Summary: Karma dibuang oleh Koro-sensei kedunia cinderella. Akankah semuanya akan berjalan baik seperti dalam cerita yang seharusnya?

Warning: BoyxBoy (YAOI)

"Jangan memancing Ren. Aku lelah dan ingin tidur. Jika kau tidak ada pertanyaan lagi aku akan segera pergi kekamar." Asano tertatih menuju pintu kamarnya yang setengah terbuka. "Ah iya ada satu lagi, kenapa disini anda mencari lelaki bukannya perempuan?" Ren cukup heran juga soal ini.

"Kau sendiri juga tahu kan, dari turun-temurun kerajaan kita ini raja nya pada belok. Jadi wajarlah" Gerutu Asano kesal.

STORY milik AUTHOR Levy Aomine Michaelis

SETTING: Cinderella World

MAIN CHARACTER:

Karma Akabane & Asano Gakushuu

SUPPORTING CHARACTER:

Korosensei, Asano Gakuhou, Karasuma, Takaoka, Nu, Kirara, Ren Sakakibara Dll

READ AND REVIEW

~Happy Reading~

Karma-lela oh oh Karma-lela, kau akan jadi pengantinku~

Oh oh sayang ku~

Cepat datang dan dekap aku, diri ku sudah merindukankamu~

Oh~ Oh~Ooooohhhhhhh!

Asano berdendang sambil memekik di dalam kamarnya, menari berputar-putar seorang diri layaknya sedang berdansa dengan seseorang. Beruntung kelakuannya yang OOC itu hanya dia, para reader dan tuhan yang tahu. Ketika pelayan nya datang membawa kan topeng yang ia pesan, tubuhnya langsung berhenti menari dan kembali berekspresi normal seperti biasanya, kemudian membuka pintu.

"Ini pesanan anda tuan muda." Maid tersebut menyerahkan topeng mata berbulu dan berlapis emas yang warna nya di senada kan dengan rambutnya. Asano menerima benda itu kemudian langsung menutup kembali pintu.

Asano menampik bayangannya di kaca, kemudian melepas perban kecil yang menempel di pipinya, "Baiklah, dengan begini Karasuma tidak akan cerewet lagi."

Topeng yang Asano pas sekali untuk menutupi 'bakat' yang ia dapat dari Karma tadi. Asano menyeringai,

"Aku sampai diremehkan begini olehnya.. "

Asano menjilati bibir bawahnya sendiri, "Jangan salahkan aku jika kita akan sama-sama terbukti belok, Akabane!"

Grap!

Ia mengambil pakaian pestanya dan mulai memakainya. Ia tak sabar untuk turun ke lantai dansa, dan menunggu Karma disana.

OoooooooooooooooooO

Malam telah tiba, kereta kuda beriringan terus-menerus berdatangan semejak matahari tenggelam. Gakuhou dan Karasuma kewalahan dan bergantian menyambut tamu penting karena mereka juga sedang lelah, salahkan Gakuhou yang semalam terlalu ganas diranjang.

"Moo... Ijinkan kami masukkk... kumohon~" Terlihat seorang gadis berambut hijau pendek yang ditata seperti kuping kucing itu merayu sang penjaga yang menahan mereka dipintu masuk.

"Maaf, tapi pesta nya hanya untuk laki-laki saja." Jawab penjaga tersebut, masih bersiaga menahan gadis-gadis agar tak masuk.

"Jangan begitu pak, mungkin saja pangeran itu normal kan?" Gadis lainnya yang berambut pirang panjang menyahut.

"Iya , iya betul pak." Yang lain ikut mendukung si pirang, sang penjaga keki karena kalah suara.

Hingga suara seseorang yang begitu mengintimidasi menyergap mereka, "Itu Cuma rumor. Pangeran sudah terbukti belok jadi dengan berat hati saya ingin kalian memakluminya"

Wajah-wajah gadis itu menoleh ke sumber suara, "Maaf Yang Mulia, gadis gadis ini memaksa untuk masuk." Penjaga memberi hormat, para gadis terdiam merinding karena yang ada di hadapan mereka adalah Gakuhou Asano yang terkenal sebagai monster berkedok raja .

"Gyaaa... maaf kan kami Yang Mulia sudah lancang, ayo semuanya kita pergi!" Gadis bernama Kaede langsung menggeret teman-temannya untuk kabur dari sana segera.

Gakuhou memperhatikan dari jauh, "Tak ada salahnya memang, tapi sayang anakku sudah memilih jalannya dan tugasku adalah meluruskan niatnya." Gumam Gakuhou, pria itu kemudian pergi kembali untuk menyambut tamu-tamu penting lainnya.

"Sudahlah Kanzaki-san jangan menangis, diantara kami kau lah yang paling nge-fans sama Asano-sama. Tapi kau sudah melihatnya sendiri kan kalau lelaki itu sudah belok." Kaede menenangkan gadis bersurai hitam panjang itu, Kanzaki mengangguk mencoba untuk menghentikan sedu-sedannya.

"Payah kalau begini kita tidak bisa laku , padahal aku sudah cantik-cantik begini." Sahut Rio si pirang berjalan lebih cepat dari Kanzaki kemudian berbalik mencengkram pelan bahu gadis didepannya, "Dengar Kanzaki-san, masih banyak kok pria normal di sini, terutama.. " Mata Rio melirik ke seseorang nun jauh disana sedang berdiri di belakang Karasuma, mengawasi.

"Isogai-san?" Kaede menyahut.

"Iya, kemungkinan Isogai-san masih normal. Kita akan menjadi kannya sasaran selanjutnya. Bagaimana menurut kalian?"

"Hmm... " Gadis lainnya berpikir. "Boleh dicoba,lagipula Isogai-san itu ikemen. Mungkin saja aku beruntung nanti.. " Kaede menatap dengan berharap-harap. Kanzaki ikut menyetujui.

"Yosh kalau begitu kita akan semangat lagi mulai besok!"

OooooooooooooooooooooooooooO

"Kau mau kemana Isogai?" Panggil Karasuma saat Isogai meminta ijin untuk pergi.

"Pangeran memanggil saya nyo—Yang Mulia." Isogai hampir saja mengucapkan kata terlarang bagi majikannya, wajahnya tetap menunduk hormat.

"Baiklah jika selesai cepat kembali." Ujarnya, Isogai menerima perintah tersebut lalu pergi ke tempat tujuan.

Isogai mendapat kabar dari pengawal Asano, pemuda itu memerintahkannya untuk menemui Karma agar membujuk pemuda itu pergi ke pesta. Namun setelah menjalankan perintah itu Isogai mendapat sebuah masalah besar, Karma sudah tidak ada lagi dikamar perawatannya.

OoooooooooooooooooooooooooooooooooO

Karma mengerang disaat kakinya yang baru saja sembuh akibat terkilir terasa sakit kembali, langkahnya makin menjauhi istana menuju ke hutan lebat disana. Ia sangat percaya diri jika tak akan ada siapapun yang mengejarnya karena ia merasa dirinya bukan siapa-siapa.

"Kalau aku bertahan disana lebih lama bisa-bisa aku menjadi makanan lipan busuk itu!" Gumam nya merutuki Asano, ia tahu pemuda itu pasti sedang menunggunya. Jangan kan mengabulkan harapan Asano, untuk melihat lagi wajah pemuda itu saja dia sudah enggan.

"Dasar bodoh, sudah tahu aku ini normal masih saja ngotot—" Disela rutukannya, wajah Karma bersemu mengingat ketika Asano memeluknya. "Tidak—tidak—aku normal kok." Karma meyakinkan dirinya.

"Kata siapa Karma-kun normal?"

Tiba-tiba suara yang begitu halus menyahut, Karma tiba-tiba bergidik karena setahunya Cuma ia sendiri yang memasuki hutan gelap tersebut. "Siapa itu?" Kata nya.

"Karma-kun, ini aku.. Anak peri."

Tiba-tiba muncul cahaya kebiruan menyilaukan mata dari bilik-bilik pepohonan, Karma sempat mengira kalau itu sosok hantu gentayangan. Lama kelamaan cahaya itu meredup di iringi munculnya sesosok anak kecil berambut babyblue pendek berkuncir dua, mengenakan pakaian gaun merah hitam ber-stylish dan juga tongkat berbintang ditangannya.

"N-nagisa?" Kejut nya, Nagisa jadi anak peri rupanya.

Karma menebak-nebak apa yang selanjutnya akan terjadi, jika benar ia di dunia Cinderella dan ia juga dihampiri peri seperti—"AKU BUKAN CINDERELLA!" Jeritnya kemudian, sungguh ia tak mau menjadi tokoh protagonis tersebut. Tiba-tiba waktu terasa terhenti dan muncul lah sosok kuning samar-samar dari balik tubuh Karma. itu Koro-sensei ! Pikir Karma.

"Itu sudah menjadi keharusan Karma-kun. Jika kamu ingin cepat keluar dari dunia ini kamu harus menyelesaikan ceritanya."

Karma mendelik kesal, seandainya saja ia punya senjata anti sensei saat ini, ia ingin segera menusukkannya meski keberhasilan Cuma 1:99%.

"Tapi kenapa harus aku? Masih banyak wanita lain diluar sana kan?"

Waktu yang tadi sempat terhenti kembali berjalan, sosok Koro-sensei menghilang.

"Karma-kun bukan Cinderella. Kamu adalah... " Anak peri itu lalu mengayunkan tongkatnya dan menyihir tubuh Karma, seketika Karma merasakan adanya cahaya kemerahan menyelimuti dirinya dan menyembuhkan segala lukanya secara drastis, pakaiannya juga ikut berubah menjadi model jas berwarna merah cerah yang senada dengan wajahnya,celana panjang dan dasi putih tanpa motif terpakai rapi di dada bidangnya, sepatu kaca (tanpa hak tentunya) terpasang dan jangan lupakan tatatan rambutnya yang sudah mengkilap rapi dengan jepitan pada poni membuatnya semakin kawaii untuk disebut sebagai laki-laki.

"Karma-lela." Anak peri itu melanjut kan setelah sihirnya berhasil, Karma cengo.

WTF!

"APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU NAGISA!" Pekik Karma histeris setelah mengetahui bagaimana rupanya sekarang di kaca yang ditunjukan Nagisa.

"Membuatmu jadi cantik tentunya Karma-kun." Nagisa menjawab tanpa dosa.

"Tapi aku—" Karma malu menatap dirinya sendiri, namun kemudian ia teringat perkataan Koro-sensei tadi. "Kenapa harus aku sih!?" Gerutu nya masih tak terima.

"Aku juga sudah menyiapkan kereta untukmu , Karma-kun." Kata Nagisa, lagi-lagi ia membuat keajaiban yang bikin Karma jadi keki. "Terimakasih, kau baik sekali sudah mendatangkan mereka untukku . " Ujarnya dengan nada-nada terpaksa, tentu Nagisa yang polos tak mengerti apa maksud si merah ini mengatakan seperti itu.

"Sama-sama, ayo cepat pesta akan dimulai. Karna waktumu hanya sampai jam 12"

Cepat dahimu! Kalau bisa aku ingin pergi seterlambat mungkin tahu!

"Tunggu, apakah saat waktunya berakhir aku juga akan kembali keduniaku?"

Terlambat, si anak peri keburu hilang saat Karma menanyakan itu.

OooooooooooooooooooooooooooooO

Mau tidak mau Karma harus menjadi bintang utama malam ini sebagai "Karma-lela" demi menyelesaikan cerita agar dia bisa kembali kedunianya. Karma bersumpah akan menyerang Koro-sensei lebih kejam lagi setelah ini.

Seperti dalam cerita yang seharusnya, kedatangan Karma dengan kereta kuda mewah mengundang segala perhatian tamu yang melihat, termasuk kedua kakak dan ibu tiri nya yang sedang selisih gegeara pangeran yang menolak mentah-mentah saat Karma itu.

"Kak, itu Akabane kan?" Bisik si Nu pada kakaknya, Takaoka mengangguk dengan wajah kesal.

"Tunggu—bukannya kalian sudah menghabisi bocah itu?" Kirara menyahut dengan nada lantang,

"Ma-maaf bun, kami tidak tahu kalau dia masih hidup. " Nu memohon-mohon ampun , Kirara mendelik ke selilingnya menjaga agar perhatian tak mengarah ke mereka. "Sudahlah! Cepat kita pergi dari sini!"Titahnya pada kedua putranya.

Ketika orang itu pun langsung melengos dari pesta diam-diam, Asano langsung menghampiri calon permaisurinya dengan gagah , ia menjulurkan tangannya untuk mengandeng sang calon ke pesta dansa. Dan seperti biasa mau gak mau Karma harus menerimanya.

" Sudah kuduga kau akan datang." Tukas Asano membuka pembicaraan, padahal dalam hati dia sedang loncat-loncat senang karena dari tadi Karma belum datang.

"Jangan senang dulu lipan busuk, ini juga karena terpaksa." Karma memberikan senyum palsunya, Asano menahan tawa.

"Terpaksa katamu?" Mereka berdua berhenti di tengah lantai dansa, di kelilingi kerumunan pemuda lain yang iri pada Karma. Alunan musik lambat di mainkan, Asano meletakkan gengamannya di pinggang ramping Karma.

"A-a- apa yang kau lakukan bodoh!" Keluh Karma, wajahnya memerah malu. Asano mengeryitkan dahi.

"Mengajak mu berdansa tentu nya, memang kau pikir apa?" Asano menjawab dengan nada mengejek, tapi ia senang bisa melihat wajah malu Karma.

"Cih, sesuka mu saja." Jawab Karma, terdengar seperti sebuah permintaan baginya.

Asano mendekatkan lagi tubuhnya ke Karma, pemuda strawberry itu kaget dan menahan gerakan Asano. Sang lipan berbisik , "Sesuka ku? Kalau begitu.."

Gerakan dansa di hentikan tiba-tiba, alunan musik juga berhenti dimainkan seiring tanda yang diberikan oleh Asano.

"PERHATIAN SEMUANYA!" Ucapnya lantang, lantas semua perhatian semua orang menoleh padanya, termasuk raja dan permaisurinya yang dari tadi sudah memperhatikan.

"Menurutmu apa yang akan dia lakukan?" Sahut Karasuma dari balik punggung suaminya.

"Hal yang seharusnya memang ia lakukan." Gakuhou segera menjawab, mereka kemudian menatap khidmat.

OooooooooooooooooooooooooooO

"PERHATIAN SEMUANYA!" Ucap Asano lantang dan menarik perhatian semua orang.

"Malam ini akan ku persembahkan pada kalian, seseorang yang akan mendampingi ku untuk membina kerajaan ini sebagai raja masa depan kalian!"

Deg!

Karma merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Tanpa ia sadari Asano menarik pelan tangan kanannya lalu menyelipkan sebuah cincin emas putih di jari manisnya. Satu kecupan di punggung tangan menyadarkan Karma, jantung nya langsung deg-degan melihat wajah Asano yang serius menatapnya. Kilat dimata pemuda itu menunjukkan bahwa ia menginginkan sekali dirinya. "Akabane-kun...mau kah kau jadi istriku?" Ujar Asano kemudian.

Blush!

Wajah Karma memerah sampai ketelinga. Astaga bolehkan ia memberi tonjokan penuh cinta pada pemuda didepannya ini sekarang?

"A-aku.. " Karma jadi gugup, diliriknya jam gantung dibelakang Asano.

Sial! Kenapa lama sekali jam 12 nya!

"K-kau tidak serius kan? La-lagian mana ada orang yang melamar sambil mengenakan topeng seperti itu." Sela Karma , mencari-cari alasan.

Asano tersenyum kecil, ia melepas topeng itu tanpa takut gurat lukanya akan terekspos pada semua orang. Kembali ia menatap Karma dengan harapan.

"A-asano aku... " Karma mengigit bibir bawahnya tak tahu lagi alasan apa yang akan dilontarkan supaya jam menjadi cepat ke angka 12 , namun disisi lain ia menahan perasaan yang aneh yang selalu membuncah pikirannya. Sosok Asano didepannya terlihat begitu gentle dan mempesona, tidak hanya dirinya namun semua pemuda dan perempuan pasti langsung jatuh hati padanya. wajahnya makin merah padam.

"Akabane-kun?" Asano mempererat genganman nya dijemari Karma, meyakinkan pemuda itu jikalau dia memang sangat mencintainya.

Satu anggukan kecil pun diberikan Karma, pemuda itu pun langsung tersenyum bahagia dan memeluk calon istrinya itu. "Terimakasih Akabane-kun." Ujarnya. Karma terdiam didalam dekapan Asano dengan blushing hebat, sebuah senyuman tersungging dibibirnya.

Kemudian, Gakuhou memberi sinyal pada semua orang untuk bertepuk tangan. Karasuma menangis terharu.

Pesta pun di lanjutkan tanpa hadirnya sang pangeran dan istri barunya.

Loh kemana mereka coba?

Yap betul, Karma sekarang sedang digeret Asano kekamarnya.

"W-woi lepaskan aku brengsek! Aku harus segera pulang sebelum jam 12 nanti!" Sergah Karma, tubuhnya memberontak di gendongan bridal Asano.

"Tidak mau, aku tidak akan melepaskan mu kemanapun." Kamar dimasuki, pintu dikunci dan Karma pun langsung dibaring kekasur. "Aku ingin memiliki mu saat ini juga Akabane-kun! " Ujarnya kemudian mengunci pergerakan Karma di atas kasurnya.

"A-apa maksudmu?" Wajah Karma kembali merona.

"Aku tahu, kau juga menyukaikan?"

"Cih, aku tidak mmmpfftt—" Satu ciuman hangat melesat di bibir Karma,

"Aku tak akan membiarkan mu menolak ku lagi. " Asano menatap dalam mata Karma, iris oranye bak siluet matahari sore menenggelamkan Karma dalam keheningan, satu kecupan lagi di dahi membuat Karma harus mengakui jika ia memang punya rasa pada pemuda itu.

"Tapi aku ini—" Ujarnya dengan nada kecewa, pukul dua belas tinggal beberapa menit saja dan moment indah yang baru bisa di rasakan Karma akan segera hilang sekejap. Entah mengapa keinginannya untuk keluar dari dunia itu sirna, berubah ingin menjadi kekal disana.

TENG!

TENG!

TENG!

TENG!

TENG!

TENG!

Karma membelalakan matanya, dentangan jam sudah terdengar. Ia menghentikan gerakan Asano yang dari tadi menciumi wajahnya, "Asano-kun.. " Kedua tangannya menangkup wajah Asano lalu menatap pemuda itu dengan wajah sedih, Asano tertegun.

"Ke-kenapa kau memberi wajah seperti itu Akabane-kun." Asano menatap heran.

"Maaf, mungkin sampai disini saja cerita kita."

Gaun ekhm maksudnya kemeja yang dipakai Karma perlahan menghilang. Luka-luka lebam yang tadinya sembuh kembali lagi seperti semula, wajahnya dan rambutnya yang sempat kumal juga kembali. Asano menatap tak percaya, karena perlahan tubuh Karma yang tadi bisa disentuhnya sesuka hati perlahan menghilang. "Akabane.. Akabane kau kenapa? Akabane!" Asano panik dan langsung memeluk sosok yang hampir menghilang itu.

"Maaf Asano-kun, aku juga berharap bisa bersama dengan mu selamanya."

"Ha?" Asano membelalakan mata sebelum akhirnya ia tersadar memeluk angin , kata-kata terakhir Karma hampir tak bisa didengarnya. "AKABANE!" Jeritnya histeris.

OoooooooooooooooooooooooooooooO

Sebulan sudah Karma pergi dari dunia fantasy yang sudah membuatnya bahagia sesaat, ia dikabarkan terbaring seharian dirumah sakit karena kecelakaan jatuh dari gunung. Padahal sebenarnya Karma sudah pergi berhari-hari didunia lain.

"Nee Karma-kun, apa kau ingin kembali lagi kedunia sana?" Sahut Koro-sensei yang duduk disampingnya. "Tidak, lagipula aku tak ingin menjadi korban percobaan ilmu sihirmu itu lagi Koro-sensei." Satu tembakan dengan peluru anti sensei, namun seperti biasa Koro-sensei dapat menghindar dengan mudah, ia pindah duduk didepan Karma.

"Jadi?" Kalimatnya menggantung. Karma tertawa garing. "Iya-iya aku tahu apa yang kau inginkan, aku tidak perlu mencintai Asano yang ada disana, aku tak ingin merasakan cinta yang hanya berbatas dunia hayal belaka." Karma menatap Koro-sensei. "Aku ingin merasakan cinta yang asli disini, didunia nyata tempat cinta kami akan bersatu kembali Koro-sensei. "

"Nurufufufu..." Koro-sensei tertawa senang dengan apa yang di inginkannya, yaitu isi hati Karma.

"Baiklah kalau begitu aku akan meninggalkan kalian berdua." Ujarnya kemudian lalu langsung melesat pergi, Karma langsung binggung maksud kalimat terakhir Koro-sensei. Namun tak lama kemudian muncul lah sosok seorang dari dalam hutan berjalan menuju Karma dengan gagahnya, sosok yang begitu Karma kenal, sosok yang telah mencuri hatinya dan membuatnya belok orientasi seketika.

"A-asano?" Kagetnya, pria yang dipanggil Asano itu pun sudah berdiri dihadapannya.

"Jangan pergi lagi, permaisuriku." Asano menarik lalu mengecup punggung tangan Karma sama seperti yang dilakukannya saat melamar Karma. Ia tersenyum menyindir Karma.

"K-kau bagaimana?" Karma menatap tak percaya.

"Bukan kau saja yang menjadi korban percobaan gurita aneh itu. tapi ah, aku sudah tak peduli lagi. Yang penting sekarang, aku sudah bisa mendapatkanmu." Asano menyeringai.

"Cih, apa menurutmu aku benar-benar menyukaimu? Dasar ge-er!" Gerutu Karma sambil memalingkan wajahnya yang merona. Asano tersenyum lalu menarik pelan wajah itu menghadapnya, "Tentu, aku juga menyukaimu. Akabane-kun."

Cup~

Ciuman hangat kembali mendarat di bibir Karma, tangannya merengkuh sosok yang lebih besar darinya itu dengan hasrat. Kedua insan kini tenggelam dalam nikmatnya romansa cinta masa muda.

OMAKE

"Hngg... " Isogai terbangun dari kasur empuknya, entah kenapa rasanya ia sudah tidur selama sehari semalam, dan lagipula mimpi buruk yang dialaminya membuatnya sakit kepala.

"Syukurlah Cuma mimpi.." Ujar ikemen itu, kemudian beranjak dari kasurnya lalu memasuki kamar mandi.

Owari~

Tamat~

Habislah kisahnya ...

Huaaaa maaf banget ya reader kalau alurnya kecepetan, dan juga akkhhhh pokoknya maaf banget kalau banyak kekurangan. Btw terimakasih sudah mau membaca cerita abal-abal saja, doakan ya semoga Asano dan Karma langgeng sampe kakek nenek.

Okeh saya Levy Aomine Michaelis ijin pamit.

See you~