Disclaimer: Bleach©Tite Kubo

Story©Fuuyuki Ayasegawa

Genre: Romance, Hurt/comfort

Rate: T

Warning: AU, OOC, typo (kalau ada), complicated relationship,

Keterangan:

- "Bla bla bla" = Speak

- 'Bla bla bla' = Inner

Main Chara:

1. Ishida Uryuu: 28th, Dokter & pemilik Karakura Hospital.

2. Ulquiorra Schiffer: 29th, Pengacara.

3. Yumichika Ayasegawa: 29th, Model & Actress.

4. Szayel Apporo Granz: 29th, CEO perusahaan IT Fraccion corp.

5. Yylfordt Granz: 30th, Musisi & Model.

6. Aizen Sousuke: 35th, Presdir Espada corp.

Don't Like, Don't Read!

Happy Reading \(^•^)/ \(^•^)/ \(^•^)/

Surprize in my life

Preview

"Kami-sama, apa tadi malam terjadi sesuatu lagi antara aku dengan Ishida-kun? Tidak biasanya aku semual ini sehabis minum. Walaupun tidak sering tapi aku sudah terbiasa meminum minuman beralkohol tinggi.

Ahh,,, jangan-jangan aku... Bagaimana ini?" ucap Orihime menduga-duga apa yang terjadi pada dirinya.

.

.

.

Chapter 7

"Ohayou Ishida-sama" sapa Kira begitu melihat Ishida berjalan ke ruang makan.

"Ohayou Kira-san. Ah bisa tolong siapkan bubur dan ocha hangat untuk Orihime? Ia sedang tidak enak badan" ucap Ishida yang masih mengenakan piyama.

"Apa yang kau lakukan semalaman dengan Hime-chan sampai-sampai ia tidak enak badan, ne Ishida?" ucap Yylfordt yang tiba-tiba muncul dan mendengar percakapan Ishida.

"Apa maksudmu Yylfordt. Lebih baik kau dinginkan kepalamu dibawah shower" jawab Ishida dengan cuek lalu meninggalkan ruang makan. Ishida kembali ke kamarnya untuk melihat kondisi Orihime kemudian membersihkan tubuhnya.

"Hoy Kira, kudengar kemarin Hime bertemu dengan dia? Bagaimana bisa?" tanya Yylfordt setelah Ishida tidak lagi berada diruangan tersebut.

"Iya Yylfordt-san. Saya juga tidak tahu kalau Orihime-sama kembali lagi ke halaman belakang. Anda tahu kan kebiasaannya. Untung saja saya datang tepat waktu dan mengatakan kalau Orihime-sama sedang kurang sehat" jelas Kira sambil setengah berbisik pada Yylfordt.

"Begitu ya. Dia harus lebih berhati-hati kalau mau melakukan sesuatu. Sekarang ia tidak bisa bebas keluyuran mansion karena ada Hime-chan. Kau tahu Kira, semalam Hime bertemu lagi dengan dia dibalkon.

Aku melihatnya ketika ingin berbincang dengannya disana. Dan apa yang selanjutnya terjadi? Dia memeluk Hime-chanku. Sepertinya ia menyadari kalau Hime mirip dengan mendiang istrinya.

Tapi yang membuatku aneh, Hime-chan hanya diam saja. Ia seperti sudah kenal lama dengannya. Apa Hime-chan juga mengenalnya?" tanya Yylfordt sambil memegang dagu.

"Benarkah Yylfordt-san? Setahuku Orihime-sama tidak kenal dengannya. Aku sudah menyelidiki semua orang yang berhubungan dengan Orihime-sama. Bahkan Sora-san juga tidak memiliki hubungan dengannya" jelas Kira yang ternyata menyelidiki Orihime diam-diam.

.

.

.

.

"Orihime, aku masuk" ucap Ishida didepan pintu kamarnya. Meskipun itu kamarnya, tapi ia tidak seenaknya saja karena ada Orihime disana.

"Silahkan Ishida-kun" jawab Orihime yang terdengar lemah.

"Orihime, kau mau tetap disini atau ku antar ke kamar?" tanya Ishida yang khawatir melihat kondisi Orihime.

"A-aku ingin ke kamarku saja Ishida-kun. Aku harus bersiap-siap sebelum sarapan bersama"

"Baiklah kalau kau bersikeras ingin sarapan bersama. Sebaiknya kau ku antar ke kamarmu Orihime. Kepalamu pasti masih pusing kan?" Orihime hanya mengangguk, rasa mual masih terasa mengaduk perutnya.

Tanpa aba-aba Ishida menggendong Orihime ala bridal style, Orihime terkejut dengan perlakuan Ishida tersebut.

"I-Ishida-kun, aku masih bisa berjalan sendiri. Turunkan aku Ishida-kun" pinta Orihime namun tidak digubris oleh pria berkacamata tersebut.

"Sumimasen Orihime, kumohon kali ini kau menuruti perkataanku. Aku merasa bersalah padamu Orihime. Andai saja tadi malam aku tidak menuruti permintaanmu, mungkin kau tidak akan mabuk dan jadi begini"

Orihime tidak lagi meminta diturunkan dari gendongan Ishida, ia tidak memiliki banyak tenaga untuk memaksa apalagi berontak.

"Ano Ishida-kun, apa semalam kita melakukan sesuatu? Kali ini aku hanya um,,, mengenakan pakaian dalam saja.. Kumohon kali ini kau ceritakan padaku apa yang terjadi Ishida-kun. Kau juga berhutang penjelasan yang kemarin padaku" ucap Orihime dengan pandangan yang membuat Ishida luluh.

Ishida menghela nafas, ia harus menceritakan yang sebenarnya apapun konsekuensi yang akan diterimanya nanti.

"Kau memang gadis yang pemaksa Orihime" ucap Ishide sambil tersenyum lembut. Orihime balas tersenyum, ia senang akhirnya Ishida mau menceritakan kronologinya.

"Hari pertama kita tidur bersama, aku bersumpah tidak terjadi sesuatu antara kita. Kau hanya menangis semalaman sambil mencurahkan semua rasa sedihmu tentang bocah orange itu.

Setelah itu kau pun tertidur, lalu aku mengganti pakaianmu karena terkena bir yang kau minum. Hanya itu tidak lebih" jelas Ishida yang masih menggendong Orihime menuju kamarnya.

"Sou ka. Gomen ne aku sudah merepotkanmu Ishida-kun. Lalu tadi malam,,, apa yang terjadi? Apa kita,, umm,, kita melakukan 'itu' Ishida-kun?" tanya Orihime sedikit was-was dengan jawaban apa yang akan Ishida berikan.

Ishida masih diam, ia memikirkan bagaimana cara mengatakannya pada Orihime. Awalnya memang Orihime yang memulai tapi ia malah menanggapinya dan hampir saja melakukan hal tersebut pada Orihime.

"Ishida-kun, tidak apa. Katakan saja yang sebenarnya padaku" ucap Orihime sambil menyentuh pipi Ishida dan tersenyum lembut.

"Semalam kau lagi-lagi mabuk Orihime. Sama seperti malam sebelumnya, kau menceritakan lagi tentang perasaanmu pada bocah itu, bedanya kali ini dengan emosi dan sedikit frustasi. Lalu,,, " ucapan Ishida terhenti.

Tampak sesosok pemuda berkulit pucat yang kini tengah menatap mereka dengan tajam. Orihime mengeratkan pegangannya pada pundak Ishida, ia agak ngeri ditatap seperti itu apalagi orang tersebut tidak menampakkan ekspresi apapun.

Kamar Pria tersebut ternyata berada persis disamping kanan balkon sedangkan kamar Orihime berada disamping kiri balkon. Orihime baru mengetahuinya sebab semalam ia tidak tahu siapa yang menghuni kamar tersebut.

"Ah Ulquiorra, Ohayou" sapa Ishida pada pria tersebut.

"Hn, Ohayou Ishida" jawab Ulquiorra singkat. Ia masih menatap Orihime yang berada dalam gendongan Ishida.

Ishida sedikit risih dengan tatapan Ulquiorra yang seolah mengintimidasi.

"Orihime sedang tidak enak badan, jadi aku mengantarnya ke kamar. Apa kau libur hari ini Ulquiorra?" jelas Ishida disertai sedikit basa-basi pada Ulquiorra.

"Tidak juga Ishida, aku hanya berangkat agak siang hari ini. Ku lihat kakinya baik-baik saja dan masih bisa digunakan untuk berjalan. Hn, perempuan manja" ucap Ulquiorra sambil berlalu meninggalkan mereka.

Orihime terlihat sangat kesal dengan sikap dan perkataan Ulquiorra yang selalu memojokkannya. Ishida pun tidak mengerti dengan sikap Ulquiorra yang tidak biasanya seperti itu pada perempuan.

"Ishida-kun, kenapa orang itu terlihat sangat tidak suka aku berada disini? Aku kan tidak punya masalah dengannya" tanya Orihime dengan nada kesal.

"Aku juga tidak mengerti Orihime. Ia memang selalu bersikap dingin pada perempuan manapun. Mungkin ia tidak terbiasa dengan adanya perempuan disini. Sudahlah tidak perlu difikirkan Orihime"

Karena kejadian tersebut Orihime lupa dengan apa yang sedang ia bahas bersama Ishida tadi. Sekarang mereka telah sampai di kamar Orihime, Ishida membaringkan tubuh gadis tersebut diatas tempat tidurnya.

"Orihime, kau yakin ingin sarapan bersama? Aku bisa meminta Kira membawakannya kesini" tanya Ishida sekali lagi pada Orihime. Ia masih khawatir dengan kondisi gadis yang sudah lama ia sukai tersebut.

"Um,, tidak perlu khawatir Ishida-kun. Aku ingin menunjukkan kalau aku bukan gadis manja seperti yang dikatakan pria aneh tadi" jawab Orihime sambil melipat tangan di dada serta mengembungkan pipinya.

Ishida sangat gemas melihat sikap Orihime yang sudah lama tidak dilihatnya. Ia tersenyum sambil mengacak pucuk kepala Orihime.

"Ya sudah kalau begitu segera bersiap-siap untuk sarapan Orihime. Aku juga mau bersiap-bersiap. Nanti kabari aku kalau kau sudah selesai. Jaa Orihime" Ishida meninggalkan Orihime sendiri dikamarnya.

Orihime berjalan perlahan menuju kamar mandi, kepalanya sudah tidak begitu pusing seperti tadi. Ia segera memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.

.

.

.

.

Semua sudah berkumpul di meja makan, termasuk Orihime. Seperti makan malam kemarin, Aizen kembali memimpin acara sarapan pagi ini.

Orihime menikmati sarapannya yang berbeda menu dengan para 'suami'nya. Seperti biasa sambil makan Orihime memperhatikan suaminya satu per satu. Ia kagum melihat cara makan mereka yang tampak elegan seperti kemarin dilihatnya.

Dan menu sarapan mereka hari ini adalah nasi goreng dengan topping yang berbeda, mungkin sesuai dengan selera masing-masing.

Tiba-tiba Orihime merasakan mual kembali mengaduk perutnya, sepertinya aroma nasi goreng tersebut cukup menyengat dihidungnya.

Ia meminum ocha hangat yang disediakan untuknya dengan harapan dapat meredam mual yang dirasakannya.

Tapi tetap saja, ia masih merasakan mual dan membuat pusing kepalanya. Beberapa menit sudah Orihime berusaha tidak menghiraukan mual yang menyerangnya tapi semua usahanya sia-sia.

"Huueekk,,," akhirnya keluar juga suara yang sedari tadi Orihime takutkan.

"Hime, daijobu?" tanya Yumichika yang mendengar jelas suara Orihime.

Orihime belum bisa menjawab, ia tengah berusaha meredam rasa mualnya. Orihime hanya melambaikan tangannya pada Yumichika yang duduk tepat disampingnya.

"Huueekkk,,," kali ini dengan suara yang cukup keras hingga semua mata tertuju padanya.

Orihime segera berlari menuju kamar mandi di lantai 1 yang berada di dekat dapur.

Kira segera berlari mengejar Orihime, Ishida hendak ikut menyusul namun ditahan Oleh Yylfordt yang duduk tepat disampingnya sambil menatap Ishida dengan tatapan yang sulit diartikan.

Semua aktivitas makan terhenti, bukan karena jijik mendengar suara mual Orihime, tapi mereka berempat tengah menatap Ishida, sedangkan Ulquiorra tetap melanjutkan sarapannya seolah tidak ada apa-apa.

"He-hei minna. Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Ishida gugup lantaran sorot mata mereka seolah mengatakan "Apa yang kau lakukan pada Orihime?"

Yumichika menyeringai pada Ishida, "Ne ne Uryuu-kun... Kau sudah memeriksa Hime belum? Jangan-jangan dia..." Yumichika sengaja menggantungkan kalimatnya.

Ishida masih bersikap cuek-cuek saja walau keringat dingin mulai terasa dipunggungnya.

"Hoy Ishida, semalam aku mendengar kalian cukup gaduh, apa yang kalian lakukan?" Yylfordt turut menggoda Ishida yang kini terlihat pucat. Ternyata Yylfordt menguping ke kamar Ishida diam-diam.

"Hee benarkah itu Yylfordt-kun? Kenapa kau tidak memberitahuku semalam? Aku sangat penasaran dengan kegiatan mereka semalaman. Hehehe" Yumichika kembali menggoda Ishida. Nampaknya mereka sangat kompak dalam hal menggoda.

"Urusai! Sejak kapan kau jadi tukang nguping Yylfordt? Kau juga Yumichika, sejak kapan kau suka ingin tahu urusan orang. Apa kalian sudah bosan dengan kerjaan kalian sekarang" ucap Ishida dengan kesal.

Sebenarnya Szayel juga ingin bertanya pada Ishida, tapi mood Ishida terlihat tidak begitu baik berkat duo iseng yang menggoda Ishida tadi. Jadi ia hanya bisa menduga-duga saja.

Terdengar Aizen menghela nafas, ia cukup tertarik dengan kejadian pagi ini.

"Kalian ini berhentilah menggoda Ishida seperti itu. Lebih baik kita melihat kondisi Orihime saat ini" ucap Aizen yang sudah bersiap meninggalkan meja makan. Ia ingin menghampiri Orihime yang masih belum kembali ke ruang makan.

.

.

.

"Hoooeekkkk,,,, hooeeekkk,,, aduuhh bagaimana ini... Kepalaku terasa pusing sekali.." ucap Orihime yang masih memuntahkan isi lambungnya di kloset.

"Orihime-sama,,, Orihime-sama,,, Sumimasen bolehkan saya masuk?" tanya Kira khawatir, ia bisa saja memaksa masuk tapi mengingat statusnya disini ia terpaksa mengurungkan niatnya.

"Tidak perlu Kira-san... Aku baik-baik saja.. Hooeeekk,,," Orihime masih belum bisa menghentikan mualnya.

"Ah bagaimana ini? Aku sangat khawatir dengan Orihime-sama" ucap Kira sambil menatap pintu yang masih tertutup rapat didepannya.

Aizen sudah berada dibelakang Kira, ia menepuk bahu pemuda blonde tersebut.

"Ah Aizen-sama. Sumimasen saya tidak bisa melakukan sesuatu untuk Orihime-sama. Ia tidak mengijinkan saya masuk" lapor Kira pada Aizen.

"Tidak apa Kira, arigatou sudah mengkhawatirkan Hime. Biar aku saja yang masuk" ucap Aizen kemudian masuk ke dalam kamar mandi tersebut. Untung saja pintunya tidak dikunci oleh Orihime.

"Princess, kenapa bisa seperti ini?" tanya Aizen terdengar khawatir sambil memijat tengkuk Orihime. Ia tidak merasa jijik melihat Orihime memuntahkan isi lambungnya.

Setelah beberapa menit akhirnya Orihime sudah berhenti melakukan aktivitas yang menguras isi lambungnya tersebut, Orihime membersihkan wajah dan mulutnya. Ia nampak pucat dan tidak bertenaga.

"Kepalaku pusing sekali..." ucap Orihime setengah meringis. Ia bersandar pada dinding. Aizen segera menarik Orihime kepelukannya. Ia mengusap-usap kepala Orihime dengan maksud dapat menenangkan gadis yang juga berstatus 'istri'nya.

"Sebaiknya ku antar kau ke kamar Hime, biar nanti Kira mengantarkan sarapanmu kesana" Aizen menggendong Orihime dengan gaya bridal style seperti yang dilakukan Ishida.

"Gomennasai Aizen-san, aku sudah membuat sarapan jadi kacau..." Orihime menyesal sebab tidak menuruti saran Ishida untuk sarapan dikamar.

Aizen menggeleng sambil tersenyum "Tidak Princess, malah sarapan kali ini terasa lebih hidup, sebelumnya kami hanya duduk diam dan tidak ada sepatahkata pun. Baru dua hari sejak kedatanganmu disini, suasananya mulai terasa berbeda.

Orihime menunduk malu dalam gendongan Aizen. Ia tidak berani menatap iris coklat yang mampu meluluhkannya. Tampan, sopan, berwibawa dan baik. Itulah penilaian Orihime terhadap Aizen setelah beberapa kali berinteraksi dengannya.

Begitu Aizen hendak menaiki tangga menuju kamar Orihime, tampak ke-4 pria yang juga berstatus sebagai 'suami' Orihime menghampiri mereka.

"Hime, kau kenapa?" tanya Szayel sambil memegang pundak Orihime.

"Hime-chan, kenapa kau bisa begini? Apa yang baka Ishida lakukan padamu?" tanya Yylfordt yang membuat perempatan siku-siku muncul di kening Ishida. Sedangkan Orihime terlihat merona malu mengingat apa yang terjadi saat dikamar Ishida tadi pagi.

"Hime-chan, kau tampak pucat. Sebaiknya kau kembali sarapan supaya perutmu tidak kosong" ucap Yumichika sambil membelai kepala Orihime.

"Orihime, kau ingin ikut denganku kerumah sakit? Aku bisa memeriksamu lebih rinci disana" tanya Ishida yang paling khawatir diantara yang lain.

"Arigatou minna sudah mengkhawatirkanku. Aku ingin beristirahat dikamar saja" ucap Orihime singkat.

"Kau yakin tidak ingin menerima tawaran Ishida, Princess?" tanya Aizen yang masih menggendong Orihime.

"Um,, aku ingin disini saja Aizen-san" jawab Orihime dengan mantap.

"Baiklah kalau itu keinginanmu, tapi kalau sampai sore nanti kau belum juga baikan, kau harus mau ku bawa kerumah sakit Princess" ucap Aizen tegas. Orihime tersenyum lalu menggangguk.

"Kalau begitu aku berangkat Hime, cepat sembuh ya. Ittekimasu" ucap Szayel sambil mengecup punggung tangan Orihime.

Yylfordt dan Yumichika terkejut dengan sikap pria bersurai pink yang tidak biasanya berani seperti itu.

"Orihime, aku juga berangkat. Jangan lupa mengabari kondisimu padaku, minumlah air hangat serta jangan makan-makanan yang asam dan pedas Orihime. Ittekimasu" Orihime hanya tersenyum pada Ishida.

'Dokter memang beda ya. Ishida-kun terlihat cerewet hari ini' inner gadis bertubuh sintal tersebut.

"Nah Princess, sekarang kau ku antar kekamar, aku juga harus segera kekantor. Tidak apa kan Princess?" Orihime seakan baru tersadar kalau ia masih berada dalam gendongan Aizen.

"Ah gomennasai Aizen-san,,, aku sangat merepotkanmu. Iya Aizen-san, aku tidak ingin membuatmu mendapat masalah dikantor" ucap Orihime yang merasa tidak enak pada Aizen.

"Hime, aku akan mendatangi kamarmu nanti. Jadi jangan khawatir, aku akan selalu ada untukmu" Yumichika mengelus kepala Orihime lalu pergi ke halaman belakang.

"Cepat sembuh Hime-chan, aku ada dikamar jika kau membutuhkanku" ucap Yylfordt sedikit seduktif dan sukses mendapat pukulan halus dikepala dari Aizen.

Yylfordt memandang Aizen sambil nyengir tidak berdosa, kemudian pergi begitu saja dari hadapan mereka berdua. Aizen menghela nafas sambil menggelengkan kepala. Sejak kedatangan Orihime semua nampak bersemangat, pengecualian untuk Ulquiorra.

Tidak ada yang bisa menebak apa yang tengah difikirkan atau dirasakan dibalik topeng stoic pemuda beriris emerald tersebut.

Aizen menapaki anak tangga menuju kamar Orihime. Sebenarnya Orihime sudah tidak merasa mual lagi, ia merasa bersalah sudah membuat Aizen kerepotan dengan menggendong tubuhnya yang sudah pasti lumayan berat.

"Aizen-san, aku bisa berjalan sendiri. Tubuhku pasti berat" ucap Orihime memberanikan diri menatap wajah Aizen.

"E-eh daijobu Princess. Kalau kita resmi menikah nanti, aku sudah terbiasa menggendongmu seperti ini" jawab Aizen dengan senyumnya yang terlihat sedikit lelah. Bahkan terlihat keringat di keningnya.

Akhirnya tiba juga mereka dikamar Orihime. Aizen segera merebahkan tubuh Orihime ditempat tidur. Akan tetapi Aizen kehilangan keseimbangannya dan jatuh menimpa Orihime.

Sudah bisa dipastikan Aizen kelelahan akibat memaksakan diri menggendong Orihime yang tidak bisa dibilang kurus.

Orihime sangat terkejut melihat Aizen jadi seperti itu karena dirinya. Aizen pun tak kalah terkejutnya bisa seperti itu hanya karena menggendong seorang gadis. Ia merasa malu pada Orihime. Mungkin faktor umurlah yang menjadi penyebabnya.

Karena sibuk dengan pemikiran masing-masing, mereka tidak sadar dengan posisinya saat ini. Sampai terdengar sebuah suara yang menyadarkan mereka.

"Krruuuccuukk... Kkrruucccuukkk"

Orihime yang menyadari darimana suara itu berasal reflek ingin menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tapi Aizen menahan tangan mungil Orihime. Ia tersenyum geli pada Orihime.

"Tidak usah malu Princess, aku tahu kau pasti lapar. Perutmu harus segera diisi Princess" ucap Aizen sambil menatap lekat iris kelabu milik gadis dibawahnya.

Orihime tidak dapat berkata apapun seolah mulutnya terkunci. Tatapan mata Aizen serasa menghipnotisnya, membuat Orihime tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Wajah Aizen semakin mendekati wajahnya.

Orihime bisa merasakan wajahnya memanas saat ini. Pesona seorang Sousuke Aizen entah mengapa mampu membuatnya luluh.

Bahkan sempat terlintas dalam benak Orihime apa Aizen menggunakan 'susuk' -yang masih menjadi perbincangan disuatu negara- hingga mampu memikat hati perempuan hanya dengan menatap wajahnya.

"Princess, aku sangat menginginkanmu.." ucap Aizen tepat beberapa centi didepan wajah Orihime.

"Ap, Hmmmppp" Aizen sudah mengunci bibir Orihime yang tadinya hendak mengatakan sesuatu.

Ia bisa merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh bibirnya. Aizen masih terus melumat bibirnya yang tak kunjung memberikan akses masuk untuk lidah pria bersurai coklat tersebut.

Orihime berusaha berontak, bukan ini yang ia inginkan. Orihime memang mengagumi pesona Sousuke Aizen tapi tidak lebih dari itu.

Ditengah usahanya berontak dari ciuman Aizen, Orihime merasa deja vu. Memorinya memutarkan scene seperti yang dilakukan Aizen padanya, hanya saja bukan dengan Aizen ia melakukan hal tersebut.

Tanpa sadar Orihime melonggarkan pertahanannya hingga Aizen dapat memperdalam ciumannya serta menginvasi rongga mulutnya.

Orihime masih fokus pada memori yang tiba-tiba muncul tersebut seperti ia sedang menonton cuplikan film. Betapa terkejutnya Orihime ketika ia ingat dengan siapa melakukan hal tersebut.

"Ishida-kun..." nama yang reflek disebutnya saat Aizen sedang menciumi leher jenjangnya.

Ekspresi kesal terlihat pada wajah Aizen yang beberapa detik lalu tengah 'on fire' kini lenyap dan segera menjauhkan dirinya dari sang gadis.

"Kenapa kau menyebut namanya Princess? Apa hal yang kulakukan padamu mengingatkan dengan apa yang sudah kau lakukan bersamanya?" skakmat, Orihime hanya membisu sambil menundukkan kepala.

"Kenapa kau diam saja Hime? Apa saja yang sudah ia lakukan padamu? Biar aku menghapusnya dan menjadikan kau milikku seutuhnya" ucap Aizen sambil mencengkram kedua bahu Orihime.

"Ah Ittaiii,, Aizen-san... Tolong lepaskan aku" Orihime merasa sakit dikedua bahunya. Aizen masih belum melepaskan cengkramannya, tatapan mata yang terlihat membius kini nampak seperti hollow yang ingin memangsa jiwa.

"Kumohon lepaskan aku Aizen-san. Ini menyakitkan,,, hiks,, hiks,," Isak Orihime yang merasakan kedua bahunya seperti remuk.

Bukannya melepasakan, Aizen malah menahan tubuh Orihime agar tidak berontak padanya. Orihime terus berontak sambil berteriak meminta pertolongan dengan harapan Yumichika, Yylfordt atau Kira mendengar suaranya.

"Lepaskan Aizen-san,,, Dare ka tasukete"

Tiba-tiba pintu kamar Orihime terbuka dengan kasar, tampak dua pria tengah menatap tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Orihime. Kedua pria itu segera menghampiri Orihime dengan khawatir, ada rasa marah juga pada pria berkacamata yang melihat hal tersebut.

"Aizen-sama, apa yang anda lakukan" ucap Kira segera menaruh nampan yang berisi makanan untuk Orihime diatas meja rias.

"Aizen-san, apa seperti ini caramu mendapatkan Orihime?! Kau menyakitinya Aizen!" pria itu segera menjauhkan Aizen dari tubuh Orihime yang tengah menangis karena ketakutan.

Seakan baru tersadar dari sisi gelapnya, Aizen hanya diam dengan wajah seolah tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukannya.

Ia menunjukkan wajah sangat menyesal pada Orihime yang kini bersandar pada dada bidang si pria berkacamata, masih belum menghentikan tangisnya.

Kira tidak tahu harus berbuat apa? Apa ia ikut menenangkan Orihime dengan mengatakan kalau Aizen tidak bermaksud menyakitinya? Atau ia menghampiri Aizen -yang nota bene adalah majikan utamanya- dan menenangkannya?

Aizen berjalan perlahan mendekati Orihime yang masih berada dalam pelukan pria yang juga salah satu suaminya. Tangannya terulur, berusaha menyentuh Orihime.

"Hime,,, gomennasai.. Hontou ni gomennasai Orihime" ucap Aizen dengan suara bergetar. Ia sangat merasa bersalah akibat kekhilafan yang sudah dilakukannya pada Orihime.

Szayel menatap Aizen tajam, andai saja ia tidak kembali ke mansion untuk memberikan obat serta buah-buahan dan makanan pada Orihime, mungkin Aizen sudah bertindak sangat jauh pada gadis bersurai jingga tersebut.

Sedangkan Kira, ia hendak pergi keluar membelikan makanan untuk Orihime jika Szayel tidak datang menghampirinya.

"Hime, daijobu. Aku ada disini menjagamu Hime" ucap Szayel sambil mengusap punggung Orihime lalu mengecup keningnya. Orihime sudah mulai menghentikan tangisnya.

"Sumimasen A-Aizen-sama, sebaiknya anda segera ke kantor. Ini sudah hampir jam 10, Aizen-sama" Kira memberanikan diri berbicara pada majikannya. Ia tahu majikannya tengah kalut dalam rasa bersalahnya pada Orihime.

Akan lebih baik jika Aizen menjauh sementara dari Orihime, begitu pemikiran Kira. Aizen keluar dari kamar Orihime diikuti Kira setelah berojigi pada Szayel.

Aizen pergi diantar oleh Kira yang menyupiri mobilnya. Selama perjalanan Aizen tampak melamun. Kira hendak mengatakan sesuatu untuk mengalihkan perhatian sang majikan, tapi Aizen sudah lebih dulu berbicara.

"Kira, bisakah aku meminta bantuan padamu?" tanya Aizen sambil menatap kaca spion depan yang menampakkan mata Kira.

"Bantuan apa Aizen-sama?"

"Tolong beritahu Orihime kalau aku sangat menyesal. Aku harap Orihime tidak membatalkan janji untuk menemaniku malam nanti"

"Wakarimashita Aizen-sama" jawab Kira sambil mengemudikan mobil Aizen.

.

.

.

"Hime, aku membawakanmu makanan dan obat penghilang mual. Sekarang kau makan dulu ya, aku yakin perutmu sangat kosong saat ini" ucap Szayel menyodorkan Zuppa soup yang dibelinya pada Orihime.

Orihime mengangguk lalu menerima zuppa soup tersebut. Szayel masih menemani Orihime dikamarnya, ia sudah meminta izin pada sekertarisnya kalau hari ini ia akan menemani istrinya yang sedang sakit.

Tentu saja perkataan Szayel tersebut membuat sang sekertaris terkejut. Selama ini semua orang dikantornya tidak mengetahui kalau Szayel memiliki pasangan, apalagi tiba-tiba Szayel mengatakan bahwa ia sudah memiliki istri.

"Ini enak sekali, terasa hangat diperutku. Arigatou Szayel-san" ucap Orihime dengan antusias, ia sudah lupa dengan kejadian beberapa menit yang lalu bersama Aizen.

Szayel tersenyum lembut pada Orihime, ia juga mengusap kepala gadis tersebut.

"Benarkah? Syukurlah kalau kau menyukainya Hime. Apa kau ingin aku menyuapimu?" Szayel menawarkan diri menyuapi Orihime, entah kenapa ia sangat ingin melakukan hal tersebut.

Melihat Orihime makan membuat Szayel gemas sendiri karena ekspresinya yang terlihat polos seperti anak kecil.

"Eh? Aku bisa makan sendiri Szayel-san.. Tapi kalau kau tidak keberatan, aku.."

"Ayo buka mulutmu Hime, Aaaa.." tiba-tiba Szayel sudah menyodorkan sendok didepan mulut Orihime.

"Ah Szayel-san kau membuat mulutku belepotan.. Huuhh" ucap Orihime sambil menggembungkan pipinya. Szayel tertawa melihat tingkah menggemaskan Orihime.

"Hahaha... Istriku ini menggemaskan sekali" ucap Szayel sambil mencubit pipi kanan Orihime, tangan kanannya masih memegang sendok. Nampaknya Szayel sangat menyukai pipi Orihime yang terbilang chubby.

"Aaa ittai,,, Szayel-kun.." ucap Orihime yang tanpa sadar merubah suffiks untuk pria dihadapannya menjadi -kun.

Keduanya langsung terdiam. Orihime menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sedangkan Szayel menunjukkan ekspresi terkejut. Ia merasakan sesuatu yang hangat pada hatinya.

"A-ano, sumimasen..."

"Daijobu Hime. Aku senang kau memanggilku seperti itu" Szayel memotong ucapan Orihime, ia kembali menunjukkan senyumnya yang lembut pada Orihime. Tangan yang tadinya mencubit pipi Orihime kini kembali mengusap kepalanya.

Orihime merasa nyaman bersama Szayel, ia seperti menemukan sosok kakak laki-laki seperti mendiang Sora-Nii pada Szayel. Kembali ia merasakan deja vu pada moment saat ini.

'Ia mengingatkanku pada anak laki-laki saat aku kecil dulu. Sudah sangat lama sekali,,, apa itu kau' inner Orihime.

"Hime, ada apa? Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Szayel yang menyadarkan Orihime dari lamunannya.

"Ah eto,,, Iie nani mo Szayel-kun. Aku ingin kembali ke rumah mengambil barang-barang milik ku" jawab Orihime sedikit berdusta pada Szayel. Ia memang ingin kembali kerumah untuk mengambil beberapa barang yang diperlukannya.

"Ah begitu ya. Baiklah, aku akan menemanimu kesana. Tapi kau harus menghabiskan makananmu dulu Hime-chan. Aaa..." Szayel kembali menyodorkan sesendok zuppa soup pada Orihime. Kali ini Orihime membuka mulutnya dengan lebar dan membuat Szayel kembali tertawa.

.

.

.

"Orihime mengingatkanku padanya. Istriku yang telah dibunuh dengan keji oleh kaki tangan si tua bangka itu" ucap pria yang Orihime anggap 'Kurosaki Ichigo' pada kedua pria dihadapannya.

"Iya, kau benar. Awalnya aku juga sedikit terkejut ketika melihat Hime datang kesini bersama Uryuu-kun" sahut Yumichika sambil menggenggam segelas juice blueberry ditangannya. Saat ini mereka bertiga berada di gazibu halaman belakang.

"Tak kusangka Ishida yang terlihat polos memiliki teman wanita yang cantik dan menggiurkan" ucap Yylfordt dengan wajah mesum.

"Hah kau ini masih saja tidak berubah Yylfordt. Coba hilangkan sifat ero mu itu kalau kau menginginkan gadis yang baik" ucap pria itu lalu meminum ocha hangat yang sudah tersedia di meja.

"Heh kau ini berbicara seperti itu seolah kau ini orang suci. Lalu untuk apa tadi malam kau memeluk Hime-chan, hm?" tanya Yylfordt disertai seringaian.

"Hei bukan seperti itu. Aku, aku hanya reflek saja. Habisnya gadis itu mengingatkanku padanya. Semoga istriku tidak cemburu dialam sana" ucap pria itu dengan OOC nya. Sikapnya benar-benar mirip dengan Ichigo.

"Yare-yare... Kalau aku jadi istrimu, sudah kuhantui kau semalaman" ucap Yumichika melihat tingkah mereka berdua yang kekanakan. Pria itu menghentikan candaannya bersama Yylfordt, ia menundukkan kepalanya.

Menyadari perubahan pria itu dengan tiba-tiba, Yylfordt langsung menjitak kepala Yumichika.

"Baka! Kenapa kau berkata seperti itu? Kau membuatnya bersedih lagi BakaYumi" omel Yylfordt dengan berbisik pada Yumichika.

"Ah ittaii Yylfordt-kun. Iya iya aku salah, gomen ne" ucap Yumichika terlihat menyesal.

Tiba-tiba pria itu menepuk pundak mereka, ia menganggkat wajahnya dan menatap mereka bergantian.

"Huuwwaaaa... Istriku... Tolong hantui aku.. Aku rela dihantui olehmu setiap hariiii... Huuuwwaaa" tangis pria tersebut dengan amat-sangat OOC nya. Yumichika dan Yylfordt sweatdrop berjamaah.

.

.

.

.

"Yo Uryuu-kun, apa kabarmu nak?" sapa seorang pria bertubuh kekar dengan brewok yang tumbuh di sekeliling dagu hingga pipinya.

Ishida berbalik untuk melihat siapa yang menyapanya dengan suara cukup nyaring. Apa pria itu lupa kalau ini rumah sakit?

"Hah, ayah dan anak sama saja" gumam Ishida setelah melihat orang tersebut. "Paman Isshin, kabar baik. Ada keperluan apa paman datang kemari?" Ishida mengajak Ishin duduk di bangku terdekat.

"Ah tidak ada apa-apa, hanya ingin menemui kawan lama. Kau habis ada operasi Uryuu-kun?" tanya Ishin sambil menawarkan kopi kaleng pada Ishida.

"Begitu ya. Setahuku ia masih berada di German. Iya seperti biasa, hanya operasi pencangkokan jantung" jawab Ishida sambil menerima kopi kaleng tersebut.

"Kau hebat nak, ayahmu pasti sangat bangga memiliki anak sepertimu. Apa kau sudah memiliki calon pengantin nak?" Isshin memang selalu perhatian pada Ishida seperti anaknya sendiri.

"Itu hal yang biasa saja paman, jadi tidak perlu dibanggakan. Untuk apa paman bertanya seperti itu?" jawab Ishida dengan tampang cueknya, persis seperti ayahnya.

"Ah ayahmu memang sangat keras ya mengajarmu. Andai saja kau menjadi anakku, kau akan kuberikan kasih sayang setiap harinya. Dan aku pasti lebih menyayangimu dari pada bocah bodoh itu. Hahahaha"

'Heeehhh,,, lebih baik aku menjadi anak dari ayahku meski sikapnya dingin dari pada memiliki ayah yang aneh sepertinya' inner Ishida disertai sweatdrop besar.

Kurosaki Ishin menghentikan tawanya, ia memegang pundak Ishida,

"Bukan maksudku mencampuri urusanmu nak. Kau sudah cukup umur untuk memiliki pendamping. Apalagi kau memiliki karir yang bagus di usia yang masih muda, cerdas, dan memiliki wajah yang tampan.

Tidak ada yang kurang darimu nak. Kau hanya perlu memberanikan diri mengungkapkannya. Jangan pesimis meskipun rivalmu banyak sekalipun" Isshin memberikan petuah bijaknya pada Ishida.

Sungguh moment yang sangat langka mendengar nasihat dari orang yang selalu bertingkah konyol. Begitulah menurut Ishida.

"Um,,, Arigatou paman. Oh ya jam berapa paman akan bertemu ayah?"

"Hn, Kurosaki. Lagi-lagi kau mencampuri urusan anakku" tiba-tiba muncul seorang pria yang mirip dengan Ishida, ya dialah Ishida Ryuuken. Ayah dari Ishida Uryuu.

"Ah apa kabarmu sobat? Kau selalu terlihat lebih muda ya. Apa kau mengoperasi wajahmu?" ucap Isshin setengah berbisik tepat ditelinga Ryuuken. Perempatan siku-siku muncul di kening bapak cool tersebut.

"Hah,,, Baiklah kalau begitu aku permisi paman, ayah. Selamat bernostalgia" Ishida meninggalkan duo bapak-bapak tersebut.

"Kau jangan bersikap sok akrab seperti itu padaku, Kurosaki. Dan lagi apa maksudmu mengatakan hal seperti itu?! Aku tidak akan melakukan hal memalukan seperti itu. Bilang saja kau iri padaku yang selalu terlihat muda" jawab Ryuuken sedikit emosi.

Sedangkan Isshin tertawa puas melihat sifat Ryuuken yang tidak pernah berubah. "Hahaha aku hanya bercanda. Hoy Ryuuken, kapan anakmu akan menikah? Ichigo saja akan menikah bulan depan. Dengan begitu anak perempuanku akan bertambah satu. Hahaha"

"Sou ka? Hn, ku ucapkan selamat untukmu dan Ichigo. Aku tidak tahu kapan anak itu akan menunjukkan pasangannya padaku? Ku dengar ia diam-diam hidup bersama perempuan tanpa sepengetahuanku.

Malah kabar yang ku dengar saat ini perempuan itu tengah ehmm,,, mengandung anak dari bocah itu" ucap Ryuuken yang menampakkan ekspresi tidak suka.

"Hei, itu bagus bukan? Kau akan menjadi seorang kakek. Hahaha... Selamat ya Ryuuken Oji-san. Anakmu memang selalu hebat.

Ichigo payah, sudah beberapa kali melakukan tapi belum menghasilkan juga. Hah dasar anak itu" Isshin mengatakan hal tersebut teramat santai, seolah itu hal yang lumrah baginya.

"Heee? Apa tadi kau bilang Kurosaki? Kau selain suka ikut campur urusan anakku, kau juga suka mengintip privasi anakmu?! Benar-benar ayah yang buruk. Lagi pula aku tidak menyukai gaya hidup bebas seperti itu.

Quincy itu klan bangsawan yang terhormat, jangan sampai ada generasi dari Quincy yang bertindak mencoreng nama keluarga" tutur Ryuuken kembali pada sifat angkuhnya.

"Hah, kau ini masih saja kolot seperti dulu. Zaman sudah berubah, kita tidak bisa terus melarang apa yang ingin mereka lakukan. Selagi mereka bisa dan mau bertanggung jawab, kenapa tidak?

Jangan terlalu keras pada anakmu Ryuuken. Ia sudah dewasa dan bisa menentukan jalannya sendiri. Kau harus bangga memiliki anak sepertinya. Hehehe" lagi-lagi Kurosaki Isshin memberikan petuah bijaknya.

Ryuuken hanya diam, ia tidak ingin membalas ucapan Isshin karena memang benar yang dikatakannya.

'Selama ini ayah bangga padamu nak, hanya saja ayah terlalu Gengsi mengatakannya padamu. Gomennasai Uryuu' inner Ryuuken merasa bersalah pada anaknya.

Sementara itu, tanpa mereka sadari Ishida Uryuu menguping pembicaraan mereka dari kejauhan.

"Gawat! Darimana ayah tahu berita itu? Aku harus bagaimana menjelaskannya?" ucap Ishida dengan wajah pucat.

TBC

Hallo Minna-san. Akhirnya Fuuyu bisa segera Update fic ini. Padahal Fuuyu udah ditanyain updatean fic yang satunya, tapi gak tau kenapa fic yang satu itu udah gak dapet feelnya 😭😭 gara-gara filenya kehapus.

Tapi Fuuyu usahain gak bikin fic yang berujung dengan hiatus.

Gimana chap kemaren? Nggak terlalu greget yaaa. Hehehe. Sekarang kita sapa dulu teman-teman yang udah memberikan reviewnya 😉😉

- Oormiwa: Hallo Oormiwa-chan. Waahhh Arigatou kalau fic Fuuyu gak bosenin 😃😃 Hohoho soal siapa pria yang disebut Orihime dengan "Kurosaki", itu memang beneran orang kok 😁 cuma belum saatnya dia go public 😁

Gimana, sudah dapat gambarannya Oormiwa-chan? 😃 Arigatou gozaimasu Oormiwa-chan udah review dan mengikuti jalan cerita fic ini 😘😃 Semoga chap ini gak drama turki atau telenovella banget ya. Maklum Fuuyu ketularan drama turki (siapa yang tanya?) hehehe 😃😃 Stay tune terus yaaa..

- Tamiino: Hallo Tami-chan. Arigatou udah review dan ikutin jalan cerita fic ini hingga sekarang 😘😘 Soal mr. X memang belum Fuuyu buka banget, soalnya belum saatnya dia tampil. Hehehe. Tapi udah ada clue-cluenya yang pasti bisa di tebak 😉 Soal apa yang terjadi sama IshiHime udah Fuuyu buka nih, semoga gak kecewa ya sama penjelasannya 😞

Ooohh iya gomen Fuuyu lupa nge-bold tulisannya, tapi langsung Fuuyu perbaiki kok 😉 Arigatou Tami-chan udah ingetin Fuuyu 😃 Huwaaa gomen lagi Tami-chan, chap ini belum bahas Aizen pergi sama Orihime.

Ceritanya jadi agak melenceng dari konsep awal 😭😭 Semoga cerita chap ini gak ngecewain yaa 😞 Arigatou Tami-chan reviewnya. Semoga chap ini gak aneh jalan ceritanya 😃 Stay tune terus yaaa..

- Febri (Guest): Hallo Febri-chan. Arigatou udah review dan ikutin jalan cerita fic ini hingga sekarang. Wah gomen Febri-chan, Fuuyu gak bikin Orihime 'tidur' dengan semua suaminya😁 Orihime mungkin ngelakuinnya cuma sama satu orang saja 😁

Soal Orihime sama Aizen,,, hehehe kita lihat gimana kelanjutannya. Semoga chap ini gak bosenin dan mengecewakan yaa Febri-chan 😃 Arigatou Febri-chan reviewnya 😘 Stay tune terus yaa 😃

- INOcent Cassiopeia: Great Hugs buat Ino-chan 😘

Di chap ini Ulqui nongol tuh, tapi bentaran doang. Dia kaya jelangkung, datang tak dijemput pulang tak diantar (?) hehehe. Iya Hime gragas(?) kalo mabuk, untung Ishida anak soleh (Lhoo,,, bukannya anak Ryuuken ya?) 😁😁

Emm soal ulqui,,, dia mau gak dikasih adegan rate M sama Orihime? 😃 kalo gak mau nanti Orihime rate M nya sama Kira aja (?) Waduuhh... Soal itu masih rahasia.. Hohoho 😁😁 Yang pastinya bakal greget deh pas scene yang itu #evilsmirk

Nah soal si pria misterius, hayooo udah Fuuyu kasih beberapa cluenya lhoo 😉😉 Pastinya dia itu beneran orang 😁 Nanti Fuuyu tampilin siapa dia, tapi beberapa chap mendatang 😃😃

Arigatou Ino-chan reviewnya 😘 Semoga chap ini ceritanya gak bosenin apalagi aneh/ngecewain 😃 Stay tune terus yaa 😉

Arigatou minna yang sudah memberikan reviewnya yang positif, lucu, dan gemesin kaya Fuuyu(?) #korbaniklan. Semoga chap ini ceritanya gak aneh ya,,, gak tau kenapa Fuuyu sedikit merubah alur cerita dari konsep awalnya.

Oh ya ternyata manga bleach masih on going ya? Fuuyu baru tau lhoo.. Hehehe jadi malu nih kurang update berita-berita anime.

Dan juga mudah-mudahan Aizen FG gak demo didepan rumah Fuuyu gara-gara bikin karakter Aizen jadi begitu 😁 nanti akan ada penjelasannya di chap mendatang 😃 Ditunggu reviewnya yaa 😉😉 Jaa~~