Summary: Karma dibuang oleh Koro-sensei kedunia cinderella. Akankah semuanya akan berjalan baik seperti dalam cerita yang seharusnya?

Warning: BoyxBoy (YAOI)

"Jangan memancing Ren. Aku lelah dan ingin tidur. Jika kau tidak ada pertanyaan lagi aku akan segera pergi kekamar." Asano tertatih menuju pintu kamarnya yang setengah terbuka. "Ah iya ada satu lagi, kenapa disini anda mencari lelaki bukannya perempuan?" Ren cukup heran juga soal ini.

"Kau sendiri juga tahu kan, dari turun-temurun kerajaan kita ini raja nya pada belok. Jadi wajarlah" Gerutu Asano kesal.

STORY milik AUTHOR Levy Aomine Michaelis

SETTING: Cinderella World

MAIN CHARACTER:

Karma Akabane & Asano Gakushuu

SUPPORTING CHARACTER:

Korosensei, Asano Gakuhou, Karasuma, Takaoka, Nu, Kirara, Ren Sakakibara Dll

READ AND REVIEW

~Happy Reading~

Matahari di sore hari sangat menyengat, beruntung tubuh Karma dilindungi bayangan pepohanan yang tumbuh diperkarangan rumah tersebut, ia terlelap terlalu nyaman, masuk kedalam mimpi terdalam karena rasa lelah yang membuncah, namun sebelum Karma sempat menyelesaikan mimpi indahnya tentang membunuh Koro-sensei dengan tangannya sendiri, sebuah tamparan keras sudah membangunkannya.

Ugh!

Karma merasa kepala nya kembali pusing dan ingin segera tidur kembali, dalam artian tidak sadarkan diri.

"Wah wah... si babu enak sekali tidur disini ya... Apa kau sudah memasak hah!" Bentak Kirara, pelaku penamparan. Karma duduk dari pembaringannya, pandangannya masih kabur namun samar-samar ia dapat melihat kedua kakak dan ibu tiri nya yang baru pulang dari perjalanan mereka.

"Bundaaa... Akabane belum memasak sama sekali~" Nu menghampiri Kirara dengan ekspresi manja. Menjijikan! Batin Karma.

Wajah seram khas Kirara mengeras, ia menatap Karma dengan hawa kelam.

"Takaoka!" Titahnya.

Brak!

Tubuh Karma terhempas ke dinding akibat tendangan kasar Takaoka, "Bagus, kau membiarkan kami kelaparan untuk beberapa jam kedepan. Kau sudah mulai memberontak rupanya!" Pria itu menekan kuat pijakan nya didada Karma.

"Ber-berhenti.. uhuk... uhuk.. " Karma merasa nafas nya tercekat. Mendengar Karma yang hampir kehabisan nafas Takaoka menurunkan kakinya lalu tersenyum puas.

"Baiklah. Karena hari ini aku sedang senang, aku akan meringankan hukumanmu. Tiga hari lagi akan ada pesta yang diadakan pihak kerajaan. Aku ingin kau membantu Nu dan Takaoka menyiapkan pakaian serta mencari kendaraan yang akan kami pakai nanti."

Karma hanya mengangguk lemah tanda mengerti, sial harga diriku sampai di injak-injak begini! Keluhnya. Ia kemudian bangun dari duduknya lalu mulai tertatih berjalan masuk kerumah, seluruh tubuhnya masih terasa sakit terlebih tendangan Takaoka tadi memperparah keadaannya.

Namun baru saja ia merasa lolos dari hadapan ketiga orang tersebut, tangan kirinya tiba-tiba di tarik secara kasar. Surai merahnya di jambak kuat , Takaoka masih belum puas mengerjainya ternyata.

"Dengar, aku tak ingin.. ah maksudku belum ingin menceritakan ini pada ibu.. " ia berbisik, " Tapi, bisa kah nanti kau ceritakan padaku tentang ini.." Takaoka menunjuk sebuah kain yang tadi di pungutnya saat Karma tertidur, itu jubah kerajaan yang di pakai kan Asano untuknya.

"Mau kan?" Sambung Takaoka lagi,

"Akan kuberitahu, sekarang lepaskan aku brengsek!" Lirihnya dengan nada menekan di akhir, Takaoka kesal mendengarnya dan tak segan-segan ia langsung mencekik Karma.

"U-ughh.—ughh.. " Karma mengerang.

"Takaoka! Berhenti lah menganggunya, bunda memanggil kita." Sahut Nu dari belakangnnya.

"Kali ini kau lolos bocah,heh" Pria besar itu melepaskan cengkramannya dari leher Karma, meninggalkan bocah itu yang sedang terbatuk-batuk.

"Sial, jika aku tetap disini aku takkan menemukan jalan keluar" Desis Karma, kemudian ia teringat kembali akan undangan yang dikatakan Asano pada nya tadi pagi.

OooooooooooooooooooO

Isogai Yuuma, penjaga pribadi Karasuma masih mengikuti sang pangeran dari belakang, ia menjadi saksi satu-satunya perbuatan sang pangeran yang menguntit pemuda strawberry tersebut, namun ia ragu akan melaporkan hal tersebut atau tidak pada Karasuma, karena semua pilihan nya akan berdampak pada nyawanya.

"Jangan pasang wajah khawatir begitu , Isogai-san. Bilang saja pada mereka jika aku hanya berkeliling kota menikmati pemandangan dan berkenalan dengan beberapa orang." Perintah Asano yang memacu laju peach didepan nya.

"Boleh saya tanya sesuatu pangeran?" Isogai membuka suara akhirnya, "Apa kah pemuda tadi, anda sudah lama mengenalnya?"

Asano diam sejenak,

"Apa kau melihat ketidakwajaran ?" Asano memberi tatapan sinis, Isogai langsung mengerti jika pemuda itu tak ingin menjawab pertanyaannya.

"Maaf, Tuan Muda."

Lalu mereka melanjutkan perjalanan pulang ke istana, sementara Karasuma di istana sedang mencak-mencak karena anak tiri nya sampai sore begini belum pulang, sang penjaga kepercayaan juga tak memberi laporan

"Ternyata kau khawatir dengannya.." Sindir Gakuhou pada istrinya. Alis Karasuma naik,

"Mana mungkin, aku Cuma khawatir sama peach yang diarak seharian, pasti dia sudah haus dan lapar. Aku tahu Gakushuu itu tipe anak yang Cuma memikirkan diri nya sendiri." Balasnya. Gakuhou Cuma menahan tawa melihat kelakuan tsun-tsun sang istri.

Beberapa menit kemudian, Asano dan Isogai sampai di istana. Beberapa maid menyambut mereka, Karasuma langsung menghampiri, "Dari mana saja kau? Bukan kah tiga hari lagi hari yang penting untukmu? Cepat ikut aku!" Karasuma langsung menggeret Asano pergi dari sana, Isogai ditinggal bersama Gakuhou yang baru datang. "Kok makin lama kapten Karasuma jadi mirip seperti ibu-ibu benaran ya?" Ujar nya dalam hati sambil menatap kepergian Karasuma.

"Apa yang kau dapat Isogai?" Gakuhou menagih laporan, ia tak suka dengan tatapan Isogai yang menatap lama punggung istrinya.

"Siap! Hari ini pangeran hanya berjalan-jalan mengelilingi kota dan berkenalan dengan banyak orang." Jawab Isogai. Padahal sebenarnya Cuma seorang saja..

"Kau tidak sedang berbohong kan?" Ujar Gakuhou menyelidik, Isogai mengganguk pasti.

"Baiklah kau boleh pergi,ohya besok kau pergi lah ke kota. Ketempat biasa aku mengambil baju ku, kau ambil kan baju yang baru-baru ini kupesan disana. Apa kau masih ingat?"

"Tentu, Yang Mulia." Isogai memberi hormat, Gakuhou pun pergi meninggalkan tempatnya.

Huft, pangeran pakai nyuruh bohong segala. Syukur-syukur aku belum di izinkan untuk jadi tumbal. Isogai membatin, tak sadar kalau dia sudah ditumbalkan oleh Koro-sensei jadi seorang pengawal pribadi Karasuma.

OooooooooooooooooO

Karma frustasi!

Seumur-umur dia tidak pernah diperlakukan layaknya pembantu seperti ini, padahal biasanya juga dia yang jahilin orang buat jadi pembantunya. Sejenak ia berpikir mungkin saja dia sedang terkena karma karena sering berbuat jahat seperti itu, "Ah kenapa namaku harus Karma juga sih... menjengkelkan!" Ia mengusar-gusar surai merahnya dengan kasar. Bayang-bayang tentang kelakuan orang tua nya sehari-haripun menghantuinya dan berakhir dengan Karma yang baru sadar jikalau sifat nya ini berasal dari tabiat kedua orangtuanya pula.

Takaoka menghampirinya sambil mendengus kesal, "Kau bertemu dengan pihak kerajaan kan? Apa kau mengadu pada mereka Akabane?" Ketusnya. Karma mengeryit tak paham.

"Apa maksudmu?"

"Jangan pura-pura bodoh, jubah kemarin itu milik anggota kerajaan." Takaoka mendekat, "Jadi apa yang sebenarnya kau lakukan selama kami tidak ada dirumah kemarin?" Tanya nya dengan nada mengancam, Karma tak ingin menjawab jujur.

"Itu hadiah yang kudapat dari pedagang daging dipasar. Katanya sedang promo." Jawabnya asal, dahi Takaoka mengernyit masih kurang percaya dengan jawaban Karma.

"Kau.. berbohong kan? Tak mungkin pihak kerajaan mengijinkan orang seperti itu memiliki nya.."

"Itu bukan milik kerajaan Takaoka, pedagang itu bilang dia memesan selimut itu untuk anaknya. Namun sebelum memberikan pada anaknya ternyata sang anak keburu mati di telan kambing peliharaannya." Sebenarnya Karma ingin tertawa dengan jawabannya yang satu ini, terlebih lagi wajah bodoh Takaoka yang menyiratkan ingin percaya. "Masih tak percaya? Aku bisa mengantarmu sekarang juga ke—"

"Tidak perlu!" Ketus Takaoka kemudian langsung pergi. Karma kemudian terkekeh geli, sebelum akhirnya ia mencium bau gosong dari baju yang sedang di strikanya.

Tidak!

Langsung diangkatnya baju itu dari setrikaan,sepertinya ia sedang sial hari ini karena baju tersebut adalah baju Kirara yang akan dipakainya nanti ke pesta, dan yang lebih menambah sialnya lagi adalah Kirara sudah berdiri didepan pintu dengan sapu di tangannya.

"Dasar anak bodoh!"

Karma langsung di pukuli habis-habisan.

OooooooooooooO

Hari yang dinantikan pun tiba, Asano sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari istana semejak hari itu, hari dimana ia bertemu dengan Akabane Karma. Salahkan sang ibu yang terlalu overprotective pada nya, sehingga segala jenis persiapan termasuk kesehatan diri nya juga ikut diperhitungkan.

"Jangan keluar-keluar dulu, akan banyak tamu yang datang terutama dari luar kerajaan kita. Jika salah satunya penjahat bisa-bisa kita dalam masalah!"

"Tidur jangan diatas pukul 9 Gakushuu! Jika kau masuk angin terus demam bagaimana?! Tabib andalan kita sedang pulang kampung tahu!"

"Gakushuu, aku tahu kau kesal padaku. Tapi semua ini kulakukan agar kau tak merusak rencana besar nanti. Semua orang akan datang, jika kau sampai mempermalukan dirimu maka kau bisa merusak reputasi ayahmu dan juga kerajaan kita"

Dan titah-titah lain nya yang keluar dari mulut Karasuma, entah kerasukan apa ibu tiri nya tersebut sampai berubah menjadi cerewet seperti itu. Asano dengan terpaksa nurut-nurut aja, kalau remaja lain diluar sana mungkin akan membangkang atau mengadu pada sang ayah. Tapi berbeda dengan Asano, jangankan mengadu , untuk menampakkan wajahnya didepan sang ayah pun ia segan. Ia takkan berhadapan dengan pria itu hingga ia menggandeng seorang yang layak jadi calon istrinya.

"Gakushuu, bersiaplah. Para tamu sudah mulai berdatangan." Ujar Karasuma dari balik pintu.

"Baiklah." Balas Asano, ia kemudian masuk kekamar mandi untuk menyegarkan diri. Asano merenung di bak mandi berbusa nya, ia memejamkan mata. Pesta dimulai malam nanti, membuat Asano cukup resah sebenarnya.

Hingga tiba lah wajah Karma yang kembali muncul didalam ingatannya, saat-saat ia dikerjai dan juga saat Asano berniat ingin memberi nafas buatan pada lelaki itu. "Sebenarnya apa yang aku lihat dari nya?" Ia bicara sendiri, mewakili perasaannya yang tak menentu tentang Karma.

Twich!

Asano kembali terbayang lagi imutnya wajah Karma saat ia tertidur, dan parahnya lagi ingatannya tentang mimpi basahnya bersama Karma dua hari lalu ikut menghantui. Pipi Asano tiba-tiba merona.

"Apa betul aku menyukainya? Apa mungkin aku sudah belok beneran?"

Asano membuka mata,

"Jika saja dia datang malam ini—" Asano menenggelamkan kepalanya, Mungkin aku akan segera melamarnya.

OoooooooooooooO

Kembali ketempat Karma berada. Kini kesehatannya sudah cukup baik semejak dipukuli kemarin dikarenakan ibu dan kakak tirinya sedang di sibukan perihal pesta yang di adakan malam hari nanti. Karma sangat berharap jika salah satu dari kedua kakaknya ada yang di pilih oleh sang pangeran, karena jika itu terjadi berarti satu mahluk yang suka menyakiti nya akan berkurang dan lebih mudah bagi Karma untuk menghabisi dua sisanya.

"Akabane! Mana sepatuku!" Pekik Nu.

"Santai aja keles~" Karma sebenarnya masih tak terima dengan nasibnya, ia buru-buru menghampiri Nu lalu memasangkan sepatu pada lelaki tersebut, dengan sengaja Karma menukar sepatu tersebut agar saling berkebalikan tempat.

Duk!

Wajah Karma ditendang, "Kau ingin menjahili ku hah? Jangan bermimpi! Cepat pasang lagi sepatu ku dengan benar!" Bentak Nu. Karma bangkit dari duduknya lalu membenarkan sepatu Nu, namun belum selesai ia melakukannya, baju belakangnya sudah ditarik duluan.

"Oi Akabane kau tidak menyetrika jas ku ya? Lihat sangat buruk seperti ini!" Takaoka menyodor-nyodorkan kasar jas hitamnya yang penuh keriput itu di wajah Karma. Karma pasrah. Dalam hati, bukannya Karma tak ingin menyetrika, tapi ia sendiri tak pernah melakukan hal tersebut terlebih jika ia ingat kemarin tentang hasil setrikaannya. Jika saja di jaman ini ada yang namanya Network pasti Karma sudah mencari tahu dengan ngeguggling.

Belum sudah urusannya bersama Takaoka rambut Karma kembali dicengkram kasar dan tubuhnya dipaksa menunduk kebawah oleh Nu. "Apa yang kau lakukan hah? Tali sepatu ku belum kau ikat!" Ketus nya memaksa Karma untuk mencium sepatu nya.

"U-unh sakit bodoh , lepaskan!" Dengan segenap kekuatan nya Karma mencengram lengan Nu lalu mengigit tangan pria itu, Nu refleks memekik karena gigitan Karma yang begitu kuat hingga cengkramannya lepas dari rambut Karma. Takaoka yang melihat ikut mengadu karena perutnya di sikut oleh Karma "Ugh! Apa yang—oi—oi—Akabaneeee!" Teriak Takaoka melihat Karma yang kabur.

"Bunda! Bunda! Akabane kabur!"

Karma berlari secepatnya dari tempat itu, tak peduli ke mana arah yang penting dia harus menjauh dari rumah penyiksaan itu. Ia sangat jengkel dengan keadaanya yang lemah seperti ini, jika saja fisiknya bisa lebih kuat pasti ia bisa melawan mereka.

OooooooooooooooO

Isogai menjalan kan kuda nya dengan lesu, semejak tiga hari lalu ia selalu di sibukkan dengan travellingnya di kota hanya untuk mengambil barang-barang tak masuk akal perintah sang tuan muda nya.

"Isogai, belikan aku susu strowberry yang banyak! Kalau perlu suruh petani dan peternaknya pindah kemari"

"Isogai belikan aku gaun berwarna merah cerah dan yang minim bahan!Kalau perlu yang tembus pandang!"

Sejenak Isogai mikir kalau-kalau sang pangeran ingin bertranformasi jadi seorang Princess saat mendapat perintah itu.

"Isogai cepat belikan aku gunting, tali, vibrator, rantai, borgol dan juga dildo dikota, ah kalau bisa kau beli kan di black market saja. "

WTF! Pangerannya itu mau nge-BDSM orang !

Huft!

Isogai menunduk lesu dengan peluh setetes di dahinya, permintaan terakhir sang pangeran hampir membuatnya menjatuhkan harga diri sebagai anggota kerajaan yang sudah membakti selama lima tahun lamanya.

"Ron, menurutmu pangeran akan menemukan cintanya tidak ya?" Kata Isogai bicara dengan kudanya, sang kuda Cuma ber-dengik ria karena tak paham apa yang dibicarakan pemiliknya tersebut. "Ah Ron payah deh.. masa gitu aja ga ngerti."

Mungkin rasa lelah telah mempengaruhi kewarasan Isogai sampai-sampai kuda diajak bicara.

Dug!

Tiba-tiba kudanya berhenti, Isogai langsung meluk-meluk kuda nya dengan badan gemetar takut kalau-kalau sang kuda tadi mengerti apa yang ia katakan lalu menerjangnya. "Ampun.. ampun Ron aku masih perjaka.." Igaunya. Sang kuda Cuma berspeech-less ria. Toh ia berhenti karena kakinya tersandung sesuatu.

"Ha? Dia kan- " Isogai yang kewarasannya sudah kembali baru sadar alasan kudanya berhenti di tengah jalan, ia turun dari kuda tersebut lalu menghampiri sesosok tubuh yang tengah terbaring tak sadarkan diri ditanah, kuda nya sedikit menjauh memberi ruang pada Isogai.

"Orang ini—" Tubuh yang tadi nya terkelungkup kini dibalik, Isogai mengenali wajah itu. "Pria yang waktu itu bersama pangeran Asano. "

Isogai mengecek urat nadi Karma, dan mengetahui jika pemuda itu masih hidup. "Dia hanya pingsan.." Isogai mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tak ada siapapun yang bisa di mintai tolong disana.

"Apa kubawa saja dia ke istana ya? Bagaimana menurutmu Ron?"

Pertanyaan Isogai kali ini diabaikan sang kuda karena si kaki empat itu sedang asik makan rumput.

OooooooooooooooO

"Aku ingin pulang.." Suara Karma menderau dengan nada lemas.

"Kau sudah sadar ya." Isogai mengaduk-aduk bubur hangatnya, "Istirahatlah sebentar lagi, akan kuantar kau pulang jika keadaanmu sudah membaik." Bubur diletakkan di meja dekat tempat tidur, kemudian tangannya dengan cekatan mengubah kompresan di dahi pindah ke dada Karma yang masih membiru,

"Keadaan mu sangat mengenaskan saat ku temukan, apa kau habis di copet dan keroyok para penjahat?" Gurau pria ikemen itu.

Karma tak ingin menjawabnya, tapi ia berterimakasih karena di pertemukan dengan orang yang baik kali ini. "Kita ini dimana?"

"Oh, ini ruang kesehatan kerajaan. Jangan khawatir, wewenang tempat ini aku yang bertugas jadi aku bisa merawat siapapun yang ingin jadi pasienku. " Ia tersenyum, Karma hanya menatap dengan ekspresi lemasnya. Bau wangi dari bubur yang tadi dibawakan Isogai membuat perutnya memekik keroncongan.

"Maaf, kau pasti sudah lapar kan? Ayo makan dulu." Isogai lalu membantu Karma untuk duduk dan berniat untuk menyuapinya, "Tidak usah, aku bisa makan sendiri." Tolaknya halus, "Aku tak suka dimanjain." Tambahnya. Isogai sedikit terkejut, "B-baiklah kalau begitu."

Isogai memberikan buburnya pada Karma, pria itu menatap bubur tersebut. Lama hingga terjadi keheningan untuk beberapa saat. "Apa yang kau tunggu? Ohya siapa namamu?" Sahut Isogai, sebenarnya Karma agak males mengenalkan diri nya pada orang yang seharus nya sudah tau tentangnya. Berhubung dia sedang tidak berada didunianya, apa boleh buat. "Akaba—" suara ketukan pintu tiba-tiba mengintrupsi.

"Sebentar."

Isogai segera beranjak dari duduknya, lalu pergi untuk membukakan pintu.

"Menyebalkan." Sahut Karma, kemudian ia mengaduk-ngaduk bubur dan menyesap aromanya. Aroma bumbu kuah sup ayam bercampur dengan gurihnya ebi goreng diatasnya menambah selera makan Karma untuk mencicipinya. "Tidak buruk juga." Ujarnya kemudian mengambil sendokan pertamanya.

"Mau kusuapi?"

DEG!

Karma sama sekali tak menduga akan kedatangannya, "Kau benar-benar seperti lipan yang berjalan cepat tanpa diketahui siapapun. Apa yang kau lakukan disini?" Karma menatap tak bersahabat pada lawan bicaranya.

"Hei, aku hanya sedang mengecek kebenaran dari laporan anak buahku tentang pertemuannya dengan bocah lemah yang suka tidur dijalanan." Asano terkekeh mengejek.

Ctik!

Karma tersindir dan ia berniat melemparkan mangkuk bubur ke wajah Asano, namun pergerakannya terbaca hingga Asano dengan cepat mendekapnya dari belakang sambil menahan mangkuk bubur itu agar tetap di tempatnya. "Jangan buru-buru Akabane-kun.." Bisik Asano sensual ditelinga Karma.

"Cih! Menjauh dari ku bodoh!" Karma mengusar tubuhnya, namun tiba-tiba Asano memeluk erat tubuhnya, bubur yang tadi sempat terpegang jatuh tumpah kelantai. "Aku sudah kangen padamu, Strawberry-ku." Asano memberanikan diri untuk menjilat belakang telinga Karma karena ia tak tahan dengan harum sang uke, sang korban langsung mendelik dengan wajah yang mulai merona.

Tidak mau di lecehkan, Karma memberontak, ia berhasil melepas pelukan Asano dan menjauh. "Menyingkir dari sini lipan mesum! Atau aku akan menghajarmu habis-habisan disini!" Gertaknya.

"Menghajarku? Dengan tubuh seperti itu?" Asano menunjuk-nunjuk luka lebam di sekujur tubuh Karma, tak terima di rendah kan Karma pun mengambil pisau bedah terdekat dan langsung melemparnya pada Asano.

"WOW!" Karena terlalu kaget, Asano sedikit telat menghindar hingga pipi kananya tergores. "Astaga kau berbahaya rupanya!" Gerutunya pura-pura takut lalu berdiri dari tempatnya.

"Cih, kau sedang beruntung saat ini dan sekarang cepat pergilah!" Tangan kanan Karma menunjuk tegas pintu keluar.

Asano mendesah nafas lelah, "Ya kau benar, aku sedang beruntung malam ini karena bertemu dengan Cinderella-ku nanti. Kau akan datang kan?" Ujar Asano dengan percaya diri.

"Cih untuk apa—tunggu! Jangan bilang kalau kau ini sebenarnya adalah pangeran itu?"

Asano mengeryit dahi, ia tak mengira jika Karma belum tahu identitasnya.

"Kalau begitu, aku tunggu kau di pesta. " Asano kemudian berlalu begitu saja, sementara Karma sibuk mencaci maki dengan sumpah serapahnya.

"Sialan! Mimpi apa aku sampai bertemu dengan pemuda brengsek seperti dia!" Gurat kesal diwajah Karma masih bersisa meski Asano sudah tak ada lagi disana. Di tengah asiknya ia menggerutu perutnya kembali berdendang, Karma menatap miris pada bubur yang sudah menjadi sampah di lantai. Gimana sekarang? Apa aku harus minta lagi?

Asano berjalan sambil senyum-senyum gak jelas , Isogai jadi ngeri sendiri. "Apa kau sudah memastikannya ?" Sahut ikemen itu.

Asano menoleh, "Iya, tidak salah lagi. " Langkah mereka berhenti. "Apa yang perintahkan tadi sudah kau laksanakan Isogai-san?"

Isogai mengangguk, "Semangkuk bubur dan segelas Vanilla Strawbery sudah diantarkan para maid lima menit lalu tuan." Jawabnya. Asano kemudian pergi sambil menyeringai senang.

Tuan muda sangat menyukai pemuda itu sepertinya..

Isogai memperhantikan pintu ruangan Karma yang tertutup.

OooooooooooooooO

Takaoka, Nu dan Kirara sampai dirumah mereka sambil tertawa-tawa mengingat hal yang baru saja mereka lakukan, "Aku yakin pasti anak itu akan menjadi berita di headline koran pagi besok. " Ujar Takaoka.

"Itu pun jika dia benar-benar mati. " Sahut Kirara. "Bunda tenang aja, tadi kami sudah menghajarnya habis-habisan kok. " Sambung Nu.

"Apa kau sudah memastikan? Memangnya kalian bertemu dengannya dimana?"

"Ah dia berlari tak jauh kok bun, setelah kami menemukannya kami langsung menghajarnya hingga anak itu sekarat." Kata Nu memastikan, dan diamini oleh Takaoka.

"Bagus, setelah ini kalian bersiap-siaplah kita akan segera menjadi anggota kerajaan dan meninggalkan rumah gubuk ini." Ujar Kirara kemudian berlalu pergi.

Continue~

Apa kah sang Karma-lela akan datang ke pesta?

Nantikan cerita selanjutnya di chapter tiga.

Sebelumnya saya berterimakasih pada semua yang sudah mau mereview cerita saya, maaf sekali saya belum bisa membalas satu bersatu, so, jangan bosen sama cerita saya ya ^^

Sayonara~