Ting! Tong!
Baekhyun segera menuju pintu depan untuk melihat siapa gerangan yang datang pada tengah malam seperti ini.
"Ya?", Baekhyun membuka pintu rumahnya dan terlihatlah sesosok wanita yang sangat Baekhyun kenal.
"Hai, Baek", sapa wanita tersebut.
"R-Ryeo … Ryeowook?", gumam Baekhyun tidak percaya. "Astaga! Ryeowook! Entah kenapa aku merindukanmu! Astaga! Reyowook! Anakku … anakku …", tiba-tiba Baekhyun tersedu-sedu dalam pelukan Ryeowook.
"Aku tahu, baek … aku tahu … untuk itu aku datang kemari. Aku merasa bersalah untuk itu, maka dari itu aku datang", ucap Ryeowook dengan nada menyesal sambil mengelus-elus punggung Baekhyun.
"Tapi kau tidak salah", Baekhyun melepas pelukan mereka dan mengusap kedua matanya yang agak berair.
"Tapi tetap saja–"
"Dan musibah ini membawa keberuntungan!", tiba-tiba Baekhyun menjadi kegirangan.
"Hah?", bingung Ryeowook.
"Kurasa aku sudah memiliki calon menantu dan wow … banyak hal terjadi. Aku ingin Minseok kembali normal, tapi aku bersyukur kejadian ini terjadi, karena ia bisa akrab dan akur dengan Jongdae. Dan aku merasa mereka sangat cocok. Minseok juga semakin–"
"Stop, baek. Biarkan aku masuk terlebih dahulu", ucap Ryeowook setelah berhasil membungkam dengan erat mulut Baekhyun dengan telapak tangannya.
"Ah, sampai lupa. Silakan masuk. Kau sih datang jam seginian", gerutu Baekhyun setelah melepas tangan Ryeowook dari mulutnya.
"Aku ingin melihat Minseok", ucap Ryeowook yang berjalan di sebelah Baekhyun.
"Untuk apa?"
"Tentu saja untuk memastikan dia baik-baik saja dan menemukan penawarnya", ucap Ryeowook datar.
"Oo haha … tapi Minseok sangat agresif, kau harus berhati-hati", bisik Baekhyun.
"Memangnya dia menjadi apa?"
"Kau lihat saja sendiri", ucap Baekhyun sambil membuka pintu kamar Minseok secara perlahan. Minseok langsung tertidur setelah memakan sarden kaleng yang dibelikan Lucan hingga saat ini.
Cklek!
Ryeowook mengintip ke dalam kamar Minseok, dan bertapa terkejutnya ia saat melihat Minseok yang tertidur dalam dekapan Jongdae.
"Astaga, apa yang anakmu perbuat", terkejut Ryeowook dengan mata melotot.
"Apa yang anakku–", Baekhyun buru-buru menutup mulutnya agar teriakan nyaringnya tidak keluar.
"Astaga … apa yang … kenapa … kenapa mereka tidur tidak memakai selimut? Nanti digigit nyamuk bagaimana? Aigoo", Baekhyun buru-buru mencarikan mereka selimut dan memakaikannya kepada mereka.
"Baek, astaga … kau ini", geram Ryeowook.
"Sudah selesai, jadi kita harus melakukan apa?", tanya Baekhyun menghampiri Ryeowook yang berada di ambang pintu.
"Kucing memiliki pendengaran yang sangat baik", bisik Ryeowook sekecil mungkin.
"Benarkah?", tanya Baekhyun tertarik.
"Tentu saja, untuk itu kita harus membawanya tanpa membuat suara dan tanpa membangunkannya", bisik Ryeowook lagi.
"Bagaimana caranya?", tanya Baekhyun.
"Kita harus membiusnya"
"MWO?!"
.
.
How To Back To Normal?
.
By : Nyanmu
Main Cast : Kim Jongdae and Kim Minseok a.k.a Park Minseok
[ChenMin]
Support Cast : Exo's member and BTS
Genre : Romance, Little bit Humor, Family, Fantasy and Friends
Rated : T
Length : Chaptered
Warn! GENDERSWITCH (GS) | Typo(s) | Alur ngebut | Kata-kata absurd dan KASAR!
.
.
The Last Chapter
Chapter 10 : Am I normal?
Setelah bersusah payah menyuntikkan obat bius kepada Minseok yang terbangun. Terbangun? Yap! Minseok terbangun karena jeritan melengkin Baekhyun. Anehnya hanya Minseok yang terbangun. Sedangkan Jongdae terus saja tertidur pulas.
Setelah terbangun, Minseok langsung pada mode waspadanya. Dia bertingkah seperti seekor kucing yang bertemu dengan anjing. Sangat waspada. Sehingga Ryeowook kesusahan untuk menyuntikkan obat bius kepadanya.
Berbekal tekad dan keberanian akhirnya Ryeowook dan Baekhyun menghadapi Minseok untuk menyuntikkannya obat bius. Walau harus berakhir memiliki beberapa luka cakar di beberapa bagian tubuh, tapi ini demi kesembuhan Baekhyun–dan bulan madu Ryeowook yang tertunda karena kabar ini.
"Kita harus menyelesaikannya dengan cepat, baek", ucap Ryeowook setelah memastikan tali yang diikatkan kepada Minseok sudah cukup erat. Minseok akan melakukan x-ray saat ini.
"Kenapa harus cepat-cepat? Minseok yang tidak pernah aku lihat sangat menggemaskan. Aku masih ingin melihatnya", gerutu Baekhyun memanyunkan bibirnya.
"Please, baek! Aku rela datang secepatnya kemari untuk menyembuhkan Minseok dan aku rela menunda bulan maduku untukmu! Untukmu baek! Jadi mari cepat selesaikan", ucap Ryeowook sedikit kesal.
"Huft! Baiklah, aku akan memanggil Chanyeol dulu", balas Baekhyun.
"Cepatlah", ucap Ryeowook sambil mengamati layar komputer yang menayangkan hasil x-ray tubuh Minseok.
'Tidak ada yang salah dari tubuhnya. Hanya saja telinga dan ekornya ini tumbuh secara abnormal', batin Ryeowook.
'Dan hanya masalah emosional yang tak terkendali. Ramuanku yang mana yang ia minum sebenarnya'
Ryeowook bersedekap dada sambil berpikir. Sekiranya ramuannya yang mana yang dapat menyebabkan kedua hal itu terjadi? Dan apa penawarnya?
"Aku membawa semua ramuan yang ada di laboratorium rahasiaku itu … saat itu Minseok tidak mengambil ramuan penyembuh untuk Jongdae, tapi ada yang kurang dari jumlah percobaanku ini", Ryeowook menatap satu per satu botol yang berisi cairan berwarna-warni miliknya.
"Astaga! Dia mengambil yang itu?!", ucap Ryeowook seakan baru ingat.
.
.
.
"Kau yang menelfon Ryeowook?", kesal Baekhyun kepada Chanyeol yang berjalan di belakangnya.
"Habisnya situasi sangat tidak menguntungkan. Kupikir setelah kuberitahu kondisinya ia hanya akan memberikan solusi melalui telfon atau sejenisnya", bela Chanyeol.
"Sudahlah. Lebih baik kita membantu Ryeowook menyelesaikan ini dan membuat Ryeowook bisa berbulan madu", ucap Baekhyun berhenti melangkah saat sudah di depan pintu lab.
"Ayo dibuka, baek", ucap Chanyeol yang menunggu Baekhyun membuka pintu lab.
"Kau yang buka. Kau harus bertemu Ryeowook terlebih dahulu. Setidaknya meminta maaf karena bulan madunya tertunda karenamu", ceramah Baekhyun.
"Baiklah, baiklah", Chanyeol mengalah dan membuka pintu lab.
"Ryeowook, kau datang? Kupikir–"
Ucapan Chanyeol yang baru saja datang seketika terhenti saat melihat Ryeowook yang tengah kesusahan memegangi Minseok yang mengamuk di atas kasur. Tali-tali yang mengikat Minseok hampir terlepas.
"Ryeowook!", kaget Chanyeol.
"Obat … obat bius!", teriak Ryeowook masih mencoba untuk mencegah Minseok–yang tampak sangat mengerikan dalam mode buas–untuk bangkit.
Baekhyun kelimpungan mencari obat bius. Chanyeol segera membantu Ryeowook menenangkan Minseok yang seperti pasien rumah sakit jiwa yang ingin kabur.
"Seokkie … Seokkie … tenang, ini appa", Chanyeol berusaha menenangkan Minseok. Namun seakan tuli, Minseok terus memberontak.
"Jangan sampai dia bangun", ucap Ryeowook kepada Chanyeol, dan Chanyeol pun ikut memeluk Minseok seperti yang dilakukan Ryeowook.
"Baek! Cepat!", teriak Ryeowook.
"Berapa dosisnya!", teriak Baekhyun memegang dua botol obat bius yang berbeda.
"Yang paling tinggi!", teriak Ryeowook.
"Mwoya! Kau bisa membuat anakku mati", ucap Chanyeol.
"Saat ini–ugh", Ryeowook sempat terhempas karena dorongan Minseok. Namun ia kembali memeluk Minseok demi keamanan semua orang.
"Dia bukan Minseok yang kalian kenal! Cepat! Obat biusnya", teriak Ryeowook.
Dengan terpaksa Baekhyun mengambil obat bius dengan dosis paling tinggi. Namun mengingat senyuman ceria nan manis milik Minseok, membuat Baekhyun menurunkan dosisnya menjadi sedikit normal.
Saat Baekhyun menyuntikkan obat bius tersebut, Minseok perlahan mulai tenang dan sedikit lemas. "Apa kau menggunakan dosis tinggi?", tanya Ryeowook sambil mengatur napasnya.
"Aniya, aku tidak bisa", ucap Baekhyun menunduk.
"Kita tidak punya cukup waktu. Dosis normal hanya akan membuatnya melemas, tidak tertidur. Kita harus mengisolasinya. Akan sangat berbahaya jika dia keluar lab", ucap Ryeowook serius.
.
.
.
Seorang namja yang tengah tertidur pulas kali ini harus rela meninggalkan alam mimpinya karena terusik dengan sinar matahari yang melewati celah-celah gorden kamar.
"Eungh~", ia melenguh saat meregangkan tubuhnya–sudah menjadi sebuah kebiasaan.
Namja ini–sebut saja Jongdae–mengerjap-ngerjapkan matanya kala ia merasa ada sesuatu yang kurang.
"Aku merasa tidak tidur sendirian tadi malam", gumamnya sambil menggaruk pipi kanannya yang terasa agak gatal.
"Hah!", Jongdae segera duduk saat menyadari ia tidak tidur di kamarnya.
"Minseok!", ucapnya panik saat mengetahui bahwa Minseok yang seharusnya dalam dekapannya menghilang.
"Ah, paling mencari ikan. Sekarang kan dia punya sifat kucing", ucap Jongdae merasa sedikit lega.
"Seokkie~", seseorang membuka pintu kamar Minseok sehingga membuat Jongdae yang hendak tidur kembali–karena berpikir Minseok sedang mencari ikan di dapur–mengurungkan niatnya.
"Pagi Lucan hyung", sapa Jongdae saat mengetahui bahwa Luhanlah yang membuka pintu kamar Minseok.
"Pagi", balas Lucan singkat dan tanpa niatan untuk menyapa sama sekali.
"Kau lihat Minseok?", tanya Lucan yang masih di ambang pintu.
"Saat aku bangun dia sudah tidak ada. Memangnya tidak ada di dapur?", sebenarnya Jongdae tidak ingin menanyakan hal ini. Tapi rasa penasaran dan kekhawatiran membuat pertanyaan itu lolos begitu saja.
"Tidak. Dia tidak ada di mana pun"
"Mungkin dia mencari ikan di tempat lain?", tebak Jongdae berusaha menenangkan diri.
"Awalnya aku juga berpikir demikian. Tapi saat diingat-ingat lagi … Kalau Minseok ingin ikan, dia pasti akan membangunkanku atau seseorang dan memaksa untuk dibelikan ikan. Jadi pemikiran mengenai Minseok yang pergi mencari ikan itu salah", ucap Lucan menjelaskan.
"Jadi, Minseok hilang?", tanya Jongdae ragu.
"Aku ragu. Minseok yang seperti itu ada yang mau menculiknya?", tanya Lucan sarkastik.
"Tapi dia manis, hyung"
"Kuakui dia manis. Tapi dengan sifatnya yang jutek dan–memangnya siapa yang mengenal dan ingin menculik Minseok? Hell–dia pasti sudah gila", kesal Lucan.
"Bagaimana dengan kepribadian Minseok yang baru? Itu mungkin saja terjadi. Kepribadian yang tidak pernah muncul, kemudian muncul. Mungkin saja Minseok–"
"Jadi … Minseok hilang atau diculik?", tanya Lucan nge-blank.
"Tidak mungkin dia hilang. Dia tahu jalan. Jadi, 'diculik' adalah kemungkinan yang besar", ucap Jongdae sok serius.
"Omona! Dongsaengku tercinta! EOMMA! APPA!", Lucan segera menjerit histeris saat pikirannya kembali.
"Astaga, ini sungguhan?!", Jongdae segera bangkit dan mengikuti Lucan.
"EOMMA! APPA! MINSEOK DICULIK!", teriak Lucan menggema di dalam rumah.
"Aigoo! Aigoo! Aigoo! Bagaimana ini!", panik Lucan jalan di tempat.
"Hyung–"
"Ini salahmu!", Lucan menudingkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Jongdae.
"Hah? Aku?", bingung Jongdae.
"Tentu saja! Kau yang menemaninya semalaman! Bagaimana bisa–Argghh! Dongsaengku!", Lucan mendadak sedih setelah sebelumnya marah menggebu 45.
"Ada apa ribut-ribut?", ucap sebuah suara yang membuat Lucan mau pun Jongdae menoleh.
"Appa … Minseok …", Lucan ingin menangis, sungguh.
"Dia baik-baik saja", ucap Chanyeol duduk di sofa terdekat. Tubuhnya terasa remuk dan ia merasa lelah.
"Jinjja?", tanya Lucan dan Jongdae bersamaan.
"Ya. Hanya saja–dia agak berubah", ucap Chanyeol sedikit lesu. Ia sangat sedih dengan kejadian yang menimpa putri bungsunya tersebut.
"Apa? Kenapa?", Lucan penasaran.
"Kalian langsung saja ke lab, appa ingin sarapan", ucap Chanyeol tak sanggup untuk menjelaskan.
.
.
.
"A–Apa … apa ini?", ucap Jongdae hampir berbisik saking terkejutnya. Ia terkejut karena melihat keadaan Minseok yang berada di dalam ruangan sempit yang dilapisi dengan kaca tebal–entah dari mana kaca tersebut.
"Sebuah kesalahan. Ini karena gender. Hanya terjadi pada yeoja", ucap Baekhyun bersedekap dada dengan tatapan yang memancarkan kecemasan.
"Tapi aku tidak mengalaminya", ucap Jongdae merasa sangat bersalah.
"Tentu saja. Kau namja. Dan hal ini hanya terjadi kepada yeoja. Kau mengerti?", tanya Ryeowook sambil menyesap kopi yang sempat ia buat. Ryeowook tidak tidur semalaman suntuk bersama Baekhyun dan Chanyeol.
Jongdae berjalan mendekat ke arah ruangan kaca yang mengukung Minseok. Di dalam sana, Minseok meringkuk. Seperti orang stress. Rambutnya acak-acakan. Matanya memancarkan ketakutan berlebihan. Genggaman tangannya pada tubuhnya sendiri sangat erat. Telinga kucingnya yang berdiri tegap. Ekornya yang terlihat siaga. Dan bola matanya yang lebar menyerupai kucing. Bahkan kornea matanya berubah warna menjadi kuning dan bentuk pupil matanya persis dengan kucing.
"Aku ragu dia bisa kembali normal", gumam Ryeowook. Sontak membuat Jongdae dan Baekhyun menoleh kaget.
"Apa mustahil?", tanya Jongdae dengan kedua alis mengkerut karena merasa bersalah.
"Tidak mustahil. Hanya saja dengan keadaannya yang terlalu waspada dan ketakutan berlebihan membuatnya sangat sulit untuk di scan. Ia bahkan tidak ingin mendengar siapa pun", ucap Ryeowook mengusap-usap cangkir kopi yang ada di tangannya.
Hening melanda setelah penuturan Ryeowook. Tapi Chanyeol memecahkan keheningan yang ada dengan memanggil Jongdae. "Jongdae-ya. Sebaiknya kau pulang sebentar. Bibimu menelfon", ucap Chanyeol.
Jongdae melirik Minseok sekilas kemudian berjalan menjauh dari Minseok dengan berat hati. Ia bahkan lupa dengan Bibi Oh dan Jongin. Semua masalah ini seperti membuat Minseok menjadi tokoh utamanya. Sehingga membuat Jongdae tak lepas darinya.
"Bibi?", panggil Jongdae saat ia sudah sampai rumah.
"Kau dari mana saja? Masuk ke dalam kamar sore-sore dan hilang di pagi harinya. Mau jadi apa kau ke depannya hah?!", Bibi Oh marah besar.
Jongdae terdiam sejenak. Ia menunduk dalam. Mengumpulkan dirinya yang dulu–sebelum terlibat semua masalah ini. Kemudian ia mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar–terlampau lebar–hanya untuk menutupi kesedihan hatinya. "Aku main ke rumah keluarga Park. Mereka sedikit sibuk jadi aku membantu", ucap Jongdae dengan topeng cerianya.
"Sudahlah. Urus Jongin. Aku harus keluar negeri", ucap Bibi Oh.
"Keluar negeri?", kaget Jongdae.
'Pergi lagi …', batin Jongdae.
Bibi Oh terdiam melihat reaksi Jongdae. Sebenarnya ia tidak ingin mengambil bagian untuk keluar negeri. Maksimal ia akan mengambil bagian keluar kota. Tapi ini–terpaksa.
"Urus Jongin baik-baik", ucap Bibi Oh dengan nada memerintahnya.
"N-Ne", ucap Jongin sedikit tertawa–entah untuk apa.
"Aku bersungguh-sungguh", ucap Bibi Oh dengan suara yang meninggi.
"Ah, i-iya", Jongdae menunduk dan mengusap tengkuknya untuk menghilangkan rasa takutnya.
"Jongdae-ya", suara Bibi Oh yang bergetar membuat Jongdae mendongakkan kepalanya ingin tahu. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Bibi Oh menangis.
"Jangan menatapku seperti itu", Bibi Oh segera memeluk Jongdae dengan erat.
"B-Bibi", Jongdae kaget.
"Terima kasih", ucap Bibi Oh sehingga membuat Jongdae mengerutkan dahinya.
"Terima kasih sudah mau tinggal di rumah menyedihkan ini. Bersama orang menyedihkan ini", ucap Bibi Oh menepuk-nepuk punggung Jongdae.
"Ah~ Bukan masalah. Lagi pula menyenangkan tinggal bersama Bibi Oh", kekeh Jongdae.
"Aku tahu kau hanya ingin menghiburku. Tapi, terima kasih", ucap Bibi Oh tulus.
Jongdae tersenyum mendengarnya. Setidaknya ini sedikit memperbaiki moodnya.
"Dan maaf", ucap Bibi Oh tiba-tiba. Jongdae dibut bingung lagi.
"Maaf untuk segalanya. Atas perkataan dan perbuatanku. Maafkan aku. Aku sayang kalian", Bibi Oh mengeratkan pelukannya.
"Bibi. Kau berkata seperti akan meninggalkanku dan Jogin selamanya", canda Jongdae.
"Aku harus pergi. Jaga Jongin", ucap Bibi Oh dengan cepat dan meninggalkan Jongdae yang masih sedikit kebingungan di ruang tamu.
"Hyung …", panggil Jongin yang baru saja terbangun.
"Jonginnie~", Jongdae benar-benar rindu dengan Jongin.
Jongin berjalan dengan setengah sadar ke arah Jongdae. Beberapa hari terakhir ia tidak bisa bermain dengan Jongdae karena beberapa alasan.
"noona?", tanya Jongin merasa ganjal karena tidak melihat seseorang yang biasanya ada bersama Jongdae.
"Noona siapa?", bingung Jongdae menoleh ke belakang. Takut-takut kalau Jongin memiliki indra keenam dan melihat sesuatu di belakangnya.
"Seok Noona?", ucap Jongin meragu.
Seketika Jongdae teringat Minseok. "Maksudmu 'Minseok noona'?", tanya Jongdae.
"Ne", jawab Jongin dengan wajah datar andalannya.
"Kau merindukannya?", tanya Jongdae tersenyum getir. Namun Jongin menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Jongin ingin melihat Minseok noona", ucap Jongin. Karena ia merasa aneh tidak melihat orang yang selalu mengambil perhatian hyungnya itu. Terasa agak sepi–menurut Jongin.
"Kenapa Jongin ingin melihatnya?", tanya Jongdae.
"Rasanya sepi", ucap Jongin memeluk leher Jongdae. Sepertinya Jongin merindukan Minseok.
"Kau ingin melihatnya?", tanya Jongdae sambil mengusap punggung Jongin. Tanpa harus melihat pun, Jongdae tahu bahwa Jongin mengangguk.
"Kau sungguh-sungguh ingin melihatnya?", tanya Jongdae lagi, hanya untuk memastikan.
"Jebal", ucapan Jongin teredam karena memeluk leher Jongdae.
Jongdae menghembuskan napas pelan mendengar permohonan Jongin. "Baiklah. Kita akan mengunjungi Minseok", ucap Jongdae berupaya agar terlihat ceria di hadapan Jongin.
.
.
.
Sesampainya mereka di laboratorium. Dengan izin Ryeowook Jongin diperbolehkan untuk masuk. Asalkan tidak mengacau. Tapi tenang, Jongin anak yang kalem.
Jongdae menggendong Jongin untuk mendekat ke ruangan kaca yang di dalamnya terdapat Minseok.
"Hey, Minseok. Jongin ingin bertemu denganmu", ucap Jongdae mengetuk-ngetuk kaca yang menjadi penghalang antara Jongdae dan Minseok.
"Hhrrssss …", Minseok menoleh dengan pandangan menakutkan.
"Noona", panggil Jongin tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Mendengar suara Jongin, Minseok bergerak secara perlahan mendekati kaca yang terdapat Jongin dan Jongdae.
"Minseok, kau tahu aku? Ini aku. Jongdae", ucap Jongdae sedikit kegirangan karena Minseok menyahut. Tapi ternyata, Minseok hanya menyahut dengan suara Jongin.
"Noona sakit?", tanya Jongin dengan wajah stoicknya.
Minseok mengendus-endus kaca yang ada di dekat Jongin. "Noona jangan sakit. Nanti Jongdae hyung sedih", ucap Jongin.
"Jong … dae …", ucap Minseok menurunkan kedua telinganya seperti meminta belas kasihan.
"Noona, kenapa kau di dalam kaca?", tanya Jongin mengetuk-ngetuk kaca yang menjadi pemisah mereka.
"Jaga jarak", peringat Ryeowook dari belakang.
"Noona … kapan main ke rumah Jongin?", tanya Jongin.
Entah mengapa Jongin jadi banyak bicara hari ini.
"Jongin, kau kenapa?", tanya Jongdae memegang kening Jongin. Ia takut Jongin demam sehingga ia banyak berbicara.
"Hyung sangat sedih", ucap Jongin masih berusaha berkomunikasi dengan Minseok.
"Jongdae hyung sangat sedih. Ayo kita bermain bersama agar hyung tidak sedih", ucap Jongin.
Merasa Jongin baik-baik saja, Jongdae akhirnya membuka suara untuk berkomunikasi dengan Minseok. "Minseok, kau mendengar semua yang Jongin katakan?", tanya Jongdae.
"Aku dengar", ucap Minseok dengan suara normal. Namun pandangannya masih mengisyaratkan akan ketakutan yang mendalam.
"Aku hanya takut. Entah mengapa aku takut", Minseok memandangi kedua tangannya yang seakan ingin meremas sesuatu karena ketakutan.
"Aku ada di sini. Jadi jangan takut", ucap Jongdae berusaha menenangkan.
"Hyung, peluk noona", ucap Jongin dengan polosnya.
"eh, kenapa?", bingung Jongdae.
"Biasanya hyung akan memelukku jika aku ketakutan", ucap Jongin.
"Keluarkan aku", ucap Minseok dengan pandangan waspada yang tinggi.
"Eum … Minseok ingin keluar", ucap Jongdae memberitahu kepada Baekhyun dan Ryeowook.
"Tidak bisa. Terlalu berbahaya", ucap Ryeowook sedikit tidak yakin dengan ucapannya sendiri.
"Ryeowook. Kumohon, buka pelindungnya", ucap Baekhyun memelas.
"Tapi berbaha–"
Ssshhh!
Pelindung Minseok dibuka. Semunaya menoleh ke arah orang yang membuka pelindung Minseok. "Keajaiban selalu datang. Jadi tenanglah", ucap Chanyeol–orang yang membuka pelindung Minseok.
Bruk!
Minseok langsung memeluk Jongdae dan Jongin. Jongdae dapat merasakan tubuh Minseok yang bergetar hebat.
"Tenanglah", ucap Jongdae mengelus-elus punggung Minseok.
"Minseok, kau harus di scan agar bisa sembuh", ucap Jongdae memberitahu.
"Scan?", tanya Minseok masih sedikit takut.
"Ya. Itu–Ryeowook yang akan menyembuhkanmu", Jongdae menunjuk ke arah Ryeowook, dan Ryeowook melambai ramah ke arah Minseok. Berusaha untuk tidak menakuti Minseok.
"Itu eommamu dan appamu yang akan menjagamu", ucap Jongdae menunjuk ke arah Baekhyun dan Chanyeol bergantian.
"Aku dan Jongin akan menemanimu", ucap Jongdae tulus.
Dalam sekejap mata, Minseok kembali normal dan Ryeowook dapat mulai men-scan tubuh Minseok. Hanya butuh waktu setengah hari untuk menemukan penawar bagi Minseok.
"Aku yakin kali ini semua masalah akan selesai", ucap Ryeowook sambil melihat Minseok yang menegak ramuannya.
"Kuharap begitu", gumam Luhan.
Mereka kini tengah berada di ruang tengah menunggu detik-detik kembalinya Minseok menjadi normal.
"Iew, aneh sekali … apa ini", gerutu Minseok setelah meminum ramuan milik Ryeowook.
Mengabaikan gerutuan Minseok, Ryeowook bertanya. "Apa yang kau rasakan?"
Sebenarnya Minsoek tidak merasakan apa pun dan sifatnya sudah kembali normal. Tapi setelah Ryeowook bertanya demikian, ia merasa perutnya seperti diaduk-aduk.
"Mual", Minseok seketika menutup mulutnya ketika merasakan sesuatu mendesak keluar dari dalam kerongkongannya. Saat dirasa sesuatu yang akan keluar itu semakin berada di puncak, kedua telinga kucing Minseok berdiri tegak, begitu pun dengan ekornya yang berdiri seperti kaget.
Minseok buru-buru berlari menuju toilet. Membuat Baekhyun, Chanyeol, Ryeowook, Lucan, dan Jongdae menatap khawatir ke arah kepergian Minseok.
"Apa dia … tidak apa-apa?", tanya Jongdae.
"Biar aku–"
"Eomma, apa yang aku minum tadi? Terasa sangat–agak tidak enak", Minseok mengecap-ngecap mulutnya yang terasa sangat aneh itu.
"Seokkie-ya! Kau kembali normal!", jerit Luhan sebagai orang pertama yang menangkap perbedaan Minseok.
"Apa? Memangnya aku kenapa?", Minseok berucap dengan punggung tangan kanannya yang menutupi mulutnya. Mulutnya masih terasa tidak enak.
"Sayang … oh, Seokkie Chagi", Baekhyun segera memeluk putri bungsunya itu.
"Eomma? Ada apa ini?", bingung Minseok menatap Chanyeol, Jongdae, Lucan, dan Ryeowook meminta penjelasan.
Cup! Cup! Cup!
Baekhyun tak henti-hentinya menghujami wajah Minseok dengan kecupan ringan. Ia sangat senang melihat putri kesayangannya itu kembali normal. Seakan-akan Minseok baru saja melewati masa kritisnya.
Melihat reaksi Baekhyun yang sangat senang, membuat yang lainnya memeluk Baekhyun dan Minseok. Sekarang mereka seperti teletubbies.
"Haha … ada apa ini", Minseok tertawa canggung. Sungguh, ia tidak mengerti. Apa ini karena dirinya?
"Kau berubah menjadi setengah-kucing-setengah-manusia dan wow! Itu menggemparkan. Lalu kau berubah menjadi pow lalu semuanya menjadi bum! Lalu Ryeowook noona menyelamatkan dan semuanya menjadi Ssshhh", jelas Lucan dengan istilah-istilah yang hanya dirinya saja yang tahu.
Minseok terkekeh manis mendengar penjelasan Oppanya itu. Setahu Minseok, Luhan itu cuek dan tidak pernah seperti ini.
"Lucan oppa sehat?", tanya Minseok sambil menahan gelak tawa. Ia hanya ingin memastikan oppanya ini tidak OOC.
"Oh seokkie, jangan memulai", gemas Lucan sedikit menggeram. Minseok terkikik melihat ekspresi Lucan yang menurutnya konyol itu.
.
.
.
"Sungguh, aku benar-benar minta maaf mengenai semua masalah yang melibatkanmu ini. Aku sangat merepotkanmu, ya", ucap Minseok sambil menuangkan teh yang ia buat ke dalam cangkir yang ada di hadapan Jongdae.
Kini Jongdae dan Minseok tengah duduk berdua di ruang tamu. Setelah kejadian membahagiakan karena 'kembalinya Minseok', Ryeowook harus menangis bahagia terlebih dahulu sebelum mengundurkan diri karena tanggung jawabnya sudah selesai dan juga karena bulan madu yang tertunda. Chanyeol dan Baekhyun pergi untuk berbelanja, mereka akan masak besar untuk merayakan kesembuhan dan selesainya masalah ini. Jongin yang diajak oleh Baekhyun untuk berbelanja. Luhan dengan terpaksa harus kembali ke apartemennya karena ia sudah sangat sering membolos kuliah, dan di sinilah mereka–Minseok dan Jongdae–berdua di ruang tamu.
"Kau tahu? Sikapmu sedikit berubah, tapi yah … tak masalah, tidak semuanya berubah", ucap Jongdae sambil menyesap tehnya.
"Benarkah?", bingung Minseok. Ia merasa gugup karena berada di dekat Jongdae. Ia juga sedikit merasa aneh dengan dirinya. Karena yah … ia tidak pernah merasakan gugup luar biasa hanya karena mengobrol dengan seseorang. Apalagi beberapa memori yang Minseok ingat mengenai Jongdae. Termasuk perasaannya kepada Jongdae.
"Ya. Tapi Minseok tetaplah Minseok", ucap Jongdae tersenyum lebar, menyalurkan kehangatan kepada Minseok.
"Berhenti mengatakan hal memalukan, astaga", Minseok menutup sebagian wajahnya dengan punggung tangan kirinya.
Jongdae terkikik sebentar, kemudian ia berkata, "Minseok".
"Hum?", Minseok berdeham sambil meletakkan cangkir yang ia pegang.
"Saranghae", ucap Jongdae dengan senyum tipis. Menunjukkan bahwa ia bersungguh-sungguh.
Seketika wajah Minseok memerah sempurna. 'Ya Tuhan! Apa ini? Kenapa tiba-tiba', panik Minseok dalam hati.
"Aaa … umm … ne", hanya itu yang keluar dari mulut Minseok.
"Ugh, kau menggemaskan, Seokkie", Jongdae gregetan sambil menggeser duduknya agar berada di sebelah Minseok.
"Jantungku …", gumam Minseok. Namun Jongdae masih bisa mendnegarnya.
"Jantungmu tidak normal, ya?", tanya Jongdae bergurau.
"Tentu saja. Kau pikir?!", Minseok kesal sendiri mendengar pertanyaan Jongdae.
"Bagaimana caranya membuatnya normal kembali", keluh Minseok bergumam. Tapi lag-lagi Jongdae mendengarnya. Jongdae tersenyum mendengar pertanyaan konyol Minseok.
.
"Tidak akan pernah"
.
"Jantungmu tidak akan pernah normal selama aku hidup"
.
"Selama aku mencintaimu"
.
"Dan selama aku berada di dalam hatimu"
.
.
How To Back To Normal
Chap 10 : Am I Normal?
.E.N.D.
A/N : Huaaaaa! Akhirnya aku nongol juga yah :'D Apa kabar kalian semuaaaa? /plakk/
Setelah sekian lama menggalau(?) karena ini adalah chap terakhir :'(
Btw, gimana chap terakhir ini? Keren gak? Ini udah aku keluarin semua kemampuan romance yang aku punya untuk akhirnya :'V biar kalian gak menggalau xD
Oh ya, aku punya wattpad loh xD /bangga/ /kampungan/-_-
Di sana kayaknya aku bakal ngetik macem-macem hal deh :'D Yang punya wattpad … mampir dong liat akun aku xD
Wattpad : Nyanmu
Walaupun cerita yang ada di wattpad kayaknya agak ngebosenin, tolong dong mampir :3 Setidaknya memberi koentar deh :V /apa sih mau gue sebenarnya-_-/
Pokoknya jangan lupa review, fav, foll, dan mampir ke akun wattpad-ku :v /berharep punya pengikut banyak xD/
Maaf banget gak bisa bales ripiuw kalian atu2 ... x( Tapi aku tetep pantengin ripiuw-an kalian kok :'D Hehe ...
Sampai bertemu di moment ChenMin again~~~ *ketjup jauh*
Big Thanks To :
anoncikiciw | apersonnn | f99 | Guest | Jung Jae In | Misslah | xRTYx | pooarie3 | Rnine21 | elfishminxiu | EXONUT | ChenMin EX-Ochy |
(Ini yang review di chap 9)
Salam manis,
Nyanmu
