Author : Hann Hunnie

Title : Cokelat rasa vanilla

Cast : Kim Jongin, Oh Sehun, and other cast.

Pairing : KaiHun, etc.

Rated : T

Genre : Romance, drama, comedy.

Warning : gak suka ? Gak usah baca -_- disini Sehun nya gue buat agak feminin, jadi yg gak suka Sehun menye menye mending gak usah baca deh, takut nya malah ngeganggu hehe ^^

.

.

.

Happy reading

.

.

.

Sehun mengeratkan mantel tebal yang di pakainya. Namja cantik itu sama sekali belum beranjak dari tungku perapian yang di buat oleh Jongin, cuaca pagi hari di sertai kabut yang dingin memaksanya untuk tetap berada di dekat api unggun, menjaga agar tubuh nya tetap hangat.

"Masih dingin ?"

Sehun mendongak dan ia bisa menemukan Jongin yang berdiri di sebelahnya sambil membawa dua cangkir cokelat panas.

"Ya begitulah. Mungkin aku hanya belum terbiasa berada di tempat seperti ini" tangan putihnya menggosok hidung nya yang mulai memerah.

"Hmm ... Cuaca pagi di musim panas memang akan terasa lebih dingin apalagi di alam terbuka seperti ini" Jongin memberikan secangkir cokelat panas pada Sehun. "Ini minumlah, bisa membantu menghangatkan badan"

"Tentu, terimakasih Jonginnie"namja cantik itu menerima cokelat panas pemberian namja tan yang kini mendudukan diri di sebelahnya.

Jongin tersenyum mendengar Sehun memanggilnya 'Jonginnie'. Well, sebenarnya ia agak anti di panggil dengan panggilan semanis itu. Tapi kalau Sehun yang manggil sih Jongin gak masalah, kkk.

"Mommy mu tidak menelfon lagi ?" Tanya Jongin.

Sehun menggeleng. "Ponsel ku lowbat dan aku lupa membawa power bank"

"Mau pinjam punya ku ? Aku bawa dua kok"

"Tidak usah"

Jongin menaikan sebelah alisnya. "Kenapa ? Bagaimana kalau daddy dan mommy mu menelfon ?"

"Biarkan saja, lagipula aku sedang malas berbicara dengan mereka. Mereka pasti akan menelfon ku setiap detik dan menyanyakan bagaimana kabar ku, dengan siapa aku di rumah dan bla bla bla~"

Jongin tertawa mendengar ucapan Sehun. "Orang tua mu bisa khawatir, Hunnie"

"Tsk, mereka selalu khawatir bahkan saat aku ada di samping mereka" Sehun cemberut.

"Itu artinya mereka menyayangi mu dan tidak ingin kau kenapa napa"

"Mereka menyayangi ku berlebihan. Dan sesuatu yang berlebihan itu tidak baik"

"Tidak baik untuk siapa ?" Tanya Jongin.

"Untuk ku tentu saja!"

"Tapi kalau aku yang melakukan nya. Itu tidak akan menjadi tidak baik untuk mu"

"Huh ?" Sehun memiringkan kepalanya sambil menatap Jongin. "Melakukan apa ?"

"Melakukan hal yang berlebihan padamu"

"Uh ?" Namja cantik itu seperti nya belum paham dengan ucapan Jongin.

Jongin kembali tertawa melihat tatapan bingung namja cantik di sebelahnya itu. "Kalau aku yang Menyayangi mu berlebihan, itu tidak akan menjadi tidak baik untuk mu. Mengerti kan sekarang ?"

Semburat merah tercetak di kedua pipi Sehun sesaat setelah ia mendengar ucapan Jongin.

"Y-ya tentu saja itu dalam konteks yang berbeda" ucapnya malu malu.

"Sama saja. Sama sama Menyayangi mu berlebihan kan ?"

"Tapi kan Jongin dan kedua orang tua ku berbeda"

"Tentu saja, mereka sudah tua sedang kan aku masih tampan dan muda" ucap Jongin bangga.

Sehun tertawa sambil memukul lengan Jongin pelan. "Ya! Dad ku masih tampan meski sudah tua"

"Yeah ... Aku tau aku tau, putranya saja bisa secantik ini" goda Jongin membuat pipi Sehun semakin menyepuh merah.

Si Jongin ini, bisa saja membuat putra Wu Yifan merona parah seperti itu, kkkk.

.

.

.

Siang itu, semua peserta klub pecinta alam sedang sibuk menyiapkan perlengkapan untuk acara lintas alam beberapa jam lagi. Ada yang menyiapkan persediaan air minum, makanan makanan ringan dan sebagainya.

"Chanyeol! Lihat Jongin tidak ?" Sehun menepuk pundak namja jangkung yang kini tengah memasukan air minum botol kedalam ranselnya.

"Tadi sih katanya mau ke sungai. Mandi seperti nya, kenapa ? Kangen ya ? Kkk"

Sehun cemberut mendengar ucapan namja jangkung bernama Chanyeol itu. "Tidak! Cuma mau balikin power bank nya. Tadi aku pinjam"

"Oh, yaudah simpen aja di ranselnya Jongin. Tuh didalem tenda"

"Chanyeol aja deh yang simpen, ya ?"

"Ish kau ini" dengusnya. "Yaudah simpen aja di situ. Nanti aku balikin"

Sehun tersenyum. "Makasih ya Chan Chan, kkk aku simpen di sini" namja cantik itu menyimpan Power bank milik Jongin di dekat ransel Chanyeol sebelum ia setengah berlari kembali memasuki tenda nya.

"Ck, merepotkan saja" gumam Chanyeol sambil menutup ranselnya.

.

.

"Jongin, rute nya udah di lengkapi tanda panah kan ?" Chanyeol menghampiri Jongin yang kini tengah membagi kelompok untuk kegiatan lintas alam.

Namja tan itu menoleh. "Udahlah, hutan ini kan banyak pertigaannya, bahaya kalau gak ada tanda penunjuk jalan"

Chanyeol mengangguk, ia lalu merangkul bahu sahabatnya itu. "Aku satu kelompok dengan Baekhyun ya ?"

"Terserah"

Dan Jongin bisa mendengar Chanyeol yang berkata 'yes!' Lengkap dengan ekspresi lebaynya, membuat namja tan itu hanya bisa memutar bola mataya malas.

.

"Kyungsoo satu kelompok sama Sehun ya, te-"

"Interupsi interupsi" namja bermata bulat itu melambai lambaikan tangannya, membuat Jongin menghentikan ucapannya.

Namja tan itu menoleh, menatap Kyungsoo -si namja bermata bulat-. "Kenapa ?"

"Kau bilang aku boleh satu kelompok bersama Zitao. Kenapa malah di bikin satu kelompok sama Sehun ?" Protes Kyungsoo.

Ck, si Jongin ini gimana sih, kemarin bilangnya ia boleh satu kelompok bersama Zitao, kekasih nya. Kenapa sekarang malah di jadikan satu kelompok dengan Sehun ?

"Kyung, kau tau kan kalau Luhan sakit dan tidak bisa ikut kegiatan lintas alam ? Tadinya aku mau jadiin Sehun satu kelompok sama Luhan terus kamu sama Zitao, tapi karena Luhan sakit, jadi kamu di jadiin satu kelompok sama Sehun, masa kamu tega biarin Sehun sendirian" jelas Jongin.

"Kan ada kamu, Jong. Gak mau tau ya! Kamu udah janji jadiin aku satu kelompok sama Zitao" Kyungsoo mempoutkan bibirnya.

"Ck, terus yang tungguin Luhan disini siapa ? Masa iya dia di tinggal sendirian ? Luhan lagi sakit Kyung!" Ucap Jongin kesal.

"Yaudah yaudah, Kyungsoo sama Zitao aja. Aku sendirian juga gak apa apa sih" ucap Sehun yang merasa menjadi biang permasalahan antara Kyungsoo dan Jongin.

"Tapi-"

"Gak apa apa, Jongin" namja cantik itu tersenyum meyakinkan. "Asal ada arah penunjuk jalan, ku rasa itu bukan sesuatu yang sulit"

"Sehun, aku udah janji buat jagain kamu. Nanti kalau ada apa apa sama kamu gimana ? Yaudah aku ikut deh temenin kamu ya ?"

Sehun menggeleng. "Terus gimana sama Luhan ? Dia lagi sakit dan lebih butuh bantuan kamu, Jongin. Gak usah khawatir, timbang jelajahin hutan doang. Lagian kamu bilang kan kalau hutannya gak bahaya ? Gak ada binatang buasnya ?"

Jongin menatap Sehun yang kini tersenyum kearahnya.

"Kamu satu kelompok sama Kyungsoo sama Zitao aja gimana ? Kalian bertiga"

"Gausah" Sehun mendekati Jongin. "Aku gamau berasa jadi obat nyamuk di antara mereka, kkkk" bisiknya di telinga namja tan itu.

Jongin tertawa pelan mendengar ucapan namja cantik di sebelahnya itu.

"Jomblo sih, kkkk" namja tan itu balas berbisik di telinga Sehun.

Sehun memukul lengan Jongin pelan. "Kaya kamu enggak aja!"

"Oh hell, please jangan mesraan terus. Kapan kegiatannya di mulai coba ?" Chanyeol memutar bola matanya malas melihat Jongin dan Sehun yang malah asik saling berbisik satu sama lain.

Ck, mereka ini ...

Jongin melirik sahabatnya itu sekilas. "Yaudah tinggal jalan. Nunggu apa lagi coba ?"

"Heuh ... Dari tadi dong" namja jangkung itu langsung menarik tangan Baekhyun dan memulai acara jelajah alamnya, di ikuti oleh kelompok lain.

"Jadi kita gimana ?" Itu Zitao yang tanya.

"Apanya yang gimana ? Udah sana satu kelompok sama Kyungsoo"

"Terus Sehun ?"

"Aku sendiri aja" namja manis itu kembali tersenyum.

"Oh yaudah" Zitao mengangguk paham. "Duluan aja Hun. Nanti kami ikutin di belakang kamu"

"Kalian aja duluan, nanti aku nyusul"

"Kenapa ? Masih mau berduaan sama Jongin ya ? Kkkk" itu Kyungsoo yang bicara.

Sehun mendengus. "Ih! Apasih. Udah sana duluan"

Kyungsoo terkikik geli membuat namja cantik itu mencebikkan bibirnya kesal.

.

.

.

"Kau lihat tanda panahnya Kyung ?" Tanya Zitao. Mereka kini tengah mengikuti acara jelajah hutan, lebih tepatnya berada di pertigaan pertama perjalanan mereka.

Kyungsoo mengedarkan pandangannya. "Itu! Tertempel pohon pinus!"

Dan mereka berdua pun berjalan mengikuti arah panah tanpa menyadari panah yang tertempel di pohon pinus itu terjatuh dan tertutup oleh dedaunan sesaat setelah mereka melewatinya.

.

.

.

Sehun mengedarkan pandangannya dan yang dapat di terima retina matanya hanyalah pohon pohon tinggi yang menutupi cahaya matahari. Disini sedikit gelap dan agak lembab, padahal ini sudah menjelang siang hari.

"Mana arah penunjuk jalannya sih ?" Gumam namja Manis itu saat melihat pertigaan di depannya.

"Kenapa tidak ada ?" Sehun masih berusaha mencari arah penunjuk jalan yang biasanya tertempel di pohon pohon.

"Tidak ada, apa Jongin lupa memberi petunjuk arah ?"

Namja manis itu mengeluarkan Ponsel dari saku jaketnya, ia berniat menghubungi Jongin. Tapi sedetik kemudian kembali memasukan ponselnya.

"Tidak ada signal" gumamnya lagi.

Sehun menghela napasnya. Ia kembali menatap sekitar.

"Jadi, jalan mana yang harus aku ambil ?"

Hhhh ... Ia jadi bingung sendiri. Ck, kenapa Jongin bisa seceroboh ini sih ? Masa di pertigaan seperti ini tidak ada petunjuk arahnya ? Bagaimana kalau para peserta tersesat ? Lebih lagi, bagaimana kalau dia tersesat ? Mana dia peserta terakhir lagi. Tidak mungkin kan ada yang menjahilinya dengan melepas penunjuk arahnya ?

"Mungkin jalan sebelah Kiri" gumam Sehun.

"Tapi bisa saja jalan sebelah kanan atau mungkin tengah" gumamnya lagi.

"Hhhh ... Astaga ... Aku harus memilih jalan yang mana ?"

Namja manis itu mengigit bibir bawahnya, bingung. Matanya kembali mengedar.

Jalan mana yang harus ia pilih ?

Setelah pergolakan(?) Batin(?) Yang kuat, di tambah rasa takut yang mulai menderanya -karena Sehun yakin kalau ia sudah berada di tengah tengah hutan sekarang-, namja cantik itu memilih jalan sebelah kanan.

Jalan yang sebenarnya berlawanan arah dengan arah penunjuk jalan.

.

.

.

Sudah lebih dari dua jam Sehun berjalan menyusuri hutan. Tapi ia belum juga menemukan arah panah selanjutnya.

Namja manis itu tak yakin kalau jalan yang ia ambil ini adalah rute yang benar. Tapi masa iya dia tersesat ?

Mata cokelat nya kembali mengedar, keadaan disini lebih gelap dan lembab dari yang sebelumnya. Cahaya matahari bahkan tidak bisa menerobos ke tempat ini.

Sehun menghentikan langkahnya, ia lalu mendudukan dirinya di sebuah pohon yang entahlah, Sehun juga tidak tau nama pohon itu. Namja cantik itu tidak mungkin melanjutkan perjalanannya, ia takut kalau ia tersesat. Akan semakin mengerikan kalau ia tetap melanjutkan perjalanan, itu akan membuatnya semakin masuk kedalam hutan dan membuat siapapun sulit menemukan nya.

"Hhhh ..." Sehun menghela napasnya, namja manis itu memeluk kedua lututnya yang terlipat.

Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu peserta lain menemukan nya.

"Jongin ..." Lirihnya tanpa sadar.

.

.

.

Jongin terlihat gusar. Beberapa kali namja tan itu terlihat menghubungi seseorang, sedetik kemudian ia mengumpat saat suara operator yang kembali menjawab panggilannya.

"Shit! Dimana dia ?" Umpatnya panik.

"Percuma Jongin. Di tengah hutan sana tidak ada signal, berapa puluh kali kau menghubungi Sehun juga percuma saja" Chanyeol terlihat jengah melihat Jongin yang uring uringan.

"Apa kalian benar benar tidak melihat Sehun ?" Jongin kembali bertanya.

"Sehun adalah peserta terakhir yang ikut lintas alam kan ? Kemungkinan semua peserta tidak ada yang melihat Sehun sebelum nya" Kyungsoo bersuara.

"Dia tidak mungkin tersesat kan ? Aku sudah memberi petunjuk arah yang benar. Aturan dia sudah tiba disini satu jam yang lalu" ucap Jongin, terlihat sekali kalau namja tan itu panik luar biasa.

"Tenang Jongin, kita bisa menunggu Sehun sebentar lagi. Kalau dia masih belum datang, kita Cari sama sama" itu Baekhyun yang bicara.

"Aku tidak bisa tenang kalau Sehun belum ada di hadapan ku sekarang! Apa yang harus aku katakan pada om Yifan dan tante Joonmyun kalau Sehun sampai hilang ?!"

"Tenang dulu Jongin. Kita bisa cari Sehun sama sama" ucap Chanyeol.

"Tidak! Aku akan mencari Sehun sendiri. Kalian tunggulah disini, okay ?"

"Biar aku temani" Chanyeol berdiri dari duduknya.

Jongin menghentikan langkahnya. "Tidak, kau disini saja. Aku akan segera kembali, okay ?"

Setelahnya, Jongin berlari ke dalam hutan menghiraukan Chanyeol yang terus memanggilnya.

.

.

.

Jam sudah menunjukan pukul empat sore, tapi Sehun masih berada di tempat yang sama seperti dua jam yang lalu.

"Aku harus bagaimana ? Aku pasti tersesat" gumamnya sedikit panik, kedua mata cantiknya terlihat berkaca kaca.

Bagaimana kalau teman teman tidak bisa menemukan nya ? Apa dia akan terjebak disini untuk waktu yang lama ?

"Mommy hiks ..."

Sekelebat bayangan mommy dan daddy nya berputar di otak Sehun, rasa bersalah bercampur rasa takut berbaur menjadi satu.

Apa ini akibat dari Sehun yang berbohong pada Yifan dan Joonmyun ?

"Hiks ... Bagaimana ini ? Hiks ... Mommy hiks ... Hunnie takut hiks ..." Jemari lentik nya menghapus liquid bening yang membasahi kedua pipinya.

Grook ...

Grookk ...

Grookk ...

(Anggep suara babi hutan ya xD)

Sehun tersentak, ia mendengar suara sesuatu dari balik semak di belakang pohon yang ia duduki. Namja cantik itu terlihat panik.

Suara apa itu ?

Ia segera berdiri dari duduk nya, perlahan mengendap endap ke arah semak, mengintip makhluk apa yang ada di balik semak semak di belakangnya itu.

"Hmppp ..." Namja cantik itu menahan teriakannya.

Itu-

"Babi hutan!" Teriak Sehun panik.

.

.

.

"SEHUN! KAU BISA MENDENGAR KU ?!" Kai berteriak sekencang mungkin, kedua matanya terus mengedar, mencoba mencari keberadaan sosok manis itu.

Ck, ia yakin kalau Sehun memang tersesat. Tanda penunjuk arah yang terpasang di pertigaan, jatuh dan tertutup dedaunan, kemungkinan penunjuk arah itu terjatuh sesaat setelah Kyungsoo dan Zitao melewatinya.

"Ck, benar benar tidak ada signal sama sekali. Bagaimana aku bisa menemukan Sehun ?" Gumam Kai. Ia kembali memasukan ponselnya di saku celananya.

Tanpa putus asa, namja tan itu kembali melanjutkan langkahnya.

Tidak mau tau! Ia harus menemukan Sehun hari ini juga. Bagaimana pun caranya!

"SEHUNNNNN!"

.

.

.

"HIKS ... TOLONGGG!" Sehun berteriak sekencang mungkin, namja manis yang kini tengah berlari itu sesekali menengok ke belakang, ke arah babi hutan yang kini mengejarnya.

Ya Tuhan ... Ya Tuhan ... Hiks ... Ini mengerikan! Sehun suka makan daging babi, tapi Sehun tidak suka kalau harus berlari di kejar babi seperti ini.

"Hiks ... Huwaaa ... Mommy hiks ... Hunnie takut hiks ..."

Napasnya terengah engah seiring dengan kakinya yang semakin melemas karena terus di paksa berlari.

Huwee ... Sehun harus bagaimana ? Ia tidak mau mati muda karena di serang babi hutan, hiks ...

"TOLONGGGG"

Bruukk ...

Kaki nya tidak bisa di ajak kerja sama karena tiba tiba saja ia terjatuh saat kakinya sudah tidak kuat berlari lagi.

Sehun berusaha untuk berdiri dan melanjutkan acara melarikan diri dari babi hutan yang kini semakin mendekat.

"HIKS ... BERHENTI DISITU BABI HIKS ... ATAU AKU AKAN HIKS ..." namja cantik itu berjalan mundur. "ATAU AKU HIKS ... AKAN MEMASUKAN MU KE KEBUN BINATANG HIKS ... BERHENTI HUWEEE HIKSSS ... KU MOHON BERHENTI"

Sehun masih berjalan mundur, ia sudah tidak kuat lagi berlari, sedangkan si babi hutan terus mempertipis jarak dengannya.

Namja cantik itu terus berdoa dalam hati, berharap ada seseorang yang menolongnya. Siapapun itu, mau Tarzan kek, atau siapapun Sehun tidak peduli! Yang penting ia selamat dari babi hutan yang terus mengejarnya itu.

"HUWAAA TOLONGG ... HIKSSS ... TOLONG HIKS ... ADA BABI ..." Sehun terus berteriak teriak sambil memundurkan langkahnya.

Tanpa ia sadari, di depannya terdapat sebuah jurang dangkal yang-

"AAAAA~"

Brughh ...

"Ouch!"

.

Sehun perlahan membuka matanya yang terasa berat. Namja cantik itu terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba memperjelas penglihatannya yang terasa memburam itu.

Nggh ... Apa Sehun sedang berada di surga ?

Kedua matanya mengedar, setelahnya ia menghela napas kecewa.

Ini bukan surga! Tapi ini adalah dasar jurang tempat ia terjatuh tadi.

Sehun mendongakan kepalanya. Menatap tebing setinggi dua setengah meter di hadapannya itu. Ck, bagaimana caranya ia naik keatas sana ?

Namja cantik itu mencoba untuk menegakan tubuhnya, tapi-

"Aww ..." Ia meringis saat kakinya terasa begitu ngilu.

Sehun kembali mendudukan dirinya lalu memeriksa kakinya yang terlihat membengkak.

"Huwee ... Terkilir hiks ..."

.

.

.

"TOLONGGGG!"

Kai menghentikan langkahnya saat ia mendengar seseorang berteriak minta tolong.

"TOLONG HIKS ... TOLONG TOLONG"

Deg!

Itu suara-

"Sehun!"

Namja tan itu langsung berlari kearah sumber suara, tapi ia menghentikan langkahnya saat ternyata di depannya terdapat jurang dangkal.

Shit! Ini jalan buntu!

Tapi-

Dimana Sehun ? Ia mendengar suara Sehun dari arah sini.

"SEHUN! KAU DIMANA ?"

.

.

.

"SEHUN! KAU DIMANA ?"

Namja cantik itu mendongak saat mendengar seseorang mendekat kearahnya, lengkap dengan teriakan seseorang yang memanggil namanya.

Oh God! Bagai seorang pangeran penyelamat, Sehun mendapati Jongin berada tepat di atas tebing tempat ia terjatuh, namja cantik itu tersenyum haru(?).

"JONGIN ... AKU DIBAWAH SINI!"

.

"JONGIN ... AKU DIBAWAH SINI!"

Nah nah! Itu teriakan Sehun. Tapi dimana ?

"JONGIN DIBAWAH SINI! LIHAT KEBAWAH JONGIN! KE BAWAH!"

Hah ? Kebawah ?

Dengan cepat namja tan itu menundukan kepalanya, namun seketika kedua mata nya membulat sempurna saat ia mendapati sosok manis yang sejak tadi di carinya berada di dasar tebing di bawah sana.

"ASTAGA SEHUN! SEDANG APA KAU DISANA ?!"

.

.

.

Setelah berhasil membantu Sehun keluar dari dasar jurang, namja tan itu segera membawa Sehun pulang ke perkemahan. Untung saja ia sudah menandai jalan yang ia lewati, dengan begitu keduanya tidak akan tersesat lagi.

"Jongin, bagaimana bisa kau menemukan ku ?" Si cantik itu mengeratkan pegangannya di leher Jongin.

Kini keduanya tengah di perjalanan pulang menuju perkemahan, dengan Sehun yang berada di punggung Jongin.

Ingat kan kalau kaki Sehun terkilir ? Jadi, dengan baik hatinya, Jongin menawarkan diri untuk menggendong Sehun saja.

Namja tan itu menoleh, ia lalu tersenyum tipis. "Aku bisa menemukan mu dimanapun kau berada"

"Kenapa seperti itu ?"

"Kita terikat, mungkin" Jongin mengendikan bahunya. "Yang pasti, aku bisa menemukan mu meski kau bersembunyi di lubang semut sekalipun"

Sehun terkekeh mendengar ucapan Jongin. "Kkk, bahkan meski aku jatuh ke jurang, kau masih bisa menemukan ku"

"Tentu, aku sudah janji akan menjaga mu selama disini kan ?"

"Hmm ..." Sehun mengangguk, ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Jongin. "Terimakasih, Jongin"

"Hnn ... Tidak usah berterimakasih, sudah menjadi tugasku untuk memastikan kamu baik baik saja, Hunn-ah"

.

.

.

"Apa yang harus kau katakan pada orang tua mu saat kau pulang dalam keadaan kaki terkilir seperti ini ?" Jongin menoleh kan kepalanya menatap Sehun, sebelum kemudian ia kembali menatap jalan setapak di hadapannya.

Hhhh ... Syukurlah, ia dan Sehun sebentar lagi sampai di perkemahan.

"Aku bisa bilang kalau kaki ku terkilir di kamar mandi" jawab Sehun.

"Hnn ... Apa kedua orang tua mu akan Percaya ?"

"Hmm ..." Sehun mengangguk. "Selama mereka tidak curiga kalau aku ikut berkemah, mereka akan percaya"

"Perlu aku mengantar mu pulang nanti ? Lalu menjelaskan semuanya pada kedua orang tua mu ?" Tanya Jongin, keduanya kini sudah berada di area perkemahan.

"Tidak usah. Mereka akan memarahi ku kalau aku ketauan ikut acara seperti ini"

"Hmm ... Tapi aku merasa bersalah sudah membuat mu seperti ini"

Sehun tersenyum, ia mengeratkan pelukannya di leher namja yang menggendongnya itu. "Kau tidak salah, tapi-"

"Kau yang bersalah, Wu Sehun!"

Deg!

"D-dad ..."

.

.

.

TBC

.

.

.

Pada lupa apa ya ama ceritanya ? Kkkk

How ? Gue rasa Disini KaiHun nya kurang ya ? Hehehe

Maaf yang mau ini jadi gs, gue gak bisa ngabulin. Ternyata banyak nya pada mau ini tetep yaoi. Sekali lagi gue minta maaf ^^

Thanks buat review nya, maaf gak bisa nyebut satu satu^^

See you ...

Hann Hunnie