Author's Note :
Hai.. *masang tampang bersalah* *dikeroyok readers* -eh? Emang masih ada yg mau jadi readers ff abal ini? #pundung
Yasudahlah. Kalau pun tidak ada lagi readers ff ini, saya tetep mau MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA..
Saya tahu saya salah karena sudah menelantarkan ff ini terlalu lama. Tapi saya punya alasa- /PLAK/
Readers : kebanyakan alasan lo!
Hueeeeeeee! Iya, iya saya tahu saya kebanyakan alasan. TAPIIIIIIIII, saya benar-benar mengalami 'down' yang sangat parah semenjak mendengar gosip-gosip murahan tentang sungmin, ditambah lagi ternyata gosip itu benar adanya *nangis* dan untuk menyusun kembali perasaan yang sudah hancur berkeping-keping itu sangat susah loh.. aku aja perjuangan mati-matian- *okeh! Ini agak lebay* -demi melanjutkan chapter 8 ini karena setiap kali ngebayangin kyumin moment dengan kurang ajarnya penampakan wanita menyebalkan itu ikut nimbrung di otak saya *nangis lagi*
Saya sempet berfikir pendek untuk menghilang saja dari peradaban ff, tapi ngeliat masih BANYAK! IYA, BANYAK joyers yang ternyata masih bertahan, saya jadi terharu dan memutuskan untuk melanjutkan ff ini. Saat itu juga saya punya tekad! Apapun yang terjadi, KYUMIN IS REAL! Bodo amat mau dibilang stress atau ilusioner pokoknya saya TETEP PERCAYA KYUMIN! Dan, tadaaaa... jadilah chapter 8 ini *ngusep keringet*
.
.
.
.
I Have A Love
Chapter 8
Happy reading^^~
.
.
.
.
*previous scene*
'cklek'
"ah.. selamat datang tu-" ucapan salam itu sontak terputus ketika perancang lee menatap wajah namja yang berdiri di ambang pintu. Hatinya bergemuruh melihat orang yang begitu ia rindukan. Ingin rasanya ia berlari dan memeluk namja itu namun niatnya terhenti mengingat bagaimana terakhir kali ia meninggalkan sahabatnya itu begitu saja, tanpa berkata apa-apa sebelumnya.
"ki- kibummie?" kyuhyun merasa ada sebongkah batu besar yang tersangkut di tenggorokannya ketika mengucapkan nama itu. Nama yeoja yang sangat ia rindukan, bahkan kyuhyun tak menyangka ia bisa bertemu lagi setelah lima tahun yeoja itu menghilang tanpa kabar seperti ditelan bumi.
"kyunnie?"
Tanpa menunggu lama, kyuhyun melangkah cepat dan merengkuh tubuh kibum dalam sebuah pelukan yang sangat erat seolah melampiaskan rasa rindu yang begitu menyiksanya selama ini. Kibum yang memang merindukan kyuhyun juga membalas pelukan namja itu dengan pelukan yang tak kalah erat. Isakan kecil terdengar dari bibir kibum saat rasa rindu semakin membuncah di dada mereka, tanpa menyadari seorang yeoja yang berdiri mematung menatap keduanya. Tubuh yeoja itu bergetar hebat saat melihat wajah yeoja yang berada dalam pelukan kyuhyun.
"e-eonni?"
.
.
.
.
"e-eonni?"
Tubuh mungil sungmin seolah belum bisa menerima kenyataan didepannya, terbukti dengan kedua lengannya yang masih gemetar meski sudah tak separah ketika ia baru memasuki ruangan ini dan melihat seseorang yang amat sangat dirindukannya tengah tenggelam dalam pelukan kyuhyun. Yeoja yang berhasil membuatnya terkejut itu menoleh dan menatapnya dengan tatapan yang tak kalah terkejut bahkan yeoja itu secara reflek melepas pelukannya dengan kyuhyun dan membuahkan helaan nafas tak rela dari namja berparas tampan tersebut karena kembali merasa kehilangan.
"sungmin-ah.." bibir merah muda kibum yang terlihat mencolok dibanding wajahnya yang cukup pucat bergumam lirih namun mampu menarik kesadaran cho kyuhyun akan eksistensi calon istrinya disana. sejak kapan sungmin berdiri disana?
Butuh waktu beberapa menit dalam keheningan sebelum tubuh ideal lee kibum melangkah ragu ke arah sungmin seraya menutup mulutnya tak percaya.
"kau... benar-benar sungmin-"
'GREP'
Pernyataan lirih tersebut teredam begitu saja walau belum sempat diselesaikan karena kenyataannya tubuh kedua yeoja itu sudah berpelukan erat. Menyampingkan segala pertanyaan yang ada dibenak mereka. Bagaimana mereka bisa dipertemukan disini? Dalam kondisi seperti ini? Dan waktu yang terasa begitu mengejutkan...
Isak tangis tak tertahankan lagi dari bibir kedua yeoja sedarah tersebut. Berbeda dengan seorang namja yang kini menatap keduanya berpelukan. Segaris senyum tipis menghiasi bibir sexy kyuhyun kala melihat dua yeoja yang ia kasihi kini berada dihadapannya dan sepertinya mereka sudah saling mengenal-
Tunggu.
Mereka saling mengenal?
Kerutan samar tercetak dikeningnya, bersamaan dengan hilangnya senyuman yang sempat terkembang manis dibibir merahnya. Pikirannya seolah dihantam sebuah kenyataan. Bukankah tadi sungmin memanggil kibum dengan sebutan 'eonni'..
Eonni? Tidak. Tidak mungkin-
Onyx bening miliknya melebar seiring munculnya kilasan-kilasan sejak pertemuan pertamanya dengan sungmin.
Dirinya yang terkenal egois dan menjunjung tinggi harga dirinya rela untuk meminta maaf hanya demi seorang lee sungmin
Dirinya yang merasa tak asing ketika menyebut sungmin dengan panggilan 'min'
Lalu.. kalung itu?
Mungkinkah kibum memberikan kalung itu pada sungmin?
Dan Siwon? Ya Tuhan... apa mungkin dia siwon yang sama dengan siwon yang merusak kebahagiaan dirinya dan kibum?
Jemari kyuhyun terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Jika diperhatikan kepalan itu gemetar, kyuhyun sekuat tenaga menahan emosinya.
'Semua ini-' batin kyuhyun mengerang. Terasa sangat sesak.
Ia memejamkan matanya, berusaha meredam emosinya untuk sesaat. Setidaknya jangan sampai dilihat kedua yeoja yang dikasihinya yang kini menatap dirinya dengan pandangan yang jelas-jelas berbeda. Terlihat kekhawatiran yang terpancar dari mata kibum, sedangkan sungmin... yeoja itu menatapnya bingung.
'-terlalu tiba-tiba.'
Sinar mata onyx yang biasanya tajam nan menggoda itu terlihat meredup seiring ingatan kyuhyun yang seolah ditarik kembali pada kenangan masa kecil yang susah payah ia kubur dalam-dalam.
.
.
.
.
*flashback 9 years ago*
*kyuhyun's pov*
"tuan muda.. nyonya heechul dan tuan hangeng sudah kembali dari Amerika.."
Sayup-sayup aku mendengar panggilan maid yang sudah biasa ditugaskan untuk membangunkanku, dengan catatan 'aku-tak-pernah-menurutinya' karena nyatanya aku hanya membalas usahanya dengan gumaman pelan yang sudah ia mengerti sebagai 'pengusiran halus' baginya dan kembali merapatkan selimut seraya kembali jatuh ke alam mimpi. Namun berbeda untuk hari ini karena ia membawa-bawa nama kedua orangtuaku dalam usahanya untuk membangunkanku.
Selimut berbahan bulu halus dengan warna baby blue yang meneduhkan mata tersibak cepat dan tergeletak begitu saja dilantai seiring dengan diriku yang buru-buru mengenakan sendal rumah berwarna senada dengan selimut malang tadi dan berlari secepat mungkin untuk menemui kedua orangtua-ku yang amat-sangat jarang bisa aku temui, meninggalkan sosok maid yang menganga tak percaya. Aku tidak peduli dengan maid itu.
'tap.. tap.. tap..'
Derap langkah terdengar kala aku menuruni tangga secepat mungkin, bahkan eomma dan appa sampai menyadari kedatanganku. Senyum mereka terkembang melihat diriku yang berlari tergopoh-gopoh karena kelelahan. Hei, jangan menganggapku lemah! Salahkan saja harta orangtuaku yang terlalu banyak hingga rumah- ah. bukan! Maksudku mansion kelewat mewah yang kini menjadi tempat tinggal baru kami sejak kemarin- ini memiliki 3 lantai dan parahnya kamarku berada di lantai 3. Kurasa aku akan meminta dibuatkan eskalator untuk hari-hari kedepan demi keselamatan paru-paru ku yang saat ini sangat kesulitan untuk sekedar meraih oksigen.
"chagi.." panggilan itu sangat lembut bahkan terlalu lembut, mampu membuatku yakin kalau genangan liquid tipis sudah menghiasi mataku saat ini.
'GREP'
"eomma merindukanmu.." runtuh sudah pertahananku untuk tidak menangis. Jangan katakan aku cengeng! Karena kalian mungkin belum pernah berada diposisi sepertiku. Terlalu sering ditinggalkan sejak diriku menginjak usia 3 tahun hingga saat ini dimana seharusnya aku merasakan limpahan kasih sayang penuh dan perhatian yang lebih dari kedua orangtuaku.
Setelah merasa cukup puas memeluk eomma, aku melepas diri dan melirik ragu ke arah appa. bisa dibilang hubungan kami sedikit kaku. Jangankan untuk berpelukan seperti yang kulakukan dengan eomma barusan, terkadang bicara dengannya saja aku harus berfikir beberapa kali karena appa sangat kritis dan kurang menyukai hal-hal yang berbau melankolis. Berbanding terbalik dengan eomma tapi itulah yang membuat mereka terlihat sangat serasi dengan saling melengkapi. Lamunanku buyar ketika appa balas menatapku dengan tatapan teduh dan senyum yang menghiasi bibirnya. "Kemarilah, nak" lengannya terbuka lebar membentuk pose siap untuk dipeluk. Aku mengerjap beberapa kali sebelum appa mengangguk seolah meyakinkanku.
'GREP'
"appa.."
Ini terlalu nyaman.
Berada dalam pelukan appa, ternyata sehangat ini.
"hm?" gumaman samar terdengar. Aku mendongak tanpa melepas pelukan kami.
"a- apa kau merindukanku juga?" tanyaku pelan. Tak kusangka appa tertawa keras seraya melepas pelukan kami dan meraih bahuku dengan kedua tangan besar miliknya.
"kau pikir.. siapa yang membujuk eomma mu untuk segera pulang, hm?" alisku bertaut bingung. Belum sempat aku berkomentar, appa meginterupsi-
"appa. dan appa meminta eomma mu karena appa sangat merindukanmu, nak.."
-dan membuatku kembali meneteskan liquid bening seraya kembali mendekap tubuh appa.
.
.
.
.
"kyuhyun-ah.."
Dentingan sendok dan garpu yang beradu terhenti begitu eomma memanggilku. Aku melirik, tatapan eomma terlihat serius. Aku melirik lagi, kali ini ke arah appa yang sedang memandang eomma dengan tatapan yang seolah mengatakan 'jangan bahas itu sekarang'. Ada apa sebenarnya?
"ah. mianhe.. kita bicarakan setelah sarapan saja.." lanjut eomma. Setelahnya ia kembali melanjutkan ritual makannya begitu pula dengan appa. aku penasaran tetapi sepertinya aku masih bisa menunggu sampai ritual sarapan ini selesai.
.
.
.
.
"chagiya.." akuberhenti menunduk- memutuskan untuk menatap mata eomma yang baru saja memanggil namaku dengan lirih. Kalau sudah seperti ini, aku tahu apa yang akan kami bahas. Dan boleh kah aku lari saja dari percakapan ini? Bahkan ini terlalu menyakitkan.
"eomma dan appa sangat menyayangimu, sayang"
Aku mengangguk meski dalam hati aku meragukan ucapan eomma. Kalau mereka memang menyayangiku mengapa mereka tak berada disampingku selama ini. Sebegitu penting kah urusan pekerjaan mereka hingga sekedar makan malam bersama hampir tidak pernah kami lakukan. Mereka selalu berangkat pagi dan pulang larut malam ketika aku sudah terbuai alam itu masih bisa aku mengerti sebelum mereka memutuskan untuk membuka cabang perusahaan di Amerika dan membuat mereka semakin sering meninggalkanku sendirian.
Tepat seperti janji eomma, disini lah kami sekarang. ruang keluarga yang bahkan terlalu luas ini menjadi pilihan kami untuk melanjutkan pembicaraan yang sempat terhenti tadi.
"kami sengaja mengajakmu untuk pindah ke rumah baru ini agar kau bisa lebih bersosialisasi dibandingkan dengan perumahan kita sebelumnya."
Ya, benar. Aku juga sempat heran mengapa eomma dan appa tiba-tiba ingin pindah ke daerah yang bisa dibilang kurang elite seperti ini bahkan mansion baru kami terlihat paling mencolok diantara bangunan-bangunan lainnya saat aku diantar kerumah ini untuk pertama kalinya oleh Park ahjussi kemarin siang. Jadi, eomma ingin aku bersosialisasi dengan orang-orang asing yang kemarin sempat aku lihat, termasuk-
Oh! Yeoja imut itu..
Aku tersenyum kecil mengingat yeoja manis yang kemarin aku tolong saat terjatuh. Sayangnya ia bersikap sangat kaku, bahkan ia tak mengucapkan terima kasih padaku.
"dan..." eomma kembali melanjutkan dan itu berhasil menarik lamunanku tentang yeoja imut itu.
"... eomma sangat berharap kau bisa memiliki teman disini.. karena appa dan eomma akan lebih sering meninggalkanmu demi perusaahan keluarga kita, chagi..." suara eomma melemah dan terdengar menyakitkan. Jadi tujuan mereka memindahkanku kesini agar mereka bisa lebih sering meninggalkanku dan semakin merasa kesepian?
"tapi tenang, Kyuhyun-ah.. kau tidak akan kesepian.. rumah Leeteuk ahjumma dan Kangin ahjussi tepat berada disamping rumah kita. Mungkin kau belum mengenal mereka tapi mereka orang yang ramah.. lagipula mereka memiliki dua anak perempuan yang bisa kau jadikan teman, sayang..."
Tapi, tetap saja kan... aku akan tetap sendirian dirumah ini.
Aku menunduk. Tidak bermaksud untuk membuat mereka khawatir denganku tapi aku benar-benar sedih dan- kalau boleh jujur, aku kecewa. Tak bisakah mereka menemaniku dirumah ini.. aku tidak menginginkan harta yang terlalu banyak, menurutku kehidupan seperti ini saja sudah lebih dari cukup. Aku hanya butuh perhatian dan kasih sayang dari kalian...
"aku-"
Eomma menatapku penuh harap, begitu juga dengan appa.
"-aku mengerti" jawabku lemah. Nyaris tak terdengar tapi appa dan eomma tersenyum haru, kurasa mereka mendengar suaraku.
"terimakasih, sayang.. eomma menyayangimu..." dekapan yang sama, oleh orang yang sama dengan yang tadi pagi kurasakan tapi terasa berbeda. Aku tahu, setelah pelukan ini, mereka akan lebih sering meninggalkanku. Atau mungkin aku harus menunggu lebih lama dari yang biasanya untuk merasakan pelukan ini lagi. Entahlah, aku merasa hancur.. perih.. biarlah appa mengatakan kalau aku sudah tertular sifat melankolis milik eomma, yang jelas aku hanya ingin menangis.
"terimakasih, nak.. appa percaya kau akan mempertahankan prestasimu dan membanggakan kami"
Sepertinya tidak akan, appa.. percuma saja aku menjadi anak baik-baik kalau itu membuat kalian semakin tak memperhatikanku. Tidak akan ada lagi kyuhyun yang penurut. Tidak ada kyuhyun si anak baik-baik. Aku bosan. Bosan menjadi seperti yang kalian inginkan tapi kalian tak pernah mencoba untuk mengerti perasaanku.
*kyuhyun's pov end*
.
.
.
.
"berhenti menarikku, eonni! Aku bisa jalan sendiri, aish!"
Setelahnya tawa kencang kibum menghapus suasana tenang yang tadinya tercipta diteras mewah milik mansion keluarga dengan raut jengkel sungmin yang sedari tadi sudah kesal karena dipaksa bangun oleh sang eomma dan eonninya demi mengunjungi tetangga baru mereka. (chapter 6)
"sst.. sudahlah~ kalian harus menjaga sikap jika dirumah orang lain.." suara lembut itu berusaha menengahi sebelum suara pintu terbuka sehingga menarik perhatian ketiga yeoja itu ke arah pintu yang baru saja terbuka dan menampilkan sosok cho heechul dengan balutan pakaian elegannya menyambut mereka dengan senyum lebar.
"Leeteuk-ah~ kau semakin cantik saja" pujinya heboh membuahkan kekehan pelan Leeteuk.
"bahkan kau jauh lebih cantik, cho heechul" balas leeteuk dengan senyum angelic miliknya.
"aish! Namaku tetap kim heechul kalau sedang tidak ada si china dingin itu kkkkk~ kajja, silahkan masuk" ajaknya riang, membuat tatapan heran terpancar di mata para maid yang melihat sikap nyonya besarnya yang tidak pernah seceria ini. Nyonya besar mereka selalu terlihat elegan dan terkenal jarang bicara tetapi berbeda dengan hari ini.
"omo.. omo.. apakah mereka kibum dan sungmin?" sungmin yang tadinya hanya diam dan seolah tak terlalu peduli sekitar sontak menolehkan wajahnya ketika merasa namanya pula kibum yang tadinya asik menatap sekitar sontak menoleh ke arah heechul.
"ne.." wanita pemilik senyum malaikat itu menjawab dan merangkul bahu kedua putrinya. "mereka sudah semakin besar, bukan?" lanjutnya
"hm. Dan semakin cantik.. kurasa kyuhyun akan senang jika melihat mereka.." tutur heechul semangat sebelum dirinya teringat akan sosok kyuhyun yang tidak pernah memiliki teman. Ia sedih menyadari anaknya menuruni sifat dingin sang suami sehingga cenderung tertutup dibandingkan dirinya. "oh, sebentar.. biar aku panggilkan anak itu" serunya sebelum beranjak dari sofa nyaman bercorak mewah tersebut.
"sungmin-ah~" leeteuk memecah keheningan yang sempat tercipta sesaat setelah heechul beranjak untuk memanggil anaknya.
"ne, eomma.."
"eomma harap kau mau berteman dengan kyuhyun.. namja itu sedikit tertutup, mirip denganmu" alis sungmin terangkat sekilas sebelum mengangguk. "kau juga, bum.. kalian berdua mungkin akan menjadi teman pertama bagi kyuhyun" kibum yang sedari tadi memang ikut mendengarkan segera mengangguk singkat. Ia memang senang bergaul, jadi... tak masalah jika menambah daftar temannya. Sekilas ia melirik sungmin yang sepertinya tak merespon lebih.
"apa... sebegitu tertutupnya?" suara yang biasanya jarang berkomentar itu terdengar. Leeteuk tersenyum lagi, mengelus sayang kepala sungmin. "ne.. kau mau berteman dengannya kan?" sinar keraguan masih terlihat dimata foxy itu namun ia tetap mengangguk, tak ingin mengecewakan sang eomma.
"eomma senang jika kau bisa seperti eonni-mu, Sungmin-ah.. mulailah bergaul dengan teman sebayamu" pandangannya beralih ke anak perempuan sulungnya. " bummie-ah, kau juga akan membantu sungmin kan?"
"tentu saja.. karena aku sangat menyayangi adikku yang kelewat manis ini" tawa kecil mengiringi kalimat kibum. Sungmin tersenyum tipis terlihat sangat manis. Ia juga sangat menyayangi kibum walaupun ia tak dapat mengekspresikan rasa sayangnya itu secara gamblang seperti yang biasa kibum lakukan padanya.
.
.
.
.
Remaja tampan dengan mata onyx nan menawan itu melangkahkan kakinya tanpa semangat. Waktu tidurnya terpotong begitu saja ketika ketukan pelan menyapa telinganya. Selanjutnya sang eomma membangunkannya dan mengatakan bahwa dua yeoja sebayanya sedang berkunjung ke rumah.
'untuk apa mereka kesini' gerutunya dalam hati.
Setapak demi setapak langkahnya menuruni tangga yang sudah ia kutuk sejak tadi pagi. Mengapa pula kamarnya harus dilantai 3, aish!
Samar-samar mata onyxnya menangkap tiga sosok yeoja sedang duduk di ruang tamu. Matanya menyipit berusaha mengenali wajah salah satu yeoja disana yang sepertinya sudah pernah ia temui.
"kyuhyun-ah?" tatapannya kembali normal, menatap yeoja seumuran eommanya yang baru saja memanggil dirinya dengan nada akrab. Remaja tampan itu menundukkan kepala sopan.
"ahjumma, mengenalku?" tanya kyuhyun pelan. Pasalnya ia tak mengenal ahjumma itu tapi sepertinya ahjumma itu mengenalnya.
Leeteuk tertawa pelan, manatap wajah kyuhyun yang tak jauh berubah dengan kyuhyun ketika bayi hanya saja gurat-gurat ketampanan mulai tercetak diwajah remaja tanggung itu. "tentu saja, sayang.. ahjumma sudah mengenalmu sejak bayi" mata onyx itu membulat disambut pernyataan heechul.
"kami bersahabat sejak muda, kyuhyun chagi.. bahkan ahjumma ikut mengurusmu ketika kau masih menjadi bayi cho yang lucu dan sangat manja" serunya dengan nada menggoda. Sengaja melirik kyuhyun dengan tatapan yang membuat putra semata wayangnya itu merengut malu.
'eomma mengatakannya didepan tiga yeoja asing-menurutku- yang kini menatapku sambil terkekeh. Yang benar saja!'
"aku tidak manja" tukas kyuhyun cepat. Sebelum tawa kedua yeoja paruh baya yang masih terlihat cantik itu pecah. Berbeda dengan kibum yang sudah meredakan kekehannya sejak tadi dan menatap kyuhyun lekat.
'bagaimana bisa namja ini sangat mirip sifatnya dengan sungminnie'
Sungmin awalnya ikut terkekeh saat heechul menggoda anaknya namun senyumnya kembali memudar kala ingatannya kembali pada siang kemarin. Ah! dia ingat! namja ini yang menolongnya saat terjatuh kemarin!
'semoga namja itu tidak mengingat kejadian kemarin. Aku sangat malu terjatuh tepat didepannya' batin sungmin nelangsa. Perlahan ia menundukkan wajahnya, berusaha menghindari kontak mata dengan remaja cho didepannya. Namun, salahkan saja wajah tampan kyuhyun yang membuat sungmin melirik sedikit-sedikit dan sialnya tertangkap basah oleh kyuhyun.
'mwo? Tampan? Ani! ani! Aku pasti sudah gila' sangkal sungmin dalam hati
Kyuhyun yang merasa sebal membuang pandangannya dari sang eomma. Ia menatap kedua yeoja seumuran yang sama-sama sedang menatap dirinya meski terlihat jelas yeoja dengan tubuh lebih kecil sepertinya meliriknya malu-malu. Alisnya terangkat- 'ada apa?' – sebelum ia melebarkan matanya ketika mengingat wajah sungmin. "kau- yeoja kemarin?" suara maskulin itu terdengar tak yakin seperti sedang berusaha mengingat-ingat. hanya berupa pertanyaan sederhana tapi berhasil membuat keempat yeoja lainnya menatap remaja tampan itu kaget. Sejak kapan kyuhyun mengenal sungmin?
"benarkah? Jadi kalian sudah bertemu kemarin?" heechul melirik kyuhyun meminta jawaban. Dibalas dengan anggukan singkat kyuhyun.
"aigoo... mengapa tidak bercerita pada eomma, sungmin-ah?"
"apa yang harus aku ceritakan, eomma? Aku hanya terjatuh dan kyuhyun-ssi menolongku. Aku rasa tak ada lagi yang terjad-"
"ada. Aku mengajakmu berkenalan tapi kau pergi begitu saja" jujur kyuhyun yang disambut tatapan tak percaya sungmin. 'namja ini... apa mau dirinya?'
"mwo? Sungmin-ah, kau jangan seperti itu pada kyuhyun" nasihat leeteuk akan sikap putrinya yang memang sudah seharusnya diubah. Yeoja itu sangat ingin putri bungsunya itu mulai membuka diri dan memiliki teman sebaya.
"aku mengerti, eomma.." kyuhyun tersenyum puas mendengar jawaban yeoja imut bernama sungmin. yeoja ini memang telah berhasil menarik perhatiannya sejak pertemuan mereka kemarin. Sifat cuek sungmin justru membuat kyuhyun semakin penasaran.
"kyuhyun-ah.. apa kau sudah mengenal kibum juga?" bola mata onyx nan menawan itu melirik yeoja yang sejak tadi memilih diam. 'kurasa dia yang bernama kibum'
Kyuhyun menggeleng. "aku belum mengenalnya. Um, aku cho kyuhyun. Salam kenal, kibum-ssi" seru kyuhyun kaku, ia mengulurkan tangannya ragu yang disambut hangat oleh kibum. Jujur saja, ia sangat jarang bersikap akrab dengan orang lain. Sejak kecil ia sudah terbiasa untuk menutup diri. Embel-embel anak tunggal keluarga Cho membuat anak-anak lain segan untuk berdekatan dengannya dan membuat kyuhyun semakin merasa terasingi dan belajar untuk lebih menutup diri.
Kibum tertawa sekilas mendengar panggilan kyuhyun yang menurutnya terlalu formal."tak perlu embel-embel –ssi, kyuhyun-ah. kau boleh memanggilku kibummie seperti eomma dan sungminnie biasa memanggilku" kyuhyun mengangguk singkat meski panggilan imut itu terdengar asing ditelinganya, tapi tak masalah. "Kuharap kita bisa berteman baik, kyuhyun-ah" lanjut kibum ramah. keduanya tersenyum. Leeteuk hanya menatap sungmin yang menatap datar pada tautan tangan kyuhyun dan kibum. Ia sangat melihat perbedaan kibum dan sungmin.
Merasa dipandangi, yeoja imut bernama sungmin itu menoleh. Ia tahu ada tatapan kesedihan yang dipancarkan leeteuk. ia menunduk, menyadari bahwa dirinya lah yang membuat leeteuk sedih.
'mianhe, eomma. Aku hanya belum terbiasa...' batinnya lirih
.
.
.
.
"ayo cepat, minnie.. kyuhyun sudah menunggu kita diruang tamu" kibum berucap mengingatkan pasalnya sungmin terlihat sengaja melambat-lambatkan pergerakannya dan itu jelas akan membuat kyuhyun menunggu semakin lama. Kibum merasa tak enak pada namja itu.
"eonni duluan saja. aku bisa menyusul" jawab sungmin mencari alibi. Ia sebenarnya tidak ingin ikut berjalan-jalan dengan kibum dan kyuhyun, menurutnya tidur dikamar bernuansa pink miliknya jauh lebih menarik dibandingkan bertemu namja yang sudah beberapa hari belakangan bersikap sok akrab padanya. bahkan namja itu ikut-ikutan memanggilnya 'minnie'.
'Aish! Itu panggilan khusus untuk kibum eonni dan eomma saja' gerutu sungmin dalam hati.
"ani. aku tidak pecaya lagi. Kau sudah dua kali membohongiku dan aku tidak akan membiarkan kau membohongiku lagi" kibum mencubit pipi dongsaeng imutnya dengan gemas. Ia tentu masih mengingat sungmin yang berkata akan menyusul di hari-hari sebelumnya tapi apa yang ia dapatkan setelah menunggu lebih dari tiga jam? Ketika ia pulang, dengan penuh rasa jengkel ia mencubiti pipi chubby dongsaengnya yang sedang bergelung dalam selimut dan dapat dipastikan tidak akan meyusulnya mengingat dirinya bahkan sudah pulang saat itu.
"ayo cepat, minnie chagi~ atau kusuruh saja kyuhyun yang membujukmu kali ini?" kibum berpura-pura memasang pose berfikir sementara dalam hatinya ia tertawa keras melihat ekspresi sungmin yang berubah masam.
"aish! Baiklah. baiklah!-" selimut yang tadinya masih tergulung rapat ditubuh sungmin kini terhempas nyaris jatuh ke lantai ketika sungmin menyibaknya dan segera turun dari ranjang. Beruntung kibum sempat menangkap selimut itu dan melipatnya seraya terkekeh melihat sungmin yang masih agak sempoyongan saat berdiri, efek masih mengantuk.
"-dan jangan sekali-kali mengijinkan Cho aneh itu masuk ke kamar kita. Lebih-lebih untuk membangunkanku. Hiihhh" sungmin mengangkat bahunya ngeri. Membayangkan seorang cho kyuhyun yang sok akrab itu diijinkan masuk kekamarnya dan membangunkan dirinya membuat yeoja imut itu menggelengkan kepala sebelum beranjak untuk memulai ritual mandinya.
.
.
.
.
Kyuhyun menukar lipatan kakinya. Sudah lebih dari satu jam dirinya menunggu di ruang tamu keluarga Lee namun hingga saat ini dua Lee bersaudara yang akhir-akhir ini mengisi waktu kosongnya tak kunjung menampakkan batang hidung mereka. Dengan gerakan malas, ia kembali menekan-nekan tombol untuk mengganti channel di televisi yang sejak tadi menyala. Tidak ada acara yang menarik!
Ia melirik tanpa minat kearah secangkir teh yang sejak tadi tersaji dihadapannya. Merasa bosan, lengannya terulur meraih kuping cangkir kristal tersebut dan hampir saja meneguk sedikit cairan berwarna kecoklatan itu sebelum suara kibum yang cukup mengagetkan ditambah penampilan berbeda sungmin membuatnya tersedak dan menyemburkan kembali minuman manis tersebut.
"hi, kyuhyunnie!" kibum melambai, sebelah tangannya merangkul sungmin yang berdiri ogah-ogahan disamping yeoja itu.
Kyuhyun tersenyum kecil ketika sekali lagi matanya mengamati yeoja imut yang sibuk menggerak-gerakkan tangannya demi menutupi pakaiannya yang memang terkesan berlebihan untuk sekedar pergi ke taman. Namja itu mengusap dagunya yang beberapa saat lalu sedikit terciprat teh hasil semburan brutalnya. Bagaimana tidak? Lee sungmin yang terkenal hampir setiap saat menggunakan kaos santai dan celana panjang dengan rambut terikat sepurna kini berdiri dihadapannya dengan balutan dress pink polos selutut dan jangan lupakan rambut gelombang berwarna hitam itu tergerai indah seolah menyempurnakan sosok lee sungmin saat ini.
"hai.." lipatan kakinya ia turunkan, sementara bibirnya berucap membalas sapaan kibum.
"maaf membuatmu menunggu lama, Kyunnie" kibum tersenyum tidak enak pada kyuhyun. Balasan singkat dari kyuhyun membuatnya berpikir kyuhyun kesal pada mereka karena terlalu lama menunggu. Bagaimana pun kyuhyun pasti merasa bosan menunggu mereka lebih dari satu jam.
"ah.. tidak apa-apa. Aku sudah cukup senang kalian menerima ajakanku, lagipula aku sama sekali tidak merasa bosan, banyak acara menarik yang sedang tayang di televisi.." senyumnya mengembang lebar, seratus persen berhasil membuat kibum dan sungmin percaya dengan kebohongannya barusan. padahal beberapa saat yang lalu ia mengutuk acara-acara televisi yang tak ada menariknya sama sekali.
Sungmin mendesah malas. Mengapa bertele-tele sekali? Bukankah mereka ingin pergi ke taman? Bahkan namja didepannya masih duduk santai di sofa. Sungmin menghembuskan nafasnya kesal.
"jadi pergi atau tidak?" pertanyaannya barusan membuat kyuhyun dan kibum sontak menatapnya.
"tentu saja jadi! Ayo, kyunnie~" setelah kalimat kibum terlontar, kyuhyun segera bangkit dari sofa yang sedari tadi menjadi saksi bisu betapa bosannya kyuhyun. Tanpa memedulikan tatapan jengkel sungmin, namja itu sengaja berjalan beriringan dengan kedua yeoja itu- tepatnya disebelah sungmin. jarang-jarang ia bisa sedekat ini dengan yeoja dingin itu.
.
.
.
.
Suasana taman di sore hari memang tak pernah sepi. Bahkan turunnya salju tak membuat para penghuni taman sore itu berniat untuk pulang demi menghangatkan tubuh mereka mengingat suhu yang mulai menurun. Tak berbeda dengan sepasang namja dan yeoja yang saat ini terlihat masih menikmati suasana keramaian taman sore itu. Walau tidak sepenuhnya karena sepertinya hanya sang namja yang benar-benar menikmati sedangkan yeoja disampingnya yang bernama Sungmin hanya duduk, menatapi seisi taman dengan tatapan tak terlalu tertarik tanpa berniat untuk memulai pembicaraan diantara mereka.
"ehm." Kyuhyun berdehem mengusir suasana kaku yang sepertinya terlalu sulit untuk mencair jika dirinya dan sungmin sedang bersama. Sepertinya usaha namja itu berhasil. Sungmin melirik sekilas kearahnya meski hanya sepersekian detik sebelum kembali menatap ke depan. Setidaknya yeoja itu memberi respon! Kyuhyun bersorak dalam hati.
"mengapa kibum lama sekali ya.." mulai kyuhyun. Namja itu menoleh ragu, ingin melihat reaksi sungmin.
"cuaca sedingin ini, apa kau tidak berfikir kalau hot chocolate akan menjadi serbuan penghuni taman?" kali ini kyuhyun benar-benar menoleh, sedikit tak percaya sungmin mau menanggapi ucapannya. Dan kalau ia tak salah lihat, pipi sungmin terlihat memerah. Apa yeoja itu kedinginan?
"kau benar. Pasti antriannya sangat panjang" kyuhyun menganggukkan kepalanya setuju dengan pemikiran sungmin. sekali lagi ia menoleh ke arah sungmin ketika tak mendapat respon lebih dari yeoja itu.
"kau kedinginan?" tanyanya pelan. Sungguh, ia tak berniat untuk 'modus' lebih-lebih berharap sungmin akan mengangguk dan segera memintanya untuk memeluk yeoja itu. Ia benar-benar hanya tidak ingin sungmin sakit karena menahan dingin yang mulai terasa menusuk.
"atau kau mau meminjam mantelku?"
Sungmin menoleh penuh ke arah kyuhyun. Untuk pertama kalinya ia benar-benar menatap wajah remaja Cho itu dengan jelas. Alis tebal membingkai mata onyx kyuhyun,hidung mancung, bibir tebal dan rambut ikal berwarna brunette yang sedikit terkena sapuan salju terlihat sangat sempurna jika dipadukan bersama. Sungmin tersentak dengan pemikirannya, dengan gerakan panik menggelengkan kepalanya.
Kyuhyun menautkan alis, bingung. "kau kenapa, minnie?"
Hanya butuh beberapa detik sebelum pikiran sungmin yang hampir saja terpesona dengan pahatan sempurna wajah kyuhyun kembali menghilang tergantikan dengan dengusan kesal mendengar panggilan kyuhyun yang lagi-lagi terdengar sok akrab.
"berhenti memanggilku begitu" meski masih terdengar ketus namun sungmin mengucapkannya tak seperti hari-hari sebelumnya. Ia sedikit melembutkan suaranya.
Kyuhyun terkekeh, tak memedulikan larangan sungmin untuk memanggil yeoja itu dengan panggilan kecil yang terdengar sangat cocok untuk gadis semanis lee sungmin. bahkan otak jenius milik kyuhyun sempat-sempatnya memikirkan godaan yang ingin ia lontarkan pada yeoja manis itu.
"baiklah." kyuhyun mengangguk, berpura-pura menuruti ucapan sungmin. kalau saja sungmin melihat wajah namja disampingnya itu, sungmin akan melihat seringai tipis yang terlukis di bibir tebal kyuhyun.
"kalau begitu-"
Sungmin menoleh. Sedikit penasaran dengan kelanjutan kalimat namja itu.
"-bagaimana kalau aku memanggilmu chagi?" setelahnya kyuhyun kembali terkekeh menatap wajah sungmin yang terlihat semakin memerah. Yeoja itu pasti marah padanya. takut-takut mendapat jitakan, ia memegangi kepalanya sembari menunggu jitakan sungmin yang biasa menyusul setelah yeoja itu merasa kesal padanya.
Andai saja kyuhyun tahu, saat itu sungmin memerah karena menahan malu. Malu akan desiran aneh yang tiba-tiba menelusup kedalam dadanya ketika mendengar godaan kyuhyun. Ini bukan pertama kalinya. Alasan seorang lee sungmin yang selalu menolak ajakan kyuhyun untuk bermain bersama adalah ini. Kyuhyun kerap kali menggodanya, meski ia jengkel diawal namun entah mengapa belakangan ini ia merasa sesuatu yang lain. Jantungnya sering berdetak tak karuan setiap kyuhyun melancarkan godaan demi godaan padanya dan membuat yeoja itu semakin malas jika bertemu kyuhyun. Apalagi sikap namja itu yang sok akrab. Ia sangat tidak suka! Lagi pula sepertinya kibum eonni dan kyuhyun selalu terlihat serasi di matanya. Membuat sungmin semakin berniat untuk memberi jarak antara dirinya dan kyuhyun. Ia hanya tidak mau ada kemungkinan sekecil apapun yang dapat merusak hubungan harmonis antara dirinya dengan eonni satu-satunya yang paling ia sayang- tapi.. ia tak bisa mengelak bahwa sebagian kecil hatinya merasa senang saat ada seseorang yang tetap mau menjadi temannya meski berkali-kali ia acuhkan, dan satu-satunya orang tersebut adalah namja yang kini duduk disampingnya. Hah~ perasaan seperti ini sangat membingungkan!
"eh? Kau tidak memukul kepalaku?" tanya kyuhyun yang tak merasakan jitakan apapun dari sungmin. alih-alih mendapat jitakan, ia malah mendapati sungmin yang sedang menggigit bibir- terlihat gugup. Entah kyuhyun yang salah melihat atau salah menyimpulkan yang jelas kyuhyun sangat ingin mencubit gemas pipi sungmin yang sedang memerah seperti itu.
Sungmin membuang muka, kemana pun asal ia dapat memutus kontak pandangnya dengan kyuhyun. Sangat tidak elit kalau kyuhyun memergokinya sedang gugup seperti ini. Yeoja itu menarik nafas sebentar, berusaha sebisa mungkin mengembalikan mimik wajahnya seperti biasa sebelum kembali menoleh menatap kyuhyun.
"jangan sekali-kali menyebutku seperti tadi kalau kau masih sayang nyawamu, kyuhyun-ssi." Serunya datar. Ya. sungmin telah kembali seperti biasanya, membuahkan gurat kecewa di wajah kyuhyun. Menurutnya wajah sungmin yang memerah malu seperti tadi jauh-jauh-jauh lebih imut dibandingkan wajah datar seperti saat ini. Bahkan sungmin masih memanggilnya dengan panggilan formal seperti orang yang belum saling mengenal. Sempat terlintas di benak kyuhyun, apa sungmin benar-benar membencinya selama ini? Tapi- apa salah dirinya?
Lamunan kyuhyun buyar sesaat setelah sapuan uap hangat melintas di pipinya, segera saja namja itu menoleh dan menemukan sosok kibum yang masih sibuk meniup-niup uap dari hot chocolate dalam genggamannya ke arah kyuhyun. Menyadari dirinya telah dipergoki oleh kyuhyun, yeoja berjulukan snow white itu menyengir. Kyuhyun ikut tersenyum menyadari tingkah iseng kibum, dengan sayang ia mengacak rambut yeoja yang lebih tua darinya itu.
Melihat adegan di hadapannya- sungmin menunduk. Membuang jauh-jauh perasaan perih yang sempat melintas dihatinya meski hanya sepersekian detik. Ia buru-buru menghela nafas mengusir sesak dan kembali mendongak.
"biar kutebak. Kau mengantri sangat lama karena banyaknya peminat hot chocolate saat cuaca sedingin ini?" kyuhyun menyerukan pertanyaan retoris, sementara kedua tangannya mengambil alih dua cup hot chocolate untuknya dan sungmin sebelum memberikan satunya kepada yeoja manis yang belum melontarkan sepatah kata pun sejak kibum kembali.
Tangan mulus itu terulur menerima pemberian kyuhyun seraya berucap pelan,
"terima kasih" kyuhyun hanya tersenyum menjawab ucapan sungmin, sedangkan kibum kini sibuk membuka jaket bermotif army-nya dan menyampirkan kain penghangat itu ke tubuh sungmin.
"pakai ini, minnie. Kau bisa demam hanya dengan dress pendek seperti itu-" dengan telaten ia merapikan jaket itu hingga terpasang dengan rapat menutupi kedua lengan sungmin yang sejak tadi terekspos mengingat dress yang digunakannya tanpa lengan.
"-dan kau kyunnie! Mengapa tidak meminjamkan jaketmu pada sungmin, sih?" sungut kibum. Seharusnya kyuhyun meminjamkan jaketnya pada sungmin. kalau adiknya itu sampai sakit maka habislah kibum menerima ceramah panjang sang eomma karena bagaimana pun ia yang memaksa sungmin menggunakan dress pendek itu. Niatnya sih agar kyuhyun semakin terpesona karena sudah beberapa kali ia menangkap gelagat kyuhyun yang sepertinya mengagumi sungmin, sedangkan sang adik juga sering dipergoki kibum sedang memerah saat kyuhyun menggodanya namun tak kalah sering juga sungmin terkesan menutupi dan seolah tidak suka pada kyuhyun . Tapi kalau begini jadinya, sudah lain cerita! Kalau sungmin sampai sakit karena dirinya maka kibum akan sangat merutuki niatnya barusan.
" aku tidak yakin minnie mau mengenakan mantelku. Bahkan ia sangat membenciku" kyuhyun sengaja me'lebay'kan kalimatnya dan memasang tampang sedih. Biar saja! ia memang sedih karena hubungannya dengan sungmin tak kunjung mengalami kemajuan.
Kibum melongo. Seorang cho kyuhyun ternyata bisa juga memasang tampang memelas semacam itu. Sedangkan sungmin membulatkan matanya. Mengapa kyuhyun berfikir kalau dirinya membenci namja itu? Sungguh, sungmin tidak bermaksud seperti itu- tapi. Yasudahlah. Terserah namja itu.
Sungmin memilih diam, berbeda dengan kibum yang kini meledakkan tawanya.
"hahahahah! Berlebihan sekali kau, kyunnie.. minnie tidak mungkin membencimu. Iya kan, minnie?"
Tak ada jawaban. Sungmin hanya fokus meneguk hot chocolate, tanpa menghiraukan pertanyaan kibum yang bisa saja memancingnya menjawab 'iya. aku tidak membenci, kyuhyun-ssi' dan semakin membuat kyuhyun berniat mengakrabkan diri padanya. dan itu berarti, sungmin akan semakin sulit mengabaikan desiran aneh yang ia rasakan setiap kali bersama kyuhyun. 'ani! itu tidak boleh terjadi'
Kyuhyun tersenyum miris. Ia tahu pasti akan seperti ini. Bahkan sungmin tak mengelak saat dirinya mengatakan bahwa yeoja itu membencinya. Itu artinya, sungmin benar-benar membencinya bukan? Hahahah- miris sekali dirinya ini! Berniat tak ingin membuat sungmin semakin membencinya, kyuhyun diam-diam berjanji tak akan mencoba mendekati yeoja itu lagi. Apapun yang membuat sungmin bahagia, menurutnya sudah merupakan kebahagiaan tersendiri untuknya.
"kurasa ini sudah terlalu dingin. Sebaiknya kita pulang. Ayo!" ajak kyuhyun. Sekuat tenaga ia tak menampakkan wajah kecewanya dan memasang tampang 'baik-baik saja'. kedua yeoja itu sepertinya setuju dengan ajakan kyuhyun, mereka berdiri sebelum berjalan beriringan menuju rumah mereka yang bersebelahan.
'aku janji, min.. ini yang terakhir. Aku tidak akan mengganggumu lagi'
.
.
.
.
TBC/end?
Yosh! 5k+
Semoga masih ada yang nungguin.. dan sekedar info, chapter depan masih flashback karena saya ingin memberikan flashback yang jelas sejelas-jelasnya jadi ga ada yang salah paham dengan perasaan para karakter di ff ini. Okedeh, saya rasa sudah terlalu panjang author's note di chapter ini. Sekali lagi, saya minta maaf ya...
Hope you like it!^^
