Hyung, 520 (Wo Ai Ni) !

Cast: Sehun & Luhan (Hunhan)

Rate: T

Length: Twoshoot

Note: Alur berantakan dan dibuat berdasarkan imaginasi semata.

Don't Like Don't Read!

.

Augstn AD

Present

.

.

.

.

Hyung, 520 !


"Apa? Kau tidak jadi pulang? Ah wae Sehunaa?"

"Iya hyung, maafkan aku tapi urusanku disekolah belum selesai. Aku harus mengurus beberapa document di sekolah terlebih dahulu"

"Tapi kau sudah berjanji padaku akan pulang dalam minggu ini bukan?"

"Iya hyung. Tapi mau bagaimana lagi, banyak document yang aku harus selesaikan terlebih dahulu disini. Kau mau melihat aku dimarahi eomma dan appa jika pulang tanpa menyelesaikan tugasku disini?"

"Mm baiklah jika memang harus seperti itu. Maafkan aku Sehunii. Aku hanya.. Aku hanya merindukanmu hiks"

"Hyung, aku juga sangat merindukanmu. Jangan menangis lagi hyung. Aku akan segera pulang arra? Jaljayo hyung"

"Nde jalja Sehunii"

Luhan menutup layar laptopnya ketika Sehun memutuskan koneksi video call mereka. Dalam hatinya ia merutuki dirinya sendiri saat ia menyetujui kepergian Sehun ke Jepang untuk menjalani pendidikan high schoolnya, membuat dirinya harus benar-benar menahan rasa rindu yang membuncah di relung hatinya karena merindukan adik kandungnya itu.

Luhan berusaha menahan airmatanya namun seperti berbanding terbalik dengan keinginannya, bukannya berhenti airmata justru makin menganak di pelupuk matanya. Ia tidak sanggup lagi berpura-pura tidak membutuhkan Sehun. Karena kenyataannya hatinya begitu menginginkan kehadiran Sehun di sisinya.

Luhan berbaring di ranjangnya dan mengambil ponselnya. Mata sendunya memperhatikan wallpaper pada layar ponsel, itu foto dirinya dan Sehun tahun lalu saat perayaan ulang tahun mereka yang berdekatan. Sehun memeluknya dari belakang dan mengambil foto selfie mereka. Baik Luhan maupun Sehun terlihat begitu bahagia. Luhan malah terlihat sangat imut sedangkan Sehun terlihat lebih tampan dengan rahang tegas yang menyandar pada bahu kecil Luhan.

"Aku merindukanmu Sehunii."

.

.

Disisi lain Sehun memandangi langit gelap di hadapannya. Ia sudah menyelesaikan segala urusannya di Jepang dan akan segera pulang ke Korea. Ia ingin segera bertemu dengan hyungnya. Hyung yang begitu ia rindukan. Sehun saat ini sedang berada di Jepang dan tinggal dirumah besar mereka berdua dengan sang ayah, sementara Luhan berada di Korea bersama ibu mereka. Seperti itulah jika kau memiliki orang tua yang begitu sibuk sehingga harus tinggal terpisah karena urusan pekerjaan.

Sehun begitu senang sekaligus tersiksa saat Luhan menyetujui niatnya untuk melanjutkan sekolah ke Jepang. Ia senang Luhan mendukung pendidikannya namun ia juga tidak mampu hidup sendiri tanpa Luhan disampingnya. Saat itu Luhan sedang menjalani kuliahnya ditahun pertama membuat Sehun mengurungkan niatnya untuk mengajak Luhan pergi bersamanya.

Alhasil yang bisa ia lakukan saat merindukan Luhan hanyalah menelpon hyungnya dan memandangi ratusan foto Luhan di ponselnya. Tapi saat-saat yang menyiksa itu sudah berhasil ia lewati selama tiga tahun terakhir dan mulai sekarang ia akan kembali pada hyungnya. Hyung yang sangat ia cintai.

"Hyung Aku sangat merindukanmu"

.

.

"Luhan, kenapa tidak dimakan hmm? Eomma lihat kau hanya mengaduk makananmu saja sedari tadi."

"Ahh ne eomma, aku tidak nafsu makan"

"Ada apa? Apa kau sakit?"

"Tidak eomma, aku hanya kelelahan saja. Akhir-akhir ini tugas kuliahku sangat banyak."

"Ya itu tentu saja, kau adalah mahasiswa tingkat akhir bukan? Istirahatlah Luhan, Eomma tidak bisa menemanimu dirumah hari ini. Ada yang harus eomma kerjakan dikantor" Wanita itu kemudian bergegas pergi.

"Ne, tidak apa eomma, pergilah. Aku akan baik-baik saja"

"Jika ada apa-apa kau tinggal panggil para maid ne. Eomma pergi dulu"

"Ne eomma hati-hati"

Luhan yang merasa tidak bersemangat berjalan gontai kedalam kamarnya. Ia bahkan tidak memakan apapun tadi. Luhan benar-benar dalam mood yang tidak baik. Tugas kuliahnya yang menumpuk disertai beban pikirannya tentang Sehun yang begitu ia rindukan sangat mengganggunya belum lagi kedua orang tua mereka yang begitu sibuk hingga nyaris tidak peduli apapun tentang anaknya membuat Luhan tertekan.

.

.

Seorang namja tampan nampak tengah turun dari sebuah mobil keluaran terbaru New Audi A6 3.0 TFSI Quattro. Ia berjalan menuju salah satu bangunan mewah di kawasan perumahan elit di daerah Gangnam. Namja itu menenteng sebuah tas juga koper dengan ukuran besar. Kedatangannya disambut dengan sangat hormat oleh para maid di rumah itu.

"Tuan muda Sehun anda sudah sampai?"

"Ya ajjushi. Dimana Luhan hyung?"

"Tuan muda Luhan baru saja pergi."

"Kemana?"

"Kekampusnya tentu saja tuan"

"Ahh benar, baiklah ajjushi. Bawa masuk barang-barangku dan jangan katakan pada Luhan hyung bahwa aku sudah pulang"

"Baiklah tuan muda"

Sehun menaiki tangga sambil melihat-lihat rumah yang sudah ia tinggalkan dalam kurun waktu tiga tahun. Desain rumah tetap sama seperti saat ia terakhir kali berada sini. Hawa dirumah inipun tidak berbeda, dingin dan menegangkan. Sama seperti rumah besar keluarganya yang ada di Jepang. Walau ia tinggal dengan ayahnya tetap saja ia hanya bertemu seminggu sekali dengan sang ayah yang sangat sibuk mengurisi perusahaan mereka.

Sehun kemudian menelusuri kamar yang berada tepat disebelah kamarnya, kamar Luhan. Kamar itu nampak lain dari terakhir Sehun memasukinya. Kamar itu jauh lebih rapi dan semua barang di tata dengan baik. Mata hazelnya dapat melihat begitu banyak foto dirinya dan Luhan hyung yang menghiasi setiap sudut ruangan. Membuatnya begitu merindukan sang hyung tercinta. Ya memang Sehun mencintainya. Sehun jatuh cinta pada hyungnya sendiri. Tapi selama ini dia tidak berani mengatakannya pada Luhan. Takut Luhan akan menjauhinya karena pernyataannya.

.

.

Luhan berjalan gontai menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Ia bahkan berjalan dengan mata tertutup menahan kantuk. Sugguh hari yang melelahkan bagi Luhan yang harus menghadiri kelas tambahan tiga jam lebih lama dari biasanya. Mengharuskan namja bermata rusa itu untuk pulang selarut ini.

Drrt drrt

Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Dengan malas Luhan mengambil dan menekan tombol hijau untuk mengetahui siapa gerangan yang menelponnya di tengah malam seperti ini.

"Yeoboseo"

"Yeoboseo Luhanii"

"Eoh Kris. Ada apa kau menelpon malam-malam begini?"

"Aku hanya ingin memastikan kau sudah sampai dirumah dengan selamat"

"Ya aku baru saja sampai, terimakasih sudah mengantarku hingga halte bus Kris"

"Mm lain kali aku akan langsung mengantarkanmu kerumahmu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada namja cantik sepertimu"

"Berhentilah menggombaliku tuan Wu. Aku ingin mandi dan lekas tidur. Aku sangat lelah hari ini"

"Ne, istirahatlah rusa kecilku. Jaljayo Luhanii"

"Eum, ne jaljayo Kris"

Panggilan sayang yang disematkan Kris padanya justru membuat Luhan merona. Ia menangkupkan kedua tangannya di pipi dan merasakan pipinya menghangat.

Sedetik kemudian ia sadar dari tingkah konyolnya dan masuk kekamarnya dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.

Sehun yang mendengar suara langkah kaki diluar, sontak bergegas kearah pintu kamarnya. Pasti Luhan, pikirnya. Dan benar saja saat Sehun ingin menyapa hyungnya itu dilihatnya Luhan sedang berbicara di telepon dengan sangat mesra. Membuatnya mengurungkan niat awal untuk bercengkrama dengan Luhan.

Entah apa yang ia bicarakan, namun kelihatannya Luhan tampak bahagia. Pipi Luhan berkali-kali nampak memerah, menandakan ia tersipu dengan pembicaraan itu. Samar samar Sehun menangkap pembicaraan Luhan saat namja yang tengah merona itu menyebutkan sebuah nama.

KRIS

Siapa dia? Dan apa sebenarnya hubungannya dengan Luhan? Mungkinkan itu kekasih Luhan? Mengapa Luhan tidak pernah membicarakannya?

Saat ini ada banyak sekali yang ia ingin tanyakan pada Luhan. Namun ia harus bisa mengendalikan keinginannya untuk memiliki Luhan. Karena Luhan tidak akan pernah mungkin membalas perasaanya. Mereka adalah saudara kandung dan tidak mungkin Luhan mencintainya. Karena yang ia rasakan pada Luhan adalah sebuah kesalahan. Ia akan memendam perasaan ini selamanya. Berharap Luhan akan bahagia, walaupun tanpa dirinya.

.

"Selamat pagi" Seru Luhan sangat bersemangat. Sambil tersenyum manis ia mendaratkan bokongnya pada kursi dan menatap lapar semua hidangan dihadapannya.

"Pagi Luhan, bagaimana tidurmu?" Eomma bertanya pada Luhan namun matanya sama sekali tidak beralih dari gadget dihadapannya. Seolah itu hanyalah pertanyaan basa basi. Membuat Luhan sedikit kecewa karenanya.

"Aku tidur nyenyak eomma" Luhan mulai menyendok nasi goreng Beijing kesukaannya.

Saat sarapan hanya diiringi suara sendok dan garpu yang beradu tanpa adanya percakapan penting di meja makan.

"Kim ajjushi, dimana Sehun?"

"SEHUN?" Luhan kaget setengah mati mendengar nama Sehun disebut eommanya.

"Eum, bukannya seharusnya kemarin dia sudah sampai?"

"KEMARIN?" Luhan membeo.

"Ya, adikmu dijadwalkan tiba di Korea kemarin pagi. Dimana dia Kim ajjushi?"

"Aku disini eomma" Suara berat yang begitu khas memasuki gendang telinga Luhan.

Sehun memasuki arah dapur dan langsung menatap sepasang mata rusa yang begitu ia rindukan.

Deg

Luhan hyung

Begitu pun dengan Luhan. Seolah waktu telah berhenti berputar saat ia menatap manik tajam milik adiknya.

Deg

Sehun

"Sehun kenapa kau tidak menyapa eomma kemarin hmm?"

"Eomma, aku begitu kelelahan dan langsung tidur. Maaf aku tidak menyapa eomma terlebih dahulu." Ujar Sehun dengan penuh hormat kepada ibunya.

"Ya aku mengerti." Sahut sang ibu kemudian kembali sibuk dengan gadgednya.

Luhan merasa sedikit canggung dan malu berhadapan dengan Sehun. Entah karena terlalu senang atau karena gugup bertemu Sehun tapi detak jantungnya saat ini sangat kencang hingga membuatnya nyaris bergetar.

"Luhan hyung"

Luhan tersontak kaget saat Sehun menyebut namanya dengan penuh kelembutan. Luhan hanya bisa menatap Sehun dengan tatapan kaget yang justru menurut Sehun sangat imut.

"Y..yaa."

Sehun tersenyum melihat Luhan yang selalu gugup berbicara dengannya.

"Bagaimana kabarmu hmm?"

"Ahh aku baik-baik saja Sehunii, bagaimana denganmu? Apa kau makan dengan baik disana?"

"Ne, appa memberikan semua makanan terbaik di Jepang"

Luhan tiba-tiba merasa sangat sedih. Ia tidak dapat menampik rasa rindunya pada sang ayah yang tidak pernah ia temui lagi selama beberapa tahun belakangan ini.

"Appa, bagaimana keadaannya?"

Sehun yang sangat mengerti Luhan langsung tahu apa maksud pertanyaan hyungnya tersebut. Luhan terlihat jelas begitu mengkhawatirkan ayahnya.

"Appa baik-baik saja hyung, ia tidak sempat menghubungimu karena sangat sibuk."

"Ahh aku mengerti Sehunii"

"Luhan, Jika kau sangat merindukan appamu, bagaimana jika setelah lulus kau pindah ke Jepang?" Eomma bertanya pada Luhan. Namun seperti bukan pertanyaan melainkan sebuah perintah dengan penuh penekanan.

"APA?" - Luhan

"APA?" - Sehun

"Kau bisa membantu appamu untuk mengurusi beberapa cabang di Jepang. Aku akan membicarakannya dengan appamu nanti."

"Eomma, tapi Luhan hyung masih lama lulus. Benarkan hyung?"

Luhan hanya diam tidak tahu harus menanggapi apa pada keduanya.

"Universitas mempercepat proses kelulusannya, dan Luhan akan lulus pada bulan depan. Eomma benarkan Luhan?"

Sehun langsung mengalihkan pandangannya pada Luhan, berharap jawaban tidaklah yang ia terima.

"Benar eomma" Kata Luhan lemah hampir berbisik.

JDARRR !

Bagai petir disiang bolong menyambar dan memenuhi pikiran Sehun.

.

.

Percakapan tadi pagi terus terngiang dibenak namja berkulit pucat itu. Sehun terus saja memikirkan Luhan. Bagaimana jika Luhan menyetujuinya? Pasalnya Luhan sangat menurut pada orang tuanya. Luhan tidak akan menentang keputusan orang tuanya sekalipun itu bertentangan dengan keinginannya. Luhan selalu berkata iya untuk segala pilihan yang di lontarkan kepadanya.

Sehun masih mengingat dengan jelas bagaimana ia menjalani kehidupannya yang begitu menyakitkan di Jepang tanpa orang yang begitu ia rindukan berada disampingnya. Kehampaan dan ketakutan begitu menguasai diri Sehun saat Luhan tidak berada di dekatnya. Ia sangat tersiksa saat Luhan terus menggumamkan kata rindunya saat ia melakukan video call ataupun bertukar pesan singkat dengan namja bermata rusa itu. Ingin rasanya saat itu juga Sehun memesan tiket pesawat dan kembali ke pelukan hyung yang diam-diam ia cintai itu.

Sehun terlarut dalam pemikirannya sendiri hingga tidak menyadari seorang namja mungil dengan balutan piyama tidur bermotif rusa tengah memasuki kamarnya.

"Sehunii, apa yang kau lakukan? Aku mengetuk pintu berkali-kali tapi kau tidak menjawabnya."

"Eoh hyung, tidak.. Aku tidak melakukan apapun. Masuklah"

Luhan terus berjalan mendekati Sehun yang duduk di tepian ranjang. Memperhatikan tubuh adiknya yang tingginya bahkan jauh mengalahkannya dimana terlihat sedang menggenggam sesuatu ditangannya.

"Apa itu?" Luhan menunjuk benda di tangan Sehun dengan menggunakan dagunya.

Sehun membuka telapak tangannya. Tepat berada disana terdapat dua buah gelang cartier yang sangat indah. Terbuat dari titanium bercampukan white gold dengan warna rose silver yang begitu mengkilat disertai dengan tonjolan bersinar dari beberapa permata kecil yang mengelilinginya. Membuat Luhan tidak dapat mengalihkan pandangan takjubnya dari benda itu.

"Wahh.. Cantik sekali gelang ini" Luhan menyentuh ujung gelang dengan hati-hati. "Apakah ini sepasang Sehunii?"

"Iya, gelang ini memang sepasang"

"Woahh.. Ini pasti sangat mahal. Jadi.. kau akan memberikannya.. " Luhan menarik nafasnya sebentar "eum pada seseorang ?"

"Ya. Rencananya aku akan memberikannya pada seseorang yang sudah aku sukai sejak lama"

DEG

Siapa ? – batin Luhan

"Oh benarkah? Dia pasti akan suka menerimanya. Gelang ini sangat cantik" Luhan mencoba memberikan senyum terbaiknya di hadapan Sehun.

"Entahlah hyung, aku bahkan berfikir mungkin ia tidak akan menyukainya." Sehun berkata lirih.

Kali ini Sehun benar-benar bingung. Bingung tentang perasaan terlarangnya pada sang kakak. Ia sudah bertekad sepulang dari Jepang, ia akan mendekati Luhan. Berusaha untuk memperlihatkan perasaannya pada Luhan, hingga hyungnya yang polos itu akan menyadari bahwa Sehunlah satu-satunya orang yang mampu ia andalkan.

Namun ketika malam kepulangannya kemarin ia melihat Luhan menelpon seaeorang yang sepertinya sangat bisa untuk ia andalkan membuat hatinya serasa teriris. Luhan perlahan mulai berubah. Hyungnya itu bukanlah lagi namja yang akan selalu bergantung padanya. Hyungnya itu takkan lagi mencari dan membutuhkannya. Karena sudah ada seseorang yang menggantikan posisi Sehun dihatinya, seseorang yang seterusnya akan tetap tinggal disisinya.

"Tidak mungkin dia tidak suka Sehunii, benda ini sangat bagus" Luhan terus berpura-pura mendukung Sehun, padahal hatinya tengah hancur berkeping-keping membayangkan ada orang lain yang Sehun cintai.

"Tidak hyung, Orang yang aku sukai itu sudah menyukai orang lain." Sehun berkata lirih sambil memandangi pijakan kakinya.

Benarkah? Itu bagus Sehunii. Lupakan saja dia kalau begitu. Dan datanglah padaku, orang yang akan selalu mencintaimu.

Itulah yang ingin Luhan lontarkan saat ini, namun bibirnya terus saja mengucap kebohongan.

"Kau harus berjuang kalau begitu. Buat orang yang kau sukai menyukaimu juga. Kau tidak boleh menyerah hanya karna dia menyukai orang lain. Selama ia belum menikah, orang itu masih milik bersama.. Kkkekke.. Bersemangatlah Sehunii." Luhan memaksa bibirnya untuk tertawa memberi dukungan penuh untuk Sehun.

Disaat yang sama menahan keras airmatanya agar tidak menetes. "Perjuangkan cintamu Sehunii, kau harus buat dia menyukaimu juga, arraseo?"

Sehun terperanjat mendengar ucapan Luhan. Sehun tersenyum kemudian mengangguk mengerti ucapan Luhan. Luhan selalu mendukungnya apapun keputusannya. Tidakkah hyungnya itu tahu, atau sedikit saja memahami keinginannya yang sebenarnya. Bahwa hyungnya lah yang begitu ia inginkan.

"Bagaimana jika dia tetap tidak menyukaiku, hyung? Mungkin aku tidak lebih baik dari orang yang dia sukai itu?"

"Mustahil. Kau adalah namja paling sempurna yang pernah aku kenal." Ucap Luhan pelan namun terkesan malu-malu.

Sehun tersenyum. Ia mendongak menatap Luhan yang menunduk menyembukan wajah meronanya. Luhan sangat menggemaskan dengan tingkah polos seperti ini. Membuat Sehun semakin menginginkan Luhan lebih dari apapun.

"Benarkah hyung?"

"Tentu saja, sejak kau dilahirkan kau sudah sangat tampan. Matamu, hidungmu, juga bibirmu. Semuanya terpahat dengan sempurna diwajah tegasmu Sehunii" Luhan secara tidak sadar meraba wajah Sehun.

Sehun reflek menutup matanya, merasakan sentuhan lembut Luhan diwajahnya. Ia meraih tangan Luhan dan menggenggamnya. Membuat namja mungil itu terhentak.

"Ah, Sehun maafkan aku. Aku tidak sengaja melakukannya." Luhan buru-buru menarik tangannya.

"Kenapa harus minta maaf hyung? Bukankah dulu kita sering melakukannya?" Benar. Namun saat ini entah mengapa sangat berbeda. Kepulangan Sehun justru membuat Luhan menjadi lebih gugup dari pada sebelumnya tiap berdekatan dengan namja tinggi itu.

"Y-ya memang, entahlah Sehun. Aku hanya.."

"Hyung.."

"Aku.. "

GREP

Sehun langsung menarik Luhan hingga duduk diatas pangkuannya yang berada di tepian ranjang. Dan mengunci pergerakan namja mungil itu di pelukannya.

Luhan membelalak kaget. Ia tidak menyangka Sehun akan memeluknya seperti ini. Dengan posisi yang selalu membuat Luhan merasa nyaman, Sehun memeluknya dari belakang. Namja berkulit pucat itu menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Luhan dan menyesapi aroma madu yang keluar dari tubuh Luhan.

"Sehunii.." Luhan tetap berusaha menahan detak jantungnya.

"…"

"Sehunii.."

"…"

"Aku merindukanmu Sehunii" Penuturan Luhan kali terasa lebih menyayat hati Sehun.

"Tidurlah denganku malam ini Luhan"

Sehun mengatakannya dengan tegas. Dan yang membuat Luhan terheran adalah Sehun yang tidak lagi menyebutnya "hyung".

Sehun mengangkat tubuh kecil Luhan dan langsung membaringkannya di ranjang. Setelahnya Sehun berbaring di sebelah Luhan dan memeluk Luhan dengan posesif.

Luhan tentu tidak merasa keberatan dengan perlakuan Sehun. Luhan justru menggerat pelan masuk lebih dalam ke pelukan Sehun.

"Siapa yang kau telepon kemarin malam? " Tanya Sehun dingin.

"Apa yang kau maksud itu Kris?"

"Aku tidak peduli siapa namanya. Aku tidak suka kau terlalu dekat dengan orang lain." Larang Sehun sambil mengelus pelan surai kecoklatan Luhan.

"Dia itu sahabatku Sehun, dia sangat baik dan menyayangiku. Dia juga selalu menemaniku saat kau tidak ada disisiku"

"Kau tidak akan membutuhkan dia lagi. Karena sekarang aku sudah ada disini Lu"

Sehun berbisik lembut tepat ditelinga Luhan. Membuat namja itu menggeliat menahan rasa geli. Sehun sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya. Ia tidak lagi mampu berpura-pura mengabaikan Luhan.

Luhan berusaha mengendalikan detak jantungnya saat Sehun berbisik di telinganya. Sensasi geli menyertai setiap hembusan nafas Sehun di telinganya. Meski menyiksa namun ia tetap menikmatinya.

"Mungkin nanti aku akan membutuhkan orang lain juga saat sudah di Jepang. Aku pasti akan mendapatkan teman yang baik" Luhan membenamkan wajahnya di dada bidang milik Sehun. Berusaha menyembunyikan raut sedihnya dari Sehun.

"Tidak, kau tidak akan kemana-mana"

"Memangnya kau tidak dengar yang eomma bilang tadi pagi. Setelah lulus aku akan pindah ke Jepang membantu ayah"

"Lalu kau menyetujuinya?"

"Ya, Memangnya aku punya pilihan lain?"

"Lalu bagaimana denganku? menurutmu apa yang harus aku lakukan tanpamu?"

Luhan terdiam. Ia tidak mampu membayangkan hidup terpisah dengan Sehun lagi. Ia ingin Sehun selalu berada disisinya. Walaupun Luhan tidak memiliki Sehun seutuhnya.

Membayangkan hidup tanpa Sehun disisinya membuatnya mendadak ketakutan. Hanya Sehunlah yang mampu ia andalkan. Hanya Sehunlah yang ia butuhkan. Tapi lagi-lagi bibir tipisnya dengan lancar mengucap kebohongan yang jelas bertentangan dengan hatinya.

"Kau bisa menghabiskan waktumu dengan orang yang kau sukai. Kalian bisa pergi kemanapun bersama-sama. Melakukan hal yang menyenangkan bersama-sama. Pergi menonton ataupun makan bersama-sama. Hiks.. Pasti akan menyenangkan jika kau melakukannya bersama-sama. Hikss.. hikss.. Karena kau.. Kau mencintainya"

Sehun terdiam mendengar penuturan Luhan. Ia hanya bisa mengeratkan pelukannya saat ia mendengar Luhan menangis kecil. Sehun tidak tahu harus berkata apa lagi saat ia rasa segalanya tidak berjalan sesuai keinginannya. Sehun terus membelai surai Luhan hingga perlahan tangisan itu berhenti.

Ironis memang. Kau dilahirkan didunia ini dan menemukan orang yang paling kau cintai adalah saudara kandungmu sendiri. Bagaimana kau mengatakannya? Bagaimana caramu memberitahunya? Akankah dia menerimamu? Atau ia malah akan menjauhimu? Jika ia menjauhimu apa yang akan kau lakukan? Mampukah kau hidup tanpanya? Mampukah kau tersenyum saat melihatnya bahagia dengan orang lain?

Setidaknya itulah pertanyaan yang tengah mengisi pikiran keduanya. Keterdiaman berselang cukup lama dan terasa membunuh keduanya. Hingga pergerakan Luhan dalam pelukan Sehun memberi efek pembuka pembicaraan kembali.

"Hiks.. Sehunii lepaskan. Aku ingin kembali kekamarku" Luhan langsung turun dari ranjang.

"Tidak, malam ini kau menginap dikamarku Luhan" Sehun langsung menarik Luhan yang hendak keluar.

"Aku tidak mau"

"Kenapa? Apa kau merasa tidak nyaman bersamaku Luhan?"

"Bukan itu.. A-aku hanya merasa ini tidak baik Sehunii"

"Apanya yang tidak baik?"

"K-kau.. Dan aku.. aku tidak bisa terlalu dekat denganmu"

"Kenapa? Kenapa kau tidak mau berada didekatku? Apa ada yang salah denganku? Apa ada yang kurang dariku? Apa yang membuat orang lain terlihat lebih baik dariku dimatamu Luhan?!" Sehun berteriak tepat dihadapan Luhan yang membuat namja itu ketakutan namun juga bergetar karena menahan emosinya.

"Berhenti menyebut namaku. AKU HYUNGMU!" Teriak Luhan tak kalah kuat dengan Sehun.

Teriakan Luhan sontak membuat kepala Sehun serasa mendidih.

"Memangnya kenapa kalau kau hyungku? Apa aku tidak boleh menyebut namamu? Apa aku tidak boleh memperlakukan kau dengan baik? Apa aku salah?"

"Ya tentu saja kau salah. Untuk apa kau memperlakukan aku seperti itu? Apa kau pernah berfikir apa yang aku rasakan terhadapmu? Bagaimana dampak semua perlakuanmu padaku? Pernahkah sedikit saja kau memikirkan aku Oh Sehun? Hiks hikss.."

Tangisan Luhan pun pecah seraya ketidakberdayaan kakinya menopang lebih lama. Ia pun jatuh terduduk di hadapan Sehun. Lelah menahan semua perasaan yang begitu kuat ia tahankan.

Sehun langsung mengangkat Luhan dan mendudukkannya di ranjang. Sehun berlutut dihadapan Luhan yang masih terus menangis. Sehun menyesali perbuatannya yang tidak bisa mengontrol dirinya yang jutru membuat orang yang ia itu menangis.

Perlahan Sehun menghapus airmata Luhan. Mengusap wajah orang yang dicintainya dan basah Luhan. Luhan tidak bergerak melainkan menikmati perlakuan Sehun padanya.

Sehun terus mengecupi mata Luhan dan perlahan beralih ke pipi chubbynya. Luhan memejamkan matanya merasakan setiap kulit yang menyentuh permukaannya. Ia menggenggam kuat kedua tangannya, berusaha agar menahan segugupannya. Namun rupanya Sehun sangat peka pada setiap pergerakan Luhan. Lengan kekarnya menggenggam erat Luhan sambil meneruskan kegiatan mengecupi Luhan.

Luhan bergerak gerak kecil saat dirasanya geli saat Sehun menciumi hidungnya. Luhan dapat merasakan desiran napas dari namja yang ia cintai itu menerpa wajahnya. Luhan mencoba membuka matanya perlahan saat ia rasa Sehun sudah berhenti menciuminya.

Namun yang tersaji didepan matanya ialah wajah putus asa Sehun yang tengah menatapnya sendu. Tatapan itu terasa menembus tepat di ulu hati Luhan dan menikamnya saat itu juga. Wajah Sehun yang menampilkan rasa bersalah yang dalam membuat Luhan mengalihkan pandangannya.

"Hyung Maafkan aku"

Hanya kata itu yang Luhan dengar sesaat sebelum sebuah benda kenyal mendarat di bibirnya.

Ya, Sehun menciumnya dengan sangat lembut. Luhan yang terlalu shock tidak dapat berbuat banyak selain mematung.

"Aku mencintaimu"

Apa ia tidak salah dengar? Sehun barusan mengatakan mencintainya. Itu artinya Sehun benar-benar mencintainya. Sehun membalas perasaannya. Tapi tunggu dulu bukankah Sehun mempunyai orang yang ia sukai?

"Bukankah kau bilang kau menyukai seseorang?"

"Ya, namanya Oh Luhan. Aku sudah sangat lama menyukainya. Mungkin saat pertama kali aku melihatnya didunia ini. Aku jatuh cinta padanya. Pada kelembutannya, pada kepolosannya, pada sikap manjanya dan pada segala yang ada di dirinya. Aku mencintainya hyung"

"Huaaaa Sehuniii"

Luhan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat Sehun mengatakan perasaannya. Karena Luhan pun sama. Ia sangat mencintai Sehun. Ia memeluk Sehun dengan erat.

Sehun menciumi Luhan kembali dan reaksi menikmati kembali Luhan leguhkan. Namun kali ini ciuman itu terkesan menuntut dan Luhan tidak keberatan. Luhan mengalungkan lengannya pada leher Sehun.

"Mmhh…"

"Ngghh.."

Setelah puas memagut bibir satu sama lain, Sehun melepaskan ciumannya.

"Aku mencintaimu, Luhan hyung"

"Aku juga mencintaimu, Sehunii"

.

.

.

TBC


Yeah chapter awal selesai..

Entah kenapa tiba-tiba pengen buat ini, karena aku lagi kehabisan ide nerusin LMDS T.T

Tapi yang ini cuma 2 chapter kog xixixi :D

Emng sengaja dibuat gantung endnya jadi chapter depan tinggal adegan ekhem ekheman aja hehhee #smirk

Kira kira gimana ya reaksi orang tua keduanya?

See you next chapter

Salam Rusa ^^

Mind to review?