Di sebuah apartement yang cukup mewah. Terdapat tujuh manusia yang duduk dengan santai di sofa empuk ruang tamu milik Li Xu alias Ryeowook.

"Jadi, kau sungguh Ryeowook, 'kan?", ini adalah pertanyaan yang sama yang ditanyakan oleh Luhan untuk ke sekian kalinya.

Ryeowook menggeram kecil. "Ya", ucap Ryeowook.

"Oppa, kau menanyakan hal yang sama berulang kali", keluh Minseok.

"Maafkan aku, tapi aku sungguh terkejut bahwa Li Xu adalah–"

"–Ryeowook", lanjut Minseok dengan wajah malas.

"Apa kalian sudah puas bertanya?", tanya Ryeowook.

"Aku ingin bertanya!", seru Minseok.

Ryeowook terdiam menunggu pertanyaan dari Minseok. "Siapa itu Jongwoon?", tanya Minseok.

"Ya, aku mau menanyakan itu tadi", ucap Luhan melirik Minseok.

Wajah Ryeowook tiba-tiba memerah dan ia menunduk. Dan tiba-tiba Baekhyun tertawa sangat keras hingga membuat Jongdae kecil terkaget.

"Wahahahaha!", tawa Baekhyun.

"Hueeee!", tangis Jongdae kecil karena kaget mendengar tawa menggelegar Baekhyun.

Chanyeol segera menggendong Jongdae kecil dan menenangkannya. "Jongwoon itu sunbae kami di sekolah", ucap Baekhyun yang berhasil mengontrol tawanya tanpa memperdulikan Jongdae kecil yang menangis karena tawanya sendiri.

"Lalu, hubungannya dengan wajah Ryeowook ahjuma memerah?", tanya Minseok menunjuk wajah Ryeowook yang memerah.

"Hei! Aku belum menikah! Panggil unni saja", cibir Ryeowook masih menunduk.

"Omona! Kau belum menikah? Kupikir kau dengan Ye–"

"Kami lost contact", jawab Ryeowook cepat dengan wajah semakin menunduk.

"Ada hubungan apa Ryeowook unni dengan Jongwoon itu?", bingung Minseok.

"Mereka berpacaran", ucap Baekhyun dengan cengirannya.

"Oh, begitu", ucap Minseok manggut-manggut.

"Lalu hubungan kalian sekarang?", tanya Luhan.

"Aku tidak tahu", Ryeowook memalingkan wajahnya kearah lain.

"Oke, ganti pertanyaan", ucap Minseok merasa hal mengenai 'Jongwoon' tidak perlu diteruskan.

"Lalu, Cho saem?", tanya Minseok.

"Dia guru killer", jawab Baekhyun dan Ryeowook bersamaan.

"Bagaimana dengan 'wookie~'", ucap Luhan meniru gaya bicara Baekhyun saat menyebutkan 'wookie' untuk membuktikan bahwa Li Xu adalah Ryeowook.

Baekhyun tertawa dan Ryeowook menutup wajahnya dengan bantal. Ia sibuk menggumamkan sumpah serapah untuk Baekhyun yang memiliki mulut ember.

"Itu panggilan sayang dari Jongwoon ha ha ha", tawa Baekhyun.

Bruk!

Ryeowook yang kesal dengan tawa menggelegar Baekhyun pun melemparkan bantal yang ia gunakan untuk menutup wajahnya kearah Baekhyun.

"Aw! Astaga", ringis Baekhyun sambil mengusap hidungnya yang terkena lemparan bantal.

"Lalu–D24?", tanya Minseok mencoba untuk mengingat-ingat.

"Itu eksperimen pertama wookie~", ucap Baekhyun sengaja menggunakan nama sayang dari Jongwoon.

"Astaga baek, berhentilah", Ryeowook membuang muka. Dan Baekhyun semakin keras tertawa.

"Saat appa meneriakan 'Ryeowook!' tadi itu untuk apa?", bingung Luhan.

Chanyeol terkekeh. "Dia biasa membantu di lab, dia akan menjawab 'Ya! Aku datang' atau 'Ya! Aku di sini' jika dipanggil, sehingga itu menjadi sebuah kebiasaan saat namanya dipanggil dengan lantang", kekeh Chanyeol.

"Seharusnya aku tidak bertemu dengan kalian, kalian hanya menguak masa lalu anehku", gerutu Ryeowook.

Minseok membentuk mulutnya menjadi huruf 'o' dan Luhan mengangguk mengerti. "Apa ada pertanyaan lagi?", tanya Ryeowook dengan nada menyindir.

"Aku!", Baekhyun mengangkat tangan dengan tinggi di udara.

"Kenapa kau menggunakan nama 'Li Xu'?", tanya Baekhyun.

Sepertinya ini adalah pertanyaan utama dari sekian banyak pertanyaan yang Minseok dan Luhan lontarkan. Semuanya penasaran dengan alasan Ryeowook menggunakan nama 'Li Xu'.

"Aku memulai hidup baru dengan nama 'Li Xu'", ucap Ryeowook ambigu. Membuat seisi ruangan ini mengernyit bingung.


.

.

How To Back To Normal?

.

By : Nyanmu

Main Cast : Kim Jongdae and Kim Minseok a.k.a Park Minseok

[ChenMin]

Support Cast : Exo's member and BTS

Genre : Romance, Little bit Humor, Family, Fantasy and Friends

Rated : T

Length : Chaptered

Warn! GENDERSWITCH (GS) | Typo(s) | Alur ngebut | Kata-kata absurd dan KASAR!

.

.


Chapter 6 : Please Help Us!

"Apa maksudmu dengan 'memulai hidup baru dengan nama 'Li Xu'? memangnya kenapa dengan nama 'Ryeowook'?", bingung Baekhyun.

Ryeowook menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa dan menghembuskan napas pelan. "Kau 'kan tahu bahwa aku menyukai eksperimen sejak kita sekelas?", tanya Ryeowook pada Baekhyun.

"Ya, aku tahu", ucap Baekhyun.

"Setelah lulus junior high, aku terus melakukan eksperimen dan aku menemukan sebuah ramuan hebat! Sangat hebat!", seru Ryewook dengan gaya berlebihan.

"Ramuan apa?", tanya Baekhyun tertarik.

"Ramuanku itu–dapat membuat tumbuhan tumbuh seratus kali lebih cepat", ucap Ryeowook memejamkan matanya.

"Itu bagus! Pasti kau dicari oleh banyak orang untuk membeli ramuanmu dengan harga tinggi, kau bisa langsung jadi miliyarder", ucap Minseok excited.

"Itu dia!", seru Ryeowook membuka matanya sambil menuding Minseok.

"Itu dia masalahnya", lanjut Ryeowook menurunkan telunjuknya.

"Aku memang untung besar saat awal-awal, tapi keuntunganku itu membawa bencana", ucap Ryeowook.

"Kenapa?", bingung Luhan.

"Karena hanya aku yang tahu bagaimana cara membuat ramuan itu, banyak orang yang mencoba untuk menculikku, dan karena aku berpenghasilan banyak, banyak pula yang mau merampokku, aku terancam karena hal itu!", seru Ryeowook.

"Lalu, bagaimana dengan kedua orang tuamu?", tanya Baekhyun merasa hidup Ryeowook itu sebenarnya cukup sulit.

"Mereka senang, mereka bangga … tapi karena hal itu membuatku terancam bahaya, mereka memutuskan untuk mengubah hidupku–mulai dari nama, tempat tinggal, data hidupku, dan seluruhnya", jelas Ryeowook.

"Maka dari itu kau tinggal di apartement ini sendirian?", gumam Chanyeol.

"Ya, begitulah", jawab Ryeowook.

"Lalu namamu berubah menjadi Li Xu?", tanya Baekhyun.

"Ya, jadi tolong … jangan memanggilku 'Ryeowook' di luar sana", pinta Ryeowook.

"Oke, Li Xu", kekeh Baekhyun.

Ryeowook tersenyum melihat kerabat lamanya kini menjadi seorang ibu. Ia tidak menyangka bahwa Baekhyun bisa mengurus anak. "Apa pekerjaanmu, baek?", tanya Ryeowook.

"Iya! Bahkan aku sebagai anaknya saja tidak tahu apa pekerjaan ummaku sendiri, umma dan appa selalu menghabiskan waktu di laboratorium bawah tanah", gerutu Minseok.

"Astaga! Kalian benar-benar ilmuwan gila", gumam Ryeowook.

"Dulu kau juga seperti kami", cibir Baekhyun tidak terima.

"Di laboratorium itu hanya sebagai hobi kami saja", ucap Chanyeol.

"Lalu pekerjaan kalian?", tanya Ryeowook, Luhan, dan Minseok.

"Kami meneliti", ucap Baekhyun.

"Meneliti apa?", tanya Ryeowook.

"Meneliti–intinya meneliti", ucap Baekhyun tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk menjabarkan apa yang akan ia katakan.

"Ambigu sekali", gumam Luhan.

"Haaaah, kami ini peneliti–meneliti apa yang perusahaan inginkan", ucap Chanyeol.

"Memangnya kalian bekerja di perusahaan? Setahuku di laboratorium", gumam Luhan.

"Yak!", teriak Baekhyun memukul kepala Luhan. Luhan hanya meringis sakit karena pukulan Baekhyun.

"Perusahaan kimia", ucap Chanyeol.

"Daebakk", gumam Minseok kagum.

"Pasti gajinya besar", kekeh Ryeowook.

"Begitulah", kekeh Chanyeol.

"Jadi, kalian sudah memiliki empat anak?", tanya Ryeowook melihat Luhan, Minseok, Jongdae, dan Jongin.

"Empat?!", teriak Luhan dan Minseok tak percaya.

"Kau mengarang saja", dengus Baekhyun bersedekap.

"Andaikan Luhan ingin adik lagi, boleh saja", ucap Chanyeol bermain dengan Jongin–berusaha mendekatkan diri dengan Jongin.

"Tidak!", teriak Luhan dan Minseok bersamaan.

"Lalu, yang mana anakmu?", tanya Ryeowook.

"Yang ini dan ini", Baekhyun menunjuk Minseok dan Luhan.

"Park Minseok imnida", Minseok membungkuk kecil.

"Park Luhan imnida", Luhan menunduk kecil.

"Lalu dua anak kecil ini?", tanya Ryeowook menunjuk Jongin dan Jongdae.

"Mereka tetangga kami", ucap Minseok menjelaskan.

"Ooo, begitu", gumam Ryeowook.

"Oh ya!", seru Ryeowook teringat sesuatu.

"Apa?", tanya Baekhyun.

"Kau bilang kau ingin meminta tolong sesuatu padaku, apa itu?", tanya Ryeowook.

"Oh! Sampai lupa!", seru Baekhyun menepuk jidatnya.

"Laboratorium kami mengalami sebuah ledakan–kau tahulah, sebuah kecelakaan, apa kau masih memiliki laboratorium?", tanya Baekhyun.

"Kau ingin menggunakannya?", tanya Ryeowook.

Baekhyun mengangguk mantap. "Aku tidak punya", jawab Ryeowook cepat dengan ekspresi dingin.

Semuanya mendesah kecewa. "Apa benar?", tanya Chanyeol memastikan.

Ryeowook hanya mengangguk. Baekhyun berdiri dengan kedua pipi digembungkan. "Kau berbohong! Kau selalu menggunakan wajah itu ketika berbohong! Kumohooon, hanya sekaliii saja", pinta Baekhyun.

Ryeowook menghela napas panjangnya. "Haaah, kenapa kau selalu tahu", dengus Ryeowook.

"Memangnya untuk apa?", tanya Ryeowook.

"Kami harus membuat obat penawar", ucap Baekhyun duduk kembali pada tempat duduknya.

"Obat penawar?", bingung Ryeowook.

"Ya, untuk mengembalikan Jongdae ke wujudnya semula", ucap Minseok menunjuk Jongdae kecil yang diajak bermain oleh Jongin.

"Dia? Memangnya kalian melakukan apa?", jengit Ryeowook.

"Hanya sebuah kecelakaan, sebenarnya itu adalah sebuah obat penawar, tapi karena Jongdae mengkonsumsinya, dia menjadi seorang bayi", jelas Minseok.

"Astaga, ini kesalahan besar!", Ryeowook terkejut bukan main.

"Kami tahu, maka dari itu kami akan membuat penawarnya secepat mungkin, kalau bisa kau membantu kami agar lebih cepat jadinya", pinta Baekhyun.

Ryeowook terdiam setelah mendengar permintaan Baekhyun. Ia ragu, ia tak yakin. Ia tak yakin bahwa ia bisa membuat sesuatu lagi dengan bahan-bahan kimia.

"Aku–", Ryeowook berucap sambil menunduk.

"Aku Li Xu dan hidupku hanya melayani pelanggan dan memasak", ucap Ryeowook mengangkat wajahnya menatap nanar kearah Baekhyun.

"Aku bukan lagi Ryeowook", lirih Ryeowook sedikit menyesal.

Baekhyun mengulum bibirnya menahan agar tidak berteriak di hadapan Ryeowook bahwa ini kasus–kesalahan–penting. "Ryeowook, please", lirih Baekhyun dengan puppy eyesnya.

"Sungguh, Baek … aku tidak bisa", Ryeowook memejamkan mata berusaha menghindari tatapan maut milik Baekhyun.

Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri dan pada orang tuanya bahwa ia tidak akan menyentuh benda-benda yang ada di laboratorium. Itu janji yang Ryeowook buat.

"Aku sudah berjanji dan tidak mungkin mengingkarinya", bisik Ryeowook membuka matanya perlahan.

"Ryeowook, tolonglah–sekali saja", kali ini Chanyeol berucap.

"Unni~ Kumohon", Minseok ikut berucap.

"Noona, kami tidak bisa melakukannya dengan cepat, tapi kau bisa", Luhan ikut berucap.

Ryeowook mengepalkan tangannya kuat-kuat. 'Tidak boleh, Ryeowook! Tidak boleh! Kau sudah merubah hidupmu selama lima tahun belakangan ini, kau adalah Li Xu!'

"Aku tidak bisa", geram Ryeowook menatap lantai.

"Bahkan aku tidak mengingat satu pun bahan kimia", alibi Ryeowook.

"Tapi unni tahu F00016–"

"Aku tidak ingat! Dan aku tidak bisa!", bentak Ryeowook sambil berdiri.

Minseok mematung di tempat menerima bentakan dari Ryeowook. Ryeowook sendiri pun kaget telah membentak seseorang, seumur hidup ia tidak pernah membentak dengan amarah–biasanya hanya bercanda.

"M-Maafkan aku, aku–aku, maafkan aku", lirih Ryeowook. Tangan kanannya menutup mulutnya.

"Aku tidak bermaksud–s-sebaiknya kalian pergi", ucap Ryeowook mengambil pulpen dan kertas. Ia menulis alamat laboratorium miliknya.

Baekhyun bangkit dan berjalan mendekati Ryeowook. "Ryeo–"

"Aku tidak bisa maaf, tolong keluar", ucap Ryeowook cepat. Ia melangkah cepat kearah pintu keluar dan membuka pintu itu lebar-lebar.

Baekhyun terdiam. Ini pertama kalinya ia melihat sahabat lamanya itu panic, gusar, dan keukuh. "Baiklah, Ryeowook, terima kasih sudah mau meminjamkan laboratoriummu", ucap Baekhyun berjalan kearah Jongin.

Baekhyun menggendong Jongin kemudian melirik Chanyeol. Mengisyaratkannya untuk membawa Jongdae. "Maaf kalau kami mengganggu, permisi", ucap Baekhyun saat melintasi Ryeowook yang berdiri di ambang pintu sambil menunduk.

"Tak apa kalau kau tidak mau, tapi sepertinya Baekhyun ingin bereksperimen denganmu lagi", ucap Chanyeol saat melintasi Ryeowook.

Ryeowook mengangkat wajahnya dan memandang ke arah kepergian Chanyeol. "Terima kasih bantuannya", ucap Luhan mengikuti langkah Chanyeol.

"Unni", panggil Minseok di sebelah Ryeowook.

"Maafkan aku", ucap Ryeowook menatap ke dalam manic Minseok.

"Tak apa", ucap Minseok tersenyum lembut.

Ryeowook tertegun melihat senyum manis Minseok. Ia merasa bersalah tidak bisa membantu keluarga Park. Tapi apa daya, Ryeowook sudah berjanji untuk tidak menyentuh benda-benda laboratorium lagi.

Ryeowook meraih tangan kanan Minseok dan menaruh sesuatu di genggaman Minseok. Minseok memandangi tangannya yang berisi sesuatu.

"Itu alamatnya, jangan sampai tersesat, dan ini kuncinya", ucap Ryeowook memberi Minseok sebuah kunci logam.

Minseok tersenyum lagi. "Terima kasih", ucap Minseok kemudian menyusul yang lain.

.

.

.

"Oke, apa kita tidak salah alamat?", tanya Baekhyun ragu menatap bangunan yang ada di hadapan mereka.

"Tidak salah, kok", gumam Minseok membaca ulang alamat lab yang diberikan oleh Ryeowook.

"Coba lihat kuncinya", ucap Luhan mengulurkan tangannya.

Minseok memberikan kunci logam laboratorium. Luhan mengamatinya dan mengernyit bingung. "Kuncinya bagus seperti ini, tapi bangunannya seperti ini?", bingung Luhan menatap bangunan yang ada di hadapan mereka.

Bagaimana tidak heran, jika bangunan yang ada di hadapan mereka adalah bangunan tua terbuat dari kayu lapuk dan banyak kerusakan di sana-sini.

"Mungkin ada bangunan lain yang lebih pantas disebut 'laboratorium' di sekitar sini", gumam Chanyeol menyapu sekitar dengan penglihatannya.

"Tapi ini di hutan, appa", gumam Minseok menoleh ke segala arah.

"Hanya ada bangunan ini", gumam Minseok.

"Baiklah, kita coba saja", ucap Baekhyun melangkah maju.

Baekhyun mengulurkan tangan kanannya untuk membuka pintu. Belum sempat Baekhyun mendorong pintu tersebut, namun pintu tersebut sudah jatuh saking rapuhnya.

"Astaga, benar-benar", cicit Luhan tak percaya dengan pintu tersebut tergeletak dengan tragisnya.

Baekhyun membenarkan letak Jongin di gendongannya dan menarik napas dalam. "Baiklah, ayo masuk", ajak Baekhyun.

Luhan berjalan setelah Baekhyun. Ia mengibas-ngibaskan tangannya karena cukup berdebu di sekitar sini. "Sudah berapa lama tidak di tempati", cicit Luhan dengan mata menyipit.

Setelah Luhan, Minseok menyusul dengan takut-takut. Di dalam sana gelap karena memang hari semakin gelap. "Astaga, gelap sekali", lirih Minseok memegang ujung kemeja Luhan yang ada di depannya.

"Jangan pegang-pegang", ucap Luhan risih sambil memukul-mukul tangan Minseok.

"Diamlah, oppa! Aku takut", bisik Minseok sedikit keras.

Dan di urutan terakhir Chanyeol menyusul dengan Jongdae di gendongannya. "Ayo berpencar dan cari pintu yang memiliki lubang kunci seperti ini", Baekhyun melirik Luhan agar memperlihatkan kunci yang ia pegang.

"Ini, seperti ini", ucap Luhan memperlihatkan.

"Aku sudah hafal bentuknya", ucap Minseok.

"Baiklah, kita berpencar", ucap Baekhyun.

"U-Umma! Aku takut", ucap Minseok merajuk.

Baekhyun menoleh dan tersenyum. Bagaimana pun, dimatanya Minseok tetaplah bayi kecilnya yang menggemaskan. "Baiklah, ikut um–"

"Kalau begitu bawa Jongdae bersamamu", Chanyeol memotong ucapan Baekhyun.

Chanyeol menyerahkan Jongdae kepada Minseok. "Kau tidak sendirian 'kan, jadi jangan takut", ucap Chanyeol mengajak Baekhyun menjauh dari Minseok.

"Yeobo, apa yang kau lakukan?", bisik Baekhyun kesal saat mereka sudah jauh dari Minseok.

"Jangan terlalu memanjakannya, dia harus mandiri, chagi", ucap Chanyeol merangkul pundak Baekhyun.

Sementara kedua orang tuanya sudah menjauh, Minseok menelan ludahnya susah payah dan melihat sekeliling. Sangat gelap. "Oppa!", teriak Minseok.

Namun tidak ada jawaban. Sepertinya Luhan sudah cukup jauh. Minseok mengeluarkan ponselnya dan menyalakannya sebagai penerang–walaupun tidak terlalu terang.

Minseok berjalan di pinggir sambil meraba-raba tembok. Ia berjalan perlahan dan hati-hati. "Hatchi!", Minseok bersin karena terkena debu.

"Hahaha!", dan Jongdae dengan teganya tertawa dalam gendongan Minseok.

Minseok yang terus menerus bersin menjadi tidak seimbang dan sedikit limbung. Ia memaksakan diri untuk berjalan–entah kemana. Tangan kananya masih meraba tembok. Tangan kirinya menggendong Jongdae kecil yang–cukup–ringan dan membawa ponselnya sebagai senter.

"Hatchi! Hatchi!", Minseok bersin semakin parah. Dan Jongdae tertawa semakin keras sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya senang.

Setelah tertawa keras, Jongdae kecil tiba-tiba terdiam dan tubuhnya mengigil hebat. "Jongdae …", gumam Minseok memperhatikan Jongdae dengan seksama.

'Kenapa dia menggigil?'

Brush!

Tiba-tiba asap mengepul dihadapan Minseok dan sesuatu seperti meledak dalam gendongannya. Ledakan kecil.

Bruk!

Minseok jatuh terduduk. Pinggangnya terasa sangat sakit karena terbentur oleh lantai. "Appo …", rigis Minseok. Namun saat ia hendak bangkit, sesuatu seperti menimpanya sehingga ia tidak dapat bangkit.

"Aduh, ada apa? Kepalaku sakit …"

Sebuah suara baritone membuat Minseok mematung di tempat. Dan ia menyadari bahwa Jongdae kecil tidak ada di sekitarnya. 'Jangan-jangan Jongdae kembali normal? Lalu dia tidak memakai pakai–'

Minseok memejamkan matanya erat. "Jongdae? Itukah kau?", tanya Minseok tanpa bergerak dan tanpa membuka matanya.

"Hah? Minseok? Apakah ini kau?", seorang namja yang menindihnya meraba-raba wajah Minseok.

Membuat Minseok risih. "Ya ya, ini aku! Kau Jongdae 'kan?", tanya Minseok memejamkan matanya semakin erat.

"Ya, ini aku … apa yang terjadi?", tanya Jongdae.

"Kau memakai pakaian tidak?", tanya Minseok tanpa membuka matanya.

"Hah?", bingung Jongdae lalu melihat dirinya sendiri.

"Waaaaaa!"

Brush!

"Uhuk! Kenapa lagi ini", Minseok mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya karena kepulan asap kembali muncul setelah teriakan Jongdae.

"Huueeee! Hueee!", dan terdengarlah suara tangisan cempreng khas Jongdae kecil.

Perlahan Minseok membuka matanya. Penglihatannya gelap–tentu saja, karena mereka berada di ruangan yang gelap. Dengan gelagapan Minseok mencari ponselnya untuk pencahayaan.

"Dapat", gumam Minseok saat mendapati ponselnya yang sempat terlempar tadi.

Minseok mengarahkan ponselnya kearah Jongdae yang ada di hadapannya. Minseok mengernyit mendapatkan Jongdae kecil yang menangis sesenggukan.

'Bukannya tadi ada suara Jongdae?'

"Ssshhh", Minseok mendesis merasakan sakit di pinggangnya saat ia bangkit.

"Gara-gara kau", geram Minseok menatap tajam kearah Jongdae kecil.

Jongdae kecil terdiam–berhenti menangis, kemudian ia tertawa karena berpikir ia sedang diajak bermain. Minseok berdecak kesal kemudian mengarahkannya ke sekeliling. Tangan Minseok berhenti untuk menyenter sebuah pintu baja. Ia mendekatinya dan mendapati lubang kunci yang berbentuk sama dengan kunci yang Luhan bawa.

"AKU MENEMUKANNYA!", teriak Minseok mengangkat Jongdae ke dalam gendongannya.

"APA?! DIMANA KAU?", teriak Luhan entah dari mana.

"Di sini!", teriak Minseok sambil mengarahkan ponselnya ke sembarang arah agar yang lain dapat melihat keberadaannya.

Luhan yang pertama datang. Kemudian kedua orang tuanya–yang sepertinya–tidak benar-benar berpencar. "Dimana?", tanya Baekhyun.

Minseok masuk kembali dan menunjukkan pintu baja yang sangat besar tersebut. "Kenapa ada di sini", gumam Baekhyun mendekati pintu tersebut.

Luhan melangkah dan menyerahkan kunci pintu tersebut. Baekhyun mengambilnya dan membuka pintunya.

Cklek!

Setelah kuncinya terbuka, pintunya ikut terbuka sendiri. Chanyeol dan Luhan mendorong pintu baja tersebut agar terbuka lebar. Dan mereka terpengarah melihat apa yang ada di dalam.

Di dalam sangat terang. Berbagai bahan kimia sudah sangat lengkap berada di sana. Mereka pun masuk ke dalam dengan keterkaguman mereka.

"Hebat", takjub Minseok melihat alat-alat yang tidak dimiliki oleh kedua orang tuanya.

"Bagaimana aku tidak bisa mengetahui bahwa ia memiliki lab seperti ini", takjub Baekhyun dengan mata berbinar.

Chanyeol mengambil jas lab yang berada di pojok ruangan. "Baiklah, kalian pulanglah, kami akan memulainya sekarang", ucap Chanyeol memberikan jas lainnya kepada Baekhyun.

Luhan mengambil alih Jongin yang tertidur dalam gendongan Baekhyun agar mereka dapat bekerja. "Kira-kira kapan jadinya?", tanya Minseok basa-basi.

"Seminggu mungkin", ucap Baekhyun menatap sekeliling.

"Kita harus memulainya dari nol", ucap Baekhyun menghela napas lelah.

"Baiklah, kami pulang dulu", ucap Luhan menyeret Minseok untuk keluar.

"Eh! Eh! Tunggu dulu, aku tadi-yakk!", teriak Minseok ingin menanyakan sesuatu tetapi Luhan sudah menyeretnya dengan kasar agar segera keluar.

Saat mereka keluar, ternyata hari sudah malam. "Sebaiknya kita cepat pulang", ucap Luhan masuk ke dalam mobil.

Minseok mendengus keras karena ditarik paksa oleh Luhan. "Aku ingin menanyakan sesutu tadi", gerutu Minseok.

"Menanyakan apa?", tanya Luhan sambil membuka pintu mobil.

"Tadi ada kejadian aneh, Jongdae kembali normal tapi hanya sebentar, lalu dia kembali menjadi seperti ini", Minseok menatap Jongdae kecil yang menguap dalam gendongannya.

Luhan terdiam sejenak sambil menatap Minseok. "Entahlah, jangan pikirkan itu dulu … membuatku stress saja", ucap Luhan malas sambil masuk ke dalam mobil.

Minseok sweet drop di tempat mendengar penuturan Luhan. Ia kira Luhan tengah memikirkan kemungkinan apa yang terjadi pada Jongdae dan jalan keluarnya juga. Namun nyatanya, Luhan malah cuek dan menyalakan mesin mobil.

.

.

.

Tap! Tap! Tap!

Minseok menuruni anak tangga dan mendapati Luhan yang sudah berpakaian rapi. "Oppa?", panggil Minseok semakin cepat menuruni anak tangga.

"Oppa mau kemana?", tanya Minseok saat Luhan menoleh.

"Mau ke apartement, besok aku kuliah", ucap Luhan.

"Jam segini?", bingung Minseok melirik jam dinding. Padahal ini hampir tengah malam dan Luhan ingin kembali ke apartementnya?

"Aku ada kelas pagi besok, dan aku tidak bisa bangun pagi kalau aku tidur di sini", ucap Luhan mengambil kunci mobilnya yang berada di nakas dekat sofa.

"Tunggu!", cegat Minseok.

"Apa? Kau minta ditemani? Aku tidak bisa", ucap Luhan menerobos.

"Tunggu dulu!", Minseok manrik tangan Luhan dengan keras.

"Cepat, aku tidak punya banyak waktu", ucap Luhan dengan rawut wajah serius.

"Jongin dari tadi menangis, sepertinya dia ingin mainannya, dan mainannya masih berada di rumah bibi Oh", jelas Minseok kemudian ia menarik napas dalam.

"Temani mereka dulu sebentar, aku mau mengambil mainannya", ucap Minseok.

Luhan duduk di sofa dengan tangan bersedekap. "Cepatlah", ucap Luhan.

Minseok tersenyum senang. Ia segera berlari keluar dan menuju rumah bibi Oh yang berada di sebelah rumahnya.

Cklek!

Bibi Oh belum kembali. Bahkan pintu rumahnya saja tidak terkunci–karena yang terakhir kali mendatangi rumah ini adalah ia dan Luhan.

Minseok masuk ke dalam dengan cepat. Ia mengambil boneka yang ada di depan televise yang menyala. Minseok mematikan televise, mengambil mainan yang ada di sofa dan bergegas untuk pergi.

Namun saat melewati telpon rumah, Minseok berhenti sejenak melihat cahaya berkedip-kedip berwarna merah. 'Apa ada pesan? Sepertinya baru masuk hari ini'. Minseok menekan salah satu tombol dan menyalakan speaker.

"Jongdae? Apa keadaan rumah baik-baik saja? Jangan lupa mengunci pintu rumah kalau kau pergi, jaga Jongin baik-baik. Dan, kenapa kau tidak mengangkat telfonku?"

Minseok terkikik mendengar suara bibi Oh sedikit marah di akhir kalimat.

"Kabar baik untukmu, bibi akan mengurus urusan ini lebih cepat, yah … mungkin dua hari lagi bibi akan kembali"

Tut!

Dan itu sukses membuat kedua bola mata Minseok melebar.

.

.

.

Di sebuah café, terdapat sorang pelayan yeoja cantik yang berdiri terbengong di depan kasir. Pikirannya melayang kemana-mana.

"Permisi! Saya mau membayar", ucap pelanggan bertubuh gempal tersebut dengan penuh penekanan.

Merasa terdapat suara masuk ke gendang telinganya, pelayan yeoja penjaga kasir tersebut tersenyum dan melayaninya.

"Lain kali jangan melamun", dengus pelanggan tersebut lalu pergi.

Pelayan yeoja penjaga kasir tersebut memandang kearah kepergian pelanggannya itu dan menghela napas panjang.

Puk!

Seseorang menepuk pundak yeoja tersebut membuat yeoja tersebut menoleh. "Kau kenapa, Li Xu?", tanya teman kerjanya.

"Ah, Seulgi–aku … tidak apa-apa", jawab Li Xu dengan senyumannya.

"Aku tahu kau sedang banyak pikiran, Li Xu", gerutu Seulgi merasa Li Xu tidak terbuka pada dirinya.

Li Xu tersenyum melihat Seulgi menggerutu. "Kau gantikan aku ya, aku lelah melayani pelanggan, biar aku yang menjaga kasir", ucap Seulgi.

Li Xu mengerutkan keningnya sejenak kemudian mengangguk. Li Xu mengambil alih nampan yang Seulgi bawa dan berjalan menuju ke belakang.

"Pesanan mana yang harus kuantar?", tanya Li Xu menyembulkan kepalanya ke dalam dapur.

"Ah, sebentar ya … Strawberry cakenya sebentar lagi jadi", ucap Sojin yang tengah mengoleskan krim pada strawberry cake.

Li Xu hanya mengangguk dan menyandarkan dirinya di ambang pintu. Pandangannya menerawang dan pikirannya melayang jauh.

'Aku merasa tidak enak'

'Apa aku harus membantunya?'

'Tapi janjiku–'

'Tapi mereka dalam keadaan terdesak'

'Aku sudah berjanji, ya … aku sudah berjanji'

"–Xu! LI XU!", teriak Sojin dihadapan Li Xu.

Li Xu terlonjak kaget dan mengerjapkan matanya. "A-Apa?", tanya Li Xu memegangi dadanya yang berdetak kencang karena kaget.

Sojin berdecak lidah kemudian berkacak pinggang. "Kau memikirkan apa sih?", tanya Sojin dengan tatapan sinis.

Li Xu terkekeh kemudian menggeleng. "Tidak ada, memangnya kenapa?", tanya Li Xu menaikkan kedua alisnya.

"Dari tadi aku memanggilmu, ini strawberry cakenya, antarkan ke meja enam, oh–jangan lupa bawa mango juice ke meja enam itu juga", pesan Sojin.

Sojin menaruh sepotong strawberry cake tersebut di atas nampan yang Li Xu bawa. "Kalau bos tahu, dia bisa memberimu teguran", ucap Sojin memperingatkan.

Li Xu mengangguk dan pergi mengambil mango juice yang dibuat oleh Min Ah. Kemudian ia berjalan menuju meja enam.

Lagi.

Pikiran Li Xu melayang kemana-mana.

'Tapi dia temanku, sahabatku, Baekhyun'

'Bagaimana kalau dia akan membenciku karena aku tidak membantunya?'

'Padahal dia sangat baik padaku'

Tiba-tiba terbayang wajah Baekhyun saat meninggalkan apartementnya semalam. Wajah kecewa Baekhyun begitu membuatnya sedih.

Bruk!

Li Xu tersadar setelah menyenggol meja nomor empat dan mango juice yang ia bawa sedikit tumpah.

"Aish! Bajuku! Kalau kerja lihat-lihat!", keluh seorang yeoja yang duduk di meja nomor empat.

"M-Maafkan aku", Li Xu menunduk dalam.

"Ah, tak apa", ucap yeoja satunya, ia terlihat begitu ramah dengan mata bulatnya yang lucu.

"Apanya yang 'tak apa'? Bajuku basah", keluh yeoja yang terkena minuman yang tumpah.

"Itu hanya sedikit, jangan mengeluh, kau manja sekali", cibir yeoja bermata lebar.

"Astaga Kyung, ini? Sedikit?", jengit yeoja itu. Yeoja ini benar-benar berlebihan. Padahal hanya baju di bagian ujung lengannya saja yang terkena mango juice.

"Dan ini lengket", lanjut yeoja itu.

"Maaf", ulang Li Xu.

Yeoja bermata bula bernama Kyungsoo itu tersenyum kearah Li Xu. "Sudah, tak apa, kau lanjutkan saja kerjamu", ucap Kyungsoo.

"Kau harus bertanggung jawab kyung", kesal yeoja itu.

Kyungsoo memutar bola matanya malas dan mendengus. "Sudahlah, kau manja sekali", kesal Kyungsoo kembali menyantap makanannya.

Li Xu sangat berterima kasih pada yeoja bernama Kyungsoo tersebut. Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Kali ini ia berusaha untuk tidak membuat kekacauan.

Setelah mengantarkan pesanan di meja nomor enam, Li Xu kembali ke belakang dan disambut oleh Seulgi.

"Kau benar-benar–", desis Seulgi setelah melihat insiden tadi.

"Aku tahu aku salah", ucap Li Xu lirih dan mendudukkan dirinya di kursi dekat Seulgi.

"Memangnya kau kenapa? Kau bisa menceritakannya padaku", ucap Seulgi.

Li Xu tersenyum tulus mendengar penuturan Seulgi. Namun ia tidak akan mengatakannya pada siapa pun.

"Bukan apa-apa, hanya kurang tidur", alibi Li Xu.

"Memangnya kau melakukan apa sampai kurang tidur?", dengus Seulgi merasa diberi sebuah kebohongan.

"Aku menonton film favoritku tadi malam hehe", kekeh Li Xu.

Seulgi hanya memutar bola matanya malas mendengar alasan konyol dari Li Xu.

"Li Xu, kau dipanggil bos", ucap namja bernama Eunhyuk.

Li Xu terkesiap dan segera merapikan dirinya. Sojin mengintip dari belakang setelah mendengar kalau Li Xu dipanggil ke ruangan Bos. Dan Seulgi memberi semangat melalui sebuah tepukan di pundak.

Li Xu berjalan perlahan menuju ruangan bosnya. Ia membuka perlahan pintu ruangan tersebut dan mendapati bosnya sedang berkutat dengan dokumen.

Li Xu menutup pintu dan berjalan mendekat ke arah bosnya. "Bos memanggil saya?", tanya Li Xu dengan wajah sedikit menunduk.

Ia sudah menyiapkan mentalnya apabila ia menerima bentakan, amarah, atau hal lainnya karena kecerobohannya.

"Duduklah", ucap bos bernama Kim Yesung mempersilakan Li Xu untuk duduk.

Li Xu dengan kikuk duduk di hadapan Yesung. Ia masih menundukkan kepalanya. Yesung membuka kacamatanya dan meletakkan pulpennya. Ia membiarkan dokumen yang seharusnya ia urus saat ini di hadapannya.

"Apa kau memiliki masalah, nyonya Li Xu?", tanya Yesung.

Li Xu mengangkat wajahnya dan menggeleng. "Hanya kurang tidur, bos", gumam Li Xu sedikit takut.

Yesung melipat tangannya di atas meja dan memandang lekat wajah Li Xu. "Sudah berapa kali aku bilang, panggil saja Yesung", ucap Yesung.

"Ah, m-maaf Ye-Yesung-ssi", ucap Li Xu kurang yakin. Rasanya sedikit aneh memanggil atasan sendiri dengan namanya.

"Nah, aku yakin kau memiliki masalah, kau bisa mengatakan masalahmu di sini dan bekerja dengan tenang", ucap Yesung dengan ramahnya.

Li Xu menatap lekat wajah Yesung. Entah mengapa ia merasa ia bisa mengatakan segalanya pada Yesung. "Tidak … tidak ada masalah", gumam Li Xu merasa ragu.

"Kalau begitu kau tidak boleh keluar", ucap Yesung menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

Li Xu mengerutkan keningnya. "Kau tidak boleh keluar sebelum mengatakan yang sesungguhnya", ucap Yesung.

Li Xu terdiam. Ia tertegun, ada seseorang yang memaksanya mengatakan hal yang membebani pikirannya. Menurut Li Xu itu sangat baik, tapi apakah ia bisa mempercayakan hal ini pada Yesung?

"Sebenarnya, aku ingin bertanya …", gumam Li Xu sambil mengumpulkan keberaniannya.

"Aku akan mendengarkan", ucap Yesung. Ia sudah memasang telinga sejak Li Xu masuk.

"Aku–maksudku, jika kau, ini hanya jika, JIKA", ucap Li Xu sedikit bertele-tele.

Yesung tersenyum. Ia yakin yang akan Li Xu tanyakan adalah apa yang membuatnya tidak focus bekerja.

"Jika kau–", Li Xu mengambil napas sebelum berucap. "Jika kau memiliki sebuah janji–"

"Janji apa?", tanya Yesung.

Li Xu terdiam. Ia memutar otak membuat sebuah perumpamaan. "Oke, anggap saja kau berjanji pada orang tuamu kau dan dirimu sendiri bahwa kau tidak akan keluar rumah untuk waktu yang lama–", Li Xu menjeda.

"Kemudian tiba-tiba sahabat baikmu datang dan mengajakmu keluar rumah, apa … apa kau akan ikut dengan sahabatmu?", tanya Li Xu menunggu jawaban.

"Untuk apa sahabatku mengajakku keluar? Tergantung dari alasannya", ucap Yesung. Ia tahu bahwa ia tidak boleh menjawab pertanyaan Li Xu ini dengan jawaban main-main.

Li Xu terdiam, kemudian berucap. "Untuk menyelamatkan seseorang", ucap Li Xu membuat perumpamaan yang berhubungan dengan kenyataan.

Yesung tersenyum. Dan entah mengapa, melihat senyuman Yesung membuat Li Xu berkeyakinan akan melakukan apa yang akan menjadi jawaban yang Yesung berikan. 'keluar rumah' atau 'tetap memegang janji'?

.

.

.

Pikiran Minseok berkecamuk. Ia tidak bisa konsentrasi dengan rapat kelasnya. Ia memandang ke arah luar jendela.

Kelasnya sedang melakukan rapat untuk memilih perwakilan kelas saat classmeeting besok pagi. Dan Minseok tidak menyimak, ia akan memberikan jawaban 'setuju' saja jika ditanya pendapatnya.

"Jadi, Minseok! Apa kau setuju?!", teriak sang ketua kelas saat mendapati salah satu dari murid kelas ini tidak memperhatikan.

Minseok menoleh dengan malas. Ia sedang berpikir bagaimana cara agar penawarnya cepat selesai dalam semalam. Besok, besok sore bibi Oh akan pulang. Dan Jongdae harus kembali normal.

"Apa?", tanya Minseok malas.

"Kau akan mewakili kelas kita dalam Taekwondo", ucap ketua kelas, Yuta.

Minseok memutar bola matanya malas."Ya", jawab Minseok ogah-ogahan.

"Kau ikhlas 'kan?", tanya sang wakil ketua kelas–Yano.

"Iya", ucap Minseok lebih keras.

"Baiklah, Minseok sudah setuju … dan sisanya menyemangati, oke?", ucap Yuta bersemangat.

"yaaa!", semuanya bersorak semangat–minus Minseok.

Seorang yeoja mengangkat tangan ingin menginterupsi. "Kenapa, Namjoo?", tanya Yano.

"Tapi, olahraga cabang lari belum ada yang mengikuti", ucap Namjoo mengingatkan.

Yano dan Yuta melirik papan tulis dan mereka hampir saja melupakan hal tersebut kalau Namjoo tidak mengingatkan. "Oh, kau benar", gumam Yuta.

"Kita pakai Jongdae saja, dia cepat kalau berlari", ucap Yano.

"Tapi dia tidak masuk, bagaimana meminta persetujuannya?", tanya Yuta.

Diantara semua murid di kelas ini, hanya Jongdae yang memiliki kecepatan berlari sangat cepat. "Aku setuju kalau Jongdae yang mewakili lomba lari", ucap Eunji.

Minseok menoleh mendengar nama Jongdae sedang diperbincangkan. Tiba-tiba hampir satu kelas setuju bahwa Jongdae yang mewakili lomba lari.

"Baiklah baiklah! Kita tetapkan Jongdae sebagai perwakilan lomba lari", ucap Yuta.

"Kalau besok dia tidak datang, awas saja", desis Yano.

Oh Yano sudah mendesis. Dan itu sangat berbahaya. Yano tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dan dari bangkunya, Minseok menelan ludahnya susah payah.

Lomba lari pasti diadakan di pagi hari. Bibi Oh pulang besok sore. Dan kedua orang tua Minseok mengatakan bahwa penawarnya akan jadi seminggu lagi.

'Bagaimana ini?!'

Minseok mengangkat tangan dan seluruh perhatian menatap ke arahnya. "Bisakah aku yang menggantikan Jongdae?", tanya Minseok ragu.

"Tapi kau sudah mewakili Taekwondo", ucap Yuta.

"Aku akan mengambil keduanya", ucap Minseok.

"Tapi Taekwondo dan lomba lari diadakan pada jam yang sama", ucap Yano.

"Sudah! Biarkan Jongdae saja! Kenapa juga dia tidak masuk, dasar pemalas", desis seorang yeoja bernama Wendy.

Minseok menggemertakkan giginya. Ia tidak senang kalau Jongdae dikata-katai. "Terserah Jongdae mau apa, yang jelas dia harus datang besok!", kesal Yuta yang sudah mulai pusing.

Minseok bangkit dengan cepat dan pergi meninggalkan kelas. Masa bodo dengan teman-teman kelasnya yang akan mengatainya atau mungkin akan membencinya.

Yang jelas pikiran Minseok sekarang sedang campur aduk. Ia harus memutar otak agar penawarnya cepat jadi. Dan hanya Ryeowook-lah harapan Minseok.

.

.

.

To Be Continued

A/N : Maaf banget gak bisa post pas malming :'D malah ngepost hari minggunya :'V tadi malem aku jalan-jalan dan malah ketiduran-_- daaaan, aku lupa total buat ngepost chap ini :V Mianhaeee~

Balasan Review

dobipuppychanbaek : aku mengabulkan do'a Luhan agar ia menjadi manly :3 wahahaha. Kisah percintaannya Luhan? *mikir* Tenang aja! Adak ok ;) Dan itu bakal mengejutkan kalian semuaaaaa WAHAHAHAHAHA :V Maaf kal si jongjong belum juga ngomong ampe chap ini :3 Soalnya entah mengapa, dia kayak gak pantes ngomong xD #plakk becanda :3 chap 7 (insyaallah) Jongjong ngomong :3

pooarie3 : Jongin tetep kecil :3 Kyung gak pedo kok xD Tenang aja … Si Kyung bakal dapet pasangan tapi si jong tetep ngejomblo sebagai adik wks xD

anoncikiciw : Maunya sih tadi malem :'( Tapi nyatanya malah bisanya siang :(

elswu : Els?._. nyadar gak kalo si lulu aku usahain gak imut di sini? *intinya aku lebih imut xD*

daebaektaeluv : Ini udh next~

Nadhefuji : Ah, aku lupa soal ganti popok._. anggep aja gak ada deh xD

Kim Eun Bom : Kaisoo gak bersatu di sini, mian xD Dan Luhan … coba tebak deh siapa couplenyaaaaa~

Jung Jae In : Aku seneng banget ripiuw yang panjang kayak kamu iniii hueeeeeeee~~~ Jung Jae In! I Luph yuuuuuu~ Wo ai niiiii~ Saranghaeee (bahasa apalagi_-)

Misslah : Makasiih^^ Aku terusin kok :3

Aku berharap gak kena writer Block minggu depan-,- beneran deh, aku agak gak semanget nih :( Apalagi waktu nyadar setiap chap reviewnya makin berkurang :'( Aku harap kalian meripiuw dengan ikhlas ya, biar aku cepet nextnya :D Kalo aku kena Writer Block, mungkin aku bakal next sebulan lagi._. #seriusan_Loh