Disclaimer: Bleach©Tite Kubo
Story: Fuuyuki Ayasegawa
Genre: Romance, Hurt/comfort
Rate: T
Warning: AU, OOC, typo (kalau ada), complicated relationship, bahasa tidak baku
Keterangan:
- "Bla bla bla" = Speak
- 'Bla bla bla' = Inner
Main Chara:
1. Ishida Uryuu: 28th, Dokter & pemilik Karakura Hospital.
2. Ulquiorra Schiffer: 29th, Pengacara.
3. Yumichika Ayasegawa: 29th, Model & Actress.
4. Szayel Apporo Granz: 29th, CEO perusahaan IT Fraccion corp.
5. Yylfordt Granz: 30th, Musisi & Model.
6. Aizen Sousuke: 35th, Presdir Espada corp.
Don't Like, Don't Read!
Happy Reading \(^•^)/ \(^•^)/ \(^•^)/
Surprize in my life
Chapter 8
.
.
Terdengar suara ketukan dipintu, Aizen mempersilahkan orang itu masuk. Lalu muncul sosok gadis berambut hitam panjang dikuncir dua dengan iris berwarna magenta.
Ia mengenakan pakaian setelan kerja seperti biasa, hanya beberapa kancingnya entah sengaja atau tidak, ia buka hingga menunjukkan belahan dadanya yang tergolong kecil.
"Sumimasen Aizen-sama, pak presdir menyuruh anda menghadap keruangannya sekarang" ucap gadis yang merupakan sekertaris pribadinya.
"Baik, aku segera kesana. Arigatou Loly" ucap Aizen dengan senyum yang membuat pipi gadis tersebut merona.
"Domo Aizen-sama. Saya permisi" setelah berojigi gadis bernama Loly itu keluar dari ruangan Aizen.
"Ada apa lagi orang tua itu memanggilku" gumam Aizen lalu beranjak dari kursinya menuju tempat orang yang memanggilnya.
Saat ini Aizen masih menyandang jabatan sebagai Direktur di perusahaan tersebut. Sedangkan jabatan presdir masih dipegang oleh sang ayah, Barragan Louisenbarn.
"Kyaa Menoly, hari ini Aizen-sama terlihat tampan sekali. Bahkan ia tersenyum sangaaat manis padaku" celoteh Loly pada sahabatnya.
"Hah, bukankah setiap hari Aizen-sama memang terlihat tampan, Loly? Dan Aizen-sama selalu tersenyum pada semua karyawan disini, bukan padamu saja" jawab gadis bersurai coklat pasir dengan potongan pendek. Ia menanggapi ocehan sahabatnya dengan malas.
Saat ini mereka sedang berada di pantry, yap itulah tempat para karyawan bergosip ria atau bermalas-malasan dengan alasan ingin membuat kopi, teh, atau sarapan instant.
"Huh, bilang saja kau iri padaku karena aku bisa setiap hari dan setiap waktu bertemu Aizen-sama. Bahkan tak jarang kami melakukan perjalanan bersama. Ah,, menyenangkan sekali" ucap Loly dengan mata berbinar-binar.
"Untuk apa aku iri padamu? Aku ini masih dalam batas normal mengagumi Aizen-sama. Tidak sepertimu yang berlebihan. Lagipula kau selalu bersamanya karena pekerjaan, bukan berkencan Loly. Kau harus ingat posisimu" Menoly berusaha mengembalikan Loly ke jalan yang benar.
Yang dinasehati malah mendengus kesal dengan wajah cemberut. Ia melipat kedua tangannya didada.
"Kau ini tidak asik Menoly. Sudah banyak cerita yang beredar diluar sana, sang bos jatuh cinta dan menikah dengan sekertarisnya. Haaaahh membayangkannya saja membuatku melayang. Bukan tidak mungkin Aizen-sama jatuh cinta padaku, ne Menoly?"
Menoly hanya menggelengkan kepala sambil memijit pelan pangkal hidungnya. Ia tidak habis fikir dengan pemikiran sahabatnya sedari sekolah menengah pertama itu. Loly begitu percaya diri dan ambisius untuk mendapatkan hati bosnya.
.
.
.
.
"Szayel-sama, Orihime-sama anda berdua mau kemana? Apa kondisi anda sudah baikan Orihime-sama?" tanya Kira yang baru tiba di mansion setelah mengantar Aizen. Mereka bertemu tepat didepan pintu masuk ruang tamu.
"Ah, Kira. Aku akan mengantar Hime kerumahnya. Ada beberapa barang yang ingin dia bawa kesini" jelas Szayel pada Kira.
"Itu benar Kira-san. Tenang saja, aku sudah lebih baik sekarang. Kalau tidak percaya lihat ini" ucap Orihime sambil mengangkat guci besar diruangan tersebut.
"E-eh i-iya saya percaya Orihime-sama. Anda tidak perlu membuktikannya seperti itu" jawab Kira disertai sweatdrop banyak. Ia tidak menyangka Orihime akan bertindak mengejutkan begitu.
"Hahaha Hime, hati-hati. Itu bisa berbahaya. Kau ini istriku yang lucu dan kuat ya" Szayel tertawa sambil mencubit kedua pipi Orihime.
"Huuhh Szayel-kun, jangan mencubiti pipiku terus... Nanti jadi melebar" protes Orihime sambil mengembungkan pipinya. Szayel semakin gemas melihat tingkah sang 'istri'.
"Wah sepertinya hubungan anda berdua sangat baik. Saya turut senang melihatnya" ucap Kira yang tersenyum melihat Szayel bisa akrab dengan Orihime. Ia berharap Aizen juga bisa begitu dengan gadis tersebut.
Szayel hanya tersenyum menanggapi pujian yang di lontarkan oleh Kira lalu ia menepuk pelan pucuk kepala Orihime.
"Arigatou Kira, kami pergi dulu ya" Szayel pamit sambil menggandeng Orihime, namun Kira memberhentikan mereka.
"Ah, Chotto matte Szayel-sama, sumimasen boleh saya berbicara sebentar dengan Orihime-sama?" ucap Kira dengan membungkukkan sedikit badannya.
"Oh tentu saja Kira, silahkan. Hime, aku menunggu di mobil ya" Szayel mengusap kepala Orihime lalu meninggalkannya bersama Kira.
"Sumimasen Orihime-sama,, saya tidak bermaksud mengganggu anda" ucap Kira dengan ekspresi bersalah.
"Eh tidak apa Kira-san. Memangnya ada apa?" tanya Orihime yang sedikit heran, ada apa Kira tiba-tiba ingin berbicara dengannya.
"Aizen-sama meminta saya untuk menyampaikan maafnya pada anda. Ia merasa sangat bersalah atas kejadian tadi, Orihime-sama. Aizen-sama juga meminta anda untuk tidak membatalkan pergi ke acara bersama beliau nanti malam"
Orihime terlihat berfikir, masih ada rasa syok dan takut ketika ia kembali mengingat Aizen. Ternyata menilai orang tidak bisa dalam hitungan jam atau hari, apalagi hanya dari fisik.
"Baiklah aku usahakan pulang sebelum petang. Ittekimasu Kira-san" Orihime meninggalkan Kira, ia segera menyusul Szayel yang sudah menunggunya di mobil.
"Orihime-sama memang gadis yang baik. Semoga Aizen-sama tidak berbuat seperti tadi nanti malam" Kira berbicara sendiri didepan pintu lalu menutupnya.
"Apa yang Aizen lakukan pada perempuan itu Kira?" tiba-tiba suara yang tidak asing bertanya padanya.
"Ah,, Ulquiorra-sama? Tidak biasanya anda berangkat agak siang?" Kira terlihat kaget Ulquiorra sudah ada dibelakangnya. Ia nampak rapi seperti biasa dengan menjinjing tas kerja berbahan kulit miliknya.
"Tadi pagi Aizen-sama melakukan sesuatu yang membuat Orihime-sama sangat ketakutan. Saya juga tidak mengerti mengapa Aizen-sama semarah itu?" lanjut Kira menjawab pertanyaan Ulquiorra.
"Hn, Begitu. Sepertinya majikanmu membutuhkan psikiater, akan berbahaya jika terus dibiarkan. Aku tidak akan pulang malam ini, ada beberapa urusan. Tolong awasi perempuan itu, jangan biarkan ia berkeliaran sendiri" ucap Ulquiorra dengan datar seperti biasanya.
"Baik Ulquiorra-sama. Semoga semua urusan anda cepat terselesaikan" ucap Kira sambil membungkukan tubuhnya.
"Hn, arigatou Kira. Ittekimasu" Ulquiorra pun pergi dari hadapan Kira.
"Hah, apa harus aku mengatakannya pada Aizen-sama? Bisa-bisa ia memenggal kepalaku. Sudahlah, sebaiknya aku menyiapkan makan siang untuk tuan-tuan yang lain" Kira menggelengkan kepala lalu berjalan menuju dapur.
.
.
.
"Halo, bagaimana keadaannya? Saya sedang menuju kesana. Hn, saya sudah berbicara dengannya semalam. Pastikan ia menghabiskan makanannya dan meminum obatnya"
Ulquiorra mengakhiri pembicaraannya dengan seseorang di telepon. Ia membuka laci dashboard mobilnya, mencari sesuatu yang sangat ingin dilihatnya.
Ia mengambil sebuah foto berukuran 4R yang memperlihatkan dirinya bersama seorang wanita cantik beriris lavender dengan rambut panjang dan poni yang menutupi dahinya berwarna hijau zaitun.
Wanita itu duduk disebelah kanan sedangkan ditengahnya terdapat anak kecil yang dihadapannya terdapat kue dengan lilin berbentuk angka 5 diatasnya, anak itu tengah tersenyum bahagia.
Ulquiorra menatap foto tersebut selama beberapa detik. Ia membelai lembut gambar anak laki-laki yang mirip dirinya.
Anak itu memiliki rambut hitam kejiauan, matanya sama seperti Ulquiorra sedangkan kulitnya seperti wanita dalam foto, tidak pucat sepertinya.
Ulquiorra mengembalikan foto tersebut ke tempat semula lalu menstarter mobilnya. Tujuannya adalah ketempat wanita serta anak kecil dalam foto itu.
.
.
.
.
"Tuan-tuan, ah ternyata benar anda semua berada disini. Makan siang sudah saya siapkan" lapor Kira pada ketiga tuannya yang masih asik bercengkrama di gazibu halaman belakang.
"Arigatou Izuru-kun, aku mau ke kamar Hime dulu melihat kondisinya" ucap Yumichika yang sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Ano sumimasen, Orihime-sama sedang pergi dengan Szayel-sama. Orihime-sama ingin mengambil beberapa barang dari rumahnya" jelas Kira sebelum Yumichika melangkah keluar dari gazibu.
"Hoo.. Bukankah bocah itu pergi ke kantor tadi? Cih, ia sudah berani mencuri start rupanya" ucap Yylfordt yang terlihat tidak suka.
"Ah begitu ya, sayang sekali. Padahal aku ingin menyuapinya dan merawatnya. Ne,,, Biarkan mereka jalan bersama Yylfordt-kun, biarkan ia berkencan bersama Hime. Sudah waktunya Szayel-kun move on" Yumichika membujuk Yylfordt yang masih terlihat kesal.
"Benar yang Yumichika katakan, kau ini sebagai kakak jangan egois begitu Yylfordt" Pria mirip Ichigo itu ikut berbicara dan membuat Yylfordt menatap tajam padanya.
"Hei hei apa yang kalian katakan. Aku bukannya egois, justru aku turut senang kalau Outouto-ku yang workaholic mau membuka hatinya kembali. Hanya saja, Hime kan belum pernah pergi kencan denganku" ucap Yylfordt dengan cengiran lebar.
Ketiga pria dihadapan Yylfordt terlihat berfikir keras akan ucapan pemuda bersurai blonde panjang tersebut. Tiba-tiba Yumichika menatap Yylfordt dengan sebelah alis terangkat.
"Hoo, jadi maksudmu Szayel-kun boleh pergi berkencan dengan Hime-chan setelah kau yang berkencan lebih dulu dengannya, begitu Yylfordt-kun? Kau Aniki yang serakah" ledek Yumichika yang sudah mengetahui watak temannya itu.
"Hei Yylfordt, tidak ku sangka kau tipikal Aniki yang,,, ah aku tidak tahu harus bagaimana mengungkapkannya? Kau tega sekali memberikan sesuatu pada Outouto-mu setelah kau menggunakan atau mencobanya!" ucap pria yang mirip Ichigo itu dengan ekspresi histeris yang dibuat-buat.
Kira hanya menatap ketiga majikannya dengan sweatdrop. Ia tidak ingin terlibat pembicaraan yang absurd tersebut.
"Hoy hoy, apa maksud perkataanmu barusan Kaien. Hime itu manusia bukan barang yang bisa dicoba-coba atau digunakan seenaknya. Lagipula aku tidak mungkin melakukan hal-hal aneh pada Hime. Kau selalu saja berfikiran buruk terhadapku, huh" Bantah Yylfordt sambil setengah teriak.
"Yare-yare Yylfordt-kun, bukankah kau selama ini senang bermain dengan para gadis disekeliingmu? Oh tidak, jangan bilang kau sudah sadar dan kembali pada jalan yang lurus? Izuru-kun, pasti sebentar lagi akan ada hujan badai disini" ucap Yumichika dengan setengah meledek.
"Hei urusaaiii kalian berdua. Sudah kubilang aku tidak akan melakukan hal aneh pada Hime, aku tidak mau mati dibunuh oleh Aizen atau Ishida. Ah sudahlah ayo kita makan, aku sudah kelaparan" ucap Yylfordt sambil berjalan meninggalkan mereka.
"Ano Yumichika-sama, Kaien-sama, sebaiknya kita segera menyusul Yylfordt-san ke ruang makan. Tidak enak kalau makanannya sudah dingin" ucap Kira mengingatkan kembali majikannya yang masih asik membicarakan YYlfordt.
"Hah Yylfordt-kun baru segitu saja sudah kesal. Tapi benar juga apa yang dikatakannya tadi" ujar Yumichika sambil menatap layar ponselnya yang sudah dilapisi anti-spy seperti cermin.
"Sudah biarkan saja Yumichika. Ia masih belum bisa bersikap dewasa. Ayo kita makan siang! Aku juga sudah kelaparan" ucap pria yang diketahui bernama Kaien itu dengan sikap kekanakan.
"Hei kau ini tidak berkaca ya, kau sendiri juga bersikap seperti anak-anak. Ne, mau ku suapi sekalian makan siangnya?" ledek Yumichika pada pria tersebut.
"Hoy, aku ini memang suka kekanakkan sekali-kali, apalagi dengan wajahku yang masih terlihat belia ini. Naniii?! Gomen ne, aku tidak bisa makan disuapi oleh mahluk hemafrodit sepertimu" pria itu segera berlari meninggalkan Yumichika yang sudah mengeluarkan reiatsu hitam yang menguar dari tubuhnya.
"Kau, duren sialan! Aku ini masih normal! Jangan lari kau!" Yumichika berteriak sambil berusaha mengejar pria tersebut. Ia mengangkat roknya hingga lutut agar bisa berlari dengan leluasa.
"Hehehe sudah lama sekali tidak melihat tingkah mereka yang seperti ini. Kedatangan Orihime-sama nampaknya sangat berpengaruh di mansion yang cukup dingin ini" Kira terkekeh melihat pria mirip Ichigo itu tengah dikelitiki habis-habisan oleh Yumichika.
Sebuah potret keluarga yang harmonis jika ada orang yang melihatnya (-_-")
.
.
.
Sebuah mobil Ferrari berwarna merah melaju dengan kecepatan yang terbilang cepat. Jalanan nampak tidak terlalu ramai di waktu siang ini akibat hujan yang mengguyur kota Hueco Mundo dengan deras.
Interior mobil tersebut terlihat cozy dan sangat nyaman. Musik slow dan mellow mengiringi sepanjang perjalanan mereka yang membuat Orihime sedikit melamun karena salah satu lirik lagu tersebut ada yang sesuai dengan kisah cintanya.
Szayel melihat sang 'istri' yang tengah menatap kosong. Rasa penasaran sedikit menggelitik fikirannya, tapi ia tidak ingin Orihime terusik dengan rasa ingin tahunya.
Syazel membelai lembut kepala Orihime dengan tangan kirinya, sedangkan tangan satunya tentu saja sedang mengendalikan stir mobil. Merasa ada yang menyentuhnya, Orihime tersadar dari lamunannya dan menatap pria disampingnya.
"Hime, kau baik-baik saja?" tanya Szayel dengan suara yang lembut serta senyum hangat yang menghiasi wajahnya.
"Ah, gomen Szayel-kun.. Aku hanya sedikit terbawa suasana. Apa masih jauh Szayel-kun?" jawab Orihime disusul pertanyaan singkat darinya.
"Tidak apa, Hime. Hm, begitu ya. Apa kau merasa bosan Hime? Oh iya kita tidak melewati jalur biasanya karena ku dengar ada pohon tumbang disana, jadi aku memilih jalur lain yang sedikit memutar. Ada apa Hime?"
"Sou ka. Aku tidak merasa bosan Szayel-kun, hanya saja lagu yang tadi membuatku sedikit terbawa. Hehehe seperti anak remaja saja. Ano Szayel-kun, bisakah kita pulang sebelum jam 6?" tanya Orihime sambil menatap Szayel yang terlihat tenang mengemudikan mobilnya.
"Tidak ku sangka kau orang yang cukup sensitif dengan lagu, Hime" Szayel menatap Orihime sejenak seraya menyunggingkan senyum, lalu kembali menatap jalan didepannya. "Sepertinya kita bisa pulang cepat nanti, memangnya kenapa Hime?" Szayel melanjutkan ucapannya.
"Nanti malam Aizen mengajakku menghadiri acara bersamanya. Kemarin aku sudah mengiyakan ajakannya, tadi Kira-san kembali memastikan keputusanku Szayel-kun" jawab Orihime yang terdengar setengah hati.
"Jadi itu yang kau bahas bersama Kira tadi?" Orihime mengangguk. "Baiklah kalau kau sudah ada janji dengannya. Sebaiknya kau berhati-hati, Hime.
Aizen ada sedikit masalah dalam hal mengendalikan emosi. Dia juga orang yang egois, sedikit possesif dan pemaksa" jelas Szayel yang masih fokus dibalik kemudi.
"Begitu ya... Ku kira ia seorang pria yang terlihat sempurna" gumam Orihime terdengar kecewa.
"Gomen Hime, aku berkata begitu. Aizen sebenarnya orang yang baik, hanya saja.. Ah nanti juga kau mengenalnya Hime" jelaz Szayel yang terdengar natural, tidak terdengar memiliki maksud tertentu didalamnya.
"Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini..." ujar Orihime seraya menghela nafas.
"Tentu saja tidak ada Hime, aku pun demikian. Ah sumimasen, kalau boleh tahu kenapa Aizen bisa melakukan hal itu padamu tadi? Bukankah dia terlihat baik-baik saja sebelum aku berangkat?" tanya Szayel yang sebenarnya sudah sejak tadi ingin ia tanyai.
Orihime nampak terkejut, ia memikirkan bagaimana menjelaskannya pada Szayel. Melihat ekspresi Orihime yang ragu Szayel pun mengurungkan niatnya.
"Gomen Hime, aku sudah membuatmu jadi tidak nyaman. Baiklah, aku tidak akan menanyakannya lagi. Ah kita sudah sampai di Karakura, bisa kau tunjukkan arah rumahmu Hime?"
Tak terasa mereka sudah tiba di rumah sederhana milik Orihime, peninggalan mendiang Nii-sannya. Rumah itu tampak sepi dan kosong. Daun-daun kering tampak berserakan di halaman kecilnya.
Orihime membuka pagar rumahnya yang tidak dikunci diikuti Szayel yang berjalan dibelakangnya. Orihime menatap rumahnya dengan berkaca-kaca seperti sudah bertahun-tahun lamanya ia tinggalkan ketika menimba ilmu di Tokyo.
"Hime, kau baik-baik saja?" ucap Szayel merangkul sang gadis. Orihime menggangguk dan tersenyum kecil. Mereka berjalan menuju pintu lalu Szayel menahan langkahnya ketika Orihime hendak membuka pintu.
"Ah chotto Hime" Szayel menekan tombol-tombol angka yang berada di sisi kanan dinding. Orihime menatap bingung, sejak kapan rumahnya dipasangi sistem keamanan?
"Yap, silahkan masuk Hime. Aku akan menjelaskannya didalam" ucap Szayel yang mengerti tatapan Orihime.
"Hihi seharusnya aku yang mempersilahkanmu masuk Szayel-kun, bukankah aku tuan dari rumah ini?" ucap Orihime dengan senyum sumringah.
"Ah benar juga, ayo kita masuk Hime-chan" mereka bersama memasuki rumah historial tersebut.
"Ano Szayel-kun,,, Kau duduk disini saja sementara aku merapikan barang-barang. Ah kau ingin minum apa Szayel-kun, semoga isi kulkasku masih layak dikonsumsi" ucap Orihime seraya menuntun Szayel duduk manis di sofa biru sederhana miliknya.
"Tidak usah Hime, kau rapikan saja barang-barang, aku bisa mengambilnya sendiri nanti" jawab Szayel yang tak pernah bosan membelai kepala Orihime. Membuatnya ingin terus menerus menyentuh gadis dihadapannya saat ini.
"Baiklah, kalau begitu aku tinggal dulu Szayel-kun. Oh ya, kau bisa menonton koleksi dvd milikku jika merasa bosan" gadis itu pun berlari kecil menuju kamarnya yang terletak dilantai 2.
Szayel tersenyum melihat Orihime yang sudah dua hari ini membawa banyak perubahan dalam hidupnya. Pria bersurai pink itu berdiri dari sofa yang didudukinya, ia berjalan sambil melihat-lihat setiap detail rumah tersebut.
Pandangannya berhenti pada sebuah rak kayu yang berada disebelah kiri meja tv. Iris honey goldnya kini menatap sebuah foto berukuran 4R yang dibungkus pigura kayu berwarna coklat. Gambar seorang pria berusia 20an dengan pakaian kantoran tengah tersenyum lepas tanpa beban.
Ia mengucap salam lalu berlutut didepan pigura tersebut.
"Sora-Nii... Akhirnya aku menemukanmu dan imoutomu. Gomennasai aku datang terlambat. Mulai sekarang aku yang akan menjaga Hime seperti janji yang kuucapkan padamu dulu. Aku menyesal baru menemukannya.
Aku sangat sedih mengetahui kau sudah tidak bersama Hime. Aku juga prihatin mendengar Hime berjuang sendirian demi kelangsungan hidupnya selama ini. Gomennasai Sora-Nii" tiba-tiba muncul sebuah burung gereja menghampiri Szayel.
Burung itu berputar-putar diatas foto Sora lalu pergi meninggalkan Szayel seorang diri disana.
"Arigatou Sora-Nii,,, sekarang beristirahatlah dengan tenang disana" guman Szayel sambil menatap kepergian burung tersebut.
.
.
.
"Haahh membosankan sekali. Baru beberapa hari tapi aku sudah sangat merindukannya" ucap gadis bertubuh sintal berambut orange muda menghempaskan dirinya pada sofa.
"Aku juga merasa suasana disini jadi agak sepi tanpa Inoue-san. Tapi ia juga berhak menggunakan waktu cutinya Rangiku-san, selama ini ia tidak pernah menggunakannya" jawab pria bertubuh sixpack dengan tato 69 pada pipi kirinya.
"Hoi Rangiku-san, kalau kau terus bermalasan seperti itu kapan pekerjaan kita selesai?! Cepat bantu aku mendesain billboard untuk apartment ini" seru gadis manis berkacamata dengan rambut hitam yang di cepol asal terlihat sibuk mengerjakan tugas.
"Hei Nanao-chan jangan terlalu tegang begitu, bagaimana kalau kita minum sake sejenak untuk melepas lelah" ucap pria berambut ikal panjang yang dikuncir serta janggut tipis yang membingkai rahang tegasnya.
"Besok billboard itu sudah harus dipasang di beberapa titik Kyoraku-sama! Cepat kerjakan tugas kalian!" teriak gadis bernama Nanao Ise dengan frustasi lantaran tingakah sang bos yang kelewat santai.
.
.
.
"Ah sepertinya aku harus segera pulang. Putriku yang cantik dan manis pasti sudah menyiapkan makan siang untukku" ucap Kurosaki Isshin sambil menatap arloji mahal pemberian dari calon menantunya.
"Heh sudah cepat pergi sana,,, aku juga harus membicarakan sesuatu dengan putraku" jawab Ishida Ryuuken dengan cuek.
"Ahaha baiklah, kalau kau ingin mengobrol denganku, jangan sungkan Ryuuken. Kita bisa membahas putra-putra kita yang sekarang sudah akan pergi meninggalkan ayahnya yang sudah renta ini" ucap Isshin dengan mata berkaca-kaca.
Ryuuken hanya mendengus melihat tingkah kekanakan teman lamanya tersebut.
"Hn, akan ku fikirkan tawaranmu, Kurosaki" jawab Ryuuken singkat.
'Sikap jaimnya memang tidak pernah berubah' inner Isshin sambil menunjukkan senyum lima jari pada Ryuuken.
"Jaga dirimu Ishida Ryuuken, Jaa matta" ucap Isshin kemudian berlalu meninggalkan Ryuuken yang masih duduk ditempatnya.
"Aku tahu kau disana, Uryuu. Keluarlah" sosok Ishida Uryuu pun muncul dari persembunyiannya.
"Duduklah nak, kau tahu apa yang ingin ayah bicarakan" ucap Ryuuken sambil menepuk kursi disampinnya yang beberapa waktu lalu ditempati oleh Isshin.
'Ayah sok tahu sekali. Tapi biarlah, pastinya tidak jauh-jauh soal berita tersebut' inner Ishida Uryuu, ia mendudukkan dirinya disamping sang ayah.
"Ayah ingin aku mengatakan apa? Kukira ayah repot-repot datang kesini hanya untuk menemui paman Isshin" Ishida berkata dengan sikap cuek persis sang ayah. Beberapa suster yang tidak sengaja melewati mereka menatap kagum pada ayah-anak tersebut.
"Hn, tidak mungkin aku sengaja kemari hanya untuk bertemu Kurosaki itu. Kau adalah prioritas utamaku nak. Ayah sangat terkejut dengan sikapmu yang sudah terpengaruh paham liberal" ucap sang ayah dengan mata memicing.
"Sou ka. Aku sudah besar ayah, aku bukan lagi anak kecil. Lagipula aku bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan. Lalu apa masalahnya?" jawab Uryuu balas menatap ayahnya.
"Selama ini ayah tidak pernah mendengar hubunganmu dengan perempuan manapun dan tiba-tiba aku mendapat kabar yang tidak mengenakkan darimu. Siapa gadis ah perempuan itu Uryuu?" Ishida Ryuuken sedikit melembutkan tatapannya.
"Hoo, jadi itu yang ayah kerjakan selama ini? Mengawasiku diam-diam eh? Kalau begitu kenapa tidak kau tanyakan saja pada informanmu ayah. Bukankah dia yang sudah memberitahumu?" jawab Uryuu dengan seringai mengejek pada sang ayah.
Ishida Ryuuken menghela nafas, berusaha menahan emosinya. Ia hanya ingin penjelasan bukan pertengkaran.
"Baiklah ayah mengaku salah. Ayah memang sedikit overprotective padamu nak. Ayah ingin kau menjalani hidup dengan baik nak. Ayo katakan siapa perempuan beruntung yang berhasil menarik perhatianmu itu?" ucap Ryuuken seraya memegang pundak Uryuu.
"Aku hidup dengan sangat baik ayah, tolong percayalah padaku. Bukan dia yang beruntung ayah, tapi aku. Dia mengajariku banyak hal, senyum dan semangatnya membuat hari-hariku jadi berwarna. Dia Orihime Inoe, teman SMA ku dulu ayah"
Ishida Ryuuken terkejut mendengar nama perempuan yang sudah merebut hati anaknya. Ia sangat mengetahui siapa perempuan itu.
"Jadi dia yang selama ini kau sukai sampai-sampai kau menolak perjodohan yang ayah lakukan? Hah, lucu sekali. Demi perempuan itu kau menghilangkan kesempatan emasmu Uryuu.
Andai saja kau tidak menolak Nemu Kurotsuchi, rumah sakit ini akan lebih terjamin masa depannya" ucap Ryuuken dengan sinis. Ishida Uryuu sangat tersinggung dengan penuturan ayahnya. Ia tidak menyangka ayahnya tega berkata demikian.
"Apa maksud ayah? Kenapa kau mengungkit hal itu lagi? Aku tidak bisa menikah dengan 'boneka' hidup si ilmuwan aneh itu! Orihime perempuan baik ayah, aku tidak peduli dengan apapun penilaian ayah!"
"Lalu apa masalahnya jika Nemu seperti boneka? Justru itu menguntungkanmu nak. Ia dengan sukarela menuruti apa saja kemauanmu bukan? Sedangkan perempuan itu, Orihime. Perempuan dengan asal-usul yang tidak jelas.
Bahkan aku pun tahu kalau dihati perempuan itu bukanlah kau nak, tapi Kurosaki Ichigo. Kau hanya pelariannya saja nak, apalagi bulan depan Ichigo akan menikah dengan gadis bangsawan Kuchiki itu. Kau pasti mengerti maksud ayah" ucap Ryuuken dengan sarkastik.
Ishida Uryuu mengakui apa yang ayahnya katakan benar adanya, tapi sebisa mungkin ia harus membela Orihime di mata sang ayah meski itu akan menambah jarak antara hubungannya dengan sang ayah.
"Aku tidak peduli kalau Orihime menjadikanku sebagai pelarian, ayah. Aku menerima ia apa adanya. Aku tidak peduli kalau Orihime bukan dari kalangan bangsawan. Aku mencintainya ayah, dan aku sudah menikahinya.
Memang sulit menghapus bocah itu dari hatinya, tapi aku tidak pernah memaksa. Aku ingin dia belajar menerimaku tanpa menekannya. Dan ia sudah berusaha membuka hatinya untukku ayah. Perlahan tapi pasti, Orihime akan mencintaiku dengan segenap hatinya"
Suasana menjadi hening. Ishida Ryuuken hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan sang anak. Ada sedikit rasa sedih dihatinya karena cinta sang anak masih bertepuk sebelah tangan. Tapi ada rasa kesal juga karena sang anak tidak bisa menuruti kehendaknya.
"Baiklah kalau itu sudah keputusanmu. Semoga kau tidak menyesal dikemudian hari nak. Dan ingat, aku belum bisa merestui hubungan kalian. Ayah rasa cukup pembicaraan kita kali ini. Ayah harus kembali ke German. Sampai jumpa Ishida Uryuu"
Ishida Ryuuken berjalan meninggalkan Uryuu yang masih menatap punggung sang ayah yang semakin menjauh. Betapa ia ingin memiliki keluarga yang normal seperti orang lain. Sejak meninggalnya sang ibu, ayahnya berubah menjadi dingin dan seperti orang asing baginya.
.
.
.
.
"Aahh aku rindu sekali pada kamar ini. Walau tak semewah mansion Las Noches, tapi ini terasa lebih nyaman. Oh Kurodo, Noba, aku sangat merindukan kalian. Gomen ne aku meninggalkan kalian beberapa hari ini" Orihime menghempaskan tubuhnya pada kasur queen size miliknya.
"Ne Kurodo, Noba, kalian pasti tidak percaya dengan apa yang terjadi padaku. Saat ini aku berstatus sebagai istri dari 6 pria tampan dan mapan. Yah walaupun aku tidak tahu seperti apa wajah Ayasegawa-san tanpa dandanan perempuan,
tapi aku yakin ia juga pria yang tampan" Orihime memposisikan dirinya duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Lalu melanjutkan kembali curahan hatinya pada kedua boneka berbentuk kelinci dan kura-kura.
"Walaupun pernikahan ini hanya perjanjian saja tapi bagaimanapun juga aku harus menjalaninya. Mungkin dengan menjalani hidup bersama mereka, aku bisa melupakan semua tentang Kurosaki-kun. Aku tidak ingin terus terpaku padanya.
Ini memang menyakitkan tapi aku harus kuat,, aku harus bisa menghapus semua memory tentangnya.. Hiks,, hiks,,," air mata mengalir dari iris kelabu gadis tersebut. Ichigo benar-benar sudah mengakar dalam hati Orihime.
Seorang pria bersurai pink sedang berdiri didepan pintu kamar Orihime. Tadinya ia berniat membantu sang gadis berbenah, tapi ia tidak sengaja mendengar curahan hati gadis jingga tersebut bahkan terdengar isak tangis dari dalam kamarnya.
Szayel segera memasuki kamar Orihime. Ia mendekap tubuh Orihime dan menyandarkan sang gadis pada dada bidangnya. Tangis Orihime semakin menjadi dalam dekapan Szayel. Szayel hanya mengelus punggung Orihime serta mengecup pucuk kepalanya.
"Menangislah Hime,,, biar kesedihanmu larut bersama air mata.." ucap Szayel disela isak tangis Orihime.
Setelah beberapa menit Orihime sudah merasa lebih baik. Air matanya pun sudah berhenti mengalir. Gadis jingga itu senang dengan adanya Szayel yang bersedia menjadi sandarannya saat ini.
"A-arigatou Szayel-kun,,, gomen aku membuat bajumu basah" ucap Orihime sedikit sesenggukan.
"Daijobu Hime, kenapa kau malah mengkhawatirkan pakaianku? Hehehe. Sekarang ayo kita berbenah, aku akan membantumu" ucap Szayel seraya menyeka sisa air mata Orihime dengan sapu tangan miliknya.
Orihime hanya diam, membiarkan Szayel membersihkan wajahnya. Iris kelabunya mengamati setiap pergerakan tangan Szayel di wajahnya. Tanpa sadar ia menatap wajah Szayel yang berjarak cukup dekat dengan wajahnya.
Merasa sang gadis sedang memperhatikannya, Szayel menatap wajah Orihime. Iris honey gold dan kelabu saling bertemu. Szayel membelai wajah Orihime lalu menyelipkan helaian rambut yang menghalangi parasnya ke belakang telinga gadis tersebut.
Jarak diantara mereka saling menipis. Mereka reflek memejamkan mata bersama. Orihime merasakan jantungnya tengah berdetak kencang yang mungkin dapat didengar oleh Szayel.
Szayel merangkum pipi kanan Orihime dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya tengah merangkul pinggang ramping sang gadis. Jarak bibir mereka sudah sangat tipis, Szayel sudah bersiap memberikan kecupan pada bibir mungil Orihime, tapi...
"Rrriiiiinnnnnggggg... Rrrriiiiinnnnggggg"
Terdengar suara ponsel berbunyi dari saku jas yang dipakainya. Terpaksa Szayel menghentikan aktivitas yang baru saja akan dimulai.
'Cih, benar-benar mengganggu disaat yang tidak tepat' inner Szayel sedikit kesal.
Szayel menjauhkan diri dari Orihime dan menjawab panggilan ponselnya. Ia berjalan keluar dari kamar Orihime.
Orihime membuka kedua matanya yang sedari tadi terpejam, gadis beriris kelabu itu menghela nafas lalu menatap Kedua boneka kesayangannya.
"Hei, kalian dari tadi melihatku dengan Szayel-kun,,,, aaahhh aku maluu" ucap Orihime sambil menutup wajahnya dengan bantal.
.
.
TBC
Hallo minna \(˄● ˄)/ Akhirnya bias update juga. Gomennasai Fuuyu baru bias publish soalnya lagi banyak urusan Negara. Hahaha. Semoga masih pada ingat ya sama fic ini, secara udah setahun lhoo belum update. Hihihi..
Sekarang waktunya menyapa kabar teman-teman yang udah review
- Guest: Hallo Guest-san Waduh threesome? Fuuyu langsung keringetan bacanya. Hehehe. Liat nanti aja ya gimana jadinya :D Soalnya Fantasi Fuuyu belum nyampe kesana, masih tahap rape #dikatain ero sama all chara# Arigatou reviewnya Guest-san Stay tune terus yaa
- Tamiino: Hallo Tami-chan Iya biar ceritanya gak monoton di satu karakter aja. Semua itu berkat masukan dari kucing Fuuyu #Heee?# Hehehe soal cerita asal mulanya nanti ya Tami-chan, kemungkinan bakal diceritain tapi bukan dari Ishida :D
Nah itu identitasnya si pria misterius udah Fuuyu kupas dan pastinya gak bakal bikin kaget. Hehehe. Semoga chap ini ceritanya gak bikin boring yaa. Arigatou reviewnya Tami-chan Stay tune terus yaa
- Oormiwa: Hallo Miwa-chan Nah udah Fuuyu bongkar identitas pria misteriusnya. Pasti gak bikin surprize ya? Hehehe. Belum waktunya Orihime kenal sama pria itu soalnya si pria masih belum mau terang-terangan nunjukkin jati dirinya, kemungkinan trauma.
Iya Ulquiorra masih dingin sama Orihime tapi kemungkinan di chap depan ada sedikit penjelasan. Arigatou Miwa-chan reviewnya Stay tune terus yaa.
- Febri: Hallo Febri-chan wah Fuuyu jadi terharu sama pujiannya :D Semoga chapter ini gak mengecewakan yaa. Soal pairnya Hime liat nanti gimana perkembangannya, soalnya semua kandidat punya potensi sendiri-sendiri. Hehehe apalah ya.. Waduh Ulquiorra dapat julukan baru "Muka Pucat" Hehehe #itu sih bukan baru, emang udah dari sananya# Arigatou Febri-chan reviewnya Stay tune terus yaa.
- INOcent Cassiopeia: Hallo Ino-chan Gomennasai Fuuyu baru update, fic ini Fuuyu usahakan gak ikut trend Hiatus ya kayak fic yang satunya. Hahahaha. Soal Ulquiorra dia masih jaim,,, tapi nanti bakal bisa sedikit dekat sama Hime :D Arigatou reviewnya Ino-chan Stay tune terus yaaa.
- Aku Baveer: Hallo Baveer-chan Wah ternyata materi humor yang sedikit Fuuyu masukin bisa pecah juga walaupun gak terlalu ya :D Hihihi. Yap tepat sekali! Ternyata masih ada yang ingat dengan Kaien Shiba, orang yang sudah diakui kemiripannya dengan .. Kebalik ya? Hehehe. Soal siapa yang bakal jadi pair tetap Orihime, liat aja nanti gimana perkembangannya :D
Ya untuk saat ini Orihime masih terikat perjanjian, jadi mau gak mau ya harus mau hehehe apalah coba.. Iya juga sih, UlquiHime memang sudah Mainstream tapi liat nanti aja ya Baveer-chan ;) Arigatou reviewnya Baveer-chan Stay tune terus yaa.
- Mizuki Schiffer: Hallo Mizuki-chan Iya Ulquiorra udah kayak hantu, nongol dikit-dikit aja :D Emm,, kapan yaa? Fuuyu usahain chap depan udah ada pergerakan dari Ulquiorra. Yap benar sekali! Itu Kaien Shiba, ternyata ada lagi yang masih ingat dengan doi. Hehehe
Soal dia ngapain, nanti dijelasin kemungkinan beberapa chap mendatang. Waduh pada minta rate M? nanti yaa Fuuyu usahakan :D Ciiee yang udah deg-deg-an… Hehehe. Arigatou reviewnya Mizuki-chan Stay tune terus yaa.
Yosh, selesai sudah menyapa teman-teman yang sudah review. Oh ya, semoga chap ini teman-teman gak pada syok yaa. Hehehe. Ternyata Ulquiorra….
Arigatou untuk semua review, faves, dan follownya Kalian semua luaarr biiaassaa… See U next chap, Jaa ῀῀
