Kuroko no Basuke Tadatoshi Fujimaki

FINISH!

[ Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya ]

Mayuzumi Chihiro

Momoi Satsuki

.

.

Happy Reading

.

.


"Jika anda bisa melakukan apapun untuk saya. Apa anda mengijinkan saya mengambil nyawa anda?" ujung pedang itu siap menusuk leher laki-laki berwajah datar dengan rambut biru muda yang di terpa angin. Matanya masih menatap polos kearah Akashi Seijuurou yang mengarahkan pedang padanya.

Sebelum ada jawaban Kuroko tiba-tiba mengambil pedangnya dan membalas dengan ujung pedang kearah dada Akashi.

"Lakukan. Akupun akan melakukan"

.

.

Matanya Kuroko langsung terbuka. Dia terbangun dan melihat tirai kamarnya sudah terbuka oleh seseorang. Cahaya matahari sudah memasuki kamar besar yang mewah milik Kuroko. Dengan nafas yang masih sulit di atur Kuroko tertegun. Kedua tanganya menutup wajah yang kini terlihat pucat.

"Apa anda bermimpi buruk?" suara itu menganggetkan Kuroko. Dia segera melihat siapa yang berbicara denganya.

"Ah, hanya sebuah mimpi. Sebuah ilusi dalam tidur" jawab Kuroko sambil turun dari tempat tidurnya.

Kini Kuroko berdiri di depan Akashi yang sudah siap dengan pakaian seragam yang menunjukan ketampanan pemuda bersurai merah dengan mata yang tajam itu.

"Apa aku bangun terlambat?" tanya Kuroko.

"Hanya 10 menit"

"Kenapa kau tidak membangunkanku?"

"Anda tidur terlalu nyenyak bahkan saat saya mencium andapun, anda masih terlelap" mata Kuroko sedikit melebar dengan pernyataan jujur Akashi. Ini terlalu pagi untuk mengatakan hal itu dan ini terlalu sering bagi Kuroko yang tidak pernah sadar ciuman yang Akashi berikan saat dia tidur.

"Aku akan mandi. Tunggu aku di ruang kerja"

"Baik Tuanku, tapi sebelum itu ijinkan saya melakukan ini" Akashi memegang tangan kanan Kuroko lalu mencium punggung tangan Kuroko cukup lama, ada suara kecupan yang Kuroko dengar sampai Akashi melepasnya ketika puas. "Saat bangun tidurpun anda selalu membuat saya tidak bisa menahanya" Akashi tersenyum, lalu membungkukkan tubuhnya kearah Kuroko. Kemudian meninggalkan Kuroko yang masih menatap kepergianya.

.

.

Akashi berajalan di lorong yang cukup panjang, saat dia akan menuju ruang kerja Kuroko. Tapi, langkahnya terhenti saat dia melihat seseorang berjalan kearahnya.

"Chihiro" panggil Akashi.

"Akashi kah? Apa itu benar kau? Kau masih hidup?" tanya laki-laki yang saat ini memasang wajah terkejut memandang Akashi yang masih terlihat sehat dan baik-baik saja.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Akashi bertanya.

"Itu kalimatku. Apa yang kau lakukan di sini? Seharusnya kau sudah mati sejak saat itu. Dan apa yang terjadi sampai kau bisa berkeliaran di dalam ruangan Kuroko-sama?" mata abu-abu milik Mayuzumi Chihiro melebar saat dia menyadari bahwa Akashi masih di beri kesempatan untuk hidup saat itu oleh Kuroko.

"Apapun yang kau pikirkan saat ini. Kau hanya pengkhianat, Chihiro" kalimat dingin Akashi membuat Chihiro tersenyum sinis. Dia melangkahkan kakinya mendekati Akashi sambil siap menarik pedang yang terselempang di samping kirinya.

"Sedikit saja kau mengeluarkan kalimat. Pedang ini akan menghunus jantungmu saat ini juga" ancaman Chihiro sama sekali tidak membuat Akashi takut. Wajahnya masih sama. Tapi, tatapan itu sangat tajam dan seakan siap menerkam mangsa yang memperlihatkan dirinya.

"Apa yang kalian bicarakan?"

Akashi dan Chihiro mendengar suara Kuroko, mereka segera menoleh kearah Kuroko yang berjalan menghampiri mereka.

"Kuroko-sama. Saya senang anda baik-baik saja" Chihiro menundukan tubuhnya sebagai rasa hormat pada anak komandan yang saat ini dia ikuti.

"Chihiro, apa yang kau lakukan di sini?"

"Ayah anda menyuruh saya kemari. Dan mulai saat ini tugas saya adalah mengawasi anda" kalimat Chihiro membuat Kuroko hanya bisa terdiam, dia melirik Akashi yang juga melihat kearahnya. Tanpa membalas kalimat Chihiro, Kuroko berjalan menuju ruang kerjanya di ikuti Akashi. Chihiro masih di tempatnya dengan wajah yang heran.

"Aku ingin bicara" Kuroko menghentikan langkahnya sambil mengisyaratkan Chihiro agar mengikutinya.

.

.

Tinggal beberapa menita lagi Kuroko akan melakukan rapat yang akan di pimpin ayahnya, sebelum itu terjadi Kuroko harus menghentikan kecurigaan sang ayah dengan di kirimnya Chihiro ke kediamanya.

Kuroko duduk sambil melihat kearah Chihiro yang sudah berdiri di depanya. Sedangkan Akashi menyandarkan tubuhnya di rak buku di samping meja Kuroko sambil melipat tanganya.

"Beri alasan pada ayah, agar kau tidak mengawasiku" ujar Kuroko.

"Maksud anda?" Chihiro mulai heran.

"Aku akan baik-baik saja. Kau tidak perlu mengawasiku" jawab Kuroko.

"Saya meragukan hal itu" Akashi dan Kuroko melihat kearah Chihiro. Sedangkan mata Chihiro mulai melihat dalam kearah Akashi yang memasang wajah datar kearahnya. "Saya merasa ada hal buruk yang akan terjadi pada anda. Apa lagi ada seorang musuh yang ada bersama anda dalam satu ruangan" mendengar hal itu Akashi tersenyum. Dia menegapkan tubuhnya. Dengan santai dia menarik pedangnya lalu berjalan kearah Kuroko.

Ujung pedang itu mengarah tepat di bawah dagu Kuroko, Chihiro yang melihat langsung naik pitam dan ikut mencabut pedang miliknya. Tanpa banyak kata ujung pedang Chihiro mengarah pada Akashi.

"Apa yang kau maksud itu aku?" tanya Akashi dengan nada yang sangat santai.

"Apa yang kau lakukan pada Kuroko-sama? jauhkan pedangmu kalau tidak. Saat ini juga aku akan membunuhmu" nada suara Chihiro mulai tinggi.

"Jika aku berniat membunuh Tuanku sendiri, maka saat itu juga aku akan membunuh diriku" Kuroko melirik Akashi. "Mungkin saat kau datang, kau sudah melihat Kuroko-sama sudah tergeletak tidak bernyawa. Nyatanya sekarang? Apa yang kau temukan?" Akashi menjauhkan pedangnya dari Kuroko dan memasukanya kembali.

"Chihiro, kembalilah" perintah Kuroko

"Tidak bisa, Kuroko-sama. Bagaimanapun anda menolak keberadaan saya. Saya akan tetap berada di sisi anda. Saya permisi" Chihiro yang sudah menurunkan pedangnya memilih keluar dari ruangan yang begitu terasa panas dan juga sangat mencekam. Bahawan seperti apa dia? Bisa mengcungkan pedang pada majikanya. Mungkin saat ini itulah yang Chihiro pikirkan tentang Akashi.

"Tadi itu sungguh keterlaluan. Apa kau tidak bisa menunjukan hal lain padanya?" Kuroko memprotes tindakan Akashi.

"Saya rasa ini yang paling benar. Dia akan menganggap saya sedang menyekap anda. Jika dia sampai membocorkan hal buruk tentang saya, nyawa anda akan terancam. Jadi, untuk menjaga rahasia mungkin tindakan tadi adalah kebenaran" cukup panjang jawaban Akashi yang membuat dahi Kuroko mengkerut. Sebuah adegan yang luar biasa sempurna. Tapi, kalimat yang sungguh mengesankan untuk orang yang tidak membaca naskah.

"Kita berangkat sekarang" Kuroko berdiri dan mengambil beberapa kertas di mejanya.

"Tapi, anda belum menyelesaikanya"

"Tidak ada waktu lagi"

"Masih terisa 3 menit lagi"

"Tidak akan sempat"

"Kalau begitu biarkan 3 menit itu saya yang menyitanya" Kuroko menoleh pada Akashi yang sedari tadi ada di belakang. Tangan Kuroko di tarik oleh Akashi hingga tubuhnya terbentur kearah tubuh Akashi, dengan muda Akashi mengecup bibir Kuroko dengan lembut.

"Hmm, kenyataan yang aku nikmati ini seakan bumerang bagiku. Saat aku ingin melangkah ranjau itu tepat di bawah kakiku dan ketika aku berbalik pintu itu sudah tertutup untukku, hingga aku hanya bisa diam. Sampai dia datang, mengulurkan tanganya dan menariku hingga aku memeluk tubuhnya"

Akashi melepas ciuman itu dan melihat Kuroko menundukan kepalanya sambil menutup mata. Perlahan Kuroko mengatur nafasnya sambil menyembunyikan raut wajah merahnya.

"Jika ini hanya sebuah peran. Siapa yang kau perankan Akashi Seijuurou? Bolehkan aku masuk dalam naskah cerita yang kau perankan hingga aku tau bagaimana alur ceritanya?"

Kuroko membuka matanya, lalu melihat Akashi yang memandanginya. Tangan Akashi yang menggenggam erat tangan Kuroko perlahan terlepas, jarak mereka sedikit menjauh dengan perasaan yang kini mulai kacau.

"Akashi... apa yang kau inginkan sebenarnya?" tanya Kuroko tiba-tiba. Akashi menatap Kuroko semakin tajam. Mata merahnya menyala. Seakan mengungkapkan apa yang terpikir dalam kepalanya saat ini. Kebencian dan dendam tapi, tertutup oleh cinta. Ataukah sebuah perang yang dia tunjukan dari dalam agar bisa mendapatkan kemenangan. Tidak mungkin Akashi Seijuurou bisa menerima semua kejadian yang merenggut nyawa keluarganya.

"Jawaban apa yang anda inginkan?" Akashi berbalik tanya pada Kuroko.

"Jawaban yang kau siapkan"

"Yang saya inginkan adalah memiliki anda seutuhnya"

To be Continue…..