Kuroko no Basuke – Fujimaki Tadatoshi
FINISH!
[ Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya ]
Mayuzumi Chihiro
Ogiwara Shigehiro
.
.
Happy Reading
.
.
"Kenapa kau membiarkan dia lolos?" Ogiwara turun dari kudanya dan berlari mendekati Akashi. Akashi hanya diam dan berpikir tentang orang yang baru saja dia lihat. Wajah yang tidak asing bahkan sangat familiar bagi Akashi hanya saja, dimana dia pernah melihatnya.
"Sudahlah, masih ada jalan lain untuk menemukan mereka" jawab Akashi lalu berjalan menuju kudanya.
"Jika seperti ini bagaimana aku bisa mempercayaimu? kecurigaanku terhadapmu semakin bertambah, Akashi" ujar Ogiwara. Akashi berhenti di samping kudanya, dia melirik Ogiwara sambil tersenyum. Sambil menaiki kudanya Akashi menbalas kalimat Ogiwara yang begitu terang-teranganya dia sampaikan.
"Curigailah aku, sebelum ada bukti yang cukup kau tidak akan bisa mengurungku" mendengar jawaban santai Akashi, Ogiwara tampak semakin kesal. Akashi menjalankan kudanya pergi meninggalkan Ogiwara dan yang lainya.
.
.
"Kuroko-sama, kenapa anda belum tidur?" Kuroko melihat pintu ruang kerjanya terbuka dan seseorang masuk.
"Chihro, kau sudah kembali? Bagaimana ayah dan Momoi?" tanya Kuroko yang melihat Chihiro dengan wajah yang cukup lelah untuk melanjutkan penantianya hingga larut malam. Chihiro tersenyum melihat Kuroko yang sungguh mencemaskan ayah dan tunanganya.
"Saya mengantarkan mereka dengan selamat, Kuroko-sama" jawab Chihiro tegas.
"Syukurlah. Kau boleh kembali." perintah Kuroko yang kemudian melanjutkan pekerjaanya menandatangani beberapa berkas yang sudah menumpuk di meja.
"Lebih baik anda yang istirahat. Anda terlihat sangat lelah," Kuroko menghela nafas lalu menyandarkan tubuhnya di kursi yang dia duduki, Kuroko melihat kebelakang. Jendela besar yang menunjukan bulan yang begitu terang, cahayanya memasuki ruangan Kuroko dan menerapa wajahnya yang terlihat begitu lelah, "Apa anda mencemaskan sesuatu?" lanjut Chihiro saat melihat Kuroko gusar dan tidak tenang. Kuroko kembali ke posisi semula dan membereskan kertas yang sudah di tanda tangani.
"Ogiwara dan Akashi sedang menyelidiki tempat yang di duga markas orang-orang yang menyerang ayah kemarin. Tapi, sampai sekarang mereka belum kembali" jelas Kuroko. Chihiro cuku terkejut, bukan karena tugas yang Ogiwara lakukan, tapi Ogiwara membawa Akashi. Padahal saat ini Akashilah tersangka utama dalam kasus yang Ogiwara tangani.
"Anda tidak perlu cemas, anda sangat mengenal seperti apa Ogiwara-sama. Jadi, masalah ini anda harus percayakan padanya. Lebih baik anda istirahat sekarang" kalimat Chihiro cukup menghibur Kuroko. Dia mengangguk paham dan memutuskan untuk menuju kamarnya dan beristirahat.
.
.
Malam semakin larut Kuroko pun mungkin saat ini sudah tertidur lelap, Akashi akhirnya sampai di kediaman Kuroko. Dia segera turun dari kuda dan berlari ke suatu tempat yang mengingatkan dia pada kejadian yang baru saja terjadi.
Akashi langsung membuka sebuah ruangan yang di huni oleh beberapa pengawal yang saat ini bertugas untuk menjaga malam. Para pengawal terkejut saat Akashi tiba-tiba datang pada mereka.
"Akashi-sama, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pengawal yang menjaga.
"Apa hanya kalian bertiga yang menjaga malam ini?" tanya Akashi memastikan. Tiga orang pengawal itu saling memandang dan kemudian mengangguk bersama. Akashi menutup kembali pintu ruangan itu dan mencoba mengingat harus kemana dia pergi.
Langkah Akashi sangat pelan, matanya mengitari setiap lorong yang dia lewati, kepalanya berpikir dan mencoba mengingat siapa dan dimana dia pernah menemui orang itu. Dan mata Akashi melebar, dia berlari cepat menuju suatu tempat yang dia curigai. Sekali lagi Akashi membuka pintu sebuah kamar yang cukup lebar dan besar, hanya ada cahaya bulan yang menembus ruangan itu dan seseorang berdiri di samping tempat tidur Kuroko dengan mengacungkan pedang kearah tubuh Kuroko. Akashi yang melihatnya segera menutup pintu kamar Kuroko dan berjalan pelan mendekati orang tersebut.
"Aku sudah bilang jangan menyentuhnya" ujar Akashi kesal.
"Akashi-sama, saat ini saya belum menyentuhnya sama sekali. Bahkan ujung pedang ini belum melukainya. Apa sekhawatir itukah anda padanya?" suara yang tak kalah kesalnya dengan Akashi. Suara itu sama dengan orang yang baru saja Akashi temui di hutan.
"Hayama, hentikan!" perintah Akashi. Hayama Kotarou adalah salah satu pengawal Akashi yang selamat dari perang, memang bukan hanya Hayama ada beberapa orang lagi. Dan penyerangan itu Hayama lah yang mengatur atas persetujuan Akashi. Saat ini Hayama menjadi salah satu pengawal di kediaman Kuroko, dan itupun juga atas saran Akashi, tapi semua itu tanpa sepengetahuan Kuroko.
"Akashi-sama, anda sudah terpikat padanya. Apa anda lupa siapa yang membunuh Masaomi-sama? dan sekarang anda malah mencintainya?" Hayama kini meletakan ujung pedang miliknya di leher Kuroko. Akashi semakin panik, dia melangkah maju perlahan dan mencoba menenangkan Hayama.
"Hayama dengarkan aku. Aku yang akan melakukanya, aku berjanji padamu. Tapi, aku mohon jangan lakukan. Kita masih dalam perjanjian. Pembunuhan terhadap Kuroko kita rencanakan dalam pesta minggu depan. Jadi, aku tidak mengkhianati kalian" Hayama mengerutkan keningnya, rencana yang Akashi katakan memang benar. Mereka menyepakati untuk membunuh Kuroko dengan cara meracuninya, setelah itu mereka akan menyerang kediaman Kuroko saat Kuroko sudah terkena racun mereka.
"Anda menjadi lemah karena seorang Kuroko Tetsuya" Hayama menarik pedangnya. Hayama melihat kearah Akashi yang cukup lega. Mata Akashi hanya memandang Kuroko yang terbaring di atas tempat tidur, melihat hal itu Hayama hanya diam dan meninggalkan mereka berdua begitu saja.
"Saya akan menunggu janji anda, Akashi-sama" ujar Hayama yang keluar dari pintu kamar Kuroko. Akashi diam dalam pikiran kacaunya. Dia mendekati tempat tidur Kuroko lalu duduk di sampingnya. Wajah Kuroko sangat tenang dan juga begitu lelap, Akashi membelai rambut Kuroko pelan agar tidak membangunkanya.
"Kuroko-sama..." panggil Akashi pelan. Tapi, sepertinya Kuroko mulai mendengar suara Akashi dalam mimpinya, Kuroko membuka mata dan melihat Akashi sudah berada di hadapanya. Kuroko cukup terkejut, dia bangun dari tidurnya sambil memandang Akashi heran.
"Akashi, kenapa kau berada di sini? Bagaimana tugasmu malam ini?" tanya Kuroko yang melihat Akashi menunjukan wajah yang cukup tegang. Akashi hanya diam, dia tiba-tiba meraih pinggang Kuroko dan membiarkan tubuhnya di hangatkan oleh tubuh Tuanya. Pelukan kali ini berbeda bagi Kuroko, dia tidak membalas pelukan Akashi tapi, Kuroko membiarkan tubuhnya begitu erat dalam dekapan Akashi. "Ada apa?" lanjut Kuroko bertanya.
"Balas pelukanku, Tetsuya" mata Kuroko melebar penuh. Akashi berbicara informal padanya dan memanggil nama depan Kuroko. Tangan Akashi semakin mengeratkan pelukanya, membuat Kuroko hanya bisa melakukan apa yang Akashi katakan, tangan Kuroko memeluk punggung Akashi begitu erat, matanya tertutup dan membiarkan suasana sunyi ini menjadi milik mereka berdua.
"Akashi..." panggil Kuroko, Akashi melepas pelukan itu dan menatap Kuroko dengan mata yang sulit untuk di tebak. Mata yang biasanya dingin kini berubah menjadi sangat menyakitkan untuk Kuroko.
"Biarkan aku menciummu, biarkan aku bersamamu, biarkan aku melakukanya"
"Tunggu, apa yang sebenarnya terjadi?" Kuroko semakin heran, tapi Akashi masih membungkam mulutnya, Akashi mendekati wajah Kuroko. Tangan kananya menyentuh rambut samping Kuroko. Ketika bibir mereka bertemu tangan Akashi sudah beralih ke tengkuk Kuroko. Akashi memejamkan matanya, Kuroko masih membuka mata aquariusnya lebar walaupun perlahan mulai menyipit.
"Rasanya begitu aneh malam ini, Akashi yang aku temui tidaklah selembut ini. apa yang terjadi sebenarnya? Apa dia mengubah peranya agar aku tidak bisa menebak akan berakhir seperti apa?" Kuroko mencengkram baju Akashi ketika ciuman itu semakin terasa panas untuknya. Dan tubuh Akashi membaringkan Kuroko di atas tempat tidur. Akashi melepas ciuman itu dan melihat wajah Kuroko yang sudah memerah malu. Akashi memeluk Kuroko sekali lagi dan menyisakan tanda tanya di benak Kuroko.
.
.
Mata Kuroko terbuka saat cahaya matahari itu membuatnya terbangun, Kuroko merasa sangat lelah dan juga ada rasa sakit di bagian tubuhnya. Benar, malam itu mereka melakukanya. Dan dia melihat Akashi sudah pergi dari kamarnya.
"Kuroko..." Kuroko mendengar suara dari balik pintu, dia membenarkan bajunya dan membereskan beberapa tempat di sekitarnya. Suara itu bukan suara Akashi tapi, suara Ogiwara.
"Masuklah" perintah Kuroko. Ogiwara memasuki kamar Kuroko dan menghampiri Kuroko yang masih di atas tempat tidurnya.
"Kau bangun terlambat. Ada apa?" tanya Ogiwara heran.
"Hanya sedikit lelah. Bagaimana penyelidikanmu bersama Akashi kemarin?" Ogiwara mendesah kesal. Dia berjalan kearah Kursi yang tidak jauh dari tempat tidur Kuroko. Ogiwara duduk sambil menunjukan wajah menyesalnya.
"Itu hanya jebakan. Tapi, tadi malam Akashi bertarung dengan salah satu dari mereka. Sayangnya mereka lolos" Kuroko cukup terkejut dengan jawaban Ogiwara, apakah itu alasan Akashi bersama Kuroko tadi malam? Bukan, mungkin ada alasan lain. Sungguh kali ini Akashi bukanlah Akashi yang biasanya Kuroko kenal.
"Lalu, dimana Akashi sekarang?" tanya Kuroko.
"Tadi aku melihatnya di dalam ruanganmu. Kuroko lebih baik kau berhati-hati denganya. Ingatlah kau adalah anak seorang komandan dan sudah mempunyai tunangan. Bagaimana jika namamu tercemar karena dia?" Ogiwara mengingatkan Kuroko tentang Akashi, walaupun Kuroko lah yang lebih paham siapa dan bagaimana Akashi. Tapi, kalimat berhati-hati ini memang harus Kuroko terapkan untuk dirinya. Ogiwara keluar dari kamar Kuroko setelah menyuruh Kuroko untuk bersiap-siap.
.
.
Kuroko sudah siap, dia memakai seragam seperti biasanya dan berjalan menuju ruang kerjanya. Siang ini Kuroko dan yang lain akan melakukan rapat dan membahas orang yang Akashi temui tadi malam.
Kuroko membuka pintu ruang kerjanya dan berharap Akashi masih berada di sana, dan benar. Akashi masih berada di tempat yang Ogiwara katakan. Kuroko menutup pintu dan berjalan mendekati Akashi yang sedang sibuk membereskan buku-buku Kuroko yang sudah dia baca.
"Akashi... aku ingin bertanya padamu. Dan aku ingin kau menjawabnya dengan jujur" ujar Kuroko yang menurut Akashi itu sudah jelas tentang tadi malam.
"Tentang tadi malam, saya tidak bermaksud demikian pada anda, Tuanku. Tapi, jika anda menyukainya bagaimana jika nanti malam saya melakukanya lagi" Akashi tersenyum pada Kuroko, sedangkan Kuroko terlihat sangat marah karena kalimat tidak sopan Akashi itu.
"Dia sangat pintar berakting" gumam Kuroko dalam hati. Kuroko tidak menanyakan lagi tentang tadi malam, dia menuju mejanya dan melihat semua berkas rapi dan siap untuk di tanda tangani Kuroko. Akashi masih sibuk membereskan buku Kuroko, sedangkan Kuroko masih tidak paham dengan perlakukan Akashi tadi malam, dia memandang Akashi sangat dalam walaupun tanganya sudah memegang bolpoin dan siap untuk melanjutkan pekerjaanya.
"Jangan memandangi saya seperti itu. Bagaimana jika anda semakin tertarik pada saya?"
"Iya"
"Ha?"
"Aku memang semakin tertarik padamu, Akashi Seijuurou. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Akashi melihat kearah Kuroko dengan wajah yang terkejut. Beberapa detik kemudian Akashi tersenyum, dia menaruh buku itu di meja yang bersebrangan dengan Kuroko. Lalu mendekati Kuroko dengan batas meja yang cukup lebar untuk mencium bibir Kuroko.
"Yang perlu anda lakukan sekarang," Akashi menahan tubuhnya dengan tangan kanan yang berada di meja sedangkan tubuhnya condong kearah Kuroko dengan wajah dinginya, "Cukup mencium saya. Mungkin itu akan lebih baik"
Kuroko berdiri dari kursinya dan mencium bibir Akashi begitu saja. Sungguh sebuah kejutan untuk Akashi, pagi ini dia mendapat suguhan yang sama sekali tidak bisa dia tebak akan terjadi. Bahkan dari pintu yang baru saja terbuka Ogiwara dan Chihiro melihat apa yang mereka berdua lakukan. Ogiwara dan Chihiro hanya bisa mematung di depan pintu tanpa melangkah masuk.
To Be Continue...
NB : Bagaimana? kalian masih ingin melanjutkan ini? saya bingung. sebenarnya ini tinggal 2 Chap lagi :) lho. Btw, jangan lupa ya dengerin lagunya Fujita Maiko - Sotsugyou. lagu itu pas banget sama ini Fict :)
