Seorang yeoja cantik berambut ikal sepunggung berjalan dengan anggun menuju sebuah kamar yang berada di lantai dua. Kedua tangannya penuh dengan sebuah nampan yang berisi makanan.
Tap! Tap! Tap!
Suasana rumah yang sepi membuat langkah kaki yeoja itu terdengar cukup nyaring. Ia terus berjalan dengan anggunnya sampai ia berada di depan pintu sebuah kamar.
Cklek!
"Seokkie-ya~", gumamnya sedikit mengintip ke dalam sebuah kamar. Kemudian ia membuka pintu kamar tersebut lebih lebar agar dirinya dapat masuk. Dan terakhir, ia kembali menutup pintunya dengan perlahan.
Ia berjalan dengan perlahan menuju kasur yang dimana terdapat seorang yeoja manis tengah terlelap dengan damainya.
Yeoja berambut ikal itu menaruh nampannya pada sebuah nakas kecil. Kemudian ia duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan wajah yeoja manis yang tertidur.
"Seokkie-ya! Aku datang menjengukmu, bangunlah", rengek yeoja berambut ikal tersebut.
"Mhh …", yeoja manis bernama Minseok itu menggeliat kemudian memutar tubuhnya berlawanan arah dengan yeoja berambut ikal.
"Aku tahu kau sudah siuman sejak semalam, jangan tidur terus", gerutu yeoja berambut ikal.
"Aku mengantuk", gumam Minseok dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Mengantuk? Kau sudah berada di atas kasur ini selama dua hari dan kau masih mengantuk?", geram yeoja berambut ikal.
Minseok yang tadinya ingin kembali mengarungi lautan mimpi kini terduduk dengan kedua mata membola. Ia sudah bangun sepenuhnya.
"Apa? Dua hari?", tanya Minseok dengan suara tinggi.
"Ya", jawab yeoja berambut ikal itu dengan malas. Gendang telinganya bisa pecah kalau terus-terusan mendengar jeritan nyaring dari Minseok.
"Y-Yang benar saja?! Mana Eomma? Appa? Oppa? Bagaimana sekolahku? Lalu–", Minseok menjeda sejenak.
"Baiklah, akan kuceritakan kisah yang kudengar dari Baekhyun … Jadi … Setelah kau bertanding, kau langsung pingsan, Jongdae membawamu kemari dan Baekhyun sangat terkejut–"
"Bagaimana Jongdae?", potong Minseok cepat seakan hanya ada nama Jongdae di kepalanya.
"Huh?", gumam yeoja berambut ikal karena ucapannya mendadak dipotong.
"Ryeowook eonni, Jongdae–bagaimana keadaan Jongdae?", tanya Minseok perlahan sambil menahan geram.
Yeoja berambut ikal bernama Ryeowook ini terdiam sejenak, kemudian menggendikan bahunya. "Aku tak tahu, memangnya aku baby sitternya yang harus mengawasinya kemana pun ia pergi?", cibir Ryeowook.
"Apa dia sudah normal? Dia sudah normal, 'kan? Tidak ada masalah lagi, 'kan?"
.
.
How To Back To Normal?
.
By : Nyanmu
Main Cast : Kim Jongdae and Kim Minseok a.k.a Park Minseok
[ChenMin]
Support Cast : Exo's member and BTS
Genre : Romance, Little bit Humor, Family, Fantasy and Friends
Rated : T
Length : Chaptered
Warn! GENDERSWITCH (GS) | Typo(s) | Alur ngebut | Kata-kata absurd dan KASAR!
.
.
Chapter 8 : Tail and Ears
Kemana Jongdae?
Itulah yang ada di dalam pikiran Minseok saat ini. Minseok yang berjalan seorang diri di lorong sekolah yang cukup sepi ini pun menghela napas lelah karena terus kepikiran mengenai Jongdae.
'Dia pasti ada di kelas'
Minseok mengukir senyum saat melihat kelasnya sudah di depan mata. Pelajaran sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Dan sebenarnya Minseok masih diperbolehkan libur untuk beberapa hari–mengingat Minseok kurang baik setelah classmeeting.
Tapi karena suasana rumah yang sepi dan Minseok takut ketinggalan pelajaran, ia memutuskan untuk masuk sekolah. Sebenarnya badannya masih agak sakit.
Tok! Tok!
Minseok mengetuk pintu kelas, membuat seisi kelas mengalihkan perhatian mereka dari pelajaran yang berlangsung. "Maaf saya telat, songsaenim", ucap Minseok mmebungkuk sopan.
Songsaenim yang sedang mengajar pun mengangguk kecil. "Apa kau sudah merasa baikan?", tanya songsaenim.
Minseok mengangkat kedua tangannya dan tersenyum kecil. Pipinya sedikit sakit untuk tersenyum lebar. "Cukup baik untuk mengikuti pelajaran", ucap Minseok.
"Duduklah kalau begitu", ucap Lee songsaenim dengan ramahnya.
Minseok melangkah memasuki kelas lebih dalam. Penglihatannya langsung beredar mencari keberadaan Jongdae. Namun–
Kosong.
Bangku Jongdae kosong. Minseok pun berbalik badan menghadap Lee songsaenim. "Songsaenim, kemana Jongdae?", tanya Minseok.
Tuk!
Lee songsaenim menghentikan aktifitas menulisnya dan berbalik badan. "Jongdae?", tanya Lee songsaenim.
Minseok mengangguk.
"Dia tidak masuk semenjak lomba lari selesai", ucap Yuta.
Minseok menoleh kearah Yuta. "Tidak masuk? Kenapa?", tanya Minseok.
"Dari keterangan surat yang dikirim, dia sakit", ucap Yuta memperlihatkan surat sakit dari atas nama Jongdae.
'Sakit?'
"Mungkin dia kelelahan setelah berlari", ucap Yuta kembali berkutat dengan bukunya.
"Jadi, sudah tiga hari Jongdae tidak masuk?", tanya Lee songsaenim.
"Ne", jawab semua murid serempak. Sedangkan Minseok, ia memilih melanjutkan langkahnya dan duduk pada bangkunya.
"Kalau begitu lebih baik kalian menjenguknya", ucap Lee songsaenim.
Kemudian seisi kelas berdesas-desus mengenai siapa yang akan menjenguknya.
"Ah, besok ada les"
"Ck, besok aku harus pergi"
"Aku sih sibuk"
"Aku tidak bisa"
Dan lain sebagainya sebagai tanda penolakan dari para siswa. Minseok memutar bola mata malas kala mendengar penolakan beberapa siswa yang didengarnya.
Jadi Minseok mengangkat tangan membuat seisi kelas diam dan berfokus pada Minseok.
"Biar aku yang menjenguknya", ucap Minseok.
"Ah", ucap Lee saem.
"Rumahmu dekat dengan Jongdae, 'kan?", tanya Lee saem seakan baru teringat.
Minseok mengangguk. "Itu bagus, kau mewakilkan teman-teman kelasmu yang tidak bisa ikut", ucap Lee saem.
"Arasseo", gumam Minseok sedikit malas.
.
.
.
Minseok melihat sekeliling. Sepi. Kemudian ia mengintip melalui jendela. Di dalam pun terlihat sepi dan gelap.
"Jongdae-ya!", teriak Minseok karena tak mendapati tanda-tanda seseorang yang akan membuka pintu rumah besar ini.
Namun tak ada jawaban. "Bibi Oh!", Minseok nekat meneriakkan nama bibi Oh yang terkenal galak.
"Bibi Oh!", teriak Minseok lagi. Namun tak ada sahutan.
"Jonginnie!", teriak Minseok.
Tidak ada yang menjawab. Rumah ini benar-benar sepi. Kemana penghuni rumah ini?
"KIM JONGDAE!", teriak Minseok kesal.
Lagi-lagi tidak ada sahutan. 'Mungkin saja Bibi Oh pergi ke luar kota lagi …'
Minseok melangkahkan kakinya untuk memutari rumah besar milik bibi Oh yang ditinggali oleh Jongdae dan Jongin juga.
'Tapi Jongdae dan Jongin? Memangnya mereka kemana? Tidak mungkin 'kan Bibi Oh membawa mereka'
Minseok melihat bahwa semua pintu dan jendela tertutup rapat. Rumah ini benar-benar sepi.
"Baiklah … mungkin besok", gumam Minseok. Kemudian ia melangkah untuk pulang.
TIN! TIN!
Belum juga Minseok sepenuhnya keluar dari wilayah kediaman Bibi Oh, suara klakson mobil mengejutkan Minseok. Dan sekaligus membuat Minseok kesal karena pelakunya adalah oppanya sendiri, Park Luhan.
"Ngapain di sini?", tanya Luhan setelah menurunkan kaca mobilnya.
"Menjenguk Jongdae", ucap Minseok datar.
"Kenapa tidak pulang dulu?", tanya Luhan.
Minseok memandangi dirinya yang masih terbalutkan baju seragam sekolah. "Sudahlah, aku mau ganti baj–"
"Cepat masuk!", Minseok tidak jadi melangkah setelah mendengar titah Luhan.
"Masuk? Memangnya mau kemana?", tanya Minseok.
Ia lelah setelah belajar, rasa nyeri sehabis pertandingan itu juga belum sepenuhnya hilang, lalu rasa kesal karena tidak adanya sahutan dari kediaman Bibi Oh, dan sekarang–tanpa alasan jelas oppanya menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Mood Minseok hancur total!
"Sudah, ikut saja!", perintah Luhan sedikit memaksa.
Dengan malas Minseok membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Luhan.
Blam!
Minseok menutup pintu dengan kasar. Tampang kusutnya tak kunjung hilang dari wajahnya.
"Ini akan menyenangkan", ucap Luhan berusaha menghibur Minseok dan menjalankan mobilnya.
"Ya, menyenangkan saat aku bertemu dengan kasur, bantal, dan selimutku", dengus Minseok malas.
"Oh, ayolah … ini benar-benar akan menyenangkan", ucap Luhan mengusak puncak kepala Minseok.
Sepertinya mood Luhan sangat bagus hari ini. Ada apa gerangan?
.
.
.
Saat ini, di sebuah café tempat Ryeowook bekerja, keluarga Park dan Li Xu alias Ryeowook tengah berkumpul atas usulan Luhan.
"Jadi Luhan, untuk apa kita berkumpul di sini?", tanya Baekhyun.
"Ini akan sangat mengejutkan", bisik Luhan dengan senyuman lebarnya.
"Apa yang kau rencanakan, nak?", tanya Chanyeol dengan wajah datarnya ketika mencium bau kecurigaan.
"Appa, tenang saja … aku tidak akan mengacau seperti aku mengacaukan pernikahan Heecul ahjuma, oke", ucap Luhan santai.
Dan semoga saja Luhan benar-benar tidak mengacau.
"Oppa! Milkshakeku habis", gerutu Minseok saat melihat Milkshake kelimanya habis.
"Kau bisa pesan sesukamu", ucap Luhan sambil melirik arlojinya.
"Baiklah! Rye–m-maksudku … Li Xu eonni, milkshake lagi–tolong", ucap Minseok bersemnagat kepada Li Xu yang duduk di sebelahnya.
Dengan senyuman manisnya Li Xu tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia menuju ke belakang untuk mengambilkan Minseok Milkshake lagi.
"Memangnya siapa yang kita tunggu, Lu?", tanya Chanyeol merasa jengah.
"Seseorang", ucap Luhan sambil memandang kearah luar jendela.
"Ya, seseorang itu siap–"
Tiba-tiba saja Luhan berdiri dan membungkuk. Membuat Baekhyun menghentikan ucapannya. Ternyata seorang pria berpakaian formal berjalan menuju meja mereka.
Pria berjas itu menjabat tangan Luhan saat ia sampai di meja keluarga Park. "Terima Kasih anda sudah mau datang", ucap Luhan formal.
"Ah, itu bukan masalah … Apakah kalian menunggu lama?", tanya pria berjas formal tersebut kepada keluarga Park setelah berjabat tangan dengan Luhan.
"Oh, tidak … tidak … kami baru saja datang", ucap Luhan mencoba membuat pria di hadapannya ini nyaman.
'Kami sudah di sini dua jam yang lalu', gerutu Minseok dalam hati.
'Apakah Luhan sudah berbisnis?', pemikiran Chanyeol.
'Aku merasa pernah melihatnya', pemikiran Baekhyun.
"Ah, apa aku belum memperkenalkan diri?", tanya pria berjas formal tersebut.
"Hehe … Dia ini Kim Yesung, pemilik café ini", ucap Luhan memperkenalkan pria berjas formal tersebut.
"Annyeong, Kim Yesung", ucap pria berjas formal tersebut sedikit membungkuk.
"Ah, silakan duduk", ucap Luhan.
Dan pria bernama Kim Yesung tersebut pun duduk di sebelah Chanyeol. "Kemana Li Xu?", tanya Luhan saat menyadari Li Xu tidak ada di sebelah Minseok.
Minseok mendongakkan kepalanya dan menoleh ke belakang. "Itu", ucap Minseok melihat kearah datangnya Li Xu.
"Ini, Milkshakenya", ucap Li Xu menaruh segelas Milkshake di depan Minseok.
Li Xu hendak duduk di sebelah Minseok, namun netranya menangkap keberadaan bossnya. "B-Bos, anda …", gugup Li Xu.
Luhan berdeham dan membuat dirinya menjadi pusat perhatian. "Baiklah, pertama–", ucap Luhan bak pembukaan pidato yang membosankan.
"Terima kasih untuk Li Xu yang sudah membantu kami membuat keadaan menjadi normal", ucap Luhan.
"Dan sebagai tanda terima kasih, aku ingin mempertemukanmu dengan seseorang yang kau tinggalkan dulu", ucap Luhan.
Li Xu hanya mengernyit bingung dengan apa yang barusan Luhan katakan. Terbesit rasa senang dan bingung dalam diri Li Xu.
"Umm … Yesung-ssi, apa kau mencari seseorang?", tanya Luhan menahan senyum lebarnya.
Yesung yang ditanya hanya diam. Ia benar-benar tidak mengerti apa maksud Luhan. Memangnya siapa yang akan mengerti jika langsung ditodong dengan pertanyaan seperti itu?
"Maksudmu?", tanya Yesung kebingungan.
"Baiklah baiklah! Langsung ke inti saja", jengah Chanyeol.
"Hm, baiklah", ucap Luhan.
"Langsung saja ya … Yesung adalah Kim Jongwoon dan Li Xu adalah Ryeowook", ucap Lucan menjelaskan.
Minseok bergegas membungkam mulut Luhan. "Apa yang oppa lakukan? Kita tidak boleh mengkuak identitas asli–"
"Ini sebagai tanda terima kasih", potong Luhan setelah membungkam balik mulut Minseok.
Li Xu dan Yesung yang mendengar ucapan Luhan pun hanya bisa saling pandang dengan perasaan tidak percaya.
"A-Apa benar? B-Bo–maksudku, Yesung … kau … Jongwoon?", tanya Li Xu tidak percaya. Ternyata seseorang yang ia cintai selalu berada di dekatnya.
"K-Kau sendiri, Ryeowook?", tanya Yesung sama tak percayanya.
Dan hening melanda mereka setelah pertanyaan Yesung. "Benarkah?", tanya Li Xu masih tak percaya.
"Um, memang sebenarnya aku Kim Jongwoon … tapi untuk urusan bisnis aku–"
Brugh!
Tiba-tiba saja dengan lancangnya Ryeowook memeluk Yesung yang notabenya sebagai bossnya itu. Toh, sebenarnya mereka masih berpacaran. Memangnya siapa yang memutuskan hubungan mereka saat mereka lost contact?
Yesung yang mendapat pelukan tiba-tiba dari Ryeowook pun hanya bisa diam.
"Ppaboya! Aku lelah mencarimu!", isak Ryeowook.
Yesung tersenyum kemudian membalas memeluk. "Aku juga mencarimu", ucap Yesung lembut.
"how romantic~", gumam Baekhyun dengan pipi merona.
"Oh, apa kau ingin kita berpisah seperti mereka dan bertemu seperti mereka?", sindir Chanyeol.
Baekhyun mendelik tidak suka kearah Chanyeol. "Tentu saja tidak", gerutu Baekhyun dengan bibir mengerucut lucu.
"Pantas saja aku merasa Li Xu mirip dengan Ryeowook, ternyata Li Xu adalah kau sendiri", kekeh Yesung.
"Hehe, bahkan aku tidak mengenalimu sedikit pun", ucap Ryeowook masih dengan sedikit isakan.
"Benarkah?", tanya Yesung tak percaya sambil melepas pelukan mereka.
Ryeowook mengangguk lucu. "Karena kau semakin tampan", puji Ryeowook dengan hidung yang merah.
Dan mereka terkekeh bersama. Chanyeol dan Baekhyun yang melihat interaksi mereka pun hanya bisa tersenyum senang.
"Appa"
Seorang yeoja memanggil Yesung. Dan Yesung pun menoleh. "Ne?", sahut Yesung.
"Appa?", bingung Ryeowook.
"Jongwoon, kau–", Baekhyun tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Banyak sekali pemikiran-pemikiran mengenai Yesung yang dipanggil appa oleh seorang yeoja yang baru tiba tersebut.
Yeoja bermata bulat yang memanggil Yesung dengan sebutan Appa tersenyum kearah mereka semua. "Siapa mereka, Appa?", tanya yeoja itu.
Yesung mengulum senyum. "Perkenalkan semua, Ini anak–"
"Hentikan! Aku tidak kuat!", jerit Baekhyun yang sangat tidak tahan dengan yang namanya 'rencana gagal'.
"Ikut aku!", Baekhyun menyeret Ryeowook pergi dari sana. Pelupuk mata Ryeowook memanas mendengar bahwa Yesung sudah memiliki seorang anak.
"Um, ada yang tahu mereka kenapa?", tanya Yesung menatap kearah Minseok, Luhan, dan Chanyeol.
"Appa, katakan dengan jelas siapa aku", bisik yeoja itu.
Yesung terdiam sejenak. "Ah! Begitu rupanya!", Yesung bangkit dan segera menyusul Baekhyun dan Ryeowook.
"Jadi, siapa kau?", tanya Minseok kepada yeoja bermata bulat tersebut.
Yeoja itu tersenyum kaku. "Annyeong, Kim Kyungsoo imnida", ucap yeoja itu.
"Aku bukan anak kandung dari Appa, aku anak angkat", ucap Kyungsoo meluruskan sebelum adanya kesalahpahaman–walaupun sebenarnya sudah ada.
"Ah, begitu", ucap Chanyeol mengerti.
"K-Kyung-Kyungsoo"
Kyungsoo menoleh saat mendengar namanya disebut dengan gugup oleh seseorang.
Dan saat itu juga, dua insane berbeda jenis itu saling pandang dengan mata melotot–terkejut.
"L-L-Luhan, kau–", jari telunjuk Kyungsoo mengambang di udara hendak menunjuk kearah Luhan.
"Um, ada apa ya?", bingung Minseok sambil memandangi Luhan dan Kyungsoo bergantian.
.
.
.
Baekhyun berjalan dengan cepat menuju mobilnya. Tangan kanannya masih setia menyeret Ryeowook untuk menjauhi Yesung.
"Tunggu!", teriak Yesung.
"Jangan dengarkan dia, jangan dengarkan dia", gumam Baekhyun memberikan sugesti pada Ryeowook.
"Baek, kita dengarkan saja dulu", ucap Ryeowook berusaha tegar.
"Aniyo! Aniyo! Aniyo! Aku tidak mau! Telingaku panas dan mataku juga!", jerti Baekhyun.
"Aku tidak mau melihatnya! Dia membuatmu sakit hati", kesal Baekhyun sedikit egois.
"Baek, ini masalahku ... kenapa kau yang merajuk", kekeh Ryeowook sedikit dipaksakan.
"Tapi–", Baekhyun mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kau boleh menamparnya kalau dia membuatmu kesal nanti", ucap Ryeowook.
Mata Baekhyun berbinar mendengar pernyataan Ryeowook. Oh ayolah, siapa yang berani menyakiti Jongwoon (Yesung) dulu saat Ryeowook masih berada di sisinya? Menyentuh Yesung sedikit saja bisa mendapatkan death glare gratis dari Ryeowook.
And see? Ryeowook sendiri yang memperbolehkan Baekhyun untuk menamparnya nanti jika ia kesal.
"Jinjja?", tanya Baekhyun.
Ryeowook mengangguk. Ia tahu bahwa sahabatnya ini hanya ingin yang terbaik untuk dirinya.
"Tunggu, dengar penjelasanku", ucap Yesung saat ia tiba.
"Baiklah! Baiklah, jelaskan secara singkat, padat, dan jelas", ucap Baekhyun.
"Um, tadi itu ... Kyungsoo, dia itu anak–"
"Boleh aku menamparnya sekarang? Mendengar kata 'anak' sudah membuatku kesal", ucap Baekhyun dengan tatapan polos kepada Ryeowook.
"Dengar sampai selesai, baek", ucap Ryeowook berusaha berwibawa dan tegar.
"Dia itu anak angkatku, aku mengambilnya dari panti asuhan lima tahun lalu", ucap Yesung.
"Jadi dia bukan anak kandungmu?", tanya Baekhyun.
"Ani"
"Jadi kau belum menikah?", tanya Baekhyun.
"Tentu saja"
"Belum mempunyai istri?", tanya Ryeowook.
Yesung tersenyum misterius sebelum menjawab. "Tentu saja sudah punya", ucap Yesung.
"Ya! Apa-apaan kau! Kau bilang belum menikah! Kenapa sudah mempunyai istri?", kesal Baekhyun menggebu-gebu.
Sedangkan Ryeowook? Dia langsung down dan tidak bersemangat.
"Ya ... setidaknya untuk sekarang belum resmi tapi ... apakah kau mau? Wookie? Menjadi ibu dari Kyungsoo?", tanya Yesung.
Ryeowook yang tadinya tidak bersemangat langsung berbinar senang.
Bruk!
Ryeowook dengan segera memeluk Yesung hingga Yesung hampir terjungkal ke belakang. "Omona ...", gumam Baekhyun.
"Sangat tak terduga, kenapa Chanyeol tidak melamarku seperti ini ya?", gumam Baekhyun tak lepas dari keterpukauannya.
.
.
.
"APH–UK! UHUK!", Minseok tersedak karena berteriak saat sedang meminum milkshakenya.
"Idiot", gumam Luhan bersedekap dan menolehkan kepalanya ke samping.
"Kau tak apa?", tanya Kyungsoo dengan wajah cemasnya.
Minseok menetralisirkan tenggorokannya sejenak. "Aku tak apa", ucap Minseok sambil memegangi lehernya. Tersedak itu sakit, asal kalian tahu.
"Tapi kurasa telingaku sedikit bermasalah, setelah ini aku akan ke dokter THT", ucap Minseok sambil membenarkan letak duduknya.
"Telingamu baik-baik saja, seokkie", ucap Luhan sedikit malas.
"Uhm? Tapi aku tidak percaya, mungkin aku berhalusinasi?", ucap Minseok.
"Kau sadar, kau waras, kami ada, kau sehat, dan kau baik-baik saja … kami memang pernah pacaran, oke", ucap Luhan jengah.
"Kalian pernah berpacaran?", tanya Minseok dengan wajah melongonya.
"Ya", ucap Kyungsoo.
"Lalu bagaimana sekarang?", tanya Minseok. Ia sudah bisa mengontrol diri sekarang.
"Kita hanya teman, memangnya kau mengharapkan apa?", tanya Luhan sinis.
Pletak!
"Menjadi seorang namja harus menghargai yeoja, memangnya Appa pernah mengajarimu berkata dengan nada seperti itu pada yeoja", tanya Chanyeol setelah menjitak belakang kepala Luhan.
"Appo …", lirih Luhan sambil mengusap kepala bagian belakangnya.
"Appa 'kan hanya berkata 'kita harus menjadi seorang namja yang tegas' tidak menjadi namja yang baik hati", gerutu Luhan.
"Maksud Appa tegas disaat tertentu", ucap Chanyeol.
"Huh, lagipula memangnya aku berbicara dengan yeoja?", gerutu Luhan.
"Yak! Aku yeoja! Dasar!", desis Minseok kesal.
"Oh, kau ya", ucap Luhan datar menatap Minseok.
"Kau 'kan bocah, bukan yeoja", ejek Luhan.
"Yak!", teriak Minseok tak terima.
"Ya ya ya, ada apa ini? Suara kalian terdengar sampai keluar", ucap Baekhyun dari belakang Kyungsoo.
"Eomma, ternyata Luhan oppa dan Kyungsoo adalah–hmmpp!"
"Diam kau", Luhan menekan kedua tangannya lebih kuat untuk membungkam mulut Minseok.
"Hmm! Hmmpp!", Minseok memukul-mukul tangan Luhan.
"Luhan dan Kyungsoo kenapa?", tanya Baekhyun penasaran.
Kyungsoo hanya tersenyum canggung, ia bahkan tidak bisa mengeluarkan suaranya. "Mereka berpacaran", ucap Chanyeol.
"Jinjja?", tanya Baekhyun dengan mata berbinar.
"Aniya! Itu dulu!", teriak Luhan.
Tiba-tiba Baekhyun kehilangan semangatnya. "Yaaah, kenapa kalian tidak berpacaran lagi? Apa karena Luhan? Luhan! Kau melakukan apa terhadap Kyungsoo sehingga dia memutuskanmu!", amarah Baekhyun.
"A-Aniya ... bukan aku yang memutuskannya, tapi dia yang memutuskanku", ucap Kyungsoo. Ia berpikir dengan mengatakan ini Baekhyun tidak akan marah terhadap Luhan, tapi–
"Apa?! Yang benar saja! Kyungsoo-ya!Seharusnya kau yang memutuskannya", geram Baekhyun.
"Apa kau playboy, nak?", tanya Chanyeol pada Luhan.
"Aniya! Kalian kenapa jadi mengurus percintaanku?", ucap Luhan.
"Haaaah, kalau begini pupus sudah harapanku", ucap Baekhyun langsung lemas dan bersandar pada Chanyeol.
"Harapan apa, eomma?", tanya Minseok setelah tangan Luhan berhasil ia tepis.
"Berbesanan dengan Ryeowook", gerutu Baekhyun.
"Hah?", ucap Luhan dan Kyungsoo bersamaan.
Baekhyun mengangguk. "Oh! Mungkin saja sebentar lagi ada acara pernikahan", ucap Baekhyun kembali semangat mengingat bagaimana cara Yesung melamar Ryeowook tadi.
.
.
.
"Baik-baik yaaa! Jangan sampai terpisah lagiii", teriak Baekhyun dari kejauhan.
Ryeowook melambaikan tangannya. "Tentu! Kau juga! Jangan membuat masalaaah", teriak Ryeowook.
"Um, sampai jumpa", ucap Luhan sedikit kaku kepada Kyungsoo.
"Y-Ya, sampai jumpa lagi", ucap Kyungsoo tak kalah kakunya.
Luhan mengulum senyum simpul dan berbalik. "Ah, t-tunggu dulu", ucap Kyungsoo menghentikan Luhan.
"apa?", tanya Luhan lembut.
"Hmm, mengenai hubungan kita dulu ... sepertinya kau ... salah paham, Taekwang itu ... sudah kuanggap adikku sendiri, karena dulu kami satu panti asuhan", ucap Kyungsoo sambil menundukkan kepala.
Luhan menarik kedua sudut bibirnya lebih lebar. "Mianhe, aku tidak mau mendengarkanmu waktu itu", ucap Luhan.
"Ah, tak apa ... tapi ... syukurlah kita bertemu di sini ya ha ha ha", ucap Kyungsoo diakhiri dengan tawa renyahnya.
Kyungsoo melirik Lucan sekilas, kemudian terbesit di pikirannya untuk kembali menjalin hubungan dengan Luhan. "Ummm ... jujur, sebenarnya aku masih menaruh pera–"
"Apa kau mau kita kembali seperti dulu?", potong Luhan.
Kyungsoo mendongakkan kepalanya dengan mata bulatnya yang semakin membulat. "A-A-Ak-Aku A–Ah, ya ... tentu", ucap Kyungsoo menahan senyuman lebarnya.
Luhan terkekeh melihat tingkat Kyungsoo. "Baiklah kalau begitu, aku akan menghubungimu nanti–oh, nomormu masih tetap 'kan?", tanya Luhan.
"Hum, tetap", ucap Kyungsoo.
"Baiklah, bye~", Luhan berlari kecil menuju mobilnya.
"Uuuu balikan yaaa~", goda Minseok yang mengeluarkan kepalanya melalui jendela mobil. Ia menyaksikan drama picisan sang kakak dengan mantannya sedari tadi.
"Diam kau, minggir", kesal Luhan.
"Setelah ini aku mau pizza", ucap Minseok dengan senyum yang mengembang sangat lebar.
Luhan memincingkan matanya melirik Minseok. "Beli saja sendiri", ucap Luhan sambil menutup pintu.
"Eh? Jadi tidak ada traktiran?", tanya Minseok kecewa.
"Tentu saja tidak ada", ketus Luhan.
.
.
.
Sret! Sret!
"–ditambah … lalu dipindahkan …"
Seorang yeoja duduk dengan tenang di meja belajarnya. Ia tengah mengerjakan soal latihan dengan serius.
"Hm, salah", gumam yeoja ini kemudian menghitungnya ulang.
"SEOKKIE~ TURUN SAYANG, MAKAN MALAM SUDAH SIAP!", teriak sebuah suara yang berhasil membuat yeoja bernama Minseok ini berhenti menghitung.
"NE!", teriak Minseok sebagai balasannya.
Saat ini Minseok tak takut lagi untuk makan di rumah. Keluarganya menjadi lebih normal semenjak peristiwa tersebut.
Tuk! Tuk!
Minseok terkesiap. Ia mendengar suara dari balik jendela kamarnya. 'Ap-apa? Apa itu … pencuri? Siapa itu?'
Minseok takut, ia ingin berlari ke bawah dan berteriak histeris kepada semuanya bahwa ada yang aneh di kamarnya. Tapi mengingat malam ini Luhan tidak tidur di apartementnya, membuat Minseok lebih mementingkan rasa kesalnya dari pada rasa takut.
Ia pasti akan berdebat dengan Luhan yang menyebalkan–menurutnya–dan pastinya itu tidak sebentar. "Cih ...", decih Minseok dengan wajah kesalnya.
Ia berjalan dengan langkah dihentakkan menuju jendela kamarnya.
Sret!
"Siapa–Waaaaaa!"
Bruk!
Minseok terjatuh karena kaget melihat seseorang berada di balik jendela kamarnya. "J-J-J-Jongdae?!", ucap Minseok dengan suara bergetar.
"Minseok, tolong buka ... aku ... ada yang ingin aku bicarakan ...", ucap Jongdae dari luar kamar Minseok.
Minseok menghembuskan napas kecil kemudian ia bangkit. Setelah dilihat lebih teliti lagi, ternyata Jongdae berpakaian cukup mencurigakan. Ia menggunakan selimut berwarna biru-putih untuk menutupi kepalanya sampai kakinya. Seperti orang yang kedinginan.
"Selera fashionmu cukup unik", kekeh Minseok setelah membuka jendela.
Jongdae melewati jendela dan sekarang ia sudah berada di dalam kamar Minseok. "Nah, ada apa kau kemari setelah lama menghilang?", tanya Minseok sedikit menyindir.
"Mmm, sebelumnya aku mau minta maaf", ucap Jongdae tanpa melepas selimut yang menutup sebagian wajahnya.
"Untuk apa?"
"Sebenarnya aku tidak ingin menyalahkanmu dan juga tidak ingin melibatkanmu, tapi ... sepertinya ini masalah lain lagi", cicit Jongdae.
"Apa maksudmu?", tanya Minseok semakin tak mengerti.
"SEOKKIE! CEPAT TURUN!", teriak Baekhyun dari bawah.
Minseok menolehkan kepalanya kearah pintu kamar. "SEBENTAR!", teriak Minseok.
"Apa kau sudah makan malam? Kau mau makan malam di sini?", tanya Minseok menoleh kearah Jongdae.
Jongdae hanya menggeleng membuat selimut yang menutupi tubuhnya sedikit bergerak. "Baiklah kalau begitu, cepat katakan masalahmu ... bisa gawat kalau Luhan oppa yang berteriak", gerutu Minseok.
"Umm–"
"Oh, dan ... bisa kau singkirkan selimut itu? Aku tidak nyaman berbicara dengan seseorang kalau tidak bertatap muka", ucap Minseok risih.
"Tapi–itu masalahnya", ucap Jongdae sedikit mendongakkan wajahnya dan terlihatlah kedua bola mata Jongdae.
"Memangnya kenapa? Kau tidak berpakaian?", tanya Minseok.
"A-Ani! Tidak mungkin", ucap Jongdae sedikit malu.
"Lalu?", bingung Minseok.
"A-A-Aku ... aku memiliki ... aku memiliki–"
"Katakan dengan jelas", jengkel Minseok.
"Telinga dan ekor", cicit Jongdae.
"Apa? Hah? Kau memiliki telinga, itu normal ... lalu apa? Ekor? Yaaa memang kita memiliki tulang ekor, itu tak masalah ... oh, apa kau ingin berguaru denganku?", bingung Minseok.
Jongdae menggeleng dan menurunkan selimut yang sedari tadi menutupi seluruh tubuhnya. Dan seketika kedua bola mata Minseok membola.
"AAAAAAA!", jerit Minseok.
Sepertinya kehidupan normal yang Minseok impikan tidak akan pernah terwujud.
.
.
.
To Be Continued
A/N : Helloooooooo! Ada yang kangen? xD Oke, aku bener-bener ngenext dua minggu kemudian :V Maaf ndaku yang selalu menunda-nunda :'D Hahaha :V . Di Chap ini udah tau 'kan Luhan couplenya siapa xD #gaknyambungbangetdah._. Aaaaaah, aku habis ide dan muncullah HunSoo :P Wahahaha … maafkan ndaku, neeeee xD
Balasan Review
anoncikiciw : Bukan saayyy, anaknya Yesung itu si Kyung xD
daebaektaeluv : Numbuh buntut?._. gimana ya? Kok … elu peramal?.-.
pooarie3 : Iyaaa … hiks :'( Maafkan aku nee :" Mau fanfict HunHan? Abis fanfict ini selese aku udah ngerencana buat fanfict HunHan ;) Mau gak nih? #promosi :V
Nadhefuji : Jongdae inget gak ya … romance momentnya … mungkin chap 9 dan 10 xD
mommyme : Hihi, makasih udah penasaran …
dobipuppychanbaek : Kamu peramal ih xD Kyung emang anaknya Yesung. Luhan mah cowok manly yang bakal tetep ganteng kalo pun gak mandi #huek xD Wah? Elu nangis? Kenapa bisa gitu ya? :'D
Misslah : Hiks :') makasih atas semangatnya … aku merasakan ada semangat yang tersalur kemari xD wahahahaha …
Jung Jae In : Ini ada YeWook xD kabarnya baik, tinggal nunggu undangannya aja sih :D
Kim Insoo : Iya, gak apa2 kok :" Justru kadang review yang pedes itu membuat kita sadar #apaanlah xD Yah, chap ini Jongdaenya lagi ngilang … Tapi udah balik normal jadi remaja kok :3 Wah, kalo si Jongin mah … kagak boleh diapa-apain xD
