Akhirnya aku lulus kuliah juga hehe sesuai janji, aku bakal update ficku yang satu ini. Kalo Love is Nakama masi nunggu dulu ya.. masih tahap pengerjaan XD silakan dibaca, terima kasih buat yang udah baca dan review fic ini X)
Disclaimer : One Piece punya Eiichiro Oda
Summary : Luffy terpaksa menerima tantangan kakeknya untuk bisa menyetir mobil dalam waktu singkat karena sesuatu. Tapi bagaimana jika Luffy tidak bisa menepati janjinya dalam waktu yang di tentukan? Bahaya besar apalagi yang ditimbulkan Luffy karena ini? Kalo penarasan baca aja kelanjutannya tapi kalo ngga yah gapapa..
Warning : AU mungkin, OOC parah (mungkin), flame dan blame masih diterima asal membangun.
SIM N
Hari ketiga, pukul 00.00 WWS. 432000 detik sebelum deadline
Luffy yang mengidap sindrom KDTM (Kelaparan Di Tengah Malam) akut itu terlihat sedang mengendap-endap memasuki dapur rumah Franky. Dengan sigap, Luffy mengambil semua sisa makanan cadangan yang disimpan Sanji. Setelah kenyang dia pun kembali ke kamarnya.
"Luffy," panggil Sanji dari belakang.
GLEK
"Tenang saja, aku tidak akan memarahimu karena mengambil cadangan makanan lagi. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu, penting."
Akhirnya Luffy pun membalikkan badannya menghadap Sanji. Wajahnya terlihat serius, itu tidak seperti Sanji biasanya. Sanji berjalan melewati Luffy diikuti Luffy dari belakang.
"Sanji, kita mau kemana? Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Luffy beruntun.
"Ikuti saja aku dan kau akan tahu," jawab Sanji.
Setelah cukup lama berjalan akhirnya sampailah mereka di bengkel Franky, Sanji terus berjalan hingga menuju Thousand Sunny yang Franky letakkan di belakang bengkelnya. Luffy terus mengikutinya menaiki Sunny.
"Luffy, kau ingin makan apalagi malam ini?" Tanya Sanji begitu memasuki dapur Sunny.
"Daging. Yang banyak ya Sanji," jawab Luffy antusias. Dia pun duduk manis di meja makan sambil menunggu Sanji masak.
Satu per satu kenangan bermunculan dalam ingatan Luffy ketika duduk di meja makan. Ingatan saat dia dan nakamanya makan di meja itu, ingatan saat dia merekrut nakamanya, saat mereka berpetualang bersama, saat mereka berpisah selama 2 tahun, saat mereka bertemu lagi setelah 2 tahun hingga mereka menemukan one piece dan kembali ke kampung halaman masing - masing. Namun dari semua ingatan itu, entah kenapa yang sering muncul adalah saat-saat dia bersama dengan Nami.
"Makan malam sudah siap!" Seru Sanji mengagetkan Luffy.
"Makan~!" Luffy pun menyantap habis masakan Sanji dengan sekali telan.
"Sanji, apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya. Ini aneh, biasanya kan kau selalu memarahiku karena mengambil makanan cadangan di dapur tapi malam ini, kau malah masak daging sebanyak ini untukku. Kalau kau mengkhawatirkan SIM itu, kan sudah kubilang kalian tidak akan mati. Apa kau tidak percaya padaku lagi?" Ujar Luffy serius.
Sanji kembali ke meja makan, dia duduk di hadapan Luffy dengan wajah serius. Dirogohnya kantong celananya dan diambilnya sebuah kotak kecil berwarna merah. Luffy memperhatikan kotak itu dengan seksama, sepertinya dia pernah melihat kotak itu dan beberapa detik kemudian.
"EH!" Seru Luffy dengan kekuatan hakinya yang membuat hampir penduduk water seven pingsan massal.
"Oi Luffy, ada apa?!" Tanya Zoro yang terbangun begitu mendengar teriakan Luffy, mengikuti asal suara Luffy akhirnya Zoro pun sampai di Sunny.
Akhirnya nakamanya berdatangan satu per satu, mungkin karena Luffy tidak pernah berteriak seperti itu.
"Sanji, melamarku." Jawab Luffy dengan wajah pucat.
1 detik
Semuanya masih terdiam termasuk Sanji, mencoba mencerna apa yang diucapkan Luffy barusan.
2 detik
Semuanya masih terdiam termasuk Sanji, masih mencoba mencerna dan mungkin meyakinkan pendengaran mereka tentang apa yang dikatakan Luffy. Namun kali ini mata mereka tertuju pada kotak kecil berwarna merah yang disodorkan Sanji.
5 detik
Tiba-tiba mereka menyadari kotak kecil berwarna merah yang disodorkan Sanji kepada Luffy.
"EH!" Seru nakamanya minus Robin, Chopper dan Sanji yang masih belum sadar dengan perbuatannya itu, mereka hanya menatap Sanji horror kecuali Robin yang memang sudah tahu yang sebenarnya.
"Sanji, kau.." Respon Usopp, hanya bisa menatap Sanji dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Begitu pun dengan Franky dan Brook.
"Robin, ada apa sebenarnya? Kenapa mereka memasang wajah seperti itu?" Tanya Chopper tidak mengerti.
"Fufufu, sebaiknya kau tidak usah tahu Chopper." Jawab Robin penuh arti.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanya Sanji masih belum menyadari perbuatannya.
"Sanji, kotak apa yang sedang kau pegang itu?" Tanya Chopper yang kini perhatiannya tertuju pada kotak merah yang disodorkan Sanji pada Luffy.
"...Kotak?"
"Waaa... Ini bukan seperti yang kalian pikirkan. Sungguh, aku bukan.. Robin-chan, kau percaya kan padaku?"
"..."
"Aku ditolak Nami-san," kata Sanji akhirnya.
"Aku ingin memberikan cincin ini pada Luffy agar dia menggunakan cincin ini untuk melamar Nami-san." Jelas Sanji tertunduk.
BRAK
Tiba-tiba Luffy bangkit dari kursinya sambil menggebrak meja. Wajahnya tertunduk hingga hanya bayangan matanya saja yang terlihat. Nakamanya langsung pergi dari sana mengingat kalau Luffy sudah menunjukkan ekspresi seperti itu berarti ini masalah serius, kini yang tinggal hanya Sanji dan Luffy.
"Aku tidak mau." Jawab Luffy tegas.
"Sanji, kau harus memberikannya sendiri pada Nami. Aku punya caraku sendiri jika aku memang ingin melamarnya tapi tidak dengan cincin yang kau berikan. Apa alasanmu menyuruhku melamar Nami dengan cincin itu? Apa Nami pernah mengatakan padaku kalau dia..." Ujar Luffy namun tiba - tiba terhenti di akhir kalimat.
Benar - benar tidak seperti Luffy, dia tidak pernah merasa seperti itu sebelumnya. Kenapa tiba - tiba lidahnya kelu.
"Mencintaimu," tebak Sanji menyelesaikan ucapan Luffy.
"Apa itu cinta?" Tanya Luffy masih tidak mengerti.
"Kau kan sudah tahu jawabannya," jawab Sanji lalu bangkit berdiri.
"Terima kasih Luffy atas dukungannya, aku akan mencobanya lagi."
XXX
"Aku akan mencobanya sekali lagi..."
Ingatan itu masih saja terngiang di benak Luffy. Padahal dia sendiri yang menyuruh Sanji untuk tidak menyerah tapi mengapa kini dia merasa gelisah. Mungkin hari ini Nami akan datang dan Sanji akan sekali lagi melamarnya, bagaimana jika Nami menerima lamaran itu? Bagaimana jika Nami menikah dengan Sanji? Bagaimana jika Nami...? Semua pertanyaan itu terus saja bermain-main di benak Luffy, dan entah mengapa sepertinya udara di sekitarnya berkurang drastis sehingga dia merasa sesak jika memikirkan itu.
"...Oi Luffy, kau dengar tidak?" Tegur Usopp saat dia menjelaskan teori latihan menyetir pada Luffy.
Dikarenakan Zoro dan Sanji mendapatkan musibah saat mengajari Luffy menyetir, maka Sanji menyuruh Usopp menggantikan Robin untuk mengajari Luffy menyetir. Usopp saat itu menjelaskan pada Luffy menyetir AFV di laut, namun ketika dilihatnya Luffy melamun dan tidak mendengarkan penjelasannya, Usopp pun menegurnya.
"Shishishishi...Aku tidak dengar, Usopp. Ulangi lagi ya?" Jawab Luffy kembali ke kenyataan sambil menunjukkan tampang tak bersalahnya.
"Hmmh..." Usopp menghela nafas panjang sebelum mengulangi penjelasannya,"Kau tidak usah memikirkannya, aku sebenarnya sudah tahu kalau Sanji tidak bermaksud melamarmu tapi ah nanti saja hal itu dibahas lagi, sekarang aku akan menjelaskan bagaimana mengubah AFV menjadi kapal selam mode on."
"Pertama, kau harus memencet tombol S disamping tombol C itu. Luffy, kau dengar aku tidak?" Ujar Usopp terlihat kesal karena Luffy seperti kehilangan fokus lagi.
"Iya, aku dengar. Aku harus memencet tombol S ini kan?" Jawab Luffy sekenanya.
"Tunggu hingga proses selesai, kau harus berterima kasih pada Franky dan aku. Kami bahkan pergi ke Barimajoa untuk menemui Vegapunk, untung saja kami berhasil menemuinya dan berhasil mempelajari tentang robotik. Nah, lihat sekarang mobilmu sudah berubah jadi kapal selam. Kau tidak perlu mendorongnya karena mobil ini sudah dilengkapi dengan sensor pendeteksi arus air. Baling-balingnya akan bekerja dengan sendirinya, dan buat mengaktifkan sensor autoconnect-nya, kau harus menarik tuas disamping tombol S tadi."
Luffy pun mempraktekkan seperti yang Usopp jelaskan tadi, ketika Luffy menarik tuas tersebut, terdengar suara seperti mesin menyala dan baling-baling berputar.
"Sekarang aku akan menjelaskan bagaimana mengatur ketinggian, oksigen untukmu bernafas selama berada dalam air,..."
Usopp mulai mempraktekkan sambil menjelaskan apa-apa yang perlu Luffy ketahui. Terkadang Luffy ikut mempraktekkan sambil sesekali menanyakan hal-hal yang tidak ia mengerti. Setelah Usopp rasa Luffy sudah bisa dan lancar mengemudikan kapal selam tersebut, Usopp melanjutkan latihan setir mereka dengan menjelaskan bagaimana memindahkan S mode on ke A mode on.
888
"Wooohoooo..." Seru Luffy saat mereka tengah berada di udara.
"Luffy, kendalikan yang benar!" Teriak Usopp ketika AFV akan menyentuh air, Luffy pun menarik tuasnya sehingga mereka kembali mengudara.
"Usopp, ini buat apa?" Tanya Luffy menunjuk sebuah tombol disamping tombol A.
"Itu tombol buat- Luffy kenapa kau memencetnya?!"
Ternyata itu tombol peluru, puluhan peluru pun berjatuhan saat Luffy memencetnya. Alhasil Waterseven pun mengalami kerusakan cukup parah, warga pun berdatangan meminta ganti rugi kepada Iceberg.
8XX
"Untung saja Nami-san belum datang, kalau ada Nam-" ucapan Sanji terputus ketika
"Kenapa kalau ada aku, Sanji-kun?" Tanya Nami ketika baru datang ke tempat Topi Jerami kumpul.
"Nami-swan~ kapan kau datang?" Bukannya menjawab, Sanji malah balik tanya dengan hurricane love-nya sambil merentangkan tangannya.
"Baru saja, apa kalian tahu kenapa warga water seven berkumpul di depan kantor Iceberg? Anehnya mereka melihatku dengan tatapan tidak suka. Apa salah satu dari kalian membuat ulah lagi?" Selidik Nami melihat ke satu orang.
Yang dilihatnya hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya sambil tertawa khasnya, tangannya ia lipat ke belakang kepala. Disampingnya pelaku lainnya hanya tertunduk lesu, seluruh badannya gemetaran pertanda ia sangat takut.
"Aku sudah memperingatkan Luffy tapi.." Gumam Usopp lirih, kakinya gemetar.
"Shishishi..." Respon Luffy.
Nami menghela nafas panjang, dia sudah tahu akan seperti itu. Sifat ingin tahu Luffy yang tidak pada tempatnya, ditambah lagi jiwa petualangnya itu membuatnya dan teman-temannya selalu hampir kehilangan nyawa.
"Aku tahu akan begini," kata Nami akhirnya.
"Shishishi... Tenang saja Nami, nanti kau juga akan kuajak terbang. Aku sudah bisa kok."
Mendengar itu Usopp, Sanji, dan Nami pun menjadi kalap dan mereka serentak memukul, menendang, menjitak Luffy sekerasnya, dengan wajah lebam Luffy hanya mampu pasrah tanpa lupa memperlihatkan cengirannya.
ZZZ
"Bagaimana keadaan warga yang luka-luka, Chopper?" Tanya Nami ketika Chopper baru saja kembali ke rumah mereka.
"Mereka sudah kuobati semua, aku masih harus menolong Zoro dan Franky mencari korban lainnya. Untung saja tidak ada korban jiwa, Robin dan Brook juga Sanji sekarang ada di rumah sakit. Usopp bersama Galey-la dan nakama Franky sedang membantu Iceberg membangun kembali rumah warga yang rusak. Nami kau awasi Luffy ya jangan sampai mendekati mobilnya dulu, khawatir warga akan mengamuk melihatnya. Oya, Iceberg bilang uangmu tadi akan dikembalikan bersama bunganya." Jawab Chopper lalu bergegas kembali ke rumah sakit setelah mengambil peralatannya dan bahan-bahan obat-obatan.
XXX
"Anda tidak bisa seenaknya begitu! Lihat di faktur pengiriman jus jeruk ini, tertera bahwa kantin Mariejoa, Impeldown, dan Enies Lobby memesan masing-masing 70 dus jus jeruk. Semuanya jadi 256 juta belli. Aku sudah susah payah mengirimnya kesini, sekarang anda harus membayarnya!"
Terlihat seorang wanita berambut orange sedang bersitegang dengan bendahara marinir di salah satu kapal angkatan laut.
"Kau tahu, ibuku juga dulu seorang marinir. Tapi setidaknya dia jauh lebih baik darimu!"
"Oya? Emang siapa ibumu? Paling itu hanya akal-akalan bajak laut sepertimu. Emang aku tidak tahu julukanmu apa, kucing pencuri, sudah banyak korban tipu dayamu itu."
"Apa kau anaknya Bellemere?" Tanya seorang marinir bertopi anjing.
"Garp-san? Bukannya anda sudah pensiun sejak kematian Ace?" Tanya balik wanita itu.
"Bwahahaha... Rupanya kau masih mengingatku. Terima kasih sudah menjaga cucuku selama ini, Nami. Dulu sebelum meminta pensiun dini dari angkatan laut, Bellemere bilang padaku dia ingin merawatmu dan saudaramu. Dia bahkan menunjukkan ekspresi yang tidak pernah kulihat sebelumnya, kau... Mirip dengannya saat dia masih di angkatan laut. Apa kau juga merokok?" Kenang Garp.
"Tidak, aku dan Nojiko tidak merokok. Tapi kami sekarang berkebun jeruk dan mendistribusikan hasil kebun kami ke berbagai penjuru mulai dari East Blue hingga New World. Kebun jeruk kami satu-satunya peninggalan mendiang Bellemere-san" jawab Nami tersenyum ramah
"Apa kau masih bertemu dengan cucuku?" Tanya Garp menghiraukan tatapan aneh dari bendahara tersebut
"Tidak. Luffy tidak pernah di desa Fusha saat aku kesana, juga tidak ada di Grey Terminal." Jawab Nami setengah melamun.
"Kalau kau ingin menemuinya, kau bisa menemui di semua tempat-tempat yang Dragon datangi. Luffy sekarang sering bersama Sabo sejak dia tidak lagi bersama kalian. "
"Dia pernah bilang akan berpetualang lagi bersama kalian tapi tidak sekarang ini. Dia selalu murung, bahkan ketika Sabo mengajaknya, dia belum ceria seperti dulu. Ah, dia juga pernah menceritakanmu pada Sabo."
"Dia bilang padanya, "Aku punya navigator. Namanya Nami, dia sama sepertimu mengumpulkan uang hasil curian, dia sering memukulku dan menjitak kepalaku tapi entah kenapa aku menyukainya. Saat dia sakit, aku seperti merasa kehilangan. Aneh sekali, aku tidak mau dia kenapa-kenapa. Hei Sabo, apa kau pernah seperti itu? "Saat Sabo bilang begitu padaku, aku tahu masa tuaku nanti akan tenang bwahahaha apa kau ingin bertaruh padaku?" Kata-kata itu terlontar begitu saja dari Garp.
"Kalau kau menang, semua jus jeruk yang sudah kau kirimkan itu akan dibayar lunas oleh bendahara angkatan laut ditambah uang kas kami. Bagaimana?"
"Baiklah. Apa taruhannya Garp-san?" Tanya Nami penasaran
"Taruhannya gampang, aku hanya ingin kau membuat surat yang menyatakan bahwa kau menerima lamaran cucuku jika dia melamarmu dalam waktu 7 hari. Tapi jika dalam waktu 7 hari itu cucuku tidak melamarmu, maka kami tidak akan membayar jus jerukmu dan izin dagang kalian akan kami cabut. Bagaimana gampang bukan?" Jelas Garp
"Oke!" Sambut Nami antusias.
888
Hari Kelima Pukul 14.00 WWS
Dikarenakan insiden jatuhnya rudal dari AFV milik Luffy, AFV ditahan dan disita oleh warga. Mereka juga mengancam jika Luffy tidak menghentikan latihan mobilnya, mereka akan membakar mobil Luffy. Tapi tentu saja itu tidak membuat Luffy jera, diam-diam Luffy belajar melancarkan setir mobilnya di sirkuit milik Franky. Untung saja mobil yang di desain Franky, sama seperti kereta laut, bukan hanya di darat tapi juga dapat berjalan di laut, seperti sirkuit Franky. Untungnya kemarahan warga tidak bertahan lama karena Bajak Laut Topi Jerami dengan cepat dan sigap membantu memperbaiki kota hingga seperti sedia kala. Warga yang terluka parah pun mulai berangsur pulih, rumah-rumah yang hancur juga sudah selesai dibangun. Luffy dengan kekuatan gomu-gomu no mi-nya juga mempercepat penyelesaian pembangunan itu.
Kini Bajak Laut Topi Jerami sedang beristirahat di rumah Franky. Mereka baru saja menyantap makan siang bersama warga lainnya.
"Nami-san, boleh aku bicara berdua denganmu setelah ini?" Izin Sanji ketika dia menyajikan makan siang.
"Tentu saja," jawab Nami singkat.
Dan disinilah mereka berdua, di bengkel Franky. Sanji mengajak Nami ke Thousand Sunny, di depan pohon jeruk Nami. Nami sempat terpana ketika menginjakkan kakinya di Sunny Go lagi, dia tidak menyangka bahwa Franky akan merawatnya selama mereka berpisah sekali lagi. Sanji lalu merogoh kantong celananya dan membuka kotak kecil berwarna merah.
"Nami-san, ini untuk terakhir kalinya aku memintamu untuk menikahiku tapi jika kau masih menolakku, aku akan mundur. Jadi maukah kau menikah denganku, Nami-san?" Lamar Sanji bertekuk lutut dihadapan Nami.
"Maafkan aku Sanji-kun, jawabanku masih sama. Aku tidak bisa, kau tahu aku masih sampai saat ini menyukainya." Jawab Nami
"Terima kasih Nami-san" balas Sanji lalu menyerahkan kotak itu pada Nami,"Tapi setidaknya bisa tidak kau menyimpannya untukku. Aku tidak mau memakainya untuk melamar wanita lain, lagipula ini untukmu. Kau tahu Nami-san, aku sungguh bersyukur bertemu denganmu. Ini berkat dia, kalau bukan karenanya kita mungkin takkan pernah bertemu."
VVV
"Kakek, waktunya kan masih 2 hari lagi, kenapa kakek ada disini?" Tanya Luffy ketika dilihatnya kakeknya tengah berbincang dengan Nami.
"Aku dengar kau sudah bisa menyetir, aku ingin mengujimu sekarang! Bersiaplah!" Jawab Garp.
"Heh!"
"Atau kau takut kalau ternyata kau tidak bisa menang taruhan denganku?" Pancing Garp
"Oya Luffy, kau akan ditemani Nami. Aku akan menunggumu disini, aku sudah meminta Franky dan Iceberg untuk memasang cam-dial diseluruh penjuru kota jadi percuma saja kalau kau berbuat curang. Kalau kau bisa berhasil sampai disini, maka kau menang tapi jika tidak, maafkan aku perjanjian tetaplah perjanjian." Tambah Garp
"Baik!"
XXX
"Nami..." Panggil Luffy saat mereka sedang di tengah perjalanan kembali menuju rumah.
"Perhatikan jalanmu, Luffy! Kita bahkan hampir menabrak kios daging karena matamu selalu tertuju pada kios itu. Ada apa?" Ujar Nami mengingatkan Luffy dan menanyakan maunya.
"Maafkan aku, aku tidak yakin apakah aku akan mendapatkan SIM itu. Bagaimana jika aku tidak bisa memenuhi ekspektasi kakek?"
DUAK
"Kau! Sejak kapan kau jadi pesimis dan mudah putus asa seperti ini! Luffy yang kukenal selama ini tidak kenal dua kata itu dalam kamus hidupnya. Kau tahu, aku tidak akan menjadi seperti sekarang ini jika kau pesimis dan putus asa seperti sekarang pada saat itu. Luffy yang-"
Ucapan Nami terhenti saat Luffy menghentikan mobilnya. Tanpa sepatah kata pun Luffy sudah memakaikan cincin di jari manis tangan kirinya. Nami tidak bisa berkata apa-apa saat dilihat cincin yang bertengger di jari manisnya itu.
Luffy menyunggingkan senyum khasnya dan tertawa khas,"Menikahlah denganku. Jika aku berhasil lulus tantangan ini, apa kau mau menjadi navigatorku selamanya?"
Nami memang pernah membayangkan Luffy mengatakan kalimat itu padanya tapi dia tidak pernah membayangkan kalau Luffy akan benar-benar mengatakan itu padanya. Saat ini.
Nami menyerahkan secarik kertas pada Luffy, dia pun menceritakan pertaruhannya pada kakeknya, semuanya. Luffy awalnya terkejut tapi dia lalu tersenyum dan menjalankan mobilnya lagi. Kini tanpa hambatan seperti tadi, tak sampai sejam, mereka sudah kembali ke rumah Franky.
"Bwahahaha... Selamat Luffy, kau sudah berhasil memenuhi tantanganku. Tapi kau masih belum dapat SIM," kata kakeknya
Luffy pun menyerahkan kertas yang diberikan Nami kepada kakeknya. Kakeknya membaca kertas itu dengan wajah yang susah digambarkan, terlihat OOC memang. Dia melipat kertas itu, lalu menyerahkannya kepada Luffy.
"Baiklah, aku mengizinkannya Luffy."
"Mengizinkan apa kek?"
"Bacalah surat itu dan kau akan mendapatkan SIM N."
"Taruhan kita bagaimana? Apa itu artinya aku menang?"
"Iya, kau menang dan kau mendapatkan SIM N."
"Kau tidak akan mengeksekusi nakamaku juga Shank dan Makino?"
"Tidak."
"Kalau begitu sekarang kau bisa menjawab apa itu SIM kan kek?"
"Bacalah surat itu dan kau akan tahu apa artinya"
"..."
TAMAT
Akhirnya selesai juga. Apa ada yang bisa menjawab pertanyaan Luffy, SIM itu apa? Jawabannya adalah... Surat Izin Menikah hehehehe SIM N maksudnya Surat Izin Menikahi Nami. Jadi kalau belum ada yang ngerti tentang taruhan Garp dan Nami, Garp meminta Nami untuk membuat surat yang isinya jawaban untuk Luffy kalau dia dalam seminggu itu dilamar oleh Luffy, kalau jawaban Nami ngga maka Luffy ngga dapat SIM N tapi kalau jawabannya bersedia maka Luffy mendapat SIM N dari kakeknya. Disini Nami menerima lamaran Luffy, dan itu artinya Luffy mendapatkan SIM N. Baik Nami maupun Luffy menang taruhan. oya, ntar bakal ada side story dari fic ini, tapi masi dikerjain hehe
sekali lagi buat yang nunggu fic ini maupun Love is Nakama, saya ucapkan terima kasih banyak. semoga fic ini ngga bikin reader kecewa ya :D
oya balesan review buat yang ngga login / guest / anonymous,
buat nanachan terima kasih banyak sudah RnR fic saya ini, hehehe waktu itu saya lagi sibuk ngurusin tugas akhir tapi sekrang Alhamdulillah udah lulus, cuma masih jadi pengangguran XD sekali lagi terima kasih banyak sudah RnR.
