Disclaimer: Bleach©Tite Kubo

Story©Fuuyuki Ayasegawa

Genre: Romance, Hurt/comfort

Rate: M (for save)

Warning: AU, OOC, typo (kalau ada), complicated relationship, mulai ada adegan sedikit "panas" jadi yang usia 17 ke bawah dilarang liat. Kalo nekat tanggung sendiri akibatnya.

Keterangan:

- "Bla bla bla" = Speak

- 'Bla bla bla' = Inner

Main Chara:

1. Ishida Uryuu: 28th, Dokter & pemilik Karakura Hospital.

2. Ulquiorra Schiffer: 29th, Pengacara.

3. Yumichika Ayasegawa: 29th, Model & Actress.

4. Szayel Apporo Granz: 29th, CEO perusahaan IT Franccion corp.

5. Yylfordt Granz: 30th, Musisi & Model.

6. Aizen Sousuke: 35th, Presdir Espada corp.

Don't Like, Don't Read!

Happy Reading \(^•^)/ \(^•^)/ \(^•^)/

Surprize in my life

Preview

"Ne Hime-chan kalau begitu sekarang tentukan malam ini kau akan bermalam dikamar siapa?" ucap Yylfordt yang baru membuka suaranya.

Orihime nampak terkejut, tapi ia sudah terlanjur menerima perjanjian tersebut. Ia menarik nafas lalu...

"Baiklah, malam ini aku akan bermalam dengan..."

Chapter 6

"Ishida-kun. Tidak apa kan?" ucap Orihime dengan malu-malu. Sedangkan Ishida tampak tersenyum angkuh sambil membenarkan kacamatanya.

"Hee? Ishida lagi? Semalam kan kau sudah bersamanya Hime" ucap Yylfordt yang tidak terima dengan keputusan Orihime.

"Ne Ishida, kau tidak memaksa Hime kan?" tanya Szayel dengan seringainya.

"Tentu saja tidak Szayel. Aku tidak pernah memaksa pada siapa pun" jawab Ishida masih dengan senyum angkuhnya.

"Hah ya sudahlah kalau Hime-chan ingin bersama Uryuu-kun malam ini, lagi pula masih ada hari besok bukan? Ne Uryuu-kun jangan melakukan permainan dokter-pasien pada Hime ya" ucap Yumichika menggoda Ishida.

"E-eh t-tentu saja tidak Yumichika. Kau sudah tertular virus hentai Yylfordt rupanya. Sebaiknya besok kalian mencuci otak bersama" balas Ishida meledek Yumichika.

"Hee? Ada apa Uryuu-kun? Kau memang seorang dokter kan? Lalu apa yang salah dari ucapanku? Ah sepertinya otakmu yang harus dicuci, ne Uryuu-kun" jawab Yumichika sambil menyeringai sedangkan Yylfordt tertawa geli.

"Arrgghh urusai. Jangan memutar balik omongan Yumichika" jawab Ishida setengah kesal lantaran jadi bahan olokan teman-temannya.

"Sudah, sudah. Apapun keputusan Orihime kita harus menghargainya. Mungkin ada yang Orihime ingin bicarakan dengan Ishida" ucap Aizen dengan tenang dan seolah bisa membaca fikiran Orihime.

'Eehhh.. Aizen-san bisa mengetahuinya? Apa ia seorang cenayang?' inner Orihime dengan wajah polos. Aizen yang melihatnya pun tertawa.

"Hehehe kenapa princess? Tidak perlu bingung aku bisa tahu fikiranmu. Kau tahu, wajahmu itu seperti sebuah buku yang mudah dibaca.

Kau beruntung Ishida bisa bermalam dengannya dua kali" ucap Aizen sambil menghampiri Orihime kemudian menggenggam tangannya. Orihime nampak terkejut.

"Princess besok kau ada waktu jam 7 malam?" tanya Aizen dengan senyum membius andalannya.

"Tidak ada Aizen-san" jawab Orihime dengan gugup. Ia masih belum terbiasa dengan sentuhan mendadak dari Aizen.

"Bagus kalau begitu. Besok kita akan menghadiri acara penyerahan jabatan presdir Espada Corp. Jadi persiapkan dirimu princess.

Ah ya, Yumichika tolong besok kau dandani Orihime agar terlihat seperti istri seorang presdir" ucap Aizen kemudian meninggalkan ruangan setelah mendapat jawaban "iya" dari Yumichika.

"Ne Hime sebaiknya kau segera beristirahat agar wajahmu nampak segar saat di dandani besok. Oyasumi minna, jaa" ucap Yumichika lalu meninggalkan ruangan.

Begitu pula dengan Szayel dan Yylfordt, mereka juga kembali ke kamar masing-masing setelah mengucap "Oyasumi" pada Orihime.

Kini tinggal mereka berdua diruangan tersebut. Ishida memutar otak bagaimana mengajak Orihime ke kamarnya, karena ia belum pernah mengatakan hal tersebut pada perempuan manapun.

'Yosh. Semoga kata-kataku tidak tersengar aneh' inner Ishida dengan tekad bulat.

"Orihime, mari kita ke kamar" ajak Ishida dengan rona merah di pipinya, ia juga mengulurkan tangannya pada Orihime.

"U-um" jawab Orihime menganggukan kepalanya dan menyambut uluran tangan dari Ishida. Mereka bergandengan tangan menuju kamar Ishida yang letaknya berada di ujung lorong lantai 2 mansion.

Sepanjang jalan mereka hanya diam, rona merah tampak menghiasi wajah keduanya. Sesampainya didepan kamar, Ishida mempersilahkan Orihime masuk terlebih dahulu.

"Hime, apa kau ingin mandi terlebih dahulu sebelum tidur?" tanya Ishida yang terdengar seperti 'invitation' bagi Orihime.

'Ah sial,,, apa aku terdengar seperti orang mesum? Bagaimana ini?' inner Ishida canggung.

"Ano, aku sudah mandi tadi saat Ishida-kun menungguku untuk makan malam. Kalau Ishida-kun ingin mandi silahkan duluan, aku hanya ingin mencuci muka saja" jawab Orihime malu-malu.

'Aduh,,, apa yang harus aku lakukan? Ini membuatku malu' inner Orihime yang tak kalah canggungnya.

"Baiklah kalau begitu kau cuci muka saja duluan Orihime, setelah itu aku mandi" ucap Ishida sambil menyiapkan piyamanya.

"Ano, bisakah aku ke kamarku sebentar? Sabun mukaku ada disana dan juga aku ingin mengganti pakaian" tanya Orihime meminta izin pada Ishida.

"Ah tentu saja Orihime. Sumimasen, seharusnya aku tadi ke kamarmu terlebih dahulu sebelum mengajakmu kesini. Perlu ku temani?" tanya Ishida sambil memegang pundak Orihime.

"Tidak usah Ishida-kun, aku bisa sendiri. Lagipula kamarku kan hanya beberapa langkah saja dari kamar ini. Aku akan segera kembali Ishida-kun" jawab Orihime dengan senyum yang manis seperti biasanya.

"Baiklah kalau begitu, aku mau mandi dulu. Sebaiknya kau sudah kembali kesini saat aku selesai Orihime" ucap Ishida yang sedikit khawatir membiarkan Orihime ke kamarnya sendiri di malam hari. Pasalnya, Orihime satu-satunya gadis di mansion ini.

"Um, tenang saja Ishida-kun" jawab Orihime setelah itu berlalu dari kamar Ishida. Ishida segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri setelah seharian beraktivitas.

"Hah akhirnya bisa kembali ke kamarku walau sebentar. Orihime, kau hanya menemaninya tidur saja tidak lebih. Anggap saja kau sedang menginap bersama teman-teman seperti waktu SMA dulu" ucap Orihime pada dirinya sendiri.

Orihime sangat gugup dan malu ketika ia harus tidur berdua dengan Ishida. Tidak seperti malam kemarin karena ia mabuk dan sampai saat ini ingatannya masih belum jelas.

Setelah mencuci muka Orihime hendak mengganti dressnya dengan pakaian tidur. Ia membuka lemari besar dihadapannya yang sudah berisi pakaian-pakaian bukan miliknya. Entahlah, mungkin Yumichika yang menyiapkan semuanya.

"Ah bagaimana ini? Tidak mungkin aku tidur dengan pakaian seperti ini? Kalau aku tidur sendiri sih tidak masalah. Hah besok aku harus membawa semua pakaian milikku" ucap Orihime frustasi lantaran semua pakaian tidur yang tersedia berupa lingerie dengan jubah luarannya.

Orihime tidak biasa tidur dengan pakaian yang terbilang sexy tersebut. Akhirnya dengan terpaksa ia memilih lingerie berbahan silk polos warna ungu tua dengan luaran warna yang sama. Lingerie tersebut memiliki panjang 10cm diatas lutut.

Setelah mengganti baju, Orihime memakai parfum kemudian meninggalkan kamarnya. Ia sudah terbiasa menggunakan parfum sebelum tidur supaya bisa lebih rileks.

Orihime keluar dari kamarnya lalu melihat sosok pria berjalan menuju balkon. Orihime reflek mengikuti pria tersebut diam-diam. Ia sangat terkejut ketika melihat pria itu menegok ke arahnya.

'Dia! Apa yang ia lakukan disini? Ah mungkinkah aku berhalusinasi?' inner Orihime tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia sempat mengusap-usap matanya untuk memastikan.

Meskipun penerangan di balkon tidak terlalu terang, akan tetapi Orihime sangat yakin dengan orang yang dilihatnya saat ini. Ia juga tidak memiliki masalah dengan penglihatannya.

Merasa seperti ada yang memperhatikan, pria itu berbalik dan menatap Orihime dengan sedikit terkejut. Orihime tidak berani membuka suara, pria itu perlahan menghampiri Orihime.

Pria itu masih membisu, akan tetapi pandangan matanya terlihat nanar saat memandang Orihime. Ia menyentuh pipi Orihime sambil tersenyum sedangkan Orihime hanya diam mematung ditempatnya.

Ia merasa panas menjalari matanya melihat sosok familiar dihadapannya saat ini tengah membelai lembut pipinya sambil tersenyum manis padanya.

"Apa yang kau lakukan disini? Kau, kenal dengan mereka? Apa kau benar-benar nyata..." tanya Orihime, masih ragu dengan apa yang dilihatnya.

Pria itu hanya tersenyum lalu memeluknya erat seakan tidak ingin kehilangan dirinya. Orihime hanya diam, ia tidak tahu harus senang atau sedih dipeluk oleh pria tersebut.

Setelah beberapa menit memeluk gadis bersurai orange dihadapannya, pria itu melepaskan pelukannya lalu mengecup kening Orihime. Orihime terkejut dengan aksi pria yang tidak asing menurutnya.

"Hime, Orihime... Kau dimana?" terdengar suara Ishida memanggil Orihime yang sedari tadi belum kembali ke kamarnya. Ishida sangat khawatir Orihime 'diculik' oleh suami yang lain dan ia pun mencarinya.

Mendengar namanya dipanggil Orihime menengok ke arah suara Ishida memanggilnya lalu menatap pria dihadapannya. Pria itu menggelengkan kepala sambil memberi isyarat dengan menaruh jari telunjuk di bibirnya.

Pria itu perlahan menjauh dari Orihime, meninggalkannya sendiri terpaku ditempatnya.

"Ternyata kau disini Orihime. Aku sangat khawatir padamu" ucap Ishida sambil memeluk Orihime dari belakang. Orihime diam, tidak menanggapi ucapan Ishida.

"Ku-kurosaki-kun... Hiks,,," ucap Orihime dengan terisak. Ishida memutar tubuh Orihime hingga berhadapan dengannya.

"Orihime?! Kenapa kau menangis?" tanya Ishida khawatir.

"Kurosaki-kun,,, hiks,, baru saja aku bertemu Kurosaki-kun..."

Ishida mengernyitkan dahi, ia cukup heran mendengar penuturan sang gadis.

"Ichigo? Tidak mungkin ia kesini Orihime, ia tidak mengetahui tempat ini. Mungkin kau salah lihat Orihime" ucap Ishida sambil menyeka air mata Orihime dengan jemarinya.

"Tapi Ishida-kun,,, baru saja ia disini. Bahkan pelukannya masih bisa kurasakan" jawab Orihime meyakinkan Ishida yang tanpa Orihime sadari sempat berekspresi kesal beberapa saat.

"Sekarang kita kembali ke kamar Orihime, angin malam tidak baik untuk kesehatan" ucap Ishida sambil memaksakan senyumnya.

Orihime menurut, ia merasa tubuhnya mulai dingin. Ishida merangkul pinggang Orihime, mereka berjalan bersama menuju kamar Ishida.

Tanpa mereka sadari pria tadi sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.

"Dia mirip denganmu... Istriku..."

"Orihime, tubuhmu dingin sekali. Kau ingin aku buatkan minuman hangat?" tanya Ishida sambil menutupi tubuh Orihime dengan selimut.

"Tidak usah Ishida-kun. Kalau boleh aku ingin wine atau bourbon saja" jawab Orihime yang kini duduk bersandar ditempat tidur.

"Sepertinya aku masih memiliki beberapa wine. Chotto akan ku ambilkan" ucap Ishida seraya mengambil sebotol white wine beserta gelas dari dalam lemari di kamarnya. Kemudian Ishida menuangkan wine tersebut untuk Orihime.

"Arigatou Ishida-kun. Kau tidak menemaniku minum?" tanya Orihime heran melihat Ishida hanya menyiapkan satu gelas saja.

"Domo Orihime. Aku sedang tidak ingin minum. Besok aku harus fit saat melakukan operasi" jawab Ishida sambil menyerahkan gelas berisi wine pada Orihime.

Orihime menggoyangkan gelas winenya pelan kemudian mencium aroma wine tersebut. Setelah itu ia mencicipinya sedikit. Terlihat senyum puas diwajah Orihime.

"Mm,, wine ini berusia tua. Tak ku sangka kau juga pandai memilih wine Ishida-kun" ujar Orihime lalu meneguk lagi separuh wine digelasnya.

"Benarkah? Sebenarnya aku tidak begitu paham mengenai jenis-jenis wine. Itu merupakan hadiah dari seorang kolega" jawab Ishida sambil memandangi Orihime yang tampak menikmati wine tersebut.

"Ah begitu ya.. Aku sangat menyukai wine ini. Ano, bolehkah aku menambah winenya Ishida-kun?" ucap Orihime sambil menggoyangkan gelasnya yang sudah kosong.

"Baguslah kalau kau menyukainya. Ini silahkan, tapi sebaiknya kau jangan minum terlalu banyak Orihime" Ishida kembali menuangkan wine pada gelas Orihime.

"Ano Orihime,, sejak kapan kau suka minum? Setahuku kau gadis polos yang tidak mungkin menyentuh minuman beralkohol?" tanya Ishida yang cukup terkejut dengan perubahan Orihime.

"Tenang saja Ishida-kun, aku kan sudah dewasa sekarang. Hei kau lupa Ishida-kun? Umurku sudah 28 tahun. Banyak hal yang berubah Ishida-kun, mungkin aku bukan lagi gadis polos yang dulu kau kenal.

Aku mulai menyukai wine dan minuman berakohol lainnya sejak aku dekat dengan Rangiku-chan. Ia sangat kuat dalam hal minum. Rangiku-chan adalah temanku sejak aku kuliah. Dia bukan orang jahat kok, dia orang yang sangat baik.

Dia sudah seperti Onee-chan bagiku. Bahkan banyak yang mengira kami saudara karena kemiripan fisik kami. Aku sudah berubah Ishida-kun, banyak hal yang berubah dariku. Tapi,,, ada satu hal yang hingga saat ini belum berubah..."

Orihime kembali meminum winenya hingga gelasnya kosong lalu mengisinya kembali hingga penuh. Ishida masih mendengarkan Orihime dengan serius.

"Kurosaki-kun,,, perasaanku pada Kurosaki-kun entah mengapa masih belum bisa berubah. Aku sudah berusaha sekeras mungkin membuang semua tentangnya dari hidupku, tapi.. Sulit, sulit sekali melupakannya.

Kenapa Kurosaki-kun lebih memilih Kuchiki-san yang saat itu belum lama dikenalnya? Ia dengan mudahnya menolak pernyataan cintaku dengan ucapan

"Maaf kau sudah ku anggap sebagai sahabatku dan imoutoku" Tega sekali.. Hiks,,," Orihime mulai menitikkan air matanya sambil menenggak sekaligus wine digelasnya.

"Dan dua hari kemudian ku dengar kabar mereka sudah resmi sebagai pasangan. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku Ishida-kun?

Aku hancur Ishida-kun,,, setelah kepergian Sora-Nii, dialah yang ku jadikan panutan" Orihime kembali mengisi gelasnya dengan wine dan meminumnya sekaligus.

"Dia selalu perhatian kepadaku, selalu membantuku, bahkan selalu menjagaku. Tapi ternyata semua ia lakukan padaku sebagai sahabatnya, imoutonya. Siapa yang salah disini Ishida-kun? Siapa... Hiks,, hiks,,,"

Melihat Orihime menangis membuat hati Ishida terasa nyeri, apalagi yang membuat gadis tersebut sedih adalah Ichigo, pria yang bertahun-tahun dicintainya tanpa berbalas.

Ishida memeluk Orihime, membiarkan gadis tersebut melampiaskan seluruh kesedihan dalam pelukannya. Ishida mengusap lembut kepala Orihime lalu mengecup pucuk kepalanya.

'Aku mengerti yang kau rasakan Orihime, sangat mengerti. Butuh waktu berapa lama lagi agar kau bisa membuka hatimu untukku Hime..' inner Ishida yang masih memeluk erat gadis pujaannya.

"Apakah salah Kurosaki-kun yang sudah terlalu baik padaku? Atau memang salahku yang sedari awal menyalah artikan semua kebaikannya? Aku harus apa Ishida-kun? Bulan depan ia akan menikah dengan Kuchiki-san..

Kenapa tidak dari dulu saja mereka menikah huh? Apa yang mereka tunggu? Kemarin kau dengar sendiri bukan mereka sudah melakukan 'itu' sebelum menikah. Aku sakit mendengarnya Ishida-kun, aku sakit.."

Orihime kembali meminum wine nya, kali ini langsung dari botolnya. Setelah puas menghabiskan hampir seluruh isi botol, ia menaruh botol wine tersebut pada meja yang berada disamping tempat tidur. Orihime kembali melanjutkan curahan hatinya pada Ishida.

"Jangankan melakukan 'itu' berciuman pun aku belum pernah melakukannya. Memalukan bukan di usiaku yang hampir kepala tiga ini aku masih seorang perawan? Hah, selama ini aku menjaga tubuhku hanya untuk Kurosaki-kun..

Tapi untuk apalagi aku menjaganya? Toh dia saja sudah melakukannya dengan Kuchiki-san. Mungkin akan lebih baik kalau aku memberikannya padamu. Apa kau bersedia, ne Uryuu-kun.."

Orihime tiba-tiba menindih tubuh Ishida yang sedari tadi memeluknya. Ishida sangat terkejut dengan perubahan mendadak pada sikap Orihime.

"Orihime kau mabuk. Sudah kubilang jangan minum terlalu banyak. Aku akan mengambilkan ocha hangat untukmu" ucap Ishida sambil menjauhkan Orihime dari tubuhnya.

"Matte Uryuu-kun. Aku tidak mabuk, aku juga tidak butuh ocha hangat. Yang aku butuhkan itu kau Uryuu-kun. Apa kau tidak menginginkanku Uryuu-kun?" Orihime memeluk pinggang Ishida dari belakang ketika hendak bangun dari tempat tidur.

"Orihime, tolong lepaskan. Berhenti melakukan hal seperti ini" ucap Ishida dengan nada datar, tidak seperti biasanya. Ishida masih membelakangi Orihime.

"Kau tidak perlu menahannya Uryuu-kun. Bukankah kita sekarang menjadi suami-istri? Kau pasti menginginkannya bukan?" Orihime menyandarkan dagunya pada pundak kanan Ishida. Jemarinya mulai meraba perut Ishida.

Merasa tingkah Orihime makin keterlaluan, Ishida menepis kasar pelukan Orihime. Orihime yang tidak siap terjungkal diatas tempat tidur.

"Yamero Orihime. Aku tidak ingin melakukannya denganmu! Kau tidak seperti Inoue Orihime yang ku kenal!" Ishida berjalan menuju pintu tanpa sedikitpun berbalik menatap seperti apa ekspresi Orihime saat ini.

"Hiks,,, hiks,,, aku gadis menyedihkan yang tidak pernah diinginkan oleh pria manapun. Aku tidak bisa menarik pria manapun. Aku benar-benar gadis yang payah" ucap Orihime di sela isak tangisnya.

Melihat Orihime begitu rapuh membuat Ishida menyesalkan sikap kasarnya tadi. Ia sama sekali tidak bermaksud melukai perasaan Orihime. Pria mana yang tidak senang diajak melakukan 'itu' oleh perempuan yang disukainya?

Akan tetapi Ishida tahu kalau Orihime berkata seperti itu diluar kesadarannya. Ishida tidak mau melakukannya saat Orihime tidak sadar akan perbuatannya.

Ishida mengbampiri Orihime yang tengah menangis ditempat tidur, ia memeluk tubuh Orihime yang terasa mungil namun padat dipelukannya. Ishida berusaha menenangkan Orihime dengan mengusap-usap kepalanya.

Setelah tangis Orihime tidak lagi terdengar, Ishida melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Orihime yang sudah dibasahi air mata. Ishida mengambil tissue yang berada dimeja samping tempat tidurnya.

Lalu mengelap wajah Orihime dengan hati-hati. Entah dorongan darimana perlahan jarak wajah mereka mulai menipis dan semakin dekat. Aroma wine tercium jelas dari nafas Orihime membuat Ishida seakan mabuk juga dibuatnya.

(WARNING!)

.

.

.

.

.

.

Bibir mereka bertemu, saling menempel satu sama lain. Ishida mulai melumat pelan bibir Orihime. Ia dapat merasakan sisa wine yang menempel pada bibir sang gadis. Terdengar suara desahan Orihime, membuat tubuh Ishida terasa panas.

Lidah Ishida menerobos masuk, menginvasi mulut Orihime dan mengajak lidah Orihime beradu dengan lidahnya. Tanpa sadar posisi mereka yang semula duduk berhadapan kini Orihime berada dibawah tubuh Ishida.

Mereka masih menikmati permainan lidah yang didominasi oleh Ishida. Tubuh keduanya sudah terasa panas meskipun AC kamar tersebut bersuhu 17° C.

"Mmmhhh Uryuu-kun,,, O-onegai..." ucap Orihime disela kegiatannya.

Suara Orihime terdengar seduktif ditelinga Ishida. Ia menyudahi kegiatannya lalu menatap Orihime yang penampilannya terlihat sangat menggoda dibawahnya. Lingerienya tampak berantakan dan mengekspose belahan tubuh bagian depannya.

Ishida menenggak ludah, sangat tergiur akan pemandangan yang menggoda tersebut. Ishida melepaskan luaran lingerie Orihime, membuangnya asal. Lalu ia melepaskan lingerie Orihime, melemparnya seperti luarannya tadi.

Kini Orihime hanya mengenakan bra dan underwear. Terlihat jelas dua bukit yang berukuran besar meski masih terbalut bra sebagian. Orihime terlihat malu-malu ditatap oleh Ishida.

Ishida kembali menginvasi rongga mulut Orihime, kali ini lebih liar dibandingkan awal. Orihime tidak diam saja, ia melepaskan kancing-kancing piyama yang digunakan Ishida. Sekarang Ishida sudah topless dan mengekspose tubuh atletisnya.

Ciuman Ishida berlanjut menuju leher Orihime, aroma parfum masih tercium jelas olehnya dan membuat libidonya terpacu. Ia menjilat dan menggigit pelan leher Orihime. Orihime mendesah pelan, menikmati setiap aksi yang Ishida lakukan.

Ishida melanjutkan kegiatannya pada dada Orihime. Ia membuat beberapa kissmark disana. Orihime merasakan bagian tubuhnya yang lain bereaksi hebat.

"U-Uryuu-kuunnhh, cepat lakukan,,," pinta Orihime yang sudah tidak tahan dengan sentuhan-sentuhan yang Ishida berikan.

Ishida tersadar dari nafsu yang beberapa waktu lalu membutakannya. Ia segera menjauhkan diri dari Orihime yang kini tengah menatapnya dengan nafas tersengal. Ishida tidak ingin melanjutkan lagi kesalahan yang dibuatnya.

"Orihime, gomennasai. Aku tidak bermaksud mengecewakanmu, tapi akan lebih baik jika kita melakukannya bukan karena nafsu saja. Sebaiknya kita segera istirahat, sekarang sudah jam 2 malam Orihime" ucap Ishida lalu mengecup kening Orihime.

Ishida membaringkan tubuh Orihime dan memakaikan selimut hingga menutupi lehernya. Orihime terdiam, ia merasa kesadarannya mulai menghilang kemudian tertidur dengan sendirinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

(Sudah aman untuk dibaca)

Pagi hari Orihime terbangun dari tidur yang terasa nyenyak. Orihime hendak mengubah posisi menjadi duduk namun ia merasakan berat pada kepalanya serta rasa mual yang mengaduk perutnya.

Orihime memaksakan diri berjalan cepat menuju kamar mandi. Sesampainya disana ia memuntahkan apa saja yang ada dalam perutnya.

Ishida terbangun mendengar suara Orihime dari dalam kamar mandi, dengan khawatir ia menghampiri Orihime yang masih memuntahkan isi lambungnya. Ishida memijit pelan tengkuk Orihime, membantunya supaya lebih rileks.

Setelah merasa perutnya tidak lagi mual, Orihime mencuci mulut dan wajahnya. Namun kepalanya masih terasa agak pusing dan hampir saja jatuh jika Ishida tidak segera merangkulnya.

Disitulah Orihime baru menyadari bagaimana penampilannya saat ini. Serta penampilan Ishida yang topless dilihatnya membuat Orihime berfikir yang macam-macam.

"Kyaaa! Ishida-kun, apa yang terjadi padaku?!" teriak Orihime histeris. Ishida pun baru menyadari penampilan Orihime yang hanya mengenakan bra dan underwear.

"Ah eto, chotto aku carikan pakaianmu Orihime" Ishida mendudukkan Orihime di kloset, lalu mencari lingerie Orihime yang dilemparnya asal semalam.

Ishida kembali dengan membawa lingerie Orihime beserta luarannya. Orihime segera memakainya didalam kamar mandi sedangkan Ishida menunggu diluar.

'Apa yang terjadi semalam? Kali ini aku hanya mengenakan pakaian dalam saja. Ahh kepalaku masih terasa pusing' inner Orihime seraya memakai pakaiannya.

Orihime keluar dari kamar mandi dengan malu-malu. Ishida menghampiri Orihime dan merangkulnya.

"Orihime, daijobu? Kau ingin sarapanmu diantarkan kesini?" tanya Ishida dengan cemas. Orihime menggeleng.

"Daijobu Ishida-kun. Tidak enak dengan yang lain kalau aku tidak makan bersama mereka" jawab Orihime yang terdengar lemah.

"Tidak apa Orihime, kalau kau merasa kurang sehat sebaiknya jangan dipaksakan. Mereka pasti akan mengerti" ucap Ishida sambil mengusap kepala Orihime.

"Tenang saja Ishida-kun, aku tidak apa-apa. Oh ya apa semalam aku terlalu banyak minum?" tanya Orihime teringat dengan hal terakhir yang dilakukannya.

"Yah kau menyisakan 1/4 botol dari wine yang kau minum. Aku tidak menyangka kau bisa meminum hampir seluruh wine dengan kadar alkohol yang terbilang tinggi Orihime" jelas Ishida memapah Orihime menuju tempat tidur.

"Begitukah? Pantas saja kepalaku sangat pusing sekarang. Oh perutku terasa mual lagi Ishida-kun" ucap Orihime yang kini duduk dipinggir tempat tidur.

Ishida tampak mencari sesuatu dalam tasnya, setelah menemukan apa yang dicarinya ia kembali menghampiri Orihime.

"Ini pakai dilehermu dan hirup aromanya. Ini bisa mengurangi rasa mual yang kau rasakan Orihime" ucap Ishida lalu memberikan sebotol minyak angin pada Orihime.

"Arigatou Ishida-kun, aku akan segera mengembalikannya" ucap Orihime sambil mengoleskan minyak angin tersebut pada lehernya dan menghirup aromanya. Wajah Orihime terlihat lebih rileks sekarang.

"Tidak apa Orihime, kau simpan saja. Kau akan membutuhkannya lagi nanti. Oh ya aku akan meminta Kira menyiapkan bubur dan ocha hangat untukmu, kau tunggu disini saja Orihime" ucap Ishida kemudian meninggalkan Orihime dikamarnya.

"Kami-sama, apa tadi malam terjadi sesuatu lagi antara aku dengan Ishida-kun? Tidak biasanya aku semual ini sehabis minum. Walaupun tidak sering tapi aku sudah terbiasa meminum minuman beralkohol tinggi.

Ahh,,, jangan-jangan aku... Bagaimana ini?" ucap Orihime menduga-duga apa yang terjadi pada dirinya.

TBC

Hallo Minna, gomen Fuuyu updatenya gak kilat, eh pas update ceritanya jadi ganti rate. Hehehe.. Fuuyu gak tau itu udah masuk rate M atau masih T+ ? Jadi biar aman Fuuyu bilang aja M. 😁😁

Gomen juga Fuuyu pasangin Orihime sama Ishida, bukan Ulquiorra. Kan di chap kemaren Ulqui nya kabur gitu aja pas masih kumpul-kumpul di ruang baca. Jadi Orihime gak milih Ulqui apalagi Ulqui nya juga jutek sama Orihime.

Tapi nanti Orihime bakal mau kok bermalam sama Ulquiorra, tinggal tunggu aja kapan gilirannya. Hehehe. Sekarang Fuuyu sapa dulu teman-teman yang udah kasih reviewnya.

- Oormiwa: Hallo Oormiwa-san. Semoga chap ini gak bosenin ya Oormiwa-san. Arigatou reviewnya 😃 Stay tune terus yaaa 😉

- tamiino: Hallo Tami-chan. Hehehe Yumichika itu jadi cewek bisa, cowok juga bisa. Yap, Aizen dan Ulquiorra duo ganteng kharismatis yang nongol. Jadi jealous nih Orihime dapet suami kece-kece(?) #kan fuuyu sendiri yang bikin yaa? Hehehe#

Ishida gitu biar bisa lebih dekat sama Orihime. Kan nanti Orihime penasaran, terus dekatin Ishida terus biar dikasih tahu. Hehehehe. Gak deh itu intermezzo doang. Semoga chap ini cukup panjang ya Tami-chan.

Arigatou reviewnya 😊 semoga chap ini gak bosenin. Stay tune terus yaa 😉

- Nelli is My Name: Hallo Nel-chan. Nanti Aizen sama Ishida Fuuyu kirim lewat PM yaa #emang bisa yaa?# 😁 wah mau dong senternya, biar bisa kantongin Ulqui sama Byakuya. Hihihi.

Di chap ini udah Fuuyu coba bikin rate M (beneran masuk rate M gak sih?) tapi kayanya kurang deh 😁 tetua itu Aniki nya Fuuyu, secara Fuuyu kan numpang Kompi sama Lepinya dia. Jadi minta izin dulu sama Aniki dan syukurlah dia bolehin #sebenernya dia gak tau rate M itu apa. Hahaha#

Semoga chap ini gak bosenin yaa. Arigatou reviewnya Nel-chan. Stay tune terus yaa 😃😃

- INOcent Cassiopeia: Hallo Ino-chan. Ulqui mah gitu orangnya 😃 Jangan Ino-chan, kalo Ulqui tidur sama Ino-chan, Fuuyu gimana? #apa hubungannya 😁😁# Hehehe tenang aja Orihime kuat kok ladenin 6 orang(?)

Ulqui junior ya? Nanti Fuuyu usahain deh paksa Ulqui sama Orihime 😁😁 Semoga chap ini gak bosenin yaa. Arigatou Ino-chan reviewnya. Loph yu tuu 😘😘 Stay tune terus yaa 😉

- Febri (Guest): Hallo Febri-san. Wah Arigatou udah dibilang bagus 😍 Iya kalau awalnya memang agak bikin bingung, tapi kesini-kesininya bakal clear kok 😉

Gomen ne Febri-san, di chap ini Fuuyu bikin Orihime tidur bukan sama Ulqui, soalnya Ulqui udah pergi duluan sebelum acara pemilihan. Tapi nanti bakal ada kok scene Orihime nginep sama Ulquiorra. Semoga chap ini gak bosenin yaa Arigatou reviewnya Febri-san 😃 Stay tune terus yaa 😉

- Mizuki Schiffer (Guest): Hallo Mizuki-san. Iya akhirnya Ulquiorra nongol setelah di iming-imingin fotonya Fuuyu #apa coba?# 😃 Soal parfum, mungkin mereka sehati(?) #Jiwa Fujo bangkit# Hehehe ayo coba tebak siapa dia.. Udah ada clue nya lhoo..

Semoga chap ini gak bosenin yaa. Arigatou reviewnya Mizuki-san 😃 Stay tune terus yaa 😉

- Ade854: Hallo Ade-san. Kalo gak salah Ade-san pernah review di fic Fuuyu yang lain ya? Wah suka pair AiHime yaa.. Fuuyu usahakan bikin moment AiHime di chap depan ya Ade-san. Semoga chap ini gak bosenin yaa.

Arigatou reviewnya Ade-san 😃 Stay tune terus yaa 😉

Arigatou minna yang sudah bersedia membaca fic Fuuyu sampai chapter ini. Semoga gak ada hambatan untuk tetap update, soalnya Fuuyu masih punya hutang 2 fic yang sampai sekarang belum lanjut. Hehehe. Habisnya selalu muncul ide-ide baru jadi fic yang lama malah kurang perhatian.

Gomennasai kalau ceritanya agak garing atau ada yang kurang suka dengan hal-hal berhubungan dengan "ranjang". Karena tidak menutup kemungkinan fic ini akan ada unsur lime/lemon di chap mendatang. Tapi belum pasti juga sih. Hehehe piiisss.

Arigatou gozaimasu minna yang sudah memberi support dan reviewnya serta yang follow dan fave fic ini. Ditunggu reviewnya 😉 tapi jangan flame ya. See u next chap. Jaa~~