Kuroko no Basuke – Tadatoshi Fujimaki

FINISH!

[ Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya ]

Mayuzumi Chihiro

Momoi Satsuki

Ogiwara Shigehiro

.

.

Happy Reading

.

.


Semua tidak pernah berharap ini terjadi. Perasaan yang menggemuruh hingga menjadikan diri lupa tentang masa lalu membuat kehidupan baru karena sebuah cinta. Bagi Kuroko Tetsuya ini adalah sebuah ilusi yang menjadi kenyataan dimana dirinya kini merasa bahagia dengan orang yang mencintainya. Hanya saja cinta seperti apa yang dia harapkan?

Kuroko masih menatap dalam setelah kalimat terakhir yang Akashi katakan padanya. 'memiliki Kuroko seutuhnya' apakah itu kalimat jujur darinya?

"Kuroko-sama..." seseorang datang dan membuyarkan pertanyaan di kepala Kuroko. Kuroko yang masih berada di depan Akashi menoleh pada pintu yang kini terbuka lebar. Bahawanya berjalan cepat kearah Kuroko.

"Ada apa?" tanya Kuroko.

"Ada kabar buruk Kuroko-sama, dalam perjalanan kemari Komanda di serang oleh musuh" Kuroko terkejut dengan berita tersebut. Komandan yang di maksud anak buahnya itu adalah Ayah Kuroko Tetsuya.

"Apa? Bukankah ayah sudah datang?" Kuroko heran saat dia menyadari rapat sudah di mulai tapi sang ayah masih di perjalanan.

"Pengawal Komandan Kuroko-sama mengantarkan pesan jika Komandan akan terlambat dan anda yang akan memulai rapat sebelum beliau datang. Tapi ternyata dalam perjalanan kemari Komandan di serang. Sekarang Chihiro-sama menyusul Komandan ke hutan" pejelasan itu cukup Kuroko Tetsuya pahami. Dia berjalan menuju pintu keluar sambil berkata,

"Siapkan kuda. Aku juga akan kesana"

"Baik Tetsuya-sama"

Akashi masih diam di tempat hingga Kuroko hilang dalam pandanganya. Setelah menghela nafas cukup berat Akashi melangkahkan kakinya menuyusul Kuroko.

.

.

Dalam tempat yang di ceritakan anak buah Kuroko, Chihiro sedang bertarung dengan beberapa orang yang saat ini mencoba melukai Komandanya.

"Komandan, anda baik-baik saja?" tanya Chihiro saat dia sudah berada di samping atasanya.

"Aku baik-baik saja. Tapi, anak buahku hampir tidak ada yang tersisa. Mereka melakukan cara kotor dengan menyelundupkan beberapa orang di semak-semak hingga dengan mudah melepaskan anak panah" jelas Komandan Kuroko. Chihiro sangat mengerti ini adalah pemberontakan dari negera yang baru saja kalah dari mereka. Chihiro mengerutkan dahinya dan mengingat Akashi yang seharusnya berada di antara mereka.

Perkelahian terus berlanjut bahkan anak buah yang di bawa Komandan Kuroko semuanya telah tewas karena anak panah yang tersembunyi.

"Sial! ini tidak bisa di biarkan" keluah Chihiro, matanya langsung melebar saat ada seseorang mengarahkan panah kearah Komandan Kuroko.

"Komandan...!" Teriak Chihiro.

Sedikit lagi panah itu akan mengenai jantung Komandan Kuroko jika Tetsuya tidak mengarahkan anak panahnya hingga panah musuh terbelah menjadi dua. Dari kecil Tetsuya sangat mahir memanah. Matanya sangat tajam, dan mempunyai pemikiran yang sangat cerdik.

"Ayah..." Tetsuya turun dari kuda dan langsung menuju ayahnya yang sudah terlalu lelah untuk melanjutkan pertarungan ini. Ayah Kuroko adalah seorang Komandan yang sudah lama memimpin, bahkan di usia tuanya Komandan Kuroko masih memimpin pasukan perang di baris depan. Kuroko Fujimaki juga terkenal karena strateginya dalam berperang dan mengatur bawahan.

"Tetsuya, apa yang kau lakukan di sini? Jika ini perangkap mereka juga akan mencoba membunuhmu" Fujimaki terlihat begitu mengkhawatirkan anak tunggalnya.

"Tidak mungkin aku membiarkan ayah bertarung sendirian" Chihiro tersenyum melihat Tetsuya begitu peduli pada ayahnya. Tapi wajahnya berubah ketika dia melihat Akashi yang sudah bergabung bersamanya.

"Aku tidak berharap kau datang, Akashi"

"Aku datang hanya untuk Tuanku"

"Hentikan ocehanmu sekarang juga! Ini semua kau yang merencanakan. Aku tidak akan tinggal diam" Chihiro terlihat sangat marah bahkan dia mengangkat kera baju Akashi. Tanpa Chihiro sadar ada sebuah panah yang menuju kearahnya. Akashi melirik sang pemanah dan langsung menggunakan pedangnya untuk memotong anak panah yang mengarah pada mereka.

"Apa yang kalian lakukan?!" Tetsuya cukup marah dengan tindakan mereka berdua.

"Mati kau! Kuroko Tetsuya...! kau yang membunuh keluargaku!" seorang musuh yang sedari tadi tergeletak penuh darah tiba-tiba terbangun dan mengambil pedangnya. Dia berlari sekuat tenaga menuju arah Tetsuya yang cukup dekat denganya.

"Tetsuya...!"

"Tetsuya-sama...!"

"Aku sudah bilang berulang kali pada siapapun itu. Sedikit saja kalian melukainya. Kalian akan mati di tanganku" semua mata melebar ketika Akashi tiba-tiba datang memegang ujung pedang musuh mereka yang akan mengenai tubuh Tetsuya. Tangan Akashi mengeluarkan darah yang cukup banyak hingga menetes ketanah. Tanpa banyak kalimat Akashi langsung menusuk orang tersebut dengan pendangnya hingga beberapa darah itu terpercik kearah seragam dan wajahnya.

"A-Aka-Akashi-sama, ke-kenapa..." itulah kalimat terakhir musuh mereka saat melihat dekat siapa yang saat ini mereka lawan. Beberapa musuh yang ada terkejut melihat Akashi yang kini menatap mereka tanpa ada belas kasih. Mata yang sangat tajam dan dingin. Dan wajah yang begitu menakutkan.

"Mundur! Kita mudur sekarang juga!" perintah salah satu ketua musuh mereka.

Tetsuya yang melihat Akashi, berjalan pelan kearahnya, Tetsuya memegang tangan Akashi yang penuh dengan darah.

"Hentikan, tolong hentikan" perintah Tetsuya. Chihiro dan Fujimaki terlihat heran melihat Tetsuya dan Akashi. Ada hal yang berbeda.

.

.

Semua anggota yang selamat kini berada di kediaman Kuroko Tetsuya. Dalam ruang rapat Kuroko Fujimaki terlihat sangat lega tidak terjadi apa-apa padanya dan Tetsuya. Sesekali Tetsuya melirik Akashi yang sedang bersandar di dekat pintu dengan tangan yang hanya terbungkus kain sobek.

"Ayah... aku"

"Tunggulah sebentar, ada yang akan datang" Tetsuya berdiri bermaksud ingin meninggalkan ruangan yang hanya ada 4 orang termasuk Akashi dan Chihiro.

"Ayah... apakah ayah baik-baik saja?" seorang perempuan masuk dan berlari kearah Kuroko Fujimaki yang dia panggil Ayah. Dia adalah Momoi Satsuki tunangan Kuroko Tetsuya. Mereka berencana akan menikah tahun depan dan menjadikan Tetsuya Komandan pengganti ayahnya.

"Aku baik-baik saja Satsuki. Kau tidak perlu cemas" jawab Fujimaki.

"Syukurlah. Tetsuya-sama... apa anda juga baik-baik saja?" tanya Momoi melihat kearah Tetsuya.

"Iya" jawab Tetsuya singkat. Matanya masih belum bisa melepas keberadaan Akashi. Dia melihat kain sobek yang membalut tangan Akashi mulai berganti warna.

"Momoi-sama, apakah anda kemari bersama Ogiwara-sama?" tanya Chihiro.

"Iya, aku bersama kakak kemari. Tapi saat ini kakak sedang mengurus kejadian yang menimpa ayah dan Tetsuya-sama" Ogiwara Shugehiro adalah kakak Momoi Satsuki. Mereka bukan kakak adik kandung, karena ayah mereka yang berbeda. Ogiwara adalah polisi kemiliteran yang mengatasi masalah kriminal.

Akashi tampak begitu lelah dan kesakitan. Dia mulai menghembuskan nafasnya dan berbalik keluar dari ruangan itu, saat Akashi keluar dia berpapasan dengan Ogiwara yang akan memasuki ruangan. Akashi hanya menundukan kepalanya lalu meninggalkan Ogiwara yang masih heran dengan siapa dia berpapasan.

"Ayah..." panggil Ogiwara.

"Bagaimana?" tanya Fujimaki.

"Saya tidak menemukan musuh yang bisa selamat dan di introgasi sepertinya ini memang pemberontakan dan balas dendam. Ada orang dalam yang mengatur penyerangan ini" penjelasan Ogiwara menguatkan asumsi Chihiro tentang Akashi. Sedangkan Tetsuya masih diam dan tidak mengeluarkan kalimat apapun.

"Tetsuya-sama... apa benar anda baik-baik saja?" sekali lagi Momoi meyakinkan dirinya yang begitu mencemaskan Tetsuya. Tetsuya sedikit terkejut. Dia melihat kearah Momoi dengan wajah yang begitu gusar sekaligus cemas tentang keadaan Akashi.

"Tidak apa-apa. Ayah, saya mohon pamit ada hal yang ingin saya lakukan" Tetsuya tidak bisa menahan perasaanya yang ingin menemui Akashi.

"Tetsuya, seharusnya kau membawa Satsuki jalan-jalan atau..."

"Maafkan saya ayah. Saya mohon pamit. Momoi lain waktu aku akan menemanimu. Maafkan aku" Momoi memang tidak paham dengan Tetsuya. Dari awal ini memang bukan cinta yang sesungguhan. Ini sebuah perjodohan yang di setujui oleh kedua belah pihak. Tapi, Tetsuya sama sekali tidak pernah menanyakan bagaimana perasaan Momoi terhadapnya. Jika Tetsuya tau itu sebuah cinta, Tetsuya akan menjauhinya.

.

.

Akashi duduk sendirian di taman belakang, dia melepas kain yang menghambat pendarahanya. Berulang kali hembusan nafas itu membuat kepalanya terasa berat, apa lagi dengan cahaya matahari yang kini menerpa wajahnya. Akashi melihat kearah langit yang begitu cerah, awan yang putih, langit yang biru dan suara burung yang sangat merdu. Begitu tenang.

"Akashi..."

Suara yang sangat Akashi inginkan. Suara yang selalu ingin Akashi dengar. Suara yang setiap saat terniang di telinganya. Apakah ini benar sebuah cinta?

"Anda mencari saya?" Akashi berdiri saat Tetsuya menghamirinya dengan membawa kota putih yang Tetsuya ambil dari ruang kesehatan.

"Tentu saja karena aku mengkhawatirkanmu. Duduklah" Tetsuya duduk di ikuti Akashi. "Perlihatkan tanganmu" Akashi mengulurkan tanganya yang terluka pada Tetsuya. Perlahan Tetsuya memberikan obat dan membersihkan darah yang masih berbekas dan mengalir dari telapak tangan Akashi.

"Maafkan saya..."ujar Akashi mendadak.

"Untuk apa?" tanya Tetsuya bingung.

"Untuk hal yang akan saya lakukan pada anda" selagi Tetsuya mengobati tangan Akashi tiba-tiba Akashi mendekati wajah Tetsuya dan kembali mencium bibir kecil milik atasanya itu. Tentu saja Tetsuya terkejut dan menghentikan aktivitasnya.

Cukup lama ciuman itu terpaut hingga Tetsuya mendorong pelan tubuh Akashi pelan.

"Biarkan aku mengobati lukamu terlebih dahulu" saran Tetsuya.

"Saya mengerti tapi perasaan saya sama sekali tidak bisa mengerti. Setiap kali anda bersama saya ada rasa yang bergejolak besar hingga membuat saya ingin memiliki anda. Jika bisa saya tangguhkan saya ingin melakukanya. Tapi tubuh sayapun ingin menyentuh anda" inikah sebuah pernyataan jika ini benar cinta? Tetsuya bingung dengan perasaanya ini. Ada rasa yakin yang begitu kuat dalam hatinya, tapi entah kenapa pikiranya masih menyisakan pertanyaan yang begitu mengusik perasaanya. Apa lagi dengan kejadian yang baru saja terjadi, membunuh satu orang demi misi pembalasan dendam adalah hal yang biasa.

Cukup jauh tapi sangat jelas, Ogiwara melihat semuanya. Melihat ciuman mereka berdua hingga melihat bagaimana mereka saling menatap.

"Kakak, apa yang kakak lakukan di sini?" Momoi muncul dari belakang Ogiwara.

"Tidak ada apa-apa. Kita kembali ke dalam. Malam ini kita akan makan malam bersama persiapkan dirimu. Dan berdandanlah yang sangat cantik agar Tetsuya-sama tidak menganali itu kau" Ogiwara tersenyum pada Momoi dan membawa Momoi pergi dari tempat itu.

"Akashi..."

"Saya paham jika memang anda meragukan saya. Karena saya seorang musuh yang anda selamatkan dari kematian" Akashi tersenyum di balik wajah Tetsuya yang tertunduk ragu.

Tetsuya tidak menjawab apapun, dia kembali mengobati dan memberikan perban di tangan Akashi. Setelah selesai, Tetsuya membereskan peralatan yang dia bawa dan langsung berdiri. Akashi mendongakan wajahnya dan melihat wajah Tetsuya yang masih membekas merah. Tetsuya menyudahi tatapan aneh itu, dia pergi meninggalkan Akashi yang masih penuh dengan pertanyaan.

"Ini semua pasti rencanamu Akashi!" Chihiro datang dan langsung menarik kera baju Akashi, hingga Akashi berdiri. Chihiro membenturkan tubuh Akashi kearah pilar besar yang ada di sekitar mereka. Wajah yang penuh kemarahan dari Chihiro, Akashi balas dengan ekspresi wajah yang begitu tenang.

Chihiro mencabut pedangnya dan mengarahkan pada leher Akashi. Tapi hal itu sama sekali tidak mengubah ekspresi wajah Akashi.

"Chihiro... jika kau bisa melakukanya. Akupun bisa" ujar Akashi dingin.

"Aku akan membunuhmu sekarang juga, Akashi"

"Lakukan apa maumu"

"Kau yang merencanakan semua ini. Aku tidak akan membiarkan Komandan atau Tetsuya-sama terluka karenamu"Akashi sekali lagi tersenyum. Dia menatap Chihiro tajam dengann warna mata berbeda. Chihiro cukup terkejut dan merasa ada yang aneh pada dirinya. Ada rasa takut tiba-tiba datang begitu saja.

"Apa kau punya bukti jika itu rencanaku?"

"Kau..."

"Kau akan kalah Mayuzumi Chihiro"

To Becontinue...


NB : jika keadaan Romantis antara Kuroko dan Akashi aku sarankan kalian mendengarkan MP3 ini Fujita Maiko - Sotsugyou. Ini lagu terasa banget keromantisan mereka :) Selamat membaca dan terimakasih atas review kalian selama ini :)