I Have A Love
Chapter 6
Happy reading^^~
.
.
.
.
Kyuhyun mendudukkan dirinya dibangku kafe paling pojok. Setengah jam belakangan ia sudah cukup sabar menebalkan telinganya ketika duduk ditengah kafe dengan segala obrolan gosip yang seolah membakar telinganya. Kyuhyun tegaskan, ia sangat tidak suka bergosip! Berbeda dengan donghae yang malah sangat suka bergosip. Tapi sekarang kyuhyun tak lagi tahan mendengar obrolan yang kian memanas itu dan memilih untuk memisahkan diri dari gerombolan kelasnya. Sedikit menyesal karena mengikuti saran donghae yang menyuruhnya untuk berkumpul dikafe yang tak jauh dari sekolah mereka. Kalau tahu begini, kyuhyun memilih untuk pulang ke apartemennya dan beristirahat. Ia sangat berterima kasih pada guru Park karena berhalangan masuk sehingga tidak dapat mengajar pendalaman materi di kelas kyuhyun. Alhasil, kelas mereka dipulangkan lebih cepat. Kyuhyun menyeruput ice mix berry yang ia pesan tadi sebelum kembali menatap kosong ke depan.
Ia sengaja memilih tempat itu karena ia sedang ingin sendirian. Berusaha menjauh dari orang-orang yang sejak tadi tak berhenti berbicara ditengah kafe. Sebenarnya ia sudah biasa berada diantara kebisingan semacam ini setiap harinya, namun tidak untuk hari ini. Nama 'sungmin' yang sejak pagi tak beranjak dari pikirannya berhasil membuat namja kelahiran februari itu berkali-kali memutar otaknya untuk mencari solusi masalah mereka. Ia melirik malas donghae dan beberapa teman sekelasnya yang lain sedang tertawa terbahak hingga menggema ke seluruh kafe mengingat jumlah mereka yang tak sedikit, terbukti dengan pandangan risih yang dilontarkan beberapa pengunjung kafe lainnya.
Sesekali kyuhyun melirik ke arah luar lewat jendela kafe disampingnya. Tak ada yang menarik. Kyuhyun beranjak dari bangkunya setelah meninggalkan beberapa won dimeja dan berjalan ke arah gerombolan yang ia hindari tadi. Ia menepuk punggung donghae yang dibalas dengan tatapan bertanya dari sahabatnya itu.
"aku pulang duluan. Kau ingin sekalian kuantar atau bagaimana?" tanya kyuhyun dengan nada malas. Kalau boleh jujur ia berharap donghae menjawab 'kau-duluan-saja' karena kyuhyun benar-benar ingin cepat beristirahat di apartemen.
Donghae terlihat berpikir sejenak. Setelahnya namja itu tersenyum miring dan ikut berdiri. Siswa lainnya menatap donghae dan kyuhyun bergantian.
"aku dan kyuhyun ada urusan mendadak. Kami pulang duluan, guys.." pamit donghae sok asik. Kyuhyun menghela nafas lelah ketika harapannya untuk segera beristirahat pupus begitu saja dan dengan agak terpaksa harus mengantar donghae yang tidak membawa mobil hari ini.
.
.
.
.
"kau yang menyetir" kyuhyun melempar kunci mobilnya sembarangan ke arah donghae. Sahabatnya itu menangkap lemparan kyuhyun dengan agak kesusahan mengingat tindakan kyuhyun yang terlalu tiba-tiba.
Mereka telah masuk ke mobil audi milik kyuhyun, tak ada yang bersuara. Kyuhyun menyenderkan tubuhnya dan dengan sengaja menurunkan jok mobilnya bermaksud untuk beristirahat setidaknya sampai mereka tiba di apartemen donghae. Namja itu memejamkan matanya, memaksa untuk tertidur barang sejenak tapi tidak bisa. Ia mendengus kasar dan mengembalikan posisi jok mobilnya hingga kembali tegak. Disampingnya, donghae tergelak tawa melihat kegelisahan kyuhyun sejak tadi.
"aku tak menyangka kau begini lagi karena yeoja" donghae membuka pembicaraan. Kyuhyun terlihat tak berniat untuk sekedar merespon ucapan donghae. Namja itu menyenderkan tangannya disisi mobil hingga membentuk sudut yang tak terlalu kentara dan menopang kepalanya disana.
"hey, kyu. Kau tidak mendengar?" donghae menyempatkan diri untuk melirik kyuhyun sekilas. Namja disampingnya benar-benar tak berselera untuk diajak bicara. Ia memutuskan untuk kembali fokus menyetir.
"entahlah." Jawab kyuhyun singkat yang berhasil mengundang donghae untuk kembali menatap dirinya. Mendengar respon sahabatnya, donghae tersenyum miring dan membanting stir ke kanan- ke arah apartemen kyuhyun-. Namja berwajah stoic disampingnya segera membelalakkan mata ketika sadar donghae mengambil jalan menuju apartemennya.
"ya! kenapa belok kanan?" tanya kyuhyun yang lebih terdengar sebagai bentakan.
"aku ingin main sebentar ke apartemenmu. Tidak boleh?" tanya donghae santai tanpa beban.
"Ti-" bentakan lainnya yang hampir saja terlontar dari bibir kyuhyun segera dipotong dengan kalimat donghae.
"lagipula aku ingin bertemu dengan sungmin. Sekedar berkenalan dengan calon istri sahabatku" goda donghae. Sayangnya kyuhyun tak menganggap itu sebagai bahan candaan. Ia membayangkan sungmin yang akan semakin membencinya kalau donghae bertindak macam-macam di apartemennya nanti.
"cepat putar balik, ikan!" seru kyuhyun penuh penekanan. Berbagai pemikiran negatif sudah bersarang dikepalanya sejak tadi. Hubungannya dengan sungmin saja sedang merenggang apalagi kalau donghae sekali saja membuat masalah maka habislah kyuhyun.
"tenang saja, evil. Aku tidak akan macam-macam disana.." Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi. Tapi setidaknya ucapan donghae barusan mengurangi sedikit pikiran negatifnya.
"sekali kau membuat masalah dengan sungmin, kau akan habis ditanganku!" peringat kyuhyun yang hanya dibalas dengan kekehan donghae.
.
.
.
.
Kyuhyun dan donghae melangkah masuk kedalam apartemen setelah kyuhyun memasukkan kartu di pintu otomatis yang terpasang kokoh di depan apartemennya. Terdengar dentingan alat-alat dapur disusul dengan bibi han yang masih menggunakan celemek menyambut kedatangan tuannya dan donghae.
"hi, bibi" sapa donghae akrab. Namja itu memang sangat mudah akrab pada semua orang, tak terkecuali bibi han yang sudah sering ditemuinya setiap kali bermain ke apartemen kyuhyun.
"tuan donghae.." bibi han membungkukkan tubuhnya, membalas salam donghae.
Kyuhyun yang tidak terlalu mengurusi acara sapa-menyapa itu segera mengganti sepatu sekolahnya dengan sandal rumah dan melenggang masuk ke kamar diikuti donghae yang berlari kecil untuk menyusul langkahnya.
.
"mana sungmin?" kyuhyun menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyusun roster untuk mata pelajaran besok. Namja itu paling tidak suka menunda pekerjaan sekolah termasuk dalam hal membagi roster dan mengerjakan tugas. Ia lebih suka menyelesaikan semua itu segera setelah pulang sekolah agar di sore hari ia tak perlu terbebani dengan segala hal berbau 'sekolah'. Tetapi semuanya terhenti ketika donghae menyebut nama sungmin. Kyuhyun merutuki dirinya yang sesaat melupakan keberadaan yeoja itu. Tapi ia tidak melihat sungmin sejak tadi. Apa yeoja itu belum pulang?
Kyuhyun melirik ponselnya ragu, melihat jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Seharusnya sungmin sudah pulang. Ia ingin menghubungi yeoja itu tapi...- 'aish!' Kyuhyun mengutuki pikirannya yang sulit diajak kompromi akhir-akhir ini. Entah karena apa ia merasa sulit mengambil keputusan sejak keberadaan sungmin di hidupnya, padahal biasanya ia tak perlu dua kali berpikir dan dengan cepat mengambil tindakan yang tepat. Jangankan untuk mengambil keputusan, sekedar berinteraksi dengan sungmin saja ia perlu berpikir beberapa kali. Ia selalu berusaha untuk menjaga perasaan yeoja itu dan membuktikan perkataannya untuk bertanggung jawab pada yeoja itu.
Setelah merasa cukup yakin, kyuhyun meraih ponselnya dan menghubungi sungmin.
'nomor yang anda tuju sed-'
'PRAK!'
Donghae menatap miris ponsel mahal yang baru saja dibanting kyuhyun. Tak merasa kaget dengan tindakan sahabatnya barusan karena kyuhyun memang sering melampiaskan kekesalan namja itu pada barang-barang yang berada didekatnya.
"tidak bisa dihubungi?" tebak donghae tepat sasaran.
"aku harus mencarinya.." kyuhyun meraih kunci mobil dari sakunya dan segera keluar dari kamar. Melupakan kegiatan membagi roster yang belum sempat ia selesaikan. Disusul oleh donghae yang berusaha menenangkan kyuhyun dibelakangnya.
"hei.. kita tunggu saja dulu. Ini masih jam empat sore" kyuhyun sempat memikirkan saran donghae. Tapi bagaimana kalau sampai malam sungmin tak kunjung pulang? Mencari keberadaan seseorang di malam hari akan lebih menyulitkan. Kyuhyun kembali melanjutkan langkahnya, merasa yakin kalau ia harus mencari sungmin dikampus yeoja itu sekarang juga.
"kita ke apartemenmu dulu. Setelah itu aku langsung ke kampus sungmin" jawab kyuhyun. Setidaknya ia tidak akan menelantarkan sahabatnya begitu saja. Ia harus mengantar donghae terlebih dahulu sebelum mencari sungmin. Donghae yang mendengar keputusan sepihak kyuhyun tak berani membantah. Ia cukup tahu sahabatnya itu akan sangat sulit dibujuk kalau sudah menyangkut keinginannya.
"bibi, tolong kunci rumah kalau nanti aku belum pulang. Kami pergi dulu.." pamit kyuhyun pada bibi han sebelum membuka pintu.
'cklek'
Kyuhyun maupun donghae baru saja akan melangkah sebelum keduanya berhadapan dengan seorang yeoja ketika pintu terbuka.
"sungmin.." kyuhyun berucap pelan. Meyakini kalau yeoja di depannya benar-benar sungmin. Disampingnya, donghae melirik canggung sebelum memutuskan untuk menyapa yeoja itu.
"hai.. kenalkan, aku donghae teman kyuhyun. Kau pasti sungmin?" seperti biasa, donghae mengajak bicara dengan nada sok akrab padahal ini kali pertamanya ia bertemu dengan sungmin.
Mendengar sapaan ramah namja asing di depannya, sungmin tersenyum tipis. Lebih tepatnya ia memilih untuk menggubris namja asing ini dibanding menjawab sapaan kyuhyun.
"ne.. kalian ingin keluar?" tanya sungmin balik. Kyuhyun memandang donghae tajam seolah memberi isyarat agar tak memberitahu sungmin tujuan awal mereka keluar rumah.
"mmm, ya. dia ingin mengantarku pulang. Kami permisi, min- oh iya! kuharap lain waktu kau mau ikut berkumpul dengan kami dan ryeowook dikafe, yaa sekedar berbincang agar lebih akrab" kyuhyun cukup bernapas lega. merasa senang karena donghae bisa diajak kompromi kali ini. Sungmin menggeser tubuhnya, memberi jarak agar kedua namja didepannya dapat keluar karena sedari tadi tubuhnya menutup hampir setengah lebar pintu.
"akan ku usahakan" jawaban pelan dari sungmin tak pelak membuat kyuhyun kesenangan dalam hatinya, mengetahui yeoja itu mau menyisihkan waktunya untuk dirinya dan teman-temannya. Sungmin sendiri tak yakin dengan jawabannya. Dirinya dengan kyuhyun saja belum bisa dibilang memiliki hubungan yang baik, apalagi dengan teman- teman namja itu, pikirnya.
"kalau begitu aku masuk duluan. Kalian hati-hati di jalan" tak berniat untuk sekedar menatap kyuhyun, yeoja yang terbalut kaos hijau pastel itu melenggang masuk, meninggalkan kyuhyun dan donghae yang tanpa menunggu waktu ikut beranjak dari sana.
.
.
.
.
Kyuhyun bersyukur. Ya, setidaknya sungmin masih pulang ke apartemennya. Tak aneh jika ia berpikir sungmin tak akan pulang lagi ke apartemennya mengingat perlakuan yeoja itu padanya tadi pagi, tapi kenyataannya sungmin sedang berbaring diranjangnya kini. Belum ada pembicaraan yang berarti. Sejak ia kembali setelah mengantar donghae, mereka hanya berbicara secukupnya. Itupun kyuhyun yang memulai dengan menanyakan sungmin 'kau dari mana?' . kyuhyun juga senang karena sungmin masih mau menjawab pertanyaannya yang satu ini meskipun jawaban yang ia dengar berhasil menyentaknya. Sungmin berkata kalau dirinya ke taman bersama siwon. Berdua. Kyuhyun mengutuki kenyataan barusan. ia masih ingin bertanya lebih tapi sungmin sudah keburu meninggalkannya ke kamar karena dirinya sempat terdiam beberapa saat membayangkan apa saja yang dilakukan sungmin dan siwon di taman.
Kyuhyun masih menggenggam psp nya, namun sejak tadi kyuhyun hanya menekan start lalu mendiamkan benda itu hingga terpampang tulisan 'GAME OVER'. Setelahnya ia akan menekan start lagi dan begitu seterusnya. Ia sedang tidak berniat untuk memainkan perannya sebagai the master of games. Sesekali ia melirik sungmin yang masih berbaring. Ia cukup yakin kalau yeoja itu tidak tertidur. Merasa bosan, kyuhyun mencoba memulai pembicaraan lagi.
"min.." panggil kyuhyun. Yeoja itu menengok. Melihat respon sungmin, kyuhyun berdehem sebelum kembali melontarkan pertanyaan yang lebih mengaju pada pernyataan.
"kau berbeda hari ini" sungmin melengos. Mengerti pembicaraan ini akan mengarah kemana. Sebenarnya ia tak berniat untuk mendiamkan kyuhyun seperti tadi pagi, bahkan meninggalkan namja itu ketika sarapan. Ia hanya merasa butuh waktu untuk menerima semuanya. Menerima kenyataan demi kenyataan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Apalagi setelah ia mendengar tawaran siwon untuk kembali tinggal di apartemen lamanya. Sempat terbesit dipikiran sungmin, andai saja bayi mungil yang sudah dapat ia rasakan keberadaannya kini tidak ada dirahimnya mungkin ia dapat melanjutkan hidupnya seperti biasa dan ia akan berusaha mengubur kenangan pahit yang pernah diukir namja bernama kyuhyun.
Sungmin menggeleng lemah, tidak mungkin. Ia tidak akan pernah bisa kembali menjalani hidupnya seperti ketika bersama siwon karena pada kenyataannya sosok bayi mungil itu sudah tertanam dirahimnya. Memikirkan itu semua membuat sungmin semakin bingung harus seperti apa ia bersikap. Pada kyuhyun, pada siwon. Seolah ia harus menjadi dua pribadi yang berbeda ketika bersama kedua orang itu. Dihadapan kyuhyun ia harus menerima kenyataan yang ada walaupun tak bisa ia tunjukkan sekarang karena sungguh- ia masih terlalu kaget dengan kehadiran bayi dirahimnya. Dihadapan siwon, ia akan menunjukkan sisi aslinya yang rapuh. Memendam sendirian masalah demi masalah hanya membuatnya semakin merasa sakit. Setidaknya dengan bercerita pada siwon, dirinya merasa masih memiliki satu lagi penolong. Dan saat ini, ia masih belum tahu apakah tindakannya itu sudah tepat.
"mianhe.. aku hanya butuh waktu untuk menerima semuanya.." sungmin sama sekali tak berniat untuk menangis tetapi airmatanya mengalir begitu saja. mengerti perasaan yeoja itu, kyuhyun mendekat dan mengusap airmata yang mengalir di pipi sungmin. Seulas senyum tipis tercetak dibibir namja itu ketika mendengar kata 'menerima' dari bibir sungmin. Itu artinya sungmin akan berjuang bersamanya, bukan? Kyuhyun berharap begitu.
.
.
.
.
"min.. kita ada tetangga baru.." aku menoleh pada eomma yang berdiri diambang pintu. Wajahnya berbinar. Aku sudah dapat menebak apa tujuan eomma datang ke kamarku. Tak lama setelahnya, eonni muncul dari balik tubuh ibu. Benarkan? Aku semakin yakin dengan tebakanku. yeoja itu selalu saja berada di pihak eomma kalau masalah bujuk membujuk, dan itu menyebalkan asal kalian tahu. berbeda hal dengan saat-saat kami menghabiskan waktu bersama untuk mengobrol, bercanda, atau bermain disekitar rumah, aku merasa eonni memiliki sikap yang sangat menyenangkan, bahkan terkadang ia kuanggap sebagai sahabat terbaikku. Tak ada yang bisa mengerti diriku lebih dari yeoja yang hanya berbeda dua tahun denganku ini.
"hey, ayo kita main kesana. Mereka punya anak yang seumuran dengan kita, yaa walaupun sepertinya namja kecil itu terlihat lebih muda.." baru itu punya anak juga, pantas saja eomma sampai repot-repot datang kekamarku untuk memberi tahu. Aku memang sulit untuk bergaul, terkadang eomma menasehatiku agar tak terlalu dingin pada anak seumuranku jika ingin punya teman. Aku tak terlalu menghiraukan itu karena menurutku eonni sudah cukup menjadi sahabatku sehari-hari. Aku tidak membutuhkan teman lainnya. selama aku memiliki eonni maka aku tak akan pernah merasa kesepian.
"iya, nanti aku menyusul kesana.." jawabku ogah-ogahan, walaupun sebenarnya itu hanya alasan karena aku tidak berniat untuk keluar rumah sekedar untuk berkenalan dengan tetangga baru.
"aish.. tidak ada acara menyusul. Kajja..." eonni menghentakkan kakinya dan berjalan kearahku sebelum menarik tanganku paksa.
.
.
.
.
Sungmin terbangun dengan keringat dipelipisnya. Kejadian itu... sudah sangat lama. Mungkin ia terlalu merindukan orangtua dan eonninya sampai-sampai memimpikan saat itu lagi. Ia mendudukkan dirinya, mencari keberadaan kyuhyun yang tidak ada di sofa. Mungkin namja itu keluar, pikirnya.
"kau mimpi apa?" tanya kyuhyun yang ternyata berdiri disamping tempat tidur. Sungmin sedikit kaget dengan keberadaan kyuhyun yang terlalu tiba-tiba. Namja itu terlihat baru saja keluar dari kamar mandi, terbukti dengan adanya beberapa tetesan air dari rambut kyuhyun.
"bukan apa-apa.."
Hening sejenak.
"kyuhyun.."
"ya?"
Sungmin menimbang sejenak, merasa ragu melontarkan pertanyaannya pada kyuhyun.
"k- kau tidak merasa terbeban- umm, maksudku... kau-" bibirnya bergerak ragu, menimbang antara menanyakan ini atau menunggu hingga waktu yang menjelaskan semuanya. Tetapi kyuhyun bukan sosok yang tak mudah penasaran. Ia menghentikan pergerakan tangannya yang sejak tadi mengeringkan rambut brunette-nya dengan handuk. Memilih untuk menatap yeoja yang sudah duduk dan menyenderkan tubuhnya di mahkota kasur dengan intens.
"bicaralah, min.."
"kau... menerima bayi ini?" tanya sungmin lirih, sangat lirih. Kyuhyun tercekat dengan pertanyaan sungmin. bagaimana mungkin ia bisa menolak bayi yang Tuhan berikan ditengah-tengah mereka. Kyuhyun memang belum memiliki rencana yang matang untuk masa depan mereka tetapi kyuhyun tidak akan pernah menyesali kehadiran bayi yang berada dikandungan sungmin saat ini. Ia akan berusaha menjaga sungmin dan bayi mereka bagaimana pun caranya.
"aku menyayangi kalian berdua. Asal kau mendukungku, aku berjanji akan membahagiakan kau dan bayi ini. Demi Tuhan, min. berhenti menyesali semuanya. Kita akan memulai semuanya dari awal. Setidaknya tunggu sampai kita menikah dan kita membangun keluarga yang sesungguhnya.." kyuhyun tak pernah terpikir akan melontarkan kata-kata puitis semacam ini tapi kata-kata itu sendiri yang mengalir begitu saja.
sungmin merasa kalimat kyuhyun seolah menampar dirinya. Ia sadar, dirinya hanya menyesali semuanya. Tak pernah berpikir kedepan dan selalu memikirkan hal-hal yang terjadi kalau saja semuanya bisa diulang. Padahal itu semua sia-sia. Ia tak mungkin dapat memutar waktu. Saat ini ia hanya perlu mendukung kyuhyun untuk melanjutkan hidup mereka. Ia melirik sekilas perutnya yang masih rata. Meskipun begitu, sungmin dapat merasakan kehadiran sosok lain disana. bayi mereka. Sekali lagi sungmin merasa berdosa karena sempat menyesali kehadiran bayi tak bersalah ini. Ia mengusap perutnya, mencoba menerima semuanya dan memulai semuanya dari awal seperti kata kyuhyun.
Kyuhyun menyadari arti kediaman yeoja didepannya. Sungmin pasti merasa bimbang, ia paham itu dan kyuhyun tak mau memaksa sungmin untuk menerima segalanya semudah yang ia pikir. Sebesar apapun dirinya ikut andil dengan kehadiran malaikat kecil itu, tetap saja sungmin yang akan menerima dampak paling besar. Yeoja itu mengandung malaikat kecil mereka, merasakan setiap detik kehadiran sosok itu diperutnya. Kyuhyun mengerti. Ia hanya perlu menunggu hingga sungmin mampu menyesuaikan hati dan pikirannya dengan keadaan yang ada. Dalam hitungan detik kyuhyun merengkuh tubuh sungmin dalam pelukannya. Mengusap punggung sungmin untuk menyalurkan kenyamanan bagi yeoja yang berada dalam dekapannya.
Ringisan kecil terpasang di bibir sungmin ketika merasa pelukan hangat kyuhyun kembali membelenggu tubuhnya. Sejujurnya ia merasa nyaman. Seolah rasa khawatirnya akan masa depan mereka terangkat sedikit demi sedikit seiring dengan usapan namja itu dipunggungnya.
.
.
.
.
Sungmin membereskan peralatan dapur yang baru saja ia gunakan. Masakan untuk sarapan mereka telah matang, ia tinggal menaruhnya dimeja makan.
"hoam.."
Sungmin menoleh ke asal suara dan melihat kyuhyun yang baru keluar kamar. namja itu baru bangun.
"aku harus berangkat pagi. Sarapan akan kuletakkan dimeja" awalnya kyuhyun masih sibuk mengusap matanya yang terasa berat, akan tetapi mendengar kalimat sungmin barusan berhasil membuat kyuhyun membuka matanya lebar tanpa kantuk sedikit pun. Oh ayolah, ia tidak mau ditinggal sarapan lagi seperti kemarin.
Benar saja, kyuhyun mengernyit sebal kala menyadari sungmin yang sudah berbalut kaos pink cerah dan celana panjang hitam. Terlihat rapi sekaligus manis disaat yang bersamaan. Berbanding terbalik dengan dirinya yang baru saja bangun, bahkan ia masih terbalut piyama biru mudanya.
"min.." panggilnya dengan tatapan memohon. Berharap sungmin bersedia untuk menunggunya bersiap dan mereka bisa berangkat bersama. Sungmin mengerti arti pandangan kyuhyun, sebersit rasa tidak tega sempat menyergap hatinya sebelum ia menepis perasaan itu secepat mungkin.
"a- aku ada jadwal kuliah pagi" jawabnya tak enak, pasalnya ia tak sepenuhnya berkata jujur. Jadwal kuliahnya hari ini baru akan dimulai pukul sepuluh nanti. Bisa dibilang itu sudah pagi menjelang siang dan ia sangat sempat jika harus menunggu kyuhyun.
"baiklah.." namja tinggi itu mengangguk lemah, menyadari tak seharusnya ia menghalangi sungmin untuk berangkat dan meminta yeoja itu menunggunya. Dirinyalah yang seharusnya disalahkan. Terbangun ketika matahari sudah terbit sempurna, tsk! Mungkin besok ia harus bangun lebih pagi agar bisa berangkat bersama sungmin.
"aku pergi.."
.
.
.
.
Suara lantang sang guru yang merapalkan rumus-rumus seraya menuliskan beberapa angka dan kalimat diatas white board tak kunjung menarik perhatian kyuhyun yang sibuk menggambar sketsa-sketsa tak beraturan di bagian belakang buku tulisnya. Ia sudah memahami materi yang sedang dijelaskan guru didepan kelasnya itu dan memilih untuk menggambar abstrak seiring arah pergerakan tangannya, sekedar menghilangkan rasa bosan.
Disampingnya, donghae beberapa kali mengingatkan kyuhyun untuk menghentikan kegiatan namja itu dan menoleh kedepan seolah memperhatikan ketika guru berkepala setengah plontos itu tak sengaja melirik kyuhyun. Ia berharap kyuhyun tak membuat masalah baru di pagi yang cukup damai ini. Damai? Tentu saja. tadi pagi tak sengaja bagian depan mobil mewahnya menyerempet tubuh seorang yeoja cantik dan- ehm, cukup seksi. Donghae terkikik geli kala mengingat wajah yeoja itu yang memerah menahan kesal ketika melihat kaosnya robek sedikit akibat tersangkut aksesoris yang terpasang di mobil miliknya. pinggang mulus yang terekspos begitu saja mampu menarik perhatian donghae, hingga tak menyadari kepalan tangan yeoja cantik itu sudah melecehkan kepalanya. Ia di tempeleng begitu saja secara tidak hormat. Alih-alih merasa kesal, donghae malah tersenyum nakal menyadari keberanian yeoja itu. Donghae terkekeh ringan dan mengibaskan tangannya ke udara ketika mengingat dirinya yang berhasil mengetahui nama dan tempat kuliah yeoja itu saat melirik biodata yang terjabarkan dibagian depan kliping yang sedang digenggam yeoja itu. Donghae tak menyadari kekehannya barusan terdengar begitu jelas oleh seisi kelas mengingat suasana hening yang tercipta sejak tadi.
"ya, lee donghae! Apa yang kau tertawakan!" seketika donghae terbelalak menyadari sang guru yang terkenal sebagai 'guru killer' itu berjalan mendekat kearah mejanya dengan kyuhyun. Dengan takut-takut ia melirikkan pandangannya, meminta bantuan pada kyuhyun. Sayangnya kyuhyun tak berniat untuk membantunya sedikit pun, bahkan namja evil itu malah terkikik melihat dirinya yang tertangkap basah.
'aish! Sialan kau evil!' desis donghae disela deretan giginya.
.
.
.
.
"sial.. sial.. siaaaaallllllll" secepat kilat sungmin menutup telinga dengan kedua tangannya kala eunhyuk berteriak serampangan hingga menarik perhatian seisi kelas. Tanpa menunggu lebih lama, ia menarik tangan eunhyuk dan meminta penjelasan pada sahabatnya itu.
"aku ingin menonjok wajahnya, min! kau tahu? Ia bahkan tak meminta maaf!" ucapan penuh kekesalan itu terlontar dari bibir seksi eunhyuk. Beberapa kali ia mengumpat namja yang berhasil membuatnya kesal setengah mati. Melihat wajah frustasi sahabatnya, sungmin menenangkan eunhyuk dan meminta yeoja itu dan menjelaskan baik-baik agar ia mengerti permasalahannya.
"aku diserempet, min! lihat!-"
Eunhyuk menyibak sweater yang terpasang ditubuhnya, menunjuk-nunjuk bagian kaosnya yang robek dan menampilkan pinggangnya yang terekspos. Untung saja ia membawa sweater tadi pagi hingga tak harus menahan malu kalau ada mahasiswa lain menyadari kaosnya yang robek.
"-bukannya meminta maaf ia malah tersenyum miring dan mengerling tak jelas!" ungkap eunhyuk dengan tergesa. Emosinya sudah memuncak sejak tadi, sampai-sampai ia berani menempeleng kepala namja itu walaupun setelahnya ia cukup menyesal mengingat namja itu orang kaya yang bisa saja membalas perlakuannya dengan cara apapun. Apalagi ketika namja itu menggumamkan namanya, ia kaget setengah mati. Perasaannya ia tak mengenal namja itu sama sekali.
Pikirannya yang melayang pada kejadian tadi segera tertarik kembali pada kenyataan sekarang ketika mendengar kekehan ringan dari sampingnya.
"kau malah tertawa, min? aigooo, jahatnya.." sungmin meredam kekehannya dan mengibaskan tangannya ke udara menyangkal perkataan eunhyuk.
"hahah- a- aku lucu saja mendengarnya.." eunhyuk semakin mengerucutkan bibirnya. Tak mendapat pembelaan bahkan dari sahabatnya, ia melenguh kesal.
"tapi!-" sungmin memandang heran ketika dalam hitungan detik eunhyuk merubah wajah murungnya menjadi berseri. Ia mengerutkan dahinya penasaran.
"untungnya namja itu tampan.. kekeke~" sungmin mendengus malas. Selalu saja dikait-kaitkan dengan tampan dan kaya. Sahabatnya itu tak pernah berhenti berhayal mendapatkan namja sempurna seperti yang diidamkannya. Kalau ia pikir-pikir, kyuhyun nyaris memenuhi kategori sempurna yang diidamkan eunhyuk. Namja itu ia akui lumayan –ehm. Tampan. Masalah kekayaan tak perlu ditanyakan lagi, ia tak jarang menganga tak percaya ketika berkeliling apartemen kyuhyun. Semua barang-barang yang terdapat disana terlihat sangat mewah dan berkelas. Terutama ketika pertama kali ia menginjakkan kakinya di kamar mandi kyuhyun. Rasanya ia ingin berendam lama-lama disana, terlalu nyaman dan menenangkan. Disamping itu, kyuhyun memiliki pemikiran yang cukup dewasa, namja itu pintar. Beberapa hari yang lalu tak sengaja ia membuka catatan nilai-nilai ulangan semester kyuhyun. Ia mengerjap tak percaya ketika membuka lembaran demi lembaran jawaban itu dan menatap angka 100 terus menerus mengisi kolom nilai yang ada. 'dia tak hanya pintar, tapi jenius..'
"hei, kau melamun?" sungmin agaknya tersentak kala sadar dari lamunan singkatnya. Ia menggeleng.
"kuharap aku bisa bertemu dengan namja tampan itu lagi~" tatapan eunhyuk menerawang, membayangkan suatu saat nanti ia akan bertemu lagi dengan namja itu. Meski menyebalkan tetapi namja itu nyaris memenuhi kategori pria idamannya.
Sungmin tersenyum menanggapi. Dalam hatinya ia berharap agar sahabatnya ini bisa meraih impiannya untuk hidup bahagia bersama pasangannya kelak. Tak terlalu muluk-muluk, sahabatnya itu hanya bercita-cita membangun keluarga bahagia di masa depannya nanti bersama orang yang dicintainya. Tak jauh berbeda dengan sungmin, yeoja manis itu memiliki harapan yang hampir sama dengan eunhyuk. Sejak kecil ia sudah mendapatkan masalah demi masalah yang silih berganti, ia hanya ingin hidup bahagia bersama orang yang dicintainya kelak. Namun ia harus mengubur dalam-dalam harapannya barusan. jalan hidupnya tak akan semudah yang ia bayangkan, ia tahu itu. Tak bermaksud untuk menyesali segalanya lagi, sungmin hanya memejamkan matanya dan berharap semuanya akan berjalan baik-baik saja. terlebih untuk sikapnya pada kyuhyun, ia tahu namja itu sudah berusaha memperlakukannya sebaik mungkin tapi ia juga tak tahu kenapa.. ia masih merasa sulit untuk berinteraksi sewajarnya lagi semenjak mendengar kabar kehamilannya.
Sungmin memandang perutnya dan mengusap permukaan yang masih datar itu dengan sayang. Tak dapat ia pungkiri, dirinya beberapa kali mengutuki pemikirannya yang sempat menyesali kehadiran bayi mungil tak bersalah yang sedang bertahan hidup dirahimnya kini. Tak seharusnya ia menyesali anugerah yang Tuhan berikan untuknya dan kyuhyun. Ia meneruskan usapannya dengan tempo beraturan, merasakan kehadiran sosok lain disana. tanpa terasa setetes bulir bening menyeruak dari mata foxy-nya, merasakan kekhawatirannya perlahan berubah menjadi kehangatan yang sangat nyaman. Seolah bukan lagi masalah yang akan ia dapati kedepannya, melainkan dengan adanya sosok mungil ini ia akan merasakan kebahagiaannya nanti.
.
.
.
.
Sungmin mengerjap pelan ketika terbangun dari tidur nyenyaknya. Selama sebulan terakhir ia merasa tidurnya sangat nyaman. Mungkin karena ia mulai terbiasa dengan suasana kamar bernuansa baby blue yang sudah ia tempati sejak dua bulan yang lalu. Matanya menatap sekeliling mencari keberadaan namja yang harusnya masih terlelap di sofa. Ia melirik kamar mandi, mungkin saja namja itu sudah bangun dan sedang mandi saat ini. Tetapi sungmin segera menepis pemikirannya ketika menyadari lampu kamar mandi yang tak menyala.
Menyampingkan rasa penasarannya, sungmin melirik perutnya yang mulai mengalami perubahan kecil. Meski tak terlalu kentara tapi ia tahu perutnya sedikit membuncit. Sungmin mengusap perutnya penuh kasih, merasakan kehadiran malaikat kecil disana. pada kenyataannya sungmin sangat ingin meminta kyuhyun untuk mengantarnya melakukan USG . akan lebih menyenangkan jika menyaksikan langsung perkembangan bayi mungilnya yang bahkan mungkin belum terbentuk sempurna. Tapi sungmin masih merasa canggung dengan hal-hal yang menjurus seperti pasangan suami istri yang sesungguhnya. Ia masih merasakan adanya batasan antara dirinya dengan kyuhyun. Parahnya ia sendiri yang seolah membangun batasan tersebut. Beberapa kali menolak tawaran kyuhyun untuk berjalan-jalan sore bersama, tak jarang juga sungmin menolak ajakan kyuhyun untuk melihat-lihat perlengkapan bayi ketika mereka kebetulan berada di mall. Sungmin masih merasa kaku dengan itu semua, tepatnya ia merasa ingin memberi jarak diantara hubungannya dengan kyuhyun. Ia juga tidak tahu kenapa ia merasa harus melakukan itu, terkadang ia menyesali sikapnya yang kelewat dingin pada namja itu. Sungmin menghela nafas. Ia bertekad untukmengubah semuanya perlahan-lahan, tak mudah memang tapi setidaknya ia sudah berniat mencoba.
Yeoja mungil itu beranjak dari kasur king size yang menjadi alas tidurnya, mencari keberadaan kyuhyun diluar kamar saat rasa penasarannya semakin menjadi.
"kyuhyun?" panggilnya. Tak ada tanda-tanda keberadaan kyuhyun diruang tamu, lalu dimana sebenarnya namja itu?
Sungmin mengerucutkan bibir kesal kala tak kunjung menemukan sosok kyuhyun. Bibi han juga belum datang, ia jadi tidak tahu harus bertanya pada siapa. Sekilas matanya menatap jam dinding yang menggantung dan seketika itu juga ia melebarkan matanya.
"oh my! Pantas saja.." sungmin menghantamkan kepalan tangannya kearah kepala nya.
"aigoo.. bagaimana ujianku nanti" yeoja itu mendengus frustasi. Ujiannya dimulai pukul tujuh sedangkan saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan! Hebatnya, ia masih memakai piyama dan belum bersiap sama sekali. Pantas saja kyuhyun tak ada disini, namja itu pasti sudah berangkat sejak tadi. Sungmin menggerutu sebal, seharusnya kyuhyun membangunkannya tadi.
"ck! apa susahnya sih membangunkanku" sungutnya kesal. Sungmin melangkah kembali ke kamar dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan. Meluapkan kekesalannya dengan menginjak lantai keras-keras. Percuma saja kalau ia bersiap sekarang, ia jamin akan mendapat pengusiran yang 'sangat halus' dari dosen killer yang menjadi pengawas ujian dikelasnya hari ini.
"awas saja kau kyuhyun." Sungmin kembali membaringkan tubuhnya diatas kasur, lebih baik ia melanjutkan istirahatnya.
.
.
.
.
"aku pulang.." namja tinggi yang baru saja melempar tas sekolahnya dengan asal segera mengganti sepatunya dengan sandal rumah yang tersedia. Suara berisik dari dapur berhasil mencapai indera pendengarannya. Ia tak terlalu menghiraukan, mungkin saja itu bibi han yang sedang memasak makan malam untuk dirinya dan sungmin. ah! sungmin ya.. sedang apa yeoja itu. Seingatnya ia masih melihat sungmin terlelap ketika ia sudah bersiap untuk berangkat. Mungkin saja yeoja itu sedang libur, lagipula wajah damai sungmin terlihat sangat menggemaskan hingga membuat kyuhyun tak tega membangunkan yeoja itu.
Sungmin menautkan alisnya kala tak menemukan sosok sungmin dikamar. Apa mungkin yeoja itu pergi kuliah? Tapi rasanya tidak mungkin. Ia mengarahkan langkahnya ke dapur, mungkin saja bibi han tahu dimana sungmin sekarang.
.
"sungmin?" yeoja yang merasa namanya dipanggil segera menoleh dan memasang wajah sebal ketika menyadari kyuhyun yang sedang berdiri tak jauh darinya. Ia membuang pandangannya dan kembali sibuk berkutat dengan peralatan memasak. Kyuhyun yang melihat itu hanya terdiam. Sungmin masih bersikap dingin padanya. Tapi... sampai kapan?
Yeoja mungil itu terlihat menata piring-piring yang penuh dengan masakan. Aroma masakan menyergap ketika asap yang masih mengepul itu menyebar seiring angin yang berhembus semilir. "dimana bibi han?" kyuhyun menyerukan pertanyaannya, bermaksud memulai pembicaraan.
"aku tidak tahu.." lagi-lagi jawaban singkat dari sungmin yang ia terima. Tak heran karena yeoja itu selalu seperti ini meski mereka sudah dua bulan bersama.
Kyuhyun mengangguk paham. Tanpa diberitahu pun ia tahu alasan bibi han jika tak masuk tanpa kabar seperti hari ini. Penyakit yang diderita putri semata wayangnya semakin parah dari hari kehari. Sudah hampir tak terhitung bantuan yang kyuhyun berikan untuk membantu biaya pengobatan putri bibi han, tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain karena hingga kini penyakit itu tak kunjung sembuh.
"semoga putrinya lekas sembuh.." gumam kyuhyun. Ia meraih piring dan menyendok makanan yang disediakan sungmin. tak terelakkan sungmin menautkan alisnya bingung. Putri siapa yang dimaksud kyuhyun? Ia penasaran tapi ia masih kesal dengan namja itu karena ia harus mengikuti ujian susulan minggu depan.
"maksudmu?" mungkin ini kali pertamanya sungmin menanggapi pernyataan kyuhyun dengan pertanyaan baru. Biasanya yeoja itu hanya mengangguk atau bahkan hanya diam, sekedar mendengar saja, tak pernah menanggapi lebih lanjut. Berbeda dengan saat ini, kyuhyun menoleh semangat. Perhatiannya sudah terfokus pada wajah sungmin.
"putri bibi han mengidap penyakit yang cukup parah. Ia sudah sering tak datang tanpa kabar seperti sekarang jika penyakit putrinya sedang kambuh.." jelas kyuhyun tanpa melepas pandangannya yang menatap sungmin gemas ketika mendengar penjelasannya deng mulut yang terbuka tak percaya. Yeoja itu baru tahu kalau bibi han memiliki seorang putri dan mengidap penyakit parah, padahal ia tak pernah melihat bibi han sedih, ahjumma paruh baya itu selalu tersenyum setiap harinya padahal menyimpan kepedihan yang mendalam. Sungmin menunduk, merasa sedih sekaligus iba.
"lalu dimana suami bibi?" tanya sungmin lagi.
"sudah meninggal sejak tiga tahun yang lalu. Aku juga tidak bisa membayangkan kehidupan macam apa yang dijalani bibi selama ini.."
Sungmin mengusap airmata yang mengalir begitu saja di pipi chubby nya. Ia terlalu larut dalam kesedihan setelah mendengar cerita kyuhyun. Ia sangat tahu bagaimana rasanya kehilangan keluarga. Sangat sakit. Sekelebat kenangan menyedihkan itu menyeruak diingatannya. Saat-saat dirinya tak lagi memiliki orangtua dan menjalani hidup hanya berdua dengan sang kakak. Seolah tak ada habisnya masalah yang datang, satu-satunya keluarga yang ia punya pun ikut pergi meninggalkannya.
Untungnya ukuran meja makan mereka tak terlalu besar sehingga memudahkan kyuhyun untuk membantu sungmin mengusap airmata yeoja itu.
"ssttt.. uljima.." bisik kyuhyun, ia ikut merasa sedih melihat sungmin yang menangis sesunggukan. Ia tak tahu jelasnya kenapa tapi ia yakin sungmin memiliki alasan yang menyakitkan hingga yeoja itu menangis seperti ini, seolah yeoja itu pernah merasa kesedihan yang sama seperti yang dirasakan bibi han.
"aku sudah selesai" sungmin berniat untuk membereskan piringnya yang baru beberapa suap ia makan sebelum tangan kyuhyun mencegah pergerakannya.
"min, kau tidak boleh seperti ini. Habiskan dulu makananmu" sungmin menarik tangannya dari genggaman kyuhyun, tak menghiraukan ucapan kyuhyun padanya. Ia sudah tak nafsu untuk melanjutkan makan,kesedihan yang ia rasakan mencapai ke ubun-ubun membuatnya mual.
"min!" kyuhyun berdiri dan menarik tubuh sungmin untuk kembali duduk di meja makan.
"lepas, kyuhyun! Aku tidak nafsu lagi.." sungmin mencoba kembali menarik tangannya namun sikap penolakan yang baru saja ingin ia lancarkan terhenti seketika saat kyuhyun melepas genggamannya dari tangan sungmin.
"sungmin! aku melakukan ini untuk kesehatanmu, demi bayi kita. Kalau kau sakit karena tak makan bagaimana ia bisa tumbuh sehat disana?" sungmin terdiam. Jemari kyuhyun sudah tak menggenggam tangannya, ia bebas pergi tapi... ia tidak bisa. Perasaan bersalah menyergap hatinya ketika kyuhyun menghela nafas dan berucap lirih.
"aku mohon min.. setidaknya kau biarkan dia bertumbuh baik sampai lahir, setelah itu kau bebas.. aku tak melarangmu jika ingin pergi meninggalkan kami, aku akan mengurusnya sendiri. Kau tak perlu khawatir.. kau boleh pergi setelah itu.."
Pandangan sungmin mengabur seiring kalimat terakhir kyuhyun yang membuat hatinya merasa sakit. Ia juga tidak tahu apa yang membuat hatinya terasa ditikam ribuan pisau tak kasat mata. Setetes air mata kembali mengalir, bedanya kali ini tak ada tangan hangat kyuhyun yang biasanya menghapus airmata itu dari pipi sungmin. kyuhyun hanya diam memandangnya dengan tatapan yang tidak ia mengerti.
Kyuhyun mati-matian menguatkan hatinya ketika mengucapkan kalimat itu. Semuanya tidak benar. Bagaimana mungkin ia membiarkan sungmin pergi setelah bayi mungil mereka lahir ke dunia. Justru ia akan sekuat tenaga mempertahankan sungmin di sisinya sampai kapan pun. Ia ingin membangun keluarga yang utuh bersama yeoja itu. Terlalu klise memang, tapi kyuhyun bersungguh-sungguh ketika memikirkan cara untuk mencari uang sebanyak mungkin demi menunjang kehidupan keluarganya bersama sungmin dan anak mereka nanti.
Ia melihat sungmin yang menggigit bibir bawahnya hingga memerah. Ia tahu ucapannya sudah keterlaluan, tapi bukankah itu memang keinginan sungmin? bukankah yeoja itu ingin menjauh darinya? Sejak awal kyuhyun sudah merasa tidak dianggap oleh sungmin, dan salahkah ia jika mengatakan hal tadi?
Pikiran kyuhyun merumit seiring keheningan yang menyergap mereka sejak tadi. Hatinya sudah terlalu sakit menyadari sungmin yang sepertinya tak kunjung menerima kehadiran malaikat mungil mereka. Tanpa menunggu waktu, kyuhyun beranjak dari tempatnya berpijak. Meninggalkan sungmin yang masih tergugu dalam tangisnya dan meringkuk memeluk perut dimana bayi kecilnya dan kyuhyun sedang bertumbuh.
.
.
.
.
TBC/end?
Satu lagi chapter yang panjang dan mungkin... *hiks* membosankan.
Apa ff ini layak dilanjut? Atau gimana?
Aku udah bikin skema dari awal sampai end tapi ga tau kenapa ide susah banget muncul diotak pas-pasan ini *getok kepala* jadinya ya gini deh, update telat ga menentu :(
Kalau kalian merasa ff ini masih layak tolong berikan komentar dan kasih tahu letak kekurangannya ada dimana, mungkin saya bisa sadar dan jadi ada semangat nulis lagi buat chapter selanjutnya..
Untuk typo... aku no comment hehe.. Cuma bisa minta maaf kalo typo masih bertebaran *bow*
Okay, cukup segini aja cuap-cuapnya.
Hope you like it!^^
