok meraih buku menu tersebut cukup lama karena sempat membaca name tag pelayan tersebut.

"Baiklah, aku … cappuccino dan chocolate creamy cake", ucap Luhan kemudian menutup buku menu. Luhan menatap Minseok meminta ia untuk menyebutkan pesanannya.

Minseok membaca dengan teliti isi menu yang ada. "Aku … Cheese cake, coffee dengan gula setengah, dan–", Minseok menurunkan buku menu yang menutupi wajahnya.

Ia mengantungkan kalimatnya membuat yeoja bername tag 'Li Xu' berhenti mencatat. "Susu dua gelas", ucap Minseok melirik Jongdae dan Jongin di sebelahnya.

Li Xu mencatat pesanan Minseok kemudian tersenyum. "Hanya itu?", tanya Li Xu ramah.

"Sebenarnya ada lagi", cicit Minseok tersenyum kikuk.

"Ya, anda bisa menyebutkannya", ucap Li Xu bersiap untuk mencatat.

"Hmm, sebenarnya pesanan ini tidak ada di menu, tapi–", Minseok menjeda sejenak.

"Bisakah kau membuat bubur bayi? Ini seperti pesanan khusus, aku akan membayarmu kalau kau membuatkannya", cerocos Minseok.

Li Xu terdiam sejenak. Kemudian tersenyum. "Tentu saja", ucap Li Xu. Minseok menghela napas lega. "Ada lagi yang lain?", tanya Li Xu.

Minseok menggeleng dengan senyum lebarnya. Kemudian Li Xu pergi untuk membuat pesanan mereka.

"Kau yang traktir?", tanya Luhan.

Minseok mendelik tajam kearah Luhan. "Siapa yang lebih tua di sini? Bertanggung jawablah kepada yang lebih muda", ucap Minseok.

Luhan mendesis. Ia menumpu dagunya dengan tangan kanannya di atas meja. Sedangkan tangan kirinya terlipat manis di atas meja. Ia memperhatikan interaksi Minseok dengan Kim Jong bersaudara.

"Kau tidak mengajarkan Chen apa pun?", tanya Luhan dengan mendekan nama samara Jongdae.

Minseok melirik dengan tatapan bingung. "Mengajarkan apa?", bingung Minseok.

"Seperti mengatakan sebuah kata, atau minum sendiri, atau sejenisnya, kau tidak mengajarinya?", tanya Luhan mengangkat dagunya dengan alis berkerut.

"Memangnya perlu?", bingung Minseok.

"Astaga, dia anak kecil–tentu saja perlu", gerutu Luhan.

"Dia bukan anak kecil, dia menjadi anak kecil untuk sementara", ucap Minseok memutar bola matanya malas.

"Tapi cara berpikirnya berubah menjadi anak kecil", gerutu Luhan.

"Memangnya aku harus mengajarkan apa?", akhirnya Minseok mengalah.

"Beri aku contoh", tantang Minseok bersedekap.

"Mudah", ucap Luhan meremehkan.

"Jonginnie~ Poppo", ucap Luhan mencondongkan tubuhnya kearah Jongin dan menunjuk pipinya.

Jongdae kecil dan Minseok memperhatikan apa yang akan Luhan dan Jongin lakukan. Jongin menumpu tubuhnya dengan kedua tangannya di atas meja dan mencium pipi Luhan. Setelah itu ia duduk kembali.

Luhan tersenyum lebar. "Chen? Poppo?", tanya Luhan mengarahkan pipinya kearah Jongdae.

Jongdae kecil mencondongkan tubuhnya dan mencium pipi Luhan. Luhan menarik tubuhnya kembali. Wajahnya masih dihiasi dengan senyuman.

"Seperti itu", ucap Luhan bangga.

"Haah, kalau itu aku juga tahu", dengus Minseok.

"Poppo!", teriak Jongdae kecil dan mencium pipi Jongin.

Luhan tertawa. "Dia cepat belajar", kekeh Luhan.

Jongdae kecil menoleh kearah Minseok dan mengulurkan kedua tangannya kearah Minseok. Minseok kebingungan dengan tingkah Jongdae kecil dan menjabat kedua tangan Jongdae kecil.

"Apa?", bingung Minseok masih menjabat kedua tangan Jongdae kecil.

"Kau ingin digendong?", tanya Minseok. Kemudian ia mengangkat tubuh Jongdae kecil dan menaruhnya di atas pangkuannya.

Jongdae kecil terus mengemut tangan kanannya. Minseok menatap–sedikit–jijik kearah Jongdae kecil. Jongdae kecil yang menghadap langsung kearah Minseok menatapnya dengan tatapan innocent.

Jongdae kecil melepaskan tangannya dari mulutnya. "Poppo!", Jongdae kecil langsung mencium pipi Minseok. Membuat Minseok membeku di tempat.

Sesuatu berdetak di dalam dada Minseok membuat sebuah kebisingan menyenangkan bagi si pemilik. Dan samar-samar, daun telinga Minseok memerah–tanda bahwa ia malu.

'Astaga! Minseok! Dia anak kecil! .Kecil! Kau tidak mungkin menyukai anak kecil, bukan? Aku bukan pedo astaga!'

'Tapi dia ini Jongdae …'

Minseok menatap tidak percaya kearah Jongdae kecil dengan mulut terbuka. Jongdae kecil yang melihat reaksi Minseok terkikik seperti mendapat hiburan.

"Hmppffttt"

Minseok menoleh cepat kearah Luhan yang sedang menahan tawa. Wajah Minseok yang terkejut seperti itu sangat lucu–menurut Luhan.

Minseok yang tadinya kaget dengan tingkah Jongdae kecil segera merubah wajahnya menjadi tatapan jijik dan mengelap pipinya yang terkena saliva Jongdae kecil.

"Astaga, menjijikan", desis Minseok mengambil tisu dan mengelap pipinya sendiri serta mulut Jongdae kecil yang terkena salivanya sendiri.

"Haha, menjijikan? Mengaku saja kau terkejut, aku akui kalau dia tetaplah Jongdae", kikik Luhan.

Minseok melayangkan death glarenya pada Luhan. Namun Jongdae kecil malah tertawa melihat Minseok melayangkan death glarenya. "Kenapa kau tertawa?!", tanya Minseok sarkastik.

"Haha, bahkan anak kecil saja tahu bahwa death glare milikmu itu tidak seram sama sekali", tawa Luhan.

Minseok mendecak kesal. Matanya berkeliaran melihat sekeliling. Asal tidak melihat wajah menyebalkan oppanya itu. Dan matanya menangkan keberadaan Li Xu yang mengarah ke meja mereka.

"Pesanan", ucap Li Xu ramah saat ia menaruh minuman dan makanan pesanan Minseok dan Luhan.

"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya", ucap Luhan menarik cappucinonya yang diletakkan di tengah meja.

Li Xu terkekeh. "Aku baru di sini, permisi", ucap Li Xu mengambil pesanan lainnya.

Minseok menarik coffeenya dan Cheese cake miliknya. "Memangnya kapan oppa terakhir kali kemari?", tanya Minseok menyesap kopinya.

"Sekitar … tiga bulan yang lalu", ucap Luhan.

Minseok memotong Cheese cakenya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. "Apa mereka bisa makan cheese cake?", tanya Minseok menatap Jongdae dan Jongin.

Jongdae menarik-narik lengan baju Minseok untuk meminta makanan yang Minseok makan. Sedangkan Jongin yang sudah–agak–mandiri mengambil gelas susu perlahan dan meminumnya.

"Jangan beri krimnya, beri dalamnya saja", ucap Luhan sambil memakan cakenya.

Minseok menyingkirkan krim tebal yang ada di atas cakenya dan memberikan isinya kepada Jongdae. Jongin yang melihat Jongdae kecil disuapi hanya diam sambil memperhatikan.

Minseok lupa kalau Jongin itu anak yang pendiam. Ia tidak akan mengatakan bahwa ia menginginkan sesuatu. Jadi, Minseok juga menyuapi Jongin.

Li Xu datang dengan pesanan khusus Minseok. "Ini pesanan khususnya, hati-hati … masih panas", ucap Li Xu dengan senyumannya. Setelah meletakkan semangkuk besar bubur bayi, ia segera pergi.

Minseok mengangguk dan menarik semangkuk besar bubur bayi. Minseok segera menghabiskan cakenya agar ia dapat menyuapi Jongin dan Jongdae.

Minseok menyendok buburnya dan meniupnya sebelum menyuapinya kepada Jongdae. Jongdae yang pertama, kemudian Jongin.

"Fuuu Fuuu, Aaa", ucap Minseok mengarahkan sendoknya kepada Jongdae kecil.

"Fuuu Fuuu", bukannya langsung melahapnya, Jongdae kecil mengikuti Minseok meniup terlebih dahulu bubur yang disendok oleh Minseok.

Minseok tertawa geli melihat tingkah Jongdae kecil. "Aaaa, buka mulutmu", ucap Minseok.

Jongdae kecil membuka mulutnya dan memakan bubur yang diberikan oleh Minseok. Kemudian Minseok melakukan hal yang sama kepada Jongin, masih sedikit terkikik.

Luhan bangkit dari duduknya karena ponsel yang berada di sakunya bergetar. Tertera di layar siapa yang menelpon :

'Mom's calling'

Luhan segera mengangkat panggilan tersebut.

"Yeoboseo, umma?", ucap Luhan meletakkan sendoknya.

"Luhan, kenapa adikmu tidak bsia dihubungi?"

Luhan melirik Minseok. Dan ia teringat bahwa ponsel Minseok diletakkan di dashboard mobil. "Ponsel Minseok ada di mobil, kami sedang makan malam di café, ada apa, umma?", tanya Luhan setelah menjelaskan.

"Kalian di café? Café mana? Kami akan menyusul, kami belum makan malam hehe"

"Café di dekat perempatan di deretan hotel, umma tahu 'kan deretan hotel hanya ada satu tempat di kota ini?"

"Oh, baiklah … umma tahu"

"Bagaimana dengan di sana? Apa ada informasi?", tanya Luhan sambil menyesap cappucinonya.

"Ya, kami dapat kabar bagus!"

"Kabar bagus apa?"

"Ryeowook sudah kembali dari L.A., dia tinggal di Seoul–kami tidak tahu alamat pastinya, tapi dia bekerja sebagai pelayan, oh! Kalau bisa kalian cari Ryeowook di café-café Seoul yang kalian tahu"

Tut!

Luhan meletakkan ponselnya di atas meja dan menghabiskan cappucinonya. "Umma?", tanya Minseok sambil menyuapkan bubur kepada Jongin.

"Ya, kita harus mencari Ryeowook di café-café Seoul yang kita tahu", ucap Luhan meletakkan cangkirnya.

"Kita mulai saja dari sini", ucap Minseok.

Minseok memanggil seorang pelayan pria yang kebetulan berada di dekatnya. "Hm, apa ada pelayan bernama Ryeowook di sini?", tanya Minseok.

Namun pelayan itu menjawab 'tidak ada'. "Berarti bukan di sini", ucap Luhan setelah pelayan tersebut pergi.

"Hei oppa", panggil Minseok.

"Apa? Kita pergi setelah buburnya habis", ucap Luhan.

"Apa oppa tahu cirri-ciri dari Ryeowook?", tanya Minseok.

Luhan terdiam. "Tidak, kau?", tanya Luhan.

"Tidak, Ryeowook itu yeoja atau namja?", tanya Minseok.

"Tidak tahu juga", ucap Luhan.

"Lalu bagaimana cara kita mencarinya?", desah Minseok lelah masih menyuapi Kim Jong bersaudara.

"Kita tunggu saja di sini", ucap Luhan.

"Menunggu siapa?", bingung Minseok.

"Umma dan appa akan menyusul kemari, kita menunggu mereka datang saja", ucap Luhan kembali memesan sebuah cake.

"Hm, baiklah", ucap Minseok menaruh mangkuk bubur tersebut dan memberikan segelas susu kepada Jongdae kecil.

.

.

.

"Mereka ada di sini", ucap Chanyeol melepaskan safety beltnya sambil melihat mobil yang terparkir di sebelah mobilnya.

"Mereka tidak pergi mencarinya?", bingung Baekhyun membuka pintu mobil.

"Mungkin saja", ucap Chanyeol keluar dan menutup pintu.

Baekhyun segera menutup pintu dan masuk ke dalam café sedikit terburu. Pandangannya mengedar mencari kedua anaknya tersebut.

"Umma!", teriak Minseok dari tempat duduknya.

Baekhyun menoleh dan mendapati Minseok, Luhan, Jongdae kecil, dan Jongin di sebuah meja. Ia segera menghampiri mereka. Disusul oleh Chanyeol.

"Kenapa kalian masih di sini?", tanya Baekhyun dengan wajah kesal.

"Kami tidak tahu siapa itu Ryeowook, apakah dia yeoja atau namja, ciri-cirinya dan sebagainya", jawab Luhan enteng.

"Ya, oppa benar", ucap Minseok.

Baekhyun duduk di sebelah Luhan dan meraih buku menu yang ada di hadapan Luhan. "Kalau begitu nanti kita cari bersama", ucap Baekhyun.

Minseok dan Luhan mendesah malas. "Apakah tidak bisa besok saja?", tanya Minseok malas sambil mengaduk-aduk milkshake yang ia pesan saat menunggu Baekhyun dan Chanyeol datang.

"Lebih cepat lebih baik", ucap Chanyeol mengangkat Jongin dan menaruh Jongin di pangkuannya setelah ia mengambil alih tempat duduk Jongin.

"Kalian sudah lama menunggu?", tanya Baekhyun, namun matanya focus kepada buku menu.

"Ya, cukup lama, kami datang saat langit berwarna oranye, dan kalian datang saat langit berwarna hitam gelap, great", gerutu Minseok menumpu pipinya dengan tangan kanannya.

"Dari Pyeongyang kemari cukup jauh", ucap Chanyeol menyadari bahwa kedua anaknya lelah menunggu.

Baekhyun mengangkat tangannya dan seorang pelayan wanita datang. Baekhyun menutup buku menu dan menatap suaminya. "Kau pesan apa, yeobo?", tanya Baekhyun.

"Samakan saja", ucap Chanyeol sambil bermain dengan Jongdae kecil.

"Poppo!", teriak Jongdae kecil dan mencium pipi Chanyeol.

"Wah! Siapa yang mengajarinya?", tanya Chanyeol menatap kedua anak kandungnya.

"Oppa, siapa lagi", dengus Minseok mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Ia merasa lelah seharian ini.

"Mau pesan ap–"

Pelayan wanita yang ternyata Li Xu tersebut terdiam melihat kedatangan Chanyeol dan Baekhyun. Minseok mengernyit mendengar ucapan Li Xu terhenti.

"Aku Milk–", Baekhyun yang tadinya hendak menyebutkan pesanan membulatkan kedua matanya.

"Ryeowook!", teriak Baekhyun terkejut. Ia sampai berdiri dan jari telunjuknya menuding kearah Li Xu.

Chanyeol yang tadi bermain dengan Jongdae mengangkat wajahnya dan menatap tidak percaya kearah yeoja dihadapannya. "Ryeowook", cicit Chanyeol.

"Ryeowook?", bingung Luhan dan Minseok.

Li Xu yang tadi sempat kaget membersihkan tenggorokannya dan mengetuk-ngetukkan pulpennya pada catatan yang ia bawa. "Pesanannya?", tanya Li Xu berusaha bersikap professional.

"Ryeowook! Kau Ryeowook! Aku tidak mungkin melupakanmu! Kau Ryeowook", tuding Baekhyun keras kepala.

"Tidak nyonya, aku Li Xu", Li Xu menunjukkan name tagnya dengan wajah datarnya.

"Ryeowook! Kau Ryeowook!", teriak Baekhyun.

"Umma, sudahlah, jangan berteriak", ucap Minseok yang merasa tidak enak menjadi pusat perhatian.

"Banyak orang yang berwajah sama, umma", gumam Luhan menutup wajahnya dengan telapak tangan menahan malu.

"Tidak! Aku-Li Xu!", ucap Li Xu menekan setiap kata.

"Ryeowook! Kau Ryeowook! Astaga! Kau tidak berubah, kami mau meminta bantuanmu", ucap Baekhyun menurunkan volume suaranya dan senyuman di wajahnya mengembang.

"Aku-bukan-Ryeowook", ucap Li Xu sedikit kesal.

"Ryeowook!", Baekhyun tetap ngotot dengan nada kesal.

"Li Xu!"–Li Xu.

"Ryeowook!"–Baekhyun.

"Li Xu!"–Li Xu.

"Ryeowook!"–Baekhyun.

"Li Xu! Li Xu! Li Xu! Li Xu! Li Xu!"–Li Xu.

"Ryeowook! Ryeowook! Ryeowook! Ryeowook!"–Baekhyun.

"Li Xu!"–Li Xu.

"Li Xu!"–Baekhyun.

"Ryeowook!", Li Xu segera menutup mulutnya saat ia salah berucap. Baekhyun tersenyum penuh kemenangan.

"M-Maksudku Li Xu", ralat Li Xu sedikit gelagapan.

"Jawab pertanyaanku dengan cepat!", ucap Baekhyun cepat dan memaksa.

Li Xu terlihat terkejut. "Ap-apa? Perta–"

"Siapa itu Seo ahjuma?", tanya Baekhyun memotong perkataan Li Xu.

"Mana kutahu!", jawab Li Xu cepat dengan alis bertaut sedikit kesal.

"Dimana Ryeowook berskeolah?", tanya Baekhyun.

"Mana kutahu! Bahkan aku tidak mengenal Ryeo–"

"Siapa itu Jongwoon?", Baekhyun memotong perkataan Li Xu lagi dengan mengajukan pertanyaannya.

"Astaga kau mengingat–aku tidak tahu!", Li Xu segera mengganti perkataannya saat ia akan mengatakan sesuatu yang salah.

Baekhyun tersenyum lebih lebar. Ia sangat yakin bahwa yeoja di hadapannya ini Ryeowook. Sedangkan Li Xu sudah mengeluarkan keringat dingin di pelipisnya melihat senyuman–seringaian–Baekhyun.

"Siapa itu Cho saem?", tanya Baekhyun dengan seringaian semakin lebar.

"Aku tidak tahu!", bentak Li Xu penuh amarah.

"Wookie~", ucap Baekhyun sedikit centil.

Seketika wajah Li Xu merona. "Siapa yang kau panggil?! Aku Li Xu!", kesal Li Xu dengan wajah merah antara menahan marah atau malu.

"Bagaimana dengan D24?", tanya Baekhyun cepat.

"Kimia–apa itu?! memangnya kau pikir aku tahu?!", jengit Li Xu kembali sedikit salah berucap.

"Ryeowook!", teriak Chanyeol dengan suara menggelegar.

"Ya aku di–kenapa kau berteriak tuan? Tidak ada yang bernama Ryeowook di sini", Li Xu mendelik tajam kearah Chanyeol.

"Apa itu F000167?", tanya Baekhyun cepat seperti kereta ekspress.

"Oh, itu eksperimen gagalku, kau masih … mengingat–nya?", perkataan Li Xu mengecil di akhir kalimat.

Chanyeol dan Baekhyun tersenyum puas dengan jawaban Li Xu. Mereka mengangguk meng'iya'kan pertanyaan Li Xu. Sedangkan Minseok dan Luhan terbengong tidak mengerti dengan apa yang terjadi di antara umma mereka dengan Li Xu.

"Kau Ryeowook!", ucap Baekhyun berkacak pinggang merasa menang. Sedangkan Li Xu hanya mendesis dengan wajah tertunduk.

'Sialan mulut ini!', rutuk Li Xu dalam hati.

Sudah dapat dipastikan bahwa Li Xu adalah Ryeowook.

.

.

.

To Be Continued

A/N : Kalian ngerasa gak kalo makin lama makin banyak konfliknya?.-. apakah cerita ini semakin garing? Atau semakin seru? Semoga aja semakin seru yah :'D

Oh ya, maaf banget aku telat update Pengennya sih update pas hari senin. Tapi berhubung baru masuk sekolah dan aku capek abis-,- jadi aku undur :'D~ Dan niatnya aku mau next kemaren, tapi kemaren ffn gak bisa dibukaaaaaaa huaaaa :'(

Setelah ini kayaknya aku bakal next setiap malming aja deh :'D Soalnya aku pake K-13, katanya loh katanya bakal banyak tugas-,-

Oke, sekian cuaps cuapsnya :'D

Balasan Review

UswatunKh20 : Sorry, SuLay kagak bakal muncul di sini haha :'D Emang keluargamu aneh gimana? Ini chap selanjutnya bebs :*

anoncikiciw : Iyaaa, Yewook :3 Sebenernya aku gak begitu suka couple SuJu sih, tapi berhubung sohib aku itu penyebar virus shipper apa aja #aelah-_- aku pun tertular :3 Haha xD Aku bener-bener abis ide soal berubahnya Chen jadi bayi wks :V Hehe iya, ini lanjutannya tapi agak lama, sorry :'D

KimElsa17 : Mau ramuan cinta? Anda bisa order langsung ke ChanBaek :3 Dijamin gak bakalan kekirim :V

dobipuppychanbaek : Aku suka review loh xD Nyemangetin deh :3 Sampe2 si jongjong enyam-senyum sendiri #plakk xD

elfishminxiu : Jongin jadi dewasa?o.O Mungkin dia bakal menjadi sosok yang cerewet xD

pooarie3 : Waaaaa! Kau sering sekali mereview~~~ Gak pernah ketinggalan :3 Kamu ngira Jongin yang bakal minum ramuan? Itu mah jebakan wks xD Si Luhan mah sok sibuk -,- Iyaaa! Baby kyung bakal keluaarrr … bocoran dikit, baby Kyung bukan jadi bayi :3

ariviavina6 : Iya nih, kamu kok baru review -,- Aku marah nih #ngambekmode

Kim Insoo : Sorry sorry._. Nama Luhannya kehapus :'D Sebenernya 'Xi Luhan, Zhang Yixing, …' Tapi waktu itu entah aku kenapa aku menghapus kata 'Luhan dan Yixing' Huhuhuuuuu map bangeeeettt :'( Luhan 'kan anaknya Chanyeol, jadi marganya Park dong xD. Jongdae gak lama2 kok jadi bayinya, tenang ajah :3. Oh, aku baru masuk SMA, skrg kelas baru, anak baru getoh xD Kita seumuran?! Waaaah Daebakk! Aku manggil kamu apa ya biar akrab._.

Jung Jae In : Aku gak tau kalo Yewook itu fav pair :'D Yang jelas aku suka aja denger kata 'Yewook' 'Yewook' gitu, soalnya sohib aku ngaku-ngaku jadi anak mereka #hueeek xD Eh? Kok terima kasih buat lanjutan? Aku bakal tetep ngenext kok ;) Aku gak bakal end di tengah jalan *Horeeee

ChenMin EX-Ochy : Kamu ketinggalan banget deh Chy-,- Mau lihat foto aku? Wahahahaha, silakan lihat orang-orang cantik, itulah aku #plakk xD Namanya Chen bisa dihubungin sama nama bebek? Soalnya si Xiu punya boneka bebek kesayangan dan namanya Chen. Yang tahu nama Chen cuma si Luhan :3

Terima kasih untuk yang Fav dan Follow :3 Semoga peminat epep ini bertambah xD

Untuk new reader~ Jangan lupa cek bio aku dan mereview :3 Makasiiiiihhhhhh muach :*