Kuroko no Basuke – Tadatoshi Fujimaki
FINISH!
[ Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya ]
Mayuzumi Chihiro
Ogiwara Shigehiro
Momoi Satsuki
.
.
Happy Reading
.
.
Setelah kejadian yang menimpa Kuroko Fujimaki beberapa hari yang lalu, Ogiwara melakukan pelacakan di beberapa tempat. Saat semua di telusuri ada hal yang membuat laki-laki berambut coklat itu harus memutar otak untuk mencari tau sebuah kebenaran.
Keadaan yang cukup aman itu membuat Kuroko Fujimaki kembali ke kediamanya yang cukup jauh dari tempat tinggal sang anak. Momoi Satsuki sebagai tunangan Tetsuya ikut pergi menuju kediaman Kuroko Fujimaki, di temani Mayuzumi Chihiro, pengawal setia Komandan Kuroko.
"Jagalah dirimu baik-baik di sini, Tetsuya" pesan Fujimaki sebelum dia meninggalkann Tetsuya.
"Iya ayah" jawaban yang cukup singkat saat kalimat itu di mengerti oleh sang ayah. Chihiro yang sudah berada di atas kuda melirik Akashi yang berada di belakang Tetsuya. Rasa tidak percaya itu semakin meningkat sejak penyerangan itu terjadi.
"Momoi, sementara kau tinggal bersama ayah. Jangan pulang sendirian sebelum aku menjemputmu." Ogiwara mendekati kereta yang Momoi naiki. Momoi mengangguk paham. Sebelum pergi, Momoi tiba-tiba berlari kecil kearah Tetsuya.
"Maaf Momoi, aku tidak bisa menemanimu selama kau berada di sini" Kali ini Tetsuya cukup menyesal dengan kesibukanya yang sangat padat, hingga tunanganya sendiri menjadi orang lain baginya. Momoi paham kondisi Tetsuya, dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Sebelum saya kemari, saya menyempatkan diri berdoa untuk anda. Dan ini adalah benda yang berisi doa saya untuk anda," Momoi memberikan sebuah kelereng berwarna biru pada Tetsuya. Tetsuya menerimanya, "Saya merasa melihat anda dalam kelereng tersebut, karena itu saya memohon keselamatan dan kesehatan anda. Anda tau kenapa saya memilih sebuah kelerang?" lanjut Momoi hingga kalimat itu menjadi pertanyaan bagi Tetsuya.
"Tidak"
"Karena warna kelereng ini sangat mirip dengan mata anda, ketika mata saya melihat kelereng ini saya seakan mendapat balasan dari apa yang saya inginkan dari anda yaitu sebuah cinta" ini pernyataan yang tiba-tiba untuk Tetsuya, dia tidak menyangka Momoi akan mengatakan hal ini di depan semua orang. Bahkan Fujimaki tersenyum mendengar perasaan Momoi pada Tetsuya.
"Aku akan menerimanya, terimakasih Momoi" ucapan terimakasih itu membua mata Momoi berbinar cerah, wajah yang dia tunjukan begitu bahagia. Setelah dia membungkukan badanya sambil berpamitan Momoi melambaikan tangan pada Tetsuya sebelum memasuki kereta.
.
.
Kuroko dan Akashi terlihat berjalan bersama menuju perpustakaan, Ogiwara yang melihat mereka dari belakang, berlari menghampiri mereka.
"Kuroko..." panggil Ogiwara.
"Ogiwara? Ada apa hingga kau berlari seperti itu?" Kuroko dan Akashi berhenti sambil menunggu Ogiwara menyusul langkah mereka.
"Aku ingin meminta sesuatu padamu, Kuroko" Ogiwara tersenyum, membuat mata Kuroko berkedip heran. Dia merasa Ogiwara menyembunyikan sesuatu padanya.
Ogiwara dan Kuroko sudah kenal sejak kecil, mereka sangat akrab dan juga sangat mengerti satu sama lain. Memanah adalah keahlian Kuroko dan dia belajar dari Ogiwara. Bahkan juga memainkan pedang dan menaiki kuda. Jadi bagaimana Ogiwara, Kuroko sangat paham. Bahkan Ogiwara memanggil namanya saja ketika mereka tidak terlalu resmi dalam pekerjaan, kecuali ada rapat atau sebagainya yang membuat tinggi jabatan Kuroko dari pada Ogiwara.
"Ada apa?" tanya Kuroko.
"Sebenarnya ada tempat yang aku curigai sebagai markas orang yang menyerang Komandan. Jadi, aku bermaksud untuk menyelidiknya" jelas Ogiwara.
"Kalau begitu, aku juga akan ikut denganmu"
"Tidak perlu Kuroko, aku hanya meminta ijin agar aku bisa meminjam Akashi sebentar" Akashi menoleh pada Ogiwara yang semula matanya hanya melihat kejendela luar. Sedangkan Kuroko langsung melihat kearah Akashi.
"Aku?" Akashi heran.
"Iya, aku melihat biodatamu dan kau cukup cerdas untuk melakukan beberapa hal yang aku perlukan nanti. Apa kau keberatan?" Ogiwara mungkin akan mendapat penolakan dari Kuroko, tapi tidak untuk Akashi. Akashi tersenyum saat melihat wajah Ogiwara yang rupanya juga mencurigai Akashi di balik semua ini.
"Aku menolak" suara Kuroko membuat keduanya memandangi Kuroko bersama.
"Tidak apa-apa Tuanku, anda jangan khawatir. Saya akan kembali dengan selamat" hibur Akashi dengan kalimat yang membuat Kuroko harus tersenyum miris dan juga dingin. Lagi-lagi hanya sebuah peran yang dia lakukan.
"Jadi, bagaimana?" Ogiwara meminta keputusan mereka.
"Jika itu yang Akashi katakan, baiklah. Tapi apapun yang kalian lakukan sebelum matahari terbenam kalian harus kembali. Untuk sekarang Akashi akan bersamaku" keputusan Kuroko mendapat anggukan dari Ogiwara. Dengan meninggalkan senyumanya Ogiwara meninggalkan Akashi dan Kuroko.
Kuroko kembali melangkahkan kakinya menuju perpustakaan, sedangkan Akashi masih setia di belakang Kuroko.
"Jangan bicarakan hal yang membuatnya curiga" ujar Kuroko sambil berjalan.
"Saya tau, tapi sekarang bukankah dia juga mencurigai saya?" dengan santai Akashi langsung menebak apa yang Kuroko pikirkan. Iya, Kuroko dan Akashi memang punya pemikiran yang sama bahwa Ogiwara mencurigai Akashi.
"Kalau begitu berperanlah agar dia tidak lagi mencurigaimu. Semakin banyak orang yang curiga padamu semakin banyak pula masalah yang akan kau timbulkan padaku" Kuroko masuk kedalam perpustakaan dan langsung menju rak buku.
"Mendengar hal ini dari anda seperti sebuah pernyataan" Akashi bersandar di rak buku yang berada di belakang Kuroko, sedangkan Kuroko berjinjit mengambil buku yang akan dia lihat. Tapi sebelum dia menggapai buku itu, aktivitasnya terhenti karena kalimat Akashi.
"Pernyataan?" Kuroko masih bingung dengan kalimat Akashi, dia berbalik dan melihat kearah Akashi yang menunjukan wajah dinginya.
"Iya, pernyataan cinta" tidak bisa menahan rasa malu, wajah Kuroko langsung memerah padam di depan Akashi, hingga hal itu membuat Akashi semakin ingin mendekatinya. Akashi menegapkan tubuhnya lalu melangkah kearah Kuroko yang berdiri tepat di depanya dengan mata bercahaya aquarius.
Hingga jarak itu hanya di tempuh dengan sebuah ujung sepatu, kini wajah Akashi begitu dekat dengan wajah Kuroko.
"Akashi..."
"Sebuah kecemburuan kah? Atau rasa ingin memilik saya hanya untuk anda, Tuanku?" detak jantung Kuroko semakin cepat, wajahnya yang memerah terlihat jelas, bahkan tubuhnya mulai terasa gemetar. Angin masuk dari jendela dan menerpa kearah mereka berdua, ada bau harum yang sangat nikmat di dekat Kuroko.
"Jangan memancing saya. Jika anda terus menunjukan wajah seperti itu, saya tidak bisa menahan diri saya untuk menyentuh anda" Akashi berbisik di telinga Kuroko. Kuroko memegang pundak Akashi, hingga dia meremas baju seragam sang bawahan yang dia cintai itu. Ada rasa yang aneh, saat suara Akashi berbisik di telinganya.
"Hentikan, Akashi..."
"Maafkan saya jika saya tidak bisa menghentikanya" Akashi tiba-tiba menutup mata Kuroko dengan tangan kananya, tangan kirinya memegang tangan kanan Kuroko dan bibirnya mencium lembut bibir Kuroko.
"Entah sejak kapan ini terjadi padaku, rasa yang begitu aku nantikan setiap kali dia menciumku. Walaupun rasanya aku ingin terjatuh saat itu juga namun, tanganya menyanggah tubuhku. Aku ingin berteriak. Tapi, bibirnya menutup bibirku. Akashi, cinta ini membuatku gila, apa yang harus aku lakukan ketika aku masuk dalam naskah yang kau buat? Jika aku tidak bisa memerankanya, apa kau akan membuangku? Jawablah aku"
.
.
Bulan purnama saat ini sangat cerah, cahayanya menembus ruang kerja Kuroko yang sepi dan juga sunyi. Jendelanya terbuka, ada sebuah buku yang halamnya tertera jelas, sepertinya Kuroko menyempatkan diri untuk membaca buku yang tadi dia ambil dari perpustakaan. Tapi dalam ruangan yang cukup luas itu tidak ada seorangpun yang tinggal.
Teryata Kuroko sengaja mengantar kepergian Ogiwara dan Akashi yang malam ini ada sebuah tugas. Ogiwara dan Akashi sudah menaiki kuda mereka masing-masing.
"Jangan menatap kepergianku seperti itu, Kuroko" Ogiwara mulai mengeluarkan kalimat polosnya.
"Kembalilah dengan selamat, Ogiwara" Kuroko memang terlihat sangat cemas, ada perasaan yang mengusik dirinya malam ini.
"Tenang saja, aku tidak akan mati semudah itu. Tapi, jika aku di tanggap. Aku akan membiarkan Akashi melarikan diri agar bisa memberitahumu" sekali lagi Ogiawara tersenyum sambil melihat kearah Kuroko.
"Ogiwara, jika kau mengatakan itu lagi. Aku akan menghukumu"
"Baiklah, baik. Kami akan selamat dan pulang membawa kabar baik. Kuroko jaga dirimu selama kami tidak ada" Ogiwara mengisyaratkan untuk berangkat di ikuti beberapa pengawalnya yang lain. Tapi, Akashi memilih jarak paling belakang. Dia tersenyum pada Kuroko.
"Tunggulah saya kembali, Tuanku" Akashi menatap tajam mata Kuroko yang kini membalasnya. Sangat cantik dan juga jernih, mata yang di penuhi cinta itu membuat Akashi harus tinggal beberapa detik sebelum memutuskan untuk pergi.
"Baiklah" setelah mendapatkan jawaban dari Kuroko, Akashi langsung menjalankan kudanya menyusul Ogiwara dan yang lainya.
.
.
Ogiwara menghentikan kudanya saat dia melihat sebuah rumah di tengah hutan. Dia melihat ada cahaya di dalam rumah tersebut.
"Apa kau tau tentang rumah itu?" Tanya Ogiwara pada Akashi yang berada di belakangnya.
"Bagaimana bisa kau menanyakan hal itu padaku, bahkan kau tau ini pertama kalinya aku kemari" sungguh jawaban yang tepat untuk Ogiwara.
"Hanya pada Kuroko, kau bicara sopan. Jika melihat dari sebuah jabatan, aku lebih tinggi dari jabatanmu. Akashi Seijuurou anak dari Komandan tertinggi Akashi Masaomi." tidak banyak basa-basi Ogiwara langsung menunjukan maksud dari kepergianya membawa Akashi. Mendengar namanya di sebuat Akashi tersenyum begitu dingin, dia menjalankan kudanya di samping Ogiwara dengan mata yang melihat ke rumah yang sedari tadi menyita perhatianya.
"Sudah ku duga, kau mencurigaiku. Tapi aku juga sangat terkesan, kau menyembut namaku dan ayahku sangat sempurna. Tapi, satu hal yang harus kau tau. Aku sama sekali tidak ada hubunganya dengan penyerangan terhadap Komandan Kuroko" sebelum Ogiwara memperpanjang tuduhanya, Akashi menjelesakan apa yang sebenarnya terjadi. Ogiwara belum bisa membalas kalimat Akashi, dia masih terdiam dan memikirkan alasan apa yang bisa membuat Ogiwara tidak mencurigainya.
"Apa alasanmu mengatakan ini padaku?"
"Karena aku tidak ingin membuat masalah pada Tuanku. Jika saja kau bisa berpikir, bagaimana mungkin aku menjadi pemimpin mereka ketika aku mempunyai Kuroko Tetsuya?" kalimat itu sangat membuat Ogiwara heran, 'memiliki Kuroko Tetsuya' memang Ogiwara pernah melihat mereka saling berciuman dan juga saling menunjukan perhatian tapi, apa tepat jika kalimat itu menjadi 'milik' Kuroko Tetsuya bukan sebuah barang.
"Akashi Seijuurou, kalimatmu sungguh tidak pantas di ucapkan"
"Tapi, ini kenyataan. Aku memiliki Kuroko Tetsuya, jika aku datang membalas dendam kematian ayah dan juga rakyatku maka dengan muda aku bisa membunuhnya. Tapi, itu tidak aku lakukan"
"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Aku tidak bisa percaya padamu sepenuhnya. Aku tau kau merencanakan Sesuatu tapi bukan untuk Kuroko Tetsuya" Ogiwara terus berusaha agar Akashi membuka mulutnya dan menceritakan apa yang sebenarnya dia rencanakan tapi, tidak semuda membalik telapak tangan. Akashi di lahirkan dari keluarga yang sangat terhormat dan juga memiliki otak yang cerdas.
"Ikuti saja apa yang akan aku mainkan, untuk sekarang kita hanya perlu…." Akashi menoleh kebelakang dia melihat sebuah panah yang sudah tertancap di salah satu anak buah Ogiwara.
Ogiwara langsung bersiaga, dia mengeluarkan pedangnya dan menyuruh anak buahnya bersiap menyerang. Lagi-lagi trik yang sama, mereka bersembunyi dan mengeluarkan anak panah. Ini sungguh taktik orang yang sangat paham situasi.
"Kita akan membicarakan ini lain waktu, sekarang kita pergi dari sini" Ogiwara menghentikan percakapanya dengan Akashi. Tapi, baru saja mereka akan pergi seseorang berdiri di tengah jalan sambil mengarahkan anak panah kearah Ogiwara.
"Ini benar-benar sebuah jebakan. Rumah kosong dan penghuni yang menyembunyikan diri. Aku rasa ini cocok jadi judul sebuah novel" Ogiwara memang terlihat sangat santai tapi, dalam hatinya dia menyesal datang pada perangkap musuh yang sengaja di persiapkan. Kali ini Ogiwara kalah.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Akashi tenang.
"Aku heran kenapa kau setenang itu. Tapi, mau bagaimana lagi. Seperti yang aku katakana. Kau harus pergi biar aku yang menjadi umpan," mendengar kalimat itu Akashi tertawa kecil, membuat Ogiwara mengerutkan dahinya dan melihat kearah Akashi, "ini bukan untukmu. Tapi untuk Kuroko" lanjut Ogiwara menjelaskan.
Akashi menarik nafas panjang, lalu dia menjalankan kudanya kedepan menuju seorang pemanah yang tidak jauh dari mereka.
"Jika kau melepas panahmu, aku akan melepas pedangku"
"Lakukanlah"
"Tidak, sebelum aku tau siapa yang berdiri di hadapanku" Akashi langsung turun dari kuda dan menyerang pemanah itu. Cukup tangguh sang pemanah ternyata menangkis pedang Akashi dengan busur panahnya. Akashi melihat jelas siapa yang saat ini ada di hadapanya. Karena hal itu Akashi membiarkan dia pergi begitu saja.
"Dia…. Aku pernah melihat dia. Tapi, dimana?"
To be continue…
