"Ya Tuhan! Demi apa kau memiliki dua hal ini?!", Minseok menujuk ke arah telinga dan ekor yang Jongdae miliki.

"A-A-Aku tak tahu …", Jongdae semakin menundukkan kepalanya.

Minseok berjalan kesana-kemari di hadapan Jongdae. Kemudian ia memperhatikan keadaan Jongdae.

Jongdae yang pemalu dengan dua telinga kucing di kepalanya dan sebuah ekor dengan bulu tebal. Oh, sebenarnya Jongdae terlihat manis saat ini.

'Tidak! Tidak! Apa yang kupikirkan?! Jongdae? Manis? Tidaaaaak'

"B-Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?", tanya Jongdae dengan tingkah girly dibumbui sedikit kesan pemalu.

"XIUMIN! TURUN! KAU MAU MAKAN MALAM TIDAKK?!", amarah Luhan dari lantai dasar.

"Astaga, Luhan oppa", gumam Minseok.

"A-AKU TIDAK MAKAN MALAM! AKU ADA ULANGAN BES–"

BRAK!

Pintu kamar Minseok terbanting dengan kasarnya. Membuat sang pemilik kamar dan Jongdae kaget. Luhan dengan tampang sangar sudah berdiri dengan tegap di ambang pintu.

"JANGAN BERCANDA! Tidak mau makan malam kau bil–astaga, aku berhalusinasi", Luhan tak jadi membentak Minseok setelah menangkap keberadaan Jongdae.

Luhan mengucek matanya perlahan. Kemudian kembali memperhatikan Jongdae. "K-kenapa tidak mau hilang?!", Luhan mulai panik.

"O-Oppa … ini nyata–"

"Ini tidak benar! Aku harus bisa membedakan antara yang nyata dan khayalan atau aku bisa gila!"

Jdug!

Dan monolog Luhan berakhir setelah ia menjedukkan kepalanya pada tembok dengan setengah tenaganya. Hasilnya? Luhan positif tidak sadarkan diri.

"O-O-Oppa!"


.

.

How To Back To Normal?

.

By : Nyanmu

Main Cast : Kim Jongdae and Kim Minseok a.k.a Park Minseok

[ChenMin]

Support Cast : Exo's member and BTS

Genre : Romance, Little bit Humor, Family, Fantasy and Friends

Rated : T

Length : Chaptered

Warn! GENDERSWITCH (GS) | Typo(s) | Alur ngebut | Kata-kata absurd dan KASAR!

.

.


Chapter 9 : I'm Jelous!

'Ouh, pening sekali'

Namja yang lama tertidur ini akhirnya membuka matanya dengan perlahan. Samar-samar, ia melihat sesosok yeoja tengah memandanginya.

Kemudian namja ini mengedipkan matanya beberapa kali agar penglihatannya lebih jelas. Namun apa yang terjadi? Ia justrus melihat yeoja itu menjadi dua orang yang berbeda.

"Oppa? Ini berapa?", yeoja yang namja ini lihat dengan samar menunjukkan jarinya. Namun ia belum bisa melihat berapa jari yeoja itu.

"Aku tak tahu, kau berisik seokkie", gerutu namja ini sambil memijit kepalanya.

"M-Maafkan aku, karena aku kau menjadi seperti ini", cicit seorang namja bertelinga dan berekor di sebelah Minseok.

Namja yang masih memijit kepalanya ini mematung sejenak. Kemudian ia tolehkan dengan cepat kepalanya dan terlihatlah sosok Jongdae yang memiliki telinga dan ekor kucing.

"Woah! Kucing jadi-jadian! Apa yang kau lakukan di sini?! Kenapa kau masih di sini? Apa aku belum sadar juga? Mana tembok? Aku perlu tembok!", heboh Luhan karena merasa dirinya sudah tidak waras.

"Cukup Luhan, kau masih waras nak …", ucap Chanyeol yang baru saja kembali dari dapur.

Kedua tangan chanyeol penuh dengan sebuah ember sedang dan sebuah handuk kecil. "Berbaring kembali, dahimu menjadi memar karena kau benturkan ke tembok", ucap Chanyeol.

Luhan yang tak mengerti apa-apa hanya menurut dengan tanpang blo'onnya.

"Umm, Jongdae-ya~ bisa ikut denganku sebentar?", tanya Baekhyun yang baru saja keluar dari laboratorium bawah tanah mereka.

Jongdae dengan kikuknya melangkah mengikuti Baekhyun. "Eomma! Untuk apa Jongdae?", tanya Minseok.

"Eomma perlu melalukan penelitian lebih lanjut", ucap Baekhyun dengan tatapan semangat.

"Andwaeeeee!", teriak Minseok kemudian memeluk Jongdae dengan protecktif.

"Hanya sebentar sajaa", Baekhyun menarik tangan Jongdae.

"Tidak bisa! Nanti kalau terjadi hal yang lebih parah, bagaimana?"

"Tidak akan! Ini hanya meneliti sedikit saja!"

"Sedikit seperti apa?"

"Hanya memasukkannya ke dalam ruangan isolasi"

"Itu terlalu parahh!"

"Kalau begitu bagaimana dengan x-ray?"

"Tidak! Itu menyeramkan!"

"Baiklah, hanya meneliti bulu telinganya saja"

"Sehelai bulu telinga", tawar Minseok dengan tatapan menggemaskan.

"baiklah, sehelai", ucap Baekhyun mengalah.

"Oke! Aku ikut! Untuk berjaga-jaga", ucap Minseok.

Setelah Baekhyun, Minseok, dan kucing-jongdae pergi, tersisalah dua manusia berjenis kelamin namja ini.

"Appa, tolong jelaskan apa yang terjadi", ucap Luhan dengan tatapan bingungnya.

"Itu tadi Jongdae", ucap Chanyeol sambil memeras handuk yang sudah ia rendam tadi.

"Jongdae? Itu Jongdae?!", tanya Luhan dengan berlebihan sampai-sampai ia berteriak di depan wajah Chanyeol.

Plak!

Luhan kembali berbaring setelah chanyeol melemparkan handuk basah yang ia peras tadi ke arah wajahnya.

"Iya, itu Jongdae", ucap Chanyeol 'sedikit' kesal.

"Bagaimana bisa? Bukannya dia sudah normal?", tanya Luhan mengangkat handuk basah yang menutupi wajahnya.

"Entahlah, yang jelas dia mengalami beberapa gejala semacam gatal berlebih pada bagian belakangnya dan kepala, lalu keesokan harinya tumbuhlah telinga dan ekor seperti tadi", jelas Chanyeol.

"Mungkin ada kesalahan pada penawar yang Ryeowook noona buat", gumam Luhan.

"Mungkin saja, barusan appa menelpon Ryeowook, tapi katanya ia baru bisa datang besok lusa", ucap chanyeol sambil mengambil kembali handuk yang Luhan pegang.

"Kenapa bisanya besok lusa? Kenapa tidak sekarang saja?", tanya Luhan.

Tsss!

"Adaw! Appo!", teriak Luhan saat handuk basah yang chanyeol pegang ditekan pada daerah memar di dahi Luhan.

"Karena hari ini mereka menikah", ucap chanyeol.

"Hah?! Yang benar saja?! Secepat itu? Memangnya mereka tidak mempersiap–APPO!", Luhan berteriak diakhir kalimat setelah chanyeol kembali berhasil menekan daerah memar di dahinya.

"Pernikahannya hanya dihadiri oleh keluarga dan teman dekat saja, jadi tidak perlu persiapan yang mewah", jelas chanyeol tanpa ada rasa kasihan terhadapan Luhan yang kesakitan akibat ia tekan luka memar di dahinya.

"S-Sudah! I-Ini menyakitkan", ucap Luhan sambil melindungi dahinya. Di sudut matanya sudah terlihat genangan air mata.

"Ouh? Kau menangis?", tanya chanyeol sedikit meremehkan.

"Mwo?! Aniya! Tidak mungkin! Ini hanya sebagai resp–Aaaa! Iya iya! Aku menangis! Aku menangis! Hentikan! Ini menyakitkaaaaaaaaaaannnn!"

.

.

.

"Jadi, eomma … bagaimana? Apa sudah bisa dijelaskan?", tanya Minseok mengintip Baekhyun yang sedang membaca hasil tes yang ia lakukan.

"Hmm mmm, begitu … setelah meminum penawar itu … kepribadian yang tidak akan pernah muncul akhirnya muncul", ucap Baekhyun.

"J-Jadi, sikap pemalunya Jongdae ini … termasuk kepribadian yang seharusnya tidak ada?", tanya Minseok bergidik ngeri.

"Betul, kemudian … emosinya kemungkinan tidak akan terkontrol … lalu kemungkinan bisa menular dan … sepertinya hanya itu", ucap Baekhyun.

"Tidak ada penjelasan mengenai telinga dan ekornya itu?", tanya Minseok.

"Tidak ada, itu terlihat seperti memang sudah ada dari lahir, bukan? Kita butuh Ryeowook", gumam Baekhyun.

"Ahh~ Ryeowook eonni~~", lesu Minseok.

"Lalu bagaimana? Oh, mungkin eomma punya sisa penawar yang Jongdae minum saat itu? Eomma bisa meneliti penawar itu tanpa Ryeowook eonni, 'kan?", tanya Minseok dengan pandangan berbinar.

"Ah! Ide bagus!", ucap Baekhyun bersemangat.

Baekhyun melangkah sedikit cepat menuju meja yang berisi botol-botol warna-warni. Ia berusaha untuk menemukan sisa penawar yang ia, Chanyeol, dan Ryeowook buat.

Grep!

Minseok menoleh dengan cepat ke arah kanan saat ia merasa lengan kanannya sedang dipeluk oleh seseorang.

"S-S-Sebentar saja, kumohon … en-entahlah, aku hanya … aku tak tahu, aku bergerak sendiri", ucap Jongdae. Selama berucap, bola matanya terus bergerak gelisah dan ekornya bergerak kesana-kemari.

"Um, kalau sebentar mungkin tak m–"

'MWO?!'

Kedua bola mata Minseok membola saat Jongdae tiba-tiba menempelkan bibirnya dengan bibir Minseok.

Deg! Deg! Deg!

'Apa yang dia lakukan? Berhenti berdetak tidak normal, jantung! Berpikir jernih dan singkirkan Jongdaeee!'

Minseok ingin mendorong Jongdae. Ia juga ingin berteriak kepada Baekhyun bahwa Jongdae berbuat tidak senonoh padanya. Namun … kenapa ia tidak bisa melakukan semua ituuu?!

"Omona!"

Plop!

Tiba-tiba saja telinga dan ekor Jongdae lenyap. Tapi untuk keadaan saat ini, tentunya belum lenyap. Ditambah dengan Baekhyun yang menyaksikannya dengan bola mata melebar–yang bahkan sudah sampai batas maksimal.

"Ah, Jongdae sepertinya sudah normal, Tunggu! Astaga! Apa yang kalian lakukan?!", teriak Baekhyun histeris.

Minseok juga ingin berteriak histeris seperti apa yang Baekhyun lakukan. Tapi nyatanya apa?! Ia tidak bisa melakukan itu, Jongdae seperti menyihirnya untuk berdiam di tempat.

"Yeobo! Lihat ini! Kita akan mendapatkan menantuuuu!", teriak Baekhyun terburu-buru berlari keluar mencari Chanyeol.

Seakan tenaganya sudah kembali, Minseok akhirnya dapat mendorong Jongdae setelah Baekhyun pergi.

Minseok membungkam mulutnya sendiri karena merasakan benda kenyal yang baru saja menyentuh bibirnya.

"Apa yang kau lakukan?!", teriak Minseok.

Jongdae yang terdorong sampai bokongnya mencium dinginnya lantai pun hanya menatap Minseok bingung.

"Memangnya aku melakukan apa?", tanya Jongdae benar-benar bingung.

"Sialan! Enyah kau dari duniaku!", teriak Minseok kemudian pergi meninggalkan Jongdae yang masih kebingungan.

.

.

.

Tok! Tok! Tok!

"Seokkie sayang, apa kau baik-baik saja?", terbesit rasa cemas dalam suara halus nan lembut milik Baekhyun.

Bagaimana tidak cemas. Sejak semalam Minseok mengurung diri di dalam kamar hingga siang dini hari.

"Pergi!"

Eh?!

Semuanya shock dan mematung di tempat.

"Sejak kapan …", gumam Chanyeol.

"Sejak kapan Xiumin …", sahut Luhan sedikit ngeri.

"Se-se-sejak kapan Minseok berubah seseram–"

"SEJAK KAPAN ANAKKU SEGALAK ANJING?!", histeris Baekhyun tak percaya. Ia bahkan memotong ucapan Jongdae yang belum sempat terselesaikan.

Dok! Dok! Dok!

"Seokkie! Keluar sekarang!", Baekhyun menggedor-gedor pintu kamar Minseok.

"BERISIK! PERGI SEMUA!", teriak Minseok dari dalam.

"SEOKKIE! INI EOMMAMU YANG BERBICARA!", bentak Baekhyun.

Tap! Tap! Tap!

Cklek!

Semuanya menaruh perhatian terhadap pintu kamar Minseok dan perlahan pintu tersebut terbuka. Menampakkan sesosok gadis dengan telinga dan ekor kucing yang manis. Kedua alisnya hampir menyatu karena marah.

"Kubilang pergi! Apa kalian tuli?!", kesal Minseok.

"A-a-a-a-a-a-a-a-a-anak-anakku … apa yang terjadi padamu, chagi?", Baekhyun mendekat ke arah Minseok dan membolak-balik tubuh Minseok.

"Aku tak tahu! Sudah! Jangan banyak tanya!", sepertinya Minseok doyan sekali untuk membentak dan memarahi.

"Lho, bukannya Jongdae yang memiliki ekor dan telinga … kenapa … sekarang jadi Minseok?", bingung Luhan sambil menatap Jongdae kemudian Minseok, kemudian Jongdae, lalu Minseok, begitu seterusnya.

Minseok menggembungkan pipinya kesal. Ia menatap sengit ke arah Jongdae. "Ini semua gara-gara Jongdae", cicit Minseok dengan nada marah.

"Aku? Memangnya aku melakukan apa?", bingung Jongdae. Ia tidak ingat pernah melakukan apa pun kepada Minseok. Hal terakhir yang ia ingat adalah saat ia terbangun dan mendapati ekor beserta telinga kucing di tubuhnya.

Minseok mengalihkan wajahnya, enggan untuk menatap Jongdae. Baekhyun, Chanyeol, dan Luhan pun kebingungan. Pasalnya, Minseok tidak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya.

Minseok tidak pernah membentak atau memarahi sembarang orang. Minseok tidak pernah menunjukkan rasa kesalnya seperti saat ini. Minseok biasanya selalu menyimpan semuanya sendiri atau mungkin akan berbicara saat dipaksa, tapi ia tidak pernah marah saat dipaksa.

"AKU TIDAK TAHU!", teriak Minseok menggebu-gebu.

Kedua telinga kucing Minseok berdiri tegak dan berwarna merah. "Woah, apa telingamu memang berwarna merah?", kagum Luhan.

"Tidak, aku yakin telinganya berwarna putih tadi", jawab Baekhyun sambil memperhatikan telinga kucing milik Minseok.

Minseok terlihat sedikit kaget dan segera menutupi kedua telinga kucingnya dengan kedua tangannya. "Jangan lihat-lihat! Kalian seperti tidak memiliki kuping saja!", kesal Minseok sambil membentak.

"Kau senang sekali membentak, seokkie", ucap Luhan.

"Sudah! Sana pergi semua!", kesal Minseok sambil menghentak-hentakkan kakinya.

Semuanya dengan pandangan bingung dan langkah ragu perlahan melangkah menuruni anak tangga.

"Tunggu!", teriak Minseok di posisi yang sama.

"Jongdae! Ikut aku!", titah Minseok seakan itu adalah perintah mutlak.

"Sana! Pergi! Tanggung jawab! Awas kau apa-apakan Minseok!", ancam Luhan.

Jongdae melangkah dengan perlahan membuntuti Minseok. Sempat sesekali ia melirik ke belakang untuk melihat Chanyeol, Luhan, dan Baekhyun.

'Ya Tuhan! Selamatkanlah hambamu ini!'

"M-Minseok, aku tak tahu ada apa ini–"

Minseok mendadak berbalik saat Jongdae masuk ke dalam kamar Minseok. "Kau tahu kesalahanmu?", tanya Minseok dengan cepat seakan ini adalah sebuah interogasi di kantor polisi.

Jongdae menggeleng perlahan. "Kau benar-benar tak tahu?", tanya Minseok sedikit melunak. Alisnya berhenti bertaut seperti orang marah.

"Sungguh, aku tidak ingat apa-apa … aku hanya tahu saat aku bangun tidur aku memiliki telinga dan ekor kucing, kemudian aku melihat wajahmu … lalu aku menyadari bahwa telinga dan ekor itu hilang, hanya itu", jelas Jongdae.

"Kau … tak … ingat?", wajah Minseok perlahan memerah. Mulutnya ia tekuk ke bawah, kedua bola matanya berair dan menatap Jongdae dengan pandangan memelas.

"Kau … tak mengingatnya … Huueeeee", Minseok pun menangis. Ia meloncat ke atas kasur dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.

"Jahat! Kau tak mengingatnya!", teriak Minseok sedikit terbungkam.

Jongdae berjalan perlahan mendekati Minseok yang terbungkus seperti kepompong. "Maaf … sungguh, aku minta maaf … aku tak tahu salahku, tapi aku merasa bersalah … entah mengapa, maafkan aku", ucap Jongdae penuh dengan nada penyesalan.

"Hiks …", Minseok mengintip dari balik selimutnya dan terlihatlah wajah bundar Minseok. Kali ini Minseok sangat mirip dengan kepompong.

"Kau bersungguh-sungguh?", tanya Minseok masih sedikit tidak percaya.

Jongdae mengangguk mantap. Apa salahnya meminta maaf? Walau pun ia tak tahu kesalahannya apa.

"Ternyata kau masih memiliki hati ya", gumam Minseok sambil keluar dari dalam selimut.

"Memangnya kau pikir aku ini apa? Kenapa aku harus tidak memiliki hati", ucap Jongdae bingung.

"Ah, lupakan saja … aku jadi semakin mencintaimu", Minseok segera mengecup pipi kanan Jongdae seperti hal sebelumnya tidak pernah terjadi.

Lalu, Jongdae?

Ia hanya terdiam mematung. 'Aku tidak bermimpi 'kan? Minseok … Minseok … Astagaaaa!'

Tangan kanan Jongdae perlahan bergerak untuk memegang pipinya yang baru saja dicium. "K-Kau menciumku …", ucap Jongdae tak percaya.

Minseok menoleh dengan wajah menggemaskannya. "Memang … apa itu sebuah masalah? Sebelumnya saja kau menciumku, kenapa aku tidak boleh? Aku 'kan hanya mencium di pipimu, sedangkan kau …", Minseok sedikit menggerutu.

" … di bibir", ucap Minseok dengan tatapan nyalang dan telinga yang memerah.

'Astaga! Aku apakan anak orang?!'

"B-Benarkah?!", tanya Jongdae tak percaya.

"Tentu saja", ucap Minseok.

"M-Maafkan aku! Sungguh! Aku tak mengingatnya!", Jongdae benar-benar merasa bersalah sekarang.

"Hihi, tak apa … lagi pula aku menyukaimu … itu tak masalah", ucap Minseok.

Jongdae terdiam. "Aku tidak salah dengar 'kan? Sejak kapan Minseok blak-blakan begini", gumam Jongdae.

"Ah! Sudahlah! Ayo turun! Aku lapar", ucap Minseok sedikit manja.

Minseok segera mendekat ke arah Jongdae dan menggandeng tangan Jongdae untuk turun ke lantai bawah.

.

.

.

"Oppaaaaaa!", teriak Minseok di pagi hari yang cerah.

"Xiumin! Kau berisik sekali!", kesal Luhan yang baru saja bangun.

"Oppa! Seokkie lapar!", rengek Minseok.

"Ya sudah, makan sana … kenapa haru lapor kepadaku?", gerutu Luhan dengan mata setengah terbuka.

"Tapi aku maunya sarden kaleng!", cemberut Minseok.

"Appa! Lihat Minseok ini!", teriak Luhan.

"Belikan saja!", Chanyeol balas berteriak.

"Suruh Jongdae membelinya sana", kesal Luhan karena Chanyeol lebih membela Minseok dari pada dirinya.

"Jongdae masih tertidur, kasihan dia … jeball", Minseok menggunakan puppy eyesnya.

"Berhenti menatapku! Baiklah! Aku akan belikan!", Luhan segera menyambar kunci mobilnya dan segera pergi.

.

.

Blam!

"Seokkie! Ini sarden pesanan–"

"Kyaaaa! Siluman! Wanita gila!"

Luhan melongo di samping mobilnya sambil memperhatikan wanita dengan rambut, baju, dan wajah yang berantakan tengah berlari keluar dari rumahnya.

"Apa yang terjadi", gumam Luhan.

Setelahnya, terlihat Jongdae yang berlari dari dalam rumah dan berhenti di sebelah Luhan. "MAAF! AKU BENAR-BENAR MINTA MAAF!", teriak Jongdae.

"Jongdae, ada apa?", tanya Luhan kebingungan.

"Tadi Minseok menyerang wanita itu, entah kenapa", ucap Jongdae terengah-engah.

"Meeaaaaooowwww! Biarkan aku keluar! Biar kucakar habis wajah jalang itu!", Minseok mengamuk saat Chanyeol menahannya.

"Tenangkan dirimu!", nasehat Chanyeol sambil menahan Minseok.

Luhan dan Jongdae segera menghampiri Chanyeol dan Minseok. "Ada apa sebenarnya ini?", tanya Luhan.

"Oh! Oppa! Kau sudah kembali? Mana sardennya?", tanya Minseok kembali normal.

Semuanya terdiam. Terdiam karena terkejut melihat perubahan sifat Minseok yang terjadi secara tiba-tiba.

"I-Ini", ucap Luhan akhirnya tersadar sambil menyodorkan satu kantong plastik kepada Minseok.

"Yippiiee! Makasih oppa!", ucap Minseok kelewat riang.

Minseok berlari kecil ke dalam rumah menuju dapur.

"Tadi … kenapa Minseok mengamuk dan mengatakan bahwa ia ingin mencakar wajah wanita tadi?", tanya Luhan.

Jongdae mengendikkan bahunya. Ia memang tidak tahu. "Kau benar-benar tidak tahu?", tanya Chanyeol.

"Hmm … kurasa tidak, tapi … sebelumnya dia baik-baik saja. Dia menonton televisi bersamaku tadi, lalu seseorang menekan bel rumah … jadi, aku membukanya, ternyata hanya seorang sales wanita", ucap Jongdae.

"Dan Minseok melihatmu mengobrol dengannya?", tebak Luhan.

Jongdae mengusap tengkuknya perlahan. "Begitulah, lalu dia menyerang wanita itu tanpa aba-aba dan … begitulah selanjutnya", ucap Jongdae.

"Astaga, anakku bisa cemburu ternyata", gumam Chanyeol sambil melangkah kembali masuk ke dalam rumah.

"Apa? Cemburu?", bingung Jongdae.

Luhan menghembuskan napas pelan. "Lebih baik kau jangan dekat-dekat dengan yeoja untuk sementara … Minseok bisa mengamuk nanti", ucap Luhan.

"O-Oh, oke …", ucap Jongdae.

"Jongdae-yaaa~~~", panggil Minseok mendayu.

"Ya?", sahut Jongdae.

Grep!

Minseok memeluk lengan kanan Jongdae. "Ayo kita sarapan~~~ Kau harus menyuapiku, ya~~~", manja Minseok.

Semua anggota keluarga yang melihat mereka hanya memiliki satu pikiran : 'Astaga! Minseok semakin manja saja'

To Be Continued

A/N : Cerita macam apa ini?! Aku tahu semakin lama chapnya semakin aneh :') Tapi tolong maklumi … Dan maaf juga jadi ngaret Aku abis MID loooh :"D Haha … lupakan-_- Okelah … chap ini aku gak bales review ya :') Soalnya aku lagi males-,- and bonus untuk CHANBAEK shipper … aku buat FF oneshoot dengan prolog :V Jangan lupa baca ya :3

P.S : Kayaknya chap 10 tamat deh :"D