I Have A Love

Chapter 10

Happy reading^^~

.

.

.

.

Keterangan Umur

Kyuhyun : 19 tahun

Sungmin : 21 tahun

Siwon : 25 tahun

Kibum : 23 tahun

.

.

.

.

Sungmin menggeliat risih, meraup oksigen sebanyak-banyaknya kala mata foxy-nya terbuka sedikit demi sedikit. Ia bermimpi aneh lagi. Dan herannya, mimpi itu seolah berkaitan satu sama lain. Meski bukan pertama kali ia mendapatkan mimpi semacam ini, tapi tetap saja ia terbangun dengan nafas memburu dan sukses membuat namja yang sebelumnya memeluk tubuhnya ikut terbangun.

"ada apa Min?" Kyuhyun merenggangkan pelukannya ketika melihat Sungmin kesulitan bernafas. "apa aku terlalu erat memelukmu?" namja itu mengerutkan alisnya saat Sungmin tak menjawab, bahkan tak meliriknya sedikitpun. Yeoja manis bernama Sungmin itu justru kembali memejamkan matanya dan memegang kepalanya, seperti menahan sakit. Dalam hatinya, Sungmin masih bertanya-tanya apa maksud dari mimpi-mimpi itu. Mengapa dirinya dan Kyuhyun masuk dalam alur mimpi tersebut seolah mereka sudah akrab dan mengenal satu sama lain sejak kecil.

Dengan panik, Kyuhyun segera beranjak dari posisinya. Ia menyenderkan punggungnya dikepala ranjang, sedangkan tangannya berusaha selembut mungkin menggeser tubuh Sungmin mendekat dan menyamankan posisi kepala yeoja itu dipangkuannya.

"biar kupijat" dengan kemampuan ala kadarnya, Kyuhyun berusaha selihai mungkin menggerakkan satu persatu jemarinya memijat kepala Sungmin. Jantungnya perlahan berdetak normal ketika Sungmin mulai bernafas normal dan sepertinya menikmati pijatannya.

"bagaimana pijatanku? Kau suka?" tanyanya sembari melirik Sungmin yang sepertinya baru menyadari keberadaan Kyuhyun. Sungmin mengangguk, sedikit heran karena Kyuhyun cukup pandai memijat. Namun, ia segera membuang pemikirannya kala mengingat kembali mimpi-mimpi anehnya.

"aku bermimpi lagi, Kyu" sejenak Kyuhyun berhenti memijat dan menajamkan pendengarannya saat Sungmin berucap lirih. Ia memandangi wajah Sungmin lalu mengusap lembut kepala yeoja itu. "jangan terlalu dipikirkan, Min. itu hanya mimpi" kini tangannya berpindah menyentuh perut Sungmin yang sedikit bertambah besar. "aku tidak mau hal itu mempengaruhi kesehatan baby, arra?"

Sungmin sedikit ragu namun akhirnya ia mengangguk, "eum. Yang terpenting kesehatan baby" tangannya kini ikut meraih perutnya, membimbing tangan Kyuhyun untuk mengusap. Gantian, Kyuhyun yang terdiam. Mulutnya terasa kaku ketika lagi-lagi buncahan perasaan bahagia meluap didadanya setiap ia mengelus perut Sungmin, tempat dimana bayi mereka sedang bertumbuh.

"aku benar-benar tidak sabar melihat baby, Min. Rasanya sudah lama sekali, mengapa baby belum keluar juga?" Sungmin terkekeh, tangan kirinya yang bebas memukul perut Kyuhyun pelan. "kau mendadak bodoh, eoh? Bahkan kandunganku baru menginjak tiga bulan" Kyuhyun terkekeh menyadari betapa konyol kalimatnya barusan.

.

.

.

.

"jangan mengangkat yang berat-berat, Min. kau bisa meminta bantuanku" kyuhyun yang tadinya berniat membaca buku sontak melebarkan matanya lalu berseru cepat dan mengambil alih buku-buku yang tadinya dibawa oleh Sungmin. Sedangkan Sungmin hanya terbengong dan merasa Kyuhyun sangat berlebihan. Demi Tuhan, itu hanya buku-buku ringan yang ingin ia pindahkan ke meja agar ia dapat mengelap debu-debu di rak buku perpustakaan milik Kyuhyun.

"berlebihan sekali" cibirnya diam-diam dari belakang. Salahkan saja telinga Kyuhyun yang terlalu tajam. "mwo? Jadi aku yang salah?" balas Kyuhyun setelah menepuk debu-debu yang menempel ditangannya.

"ish! Kenapa kau pede sekali sih. Aku tidak membicarakanmu" Sungmin mengalihkan pandangannya. Jujur saja, ia tak pandai berbohong dan mengelak. Kyuhyun sering mengetahui kalau dirinya sedang berbohong.

"Minnieku manis sekali kalau sedang mengelak seperti ini" Kyuhyun menyeringai saat obsidiannya menangkap kegugupan Sungmin. Perlahan ia mendekat, dengan sengaja ia melambatkan langkahnya demi menggoda Sungmin.

Samar-samar Sungmin menyadari Kyuhyun yang semakin mendekat. Bibirnya mengerucut imut, merasa kesal sekaligus malu karena usahanya untuk mengelak sudah terbongkar. "sudahlah. Aku mau mengelap rak-rak ini" tunjuknya kearah deretan rak buku. Seketika Kyuhyun melebarkan matanya, "sudah kubilang kau tidak boleh mengambil pekerjaan yang bisa membuatmu lelah. Lagipula hari ini kau libur, tak ingin berjalan-jalan?" Sungmin berdecak. Kyuhyun dengan segala kekhawatirannya yang berlebihan mulai berceloteh dan Sungmin tahu ia akan selalu kalah jika berdebat dengan calon suaminya itu.

"baiklah, baiklah" Sungmin menaruh kembali kain lap berwarna biru itu ke meja. "tapi aku tidak mau jalan-jalan. Bagaimana kalau kita berkunjung ke hotel tempat Kibum eonni menginap saja?" tawar Sungmin girang. "kudengar Kibum eonni akan kembali ke Jepang" Sungmin mengeluh sedih. Rasanya ia baru sebentar bertemu Kibum dan mendengar kabar bahwa sang eonni akan kembali ke Jepang membuatnya sedih. Baru beberapa hari tak bertemu, Sungmin sudah merindukan Kibum. Mendengar tawaran Sungmin, Kyuhyun cukup tersentak sebelum mengangguk. Ia tidak tega menolak permintaan Sungmin, apalagi calon istrinya itu terlihat sangat senang saat ia menerima ajakannya.

.

.

.

.

Kyuhyun dan Sungmin sudah bersiap-siap. Mereka memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat. Sebenarnya hanya Kyuhyun yang memaksa, karena ia tidak ingin Sungmin kelaparan ditengah jalan nanti, apalagi calon istrinya itu sedang mengandung. Akhirnya Sungmin memilih membuat omelete agar praktis dan Kyuhyun sibuk dengan psp nya di meja makan menunggu Sungmin menyelesaikan acara memasaknya.

"ya! mati kau! Aish!"

Seusai mengumpat, Kyuhyun memukul meja makan yang berada tepat didepannya. Sedangkan Sungmin yang sedang sibuk memasak terkejut mendengar gebrakan meja tersebut dan melongokan kepalanya demi melihat Kyuhyun. Sebelum memulai omelannya, ia mematikan kompor yang masih menyala.

"kau ingin aku jantungan ya?" tuturnya dengan sinis. Memang benar, hampir saja Sungmin menjatuhkan sendok masaknya ketika Kyuhyun mengumpat keras dan memukul meja.

"ck! Begitu saja jantungan" cibir Kyuhyun. Baru beberapa detik Kyuhyun segera merutukki mulutnya yang mencibir Sungmin. Ia menyadari tingkat emosi Sungmin yang sering naik turun akhir-akhir ini, tentu saja karena calon istrinya itu sedang mengandung.

Sungmin menatap Kyuhyun kecewa. Biasanya Kyuhyun akan meminta maaf dan memeluknya, tapi kali ini Kyuhyun malah mencibirnya. Apa namja itu mulai kesal padanya? atau dirinya yang sudah keterlaluan? Tapi ini bukan kemauan Sungmin. Terkadang Sungmin sendiri merasa aneh dengan emosinya yang mudah meluap-luap dan dalam beberapa detik dapat berubah cengeng seperti sekarang. Mendengar cibiran singkat seperti tadi saja sudah mampu membuatnya sesedih ini.

"a- ah. maksudku... mianhe Min" Kyuhyun tiba-tiba merasa bersalah. Ia menggaruk kepalanya kikuk. "aku hanya kesal karna si ikan nemo mulai menyaingi kemampuan-" Kyuhyun melebarkan matanya setelah menghentikan penjelasannya. Sungmin sudah hampir menangis. Ia segera berdiri, menghampiri yeoja itu dan memeluknya. Kyuhyun tahu pelukannya adalah jurus terjitu untuk menenangkan Sungmin. "Ming~ aku kan sudah minta maaf" tangannya mengusap punggung Sungmin, berusaha menyalurkan kenyamanan.

"tapi kau mencibirku tadi" dengan terisak Sungmin melontarkan protesnya, membuahkan senyuman kecil di bibir Kyuhyun. Diam-diam Kyuhyun berencana untuk menceritakan semua tingkah manja Sungmin ketika yeoja itu sudah melahirkan nanti. Pasti Sungmin akan malu setengah mati karena Sungmin bukan tipe yeoja manja, hanya saja semenjak kehamilannya Sungmin berubah drastis menjadi semanja ini.

Kyuhyun mengecup pucuk kepala Sungmin, mengeratkan pelukannya, "mianhe chagi.. aku tidak akan mencibirmu lagi, aku janji" Kyuhyun melanjutkan dalam hati, 'tapi aku tidak janji setelah kau melahirkan nanti. Kkkkkk~'

.

.

.

.

Disinilah mereka. Sungmin sudah duduk manis dibangku penumpang setelah Kyuhyun memasangkan seatbelt untuknya. Namja itu menutup pintu yang berada dikanan Sungmin dan berjalan mengitari mobil. Setelah duduk dengan nyaman dibalik kemudi, Kyuhyun menolehkan kepalanya sejenak yang mau tak mau ikut menarik Sungmin menatapnya balik karena merasa diperhatikan.

"ada apa?" tanya Sungmin penasaran dibalas dengan senyuman lembut Kyuhyun. Lengan namja tampan tersebut terulur mengusap kepala belakang Sungmin.

"kau semakin cantik setiap hari, Min"

'BLUSH'

Sungmin mengalihkan pandangannya dari onyx menawan Kyuhyun. Oh Tuhan, mengapa jantungnya seperti sedang lari marathon? Berdetak sangat cepat dan jangan lupakan kupu-kupu yang seperti sedang beterbangan diperut Sungmin. yeoja itu menggigit bibirnya sebelum kembali mendongak.

"a- aku.." gugupnya membuahkan kekehan terlontar dari bibir sexy Kyuhyun.

"aku ingin mempercepat pernikahan kita, Min. Bagaimana menurutmu?"

Buncahan bahagia tak terelakkan lagi. Sungmin tidak tahu mengapa ia tiba-tiba merasa begitu bahagia. Tanpa membuang waktu untuk berfikir, Sungmin mengangguk dengan senyuman yang terpantri dibibir merahnya.

Kyuhyun merasa lega luar biasa. Setidaknya ia sudah mencoba memantapkan hatinya. Ia tidak ingin ada keraguan terus-menerus. Diam-diam ia memohon pada Tuhan untuk menghapus perasaannya yang masih tertinggal dihatinya meski sudah sekian tahun berlalu. Kyuhyun yakin ia hanya perlu mencoba dan berusaha. Keyakinannya sudah bulat. Ia mencintai wanita didepannya ini. Ia mencintai Lee Sungmin, hanya Lee Sungmin.

'aku ingin mencintai yeoja ini dengan sepenuhnya, Tuhan. Aku memohon padaMu'

Kyuhyun memajukan tubuhnya, mengecup dahi Sungmin lembut. Ia merasakan tubuh Sungmin menegak kaku. Setelah melepas kecupannya, Kyuhyun mengusap pipi Sungmin.

"aku akan membicarakannya lagi pada eomma dan appa" Sungmin balas mengangguk dengan kedua pipinya yang memerah sempurna. Kyuhyun kembali menegakkan posisinya dibangku kemudi, menginjak gas dan segera beranjak dari sana.

.

.

.

.

Pintu kayu dihadapan mereka terbuka, menampilkan sesosok yeoja berkulit putih menawan yang kini berdiri dengan segala keterkejutan diwajah cantiknya. "kalian kesini? Ah, masuklah dulu" tuturnya seraya memberi jalan kepada dua orang yang lainnya. Sebelum mereka duduk disofa yang tersedia disana, Sungmin menyerahkan parsel buah yang sempat dibeli dirinya dan Kyuhyun ditengah jalan tadi. Kibum berterima kasih dan mempersilahkan mereka duduk.

"eonni mengapa tidak menginap diapartemen kami saja.. bukankah biaya hotel mahal?" Sungmin berniat tulus menyarankan, berbeda dengan Kyuhyun yang mengernyit tak setuju dan Kibum yang merasa tidak enak.

"kita hanya punya satu kamar, Min.. Tidak mungkin Kibummi- ah, maksudku Kibum noona tidur denganmu yang akhir-akhir ini sering menendang kesana-kemari saat tidur" Sungmin memajukan bibirnya. Ucapan Kyuhyun seratus persen benar, tapi namja itu tak perlu mengucapkan kebiasaan buruknya terang-terangan dihadapan Kibum eonni, bukan?

Kibum tadinya sibuk mendengarkan sebelum Kyuhyun meralat panggilan untuknya. Bahkan Kyuhyun tidak mau memanggilnya 'Kibummie' lagi, seperti namja itu sengaja menunjukkan perbedaan hubungan mereka yang dulu dan yang sekarang. Kibum bukannya merasa tidak rela, hanya saja ia belum terbiasa dengan suasana yang menjadi kaku seperti ini. Biarlah Kyuhyun kembali pada cinta pertamanya, Kibum rela, sangat rela. Apalagi yeoja yang kini mendampingi Kyuhyun adalah adiknya sendiri. Kibum yakin Sungmin akan mencintai Kyuhyun sepenuh hatinya.

Tidak seperti Kibum yang selama ini hanya berusaha untuk menemani Kyuhyun dan menjadikan namja itu sahabat terbaiknya. Ia tahu Sungmin jauh lebih pantas memiliki Kyuhyun dengan cinta mereka yang murni, bahkan sebelum kecelakaan itu terjadi. Ya, Kibum tak merasa keberatan sama sekali. Mungkin saja perasaan rindu akan Kyuhyun yang dialaminya selama ini hanya rindu sebatas sahabat kecil. Ia tersenyum menatap sepasang yeoja dan namja dihadapannya.

"gwenchana, Minnie chagi.. eonni sudah merasa nyaman disini, lagipula biaya hotel ditanggung oleh kantor,, kkkkk~"

"ahh.. arrasooo" Sungmin mengangguk-angguk imut. Kyuhyun yang tak dapat menahan gemasnya mencubit pipi yeoja itu. "bagaimana mungkin seorang bocah imut memiliki bocah lain dalam perutnya?" ledeknya membuahkan tawa Kibum dan rengutan Sungmin.

"oh iya, kalian ingin meminum apa? biar kusiapkan"

"apa saja, eonni" / "apa saja, noona" jawab mereka berbarengan. Kibum mengangguk mengerti lalu beranjak dari sana mengambil beberapa minuman ringan dari lemari pendingin. Setelah kembali, Kibum meletakkan dua minuman milik Kyuhyun dan Sungmin, kemudian membuka minuman miliknya sebelum meneguk coca-cola tersebut. ia kembali membuka pembicaraan.

"kalian cepatlah menikah.. aku ingin hadir ke upacara pernikahan kalian sebelum aku kembali ke Jepang.." Kibum melontarkan senyum tulus yang terlihat sangat cantik.

Kyuhyun mengangguk, "kami memang berencana begitu, noona.."

"ah.. baguslah..." Kibum sekali lagi tersenyum. Sepertinya mendengar kabar gembira tersebut membuat Kibum ikut-ikutan merasa bahagia. Jika kembali mengingat-ingat masa lalu, semuanya seperti hampir mustahil. Tapi kita tidak pernah tahu jalan Tuhan, bukan? Ia selalu merencanakan apa yang ada diluar pemikiran kita. Setelah berbagai macam kejadian yang terjadi, buktinya kedua sejoli dihadapannya ini dapat kembali bersatu. Kibum awalnya merasa kaget luar biasa ketika Sungmin menceritakan bagaimana pertemuan pertama Sungmin dengan Kyuhyun setelah dewasa, dan Kibum bersyukur pada akhirnya. Setidaknya Sungmin dan Kyuhyun dapat kembali bertemu dan saling mencintai.

Setelah keheningan yang cukup lama, Sungmin bersuara.

"eonni.. sudah sangat lama kita tidak masak bersama. Ayo kita memasak untuk makan siang" usulnya girang. Kyuhyun memilih untuk diam. Masalah masak-memasak sangat bukan bidangnya.

"baiklah. kajja" Kibum berdiri, berjalan lebih dulu untuk menunjukkan letak dapur mungil yang terletak dibagian belakang kamar hotel tempatnya menginap. Beruntung ia memesan kamar hotel dengan fasilitas terlengkap sehingga ia bisa melakukan semua kegiatan dengan mudah, termasuk memasak.

"aku memasak dulu, Kyu. Kau tunggu disini saja, ne.." seru Sungmin tanpa melepas senyuman yang sejak tadi tersemat dibibirnya sebelum menyusul Kibum.

.

.

.

.

*flashback 5 years ago*

Kibum berjalan ditengah jalan sempit menuju rumah kontrakan barunya. Kini ia benar-benar sendirian. Orangtuanya telah tiada karena kecelakaan parah yang mereka alami dan Sungmin sudah kembali ke Busan setelah mengikuti upacara pemakaman orangtua mereka. Adik kandungnya itu sempat menolak, namun Kibum memohon agar Sungmin tetap melanjutkan pendidikannya disana. Sebenarnya Kibum sangat ingin tinggal bersama-sama dengan Sungmin, hanya saja ia tidak ingin Sungmin memutuskan pendidikannya yang tinggal beberapa tahun lagi hanya demi menemaninya disini. Biarlah ia sendiri, selama ia masih memiliki sahabat sebaik Kyuhyun.

Terakhir bertemu dengan Sungmin, ia menyematkan kalung yang Kyuhyun berikan padanya dileher sang adik. Kibum sadar kalung itu tak seharusnya menjadi miliknya karena Sungmin lah yang sebenarnya dicintai Kyuhyun. Bukan dirinya. Karena mereka hanya sebatas sahabat.

Beberapa kali Kibum menoleh ke belakang, sepertinya ia mendengar langkah kaki yang mengikutinya dari belakang. Tapi ketika ia menoleh, tidak ada siapa-siapa. Hanya kegelapan malam yang menyambutnya. Kibum memutuskan untuk berjalan lebih cepat, ia mulai merasa takut.

Sekali lagi Kibum menoleh saat dirasanya langkah kaki tersebut semakin mendekat. Dan betapa terkejutnya Kibum melihat sosok namja yang sudah enam bulan terakhir dikenalnya. Choi Siwon.

"Siwon?" panggilnya dengan kebingungan luar biasa. Mengapa namja itu mengikutinya seperti penguntit? Tidak seperti biasanya.

"mengapa kau tidak memanggilku saja? ku kira ada perampok yang mengikutiku" Kibum mengelus dadanya. Mengubur prasangka-prasangka yang sempat memenuhi pikirannya.

"Kibum-ah.." panggil Siwon lirih. Tatapannya sayu, tubuhnya juga tidak tegap seperti biasanya.

'Siwon seperti sedang mengalami masalah', batin Kibum menyimpulkan.

"kau kenapa? Kalau ada masalah kau bisa ceritakan padaku" Kibum berjalan mendekat, tiba-tiba merasa kasihan melihat Siwon selemah ini."rumah kontrakan baruku tak jauh dari sini. Kau mau kita berbincang disana?" melihat kondisi jalanan yang sepi dan sangat gelap membuat Kibum ragu untuk berlama-lama disana. lebih baik mereka berbincang dirumah kontrakannya.

Siwon mengangguk menyetujui.

Kibum tidak pernah tahu, ia akan sangat menyesali ajakannya kali ini.

*flashback end*

.

.

.

.

Suasana di hotel Kibum sepertinya mulai mencair. Terbukti dengan interaksi Sungmin, Kibum, dan Kyuhyun yang terlihat seperti masa lalu. Masa-masa sebelum terjadi apa-apa. ketiganya hanya tahu bahwa mereka seperti pernah mengalami ini, terlebih Sungmin yang seperti merasa de javu.

"ya! Kyunnie! kau hanya mengganggu Sungmin disini. Lebih baik kau menonton tv, membaca koran, atau apalah dan berhenti menjahili Sungmin" Kibum menasehati. Di menit pertama ia masih tertawa maklum melihat keisengan Kyuhyun, tapi tidak setelah lima belas menit kemudian. Namja tersebut terus-terusan menempeli Sungmin. Mulai dari menyembunyikan tempat garam, menambahkan minyak ke penggorengan, dan ikut-ikutan memotong wortel yang bahkan kini tak berbentuk. Aish! Kibum benar-benar gerah.

"biar saja. Sungmin tidak protes" Kyuhyun menjulurkan lidahnya kearah Kibum lalu tertawa, terlihat sangat menjengkelkan. Kibum memanfaatkan spatula yang berada digenggamannya, memukul kepala Kyuhyun pelan. "kau benar-benar. Bagaimana mungkin adikku tahan dengan namja sepertimu" Kibum menggeleng-geleng takjub. Lihatlah, bahkan Sungmin hanya tersenyum maklum dengan segala keisengan Kyuhyun padanya.

"asal kau tahu, noona.. Sungmin tidak semanis yang kau kira. Aku sering dikerjai oleh moodnya yang bisa berubah hanya dalam sepersekian detik, belum lagi permintaannya yang aneh-aneh" adu Kyuhyun. Kibum yang sudah kembali melanjutkan kegiatan memasaknya sedikit mengernyit. Tidak percaya pada kata-kata Kyuhyun.

"aku bersungguh-sung.. A- aww.. sakit, Min" cubitan keras dilayangkan Sungmin ke pinggang proporsional Kyuhyun. Namja tampan itu mengusap pinggangnya yang ngilu. Cubitan Sungmin memang paling luar biasa. Ia yakin pinggangnya akan membiru nanti.

"tidak, eonni.. semua itu kamauan baby. Aku hanya menyampaikannya secara tidak langsung pada Kyuhyun" bibir Sungmin mengerucut imut. Ia kesal sekali pada Kyuhyun. Sungmin kan sedang mengandung, harusnya namja itu mengerti kalau semua itu pengaruh ngidam yang sedang dialami Sungmin.

"lihatlah, noona.. bahkan moodnya baru saja berubah" ledek Kyuhyun, namun lengannya merangkul pinggang ramping Sungmin, tak ingin sang yeoja melanjutkan acara merajuknya. Kibum tertawa melihat interaksi keduanya.

"sudahlah. Ayo kita makan, semuanya sudang matang"

.

.

.

.

*flashback 5 years ago*

Kibum mengernyit ketika Siwon sudah mendudukan dirinya disebelah Kibum. Aroma alkohol samar-samar tercium.

"kau mabuk, Wonnie?" tanyanya tak percaya. Siwon tak menjawab. Namja itu hanya balas menatapnya sayu.

"sebenarnya ada apa? jangan membuatku bingung, Wonnie.." pinta Kibum lirih. Ia tidak senang berada dalam keadaan seasing ini bersama Siwon. Biasanya namja itu menjadi namja panutan baginya, namja yang mampu membuat Kibum merasakan debaran aneh setiap berada didekatnya. Tapi, kali ini terasa berbeda.

"kau.. apa hubunganmu... dan Kyuhyun?" tanya namja itu lemah. Kibum memundurkan tubuhnya sedikit ketika Siwon mulai mendekat.

"ka- kami hanya bersahabat. Memangnya apa lagi?" jawab Kibum apa adanya. Ia dan Kyuhyun memang hanya bersahabat selama ini. Hanya saja beberapa orang menyimpulkan lain karena melihat interaksi mereka yang hampir dikatakan seperti sepasang kekasih. Kibum sudah sering mengingatkan Kyuhyun tentang hal ini, namun Kyuhyun tetaplah Kyuhyun. Kibum tak bisa melarang ketika namja itu memohon padanya agar mengantar jemput Kibum ke sekolah, beberapa kali makan malam bersama berdua, dan dapat dikatakan dimana Kibum berada disana Kyuhyun turut berada. Tapi sekali lagi Kibum tekankan, mereka berdua hanya bersahabat. Tidak lebih.

"begitu? Apakah seorang sahabat... /hik/ harus selalu berada disampingmu /hik/ setiap waktu?" Kibum mencoba meraih lengan Siwon. "kau sedang mabuk, Wonnie-ah.. lebih baik kau pulang. dimana kau parkir mobilmu?" Siwon tak menghiraukan saran Kibum. Ia hanya ingin Kibum menjawabnya. Pengaruh alkohol sudah menguasai pikiran Siwon.

"cukup jawab... /hik/ pertanyaanku, Kibummie" namja itu balas menggenggam tangan Kibum. "aku sudah menjawabnya tadi" Siwon melengos. Tiba-tiba merasa kesal karena Kibum menatapnya bingung, seolah-olah tidak mengerti arti pertanyaan Siwon dan betapa Siwon membutuhkan kepastian dari jawaban yeoja itu.

"kau tidak menjawab pertanyaanku... /hik/ dengan jujur, Kibum-ah. Kau... /hik/ tidak pernah tahu... bagaimana sakitnya perasaanku /hik/ setiap melihat kau bersama namja itu" setetes airmata mengalir membuat Kibum shock. Apakah- apakah Siwon juga menyukainya? Namja itu tidak suka melihat saat dirinya bersama Kyuhyun... bukankah itu artinya Siwon menyimpan perasaan yang sama padanya?

"Kyuhyun benar-benar hanya sahabatku, Wonnie.."

"kalau begitu jauhi dia mulai saat ini /hik/" Siwon menatap Kibum menuntut disela-sela cekukannya akibat terlalu banyak meminum alkohol. Terkesan egois memang, tetapi Siwon tidak mau Kibum berdekatan dengan Kyuhyun lagi.

"a- apa maksudmu?"

"jauhi Kyuhyun /hik/. Aku mohon, Bummie-ah"

Kibum menggeleng tak percaya. Ia tidak mungkin bisa menjauhi Kyuhyun. Namja itu sahabat terbaiknya sejak kecil dan Siwon memintanya untuk menjauhi namja itu? Bukankah itu konyol?

"aku tidak bisa. Kyuhyun sahabatku. Mengapa kau tiba-tiba bicara seperti ini?"

Aku. Tidak. Bisa.

Amarah Siwon memuncak. Kibum tidak bisa menjauhi Kyuhyun demi dirinya. Itu berarti dia memang tak memiliki arti apa-apa dihati Kibum, bahkan Kibum lebih mempertahankan Kyuhyun.

Perasaannya yang sedang berkecamuk, belum lagi alkohol yang sukses menghilangkan pikiran warasnya.

"kau harus bisa!" suara Siwon meninggi membuat Kibum ketakutan. Yeoja itu sontak memundurkan tubuhnya, memperluas jarak tubuhnya dengan Siwon ketika tubuh namja itu semakin mendekat.

"Si- Siwonnie, sadarlah.." cicitnya takut. Ia semakin mundur dan memekik kecil ketika punggungnya menabrak ujung sofa. Ia tidak bisa menghindar lagi.

"kau harus bisa, Lee Kibum! Karna kau hanya milikku!" Siwon terus mendekat, setetes airmata kembali mengalir dipipinya namun Kibum tak merasa simpati lagi. Ia malah takut melihat Siwon yang seperti ini.

"Siwo- EMPPHH!" Siwon semakin menekan ciumannya yang terkesan penuh paksaan serta menuntut. Tak ada kelembutan yang biasanya selalu diberikan namja itu pada Kibum. Kedua tangannya memegangi erat-erat tangan Kibum ketika yeoja itu mencoba berontak.

"mmmmm-PHAH! Hah.. hah..." Kibum menarik napas brutal ketika ciuman itu terlepas. Ia tahu dirinya mencintai Siwon dan berharap suatu saat ia menerima ciuman dari namja itu. Tapi, tidak seperti ini! Tidak ada cinta yang Kibum rasakan. Hanya obsesi dan penuh nafsu. Kibum ingin menjerit, menangis mengungkapkan kekecewaannya. Tapi ia tak sanggup berkata-kata hingga...

'PLAK!'

Mendapat tamparan dari Kibum tak membuat seorang Choi Siwon menyadari kesalahannya. Jangan lupakan namja tersebut masih dibawah pengaruh alkohol. Amarahnya kembali memuncak. Kibum menamparnya, Kibum menolak ciumannya. Ia tidak berarti bagi Kibum dan yeoja itu tidak menginginkannya. Rasa sakit dan sesak memenuhi dada Siwon hingga dengan kasar ia mengangkat tubuh Kibum dalam satu hentakan kuat dan membawanya kekamar untuk melampiaskan hasratnya yang sudah menggebu.

*flashback end*

.

.

.

.

"aku menunggu undangan dari kalian, dan jangan lupa mampir kesini jika kalian ada waktu senggang" Kibum berucap sebelum memeluk Sungmin erat-erat. Kibum merasakan anggukan Sungmin dibahunya.

"eum.. jaga kesehatanmu, eonni.. aku menyayangimu.." Kibum mengusap kepala adiknya penuh kasih. "kau juga, Min.. eonni sangat menyayangimu" keduanya tersenyum, setelahnya melepas pelukan mereka meski sedikit tidak rela.

Pandangan Kibum beralih ke namja yang berdiri disamping Sungmin, "jaga Sungmin baik-baik, Kyunnie.. aku akan menyewa pembunuh bayaran jika kau berani menyakitinya" Kibum tertawa keras setelah menyampaikan ancamannya yang tentu saja tidak sungguh-sungguh. Ia yakin Kyuhyun sangat mencintai Sungmin dan tidak akan menyakiti adik kesayangannya tersebut.

"mwoya?!" seru Kyuhyun tak terima. Lengannya memeluk pinggang Sungmin posesif. "tanpa diingatkan pun aku akan menjaganya, noona. Dan aku tidak akan pernah menyakitinya karna baby akan terlebih dahulu membunuhku jika itu terjadi" Kyuhyun mengusap perut Sungmin sekilas. Mendengar ucapan Kyuhyun yang terdengar begitu manis ditelinganya, Sungmin menunduk menutupi rona diwajahnya.

"jaga kesehatanmu, noona.." Kyuhyun tersenyum menatap Kibum. Yeoja yang dipandangi balas tersenyum, "arraso"

"ah!" tiba-tiba Sungmin memekik. Kibum dan Kyuhyun sontak menatapnya. "aku ada janji dengan Heechul eomma, Kyu.. aishhhh, kenapa aku bisa lupaaaa" Kyuhyun terkekeh, menurutnya Sungmin sedikit berlebihan. Mana mungkin eommanya marah kalau pun mereka terlambat?

"baiklah.. kalau begitu kami pulang, noona.."

"ne.. hati-hati dijalan"

.

.

.

.

*flashback 5 years ago*

Kibum terbangun dengan perasaan hancur. Ia menangis terisak. Matanya yang sembab akibat menangis melirik sesosok namja yang sukses menghancurkan perasaannya hingga tak berbentuk lagi. Dengan gontai ia berusaha bangkit, membersihkan tubuhnya, dan meninggalkan tempat itu dengan secarik kertas yang ia letakkan dimeja nakas tak jauh dari ranjang yang menjadi saksi bisu kejadian semalam.

.

Siwonnie..

Terimakasih untuk semua kebahagiaan dan rasa sakit yang kau berikan padaku. Aku bahagia pernah menyukaimu. Aku hanya tidak percaya semua ini harus terjadi diantara kita, bahkan sebelum aku menyatakan perasaanku padamu.

Aku kecewa.

Untuk itu aku memohon padamu. Jangan pernah mencariku kemana pun. Biarkan aku menentukan jalan hidupku kedepannya tanpa bayang-bayang seorang Choi Siwon. Jaga dirimu baik-baik.

-Lee Kibum-

.

.

.

.

Sudah lima hari sejak kepergian Kibum. Yeoja itu bagaikan lenyap ditelan bumi. Siwon sudah mencari ke tempat-tempat yang mungkin disinggahi yeoja yang ia cintai tersebut. Perasaan Siwon semakin hancur digerogoti perasaan bersalah ketika tak menemukan sedikitpun tanda-tanda keberadaan Kibum.

Hingga suatu malam, ia menemukan sesosok yeoja yang tengah meringkuk sendirian dipinggir jalan tak jauh dari rumah kontrakan Kibum. Samar-samar ia melihat kemiripan antara wajah yeoja tersebut dengan wajah Kibum. Ia memutuskan untuk mendekat.

Mendengar langkah yang mengarah ketempatnya, Sungmin mengangkat wajahnya. Foxynya menangkap siluet namja tinggi yang perlahan-lahan semakin terlihat jelas wajahnya.

"hey. Mengapa kau menangis dipinggir jalan seperti ini?" Siwon berjongkok, berusaha menyejajarkan tubuhnya dengan yeoja asing berparas manis yang masih menatapnya.

"hey.. kau melamun?" yeoja itu tetap diam. Pikirannya masih kacau dan tiba-tiba seorang namja asing mengajaknya bicara. Sungmin merasa sendirian, kesepian yang luar biasa. Belum cukupkah ia kehilangan kedua orangtuanya? Mengapa kakak satu-satunya harus turut meninggalkannya juga?

Siwon menghela nafas. Ia merasa yeoja didepannya baru mengalami tekanan yang membuatnya sekacau ini. "perkenalkan aku Siwon. Wajahmu mirip dengan seseorang yang baru saja meninggalkanku" Siwon memutuskan untuk ikut duduk dipinggir jalan, tepat disebelah Sungmin.

"siapa namamu?" yeoja itu menoleh.

"Sungmin. Lee Sungmin" Siwon tersentak. Bahkan mereka memiliki marga yang sama. Lee Kibum dan Lee Sungmin. apa mungkin...?

"kau punya keluarga disini?"

Sungmin mengangguk. "aku hanya punya satu kakak. dan ia meninggalkanku" Sungmin menangis dalam diam. Pagi tadi ia mendengar kabar dari ibu pemilik kontrakan tempat Kibum tinggal. kakaknya sudah lima hari tidak pulang. Sungmin segera teringat pada pesan yang dikirimkan Kibum lima hari yang lalu.

" Minnie chagi.. eonni sangat menyayangimu. Hiduplah dengan baik di Busan dan lanjutkan pendidikanmu sampai lulus. Eonni akan sangat merindukanmu"

Sungmin menyangka Kibum hanya mengiriminya pesan seperti biasa. Sudah menjadi rutinitas bagi Kibum untuk mengirimi Sungmin pesan semacam ini setiap hari. Tapi Sungmin tak pernah menyangka jika itu adalah pesan terakhir yang ia terima dari Kibum. Hari-hari selanjutnya Kibum tak pernah mengirim pesan ataupun menghubunginya. Dan setelah menerima kabar dari ibu pemilik kontrakan tadi pagi, tanpa menunggu apapun, Sungmin segera menuju kesini. Ia tak pernah menyangka Kibum benar-benar pergi meninggalkannya. Ia sendirian sekarang, tanpa siapapun.

"boleh... aku tahu siapa nama kakakmu?"

"Kibum. Lee Kibum" saat itu juga dunia Siwon serasa runtuh. Lihatlah! Bahkan ia tidak hanya menghancurkan hidup Kibum. Kini ia harus menerima kenyataan bahwa tindakan bejatnya turut mengorbankan yeoja yang kini menangis tersedu-sedu disampingnya.

Lagi-lagi perasaan bersalah seolah memojokkan Siwon. Hingga ia memutuskan sesuatu. Ia hanya berharap tindakannya kali ini tidak salah. Ia hanya ingin mencoba menebus kesalahannya, setidaknya pada yeoja manis yang tidak tahu apa-apa ini.

"kau punya tempat tinggal, Sungmin?"

Yeoja itu menggeleng. Jangankan tempat tinggal. Sungmin bahkan tak yakin jika ia dapat melanjutkan hidupnya setelah ini.

"kalau begitu, tinggallah bersamaku. Aku akan menjagamu seperti adikku sendiri, Sungmin.."

Saat itu juga, Sungmin meyakini bahwa Tuhan sengaja mengirimkan Siwon untuknya. Bahkan Siwon terlalu baik untuk ukuran namja yang baru ia kenal. Benar-benar namja berhati mulia.

Siwon memantapkan hatinya. Biarlah Sungmin tak pernah tahu kalau dirinya yang membuat Kibum harus pergi. Biarlah Sungmin menganggapnya pria berhati mulia karena hanya ini satu-satunya yang bisa Siwon lakukan untuk menebus kesalahannya meski tak sebanding dengan perbuatan bejatnya pada sosok yang ia cintai.

"terimakasih, oppa.. terima kasih.."

*flashback end*

.

.

.

.

TBC/end?

OH MY GOD! Ini benar-benar pertama kalinya saya ngebut untuk mengetik dua ff sekaligus dalam jangka waktu 24 jam /lebay/.

Okay, saya rasa flashbacknya udah cukup jelas yaa.. yang kemaren nagih-nagih flashbacknya Siwon monggo dinikmati cerita diatas..

Saya mau ucapkan terimakasih untuk kalian yang masih mau menunggu kelanjutan ff ini. Terimakasih juga untuk kritik dan saran yang saya terima di kotak review.. itu sangat membangun loh hehe.. Jangan bosan-bosan untuk memberi review yaa. Kalo reviewnya makin dikit author males ngelanjutinnya ah /sok ngambek/,, usahakan untuk saling menghargai dengan memberi feedback (review) kepada author yang pantatnya sampe tepos karna duduk depan laptop berjam-jam demi menulis ff ini.

Semoga kalian tetap menanti kelanjutan ff ini. Dan satu hal yang mau saya ingatkan, "INI HANYA FANFICTION" bahkan saya menyantumkan genre "DRAMA" karena saya yakin akan ada beberapa hal yang tidak masuk logika tetapi terjadi di ff ini. So, kalau ada yang protes kenapa ceritanya gini? Kenapa ceritanya gitu? Saya hanya bisa jawab, semua itu saya tulis demi kebutuhan cerita. Jadi, tolong nikmati saja ceritanya yaa..

Oiya, sekedar promosi wkwk. Saya ada ff baru judulnya "I Choose To Be Yours". Kalau kalian ada waktu silahkan dibaca dan jangan lupa untuk memberikan review hehe..

Sekian untuk chap 10 ini.

Hope you like it!^^~