Hyung, 520 ! (Wo Ai Ni)
Cast: Sehun & Luhan (Hunhan)
Genre: Incest, Bromance,
Rate: T - M
Length: Twoshoot
Note: Alur berantakan dan dibuat berdasarkan imajinasi semata.
Don't Like Don't Read!
Aku ingin bertanya padamu hal seperti apa yang kau sebut CINTA? -
Augstn AD
Present
.
.
.
.
Hyung, 520 !
Perlahan ia membuka matanya kala suara burung memasuki indra pendengarannya. Namja itu hendak bergerak saat dirasanya sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Kemudian ia berbalik dan melihat sesosok namja yang lebih muda darinya itu. Ia tersenyum memandang penuh cinta pada namja putih dihadapannya.
Ya.. Luhan sedang menatapi wajah Sehun yang entah mengapa terlihat seratus kali lebih tampan saat sedang tidur. Hidung mancung dan rahang tegas, juga bibir kecil serta mata sipitnya begitu pas menghiasi wajah sempurnanya. Perlahan Luhan mengelus lembut pipi Sehun, membuat namja itu terbangun.
"Eumm.. Hyungg"
"Ne., selamat pagi Sehunii"
Sehun kembali memeluk dan mengunci Luhan dalam dekapannya. Ia tidak ingin kehilangan sedikitpun moment kebahagiaan dengan Luhan. Semenjak Sehun menyatakan perasaannya pada Luhan tadi malam, Luhan dengan sangat terbuka menerima setiap sentuhan Sehun. Tentu saja hal itu sangat dimanfaatkan oleh Sehun. Ia menciumi Luhan hingga namja bermata rusa itu kelelahan dan jatuh tertidur di pangkuan Sehun. Selanjutnya Sehun membaringkan dan memeluk Luhan seposesif mungkin hingga ia ikut terlelap bersama Luhan.
"Sehunii.. Bangunlah. Ini sudah pagi"
"Eummhh.. Aku tidak mau" Dengan mata terpejam Sehun semakin mengeratkan pelukannya pada Luhan. Sehun perlahan mendekatkan wajahnya pada Luhan.
CUP
Satu kecupan kecil berhasil diambil Sehun dan hal itu tentu membuat Luhan membelalak kaget.
"A-apa yang kau lakukan?"
"Mulai sekarang berikan aku ciuman di pagi hari, maka aku akan bangun hyung"
BLUSH
Luhan langsung menutupi wajahnya yang memerah.
Luhan melirik Sehun yang sudah sangat siap menerima ciumannya, terbukti dengan matanya yang terpejam dengan bibir yang ia condongkan kedepan. Luhan perlahan mendekatkan wajahnya kearah Sehun dan dengan cepat mengecup bibirnya.
Hal itu membuat Sehun gemas pada Luhan. Dan dengan sigap menarik kembali Luhan dan mencium bibir kissable Luhan. Sehun mengunci pergerakan Luhan yang saat ini berada di atasnya. Ia terus memeluk Luhan kuat serta menekan tengkuk Luhan guna memperdalam ciuman keduanya.
Luhan sama sekali tidak menolaknya, ia justru terlihat sangat menikmati setiap lumatan dan gigitan kecil Sehun pada bibirnya.
"Engghh.."
"Mmhh.."
Beberapa leguhan lolos dari mulut keduanya yang tengah menikmati ciuman panas di pagi hari itu.
Sehun dengan tidak sabar membalikkan posisi sehingga ia berada diatas Luhan. Dan dengan ganas menciumi leher Luhan. Ia mengecap kuat sekali dan meninggalkan tanda kepemilikannya di leher mulus Luhan.
"Akhh.."
Luhan hanya bisa mendesah nikmat sekalipun ia menanggung perih akibat hisapan kuat Sehun. Luhan merasa dirinya seperti mabuk saat menerima semua perlakuan Sehun di tubuhnya. Keduanya terus melumat dan menyesap satu sama lain memuaskan hasrat tertahan yang selama ini mereka pendam. Sampai saat sebuah ketukan menghentikan pergumulan pagi itu.
TOK TOK
Keduanya langsung membenarkan posisi. Luhan berada di samping Sehun berpura-pura tidur, dan Sehun menyelimutinya dengan selimut tebal miliknya. Membuat Luhan hampir tidak kelihatan.
"Tuan muda, sarapan sudah siap"
"Ya, sebentar lagi aku dan Luhan hyung keluar"
Kemudian maid itu pun pergi dan meninggalkan keduanya.
Sehun menuntun Luhan ke kamar mandi. Tentunya ingin mengambil kesempatan berduaan dan melihat tubuh indah Luhan saat sedang mandi.
"Yakk, keluarlah.. Kau nakal sekali sekarang!" Ucap Luhan sambil mendorong Sehun sekuat tenaganya.
"Aku ingin mandi bersamamu hyung.." Rengek Sehun yang tiba-tiba menjadi sangat manja pada Luhan.
BLAM
Namun bantingan pintulah yang ia dapatkan sebagai balasan aegyeonya.
.
.
"Oemma sudah membicarakannya dengan appamu, dan dia setuju. Kau akan pindah ke Jepang saat lulus bulan depan"
Itulah awal pembicaraan mereka di meja makan. Tidak ada pertanyaan seperti "bagaimana tidurmu semalam?" atau "bagaimana tugas akhir kuliahmu?".
Kedua orangtua mereka hanya sibuk dengan bisnis dan perusahaan yang begitu ingin mereka kelola. Hingga tidak pernah memikirkan perasaan dua anak yang sudah terlanjur hadir di kehidupan mereka. Sejak kecil Sehun dan Luhan sangat jarang bertemu maupun berkumpul bersama orang tuanya. Sehun bahkan hanya mengenal Luhan pada 10 tahun usianya tanpa pernah melihat orang tuanya. Sampai pada tahun kesebelas, barulah eomma dan appa kembali ke Korea dan tinggal bersama dengan mereka.
Itulah alasan mengapa Sehun begitu dekat juga sangat menjaga Luhan. Dan alasan itu jugalah yang membuat Luhan begitu percaya dan bergantung pada Sehun. Karena keduanya hanya mengenal satu sama lain tanpa orang tua yang memperdulikan mereka.
"Bagaimana menurutmu Luhan?" Pertanyaan eomma sontak membuyarkan lamunan Luhan.
Luhan hanya diam mematung tanpa menjawab.
"Eomma, itu masih sebulan lagi. Biarkan Luhan hyung memutuskan ingin pergi atau tidak" Sanggah Sehun dengan kesal. Ia sudah tidak bisa lagi menahan diri dihadapan eommanya.
Sehun lalu menegaskan "Jika Luhan hyung pindah, maka aku juga akan ikut ke Jepang"
"SEHUN"
Sontak saja bentakan dari sang eomma begitu mengagetkan Luhan maupun Sehun. Bahkan para maid sampai menghampiri ruang makan.
"Kau pikir untuk apa aku membiayai sekolahmu dengan mahal hanya untuk bergantung pada appamu? Jika kau pikir berada di Jepang, kau dapat mewarisi perusahaan appamu? Sedang Luhan yang aku didik dengan susah payah bisa dengan mudah untuk kau singkirkan?"
Sehun tertegun mendengar perkataan eommanya. Sungguh yang Sehun inginkan hanya berada di sisi Luhan. Ia tidak pernah membayangkan warisan ataupun kekayaan harta perusahaan orangtuanya. Namun apa hanya itu yang mampu eomma pikirkan tentang Sehun? Apa sebegitu berharganya perusahaan dibandingkan dengan kedua malaikatnya yang beranjak dewasa ini?
"Aku tidak pernah memikirkan tentang perusaan atau apapun. Aku hanya ingin dekat dengan hyungku! Apa aku salah eomma?" kali ini Sehun bertanya dengan penekanan.
"Tentu saja salah. Apa cara pandang seperti ini yang appamu ajarkan selama tiga tahun berada disana? Memalukan sekali"
"Eomma, berhenti memperlakukan Sehun seperti itu!" Kali ini Luhan yang dibuat kesal oleh eommanya.
"Diamlah Luhan dan teruskan saja sarapanmu" sergah sang eomma.
"Aku tidak lapar" kemudian Luhan beranjak pergi sambil menarik tangan Sehun. Membuat Sehun mengikuti langkah kaki kecil milik Luhan. Meninggalkan eomma yang hanya mencibir tingkah keduanya. Kemudian wanita paruh baya itu terlihat menelpon seseorang.
"Aku tahu akan seperti ini jadinya. Kau hanya mengulur waktu tuan Oh.."
Ia menciptakan jeda sejenak. Terdengar seseorang berbicara balik di telepon dan ia menghela nafas dalam sambil memijat pelan dahinya.
"Seperti perjanjian awal, aku ingin Sehun mengambil jurusan bisnis dan mewarisi perusahaanku. Sementara Luhan bisa membantu dalam usaha kulinermu"
.
.
Entah kemana Luhan membawa Sehun. Kakinya terus saja melangkah menyusuri kawasan perumahan elit menuju sebuah jalanan besar. Sehun tetap mengikuti kemanapun Luhan menyeretnya. Dengan Senyum mengembang tersemat di wajah tampannya, ia perlahan menggenggam jari lentik Luhan. Membuat Luhan berbalik dan malah mendapati wajah sumringah Sehun dihadapannya. Namun ia tidak dapat menyembunyikan raut sedihnya.
Sehun membelai lembut wajah Luhan. Menciumi pelan ujung hidung hyungnya itu.
"Ada apa sayang? Jangan bilang kau menyesal hyung"
"Ahh.. Bukan, aku hanya merasa ini sangat aneh. Aku tidak pernah memikirkan akan seperti ini akhirnya. Aku takut. Aku hanya merasa bersalah pada eomma dan appa"
"Apa eomma dan appa pernah memikirkan perasaan kita?"
Luhan kembali bungkam dengan pertanyaan Sehun. Luhan menunduk. Kemudian ia merasakan sebuah lengan merangkulnya. Sehun mendekap dan menciumi pucuk kepala Luhan.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Sehunii.. Aku tidak ingin kehilanganmu hikss"
"Tidak hyung. Kau tidak akan kehilangan aku. Aku berjanji semuanya akan baik-baik saja. Kau percaya padaku hmm?"
"Aku percaya padamu Sehunii"
Kumohon Tuhan, aku hanya menginginkan Luhan dihidupku.
.
.
Sebulan kemudian
Luhan terlihat sangat manis dengan setelas jas almamater dan sebuket bunga warna warni di genggamannya. Sehun hanya mampu tersenyum bangga pada hyungnya yang tengah bercanda gurau dengan teman-temannya.
Setalah acara kelulusan Sehun mengajak Luhan kesuatu tempat dimana tempat itu tidak pernah Luhan datangi sebelumnya. Pantai Gyeongpo di daerah Gangneung, pantai timur di semenanjung Korea. Dimana pantai itu memiliki udara yang sejuk dan dihiasi dengan ribuan pohon pinus.
Sehun terkikik melihat Luhan yang bertingkah seperti anak kecil. Begitu sampai di pantai, namja rusa itu langsung berlarian tanpa alas kaki menuju pasir pantai. Ia berlari kecil dan menyipratkan air ke sembarang arah saking girangnya. Benar-benar menggemaskan bagi Sehun. Hyung yang usianya empat tahun lebih tua bisa begitu terlihat seperti anak kecil.
"Sehunii kemarilah, temani aku bermain air"
Kemudian Sehun beringsut dari duduknya dan menghampiri Luhan yang mengajaknya bermain air.
Hatcihh
"Hyung kau tidak apa-apa?"
Hatchiih
Luhan kembali bersin. Ia tidak terlihat baik-baik saja. Baju basah kuyup dan wajah memerah membuatnya bahkan tidak sanggup menjawab pertanyaan Sehun.
"Hyung, bertahanlah jarak kita kerumah masih sangat jauh"
Namun tetap tidak ada jawaban dari Luhan. Namja mungil itu hanya memeluk dirinya sendiri menahan panas tubuhnya. Sehun yang melihat Luhan begitu tersiksa langsung mengambil tidakan cepat. Ia melajukan mobilnya menuju salah satu hotel di daerah Gangneung dan membawa Luhan kedalamnya.
Setelah berganti dengan piyama hotel Luhan terlihat lebih baik. Ia sedang menonton tv saat menunggu Sehun selesai dari kamar mandi.
Masih dengan bathrobe di tubuhnya Sehun keluar dari kamar mandi hotel. Wangi sabun langsung menyeruak mengelilingi tubuh polosnya. Luhan tanpa sadar terhipnotis dengan penampilan Sehun yang walaupun menggunakan kimono mandi namun tetap rupawan.
"Kau tidak bisa melepaskan pandangan matamu dariku hmm?" Tanya Sehun percaya diri sambil menarik dagu Luhan.
"I-itu.."
CUP
Satu ciuman berhasil Sehun curi. Luhan langsung mengalihkan pandangannya yang merona. Mulai saat ini ia harus terbiasa dengan Sehun yang mencium bibirnya seenaknya.
Sehun kembali menarik dagu Luhan.
CUP
Ciuman kedua berhasi ia curi lagi. Ekspresi merona Luhan sungguh membuat Sehun gemas. Ia ingin sekali memakan Luhan saat ini juga. Sehun perlahan merengkuh pingang Luhan dan membisikkan kata cinta di telinganya.
"Aku mencintaimu, Oh Luhan"
Kemudian menekan jarak tubuhnya dan Luhan. Ia mengeratkan pelukannya pada Luhan dan menciumi telinga namja itu.
"Aku juga mencintaimu, Oh Sehun"
Wajah merona Luhan membuat Sehun begitu bergairah karenanya. Sehun tidak lagi mampu menahan untuk tidak memagut bibir peach itu.
Sehun langsung mencium Luhan dengan ganas. Ciuman yang begitu menuntut membuat Luhan sedikit kewalahan menerimanya. Sehun membaringkan Luhan diatas ranjang kemudian menjatuhkan diri diatasnya. Tetap dengan pagutan bibir yang tak ingin ia lepas, Sehun terus mengabsen seluruh isi mulut Luhan. Luhan merasa bergairah dan langsung membalas ciuman Sehun.
Sehun beralih dari bibir hingga ke leher Luhan. Ia membuat bercak keunguan di leher putih Luhan.
"Eummhh.. Sehunnhh.."
Desahan yang tak mampu Luhan tahan nyatanya membuat Sehun menegang. Ia tak kuasa menghentikan aksinya ingin menjelajahi Luhan lebih dalam. Hingga ia menyusupkan tangan nakalnya dibalik piyama Luhan dan meraba kulis sensitif itu. Luhan merasa geli namun nikmat disaat yang sama.
Sehun dengan perlaham membuka satu per satu kancing piyama lalu membuangnya kesegala arah. Sekarang dapat dilihatnya tubuh atas Luhan yang begitu mempesona. Putih mulus tanpa cacat sedikitpun.
Luhan dengan bibir bengkak jelas menaikkan libido Sehun. Ia langsung melahap benda mungil di dada Luhan sementara ia memelintir yang satunya. Luhan dibuat kenikmatan oleh perlakuannya hanya bisa mendeasah gila.
"Nghh.. Hhaaahh.."
"Sehunnhh.."
Sehun terus memanjakan Luhan yang terlihat menikmati permainannya. Namja itu lantas menyusuri perut Luhan dan menciuminya kemudian beralih naik ketelinga Luhan dan membisikkan kata yang begitu memabukkan Luhan.
"Aku mencintaimu Luhan"
CUP
"Aku mencintaimu Luhan"
CUP
"Aku mencintaimu Luhan"
Kemudian hal gila tak mampu keduanya tahan. Sehun sudah begitu terlanjur menginginkan Luhan, begitupun sebaliknya. Hingga saat keduanya sudah dalam keadaan full naked Sehun kembali bertanya.
"Kau yakin akan melakukannya?"
"Ya.. Aku menginginkanmu Sehun. Miliki aku seutuhnya"
"Kau milikku selamanya hyung"
Sehun seolah mendapat lampu hijau langsung mencumbui Luhan dengan lembut. Sehun mengecup pelan dan mulai mengulum penis mungil Luhan. Ia mempercepat tempo secara bertahap. Luhan hanya mampu memejamkan matanya sambil menekan kepala Sehun agar memperdalam kulumannya.
"Ahhhh…."
Luhan sampai dimulut Sehun dan namja itu langsung menghisap habis cairan Luhan. Langkah berikutnya Sehun tetap mengocok pelan penis Luhan sambil mencoba memasukkan penis ukuran besarnya di lubang sempit Luhan.
"Tahannhh sedikit sayanghh.."
JLEB
Sehun langsung memasukkan penisnya sekaligus.
"Akkhh… sakithh.. Ahhh"
"Iniihh.. Tidak akan lama sayang.."
Luhan merintih menahan sakit. Bahkan matanya mengeluarkan cairan bening karen Sehun. Sehun beralih menciumi Luhan dan memilin pelan nipple Luhan guna mengurangi sakitnya. Sehun tetap tidak menggerakkan penisnya dalam lubang Luhan. Ini adalah pengalaman becinta yang pertama bagi keduanya.
"Maaf hyung. Apa sangat sakit?"
"Tidakhh.. Akkhh.. Bergeraklah perlahan Sehunii"
Sehun langsung melayani permintaan Luhan. Ia mulai bergerak dengan tempo lambat kemudian mempercepat tusukannya. Membuat keduanya mendadak menjadi brutal. Sehun kemudian mennggenjot Luhan tanpa ampun sementara dibawahnya Luhan mendesah gila.
"Ahhh.. Ohh.. Sehunii.. Nikmathh sekalihh.."
"Engghh.. Hyungghh.. Ah sempithh.."
Luhan terus mendesah kala Sehun terus menumbuk kencang prostatnya hingga suaranya serak. Tubuh keduanya menyatu dalam gerakan tempo cepat membuat ranjang yang menjadi saksi cinta mereka ikut berdecit. Saat keduanya sampai mereka sama-sama menyebut nama orang tercintanya.
"Ahhhh.. Sehuniihh.."
"Ouhhh.. Luhannhh"
Kemudian keduanya berbaring namun tidak melepas tubuh satu sama lain. Sehun menciumi mata Luhan yang terpejam kelelahan dan terus ke pipinya.
Sehun dengan sengaja menggerakkan penisnya yang bahkan masih melemas dalam lubang Luhan. Membuat Luhan kembali terangsang juga disusul dirinya sendiri yang kembali menegang.
"Hyung.. Aku ingin lagi.."
Luhan yang melihat dirinya sendiri juga ikut terangsang. Setelahnya Sehun mendudukkan Luhan dipangkuannya dan memulai puluhan ronde bercinta selanjutnya.
Luhan terus dibuat meleguh hebat oleh Sehun sepanjang malam. Sedangkan Sehun sendiri merasa tidak pernah puas akan Luhan dan desahan Luhan selalu menjadi godaan terberat baginya.
.
.
Sehun menggandeng tangan Luhan memasuki rumah mereka. Sesekali ia menciumi pipi chubby Luhan. Namun betapa terkejutnya ia saat dilihatnya sang appa tengah berdiri memandang kearah keduanya.
Nyali Luhan langsung menciut dan ingin melepaskan genggaman Sehun. Namun namja yang lebih muda itu malah makin menggenggam erat jemarinya.
"Sehun dan Luhan, dari mana saja kalian?"
"A-appa.."
"Kami dari pantai Gyeongpo. Saat itu karena sudah terlalu malam, aku juga tidak bisa membawa Luhan hyung pulang dengan pakaian yang basah. Jadi kami menginap di hotel. Dan baru kembali hari ini"
Sehun langsung menyanggah saat Luhan akan menjelaskan pada sang appa.
"Duduklah"
Keduanya pun menuruti perintah appa dan mengambil posisi tepat di hadapan sang eomma yang sepertinya juga sudah menunggu kehadiran mereka.
"Dari mana saja kalian? Pergi tanpa memberi kabar pada siapapun. Kalian membuat semua orang cemas"
"Maafkan kami eomma.." Luhan menunduk takut.
"Aku sudah menjelaskannya pada appa tadi. Sepertinya tidak perlu aku ulang" Kata Sehun yang sama sekali tidak takut.
"Sehun jaga bicara mu dengan eommamu" Appa menegur Sehun dengan lembut namun tegas. "Appa dengar kau sudah lulus Luhan?"
"Ne appa"
"Lalu bagaimana dengan rencana perpindahanmu?
Luhan hanya terdiam, ia memandang sendu pada Sehun yang berada di sampingnya. Sehun sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Membuat Luhan hanya mengangguk lemah sebagai jawaban pertanyaan sang appa.
"Baiklah, jika kau sudah setuju. Besok kita akan ke Jepang. Bersiaplah Luhan"
Ingin rasanya Luhan menangis saat itu juga. Ia tidak ingin pergi namun ia juga tidak berani mengutarakan keinginannya pada orangtuanya. Luhan terlalu takut tapi bahkan Sehun juga tidak bereaksi apapun. Sehun seolah mendadak diam dengan keadaan di sekitarnya.
Sehunii.. Lakukan sesuatu.. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Aku mohon.. Aku mencintaimu.
.
.
Luhan tengah berada dalam keramaian bandara internasional Incheon dan akan segera lepas landas meninggalkan Korea.
"Luhan, sudah waktunya kita berangkat"
Appa kembali mengingatkan Luhan. Namun entah mengapa kakinya tidak ingin melangkah. Hatinya begitu berat untuk pergi. Sehun yang bahkan tidak ia lihat terasa menghilang tanpa jejak. Para maid bahkan mengatakan Sehun sudah pergi dari rumah dengan terburu-buru pagi sekali.
Luhan masih mengingat hangat pelukan Sehun disisinya sepanjang malam. Sehun hanya mengucapkan kata cintanya pada Luhan berkali-kali hingga Luhan terlelap. Namun saat Luhan terjaga, ia tidak mendapati Sehun disisinya.
"Baiklah appa"
Luhan berjalan gontai mengikuti langkah appanya. Sesekali Luhan berbalik melihat kebelakang. Berharap seseorang yang begitu ia cintai akan datang menemuinya.
Pikirannya begitu kacau, hatinya terasa sangat ngilu karena membayangkan Sehun. Apakah Sehun tidak benar-benar mencintainya?
Kali ini ia merasakan genggaman appanya di tangannya. Ia menatap appanya dengan wajah sendu menahan tangis. Sungguh, ia tidak ingin pergi. Ia hanya menginginkan Sehun saat ini.
"Luhan ayolah. Kita hampir ketinggalan pesawat"
"Appaa, Aku tidak ingin..hikss.. Aku tidak ingin pergi.."
Akhirnya isakan tangis tak lagi mampu Luhan pendam. Ia menangis di hadapan sang appa yang langsung mendekat dan memeluknya. Berusaha menenangkan Luhan.
"Aku tidak ingin pergi appa.. Hiks.. Hiks.. Aku tidak ingin jauh dari Sehun.. Hiks aku.. Aku mencintai…"
"LUHAN"
Luhan mencelos mencari asal suara yang memanggilnya. Suara yang sudah sangat familiar di telinganya.
"Sehun.." lirih Luhan.
Sehun berlari menuju Luhan yang menangis dan mengambil alih Luhan dari pelukan sang appa.
"Hikss.. Hiks.. Sehunii.."
"Maafkan aku hyung, maafkan aku sayang" Sehun menciumi pipi Luhan berkali-kali. Bahkan ia melakukannya di depan sang appa. Luhan hanya terisak sampil memeluk Sehun. Meluapkan rasa takutnya saat kehilangan Sehun.
Sehun terus menenangkan Luhan dalam dekapannya. Ia menciumi pucuk kepala Luhan.
"Aku mencintaimu Luhan hyung"
Selanjutnya ia mencium bibir Luhan dengan lembut. Sang appa bahkan dibuat terbelalak karenanya.
.
.
Beijing, China
Sehun sedang berkutat dengan kertas dihadapannya. Saat ini ia tengah menjalani rapat dewan dengan para pimpinan perusahaan yang lain.
".. Aku rasa hanya itu kesimpulan rapat kita pada pagi hari ini. Silahkan kembali bekerja"
Semuanya terlihat senang dengan hasil rapat yang menyatakan profit perusahaan tahun ini berlipat ganda. Itu tidak lepas berkat Sehun yang walaupun masih muda namun memiliki ide-ide segar dan cemerlang.
Saat ia kembali keruangannya, betapa senangnya ia mendapati Luhan berada disana. Tanpa menunggu Sehun langsung menyambar bibir Luhan yang sudah menjadi candu baginya.
"Eumhh.. Ahh sehunii.. Lepashh.."
"Hh.. Luhanhh.."
"Enghh ahh…ahhh"
Tanpa sadar Luhan sudah berada diatas pangkuan Sehun dengan kemeja yang sudah tidak terkancing. Dengan mata sayu dan bibir yang membengkak, membuat Sehun meneguk kasar air liurnya. Pemandangan yang begitu menggoda baginya. Sehun tidak ingin menunda apapun. Ia lalu meraba perut rata Luhan dan mengecup lembut nipple kemerahan Luhan. Kemudian hal hal yang kita inginkan terjadi.
Kursi kebesaran Sehun ikut bergoyang mengikuti tempo permainan keduanya. Tubuh yang saling bertubrukan satu sama lain dan desahan penuh cinta memenuhi seisi ruangan.
Ya bercinta dikantor tidak ada salahnya bukan?
.
.
.
End
Tadinya mau bikin full nc tapi ga bisaa.. Aku ga jagoo buat hot scene… Aku masih polosss…
Jadilah hanya seperti ini, maaf klo kurang hot T.T
Pasti bakalan banyak pertanyaan seputar endingnya, aku bakal jelasin di prolog chapter terakhir. Soalnya aku gamau nodai akhir bahagia hunhan ini xixixi xD
See you in prolog,, bye byee
Salam Rusa ^^
So, mind to review readernim?
#bow
