Seminggu lagi Luhan akan segera menghadapi Ulangan tengah semester, artinya seminggu kedepan ia harus menyusun planning agar ia tidak menyia-nyiakan waktu. Karena tanpa planning Luhan akan kacau dan stress sendiri. Bahkan dulu Kai sampai hampir membawa Luhan ke Psikolog saat JHS karena Luhan terlihat begitu kacau menghadapi ujian Akhir. Untung saja nilai luhan masih dapat dikatakan sangat baik. Yah peringkat 39 dari 200 siswa 1 angkatan merupakan prestasi yang cukup baik bukan? Yah walaupun si peringkat 1 selalu dipegang mutlak oleh baekhyun.

Dengan adanya Ujian sebagain besar siswa pasti merasa malas dan sibuk dengan bonus rasa jenuh dan bosan yang tak terhingga. Namun, bagi Luhan saat seperti ini adalah saat yang membahagiakan hidupnya, mengapa? Tentu saja dengan begini, Luhan akan mendapat beberapa keuntungan. Pertama, Luhan menjadi sibuk dan tidak sempat memikirkan Sehun, itu baik karena sehun selalu sukses membuat segala konsentrasinya hilang. Kedua Dia jarang bertemu Baekhyun, apalagi Baekhyun juga sedang sibuk menyiapkan diri untuk ikut Olimpiade, itu merupakan kabar baik bagi Luhan.

Sore ini, Luhan baru akan meninggalkan sekolah setelah mengikuti ekstrakulikuler musik yang baru saja dilakukan. Suasana hati luhan sedang sangat baik sekarang, Ia baru saja dipuji oleh salah satu sunbae yang menjadi alasannya untuk masuk klub musik, Kim Ryeowook, bahkan senyumnya kini masih tertempel erat di wajah Luhan, seakan tidak bisa lepas membuat orang-orang yang berpapasan dengan Luhan menatapnya dengan canggung.

"Hei Luhan!...BRUKK!" suara panggilan, eh maksudnya suara sesuatu yang jatuh sukses membuat luhan memutar badannya. Luhan melotot saat melihat seorang namja yang teridentifikasi sebagai Sehun sedang jatuh dengan posisi yang amat sangat tidak elit, dengan kepala tepat ada di depan sepatu Luhan, Buku yang berserakan, oh jangan lupa benjol yang sebentar lagi mungkin terlihat. Luhan hanya meringis melihat keadaan Sehun 'pasti sakit' pikirnya. Sehun yang jatuh dengan tidak elitnya hanya menggerutu kesakitan.

"Wah, itu pasti sakit sekali Sunbae." Bukannya menolong, Luhan malah memberi tanggapan yang menurut Sehun sangat tidak ia butuhkan.

"Hei Hoobae Kurang ajar, bantu aku! Aku terjatuh juga gara-gara kau tahu!"

"Heei... enak aja sunbae menuduhku, Siapa suruh sunbae lari-lari di lorong" Luhan tak terima disalahkan sehun.

"Hish sudahlah, cepat bantu membereskan buku-buku tebal ini bodoh!"

Akhirnya mereka berdua membereskan buku-buku tebal itu bersama. Luhan sendiri heran sejak kapan Sehun 'sudi' membaca buku tebal dari perpustakaan itu membuat Luhan penasaran.

"hei Luhan." Sehun memanggil nama Luhan.

"Waeyo?" Luhan mencoba agar tetap terlihat cuek.

"Minta nomor ponselmu.."

"Mwoo?! U-untuk apa?" Sialan!pasti wajah luhan sudah memerah mendengar sehun meminta nomor ponselnya.

"Jangan ke GR-an dulu bodoh, Aku minta untuk koleksi. Sekalian aku agar lebih mudah mengetahui kabar Baekhyun." Jawaban Sehun sukses membuat harapan Luhan terhempas jauh ke dalam bumi. Luhan berusaha untuk bersikap biasa saja walau sebenarnya ia ingin segera lari dari hadapan Sehun. 'tentu saja ia hanya ingin memanfaatkanku bodoh!' Batin Luhan meringis perih.

"Hih, siapa yang GR? Kau PD sekali Sunbae.. Arraseo, kemarikan ponsel Sunbae." Kata luhan datar. Sehun hanya cengengesan karena sudah berhasil mendapatkan nomor Luhan.

Setelah memasukkan nomornya di ponsel Sehun, Luhan bergegas pergi. Namun lagi-lagi Sehun menghentikannya. "Apa lagi Sunbae? Aku harus segera pergi" Lama-lama Luhan begitu jengkel pada Sehun. Ia ingin segera pulang dan istirahat di rumah. Fisik dan batinnya sudah sangat lelah.

"Anio, Ayo pulang bersama. Lagipula aku harus memberikan buku ini pada Jongin." Sehun menarik tangan Luhan masuk ke dalam mobilnya yang diparkir ditempat parkir halaman sekolah.

Di dalam perjalanan Luhan lebih banyak diam dan memilih menatap keluar jendela. Ia sibuk menetralkan detak jantungnya karena terlalu lama berdekatan dengan Sehun.

"Hei Luhan.. Menurutmu Baekhyun itu bagaimana?" Sehun memulai percakapan.

"Dia baik"

"kudengar dia suka Susu Strawberry, apa itu benar?" Sehun bertanya lagi.

"Eum, itu benar"

"Apa dia sedang menyukai seseorang?"

"Mollayo" Luhan terus menjawab pertanyaan Sehun dengan singkat, membuat Sehun sedikit jengkel karena merasa diabaikan.

"Apa Baekhyun sering bercerita tentang ku?" kini nada bicara Sehun jadi lebih bersemangat. Sedangkan luhan berusaha untuk tidak terbawa emosi yang sejak tadi tertahan karena Sehun terus menanyakan Baekhyun. Untung saja mereka hampir sampai setidaknya Luhan harus bisa menahannya hingga rumahnya.

"Lu? Kau tidak menjawabnya?"

"Mianhae, sunbae kita sudah sampai. Terima kasih atas tumpangannya."

Luhan langsung masuk dan mengabaikan teriakan Sehun dari dalam mobil.

"Aku pulang" Ucap luhan lesu.

"Waah Lulu sudah pulang?" suara wanita yang tak asing membuyarkan lamunan Luhan.

"Kyungsoo Eonni? Aah bogoshipo" Luhan berseru.

Luhan langsung memeluk Kyungsoo erat. "hiks.. eonnie... hiks..." Kyungsoo tertegun saat Luhan menangis dipelukannya. "Waeyo Lu? Apa ada masalah hmm?" Kyungsoo mengelus pundak Luhan yang masih bergetas karena menangis. "Aniyo.. biar seperti ini sebentar eon, kumohon sebentar saja."

"Arraseo... peluk aku sesukamu Lu, uljima ne?" Kyungsoo masih menenangkan Luhan.

"Annyeong Haseyo." Sebuah suara menginterupsi mereka berdua.

"Eh, Sehun? Sedang apa disini?" Tanya Kyungsoo heran. Kyungsoo masih memeluk Luhan yang enggan melepaskan pelukkannya.

Sehun hanya mengendikan bahunya tak peduli dan bertanya dimana Kai alias Jongin berada.

"Kai ada di kamarnya, kau langsung saja menemuinya. Kurasa ia sudah selesai ganti baju" Ucap Kyungsoo yang langsung dijalankan oleh Sehun. Sehun naik menuju lantai dua tempat kamar kai dan luhan langsung mengetuk kamar yang ia ketahui sebagai kamar milik Kai.

"Tok-tok-tok Kai, ini aku Sehun. Cepat buka pintunya." Tak ada jawaban, Sehun kembali mengetuk ani kini ia menggedor pintu kamar Kai dengan tidak berperikepintuan.

"Hoaam...BERISIK kenapa kau mengganggu acara sleeping beauty-ku Albino!" kepala kai menyembul dari celah pintu dengan muka yang sangat sangat menjijikan. Ayolah bagaimana tidak menjijikan, Kai baru bangun tidur, dan kai tidur dengan posisi menyemping dan mulut menganga. Menurut penelitian author posisi tidur kai akan mengakibatkan terbentuknya aliran sungai alami yang bau dan lengket memenuhi wajah coklat *coret hitam Kai.

"aish, cuci mukamu dulu bodoh, dasar blacky jorok!" Sehun membuat gerakan mengusir dengan tangannya.

"Hiks...Hiks..." Suara kecil samar itu sukses membuat perdebatan kecil sehun dan kai terhenti.

"Suara apa itu?" Kai yang baru saja mencuci muka bertanya pada sehun.

"Entahlah, seperti suara orang menangis."

"Yak! Albino masa kutinggal ke kamar mandi sebentar saja menangis? Yang benar saja!" Kai menatap Sehun tak percaya.

"Kubilang ada yang menangis Bodoh, Bukan aku yang menangis-_-"

"Sudahlah Lu, Uljima.. sebenarnya ada apa hmm? Kau bisa bercerita padaku." Kyungsoo masih mencoba untuk membujuk Luhan. Luhan hanya diam saja walau masih sesekali terisak. "Arraseo jika kau tidak mau bercerita. Uljima ne? Jika sudah mau bercerita kau bisa menemuiku atau jongin. Arraseo?" Kyungsoo menyerah untuk membujuk Luhan menceritakan apa yang terjadi. "Nah, sebaiknya kau tidur Lu, tenangkan dirimu. Aku akan turun untuk memasak." Kyungsoo beranjak dari kamar Luhan menuju ke dapur, memang tadi saat sehun datang Luhan dan Kyungsoo juga naik ke atas, tepatnya kamar Luhan.

...

...

"JONGIN-AH, SEHUN! CEPAT TURUN! MAKAN MALAM SUDAH SIAP!" Teriakan super membahana Kyungsoo sukses membuat Sehun terlonjak kaget, Kai sih sudah terbiasa. Bahkan kyungsoo pernah berbicara dengan nada yang lebih keras dari ini tepat di teling jongin, membuat Luhan harus mengantar Jongin ke dokter THT terdekat.

"ARRASEO CHAGI-YA, KAMI AKAN SEGERA TURUN.." Jongin membalas teriakan kyungsoo membuat sehun lagi-lagi mendapat serangan jantung ringan.

"Hei pasangan gila, berhentilah berteriak, aduh telingaku-_-" Sehun mengerutu.

"heh albino, kau oikir kau siapa melarang kami untuk berteriak, ini rumahku babo!" Kai membalas ucapan sehun tajam.

Perdebatan Sehun dan Kai masih terus berlanjut hingga meja makan. Mereka masih asyik menyalahkan satu-sama lain.

"Lho? Luhan mana?" Tanya Kai, Kai menyadari bahwa sosok Luhan masih belum terlihat, padahl adiknyalah yang paling bersemangat untuk membantu Kyungsoo memasak di dapur.

"bukannya dia biasanya paling semangat jika ada kau yang memasak Kyung? Tadi Luhan tidak turun untuk membantu?" Kai berbicara dengan sedikit jengkel pada Adiknya, bukannya sudah ada perjanjian bahwa Luhan harusnya membantu Kyungsoo di dapur saat yeoja itu datang berkunjung.

"Sudahlah Kai, tak apa. Lagipula Luhan pasti sangat lelah. Aku juga tidak merasa kerepotan kok." Kyungsoo langsung membela Luhan.

"Tapi Kyung-"

"Sttt.. diamlah. Wah Lulu kau sudah turun?" Kyungsoo langsung menyambut Luhan saat melihat sosok Luhan yang masih berdiri di tangga.

"YAK! Lu kau seharusnya mem- , Kau habis menangis?" Kai yang hendak memarahi Luhan langsung bertanya panik begitu melihat mata Luhan yang sedikit sembab.

"Aniyo." Luhan menjawab datar.

"Hei, Lu jangan berbohong pada Oppa-mu." Kai jadi makin khawatir karena Luhan tampak murung.

"Diamlah Kai." Luhan masih menjawab dingin. Kai baru saja akan mengomeli Luhan jika saja Kyungsoo tidak menyenggol lengan Kai, yang mengisyaratkan agar Kai diam dan memulai untuk makan.

Kegiatan makan mereka pun dimulai, mereka makan dengan tenang tanpa ada yang membuka topik pembicaraan.

"Ehem.. Lu..." Kai memulai pembicaraan.

"Wae?" Luhan masih menjawab acuh, dan masih sibuk dengan makanannya.

"Lusa aku dan Kyungsoo akan pergi ke China-"

Luhan langsung menatap Kai datar. Hei mana sudi Luhan ditinggal sendirian di rumah. "Aku ikut"

"Ckck dengarkan aku dulu! Jangan memotong perkataan orang." Kai menghadrik Luhan sebal.

"Memangnya mau apa ke China?" Luhan bertanya acuh.

"Bulan madu dengan Kyungsoo tentu saja" Kai malah bicara nyeleneh.

"Hei kai jelaskan dengan benar dong!" Kyungsoo menegur Kai.

Sehun yang sedari tadi menikmati makanannya hanya mengendikkan bahu tak peduli.

"Kami akan pergi membantu mengurus beberapa keperluan Baba dan Mama. Mereka akan kembali ke Korea 3 Bulan lagi." Kai menjelaskan dengan kebih jelas.

"kenapa aku tak boleh ikut? Aku bisa membantu." Luhan sedikit protes. "Lulu sayangku kau tidak boleh absen lebih dari 3 hari selain sakit, itu aturan untuk siswa tahun pertama, Dan kami akan pergi ke China 1 Minggu. Jadi walaupun ingin mustahil kau bisa ikut kami." Kata kai yang malah kini mulai meledek adiknya.

"Aku sudah selesai." Luhan langsung lari menuju ke kamarnya di lantai atas.

"Aish, bocah itu kalau marah menyebalkan sekali." Kai menggerutu.

"Sudahlah Kai, Luhan hanya sedang lelah. Lagipula kau jangan mengomelinya terus Kai. Mungkin Luhan sudah sangat merindukan Baba dan Mama." Kyungsoo menenangkan. Kai hanya menghembuskan nafasnya dan mengangguk.

"Aku Pulang, terima Kasih atas makan malamnya." Sehun menginterupsi pembicaraan Kai dan Kyungsoo.

"E-eh ne Sehun-ah maaf daritadi kami mengabaikanmu." Kyungsoo jadi merasa bersalah.

"Gwenchana Noona, Kai-ah aku pergi dulu."

"Hati-hati" Kai mengingatkan Sehun.

'Dasar bocah cengeng' Gumam sehun saat menjalankan mobilnya.

##Almurfa##

Pagi ini Luhan mengantarkan Kai dan Kyungsoo ke bandara. Sebenarnya ia ingin ikut, namun peraturan sekolah sialannya membuatnya harus rela ada di rumah sendirian selama seminggu penuh.

"Nah, jaga dirimu baik-baik Lu. Jangan macam-macam. Arraseo?" Kai memperingati adiknya. Bagaimanapun Kai juga khawatir meninggalkan Luhan sendirian, namun apa boleh buat.

"Aku menyuruh Tao untuk menginap beberapa hari. Tao sudah setuju, Kuharap kau tidak keberatan Lu." Giliran Kyungsoo yang bicara. Tao adalah teman dekat Luhan sekaligus sepupu Kyungsoo. "eum, arraseo. Oppa, eonni. Pergilah" Luhan mengiyakan perintah oppa dan eonninya dan mendorong mereka untuk segera pergi. Luhan melambaikan tangannya saat Kai dan kyungsoo memasuki ruang khusus penumpang yang akan naik (author ga tau namanya-_-). "Kyungie, apa menurutmu Luhan menjadi aneh beberapa hari ini?" Kai mencoba bertanya pada Kyungsoo tentang perubahan sikap adiknya.

"Ne, kai-ah. Kurasa Luhan manjadi lebih pemurung sejak kejadian itu."

"Kejadian 'itu'?" Kai kini merenyit bingung. Kyungsoo akhirnya menceritakan saat Luhan menangis beberapa hari lalu namun Luhan enggan menceritakannya. Kai hanya menghela nafasnya bingung setelah mendengar cerita Kyungsoo

'sebenarnya ada apa denganmu Lu' batin Kai miris.

#To Be Continue#

Huaaa apa ini?:'v

Maaf mengecewakan..

But Review please?