Kuroko no Basuke – Fujimaki Tadatoshi
FINISH!
[ Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya ]
Mayuzumi Chihiro
Ogiwara Shigehiro
Momoi Satsuki
Hayama Kotaro
.
.
Happy reading
.
.
Mata Chihiro dan Ogiwara masih melebar saat mereka baru saja melepas ciuman melihat kearah pintu dengan wajah yang datar seakan tidak terjadi apa-apa.
"A-Apa yang- kalian lakukan?"Kalimat Chihiro tersendat, wajahnya tidak memerah karena malu melihat hal itu tapi, karena dia kesal dengan kelakuan Akashi yang tidak menolak menerima ciuman dari Kuroko.
"Kuroko…." Ogiwara memang bukan sekali ini saja melihat mereka berciuman tapi, apa harus di lakukan di dalam ruang kerja yang siapa saja bisa masuk kedalamnya?
"Apa rapat akan di mulai?"Tanya Kuroko santai sambil melihat kearah mereka menoleh kebelakang tanpa merasa berjalan mendekati Kuroko dan berdiri di samping kursi Kuroko.
"Kuroko-sama, apa yang anda lakukan pada Akashi?"Chihiro geram.
"Bukan kah sudah terlihat jelas, aku mencium Akashi" sungguh jawaban yang tidak di duga oleh Chihiro dan Ogiwara, bahkan Akashi yang berada di sampingnya. Mata merah yang tajam itu menatap dalam'Tuanya'
"Tapi…"Chihiro masih ingin membahas apa yang dia lihat baru saja, tapi Ogiwara mencegahnya. Tangan Ogiwara memegang pundak Chihiro, lalu berjalan masuk kearah Kuroko yang sudahd uduk di menatap Kuroko aneh, begitu juga Kuroko. Mata aquarius yang biasanya indah dan juga hangat kini terlihat seperti es yang dingin dan sudah membeku.
"Minggu depan adalah pesta pernikahan anda dengan adik saya" ujar Ogiwara mulai memancing Kuroko.
"Aku tau, dan apa kau sudah mempersiapkan semuanya?"Kuroko masih bersikap tenang.
"Sudah, dan sebelum membicarakan hal penting rapat di mulai. Kuroko-sama…" Ogiwara menegaskan nama Kuroko. Setelah mengatakan hal tersebut Ogiwara keluar dari ruangan Kuroko begit usaja, Chihiro pun mengikutinya keluar.
Kuroko menghela nafas sambil menyandarkan tubuhnya di kursi, rasanya kalimat dan ekspresi tadi sangat dingin. Tapi, apa boleh buat Kuroko tau mereka berdua menyelidiki hubungan Kuroko dan Akashi, dan kali ini Kuroko meyakinkan mereka bahwa hubungan itu memang terjadi. Tapi, apa yang Kuroko pikirkan sampai harus melangkah sejauh itu?
"Peran anda sangat sempuran" puji Akashi.
"Ah, karena aku belajar darimu" Kuroko berdiri, mengambil beberapa kertas di meja lalu melangkah keluar masih diam di tempat dengan wajah begitu sulit di katakan. Dia yang tadi malam memulainya dan pagi ini Kuroko meneruskanya..
.
.
Tepat pukul satu malam, ruang kerja Kuroko terbuka dengan lampu yang masih menyala. Kuroko duduk di kursinya sambil memejamkan mata. Banyak hal yang terjadi dan dia pikirkan malam ini. bukan hanya tentang Akashi, tapi juga tentang ayah dan juga pernikahanya. Apa lagi baru saja Kuroko harus mendapat teguran keras dari Ogiwara.
.
.
Flashback
"Aku ingin bicara" Kuroko baru saja berjalan menuju kamarnya, tapi Ogiwara datang dan menghampiri Kuroko untuk di ajak bicara.
Ogiwara memilih tempat yang cukup sepi malam itu, tepat di samping ruang kerja Kuroko tepatnya di halaman samping, Ogiwara berusaha menasehati Kuroko.
"Apa yang kau lakukan tadi?" tanya Ogiwara membahas kejadian pagi ini.
"Aku hanya meyakinkan penyelidikan kalian. Aku tadi mencium Akashi" Ogiwara sangat bingung dengan jawaban santai Kuroko. Ogiwara sangat kesal dan juga marah, tapi semua itu sudah terjadi dan terlihat jelas di hadapanya. Waktu ciuman pertama yang Ogiwara lihat, mungkin Ogiwara masih mempertimbangkan untuk menegaskan posisi Kuroko, tapi kali ini sudah kelewatan.
"Kuroko, aku tidak peduli kau berhubungan dengan siapapun. Tapi, saat kau tidak punya pasangan. Sekarang kau adalah tunangan adikku, Momoi. Apa pantas kau melakukan hal seperti tadi?" Kuroko terdiam, wajahnya tampak menyesal. Tapi, hal ini tidak bisa di hindari lagi. Jika memang pernikahan Kuroko terjadi, maka inilah saatnya mengakhiri hubunganya bersama Akashi.
"Maafkan aku, Ogiwara. Aku tidak bermaksud seperti itu"
"Aku paham, " Ogiwara menatap Kuroko sangat dalam, seakan masuk kedalam pikiran laki-laki berwajah datar itu, "Tapi, kau juga salah. Karena aku kau memilih Momoi dan karena menghindariku kau menikahi Momoi" kalimat yang sangat tidak jelas. Kuroko membalas tatapan aneh Ogiwara.
"Ini adalah keputusanku Ogiwara, bukan karenamu"
"Iya, tapi sebagian karena aku. Karena aku berani menyatakan cinta padamu, Kuroko" mata Kuroko melebar. Ada rasa yang sangat sakit dalam hatinya saat ini. Kuroko menganggap Ogiwara seperti kakak kandungnya sendiri, tapi satu tahun yang lalu Ogiwara tiba-tiba menyatakan perasaanya pada Kuroko. Perasaan yang seharusnya tidak di miliki oleh sesama laki-laki apa lagi sebagai sahabatnya sendiri, dan untuk menghindari hal itu Kuroko mendekati Momoi dan mengajaknya bertunangan.
"Aku ingin istirahat, masalah ini tolong jangan bahas lagi. Aku akan tetap menikah dengan Momoi" Kuroko semakin terbebani dengan kalimat Ogiwara, dia memilih untuk pergi dari tatapan tajam calon kakak iparnya itu.
FlashEND
.
.
Kuroko membuka matanya. Kepalanya terasa sangat sakit dan juga pening, dia menutp wajahnya sambil menghela nafas begitu berat.
"Istirahatlah" suara itu, Kuroko langsung melihat kearah pintu ruanganya yang masih terbuka. Akashi berdiri sambil menyandarkan dirinya di tembok. Mata Akashi memandangi Kuroko yang masih menatapnya lelah.
"Kau belum tidur, Akashi?" tanya Kuroko.
"Bagaimana saya bisa tidur jika anda masih membuka mata anda dan berpikir banyak hal karena pagi tadi. Sepertinya anda mendapat teguran dari Ogiwara-sama" Akashi berjalan kedalam lalu meutup pintunya.
"Kau mendengar pembicaraan kami?" tebak Kuroko.
"Iya, walaupun saya tidak sengaja mendengarnya" langkah kaki Akashi semakain dekat dengan Kuroko hingga jarak mereka kini hanya sebuah meja yang cukup panjang dan juga lebar. Mata Kuroko menatap Akashi, yang kini tersenyum manis di hadapanya.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya?"
"Apa anda benar akan menikah?"
"Jawablah pertanyaanku lebih dulu"
"Bagaimana jika jawaban saya adalah memiliki anda, Kuroko-sama. Lalu apa yang akan anda lakukan? Membatalkan pernikahan anda?" kalimat itu jujur. Kalimat yang hanya Kuroko dengar dari bibir Akashi. Walaupun dia pernah mendengar dari Ogiwara, tapi perasaan Kuroko tidak meresponya. Tapi, karena ini kalimat dari Akashi, perasaan Kuroko bergetar hingga membuat kepala Kuroko terasa lebih sakit.
Kuroko sekali lagi menghela nafas lalu bersandar di kursinya, Akashi cukup terkejut saat melihat wajah Kuroko memerah dan berkeringat. Akashi berjalan kearah Kuroko, lalu memegang pipi Kuroko.
"Wajah anda merah dan berkeringat. Apa anda baik-baik saja? Anda merasa sakit?" nada suara Akashi terdengar sangat cemas, dia menurunkan lutut kananya ke lantai dan menyamakan posisi mereka. Kuroko hanya diam dan menatap Akashi lembut.
"Jantungku, tubuhku, dan semuanya yang ada dalam diriku seakan penuh dengan dirinya. Apakah perasaanya sama terhadapku? Akashi Seijuurou, apa yang kau lakukan padaku sebenarnya" gumam Kuroko dalam hati.
"Kuroko-sama... "
"Jika kau ingin memilikiku, milikilah aku sepenuhnya. Karena akupun ingin menjadi milikmu" Akashi sangat terkejut dengan kalimat Kuroko, apa lagi ketika Kuroko memegang kera bajunya dan mengarahkan bibir Akashi kearah bibirnya dengan sisa tenaga yang Kuroko punya.
Ciuman singkat itu membuat Akashi tersenyum, saat Kuroko melepasnya.
"Baiklah, jika itu yang anda inginkan" Akashi membalas ciuman Kuroko lebih dari yang Kuroko bayangkan. Dengan menahan nafas dan sakit di kepalanya Kuroko mencoba membalas, tapi gagal. Ciuman itu harus merenggut suara Kuroko. Dia hanya bisa meremas rambut Akashi dan meneteskan air matanya perih.
Semakin dalam ciuman itu hingga membawa Akashi harus berhadapan langsung dengan Kuroko yang masih di atas kursi. Perlahan tangan Akashi melepas baju Kuroko, hingga kedua kalinya terjadidimanamalamituhanyamilikmerekaberdua. Tanpa mereka tau ada seseorang yang melihat dari luar jendela Kuroko, dia mengarahkan anak panahnya pada Kuroko, tapi saat Akashi bersamanya anak panah itu dia turunkan dan membiarkan kejadian itu begitu saja.
"Mungkin ini yang terakhir bagimu, Kuroko Tetsuya"
.
.
1 Minggu Kemudian
.
.
Sangat ramai dan juga mewah, semua orang dan saudara Kuroko datang ke acara yang sungguh di nantikan. Sebentar lagi Fujimaki Kuroko akan menjadi seorang pensiunan dan diganti oleh anaknya Kuroko Tetsuya. Di damping Momoi yang begitu mencintai Kuroko membuat sang ayah melepas anaknya dengan tenang.
"Dimana Tetsuya?" tanya Fujimaki Kuroko yang saat ini menyapa para tamu di dampingi Chihiro.
"Saya akan mencari Tetsuya-sama, mohon anda tunggu di sini"
"Baiklah" Chihiro meninggalkan pesta dan mencari keberadaan Kuroko yang masih tidak di ketahui.
Tetsuya saat ini berada di dalam ruang kerjanya dengan baju pernikahan yang mewah. Mata Tetsuya menatap tajam sebuah lingkaran kecil di dalam kotak merah yang akan dia sematkan di jari manis calon istrinya. Pikiran itu tiba-tiba hilang saat Akashi masuk membawa minuman pesanan Tetsuya.
"Saya membawa pesanan anda," Akashi masuk ke dalam ruangan Tetsuya sambil membawa secangkir gelas. Tetsuya diam dan melihat kearah Akashi yang berjalan pelan, "apa anda gugup?" Akashi menaruh gelas itu di depanTetsuya. Tanpa banyak Tanya Tetsuya mengambilnya dan meminum habis isi dalam gelas yang Akashi bawa.
"Tetsuya-sama…. Apa anda tidak mencurigai minuman yang saya berikan pada anda?" Akashi menatap Tetsuya yang saat ini menelan habis isi gelasnya. Tetsuya menaruh gelas kosongnya di meja lalu melihat kearah Akashi.
"Jika aku mencurigainya, kenapa? Kau tidak akan berani meracuniku"
"Benarkah? Itu anggapan anda?" mata mereka saling memandang satu sama lain. Ada hal yang ingin Akashi sampaikan pada Tetsuya, tapi terlambat. Semuanya akan berakhir sesuai rencana yang akan Akashi susun. Sampai akhirnya seseorang datang dan masuk ke dalam ruanganTetsuya.
"Tetsuya-sama, anda harus segera akan di mulai"Chihiro masuk sambil melirik kearah berdiri lalu berjalan keluar ruang kerjanya meninggalkan Akashi yang memandanginya hampa. Akashi masih terdiam di tempat, dia melihat Hayama yang sudah mulai melancarkan serangan, Hayama mengangguk pada Akashi dari luar jendela ruangan Tetsuya.
"Anda mengetahui semuanya, Tetsuya-sama" gumam Akashi lirih sambil melihat kearah pintu keluar.
.
.
Tetsuya sampai di tengah-tengah pesta, saat ini pernikahan akan di mulai. Bahkan Momoi sangat bahagia ketika melihat Tetsuya berjalan kearahnya. Dengan gaun yang sangat indah dan juga mewah, Momoi terlihat begitu cantik di dampingi sang kakak di dekat altar pernikahan yang di gelar di kediaman Tetsuya. Tetsuya merapikan jasnya dan berjalan kearah Momoi.
Wajah Tetsuya sangat sulit di tebak, matanya memandang ke arah Momoi tapi hatinya memandang orang yang berbeda. Langkah Tetsuya yang semula terlihat yakin tiba-tiba berat. Matanya memandang ruangan menjadi kabur dan sedikit gelap. Tetsuya menghentikan langkahnya sambil memegangi kepalanya. Semua orang yang melihat tampak terkejut.
"Tetsuya-sama..." Chihiro berlari menuju kearah Tetsuya dan langsung memegang tubuh Tetsuya yang akan terjatuh, "Apa anda baik-baik saja, Tetsuya-sama?" tanya Chihiro meyakinkan di susul dengan Momoi, Ogiwara dan Fujimaki yang menuju kearah Tetsuya.
Tapi, Tetsuya tidak merespon. Pandanganya semakin gelap dan tiba-tiba tubuh Tetsuya terjatuh kearah Chihiro dengan mata yang sudah tertutup.
"Tetsuya...!" suara yang Tetsuya dengar kini mulai hilang.
To Be Continue...
NB : Yo minna-san maaf ya mungkin kalau typo banyak. saya buat di dua tempat, di kantor dan di rumah. tapi anehnya kok tiba-tiba saat aku bawa ke kantor jadi dempet semua tulisan jadi aku belum sempat cek semuanya lagi. yang penting paham ya hehe~
tinggal 1 Chap lagi
