Disclaimer: Bleach©Tite Kubo

Story: Fuuyuki Ayasegawa

Genre: Romance, Hurt/comfort

Rate: T

Warning: AU, OOC, typo (kalau ada), complicated relationship, bagi yang tidak suka pair-pair dalam cerita ini harap menekan tombol back.

.

.

Keterangan:

- "Bla bla bla" = Speak

- 'Bla bla bla' = Inner

.

.

Main Chara:

1. Ishida Uryuu: 28th, Dokter & pemilik Karakura Hospital.

2. Ulquiorra Schiffer: 29th, Pengacara.

3. Yumichika Ayasegawa: 29th, Model & Actress.

4. Szayel Apporo Granz: 29th, CEO perusahaan IT Fraccion corp.

5. Yylfordt Granz: 30th, Musisi & Model.

6. Aizen Sousuke: 35th, Presdir Espada corp.

.

.

.

Don't Like, Don't Read!

Happy Reading \(^ ^)/ \(^ ^)/ \(^ ^)/

Surprize in my life

.

.

.

Chapter 9

Sebuah mobil McLaren P1 berwarna hitam tampak memasuki halaman rumah megah bergaya eropa. Beberapa pelayan tampak berbaris menyambut kedatangan tuan mereka. Pintu mobil sport itu terbuka dan menampakkan seorang pria beriris emerald dengan kulit pucat khasnya, Ulquiorra.

"Okaerinasai Ulquiorra-sama" sambut sang kepala pelayan bernama Dordoni Alessandro del Socaccio. Dengan gayanya yang agak nyentrik.

"Hn. Bagaimana kondisinya?" tanya Ulquiorra datar.

"Sekarang Sunsun-sama sedang istirahat. Dokter Unohana sudah memeriksa kondisinya dan memberikan obat" jawab Dordoni dengan pose agak membungkukkan badan dihadapan sang majikan.

Ulquiorra segera menuju kamar utama, tepatnya kamar ia beserta istrinya yang sudah 3 tahun ini jarang digunakan olehnya.

Pria berkulit pucat itu membuka pintu dengan perlahan, ia tidak ingin mengganggu istirahat istrinya yang sedang sakit.

Ulquiorra mendudukkan diri disamping sang istri yang tengah tidur. Jemarinya membelai surai hijau zaitun panjangnya lalu berpindah menelusuri wajahnya yang sangat tirus dengan kulit agak pucat .

Tiba-tiba iris lavender itu terbuka perlahan, seolah sentuhan Ulquiorra telah mengusik tidurnya.

"Ulquiorra-kun, Okaeri" ucap wanita tersebut dengan suara lemah, tak lupa senyum manis ia sunggingkan untuk sang suami.

"Hn, Tadaima, Sunsun. Gomen sudah mengganggu istirahatmu" ucap Ulquiorra dengan rasa bersalah, kemudian mengecup dahi wanita yang masih berstatus sebagai istrinya. Sunsun memejamkan matanya, meresapi sentuhan kecil yang jarang ia dapatkan.

"Iie, Ulquiorra-kun. Aku senang kau datang hari ini. Pasti Dordoni yang sudah mengadu padamu kan?" Wanita itu berkata sambil tersenyum pada Ulquiorra.

"Hn. Tidakkah kau tahu betapa khawatirnya aku mendengar keadaanmu. Kau harus makan teratur dan juga minum obatmu dengan teratur agar kau cepat sembuh" ucap Ulquiorra dengan wajah tanpa ekspresi seraya mengusap kepala istrinya.

Terlihat dari tatapan matanya bahwa ia sungguh mengkhawatirkan kondisi sang istri.

"Um tidak. Kau selalu berwajah datar Ulquiorra-kun. Hehehe" jawab Sunsun dengan santai. "Aku tidak berharap untuk sembuh..." Ulquiorra sedikit terkejut mendengar kalimat yang terlontar begitu saja dari perempuan berparas anggun di hadapannya.

"Apa yang kau katakan? Ia akan sedih jika mendengar kau berkata seperti itu" Ulquiorra menatap tajam Sungsun, seolah mencari tahu kalau wanita dihadapannya tidak bersungguh-sungguh berkata demikian.

"Bagaimana kalau ternyata aku tidak bisa disembuhkan Ulquiorra-kun?" Sunsun balas menatap tajam suaminya. Ia ingin Ulquiorra tidak terlalu mengharapkan kesembuhannya.

"Aku akan mencari dokter terbaik yang ada di dunia ini. Tidak peduli jika itu harus ke German, Amerika, Singapore, bahkan seluruh negara dengan medis terbaiknya akan kucoba. Aku ingin kau tetap hidup demi anak kita Sunsun"

Air mata mengalir begitu saja dari iris lavendernya. Ia tidak bisa terus-menerus menyusahkan Ulquiorra. Sudah terlalu banyak yang Ulquiorra korbankan untuknya.

"Bukankah kau sudah menemukannya, Ulquiorra-kun? Dengan begitu keberadaanku sudah tidak diperlukan lagi. Bukankah selama ini kau mencarinya? Harusnya kau bahagia, Ulquiorra-kun..." ucap Sunsun lirih.

Ulquiorra terdiam, dibalik wajah stoicnya berbagai perasaan tengah berkecamuk, membuat dadanya terasa sesak.

"Aku,,, tidak bisa... Ia masih mengharapkan orang lain dihatinya hingga saat ini. Kau juga berarti untukku, Sunsun. Kau adalah ibu dari anakku, anak kita. Dan kau juga sahabat terbaik dalam hidupku" jelas Ulquiorra seraya menyeka air mata Sunsun dengan ibu jarinya.

"Hei, bukankah kau pun demikian, Ulquiorra-kun? Hingga saat ini pun kau masih menyimpan dia dalam hatimu" ujar Sunsun sambil berusaha tersenyum.

"Tidak" jawab Ulquiorra singkat. Ia sedikit lelah menghadapi pembicaraan seperti ini.

"Oh, dengan kata lain, kau sudah mencintaiku Ulquiorra-kun?" goda Sunsun yang terlihat menikmati pembicaraan tersebut.

Ulquiorra sedikit tersentak dengan gurauan istrinya. Mungkinkah pernikahan mereka selama ini telah menanamkan benih-benih cinta?

"Tidak salah bukan jika aku mencintai istriku sendiri serta ibu dari anakku? Sudahlah kau sebaiknya kembali istrirahat, Sunsun" jawab Ulquiorra yang terdengar ambigu bagi Sunsun.

"Kau masih mencintainya, Ulquiorra-kun. Lagipula dari awal pernikahan ini bukan atas dasar cinta. Bahkan sama sekali tidak ada cinta diantara kita berdua.

Semua ini tidak akan terjadi jika Starrk tidak menikah dengan Harribel dan kau tidak kehilangan jejak Orihime" jawab Sunsun yang terlihat tenang walaupun sebenarnya ia berusaha menahan sakit dihatinya agar suaranya tidak bergetar.

Suasana berubah hening dan dingin, hanya ada dua orang yang saling terpaku dengan pemikiran masing-masing.

"Apa mau mu, Sunsun?" tanya Ulquiorra dengan tatapan yang memancarkan emosi. Ia menatap lekat wajah Sunsun seraya mencengkram tangan perempuan tersebut.

"Apa kau lupa Ulquiorra-kun. Aku sudah minta pernikahan ini diakhiri setelah anak kita lahir. Aku tidak pernah menyangka kita akan melakukannya hingga akhirnya ada bayi dalam perutku.

Andai saja anak itu tidak pernah ada, mungkin semua tidak akan serumit ini" jawab Sunsun sambil menundukkan kepalanya. Sakit dihatinya mengalahkan rasa sakit yang hinggap ditubuhnya.

"Cukup! Tidak ku sangka kau akan berkata seperti itu, Sunsun! Dia anakmu, anak yang sudah kita besarkan bersama selama ini. Apa kau menyesal sudah menerima tawaran menikah dariku? Katakan, Sunsun" Ulquiorra terlihat emosi selama berbicara. Baru kali ini ia melihat Ulquiorra semarah itu.

"Iya,,, tidak seharusnya semua ini terjadi. Andai saja Ayahmu tidak memaksamu menikah secepatnya hanya karena umurnya yang tinggal hitungan hari. Andai kau tidak menyerah mencari Orihime.

Kita tidak akan merasakan hal menyakitkan seperti ini Ulquiorra-kun" jawab Sunsun tak kalah emosi. Ia menghempaskan cengkraman Ulquiorra dari tangannya.

'Tok tok tok'

Terdengar suara pintu diketuk. Lalu terdengar suara seorang pelayan meminta izin.

"Suminasen Ulquiorra-sama. Tuan muda ingin bertemu anda dan Sunsun-sama"

"Silahkan, suruh ia masuk" jawab Ulquiorra yang sudah kembali tenang.

Pintu kamar terbuka dan masuklah seorang anak laki-laki berusia 7 tahunan dengan langkah cepat.

"Papa! Kapan papa datang?" seru anak yang dominan mewarisi gen Ulquiorra tersebut sambil memeluk erat sang ayah yang masih duduk di tepi ranjang.

"Baru saja. Bagaimana sekolahmu?" tanya Ulquiorra seraya mengusap pucuk kepala sang anak yang sudah lama ia rindukan.

"Aku senang papa pulang. Aku merindukanmu. Hari ini aku mendapat nilai A dalam pelajaran matematika dan bahasa Spanyol" jawab anak tersebut dengan sangat riang. Ulquiorra hanya tersenyum dan kembali mengusap pucuk kepala anak semata wayangnya.

"Oh ya mama, bagaimana keadaan mama? Apa masih sakit?" tanya anak itu sambil menghampiri dan ikut duduk disamping Ulquiorra.

"Tenang saja, mama sudah merasa baikan. Rui-kun, papa dan mama bangga sekali memiliki anak yang pintar sepertimu. Sekarang kau ganti baju dulu dan makan siang ya" Sunsun memembelai surai hitam kehijauan anaknya sambil tersenyum.

"Um, mama juga jangan lupa makan siang dan minum obat ya. Jaa" pamit anak tersebut sambil tersenyum 5 jari pada kedua orang tuanya.

Suasana kembali dingin sepeninggal anak mereka dari kamar yang terbilang luas tersebut.

"Arigatou telah mengurusnya dengan baik selama aku tidak disini" hanya itu yang terucap dari Ulquiorra setelah cukup lama mereka saling diam.

"Um.. Sudah tugasku sebagai ibunya" jawab wanita bersurai hijau zaitun itu dengan singkat.

.

.

.

"Moshi-moshi Aizen-san. Iya aku sedang bersama Orihime. Baiklah, tenang saja. Aku akan membawa Hime pulang sebelum petang" Szayel mengela nafas bosan setelah Aizen mengakhiri pembicaraan di telpon.

"Cih, dasar pemaksa. Apa dia sudah lupa dengan perbuatannya pada Hime pagi tadi" gerutu Szayel yang memang kurang suka dengan sikap Aizen yang pemaksa dan suka memerintah seenaknya.

Pria bersurai pink itu kembali masuk ke kamar Orihime. Ia melihat gadis tersebut tengah asik mengepak barang-barang sambil sesekali berceloteh ketika melihat barang yang nampaknya memiliki nilai historis baginya.

"Ah ini baju pemberian Ishida-kun! Tidak ku sangka ada disini, terselip diantara seprai. Umm,, masih muat tidak ya?" Ucap Orihime yang belum menyadari keberadaan Szayel.

"Kalau begitu aku coba sekarang saja" Orihime hendak melepaskan mini dress yang digunakannya.

Saat ini Orihime menggunakan mini dress berwarna pink dengan kerah sabrina yang elastis, sehingga tidak perlu repot untuk melepasnya. Cukup menariknya kebawah dan dress segera terlepas.

'Astaga! Gadis ini benar-benar menguji imanku. Ah dame da, aku harus bisa mengendalikan diri' inner Szayel panik karena Orihime sudah menurukan dressnya sebatas pinggang yang untungnya terhalangi oleh rambut panjangnya.

Posisi Orihime membelakangi Szayel. Ia menghadap pada lemari pakaiannya yang terletak disudut kiri kamar.

'Tok tok tok...'

Szayel memilih mengetuk pintu yang sebenarnya tidak ditutup. Alasannya karena Szayel pun tidak tahu harus berbicara apa?

"Ah S-Szayel-kun, chotto matte kudasai!" Orihime berucap dengan terkejut. Ia segera menaikkan kembali dressnya yang hampir saja dilepasnya.

'Ah gawat! Semoga Szayel-kun belum melihatku' inner Orihime panik.

"Hime, apa yang sedang kau lakukan? Ada yang bisa kubantu?" Szayel berpura-pura tidak melihat hal tersebut meskipun wajahnya sedikit merona.

Orihime berbalik menghadap pada Szayel. Ia yakin kalau penampilannya sudah rapi, tidak ada tanda-tanda kalau ia hampir melepas pakaiannya.

"Ti-tidak, aku tadi sedang merapikan barang-barang pribadiku saja" jawab Orihime sambil tersenyum kikuk. "Oh ya, Szayel-kun bisa membantuku menaruh buku dan beberapa barang kedalam tas ini" Orihime melanjutkan ucapannya.

Szayel tidak segera bereaksi setelah menerima instruksi dari Orihime, ia masih terpaku menatap Orihime. Dipandangi dengan intens membuat gadis tersebut sedikit tidak nyaman. Ia tidak mengerti dengan sikap pria dihadapannya saat ini.

Szayel semakin mendekati Orihime, "Apa Aizen yang sudah melakukannya?" ucap Szayel seraya menyentuh tanda merah di dada yang dekat dengan payudara Orihime.

Betapa terkejutnya gadis yang memiliki ukuran payudara tergolong besar tersebut. Ia baru sadar akan pakaiannya yang belum rapi. Kerah sabrinanya belum sepenuhnya menutupi area menonjol sang gadis dan terlihatlah tanda-tanda merah tersebut.

'Oh tidak. Apa yang harus aku katakan? Apa aku memang melakukan 'itu' dengan Ishida-kun?' inner Orihime panik.

"I-iie Szayel-kun, Aizen-san tidak melakukannya" jawab Orihime sambil menundukkan wajahnya. Ia tidak berani bertatapan dengan Szayel.

"Bukan Aizen yang melakukannya Hime? Berarti memang terjadi sesuatu antara kau dengan Ishida semalam?" ucap Szayel yang lebih terdengar seperti pernyataan pada Orihime.

"Mu-mungkin... Aku terlalu banyak minum dan tidak bisa mengingatnya dengan jelas" jawab Orihime tidak yakin.

"Lagi-lagi kau mabuk, Hime. Sebaiknya kau jangan terlalu sering minum, Hime. Aku percaya Ishida tidak akan melakukan hal 'itu', tapi aku cukup terkejut melihat ini" Szayel kembali menyentuh kissmark tersebut.

Orihime merasa seperti tersengat listrik akan sentuhan yang Szayel berikan. Szayel mencondongkan wajahnya pada telinga Orihime lalu berkata dengan pelan,

"Aku ingin kau hanya menjadi milikku, Hime,,," Szayel melingkarkan kedua lengannya pada pinggang ramping Orihime, lalu mengecup kening gadis bersurai orange dihadapannya dengan lembut.

Orihime hanya memejamkan matanya rapat-rapat menerima kecupan hangat di keningnya, entah kenapa ia malah membayangkan Ishida Uryuu yang menyentuhnya.

'Andai Ishida-kun menyentuhku dalam keadaan seperti ini, bukan saat aku mabuk' inner Orihime.

Szayel hendak mencium Orihime tepat di bibirnya namun ia terpaksa mengurungkan niatnya. Ia merasa Orihime belum membuka hati untuknya. Terlebih Orihime hanya diam dan terlihat takut.

'Sepertinya akan sedikit sulit. Andai dulu kita tidak terpisah Hime, mungkin hanya aku yang ada dalam hatimu' inner Szayel lirih.

"Sebaiknya kita segera berkemas Hime, tadi Aizen yang menghubungiku. Ia ingin kita tiba di mansion sebelum petang" ucap Szayel seraya melepaskan pelukannya. Ia memasang senyum pada wajahnya agar Orihime tidak melihat kekecewaan yang dirasakannya.

"Um, tenang saja, ini tidak akan memakan waktu lama. Aku tidak membawa semua barang, hanya yang ku perlukan saja" jawab Orihime dengan antusias seperti biasa.

Tak terasa 2 jam sudah Orihime mengepak barang-barang yang akan dibawanya. Szayel juga sangat membantunya sehingga gadis tersebut tidak terlalu kerepotan merapikan barang-barang miliknya yang sebenarnya tidak bisa dibilang sedikit.

"Ah akhirnya selesai juga. Uuhh cukup melelahkan, untung saja ada kau, Szayel-kun. Arigatou" ucap Orihime sambil meletakkan koper berukuran besar yang berisi pakaian-pakaian serta beberapa dokumen miliknya.

"Aku senang bisa membantumu, Hime" jawab Szayel dengan senyumnya seraya mengelus kepala Orihime. "Apa hanya ini saja yang akan kau bawa Hime?" tanya Szayel sambil mengangkat tas yang berisi buku dan beberapa barang milik Orihime yang ia rapikan.

"Um, untuk saat ini hanya itu yang ku bawa. Lagipula aku bisa kembali kesini sewaktu-waktu jika ada yang kuperlukan" jawab gadis bersurai jingga kecoklatan tersebut.

"Hm baiklah kalau begitu, aku akan membawanya ke mobil" ucap Szayel dengan menenteng dua buah tas berukuran sedang di kedua tangannya.

"Ah aku juga harus mengecek isi kulkas, semoga masih ada sisa makanan yang bisa kubawa. Beberapa hari ini aku tidak memakan snack saat senggang" gumam Orihime kemudian keluar dari kamarnya.

"Ah yokatta! Masih ada susu kotak, buah-buahan, cokelat, serta beberapa roti dan cake" pekik Orihime saat menemukan makanannya masih utuh. Ia memasukkan makanan tersebut kedalam paperbag yang sudah disiapkannya.

"Ternyata kau disini Hime. Sedang apa?" tanya Szayel yang sudah ada dibelakangnya.

"Aku sedang mengosongkan isi kulkas, Szayel-kun" jawab Orihime dengan wajah riang. Pantas saja gadis bersurai jingga itu terlihat sedikit gemuk, ia memiliki kebiasaan ngemil beberapa bulan ini.

"Ah begitu. Oh ya semua tas sudah ku masukkan kedalam mobil. Apa kau masih ingin bersantai sejenak disini Hime?"

"Kita langsung saja Szayel-kun. Ada yang ingin ku beli di toko" jawab Orihime dengan ekspresi terkejut. Ia baru ingat

.

.

.

"Hime, kau mau makan siang dimana?" tanya Szayel yang baru ingat kalau mereka belum mengisi perut masing-masing.

"Etto,,, terserah Szayel-kun saja. Dimanapun aku tidak keberatan" jawab Orihime disertai senyum manisnya.

"Baiklah kalau begitu kita makan dikedai ramen. Aku sudah lama tidak memakan makanan tersebut. Ku dengar ada kedai ramen yang enak disini" ucap Szayel yang masih fokus mengemudikan mobil.

"Oke! Kita makan ramen! Wah tidak ku sangka Szayel-kun cukup mengenal kawasan ini" Szayel tersenyum gemas melihat gadis disampingnya. Ia mengusap kepala Orihime dengan tangan kirinya.

"Tentu saja Hime. Salah satu rekan bisnisku tinggal disini. Namanya Kisuke Urahara" jelas Szayel yang dijawab "Oh" oleh Orihime.

Setelah berjalan selama 40 menit, terlihatlah kedai ramen yang dimaksud pria bersurai pink tersebut. "Akhirnya kita sampai Hime. Ah yokatta tempatnya sudah tidak terlalu ramai"

Mereka keluar dari mobil dan menempati meja yang berada dipojok kanan ruangan. Orihime yang memilih meja tersebut sebab ia lebih suka duduk dipojok ruangan.

Lalu datang seorang waitter menghampiri mereka sambil memberikan daftar menu. Szayel memesan Kobe Ramen serta Ocha dingin sedangkan Orihime memesan Shoyu Ramen dengan Ocha hangat.

Beberapa menit kemudian pesanan mereka tiba. Szayel dan Orihime segera melahap ramen dihadapan mereka dengan antusias. Akan tetapi baru tiga suap Orihime kembali merasakan mual seperti saat sarapan tadi.

"Huueekk,,, ah kenapa mual lagi" desis Orihime menahan rasa mual yang mengaduk perutnya.

"Hime, ini minum ochanya selagi hangat" Szayel mengambilkan segelas Ocha pada Orihime, ia terlihat khawatir Orihime kembali mual.

"Uh,, Szayel-kun, arigatou. Rasanya aku tidak bisa memakan ini, baunya membuatku mual. Gomen" ucap Orihime dengan wajah pucat dan rasa bersalah.

"Tidak apa, Hime. Aku akan memesankan yang lain. Kau ingin memesan apa, Hime?" tanya Szayel sambil memanggil salah satu waitter.

"Aku ingin gyoza, chicken eggroll dan ebi furai saja, Szayel-kun" jawab Orihime yang terlihat tidak sabar ingin menyantap makan tersebut ketika melihat daftar menu.

"Baiklah. Saya pesan 1 porsi gyoza, chicken eggroll dan ebi furai" ucap Szayel pada waitter.

10 menit kemudian pesanan datang dan Orihime tampak lahap sekali memakan makanan tersebut. Syazel tersenyum geli melihat cara makan Orihime yang seperti anak kecil.

Selesai mengisi perut, Orihime meminta Szayel mengantarkannya ke sebuah supermarket yang menjual berbagai macam keperluannya.

"Kau ingin membeli apa, Hime?" tanya Szayel seraya mendorong troli belanjaan.

"Aku ingin membeli sketchbook, sticknote, lem, beberapa camilan dan keperluan pribadi" jawab Orihime sambil mengingat apa saja kebutuhannya.

"Ah begitu ya. Aku senang bisa memanimu. Kita seperti suami-istri sungguhan" ucap Szayel dengan rona merah dipipinya. Mendengar kata-kata Szayel barusan membuat pipi Orihime turut memanas.

Selama disana banyak orang yang memandangi mereka, bahkan beberapa diantaranya mengatakan mereka pasangan yang serasi.

Tiba giliran mereka dikasir, sang petugaa kasir tersenyum ramah pada mereka.

"Konnichiwa. Wah senangnya memiliki suami yang mau menemani istrinya berbelanja. Kalian terlihat serasi" ujar wanita petugas kasir tersebut sambil tersenyum ramah. Szayel dan Orihime tersenyum kikuk disertai rona merah kembali menghiasi pipi keduanya.

Mereka sudah berada di area parkiran, ketika Szayel hendak memasukkan belanjaan kedalam bagasi, Orihime teringat sesuatu.

"Ah, Szayel-kun. Chotto matte kudasai, aku harus kembali, ada yang lupa kubeli" Orihime meminta izin pada Szayel.

"Perlu ku temani, Hime?" tawar Szayel yang sudah selesai memasukkan semua belanjaan.

"Um, tidak. Ini hanya sebentar, Jaa" Orihime berlalu meninggalkan Szayel. Sambil menunggu Szayel membuka laptopnya, mengechek laporan pekerjaan yang masuk ke emailnya.

Orihime terlihat celingukan, sedari tadi ia mencari sesuatu yang akan dibelinya tapi belum ketemu juga. Beruntung ada seorang petugas supermarket disana, ia segera menghampiri dan bertanya.

"Ano, sumimasen. Aku mencari testpack, bisa anda tunjukkan dimana letaknya?"

"Oh, itu berada di tempat obat-obatan. Di lorong nomor 3, apa nyonya ingin saya yang mengambilkan?" jawab pemuda tersebut sambil menawarkan bantuan untuk Orihime.

"Ah iie, akan ku ambil sendiri. Arigatou gozaimasu" Orihime berjalan menuju tempat tersebut. Ia cukup kesulitan memilih testpack mana yang akan ia gunakan, maklum saja baru kali ini ia berurusan dengan hal seperti itu.

"Aduh yang mana ya? Ah aku ambil acak saja" Orihime mengambil asal beberapa merk yang terpajang disana. Ia kembali mengantri dikasir yang tadi. Ketika tiba gilirannya, penjaga kasir tersebut tersenyum melihat apa yang dibeli Orihime.

"Wah, ingin memberi kejutan pada suami anda ya?" tanya penjaga kasir tersebut.

"Um, iya. Apa ini akurat?" tanya Orihime malu-malu.

"Merk ini 99% akurat nyonya. Semoga berhasil ya" jawab penjaga kasir sambil tersenyum. Orihime hanya diam menahan rasa malunya. Hari ini terasa berat untuk gadis bersurai jingga tersebut.

"Apa yang kau beli, Hime?" tanya Szayel yang sudah selesai mengechek email pekerjaannya. Ia mematikan laptopnya lalu menaruhnya kembali dikursi belakang.

"Eh,,, itu hanya obat sakit kepala dan flu" jawab Orihime berbohong.

"Sou ka. Baiklah, sekarang kita pulang, Hime" Szayel menstarter mobil dan melesat menuju mansion Las Noches.

Perjalanan kali ini cukup cepat, hanya memakan waktu 2 jam, sehingga mereka tiba lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Kira menyambut kedatangan Szayel dan Orihime serta membantu membawakan barang-barang ke kamar Orihime.

"Hime, sebaiknya kau istirahat saja dulu sebelum Aizen menjemputmu. Aku harus kembali ke kantor, Jaa" Szayel meninggalkan Orihime berdua dengan Kira.

"Orihime-sama, ingin saya bawakan ocha hangat?" tanya Kira yang sudah selesai menaruh tas-tas miliknya.

"Um, arigatou Kira-san" jawab Orihime disertai anggukan dan senyuman pada Kira.

"Baiklah, saya akan segera kembali" pamit Kira meninggalkan Orihime sendiri dikamarnya. Orihime merebahkan tubuhnya dikasur. Entah kenapa kepalanya terasa agak pusing dan ia kembali merasakan mual diperutnya.

Orihime segera bangun dan berlari menuju kamar mandi dikamarnya. Ia kembali memuntahkan isi perutnya di kloset.

Kira yang baru saja kembali dengan membawa nampan berisi ocha terkejut mendengar Orihime mual seperti tadi pagi, ia meletakkan ocha di atas nakas yang berada disamping tempat tidur kemudian mengetuk pintu kamar mandi.

"Orihime-sama, daijobu desu ka?" tanya Kira sangat khawatir. Ia ingin masuk tapi merasa sungkan.

"Ah, da-daijobu, Kira-san" terdengar suara air yang membasuh kloset, Orihime keluar dari kamar mandi dengan wajah sedikit pucat. Kira dengan sigap memapah tubuh Orihime ke tempat tidur.

Orihime memilih duduk bersandar pada kepala tempat tidur, Kira memberikan segelas ocha yang masih hangat tersebut pada Orihime.

"Arigatou, Kira-san. Hari ini aku sudah merepotkan banyak orang" ucap Orihime dengan lemah kemudian meminum ocha tersebut.

"Eh tidak, Orihime-sama. Sudah kewajiban saya melayani anda dengan baik. Anda ingin saya buatkan sesuatu, Orihime-sama?"

"Tidak, saya ingin istirahat sebelum Aizen-san datang" jawab Orihime yang merasa perutnya sedikit lebih baik.

"Wakarimashita. Saya permisi, Orihime-sama" Kira keluar dari kamar Orihime, tidak lupa menutup rapat pintunya.

Orihime tertidur selama 2 setengah jam, waktu yang cukup untuk memulihkan kondisinya. Jam baru saja menunjukkan angka 6. "Masih ada waktu bersiap-siap" gumamnya sambil berjalan menuju kamar mandi.

Hanya 15 menit Orihime menyelesaikan kegiatan membersihkan tubuhnya. Ia keluar kamar mandi dengan mengenakan handuk bermodel kimono serta handuk yang membungkus rambutnya.

Orihime tidak begitu repot mengeringkan rambutnya, disana sudah tersedia hair dryer dan beberapa alat untuk menata rambut lainnya. Setelah kering, Orihime mengambil alat pengeriting rambut, ia ingin sedikit merubah penampilannya.

"Ternyata model ikal ini cocok juga diwajahku. Sekarang tinggal memilih baju apa yang cocok untuk ku pakai?" Orihime membuka lemari pakaiannya.

"Hm, yang ini warnanya kurang cocok, yang ini terlalu glamor, ini bagus tapi terlalu terbuka, ah ini sepertinya cocok" Orihime mengambil maxi dress berbahan beludru berwarna navy blue dengan model off-shoulders yang tidak mengekspose buah dadanya serta belahan selutut pada kaki kanannya.

'Tok tok tok'

"Hime-chan, apa kau sudah bangun?" tanya seseorang dari luar kamarnya.

"Aku sudah hampir rapi, Ayasegawa-san. Silahkan masuk" jawab Orihime sambil merapikan dress yang baru dipakainya. Yumichika masuk ke kamar Orihime sambil membawa kotak berisi make up serta sebuah tas plastik berukuran cukup besar.

"Kau terlihat sangat cantik Hime-chan! Padahal kau belum memakai make up. Ah, aku jadi tidak sabar melihatmu setelah ku rias nanti" ucap Yumichika yang tiba-tiba memeluk Orihime dari belakang.

"E-eh, Ayasegawa-san" Orihime terkejut ketika Yumichika memeluknya. "A-arigatou. Kau terlalu berlebihan, Ayasegawa-san" jawab Orihime sambil tersenyum pada Yumichika yang masih memeluknya.

"Itu tidak berlebihan, tapi memang kenyataan my dear" ucap Yumichika seraya memberi kecupan pada pipi Orihime. "Ayo bersiap-siap, aku akan membuatmu menjadi perempuan yang paling cantik di pesta" Yumichika menyuruh Orihime duduk dikursi meja riasnya.

"U-um,,, dozo, Ayasegawa-san" jawab Orihime terpana melihat Yumichika yang selalu terlihat cantik, sama sekali tidak terlihat sisi maskulinnya.

Ritual merias wajah Orihime cukup memakan waktu lama, ia berusaha membuat Orihime tidak terlihat seperti Orihime biasanya. Sebagai antisipasi jika keesokan hari salah satu dari mereka mengajak Orihime pergi kehadapan publik, maka publik tidak mengenalinya.

"Selesai. Nah Hime, sekarang kau boleh membuka matamu" ucap Yumichika memutar kursi Orihime menghadap meja rias. Perlahan iris safir itu terbuka, ia memakai contact lense agar terlihat lebih berbeda. Orihime dibuat terkejut dengan kepandaian Yumichika merias wajahnya.

"Wah sugoi. Apa benar yang dipantulkan cermin itu adalah aku? Aku benar-benar berbeda" puji Orihime yang masih mengagumi hasil riasan Yumichika.

"Arigatou, Hime-chan. Tentu saja itu kau, Hime. Jadi sekarang kau tidak perlu khawatir dengan identitasmu, my dear" ucap Yumichika dengan berbangga ria.

"Oh ya Hime, aku membawa beberapa aksesoris, sepatu dan clutch untuk kau pakai. Silahkan pilih mana yang menurutmu cocok" Yumichika membongkar isi tas plastik yang tadi dibawanya. Orihime kembali dibuat takjub dengan koleksi aksesoris dan clutch milik Yumichika.

Semuanya berasal dari merk ternama. Ada Chanel, Hermes, Lana Marks, Lieber, Dior dan masih beberapa merk lain. Orihime memilih clutch Hermes Birkin Ginza Tanaka, warna silvernya membuat Orihime terlihat sangat elegance dipandu maxi dressnya.

"Good eye, Hime-chan. Seleramu bagus. Sekarang pilih aksesori apa yang akan kau kenakan, kalau bisa yang modelnya lebih simpel karena dengan hanya baju dan clutch saja kau sudah terlihat perfect, Hime-chan" jelas Yumichika sedikit memberi pengarahan.

Orihime memilih sepasang giwang platina dengan berlian putih round shape yang berukuran tidak terlalu kecil sehingga terlihat manis. Tinggal memilih sepatu yang serasi dengan tampilannya. Yumichika juga sudah membawakan beberapa untuknya.

Orihime memilih high heels berwarna silver rancangan Jimmy Choo yang senada dengan clutchnya. Perfect! Sekarang waktunya menunggu sang pangeran yang hendak menjemputnya.

"Oh ya Hime-chan, kita berfoto dulu ya. Aku ingin mengabadikan penampilanmu hari ini" ucap Yumichika yang sudah mensetting ponselnya dengan mode camera timer.

"Iya, ayo Ayasegawa-san" jawab Orihime antusias. Mereka segera merapat dan berpose.

"Cheers!" seru mereka dan pose mereka berhasil ditangkap oleh kamera.

"Sekali lagi ya Hime, tapi kali ini aku ingin memotret mu full body. Sayang kan kalau penampilan sempurnamu ini tidak di abadikan"

"Baiklah" Orihime berpose ala fotomodel sungguhan dengan tangan kanan berkacak pinggang. Tidak lupa ia memamerkan kaki jenjangnya yang terdapat belahan selutut.

"Bagus my dear. Sekarang ayo kita keruang tamu. Biar mereka semua terkejut melihat pempilanmu" Orihime mengangguk mengiyakan ajakan Yumichika, tapi ia teringat sesuatu dan meminta Yumichika menunggunya di luar kamar.

"Hampir saja aku lupa membawanya" Orihime memasukkan sebuah testpack kedalam clutchnya. "Oh ya aku juga belum memakai parfum, ah yang ini saja" Orihime menyemprotkan parfum channel no.5 ke tubuhnya.

"Minna, lihat siapa yang bersamaku sekarang" seru Yumichika ketika sampai diruang tamu. Yylfordt dan Kira yang sedang bermain catur serempak menoleh pada Yumichika. Disampingnya terdapat seorang gadis yang tampak cantik bak puteri.

"Hi-Hime? Waw, kau terlihat sangat cantik dan berbeda" Yylfordt menatap Orihime dengan takjub, begitu juga Kira.

"Anda benar-benar terlihat berbeda, Orihime-sama" puji Kira dengan malu-malu. Yumichika tertawa puas dengan hasil karyanya.

"Ne ne siapa dulu penata riasnya. Hohoho. Dengan begini kau tidak perlu khawatir, Hime-chan" Yumichika mengedipkan sebelah matanya pada Orihime.

"Um, arigatou minna" jawab Orihime tersipu malu, ia tidak terbiasa mendapat pujian berlebihan seperti itu. Tiba-tiba pintu ruang tamu terbuka, menampakkan sosok pria tampan bersurai coklat dengan iris senada dan tubuh yang atletis.

Pria itu menatap Orihime dengan heran. "Orihime? Kaukah itu?" tanya pria tersebut seolah tidak percaya.

"Iya, ini aku, Orihime, Aizen-san" jawab Orihime yang terpana melihat penampilan Aizen yang sangat menghipnotis matanya. Jas mahal yang membungkus tubuhnya membuat wajah Aizen semakin bersinar.

Aizen menghampiri Orihime, tanpa aba-aba pria itu bersujud dihadapan Orihime lalu menggenggam tangan kanannya disertai senyuman yang membius. Orihime merasakan wajahnya menanas diperlakukan bak puteri oleh Aizen.

Ternyata masih ada kejutan lagi yang ditunjukkan Aizen padanya, ia mengambil sebuah kotak beludru warna merah heartshape berukuran kecil, ia membuka kotak tersebut dengan satu tangan.

Sebuah cincin ruby berbentuk tetesan air mengihiasi cincin platina tersebut. Orihime terpukau dengan keindahan batu semerah darah dihadapannya. Aizen menyelipkan cincin itu ke jari manisnya, terlihat cocok sekali disana. Kemudian Aizen mengecup tangan Orihime dimana cincin itu tersemat.

"Orihime, mulai sekarang kau adalah istriku..."

"Ehhmm... Eehhhmmm" Yylfordt sengaja berdehem agar Aizen tidak melupakan perjanjian yang mereka buat bersama.

"Ah, sumimasen. Maksudku kau adalah istriku malam ini. Kau bersedia?" ucap Aizen dengan suara rendah yang terdengar sexy ditelinga Orihime. Orihime hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban "iya". Sepertinya gadis itu sudah lupa dengan perbuatan Aizen pagi tadi.

"Ah yokatta. Arigatou, my princess" Aizen segera berdiri kemudian memeluk Orihime dengan penuh kebahagiaan terpancar diwajahnya.

"Hei hei, mau sampai kapan kau membuat kami cemburu, Aizen. Ini sudah jam berapa?" cibir Yumichika yang sedikit muak melihat adegan 'romansa' yang Aizen mainkan. Begitu pula dengan Yylfordt.

"Ah, gomen minna. Aku terbawa suasana. Baiklah, my princess ayo kita berangkat" Orihime hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu berpamitan pada Yumichika, Yylfordt, dan Kira. "Minna, ittekimasu"

"Ha'i. Itterasshai" jawab mereka kompak. Aizen menggandeng Orihime menuju mobil Limousine miliknya. Lagi-lagi Orihime dibuat takjub dengan interior bergaya mewah dalam Limousine tersebut. Orihime merasa bak Cinderella untuk malam ini.

Tanpa Orihime sadari, dua pasang mata menatap kepergian mereka dari balkon. Yang satu menatap tidak suka sedangkan yang satunya menatap penuh damba.

"Gadis itu cantik sekali, sungguh beruntung kita bertemu dengannya. Ne Szayel, doushite?" Kaien menatap Szayel dengan heran. Tatapan Szayel tidak seperti biasanya pada Aizen.

"Iya, sangat disayangkan Orihime harus pergi dengan manusia serigala sepertinya" ucap Szayel seraya mencengkram gelas wine ditangannya.

Kaien tidak mengerti dengan situasi yang tengah terjadi antara Szayel dengan Aizen, jadi ia hanya mengangkat bahunya lalu menghabiskan red wine digelasnya.

.

.

.

Aizen dan Orihime tiba di gedung tempat diselenggarakan acara serah terima jabatan presdir Espada Corp. Gedung tersebut juga salah satu property miliknya. Aizen turun lebih dulu dari sisi lain mobil kemudian ia membukakan pintu untuk Orihime.

Semua mata memandang mereka terlebih mengingat status Aizen yang akan menyandang ststus presdir dari perusahaan besar di Jepang. Orihime menyambut uluran tangan Aizen, ia menapaki kakinya perlahan diatas red karpet.

"Chotto, my princess" Aizen tiba-tiba merangkulnya di muka umum sambil mengecup bibirnya. Orihime tidak menyangka Aizen akan bersikap 'show off' seperti itu. Suasana pun riuh, mereka seolah menikmati apa yang Aizen lakukan.

Orihime hendak mengeluarkan emosinya tapi ia mengurungkan niatnya. Lagipula ini sudah tugas sekaligus resikonya menjadi 'wife in promise '. Setelah beberapa detik mengecup bibirnya, Aizen berbisik ditelinga Orihime.

"Gomen, aku memberimu sedikit kejutan" Aizen mengarahkan matanya pada leher Orihime. Gadis itu mengikuti arah pandang Aizen dan ia kembali dikejutkan dengan kalung platina bermata ruby sudah menghiasi lehernya.

"A-arigatou, Aizen-san" jawab Orihime dengan sangat pelan tapi masih bisa ditangkap oleh pendengaran Aizen.

"Ayo kita kedalam, my princess" Orihime mengaitkan lengannya pada lengan Aizen. Mereka tampak sangat serasi, begitulah yang Orihime dengar.

Acara pembukaan sudah dimulai. Semua tamu undangan duduk ditempat yang sudah disediakan. Dari sekian banyak tamu undangan, ada beberapa wajah yang ia kenal. Awalnya ia terkejut namun mengingat betapa berbeda dirinya hari ini, Orihime hanya tersenyum kecil.

"Apa yang kau lihat, my princess? Kenapa tersenyum seperti itu?" Aizen berbisik ditelinganya.

"Eh,,, iie. Aku tidak menyangka bisa berada di acara seperti ini. Ini pengalaman yang luar biasa untuk orang biasa sepertiku" jawab Orihime juga dengan berbisik. Ia sedikit berbohong pada Aizen karena agak merepotkan menjelaskannya saat ini.

"Hn, sou ka. Jangan menatap pria lain saat bersamaku, my princess" ucap Aizen dengan tenang akan tetapi terdengar seperti sebuah peringatan bagi Orihime.

Setelah berbagai macam sambutan, pidato, dan sedikit sejarah Espada Corp. Acara mulai tiba pada puncaknya, sang MC memanggil nama Aizen dan menyuruhnya naik ke atas panggung. Aizen mengecup dahi Orihime lalu berjalan kesana.

Suara riuh tepuk tangan memenuhi aula gedung. Rasanya seperti menghadiri penyerahan piala Oscar atau Grammy award ketika Aizen menaiki panggung. Kemudian Aizen terlihat menandatangani sesuatu seperti piagam.

Setelah itu sang MC menunjukkan piagam tersebut pada hadirin menandakan jabatan presdir telah berpindah pada Aizen Sousuke dan dinyatakan Sah. Aizen berjabat tangan dengan presdir sebelumnya dan melakukan foto bersama.

Berhubung Espada Corp merupakan salah satu perusahaan bisnis raksasa di Jepang, tak ayal para pers dari berbagai media cetak dan elektronik turut hadir meliput peristiwa tersebut. Selain muncul di majalah bisnis, wajah Aizen kerap muncul di majalah wanita karena ketampanannya.

Setelah sesi foto bersama para direksi selesai, Aizen dipersilahkan untuk memberikan beberapa kata sebagai apresiasi acara tersebut.

"Arigatou gozaimasu kepada seluruh pihak yang turut membantu saya hingga saat ini. Tanpa kalian saya tidak mungkin berada disini. Saya juga mengucapkan arigatou gozaimasu untuk istri saya yang sudah memberikan dukungannya selama ini" ucap Aizen seraya menatap Orihime dari atas panggung.

Seluruh mata memandang Orihime, tak terkecuali para pers yang sejak awal kedatangan mereka sudah sangat penasaran dengan perempuan yang mendampingi Aizen. Orihime hanya tersenyum kecil sambil berusaha menahan rasa gugupnya.

Aizen kembali mengalihkan perhatian seluruh tamu dan pers dengan kalimat yang ia lontarkan mengenai visi dan misinya. Orihime menghela nafas lega setelah sedari tadi tanpa sadar menahan nafasnya.

Dari kejauhan tampak seorang gadis bersurai hitam beriris magenta mengepalkan tangannya menahan amarah. Rambut yang biasanya ia ikat twin ponytail kini ia gerai bebas dengan sedikit gelombang pada ujungnya.

"Perempuan itu, sudah berani merebut Aizen dariku. Lihat saja, akan kubuat ia menyesal" desis gadis tersebut dengan aura membunuh.

"Sudahlah Loly, jangan membuat masalah disini" Menoly berusaha menenangkan sahabatnya.

"Tenang saja Menoly, sekarang bukan saat yang tepat" Loly menyeringai psyco, menambah seram aura disekitarnya.

Para tamu undangan sudah dipersilahkan mengambil makanan dan minuman yang telah disediakan, Orihime sangat tergiur melihat berbagai macam hidangan yang disediakan. Andai ia datang bukan sebagai istri Aizen, ia pasti sudah memencicipi berbagai menu yang tersedia.

Aizen datang menghampiri Orihime dengan membawa sepiring pasta. "Kau pasti sudah lapar, my princess. Sekarang makan ini dulu untuk mengganjal perut, nanti kita makan di restaurant saja" ucap Aizen menyunggingkan senyumnya sambil menyuapi Orihime.

"Um, Arigatou Aizen-san" Orihime membiarkan Aizen menyuapinya, setidaknya ia cukup sukses berperan sebagai istri seorang presdir. "Ano, Aizen-san. Apa anda ingin saya suapi juga?" Orihime mencoba berperan aktif.

"Tidak perlu, my princess. Biar aku saja yang menyuapimu dan berperan sebagai suami yang memanjakan istrinya" jawab Aizen dengan senyum membiusnya. Aizen memang sosok yang 'show off' fikir Orihime sekali lagi.

"Ah baiklah. Uhh,,, huueekk,,, ah gomennasai" Orihime kembali merasakan mual, seharian ini sudah berapa kali ia mengalaminya? Aizen menaruh piring berisi pasta itu di meja. Ia menggenggam jemari Orihime seraya menatap khawatir.

"Princess, kau mual lagi? Apa kau tidak kerumah sakit tadi?" tanya Aizen seraya mengelus punggung Orihime. Gadis itu hanya menggeleng lemah. "Aku baik-baik saja, Aizen-san. Toilet, dimana toiletnya, Aizen-san?" tanya Orihime yang masih merasakan mual.

"Biar aku mengantarmu kesana, princess" Aizen merangkul Orihime dan membawanya ke toilet. Ketika Aizen sudah didepan pintu keluar aula, seseorang memanggil Aizen.

"Aizen-sama, apa anda sedang sibuk?" Aizen dan Orihime menoleh, ternyata orang itu adalah Gin Ichimaru. Kekasih sahabatnya, Rangiku Matsumoto.

"Ada apa Gin? Aku hendak mengantar istriku ke Restroom" jawab Aizen yang masih merangkul Orihime. Gin menatap perempuan dihadapannya.

"Ah begitu ya. Sepertinya istri anda kelihatan kurang sehat. Tapi Barragan-sama ingin berbicara dengan anda, Aizen-sama" ucap Gin dengan cengiran rubahnya yang khas. Orihime tidak mengerti kenapa sahabatnya sangat mencintai pria yang terlihat licik tersebut.

"Katakan aku segera kesana setelah mengantar istriku. Jaa Gin. Ayo princess" Aizen kembali menuntun Orihime menuju toilet, meninggalkan Gin yang masih terdiam ditempatnya.

"My princess, gomen aku tidak bisa menunggumu diluar, aku harus menemui seseorang. Tidak apa kan?" ucap Aizen seraya mengusap pucuk kepala Orihime. Sebenarnya ia tidak mau meninggalkan Orihime, tapi ia juga tidak bisa membuat seseorang bernama Barragan menunggu.

"Um, daijobu Aizen-san. Arigatou sudah mengantarku, aku bisa mengurus semuanya sendiri" jawab Orihime dengan lemah. Aizen tersenyum lalu mengecup kening Orihime sebelum meninggalkannya pergi.

Orihime segera masuk kedalam toilet, ia memuntahkan isi perutnya pada washtuffle dan syukurlah tidak ada siapapun ditoilet tersebut. Perutnya sudah terasa lebih baik, Orihime mencuci mulutnya dan merapikan make upnya. Ia melihat testpack yang sengaja dibawa olehnya.

Orihime memasuki bilik toilet, ia sedikit harap-harap cemas dengan hasil apa yang akan ditunjukkan testpack tersebut. Setelah menunggu selama 10 menit, Orihime sudah menyiapkan mentalnya untuk melihat hasilnya.

Tapi akibat terlalu gugup, tangannya gemetaran dan tanpa sengaja menjatuhkan testpack tersebut. Orihime masih dalam posisi duduk di closet meraba-raba dimana testpacknya terjatuh karena cahaya penerangan yang agak minim didalam bilik.

"Uh dimana ya? Ah ini dia, ketemu" ucap Orihime yang berhasil menemukannya didekat tempat sampah. Ia mengangkat testpack itu ke hadapannya, matanya masih terpejam. "Baiklah, aku harus siap apapun hasilnya" kemudian gadis bersurai jingga itu membuka matanya dan terkejut.

"Oh tidak! Aku harus apa sekarang?" pekik Orihime saat melihat dua garis merah muncul pada testpack.

.

.

.

.

TBC

.

.

Hallo minna. Genki desu? Akhirnya bisa update setelah beberapa minggu ini dikuras otak sama tugas akhir. Pasti agak bosenin ya chap ini? Gomen ne minna, Fuuyu juga udah berusaha bikin alurnya gak flat gitu-gitu aja, tapi cuma ini yang Fuuyu bisa.

Jadi ceritanya Ulquiorra memang sudah menikah dengan Sungsun dan memiliki 1 anak (OC). Jangan pada kecewa ya. Hehehe. Mungkin di chap depan belum ada konflik, Fuuyu masih mau bikin Orihime kenal dan dekat dulu sama para suami.

Oh ya soal gimana Orihime sampai bisa terikat perjanjian bakal dijelasin tapi bukan sama Ishida atau Aizen. Fuuyu mohon minna sabar dulu ya untuk yang itu. Hehehe, pokoknya bakal disampein sama orang yang tepat (mungkin).

Aduh gomennasai chap ini masih belum ada UlquiHime :( *sujud berkali-kali* Soalnya Fuuyu mau moment UlquiHime berbeda dari yang lain. Jadi mohon bersabar yaa :D Fuuyu usahain sesegera mungkin (?)

Sekarang Fuuyu mau balas review dari teman-teman :D

- Guest: Hallo Guest-san :). Wanita yang jadi istri Ulquiorra adalah Sungsun Shian/Cyan. Kalau di Bleach dia salah satu franccion Tia Harribel. Mereka memiliki satu orang anak laki-laki. Fuuyu pasti bikin UlquiHime. Tapi mohon sabar dulu yaa *puppy eyes no jutsu*

Iya, Ryuuken maunya Uryuu nikah sama Nemu supaya dapat suntikan dana untuk Karakura Hospital. Arigatou gozaimasu sudah review :D Stay tune terus yaa ;)

- tamiino : Hallo Tami-chan :). Kok ada offnya? Tami-chan jangan tinggalkan Fuuyu.. Hiks,,, *iihh Fuuyu lebay* Arigatou sarannya Tami-chan :) Fuuyu udah coba buat 1 chap dengan 1 pair, tapi isi chapnya jadi sedikit. Apalagi disini suami Orihime ada 6 *Huwaaa,,jadi pusing sendiri* hehehe.

Soalnya target Fuuyu sebelum chap 14 Orihime udah pernah ngedate sama semua suaminya. Semoga chap ini tidak mengecewakan yaa. Arigatou gozaimasu Tami-chan reviewnya :D Stay tune terus yaa ;)

- INOcent Cassiopeia: Hallo Ino-chan :). Gomen ya Ulqui-kun udah gak single alias duda ehh suami orang. Fuuyu juga gak rela banget tapi ceritanya harus begitu *akibat kebanyakan nonton serial turki* Tenang Ino-chan, Fuuyu akan membuat mereka bersatu apapun caranya. Hahaha *devil laugh*

Waahh gomennasai, gomennasai :( chap ini masih belum bisa UlquiHime Ino-chan, Fuuyu mohon sabar dulu yaa..yaa..yaa *puppy eyes no jutsu* Fuuyu bakal bikin UlquiHime yang spesial. Oke ;). Arigatou gozaimasu Ino-chan reviewnya :) Stay tune terus yaa ;)

- Febri (Guest) : Hallo Febri-chan :). Wah arigatou sudah bersedia menunggu, mohon dimaklumi yaa :D. Soal kenapa Ulquiorra nikah (perjanjian) dengan Orihime padahal dia udah punya istri, udah Fuuyu bahas sebagian di chap ini dan akan dibahas lagi di chap depan. Semoga gak aneh ya alurnya Febri-chan :D

Waduh,,, Orihime gak akan jadi perebut kok ;) Fuuyu juga gak mau Orihime jadi antagonis mendadak. Hehehe. Semoga chap ini gak mengecewakan ya jalan ceritanya :D. Arigatou gozaimasu reviewnya Febri-chan :) Stay tune terus yaa ;)

-sonya ade854 II : Hallo Ade-chan :). Wah AiHime lover yaa. Chap ini udah Fuuyu bikin AiHime, tapi belum maksimal. Di chap depan Fuuyu usahain masih AiHime ;) Aizen karakternya disini possesif. Gak apa-apa yaa? Hehehe.

Waaahh... Soal rate M sama Aizen ,,, liat nanti ya. Hehehe. Udah kebayang sih bakal kayak gimana jadinya. Khu..khu..khu.. *nosebleed* Arigatou gozaimasu Ade-chan reviewnya :D. Stay tune terus yaa ;)

Yupz selesai sudah balesan review dari Fuuyu. Tolong jangan cero atau bala atau kidou Fuuyu karena ceritanya aneh. Chap depan Fuuyu usahakan ceritanya lebih baik dari ini. Arigatou minna atas review, faves dan follownya. Ditunggu review-review positifnya yaa ;). Jaa~~