Author : Hann Hunnie

Title : Cokelat rasa vanilla

Cast : Kim Jongin, Oh Sehun, and other cast.

Pairing : KaiHun, KrisHo, etc.

Warning : ini yaoi, gak suka ? Gak usah baca -_- disini Sehun nya gue buat agak feminin, jadi yg gak suka Sehun menye menye mending gak usah baca deh, takut nya malah ngeganggu hehe ^^

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

"Perjalanannya lumayan jauh, kalau mau tidur, tidur aja dulu. Nih, kamu bisa nyender di bahu aku. Gak papa kok"

Wajah Sehun semakin memerah saat mendengar ucapan Jongin.

Astaga ... Sesuatu di dalam tubuh Sehun terasa ada yang meletup letup. Jantung nya malah berdetak semakin menggila saat tangan Jongin menarik kepalanya dengan lembut lalu menyandarkannya di bahu lebar namja tan itu.

Ya Tuhan ya Tuhan ... Sehun tidak bisa mengontrol semerah apa pipinya sekarang.

"J-Jongin" panggil Sehun lirih.

"Ya ?"

"Umm ..." Dengan lucunya namja cantik itu menyembunyikan wajah memerahnya di bahu Jongin. "T-terimakasih"

"Buat apa ?" Tanya Jongin heran.

"Buat minjemin bahunya buat aku" ucap Sehun malu malu.

Namja tan itu tertawa. "Oh itu ... Iya, nyantai aja. Aku udah janji bakal jagain sama bikin nyaman kamu selama di perkemahan kan ?"

Astagaaaa bisakah Jongin berhenti membuat kedua pipi si cantik Sehun itu merona ?

Kenapa Sehun merasa diperlakukan begitu istimewa oleh Jongin ?

Berbeda dengan si cantik yang tengah menyembunyikan wajah blushing nya di bahu Jongin, namja tan yang tengah meminjamkan bahunya pada Sehun itu malah senyum senyum sendiri. Hatinya berbunga bunga(?) saat mencium wangi shampoo Sehun saat namja cantik itu menyandarkan kepalanya di bahu Jongin.

Wangi strawberry vanilla, mamen! Aaaaa manis sekali seperti orangnya, kkkk. Jongin jadi gak tahan pengen gigit(?).

Gigit sekujur tubuh Sehun, maksud Jongin, haahahaha.

.

.

.

Lima jam perjalanan dari Seoul menuju Jacheon forest, akhirnya peserta ekskul pecinta alam Seoul Science High School sampai di tepi hutan lindung yang berada di daerah Daegu itu.

Semua peserta turun dari bis, begitu juga dengan Sehun. Namja cantik itu terlihat tengah mengeluarkan kopernya dari bagasi.

"Perlu bantuan ?"

Sehun menoleh. "Ah Jongin" ia tersenyum. "Tidak usah, aku bisa sendiri kok"

Namja yang ternyata Jongin itu menganggukan kepalanya semu. "Perjalanan masih jauh loh. Kalau ada apa apa dan perlu bantuan, panggil aku saja ya"

"Okay Jongin. Ah ya, kira kira berapa jam lagi kita sampai ke lokasi perkemahan ?"

"Ummm ... Sekitar tiga puluh menit jalan kaki"

"Oh ..." Sehun menganggukan kepalanya mengerti. "Hutan nya tidak berbahaya kan ?"

"Tidak kok. Aku udah lumayan sering kemah disini, dan hutan nya aman aman aja" jelas Jongin.

"Yaudah, kalau gitu nanti kamu pimpin perjalanan di depan ya ? Biar para peserta bisa ikutin rute kamu dan gak ada yang tersesat"

Jongin mengangguk. "Okay, itu masalah gampang"

"Hmm ... Ya-"

Take you're time~

Waenji dugeun daneun bamiya~

Na na na na~ na na na na~

Dering ponsel Sehun membuat keduanya menghentikan pembicaraan. Namja cantik itu merogoh ponselnya yang tersimpaan di saku celana.

'Mommy calling~'

Klik ...

"Yeobboseo~ Hunnie disini~"

'Sayang ? Sudah sampai di tempat wisata mu ?'

"A-ah ne, mom. Hunnie sudah sampai beberapa jam yang lalu"

'Sudah mau pulang ?' Tanya Joonmyun di seberang sana.

"Umm ..." Sehun melirik jam yang melilit di pergelangan tangannya. "Hunnie pulang sekitar jam tiga sore nanti, mom"

Namja cantik itu menggigit bibir bawahnya. Merasa bersalah karena berbohong lagi.

'Ah yasudah, kalau gitu nanti jangan main dulu dan segera pulang ke rumah okay ? Ada Bibi Jung yang akan menemani mu. Ingat, jangan main dan langsung pulang, okay ?'

"Ne, arraseo~"

'Ah ya, kalau kau kesepian, ajak saja Kyungsoo atau Baekhyun menginap di rumah, tapi jangan sampai kau menginap di rumah mereka berdua'

"Iya mom, iya. Hunnie mengerti"

'Yasudah, jaga dirimu baik baik sayang, mommy akan segera pulang. Byee sweetheart, love you~'

Sehun tersenyum. "Bye mom, love you too~"

Klik ...

Sehun memutus sambungan telponnya sebelum kembali menyaimpan ponselnya di saku celana.

"Mommy mu ya ?" Tanya Jongin.

Namja cantik itu mengangguk, ia lalu tersenyum. "Huum, mommy ku"

"Kenapa ? Dia tanya keadaan mu ?" Jongin berjalan menuju tempat berkumpulnya para peserta, di ikuti oleh Sehun yang berjalan di sebelahnya sambil menyeret koper.

"Iya, dia menanyakan aku sampai di tempat wisata atau belum"

"Oh ..." Jongin mengangguk anggukan kepalanya, mengerti. "Tidak merasa bersalah berbohong pada mommy mu ?"

Sehun cemberut. "Habisnya, aku tidak pernah di ijinkan ikut kalau mengatakan yang sebenarnya. Jangankan untuk berkemah, untuk menginap di rumah teman saja mommy tidak membolehkan"

Jongin tersenyum. "Itu artinya mommy mu peduli dan berusaha untuk memprotect mu"

"Ya aku tau itu" Sehun menghela napasnya. "Tapi Jongin, ini keterlaluan. Aku sudah tujuh belas, tapi mommy dan daddy masih memperlakukan ku seperti bayi. Tidak boleh melakukan ini tidak boleh melakukan itu. Aku bosan kalau terus terusan di perlakukan seperti itu"

Namja tan itu tertawa membuat Sehun menoleh padanya dengan kedua alis bertaut, seakan bertanya-

'Kenapa kau tertawa ?'

"Gimana gak perlakuin kamu kaya bayi. Orang kamu nya aja masih kaya bayi"

"Huh ? Apanya ?" Tanya Sehun sedikit kesal karena di sebut bayi oleh Jongin.

"Sikap mu"

"Sok tau sekali" Sehun mendengus. "Kita kan belum kenal lama. Kenapa kau sudah bisa menyimpulkan kalau sikap ku seperti bayi"

Jongin menghentikan langkahnya, membuat Sehun juga menghentikan langkahnya. Namja tan itu menoleh, menatap Sehun yang juga tengah menatapnya dengan kedua mata yang kadang mengerjap lucu.

Jongin tertawa -lagi. "Tidak perlu waktu lama untuk tau bagaimana sikap mu. Semua orang bisa melihat bagaimana kamu hanya dengan sekali pandang"

Tangan kecoklatan itu terulur mengacak rambut hitam Sehun. Jongin kembali terkekeh sebelum meninggalkan Sehun yang masih diam di tempatnya.

.

.

.

Akhirnya, tiga puluh menit perjalanan, peserta klub pecinta alam sampai juga di tempat perkemahan. Jongin sebagai ketua penanggung jawab segera menyuruh pesertanya untuk mendirikan tenda.

"Jadi, kita mulai dari mana ?" Sehun menggaruk kepalanya, bingung. Satu hal yang mungkin tidak bisa Sehun lakukan di dunia ini adalah-

Memasang tenda.

"Aku juga tidak tau" ucap Kyungsoo. "Nanti kita suruh Jongin saja yang dirikan tenda"

"Ish kau ini" Sehun mendengus. "Tidak lihat ya kalau Jongin juga sedang berusaha mendirikan tenda ? Jangan merepotkan orang lain kalau kita bisa"

"Aku tidak bisa. Memangnya kau bisa ?" Tanya Baekhyun yang sedari tadi diam sambil memakan snacknya.

"Tidak bisa sih. Tapikan kita belum berusaha" ucap namja cantik itu.

"Yasudah sana berusaha sendiri, aku tidak bisa" Kyungsoo mendudukan diri nya di sebelah Baekhyun.

Sehun cemberut. "Masa kalian membiarkan ku berusaha sendiri sih!"

"Yalagian percuma saja Sehun! Sana suruh Jongin. Lihat dia sudah menyelesaikan pekerjaannya(?)"

"Ihh ... Kenapa tidak suruh Chanyeol dan Zitao saja sih ?" Sehun ikut ikutan mendudukan diri nya di sebelah Baekhyun.

"Ya! Nanti kalau kekasih ku kelelahan karena membantu kita memasang tenda, bagaimana ? Kau mau tanggung jawab membawa nya ke rumah sakit ?"

Sehun memutar bola matanya malas mendengar ucapan lebay Baekhyun.

"Tidak ada yang sakit hanya karena memasang tenda, Byun jelek!"

"Y-ya bisa saja kan ? Sudah sana suruh Jongin saja!" Ucap namja bereyeliner itu lagi.

"Ya! Nanti kalau Jongin kelelahan karena membantu kita memasang tenda, bagaimana ? Kau mau tanggung jawab membawa nya ke rumah sakit ?" Sehun meniru ucapan Baekhyun membuat namja mungil itu mendengus.

"Tidak ada yang sakit hanya karena memasang tenda, Wu jelek!"

"Ya! Jangan meniru ucapan ku!" Sehun memukul kepala Baekhyun.

"Kau juga meniru ucapan ku tadi!" Baekhyun balas memukul kepala Sehun.

"Ish! Jangan bertengkar Bodoh! Semuanya tidak akan selesai dengan bertengkar!" Kyungsoo yang jengah melihat pertengkaran kedua sahabatnya itu mencoba melerai.

"Habisnya! Baekhyun menyebalkan sekali!" Sehun cemberut.

"Kau juga sama" balas Baekhyun kesal.

"Ya-"

"Jadi, kenapa kalian belum mendirikan tenda ?"

Ketiganya berbalik, menatap namja tan yang kini berada di belakang mereka dengan kedua alis bertaut.

"Eh Jongin" Baekhyun tersenyum penuh arti.

"Kenapa ? Kenapa kau tersenyum aneh seperti itu padaku, heh ?" Tanya Jongin -si namja tan-.

"Jongin, kami tidak bisa memasang tendanya. Tadi Sehun menyuruh kami untuk meminta bantuan mu"

Sehun melotot saat Baekhyun membawa bawa namanya. "Ya! Aku tidak menyuruh kalian meminta bantuan Jongin! Kalian yang menyuruh Ku untuk meminta bantuannya!"

"Bohong Jongin! Jangan dengarkan Sehun, aku serius. Sehun menyuruh kami meminta bantuan mu"

Namja cantik itu sudah membuka mulutnya, bersiap untuk menyangkal ucap dan Baekhyun, tapi Kyungsoo mendahului.

"Baekhyun benar, tadi Sehun menyuruh kami meminta bantuan mu" tambah namja mungil bermata bulat itu membuat Sehun cemberut karena merasa nama baik nya tercemar(?).

Jongin menoleh menatap si cantik Sehun yang kini tengah melipat kedua tangannya dengan pipi di kembungkan, kesal.

"Kenapa tidak langsung meminta bantuan padaku, hmm ?" Namja tan itu mengambil kantung tenda yang sadari tadi di pegang Sehun.

"Aku-"

"Sehun bilang dia malu" Kyungsoo lagi lagi memotong ucapan Sehun.

Jongin tertawa. "Malu kenapa ? Aku sudah pernah bilang kan ? Kalau kau butuh bantuan panggil aku saja"

"I-iya sih tapi aku eumm-"

"Iya sudah, tidak apa apa, okay ? Sekarang kamu duduk aja di sana. Biar aku yang pasang tenda nya, ya ?"

Sehun mengangguk pelan. "Maaf merepotkan mu, Jongin. Tapi serius, bukan aku yang meminta mu untuk memasang tenda. Tapi mereka"

Jemari lentik putih itu menunjuk Baekhyun dan Kyungsoo yang kini sudah mendudukan dirinya di bawah pohon yang entah Sehun juga tidak tau pohon apa itu.

"Iya aku tau. Udah sana kamu duduk aja, biar aku yang ngerjain" ucap Jongin.

"Aku bantuin ya ?"

Jongin menoleh. Ia tersenyum. "Emang nya bisa ?"

Sehun cemberut. "Enggak sih, tapikan bisa sekalian belajar. Biar nanti kalau kemah lagi, aku gak repotin kamu"

Namja tan itu tertawa. "Yaudah sini"

Sehun melangkahkan kakinya mendekati Jongin, sebelum kemudian membantu namja tan itu untuk memasang tenda milik kelompok nya.

Sesekali namja cantik itu mendelik kearah Baekhyun dan Kyungsoo yang kini ia yakin tengah menertawakannya karena berhasil memfitnah(?)nya di depan Jongin.

'Awas saja kalian! Aku tidak akan memberi kalian contekan lagi! Dasar teman menyebalkan!'

.

.

.

Klek ...

Joonmyun membuka pintu kamar hotel yang akan ia dan suaminya tempati lima hari kedepan. Barusan ia dan Yifan baru saja berjalan jalan dan membeli Jeju orange pesanan Sehun.

"Dad, coba deh telfon ke rumah. Tanyain sama Bibi Jung, Hunnie udah pulang atau belum"

Yifan yang baru mendudukan diri nya di kursi menoleh, menatap istrinya yang sejak tadi tak pernah lepas dengan ponselnya.

"Kenapa tidak mom tanyakan pada Hunnie sih ?"

"Aku sudah menelfon nya beberapa kali, tapi ponselnya tidak aktif" Joonmyun mendudukan diri nya di sebelah Yifan.

"Yaudah, mom telfon aja Bibi Jung"

"Iya, ini sedang mom telfon" ucap namja manis paruh baya itu sebelum kemudian menempelkan ponselnya ditelinga.

Klik ...

'Yeoboseo'

terdengar suara Bibi Jung di seberang sana.

"Bibi, ini aku Joonmyun"

'Ah nde, nyonya. Wae geurae ?'

"Begini, apa Hunnie sudah pulang ke rumah ? Dia bilang dia akan pulang dari wisatanya pukul tiga sore. Ini sudah pukul enam, harus nya dia sudah ada di rumah. Aku sudah menelpon nya tapi ponselnya tidak aktif"

'Maaf nyonya. Tapi tuan muda belum pulang dan tidak ada di rumah'

"Apa ?!" Joonmyun membulatkan matanya mendengar ucapan Bibi Jung.

'Nde, nyonya. Pak Lee tadi yang mengantarnya ke sekolah. Ia mengatakan kalau tuan muda tidak berwisata tapi berkemah bersama teman satu sekolahnya'

"Apa ?!" Joonmyun terlihat shock.

"Anak itu benar benar! Yasudah bi, Tolong jaga rumah ya ? Aku akan menelfon kepala sekolah nya Hunnie"

Klik ...

Joonmyun mematikan sambungan telfonnya secara sepihak.

"Hunnie benar benar keterlaluan"

Ucapan istrinya itu membuat Yifan menoleh. "Kenapa sih ?"

"Dad" Joonmyun menatap suaminya. "Kita harus pulang secepatnya!"

"Ada apa ? Kita baru sampai loh"

"Hunnie berbohong pada kita, dad!"

Yifan menaikan sebelah alisnya. "Berbohong apa ? Dia benar benar ikut wisata kan ?"

"Bukan wisata! Hunnie ikut perkemahan bersama teman temannya!"

"APA ?!"

.

.

.

Api unggun di malam hari~

Yuhuuu~ sebenarnya ini yang Sehun tunggu tunggu sejak tadi, kkk. Suasana malam yang dingin, dengan api unggun yang berada di tengah tengah mereka, serta suara petikan gitar yang Chanyeol mainkan terasa pas saat di padukan dengan suara lembut milik Baekhyun, dan jangan lupakan langit cerah yang di hiasi banyak bintang, khas musim panas sekali.

Sehun rasa, ini adalah malam terbaik yang pernah ia lalui seumur hidupnya. Sayang, ia tidak bisa ikut bergabung dengan teman temannya karena setumpuk buku yang sengaja ia bawa dari rumah, sudah menunggu untuk ia pelajari.

"Tidak bergabung dengan mereka ?"

Namja cantik itu mengalihkan pandangannya dari buku, menatap Jongin yang kini mendudukan diri di sebelahnya.

"Mau sih. Tapi-" Sehun menunjuk bukunya. "Kau bisa lihat sendiri kan ?"

"Mata mu akan rusak bila membaca dalam gelap seperti ini"

"Aku kan bawa senter" Sehun tersenyum cantik.

"Saat seperti ini kau masih menyempatkan belajar. Pasti mommy mu sangat bangga memiliki putra seperti mu. Sudah pintar tapi masih mau belajar"

"Well, mungkin mommy hanya bangga dalam hal akademik ku saja. Tidak dengan yang lain"

Jongin menoleh menatap Sehun yang kini kembali sibuk dengan bukunya. "Kau tidak bosan dimana mana harus belajar ?"

Nmaja cantik itu menghentikan kegiatannya, ia menghela napas. "Bosan dan lelah lebih tepatnya"

"Kenapa tidak kau akhiri ?"

"Kalau bisa, aku akan lakukan itu Jongin" Sehun tersenyum miris. "Kedua orang tua ku bukanlah seperti orang tua mu atau orang tua mereka"

"Semua orang tua sama saja menurut ku. Sama sama ingin yang terbaik untuk anaknya" ucap Jongin.

"Tapi tidak soal kebebasan" namja cantik itu menyandarkan kepalanya di bahu Jongin. "Mom dan dad adalah orang tua yang akan menentang apapun yang aku sukai dan akan menyuruh ku untuk melakukan semua yang mereka inginkan. Belajar, menjadi juara umum, mengikuti berbagai lomba akademik dan mengikut sertakan aku dalam berbagai olimpiade. Mereka ingin aku menjadi anak yang hanya mementingkan semua itu tanpa ingin tau apa yang aku inginkan sebenarnya"

"Memangnya apa yang sebenarnya kau ingin kan ?"

Sehun tersenyum. "Bisa menjadi seorang dancer yang terkenal"

"Huh ?" Jongin melirik namja cantik yang bersandar di bahu nya itu. "Serius ? Kau bisa dance ?"

"Umm ... Sebenarnya tidak terlalu. Tapi aku menyukai dance sejak kecil. Sayangnya, mom tidak pernah mengijinkan ku untuk mengikuti hal hal di luar kegiatan akademik seperti itu" Sehun mengangkat kepalanya dari bahu Jongin. "Aku masih ingat, saat itu aku masih berada di junior high school tingkat satu. Aku diam diam mengikuti lomba dance antar sekolah dan mendapat juara dua. Dengan perasaan senang, aku membawa piala juara dua ku dan memperlihatkannya pada mommy. Aku pikir, aku akan mendapat ucapan selamat seperti saat aku mendapat piala juara umum saat elemtary school" mata bermanik caramel itu berkaca kaca. "Tapi ternyata tidak. Mommy malah memahari ku dan mengatakan kalau mengikuti lomba seperti itu hanya membuang buang waktu, aku menangis seharian karena mommy melarang ku untuk ikut apapun yang berhubungan dengan dance lagi. Dia bahkan meminta guru ku untuk mengeluarkan ku dari klub dance sekolah yang selama ini aku ikuti secara diam diam"

"Aku tidak tau kalau kau merasa setertekan itu. Tapi Percaya lah, pilihan orang tua mu adalah hal yang paling baik untuk mu" ucap Jongin.

"Tidak, cita cita ku dan cita cita kedua orang tua ku berbeda. Aku tidak tau sampai kapan aku akan terus di atur seperti ini. Mungkin mereka menginginkan ku menjadi seorang ilmuwan yang akan menciptakan sebuah hal yang menakjubkan dan menggegerkan seluruh jagat raya, atau seorang astronom yang akan menemukan planet yang bisa di tinggali manusia selain bumi"

Jongin tertawa mendengar ucapan Sehun. "Dan kepala mu akan cepat botak karena terus memikirkan hal apa yang harus kau ciptakan agar bisa memukau dunia, kkk"

Sehun ikut tertawa. "Yeah ... Dan berakhir dengan tidak ada yang mau menikah dengan ku"

"Well, kau harus bisa melepas dirimu perlahan lahan. Jangan membuat orang tua mu kecewa, tapi yakinkan mereka kalau apa yang kamu ingin kan selama ini adalah hal yang terbaik untuk mu"

Sehun tersenyum, ia mendongakan kepalanya menatap langit yang bisa ia lihat di balik pepohonan tinggi.

"Aku sedang mencoba"

.

.

.

TBC

.

.

.

Ah ya maaf sebelum nya, tapi gue pengen tanya, ada beberapa reader yang nyaranin ff ini jadi genderswitch aja karena Sehun nya terlalu menye. gimana ? Mau dijadinn gs aja ? Kalo gue terserah kalian aja :)

Maaf kalo karakter Sehun malah bikin kalian ke ganggu. Kan kemaren udah gue jelasin kalo gue Lebih enjoy nulis dengan karakter Sehun yang agak feminim dan menye. Sekarang terserah kalian deh mau ini jadiin gs atau tetep yaoi :)

Meski gue bukan author yang jago banget dan bukan author yang punya cerita bagus. Gue bakal coba buat nuritin maunya kaliam, hehe

Makasih ya review nya. Kalo berkenan, aku minta review nya lagi :)

See you ~

Hann Hunnie