Title : The Forgotten Memory

Genre : Drama, Tragedy, Family, Romance

Disclaimer : Kuroko no Basuke - Tadatoshi Fujimaki

Rated : T - Semi M

Character : Aomine, Kise, Kuroko and others

WARNING : YAOI (MALE X MALE), EYD AND TYPO.

Cerita ini hanya fiksi belaka. Tidak suka? Silahkan beri kritik.

...

Chapter 2 : when we met.

5 Tahun Silam

Kyoto

AOMINE sedang melaksanakan tugas patroli malamnya. Menjadi seorang polisi muda memang berat. Di umurnya yang ke 25 tahun, ia harus rela kehilangan jam tidurnya untuk patroli malam. Pola hidupnya benar-benar berubah sejak ia resmi menjadi polisi enam bulan lalu.

Aomine memperhatikan langit malam saat itu. Meresapi semua keheningan yang ada. Tak dihiraukannya dingin malam yang merusuk tubuh. Ia tetap berkeliling dengan sepeda tua dan senter ditangan.

Kyoto memang sebuah kota yang berbeda dengan tokyo yang tak pernah tidur. Di kyoto, hanya sedikit orang yang berlalu-lalang pada malam hari. Mereka memilih untuk tetap tinggal dirumah dan menghabiskan waktu mereka di tempat yang aman. Tingkat kriminalitas di Kyoto tidak setinggi kota-kota besar, tapi bukan berarti malam hari aman dari segala macam kejahatan. Aomine sudah mulai terbiasa tinggal di Kyoto. Selain karena kota ini cukup tenang, penduduknya pun terbilang ramah -kecuali pemilik tempat tinggalnya yang cerewet itu-.

Menjadi polisi adalah impian Aomine sejak kecil. Mengikuti jejak sang ayah, Aomine tumbuh menjadi sosok polisi yang gagah dan tampan. Aomine di didik sangat keras oleh sang ayah, tak heran Aomine memiliki perawakan dan sifat yang keras. Aomine ingat saat umurnya 5 tahun, saat itu ia mengatakan ingin menjadi polisi pada ayahnya. Sejak saat itu Aomine di didik sangat disiplin dan keras. Ahh.. ingatkan Aomine untuk berterima kasih pada ayahnya setelah tugasnya di Kyoto selesai.

Aomine sudah berkendara hampir setengah kota Kyoto. Aomine tiba disebuah perempatan jalan raya. Ia hendak berbelok kearah kanan, namun suara ribut perkelahian terdengar dari sisi sebaliknya. Suasana saat itu memang sepi -tidak ada kendaraan ataupun pejalan kaki yang lewat-, jadi Aomine dapat mendengar suara perkelahian di sebuah gang kecil. Aomine mengayuh sepedanya cepat menghampiri sumber suara gaduh itu.

"HOIIIII.." teriak Aomine saat ia melihat empat orang preman mengelilingi seorang yang tak berdaya. Kelompok preman itu berhenti sejenak, melihat sekilas kearah Aomine dan mereka sadar bahwa polisi datang

"POLISI.. LARI" sekelompok preman itu pun lari meninggalkan korban yang baru saja mereka pukuli. Aomine hendak mengejar kelompok preman itu, jika saja ia tidak melihat sosok penuh luka tergeletak begitu saja.

Aomine meletakan sepedanya. Ia menghampiri sosok tak berdaya itu. Ditepuk-tepuknya pipi si korban, "Oy, bangun.." nihil tidak ada jawaban. Aomine masih bisa mendengar deru nafas berat.

"Ahh.. sepertinya dia pingsan" desis Aomine.

Pertemuan pertama mereka

Pertemuan yang mengikat..

...

Aomine membeli beberapa bungkus roti di minimarket rumah sakit. Akibat kejadian semalam, mau tidak mau Aomine membawa korban dari pengeroyokan itu kerumah sakit terdekat. Aomine memang ahli menangkap penjahat tapi untuk merawat luka ia bodoh. Alih alih luka sembuh, adanya dia malah membuat si korban makin sekarat. Beruntung hari ini ia dapat shift jam 11 siang. Ia melirik jam tangannya, masih jam 9 pagi. Aomine harap orang itu sudah sadar. Mungkin ia bisa mengajukan beberapa pertanyaan pada orang yang semalam ia tolong.

Bau obat antiseptik begitu menyengat, khas bau rumah sakit. Sebuah pintu bernomor A345 terlihat jelas menghadang Aomine. Pintu itu ia buka, menampilkan sesosok pria dengan helaian kuning sewarna mentari. Pria pirang itu -begitu cara Aomine memanggilnya- duduk menyender di ranjangnya. Pria itu menoleh kearah Aomine dan tersenyum sehangat pagi. Aomine tertegun sesaat melihat pahat Tuhan dihadapannya. Begitu sempurna.. Aomine hampir saja jatuh ke dalam khayalannya jika ia tidak ingat tujuannya kemari. Lagipula.. apa-apaan pikirannya tadi. Ia pria normal..

"Kau sudah bangun, pirang?" tanya Aomine. Aomine melempar sebungkus roti pada pria itu "Makanlah.." titah Aomine san di balas anggukan lemah si pirang.

Aomine duduk di sebuah kursi yang berada di kamar rawat itu. Posisi kursi itu berada di samping ranjang rawat. Dari posisi ini Aomine dapat melihat si pirang dari samping. Sesekali Aomine melirik kearah si pirang yang sedang menikmati rotinya. Keheninangan menyapa mereka. Suasananya begitu kaku dan canggung.

"Hmm.. jadi.." Aomine baru akan buka suara ketika suara lain menginterupsinya.

"Terima kasih telah menolong ku." Suara itu berasal dari sosok berambut pirang. Ucapannya tulus dari hati, mulutnya tersenyum lebar dan matanya pun bersinar cerah.

Aomine berdehem " Sudah kewajibanku menolong warga yang kesusahan. Jadi siapa namamu dan apa yang sebenarnya terjadi semalam?"

Si pirang tertawa renyah, menampilkan rentetan jajaran putih giginya. "Kau terdengar seperti seorang superhero. " Pemuda itu menghentikan tawanya ketika mendapat tatapan kesal Aomine "Maaf maaf.. namaku Kise Ryota, panggil saja Kise atau Ryota terserah kau saja. Dan kejadian semalam ya? Hmm.. aku tidak terlalu ingat. Yang ku ingat aku baru tiba di Kyoto saat malam dan saat sedang berkeliling mencari penginapan yang kosong. Lalu orang-orang itu datang dan meminta uang padaku. Tentu saja aku menolak dan setelah itu mereka menarik ku kesebuah gang selanjutnya aku dihajar. Itu saja yang ku ingat" jelas pemuda pirang yang bernama Kise itu.

Aomine mendengarkan cerita Kise. Ia mengangguk mengerti "Lainkali kau harus berhati-hati. Kyoto memang tempat yang minim kejahatan tapi bukan berarti tidak ada orang jahat disini." Aomine beranjak dari tempatnya. "Istirahatlah.. aku harus bekerja. Aku akan menengok mu lagi nanti malam"

Sebuah pertanyaan terdengar ketika Aomine membuka pintu, "Hei.. siapa nama mu?"

Aomine melangkah maju tanpa menoleh kebelakang "Aomine Daiki" dan pintu pun tertutup.

Cuma perlu sebuah pemantik api.

Untuk membakar habis semuanya.

Hingga tersisa keinginan dan gairah.

...

Aomine melepas seragam polisinya dan menggantinya dengan kaos berwarna biru tua dan celana jeans hitam. Diletakannya seragam itu ke dalam loker pribadinya. Kemudian ia mengambil kunci motor nya dan jaket yang tersimpan di dalam loker. Aomine melirik jam dinding, menunjukan pukul 9 malam. Shift nya memang sudah selesai tapi biasanya Aomine akan pulang lebih lama dari yang lainnya. Ia akan berpatroli dulu hingga pukul 12 malam baru kemudian pulang. Si pirang itu berhasil membuatnya pulang lebih cepat .

"Mau pulang Aomine? Tumben.."

Aomine menoleh kearah seniornya "Ahh iya Kasamatsu-senpai, aku mau kerumah sakit " Jawab Aomine sopan.

"Ohh, menemui korban pengeroyokan itu ya. Baiklah.. sampaikan salam ku padanya." ucap Kasamatsu.

"Baik. Aku permisi dulu senpai" pamit Aomine.

Suara angin berdesir pelan membelai permukaan malam. Aomine nampak berfikir diatas jok motornya. Si pirang itu sudah makan belum ya?, Sup Kerang sepertinya enak, bagaimana kalo beli itu?, eh tapi bagaimana kalo dia sudah tidur?, apa tidak masalah jika aku kesana? dan beragam macam pertanyaan lainnya.

Aomine mengacak rambutnya frustasi. Sial.. kenapa ia memikirkan si pirang itu..

"Sudahlah.. beli sup kerang saja" ucapnya sebelum melajukan motornya ke kedai makanan terdekat.

...

Seorang perawat baru saja keluar dari kamar rawat Kise. Sedikit was-was di hati Aomine. Si pirang baik-baik saja kan? Setaunya tidak ada luka serius.

"Apa ada sesuatu ?"

Perawat itu memandang Aomine. Tubuh tinggi itu berdiri menghalang jalan si perawat.

"Ahh tidak, saya hanya mengganti selang infus Tuan Kise. Ia baik-baik saja. Saya permisi dulu"

Aomine menghela nafas lega. Tidak.. tidak ia sama sekali tidak mengkhawatirkan pemuda itu. Ia hanya merasa sedikit bertanggung jawab. Hei.. dia ini polisi kan. Sudah pasti ia bertanggung jawab dengan orang-orang yang mengalami masalah karena tindak kriminal. Ini hanya sebuah tanggung jawab, tidak lebih..

Seharusnya kau tak menolak..

Karena rasa tak ada yang tahu..

Kise masih asik menonton acara televisi ketika Aomine datang. Aomine meletakan sup kerang yang dibawanya diatas meja.

"Bagaimana kondisi mu?. Ku bawakan sup kerang. Ku harap kau menyukainya" Aomine mendudukan dirinya di sebuah kursi. Melepas lelah ditubuhnya akibat bekerja.

"Terima kasih sup kerangnya dan aku baik baik saja. Dokter bilang besok aku sudah bisa pulang" jawab Kise yang dibalas anggukan mengerti Aomine.

Aomine sibuk memencet tombol televisi, mencari acara yang menurutnya bagus. Apa-apaan tadi yang di tonton Kise, drama malam. Selera yang buruk...

"Hei.. kenapa mengganti acara ku? Aku sedang menonton tau. " protes Kise yang malah diabaikan Aomine.

"Oyy.. Aominechii. Kenapa diganti. Kembalikan remot nya. " kali ini Kise berusaha merebut remote TV yang dipegang Aomine

"Tidak mau! Lebih baik nonton berita lebih bermutu. Dan apa itu Aominecchi?"

Panggilan Kise jelas saja mengundang protes sang pemilik nama. Enak saja nama kerennya ditambah embel-embel aneh.

"Anggap saja panggilan spesial. Lagipula aku biasa menambahkan suffix cchi pada orang-orang yang ku anggap teman. Kita teman kan Aominecchi? "

"Terserah kau sajalah, Kise"

Kata itu menjadi pengikat..

Melebur menjadikan mu satu..

...

Kise tertidur diranjangnya. Entah kelelahan setelah berebut remote TV dengan Aomine atau karena kekenyangan Sup Kerang. Entahlah, Aomine tidak peduli. Setelah Kise tertidur suasana menjadi sunyi, siapa sangka pria pirang itu ternyata sangat berisik. Aomine bangkit dari posisi duduknya semula. Ia harus pulang kerumah dan bersiap untuk kembali bekerja esok.

Kise menggeliat resah dalam tidurnya. Nampak gelisah, seolah ada yang menganggu tidurnya. Hanya sebentar kemudian kembali tenang. Aomine melihatnya, tapi ia tak peduli. Berusaha tetap acuh dan pergi meninggalkan Kise.

'Mungkin hanya mimpi buruk' batin Aomine sambil berlalu.

Sepanjang koridor rumah sakit. Pikiran Aomine tak tenang. Antara rela dan tidak rela meninggalkan Kise sendiri. Dan akhirnya ia memilih mengalah pada egonya. Ia kembali ke kamar rawat Kise dan memutuskan untuk tetap disana menemani Kise. Entah kapan rasa iba itu muncul. Kondisi Kise yang penuh luka dan tidur Kise yang gelisah membangkitkan sifat kelelakian Aomine untuk melindungi.

Terkejut.. begitulah ekspresi Aomine ketika melihat Kise duduk di ranjangnya. Wajahnya penuh keringat dan tatapannya kosong. Aomine setengah berlari menghampiri Kise. Mengguncang tubuh Kise untuk menyadarkannya.

"Hei Kise.. ada apa? Hei.." panggil Aomine

Kise menatap mata Aomine. Matanya berkaca-kaca, tangannya mengenggam erat selimutnya. "Aominecchi.. aku takut.." lirihnya parau.

Kise begitu rapuh dan lemah. Bagai ranting muda merunduk layu. Hanya Kise yang menyita perhatian Aomine. Wajah secerah mentari itu berganti gelap. Aomine tak tega sungguh. Hatinya berontak untuk melindungi Kise dalam rengkuhannya. Gugup bercampur khawatir Aomine membawa kepala Kise ke dalam dekapannya.

"Aku disini. Jangan menangis. Aku bersama mu" bisik Aomine menenangkan.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Aomine memeluk seorang lelaki. Ia merasa perasaan aneh menjalar di dadanya.

Ganjil..

Tapi nikmat..

Biar hati yang menjadi mata angin.

Ketika kau berada di persimpangan...

...

Cahaya pagi menembus celah-celah tirai. Membangunkan Aomine yang tidur terduduk di pinggir ranjang Kise. Aomine menggeliat pelan tanpa suara. Tidak ingin membangunkan sosok yang semalam begitu rapuh.

Aomine memandangi wajah tidur Kise. Wajahya begitu sempurna. Pahatan Tuhan yang begitu indah. Hidungnya mancung, dagunya landai menawan. Kelopak matanya menyerupai bulan sabit dihiasi bulu mata yang lentik menutupi bola mata sewarna mentari.

Ia bukan hanya tampan..

Ia cantik ..

Ia bidadari yang mewarnai musim semi..

Tiba-tiba saja Kise membuka matanya. Tak di sangka. Ia mengerjapkan matanya dan menoleh kearah Aomine yang langsung menatap kearah lain. Tak ingin tertangkap basah sedang memperhatikan keindahan Kise.

"Selamat pagi Aominecchhi" sapa Kise riang. Sepertinya ia sudah lupa dengan kejadian semalam dan tidak sadar jika tadi Aomine memperhatikan wajahnua. Ahh biarlah.. begini lebih baik daripada Aomine harus terjebak dalam kecanggungan.

"Pagi Kise. Hari ini kau boleh keluar dari rumah sakit kan?" Tanya Aomine memastikan.

"Yaa.. hari ini aku keluar. Terima kasih ya sudah merawat ku" jawab Kise tulus.

Aomine menatap Kise. Tangannya terlipat didada. "Setelah ini kau mau kemana?"

Kise merubah posisinya dari telentang menjadi duduk. Ia menggidikan bahunya "Entahlah.. Aku bisa kemana saja. Lagipula aku kesini untuk berlibur. Menghilangkan penat dari ibukota"

Aomine mendelik kesal "Kau ingin di keroyok lagi ya? klo memang kau berlibur disini seharusnya kau sudah mempersiapkan tempat menginap bodoh! Sekarang ini sedang musim liburan sekolah. Pasti penginapan banyak yang penuh."

Kise nampak tak peduli "Aku bisa tidur dimana saja jika tidak mendapat penginapan. Di tempat-tempat umum mungkin, di stasiun atau dipertokoan atau dimanapun. Lagipula aku ini pria Aominecchi. Aku bisa menjaga diriku. Kemarin aku sedang sial saja"

Kise menatap keluar jendela. Ada desiran aneh merasuk dirinya. Perhatian Aomine mulai menganggunya.

"Tinggalah di tempat ku. Masih ada kamar kosong yang bisa kau pakai. Lebih aman dan kau bisa menikmati liburan mu" kata-kata Aomine terlontar begitu saja. Membuat Kise menoleh cepat dan hendak menolak. Ia tidak bisa merepotkan Aomine terus menerus. Bukankah liburannya ke Kyoto karena ia ingin mencari kebebasan?

"Aku tidak menerima penolakan. Lagipula anggap saja aku menyewakan kamar ku padamu. Kau cukup membayarnya dengan membuatkan ku sarapan pagi" sambung Aomine cepat.

Lidah Kise kelu. Terlalu kaget dengan penawaran Aomine. Mereka baru bertemu dalam beberapa hari dan Aomine dengan mudahnya menawarkan rumahnya untuk ia tinggali sementara. Mungkin ini sebuah keberuntungan..

"Terima kasih Aomimecchi. Aku akan dengan senang hati membuat sarapan untuk mu"

Awal kisah ini baru dimulai..

Membawa kita masuk lebih dalam..

Kemanakah ia akan pergi?

...

AKU berhenti mengetik.

Menunggu Aomine kembali melanjutkan ceritanya. Namun ia malah sibuk memainkan rokok ditangannya. Sesekali menghisapnya dan memyemburkan asapnya ke langit.

"Aku tidak menyangka Aomine-kun bisa dengan mudah berbagi tempat tinggal dengan orang baru. Selanjutnya apa yang terjadi?" Aku sedikit berkomentar sambil menunggu kalimat yang akan muncul dari pria dihadapanku.

Aomine mengabaikan perkataan ku. Kini ia asik menatap layar ponselnya. Ada beberapa notification muncul. Sepertinya ia terlalu asik bercerita dan aku pun terlalu asik menulis, hingga tidak sadar suara ponsel berdering. Aku melihat Aomine membaca pesan-pesan itu. Ia mematikan rokok ditangannya dan bergegas berdiri.

"Aku harus kembali bekerja.. akan ku lanjutkan besok, Kuroko-KUN"

Dan dia pergi meninggalkan ku begitu saja..

Aku hanyalah sebuah cangkir untuk menampung kisahnya.

Tempat Aomine menuangkan air hidupnya..

"Dasar seenaknya.."

-TBC-

Notes : Saya tidak tahu apakah cerita ini cukup menarik atau tidak. Tapi saya berterima kasih untuk kalian yang sempat membaca cerita ini. Saya akan berusaha untuk melanjutkan cerita ini dan cerita yang lainnya. Saya menunggu komentar, saran, masukan , atau kritik dari kalian semua. Terima kasihh.

With love

Rainy Hanazawa