Minseok berjalan cepat memasuki café tempat Ryeowook bekerja. Ia berjalan menuju meja kasir dan langsung disambut oleh Seulgi.
"Ada yang bisa kubantu?", tanya Seulgi ramah.
"Aku mencari Rye–Li Xu", ralat Minseok. Orang-orang di sini tidak ada yang mengenal Ryeowook, kecuali Li Xu.
"Li Xu? Dia baru saja pergi setelah berbicara dengan bos", ucap Seulgi.
"Pergi kemana?", tanya Minseok dengan wajah panic.
"Entahlah, dia tiba-tiba saja pergi tanpa pamit", ucap Seulgi.
Minseok berdecak kesal kemudian memikirkan tempat dimana ia bisa menemukan Ryeowook.
Apartement.
Minseok teringat dan mengucapkan terima kasih kepada Seulgi. Kemudian ia memberhentikan sebuah taxi dan langsung menuju apartement Ryeowook.
Di dalam taxi, Minseok membuka tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi Baekhyun.
"Umma", panggil Minseok.
"Ne sayang?"
"Umma, apa 'itu' bisa jadi malam ini?", tanya Minseok menyamarkan kata 'penawar' menjadi 'itu' karena di depannya ada supir taxi.
"Haaah, umma dan appa sedang berusaha, mungkin paling cepat tiga hari"
Minseok menggigit bibir bawahnya cemas. Ia cemas akan segala hal yang akan terjadi esok.
"Ini gawat umma, 'itu' harus jadi malam ini", ucap Minseok.
"Tapi tanpa Ryeowook–"
"Aku sedang dalam perjalanan menuju apartement unni", ucap Minseok memotong ucapan Baekhyun.
"Baiklah, hati-hati, ingat … jangan terlalu memaksanya, dan–kau sudah menghubungi oppamu? Apa Luhan bersamamu?"
"Ani, oppa tidak bersamaku, kenapa umma?"
"Oppamu tidak bisa dihubungi, padahal ia mungkin bisa membuar Ryeowook mau turun tangan"
Minseok berdecak lidah memikirkan Luhan pasti tidak ingin terlibat hal seperti ini. Jadi ia lari. 'Dasar pengecut!'
"Baiklah umma, aku akan ke–"
Duk! Plung! Plung!
"Asataga! Bukan! Ini Bukan!"
Minseok mengernyit mendengar jeritan Baekhyun di seberang sana. "Umma? Yoboseo, umma?", ucap Minseok berulang-ulang.
"Tidak! Ini bukan! Tidak berhasil! Astaga astaga! Awas!"
Minseok jadi khawatir sendiri. Ia memandangi layar ponselnya yang mengeluarkan suara gaduh. Ia menutup panggilan dan menggigiti bibir bawahnya sendiri.
Minseok mengeluarkan secarik kertas dari jas sekolahnya dan menyodorkannya pada supir taxi. "Ahjussi, putar arah–kita ke alamat ini", ucap Minseok cepat.
Ia khawatir dengan kedua orang tuanya. Apa kejadian di rumah saat itu akan terulang? Apa kali ini mereka akan terhindar dari ledakan? Tapi tadi tidak terdengar ledakan–tapi mungkin itu akan terjadi nanti? Minseok tidak tahu dan kebingungan.
.
.
How To Back To Normal?
.
By : Nyanmu
Main Cast : Kim Jongdae and Kim Minseok a.k.a Park Minseok
[ChenMin]
Support Cast : Exo's member and BTS
Genre : Romance, Little bit Humor, Family, Fantasy and Friends
Rated : T
Length : Chaptered
Warn! GENDERSWITCH (GS) | Typo(s) | Alur ngebut | Kata-kata absurd dan KASAR!
.
.
Chapter 7 : Semuanya sudah normal?
"Umma! Appa!", teriak Minseok memasuki bangunan tua yang di dalamnya terdapat lab milik Ryeowook.
Minseok berlari semakin cepat dan membuka pintu baja yang menutup laboratorium.
"Jangan sentuh!"
"Aaa! Aku menyentuhnya! Aku menyentuhnya!"
"Tanganmu! Kemarikan! Cuci! Cepat!"
Dengan napas terengah-engah, Minseok memperhatikan kegiatan kedua orang tuanya yang sedang panik karena beberapa bahan kimia yang tumpah mengenai tangan lembut Baekhyun.
Chanyeol dengan sigap menarik tangan Baekhyun dan membawanya ke wastafel. Ia mencuci tangan Baekhyun dengan air mengalir–peraturan laboratorium.
"Kalian hah … hah … baik-baik saja?", tanya Minseok masih mengatur napasnya.
Baekhyun dan Chanyeol menoleh mendengar suara anak bungsu mereka. "Seokkie-ya, kenapa kau di sini? Bukannya mau ke apartement Ryeowook?", tanya Baekhyun.
"Astaga! Kalian membuatku khawatir! Bagaimana kalau kejadian meledak itu terulang lagi? Lalu kalian terluka? Lalu labnya tidak bisa digunakan, lalu tidak ada obat penawar, lalu Jongdae tidak kembali, sementara bibi Oh akan pulang besok sore dan besok pagi dia harus hadir di sekolah!", cerocos Minseok dalam satu kali tarikan napas.
Chanyeol menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis. Dan Baekhyun tersenyum lebar mendengar penuturan–yang menurutnya–lucu milik anaknya tersebut.
Minseok memalingkan wajahnya agar rona merah di wajahnya tidak dilihat oleh kedua orang tuanya. For God! Ini pertama kalinya Minseok mengkhawatirkan orang tuanya yang cukup gila ini.
Dan ini memalukan!
"Sudahlah!", Minseok mendengus.
"Aku akan mencari Ryeowook unni", ucap Minseok berbalik.
Bruk!
Hidung Minseok menabrak seseorang. Membuat Minseok mundur beberapa langkah sambil mengusap-usap hidungnya yang terbentur seseorang tadi.
"Tak perlu mencariku, lebih baik kau membawakan barang-barang yang ada di mobilku kemari", ucap seseorang itu.
Minseok mengerutkan keningnya karena mendapati Ryeowook di sini. Ia senang, tapi juga bingung. "Kenapa unni di sini?", bingung Minseok.
"Menurutmu", ucap Ryeowook dengan alis terangkat sebelah.
Minseok mengangkat kedua bahunya karena tidak tahu. "Tentu saja membantu sahabat baikku, untuk apa lagi", ucap Ryeowook melangkah masuk dan memakai jas laboratorium.
Minseok mengukir senyum lebarnya. 'Berarti–penawarnya akan cepat jadi!'. Minseok segera melangkah keluar mengingat Ryeowook menyuruhnya untuk mengeluarkan barang-barang di mobil Ryeowook.
"Ryeowook, apa aku tidak salah lihat? Kau–di sini? Mau membantu?", ucap Baekhyun dengan mata berbinar.
Ryeowook tersenyum dan mengangguk. 'Terima kasih Yesung, atas jawabanmu'
"Tapi, bukannya kau bilang tidak akan pernah menyentuh bahan kimia lagi? Setelah menjadi Li Xu", ucap Chanyeol menekan kata 'Li Xu'.
Ryeowook mendengus mendengar penuturan Chanyeol. "Oke, itu kemarin, dan sekarang berbeda–", ucap Ryeowook menjeda.
"Lagi pula, aku hanya berkata 'Aku berjanji tidak akan menyentuh bahan kimia lagi' bukan 'Aku tidak akan mengubah keputusanku'", ucap Ryeowook.
Bruk!
Baekhyun berhambur memeluk Ryeowook. "Terima kasih wookkie!", teriak Baekhyun senang. Ryeowook membalas pelukan Baekhyun dan tersenyum senang.
"Astaga! Kau tidak berkata bahwa barang bawaanmu adalah hewan menjijikan seperti ini!", jerit Minseok membawa sekandang penuh tikus putih.
Ryeowook menyeringai. "Aku membutuhkannya untuk kelinci percobaan, atau–kau mau menggantikan mereka?", tanya Ryeowook bergurau.
Minseok menggeleng kencang. Cukup kedua orang tuanya yang mengubahnya, ia tidak mau diubah oleh Ryeowook.
"Seokkie, mana Jongin dan Jongdae?", tanya Baekhyun.
"Mereka masih di penitipan anak", ucap Minseok dengan wajah jijik ke arah tikus-tikus putih tersebut.
"Bagaimana dengan oppamu?", tanya Baekhyun.
Minseok memutar bola matanya malas. "Sepertinya dia tidak ingin terlibat", dengus Minseok kesal.
"Baiklah, kita akan mulai, kau bisa pulang, Seokkie", ucap Chanyeol.
"Um–Apa penawarnya bisa jadi nanti malam?", tanya Minseok berharap.
"Aku tidak yakin kalau nanti malam, yang jelas aku membutuhkan semalaman penuh untuk mengingat-ingat bahan kimia penawar yang biasa kubuat", ucap Ryeowook mengambil sebuah koper silver di tangan kiri Minseok.
"Akan kuusahakan", ucap Ryeowook mengusak puncak kepala Minseok.
"Baiklah, semoga sukses! Aku akan pulang!", teriak Minseok berjalan ke luar lab dengan senyuman terukir penuh di wajah manisnya.
.
.
.
Seorang namja tengah sibuk berkutat dengan arsip yang ada di hadapannya. Ia harus mengembangkan kreatifitasnya untuk membuat makanan baru yang lebih menarik agar penghasilannya bertambah.
Cklek!
"Appa–", panggil seorang yeoja manis yang baru saja membuka pintu ruangan milik namja tersebut.
Namja yang dipanggil 'appa' oleh yeoja tersebut mendongak dan tersenyum melihat anak perempuannya datang. "Masuklah", ucap namja tersebut melepas kacamata kerjanya.
Yeoja dengan mata bulat tersebut membuka pintu sedikit lebar agar ia bisa masuk dan menutupnya perlahan. "Apa appa memanggil karyawan bernama Li Xu itu tadi?", tanya yeoja itu dengan rasa penasaran.
Appa dari yeoja ini pun mengerutkan keningnya mendengar ucapan anaknya. "Ya, memangnya kenapa?", tanya namja tersebut menyandarkan punggungnya yang lelah pada sandaran kursi.
Yeoja bermata bulat itu segera duduk di sebuah kursi yang memang disediakan di hadapan namja–alias appanya itu.
"Apa yang kalian bicarakan?", tanya yeoja bermata bulat itu dengan mata berbinar.
"Hanya menanyakan masalahnya, itu saja", ucap appanya dengan senyum tipis.
Yeoja di hadapannya memincingkan matanya curiga. "Appa tidak akan melupakan Ryeowook, 'kan?", tanya yeoja itu curiga.
Namja yang ada di hadapan yeoja ini pun terdiam. Ia ragu. "Entahlah, appa juga tidak tahu–", ucap namja tersebut.
Yeoja di hadapan namja itu pun menghela napas panjang. "Kenapa appa ragu?", tanya yeoja itu.
"Dia begitu mirip dengan Ryeowook, sangat mirip–sifatnya, senyumnya, tatapannya, semuanya–Tapi dia bukanlah Ryeowook", ucap namja tersebut dengan tatapan sendu.
"Aku yakin dia akan mengenalimu, appa", ucap yeoja bermata bulat itu.
Namja yang diberi semangat oleh anaknya itu hanya tersenyum kecil. "Kuharap begitu, sudah lama aku tidak mendapat kabar darinya–dia tiba-tiba saja menghilang bagai ditelan bumi", ucap namja tersebut.
"Tapi appa masih mencintainya 'kan?", tanya yeoja bermata bulat itu sedikit menggoda.
Namja di hadapan yeoja bermata bulat itu tersneyum tipis. Ia memang mencintai Ryeowook, tapi setelah bertemu dengan karyawannya yang mirip dengan Ryeowook, ia mulai ragu.
Namja tersebut mencondongkan tubuhnya dan berbisik. "Bagaimana menurutmu Li Xu itu?"
Yeoja bermata bulat itu tertawa hambar. "Aku tak tahu appa, aku tidak dekat dengannya dan hanya appa yang tahu", ucapnya.
Namja di hadapan yeoja bermata bulat ini terkekeh. "Tidak, tidak–appa tidak akan berpaling, appa masih mencintai Ryeowook", ucapnya.
Yeoja bermata bulat ini menarik senyumnya mendengar ucapan appanya yang penuh dengan keyakinan.
.
.
.
"Aduduh! Eee", Minseok berucap tak karuan saat Jongin maupun Jongdae yang digendongnya terasa ingin jatuh.
Ya, Minseok baru saja pulang dari penitipan anak. Ia sedikit terlambat karena lokasi bangunan lab milik Ryeowook agak jauh dari jalan raya. Sehingga Minseok harus menuju jalan raya terlebih dahulu untuk mencari kendaraan pulang–ia tidak bisa mengemudi kalau kalian mau tahu.
Cklek!
Minseok sedikit kesusahan saat membuka pintu kamarnya. Setelah terbuka, ia segera meletakan Kim Jong bersaudara di atas kasurnya.
"Ah! Susah sekali menggendong mereka semua", keluh Minseok meregangkan ototnya setelah menggendong Kim Jong bersaudara.
Minseok meletakkan tas ranselnya di atas meja belajar. Ia mengambil baju santai yang ia gantung di gantungan baju, kemudian berjalan ke kamar mandi setelah menutup pintu kamar–agar tidak ada yang masuk tanpa izin ke kamarnya.
Minseok berjalan perlahan menuju cermin yang berada di kamar mandi. Ia pandangi dirinya sendiri cukup lama. Kemudian ia berdeham cukup keras.
'Oke, aku akan mengatakannya'
Minseok membenarkan posisi berdirinya. "Aku–", ucap Minseok tercekat.
'Katakan! Apa susahnya?!'
"Aku menyu–Akh!"
Minseok memegangi mulutnya yang terasa sedikit nyeri karena giginya baru saja menggigit lidahnya sendiri. "Kenapa susah sekali", desis Minseok dengan wajah kesakitan.
"Ah! Lupakan!", geram Minseok kemudian berganti baju.
"Huuueeee!", sebuah suara tangiasan mengharuskan Minseok untuk bergegas berganti baju.
Cklek!
Minseok keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru dan melemparkan seragamnya ke segala arah. Ia panic melihat Jongdae kecil menangis dengan keras.
"Huuuee!", tangis Jongdae kecil.
Minseok kelimpungan. Ia bingung harus apa. Ia takut kalau suara tangisan Jongdae kecil membangunkan Jongin.
"Ssssttt, diam ya diam–mau apa?", tanya Minseok menghampiri Jongdae kecil.
"Huueee!"
"S-Susu ya susu?", Minseok berjalan kearah pintu.
"Huuuueeeeee!", tangisan Jongdae kecil semakin keras. Minseok mengurungkan niatnya untuk membuat susu.
"Mainan? Kau mau mainan?", Minseok mengambil mainan milik Jongin dan menaruhnya di dekat Jongdae kecil.
"Huuueeee!", tapi Jongdae kecil semakin keras menangis.
Minseok menggaruk kepalanya kebingungan. Apa yang diinginkan bayi seperti Jongdae ketika menangis selain susu? Begitulah yang Minseok pikirkan.
"Kau mau apaaa", Minseok memegang kedua tangan Jongdae kecil yang mungil.
Dan tiba-tiba Jongdae kecil berhenti menangis. 'Eh? Dia ingin apa? Kenapa diam saat tangannya kupegang?'
Jongdae kecil menggenggam erat jari-jari Minseok. Perlahan, Minseok melepaskan tangannya–ingin menguji.
"Huueee!", dan Jongdae kecil sukses menangis lagi.
Minseok menarik sebuah senyuman dan berbaring di samping kanan Jongdae kecil. "Kau takut sendirian eoh?", tanya Minseok.
Jongdae kecil hanya menatapnya dengan mata berair. Minseok terkekeh, kemudian memegang tangan kanan Jongdae kecil. "Dasar cengeng", cibir Minseok disertai senyumannya.
Minseok memandangi Jongdae kecil. Begitu pun sebaliknya. Minseok merasa kalau Jongdae kecil ingin mengatakan bahwa ia tidak ingin ditinggal oleh Minseok.
"Aku tidak akan pergi", gumam Minseok memainkan tangan Jongdae kecil yang mungil.
Grep!
Jongdae kecil menggenggam tangan Minseok semakin erat. Namun Minseok hanya tersenyum dengan mata terpejam.
"Entah mengapa, aku ingin mengatakan banyak hal saat melihatmu menjadi bayi seperti ini", gumam Minseok sambil membuka matanya.
Jongdae kecil terdiam seperti siap mendengarkan Minseok. "Aku tidak merasa speechles saat kau seperti ini", ungkap Minseok.
"Aku tidak tahu apakah kau akan mengingat perkataanku ini saat kau kembali normal, aku sudah memikirkan ini dan–aku juga menyukaimu", ucap Minseok dengan senyum lebih lebar.
"Haha!", Jongdae kecil tertawa.
"Kenapa kau menertawaiku, eoh?", gumam Minseok berpura-pura merajuk.
"Poppo!", jerit Jongdae kecil kemudian mencium hidung Minseok.
"Haha, terima kasih", ucap Minseok terkekeh.
"Maafkan aku", gumam Minseok mengulum senyum.
"Maaf karena aku tidak langusng menjawabmu saat itu", ucap Minseok.
"Mau kuucapkan lagi?", tanya Minseok tertawa geli melihat Jongdae kecil terkikik.
"Aku–Park Minseok, menyukai Kim Jongdae", ucap Minseok.
"Pa Misok Ongdae! Uka! (Park Minseok Jongdae! Suka!)", racau Jongdae kecil.
Minseok terkikik. "Aku tahu itu, oh bukan suka, tapi–mencintai", kekeh Minseok.
.
.
.
Cklek! Tap! Tap! Tap!
Perlahan, kedua mata Minseok terbuka. Ia mengerjapkan beberapa kali matanya untuk menyesuaikan cahaya kamarnya. Kemudian ia bangkit dan menatap jam dinding.
Pukul 02.30 pagi.
Minseok mengernyit setelah melihat pukul berapa saat ini. Ia terbangun karena mendengar suara pintu terbuka dan langkah kaki. 'Aku yakin sudah mengunci pintu kok, ada siapa lagi di rumah ini selain aku, Jongin, dan Jongdae?'
Tiba-tiba detak jantung Minseok terpacu cepat memikirkan hal yang tidak-tidak masuk ke dalam rumahnya. Mengingat hanya ia dan dua anak kecil di sampingnya di dalam rumah ini.
Perlahan Minseok turun dari kasur dan mengambil sebuah raket tennis di pojok ruangan dan berjalan perlahan menuju pintu.
"Shhh …", Minseok mendesis kecil saat membuka pintu karena takut menimbulkan suara.
Minseok menyembulkan kepalanya keluar dan melihat keadaan sekitar secara seksama. Yang dapat Minseok lihat hanyalah keadaan rumahnya yang terang dan sepi.
Namun tunggu–
–Kamar Luhan yang berada di sebelah kamarnya terbuka dan menyala. Padahal kamar Luhan sebelumnya tertutup dan terkunci rapat.
Perlahan, Minseok memberanikan diri untuk melangkah mendekati kamar Luhan. Dengan langkah pelan, ia mengendap-endap dan berjalan di dekat tembok. Raket tennisnya ia genggam kuat.
'Semoga bukan siapa-siapa'
Minseok memejamkan mata. Menarik napas dalam. Dan menguatkan mentalnya. Setelah yakin, dengan perlahan ia gerakkan tubuhnya untuk mengintip ada apa di dalam kamar Luhan pada dini hari seperti ini.
Ctek! Ctek! Klik! Srak!
"Jongwoon …"
Minseok mengernyitkan dahinya saat melihat sebuah punggung seorang namja di dalam kamar Luhan sedang membuka computer.
"Oppa", panggil Minseok.
Luhan yang terkaget sontak menoleh dengan tatapan horror. Siapa yang tidak takut jika pada pukul dua dini hari ada yang memanggilmu tiba-tiba?
"Minseok", desis Luhan membalikkan tubuhnya menghadap ke computer kembali.
Minseok berjalan masuk ke dalam dan berhenti di sebelah Luhan. "Kapan oppa pulang? Sedang apa? Kenapa oppa tidak bisa dihubungi? Kita semua sangat repot dan kau tidak bisa dihubu–"
"Aku sibuk", potong Luhan cepat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar computer.
"Sibuk, cih", cibir Minseok sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Luhan menoleh saat mendengar suara decihan dari Minseok. "Ini sesuatu yang penting, tidak boleh dilewatkan", ucap Luhan.
"Memangnya apa?", tanya Minseok meremehkan dengan kedua alis terangkat tinggi.
"Kutebak–", ucap Luhan member jeda.
"Pasti Ryewook noona sedang membantu umma dan appa, 'kan?", tanya Luhan.
Minseok berpikir sejenak kemudian mengangguk. "Dari mana oppa tahu?", tanya Minseok menarik sebuah kursi yang tak jauh darinya dan menempatkannya di dekat Luhan.
Lucan menjentikkan jarinya di udara dengan senyum kemenangannya. "Karena aku pintar", ucap Luhan kemudian kembali berkutat dengan komputernya.
Minseok memutar kedua bola matanya malas. "Aku tidak sedang bercanda, oppa", ucap Minseok.
"Ya ya ya, karena aku tahu pasti wookie noona tidak akan tega membiarkan sahabatnya melakukan hal sulit sendirian", ucap Luhan tanpa menoleh kearah Minseok.
"Begitukah?", bingung Minseok.
"Tentu saja, buktinya dia membantu umma dan appa, 'kan?", ucap Luhan.
Minseok mengangguk meng'iya'kan. "Nah, hubungannya dengan oppa yang sibuk?", tanya Minseok sedikit malas.
"Aku sedang mencari sesuatu sebagai tanda terima kasih", ucap Luhan mulai mengetik sesuatu.
"Berterima kasih? Biar kusimpulkan dulu–", ucap Minseok berpikir.
"Jadi, oppa tahu bahwa Ryeowook unni akan membantu?", tanya Minseok memastikan.
Dan Luhan mengangguk. "Karena oppa yakin Ryeowook unni akan membantu, oppa mempersiapkan sesuatu sebagai tanda terima kasih?", tanya Minseok.
Dan Luhan mengangguk. "Memangnya oppa mempersiapkan apa?", tanya Minseok.
"Kau ingat namjachingunya Ryeowook noona?", tanya Luhan.
Minseok terdiam untuk mengingat. "Jongwoon maksud oppa?", tanya Minseok.
"Ya, begitulah … aku sedang mencari keberadaannya", gumam Luhan.
"Oh! Jadi oppa berniat mempertemukan mereka?", tanya Minseok serasa mendapat sebuah jawaban.
"Begitulah", ucap Luhan seadanya.
"Memangnya si Jongwoon itu masih menyukai Ryeowook unni?", tanya Minseok ragu.
Tidak lucu bukan jika Ryeowook dan Jongwoon dipertemukan namun Jongwoon tidak lagi menyukai Ryeowook.
"Aku tidak tahu, tapi yang kutahu Ryeowook noona masih mencintainya", ucap Luhan menggerakkan kursor.
"Kalau ternyata Jongwoon itu tidak menyukai Ryeowook unni bagai–"
"Bagaimana bisa? Apa maksudnya ini?", bingung Luhan memotong ucapan Minseok.
Minseok mengernyit dan mengikuti arah pandang Luhan. Di layar computer menampilkan data diri seorang namja bernama Kim Jongwoon beserta fotonya.
"Apa oppa?", tanya Minseok tidak mengerti.
"Aku sedang mencari sesuatu mengenai Jongwoon, aku menemukannya! Tapi lihat! Tertulis di sini bahwa ia membuka sebuah café dan bekerja sebagai Kim Yesung, maksudnya apa?", bingung Luhan.
"Mungkin dia menggunakan nama samara seperti Ryeowook unni khusus untuk clientnya, mungkin saja keluarga dan kerabat dekatnya memanggilnya dengan sebutan Jongwoon", ucap Minseok.
"Oh, begitu", gumam Luhan.
Minseok menatap malas kearah Luhan yang mudah sekali panic dengan hal kecil. Minseok menghembuskan napas beratnya kemudian ikut membaca beberapa hal mengenai 'Kim Jongwoon'.
"Omona …", gumam Minseok dengan kedua bola mata membola.
"Apa aku tidak salah lihat?", gumam Minseok.
"Apa?", tanya Luhan malas.
"Dia–sudah punya anak?", ucap Minseok tak percaya.
.
.
.
Drrrtt! Drrrrttt!
"Ngghh …"
Seorang yeoja menggeliat tidak nyaman karena tidurnya terganggu oleh getaran yang disebabkan oleh ponselnya yang ia genggam.
Drrrrt! Drrrrt!
Ponsel yang ia genggam masih bergetar. Megharuskan sang pemilik untuk mengangkat telfon yang masuk.
"Yoboseo", ucap yeoja ini setengah mengantuk. Bagaimana pun juga, ia terbangun tengah malam tadi karena oppanya.
"Minseok-ah!Ambil penawarnya, cepatt~ Aku lelah, dan bangunlah! Ini sudah jam setengah tujuh"
Yeoja bernama Minseok ini seketika bangun mendengar sebuah suara di seberang sana yang mengingatkan dirinya bahwa kini sudah pukul setengah tujuh pagi.
"Apaaa?! Setengah tujuh?! Aku ke sana!", teriak Minseok terkejut dan memutuskan sambungan telfon.
"Oppa! Bangun! Antarkan aku ke lab! Penawarnya sudah jadi! Ppalliiii!", Minseok menggoyang-goyangkan tubuh Luhan yang tertidur di sebelahnya.
Ya, mereka tertidur di depan computer.
"Hah? Apa? Aku mengantuk", Luhan menyembunyikan wajahnya ke dalam lipatan tangannya.
"Oppa! Ayo cepat! Aku harus sekolah!", teriak Minseok dan segera berjalan menuju kamarnya sendiri.
"Kalau aku sudah siap dan oppa belum juga bangun, awas saja!", ancam Minseok sebelum benar-benar menuju kamarnya.
"Terserah kau saja, aku mengantuk", gumam Luhan masih tak ingin membuka matanya.
Minseok masuk ke dalam kamar dan segera mempersiapkan dirinya sendiri. Ia membawa seragam Jongdae ke dalam tasnya. Tidak mungkin bukan Jongdae akan ke sekolah bersamanya tanpa seragam?
"Pemalas, bangun … kita harus menormalkan hidup kita", ucap Minseok sambil mengangkat Jongdae kecil yang masih terlelap.
"Jongin, jongin … bangun", ucap Minseok menepuk-nepuk pipi Jongin.
"Jongin, ayo bangun … ikut noona cepat", ucap Minseok setelah mendapati mata Jongin terbuka.
Minseok melangkah menuju kamar Luhan. Di belakangnya ada Jongin dengan rambut berantakannya dan mata sayunya.
Brak!
"Please oppa! Bangun!", teriak Minseok setelah menggebrak pintu kamar Luhan agar si pemilik segera bangun.
Dan nampaknya bukan hanya sang pemilik kamar yang terbangun. Jongin yang tadinya setengah tertidur kini sudah bangun sepenuhnya. Jongdae kecil juga ikut terbangun, tapi ia tertidur kembali.
Luhan tanpa mempersiapkan apa pun segera menyambar kunci mobilnya dan berjalan melewati Minseok. "Oppa tidak bersiap?", tanya Minseok mengekor di belakang Luhan.
"Kelamaan", ucap Luhan singkat dan masuk ke dalam mobilnya. Disusul Jongin, Minseok, dan Jongdae.
"Kita kemana?", tanya Luhan sambil memakai safety beltnya.
"Lab", jawab Minseok singkat.
"Tidak ke penitipan anak dulu?", tanya Luhan melirik Jongin melalui cermin.
Melihat keadaan rambutnya yang tidak manly, Luhan segera memperbaikinya dan menyalakan mesin mobil. "Nanti saja", ucap Minseok.
"Cepatlah oppa!", geram Minseok karena Luhan sibuk membenahi rambutnya yang berantakan.
"Apa aku terlihat manly?", tanya Luhan kepada Minseok.
"Yayayayayaa, sangat … jadi cepat jalan!", titah Minseok.
Dan Luhan melajukan mobilnya menuju lab milik Ryeowook. Mereka membutuhkan waktu setengah jam lebih untuk menuju lab tersebut. Dan selama perjalanan, ponsel Minseok terus saja berdering.
"Siapa yang menelpon, kenapa tidak diangkat?", tanya Luhan memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Ryeowook.
"Tidak ada waktu, mereka pasti akan mengomeliku dan menanyakan keberadaan Jongdae", ucap Minseok segera turun sambil membawa Jongdae kecil.
"Mereka?", bingung Luhan sambil menurunkan Jongin di bangku belakang.
"Teman kelasku", jawab Minseok malas kemudian masuk ke dalam.
"Umma! Appa! Unni! Mana penawarnya! Aku harus cepat!", teriak Minseok tak tahu keadaan.
"Di deretan botol itu", ucap Baekhyun lelah.
Jujur, mereka bertiga menyelesaikan penawarnya semalam suntuk tanpa istirahat. Wajar saja mereka kini sudah lemas tak berdaya.
"Yang mana?", bingung Minseok melihat deretan botol entah berisi apa.
"Yang mana penawarnya? Apa semuanya?", tanya Minseok melirik kedua orang tuanya.
"Sudah kau dapatkan?", tanya Luhan yang baru tiba.
"Entahlah, ini yang mana", bingung Minseok membaca tulisan yang terdapat di botol tersebut.
"Kemana Ryeowook noona?", tanya Luhan. Matanya menelusuri seluruh ruangan tersebut. Mencari-cari dimana keberadaan Ryeowook.
Dan Luhan mendapati Ryeowook yang tertidur di pojok ruangan bersama sapu dan jas laboratorium. "Pasti sangat melelahkan", ringis Luhan.
"Umma! Yang mana?!", tanya Minseok tak sabaran.
"Botol … ungu …", ucap Baekhyun tanpa membuka matanya. Ia berucap dengan sangat lemas.
"Ungu?", bingung Minseok. Ia mencari botol berwarna ungu, namun ia hanya menemukan botol berisi cairan berwarna ungu.
"Tidak ada", gumam Minseok kebingungan.
"Mungkin cairan ungu", ucap Luhan meralat.
"Kalau begitu yang ini", ucap Minseok mengambil sebuah botol dengan cairan berwarna ungu.
"Lalu bagaimana?", bingung Minseok.
Luhan merampas botol yang ada di tangan Minseok dan meminumkannya pada Jongdae kecil. Entah berapa takarannya. Luhan tidak perduli.
"Apa benar sebanyak itu takarannya?", tanya Minseok tidak yakin.
"Tentu saja", ucap Luhan yakin.
"Umma! Ini dihabiskan satu botol?", tanya Minseok.
Dan Baekhyun hanya mengangguk. "Apa reaksinya lama?", gumam Minseok.
Tiba-tiba saja Jongdae kecil yang berada di dalam gendongannya bergetar hebat dan bersendawa keras. "Mungkin reaksinya saat ini", gumam Luhan sedikit takut melihat apa yang terjadi.
Minseok menyerahkan Jongdae kecil kepada Luhan secepat kilat. Dan ia segera berlari keluar sambil menggandeng Jongin. Ia tidak mau kesucian matanya ternoda hanya karena melihat Jongdae yang tak mengenakan apa pun. Hell no!
Minseok segera mencari seragam Jongdae dan kembali ke dalam. "Suruh dia pakai ini!", teriak Minseok dari luar. Ia tidak ingin masuk ke dalam.
Minseok melemparkan seragam Jongdae ke dalam lab yang penuh dengan asap putih. Entah seragamnya berhasil Luhan tangkap atau tidak, Minseok tak perduli. Dan ia segera menunggu Luhan dan Jongdae di mobil.
"Jongin, apa kau rindu dengan hyungmu?", tanya Minseok yang memangku Jongin.
Jongin mendongak untuk melihat Minseok. "Ne", ucap Jongin. Minseok tersenyum lebar. Kata kedua yang keluar dari mulut Jongin selain kata 'Hyung'.
Tak lama, netra Minseok mendapati Luhan dan Jongdae yang setengah berlari menuju mobil.
Cklek!
"Selamat datang Jongdae!", teriak Minseok senang. Ia senang tidak akan mengurus anak kecil lagi.
Jongin pun ikut menoleh dan mendapati hyungnya sudah kembali. "Hyung … Hyung habis dari mana? Jongin bersama noona dan Chen kemarin", akhirnya Jongin mengucapkan kalimat terpanjangnya.
Jongdae mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi kemudian tersenyum. "Jongin rindu dengan hyung?", tanya Jongdae.
Jongin mengangguk dan berpindah ke pangkuan Jongdae. Jongdae tersenyum lebar saat Jongin sudah dalam pangkuannya.
"Kita kemana?", tanya Luhan memasang safety beltnya.
"Langsung ke sekolah", ucap Minseok ikut memasang safety beltnya.
Luhan menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukannya menuju sekolah Minseok.
"Kenapa kita ke sekolah?", tanya Jongdae memajukan tubuhnya diantara Luhan dan Minseok.
"Kita ada classmeeting", ucap Minseok melirik Jongdae.
"Benarkah? Apa aku akan mengikuti lomba lari?", tanya Jongdae dengan senyum lebarnya.
'Ada yang berbeda dengan Jongdae'
"Ya"
"Dan kau Taekwondo?", tanya Jongdae.
"Ya"
"Apa kau yang merawatku selama aku menjadi bayi?", tanya Jongdae.
"Y-Ya", ucap Minseok ragu. 'Apa dia mengingat semuanya?'
"Kapan bibi Oh akan pulang?"
"Nanti sore"
"Kenapa tidak sekarang saja?"
"Mana kutahu"
"Apa nanti setelah sekolah aku akan ke rumahmu atau ke rumahku?"
"Rumahmu tentu saja, memangnya kau masih mau di rumahku?"
"Kalau boleh tentu saja"
Minseok menatap horror kearah Jongdae yang tersenyum lebar. Ada yang aneh dengan otak Jongdae. Tidak biasanya ia banyak bertanya dan banyak tersenyum.
"Kembali ke tempat dudukmu, Jongdae", ucap Luhan yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan dongsaengnya dengan calon adik iparnya #eh?
Jongdae memundurkan tubuhnya dan kembali duduk ke tempat duduknya. Tapi ia tidak bisa diam. Ia duduk dengan tidak nyaman.
Menyadari keadaan Jongdae yang tidak nyaman, Minseok menoleh dengan alis berkerut. "Kenapa?", tanya Minseok.
"Tidak tahu, rasanya tidak nyaman", ucap Jongdae berkali-kali membenarkan posisi duduknya. Wajahnya yang kebingungan dengan alis menyatu dan bibir dimajukan.
Ini sangat aneh dan salah. Jongdae seperti melakukan aegyo dan biasanya Jongdae tidak akan pernah mau melakukannya. "Apa aku tidak salah lihat?", gumam Minseok.
"Apa?", tanya Jongdae yang mendengar.
"Kau melakukan aegyo", ucap Minseok.
"Tidak", ucap Jongdae dengan wajah kebingungan dan kepalanya ia miringkan ke kanan sedikit.
'Dia melakukannya'
'Apa penawarnya salah?'
Minseok memejamkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya membuang segala pemikiran anehnya.
"Cepat turun", ucap Luhan setelah memberhentikan mobilnya di depan gerbang sekolah.
Minseok meraih tasnya dan turun dari mobil. Jongdae yang melihat Minseok turun pun mengikutinya.
"Ayo", ajak Minseok cepat menuju halaman sekolah.
Minseok berlari dengan napas yang tidak karuan, ditambah ia membawa tas dan menggendong Jongin. Sedangkan Jongdae, ia berlari dengan riangnya. Jangan lupakan senyuman permanen di wajahnya.
Tiba-tiba saja saat mereka hampir sampai di lapangan–dimana perlombaan lari diadakan–, Jongdae berhenti berlari. Dengan terpaksa Minseok pun ikut berhenti berlari.
"Kenapa?", tanya Minseok.
"Aku tak tahu, bagian belakangku gatal sekali", keluh Jongdae sambil menggaruk bagian belakangnya.
Minseok menyatukan alisnya kebingungan. "Nanti saja kita bahas mengenai keanehanmu, kita harus cepat atau kau akan dihajar teman-teman satu kelas", ucap Minseok sedikit panik.
"Entah mengapa aku memiliki banyak energy", ucap Jongdae masih tak bergerak.
"Itu kenaehanmu", ucap Minseok tak sabaran.
"Dan juga aku ingin terus tersenyum, ini sedikit aneh … pipiku sedikit sakit karena terus tersenyum", gumam Jongdae sambil memijit pipinya.
'Kau baru menyadarinya?'
"Sudahlah! Kita harus cepat!", geram Minseok.
"Minseok!", teriak sebuah suara. Membuat Minseok dan Jongdae menoleh.
Oh, ternyata yang memanggil Minseok adalah Yano–sang wakil ketua kelas. "Dari mana saja kalian?! Perlombaan akan dimulai! Cepat! Atau kelas kita didiskualifikasi", geram Yano sambil menyeret lengan Jongdae.
"Dimana perlombaan Taekwondo?", tanya Minseok mensejajarkan langkahnya dengan Yano.
"Kau ikut saja denganku dulu, giliranmu ada di tahap kedua, sekitar dua puluh menit lagi", ucap Yano sambil melihat arlojinya.
"Ayo cepatt!", lanjut Yano kembali menyeret Jongdae.
Tap!
Tiba-tiba Yano berhenti melangkah dan berbalik. "Kau bawa baju olahraga?", tanya Yano pada Jongdae.
Jongdae menaikkan kedua alisnya–berpikir sejenak. Kemudian melirik Minseok. Minseok sendiri menaikkan kedua bahunya. Dan dengan terpaksa Jongdae menggeleng.
"Ck, sudah kuduga … pakai ini dulu", Yano mengeluarkan seragam olahraga–entah milik siapa–dan memberikannya kepada Jongdae.
"Ayo ganti baju, kau segera ke bangku penonton bersama yang lain", Yano mendorong Jongdae agar berjalan menuju toilet setelah memerintah Minseok untuk ke bangku penonton.
Minseok memutar bola matanya malas. 'Aku benci clasmeeting'
Minseok segera berjalan menuju bangku penonton. Ia duduk tepat di sebelah Yuta yang menunggu dengan wajah cemas. "Mana Jongdae?", tanya Yuta saat melihat Minseok tak bersama Jongdae.
"Ganti baju", ucap Minseok singkat kemudian menyamankan duduknya.
"Dia benar-benar datang, 'kan?", tanya Yuta memandang Minseok.
"Tentu saja"
"Kau tidak berbohong, 'kan?", Yuta masih saja tidak percaya.
Minseok mendesah pelan kemudian matanya bergerak untuk melihat sekeliling lapangan. "Lihat, dia di sana", ucap Minseok menunjuk Jongdae yang sudah berganti baju tengah berbincang sesuatu dengan Yano.
"Oh! Kau benar! Kau penyelamat kelas!", ucap Yuta dengan mata berbinar.
Minseok hanya mengangguk dengan senyum kaku dan mengacuhkan Yuta setelahnya. Karena sungguh, ia sangat berisik.
"Jongdae! Hwaiting! Semangat! Kau harus menang!", teriak Yuta paling membahana.
Jongdae yang mendengar teriakan Yuta hanya tersenyum dan mengangguk. "Jongdae harus menang! Kelas kita harus menang!", teriak Yuta dengan dibumbui sedikit irama.
"Ssshhh …", Minseok mendesis merasakan telinganya yang sakit akibat mendengar teriakan penuh semangat dari Yuta.
"Dimohon untuk peserta lomba lari bersiap di posisi", suara panitia lomba menginterupsi para peserta untuk segera menuju posisinya.
Yano menepuk pundak Jongdae sebelum meninggalkannya. "Kau pasti bisa", ucap Yano.
Jongdae mengangguk dan berjalan menuju posisinya. Ia berada di urutan ketiga.
Disaat yang lain tengah pemanasan, hanya Jongdae seorang yang bergerak gelisah di tempatnya. Minseok yang menyaksikan Jongdae gelisah tanpa sebab segera menautkan alisnya kebingungan.
'Dia kenapa?'
"Siap! Bersedia …", para peserta segera mengambil langkah start.
"Ya!"
Dan semua peserta segera berlari saat mendengar aba-aba dari panitia. Namun ada pemandnagan yang berbeda di garis start.
"JONGDAEEE! BERLARI! LARI!", teriak Yuta kesal saat melihat Jongdae berhenti berlari setelah tiga langkah melewati garis start. Jelas ia tertinggal jauh.
Minseok menegapkan tubuhnya dan memperhatikan Jongdae. Ia bergerak gelisah dan menoleh ke sana-kemari. Minseok mengigit bibir bawahnya cemas.
'Ada apa?'
"Minseok, permisi–Minseok! Ayo!", seseorang menarik lengan Minseok untuk pergi dari bangku penonton.
Minseok menoleh dan mendapati Sojin–teman sekelasnya. "Apa?", bingung Minseok karena merasa tidak pernah memiliki suatu urusan yang menyangkut Sojin, bahkan mereka tidak begitu dekat.
"Pertandinganmu! Nanti kelas kita didiskualifikasi kalau kau tidak ada di sana dalam sepuluh menit, ayo!", seru Sojin sedikit memaksa.
Minseok segera berdiri–karena ditarik oleh Sojin–dan mengikutinya di belakang. Setelah cukup jauh dari lapangan, Minseok berhenti mengikuti Sojin dan menoleh ke belakang.
'Ada apa denganmu? Semoga semuanya baik-baik saja'
"Minseok!", panggil Sojin penuh penekanan karena Minseok tak mengikutinya di belakang.
Minseok menghela napas kencang kemudian mengikuti Sojin memasuki gedung olahraga.
Padahal Minseok belum menginjakkan kakinya ke dalam gedung olahraga, tapi ia sudah bisa mendengar suara riuh penonton dan suara dari panitia.
"Dalam hitungan mundur jika Kim Minseok tidak datang, maka otomatis kelasnya akan didiskualifikasi, sepuluh …"
"Tidak adil!"
"Bersabarlah! Dasar panitia! Tidak sabaran!"
"Diskualifikasi saja!"
"Dia tidak datang!"
Minseok berhenti diambang pintu dan menatap sekeliling. Sudah lama sejak ia terakhir kali mengikuti perlombaan Taekwondo. Dan saat ini ia merasa sedikit gugup.
Sementara Minseok terdiam diambang pintu, Sojin sudah berlari menghampiri Yano yang berdiri di samping panitia.
"Minseok sudah datang", bisik Sojin pada Yano.
"Benarkah? Kim Minseok sudah datang!", ucap Yano cepat pada panitia yang tengah menghitung mundur.
"–Lima, hah? Oh, baiklah! Kim Minseok sudah datang dan pertandingan akan dimulai dalam lima menit"
Yano bernapas lega mendengar ucapan yang panitia katakan. "Dimana dia?", tanya Yano.
Sojin menoleh ke belakang. Lagi-lagi ia tidak mendapati Minseok di belakangnya. Kemudian bola matanya bergerak menuju pintu keluar. Di sana terdapat seorang yeoja terlihat linglung tapi tidak bergerak.
"Minseok!", teriak Sojin.
Minseok yang merasa dipanggil pun menoleh. Sojin menggerakkan tangannya memberi gesture pada Minseok agar ia kemari.
Minseok berlari kecil kearah Sojin dan Yano. "Ada apa?", tanya Minseok.
"Cepat ganti baju", titah Yano sedikit geram.
Minseok menaikkan kedua alisnya kemudian mengangguk agak ragu. Ia segera ke ruang ganti, mengganti bajunya dan memakai alat pengaman untuk pertandingan.
.
.
.
'Aduh! Gatal!'
Seorang najma bergerak gelisah pada tempatnya berdiri saat ini. Ia seperti menulikan telinganya terhadap teriakan teman-teman kelasnya yang geram.
"Cepat lari, Ppabo!"
"LARI JONGDAE! LARI!"
"JONGDAEEEEEE! LARIIII!"
"KIM JONGDAE! LARI! ATAU KUHAJAR KAU!"
"Cepat! Jongdae! Cepat! Atau kau tidak akan melihat Minseok bertanding!"
Sebuah kalimat yang menyebutkan nama 'Minseok' membuat Jongdae menoleh. "Pasti semua ini ada hubungannya dengan Minseok", gumam Jongdae.
"KEPARAT! LARI KAU!"
Sebuah teriakan dengan bumbu makian kasar membuat Jongdae tersadar bahwa dirinya sedang mengikuti lomba lari. Ia menoleh melihat peserta lari lainnya yang sudah sangat jauh.
'Astaga'
Dan dengan secepat kilat–tanpa aba-aba–Jongdae berlari kencang. Bahkan ia hampir menyusul pelari lainnya. Padahal ia cukup tertinggal jauh tadi.
"YA! BAGUUSSS! JONGDAE! JONGDAE!", teriak teman-teman kelas Jongdae.
"Hwaiting! Semangat! Lari terus Jongdae"
"Jongdae pasti menang! Jongdae pasti menang!", teriak teman-teman kelas Jongdae–yang dipimpin oleh Yuta–dengan optimis.
Jongdae terus berlari tanpa memperdulikan teriakan teman-teman kelasnya. Sungguh, sebenarnya teriakan mereka itu mengganggu.
"Waaaaa! Semangat Jongdae! Semangat!"
Teriakan para penonton semakin kencang saat peserta lomba semakin mendekati garis finish. Dan dengan sedikit mempercepat larinya, Jongdae berhasil meraih juara pertama.
"JONGDAEEEEE!", teman-teman sekelas Jongdae langsung berhambur menghampiri sang juara.
"Kau hebat!", puji Yuta–yang sesungguhnya jarang memuji.
Jongdae hanya bisa menarik senyum lebarnya. "Terima kasih", hanya kata itu yang terucap dari mulut Jongdae dengan napas terengah.
Duk!
Seseorang merangkul Jongdae dengan keras sehingga membuat Jongdae terhuyung ke depan.
"Kerja bagus, kau yang terbaik", puji seseorang yang merangkulnya dengan keras.
Jongdae tersenyum. "Thanks", ucap Jongdae.
"Um, apa kau mau melihat pertandingan Minseok?", tanya Yuta sambil memainkan ponselnya.
Jongdae menoleh. "Apa dia masih bertanding?", tanya Jongdae.
"Um … Omona! Minseok sudah dihajar habis sebelum babak kedua dimulai?", gumam Yuta dengan mata melotot menatap layar ponsel.
Deg!
Entah mengapa perasaan Jongdae menjadi tidak enak. Ia dengan segera berlari menuju gedung olahraga–tempat pertandingan Taekwondo dilangsungkan.
"Huuuuuuu!", terdengar sorakan penuh kesal dari para penonton di dalam gedung olahraga.
Jongdae yang melihat bangku penonton sudah penuh pun segera menerobos beberapa orang untuk mendapatkan tempat paling depan.
.
.
.
'Akh, sial! Kakiku'
Minseok melangkah sedikit terseok. Lawannya ini benar-benar tak tahu ampun.
Minseok menatap lawannya dengan pandangan waspada. Selain tak tahu ampun, lawannya ini juga agresif dan mengejutkan.
'Kalau begini aku bisa kalah'
Kedua bola mata Minseok bergulir melihat ke bangku penonton. 'Jongdae …'
Minseok terpaku sejenak menatap Jongdae yang bermandikan keringat. 'Dia pasti menang, bukan?'
Salah satu sudut bibir Minseok tertarik membentuk sebuah senyuman sinis. 'Dia sudah kembali normal, 'kan?'
Sebuah perasaan tiba-tiba membuncah dalam diri Minseok. Perasaan–
–kesal.
'Dia terlibat …'
'Aku menyusahkannya …'
'Tidak! Tidak! Ini bukan salahku, ini salah kedua orang tuaku'
'Tapi aku yang menyeretnya …'
'Memasuki duniaku yang aneh …'
Bugh!
Minseok tersadar dari pemikirannya setelah lawannya melayangkan sebuah tendangan kearah kaki Minseok.
"Ssshhh …", Minseok mendesis merasakan nyeri pada betisnya. Ia memejamkan mata karena kesakitan.
Namun Minseok berusaha untuk bangkit dan memenangkan pertandingan ini. Ia tidak selemah ini sebelumnya.
'Lemah …'
Minseok memaksakan kakinya untuk bergerak cepat dan ia berhasil memukul lawannya.
'Lembut …'
Minseok menggerakkan lehernya. Lehernya sedikit pegal memikirkan banyak hal.
'Cengeng …'
Minseok melayangka tendangannya. Namun berhasil ditangkis oleh lawannya.
'Menyerah …'
Namun Minseok mengganti kakinya dengan cepat dan memberinya tendangan dari arah berlawanan.
'That's all isn't me'
Bugh!
Lawan Minseok terkena tendangan dadakan Minseok dan terhuyung. Selagi lawannya bangkit, Minseok berusaha mengatur napasnya. Ia sedikit menambah tenaganya tadi.
"MINSEOKKIE! SEMANGATT!"
Minseok menoleh cepat dan mendapati Jongdae yang tersenyum lebar kearahnya. Melihat senyuman itu, kedua tangan Minseok terkepal kuat. Ada rasa sakit yang lebih kuat dari pada yang ia dapatkan dalam pertandingan ini.
Sangat sakit.
Minseok memejamkan matanya sejenak. Berusaha focus pada pertandingan ini. "Oke, focus", gumam Minseok kembali waspada.
Minseok mengambil langkah perlahan kemudian menyerang. Namun berhasil ditahan. Minseok tak menyerah, ia terus melayangkan serangannya tanpa henti.
'Aku benci …'
'Kehidupanku yang aneh ini'
'Semuanya menjadi kacau'
'Aku menginginkan kehidupan yang normal'
Minseok semakin bertenaga saat rasa bencinya meluap-luap. Sampai-sampai lawan Minseok kewalahan dan limbung.
Bugh!
Oh, sebuah pukulan yang cukup keras berhasil mengenai pipi kanan Minseok. Dan Minseok sedikit mundur karena kepalanya yang sedikit pening.
'Aku merasa bersalah …'
Minseok mengambil ancang-ancang tanpa terlihat. Kemudian mulai menyerang lagi sampai lawannya pingsan.
Terdengar sadis? Tapi Minseok tak perduli.
Bugh!
Dan lawan Minseok limbung dengan setengah kesadaran. Ia tidak dapat melanjutkan pertandingan. Otomatis Minseok menang.
"Hah … hah …", dada Minseok naik-turun mengatur napas.
"KAU HEBAT MINSEOK!", teriak Jongdae.
Minseok menoleh. Mengukir seulas senyum kepada Jongdae. 'Jongdae … mianhae'
'Maaf aku membuat duniamu kacau juga …'
Minseok tersenyum lebar saat menyadari Jongdae sudah kembali normal–bukan lagi seorang bayi.
'Dia sudah normal …'
'Dia sudah normal–'
'–'kan?'
Tiba-tiba kunang-kunang menutupi penglihatan Minseok. Dan kepalanya terasa sangat pening. Perlahan, penglihatannya menggelap.
Samar-samar Minseok melihat wajah terkejut dan khawatir Jongdae. Dan selanjutnya, hanya terdengar suara debuman karena Minseok yang jatuh pingsan.
'Saranghaeyo'
.
.
.
To Be Continued
A/N : Aduh! Tugas makin banyak jeng~ X( Sorry kalo ke depannya bakal ngaret :V
Kemana chingu-chinguku semuaaaaa T^T Kok makin berkurang sih reviewnyaaaaaaaa huuuaaaaaaaaa ….. BTW, Jongin akhirnya ngomong panjang lebar di sini kan? :'D Um, untuk ke depannya … mungkin aku bakalan update dua minggu sekali #wks xD Soalnya mau end nih guys :3 endnya di chap 10 aja yah :3~
Balasan review
dobipuppychanbaek: Yang sama Kyung~ hanya si kyung yang tau :V Gak kok gak … Jongin ngomong kok~ Lah? Elu jadi bayi? Dong, yang baca epep gua sapa? Masa iya elu jadi bayi mainannya smartphone xD bukan bayi itu mah … tuyul kali xP
anoncikiciw : Penasaran? XD Alhamdulillah ada yang penasaran hahaha :V
daebaektaeluv : Ryeowook ahjumma tetep bantu-bantu kok kalo ada acara nikahan :V Ini udah next eneng ;)
pooarie3 : Maap ya, aku gak bisa buat Kaisoo hiks :' Tapi kalo aku buat epep baru … mungkin aku bakal masukin kaisoo (mungkin xD) Yang jelas, chap depan ketahuan siapa coplenya Lucan :P
Nadhefuji : Dasar yadong akut-_- jangan bawa-bawa aku ya yadongnya xD Gak, aku gak bakal buat momen gitu … paling pas di kamar mandinya aja #eh._. gak deng :p becandaaa~
Permenkaret : Di sini udah normal :3
Jung Jae In : Aku kebanyakan masukin konflik ya? :'D map deeh~ Momentnya Kim Jong bersaudaranya agak aku kurangin ya, soalnya mau ending xD Fokus ke ChenMin dulu :P Mau chat sama aku? *kedip2 Hummm …. Gimana ya, boleh lah … tapi cari tau sendiri mana line akuuu xD
Kim Insoo : Makasih :' Apakah yang ini lebih baik dari kemarin? Kok aku ngerasa kamu kayak chef Juna yang kritikannya pedes ya-_- tapi kamu gak pedes kok, kamu manis xD Wahahaha :V
