Author : Hann Hunnie
Title : Cokelat rasa vanilla Chapter 5
Cast : Kim Jongin, Oh Sehun, and other cast.
Pairing : KaiHun, etc.
Rated : T
Genre : Romance, drama, comedy.
Warning : gak suka ? Gak usah baca -_- disini Sehun nya gue buat agak feminin, jadi yg gak suka Sehun menye menye mending gak usah baca deh, takut nya malah ngeganggu hehe ^^
.
.
.
Happy reading
.
.
.
"D-dad ..." Lirih Sehun pelan, pelukannya di leher Jongin mengerat saat retina dengan manik caramel itu menangkap sosok mommy dan daddy nya yang sudah berada di area perkemahan.
Oh hell! Bagaimana bisa kedua orang itu berada disini ? Bukankah harus nya mereka masih ada di Jeju ?
Tatapan Yifan terlihat begitu tajam dan menusuk, menatap Jongin dan putranya bergantian lengkap dengan kedua alis yang bertautnya.
"Jongin turunkan aku" bisik Sehun pelan.
Jongin menoleh menatap Sehun yang masih menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher dan bahu milik namja tan itu. "Tidak bisa. Kaki mu masih terluka"
"Tidak apa apa, aku harus jelas kan semua nya sebelum dad marah. Turunkan aku, aku masih bisa berpegangan padamu, kan ?"
Jongin menghela napas, ia menatap Sehun sekali lagi sebelum kemudian berjongkok dan membiarkan namja dalam gendongannya itu menapakan kakinya di tanah.
"Hati hati" namja tan itu memegangi pinggang ramping Sehun saat si cantik itu hampir saja terjatuh. Kaki Sehun terkilir, ingat ?
"Kenapa dengan kaki mu, Wu Sehun ?" Pertanyaan dengan nada bicara tegas itu membuat Sehun mendongakan kepalanya, menatap Yifan yang entah sejak kapan sudah berada tepat di hadapannya.
"D-dad, a-aku h-"
"Apa dad dan mom pernah mengajarkan mu untuk berbohong pada orang tua ?"
Sehun diam dan memilih mengigit bibir bawahnya, bingung dengan apa yang harus ia katakan pada daddy.
"Kenapa berani membohongi kami hanya untuk mengikuti kegiatan berbahaya seperti ini, Hun ?!" Yifan menatap tajam Sehun yang kini juga tengah menatapnya dengan mata berkaca kaca. "Teman teman mu mengatakan kalau kau tersesat saat mengikuti lintas alam. Apa kau tidak pernah berpikir kalau itu sangat berbahaya ? Bagaimana kalau tak ada yang bisa menemukan mu ? Apa kau tidak pernah berpikir kalau itu bisa saja membahayakan mu lebih dari ini ?! Lihat mommy mu!"
Sehun mengalihkan pandangannya pada Joonmyun mommy yang kini sudah terisak di sebelah daddy nya.
"Mommy bahkan tak bisa berhenti menangis saat Bibi Jung memberitahu nya kalau kau mengikuti kegiatan seperti ini!" Suara Yifan meninggi, kentara sekali kalau namja tampan paruh baya itu benar benar marah.
"Maafkan Hunnie dad hiks-" Sehun berkata lirih seiring dengan buliran air mata yang jatuh membasahi pipi putihnya.
"Maaf ? Apa maaf bisa menyembuhkan luka di kaki mu dan membuat semua bisa kembali baik baik saja ?! Apa dengan maaf dad bisa melupakan kekhawatiran dad padamu dan membuat mom menghentikan tangisannya ?! A-"
"Setidaknya Sehun sudah berani mengakui kesalahannya dengan meminta maaf, samchon"
Yifan sontak mengalihkan pandangannya pada namja tan yang berada di sebelah putranya itu.
"Maaf memang tidak bisa membuat kaki Sehun kembali sembuh dengan sendirinya atau menghilangkan ke khawatiran mu. Tapi dengan melakukan itu Sehun sudah berani mengakui kesalahannya" Jongin balas menatap Yifan yang kini tengah menatapnya juga. "Lagipula Sehun tidak mungkin berbohong pada kalian kalau kalian tidak terlalu mengekangnya"
"Apa yang kau maksud dengan mengekangnya ? Kami tau apa yang harus kami lakukan untuk mendidiknya. Kami tau apa yang terbaik untuknya. Aku adalah Ayahnya, aku berhak melarang putra ku untuk mengikuti atau melakukan sesuatu yang membahayakan untuknya"
"Aku tau itu samchon, semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Tapi aku dan Sehun hanyalah remaja 18 tahun yang mempunyai rasa penasaran tinggi terhadap hal apapun, meski itu adalah hal membahayakan sekalipun" Jongin mengerat kan pelukannya di pinggang Sehun saat dirasa tubuh namja cantik di sebelahnya itu sedikit merosot. "Tapi, bukankah dengan begitu kita akan tau apa apa saja hal yang membahayakan untuk kita ? Bukankah itu bisa menjadi pelajaran agar kita tidak melakukan nya lagi di masa mendatang ?"
"Lalu, kau mau aku membiarkan putra ku sendiri berada dalam situasi berbahaya begitu ? Apa aku harus mengorbankan keselamatan putra ku sendiri hanya untuk itu ?" Yifan menarik tangan Sehun, membuat namja cantik itu lepas dari pelukan Jongin.
"Hiks- dad appoyo hiks-"
"Selama dia berada dalam pengawasan kami, dia akan baik baik saja"
"Tapi Sehun tidak pernah merasa baik baik saja" desis Jongin.
"Kau tidak tau apapun tentang Sehun. Dia adalah anak penurut yang akan mengikuti semua aturan yang aku buat. Ini adalah kali pertamanya dia berbohong pada kami" tatapan mata Yifan menajam. "Dan itu terjadi setelah dia mengenal mu"
Jongin diam setelahnya, tapi mata dengan manik kelam itu kini menatap Sehun yang masih menangis sambil bergumam Maaf padanya.
"Kita pulang sekarang, Hunnie" Yifan menjongkokan badannya, menyuruh Sehun untuk naik ke punggungnya.
Tak ada yang bisa Sehun lakukan selain menuruti perintah daddy nya. Namja cantik itu melingkarkan kedua tangannya di leher sang daddy, menyembunyikan wajah cantiknya di ceruk leher Yifan. Terlalu malu untuk membalas tatapan semua teman terhadapnya.
Oh, Wu Sehun. Adakah anak 18 tahun yang masih di perlakukan seperti ini ?
"Terimakasih" ucap Joonmyun lirih saat Chanyeol menyerahkan koper berisi perlengkapan Sehun padanya.
Chanyeol tersenyum tipis. "Sama sama, Imo"
"Kita pulang sekarang dad. Sebelum langit menggelap" mommy cantik itu menatap Yifan, dan hanya di balas anggukan semu oleh suaminya itu.
Kedua mata Yifan masih menatap namja tan yang masih berdiri di hadapannya itu.
"Aku harap kau mengerti satu hal, nak" daddy nya Sehun itu menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya. "Tak ada orang tua yang ingin anaknya berada dalam situasi yang membahayakan. Aku bukan mengekang Sehun, aku hanya mengarahkannya untuk melakukan hal yang baik dan bermanfaat untuk nya. Kalian adalah seorang pelajar, jadi tugas utama kalian adalah belajar, bukan melakukan hal hal seperti ini yang bisa saja membahayakan. Kami pamit, maaf kalau Sehun sudah merepotkan mu. Aku hanya minta satu hal padamu" tatapan Yifan pada Jongin melembut. "Jauhi Sehun kalau kau hanya ingin menjadi pengaruh buruk untuk nya"
Setelahnya Yifan membalik badannya dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan area perkemahan, menghiraukan tatapan Jongin yang menatap nya dengan tatapan sulit diartikan, menghiraukan Sehun yang kini menangis semakin deras di gendongannya.
"Hiks- dad tidak pernah membiarkan Hunnie untuk berteman dengan siapapun hiks-"
"..."
.
Chanyeol merangkul pundak Jongin, matanya ikut menatap Sehun yang sudah menghilang di balik pepohonan.
"Tidak apa apa Jongin, aku yakin Yifan samchon hanya menggertak mu. Jangan menyerah untuk mendekati Sehun"
Jongin tersenyum hambar sebelum melirik sahabatnya itu. Ia melepas rangkulan tangan Chanyeol, lalu membalik badannya menatap para peserta yang seperti nya harus di bangun kan dari keterkejutan akibat kedatangan kedua orang tua Sehun.
"Oh semua nya. Ayolah, jangan terlalu di pikirkan" namja tan itu tersenyum.
"Kita masih harus melanjutkan kegiatan sesuai rencana meski tanpa Sehun, kan ?"
.
.
.
Sepanjang perjalanan pulang, jemari lentik milik Sehun tak hentinya mengusap kasar bulir air mata yang terus membahasi kedua pipi.
Kedua manik milik nya itu lebih memilih menatap pemandangan di luar sana lewat kaca jendela mobil.
"Kau sudah makan Hunnie ?" Joonmyun menoleh kan kepalanya sekilas, menatap Sehun yang duduk di jok belakang.
"..."
Joonmyun menghela napas ketika putranya itu tak menjawab pertanyaannya. "Pasti kau belum makan dari tadi siang ya ? Kau tersesat di hutan, pasti tak ada yang bisa kau makan disana"
"..."
Lagi, namja cantik itu hanya diam. Membuat Yifan yang tadinya tengah fokus menyetir, meliriknya dari kaca yang terpasang di dalam mobil.
"Mommy bertanya pada mu Wu Sehun. Tidak sopan mengabaikan pertanyaan ibu mu, kecuali kalau kau benar benar tuli dan tidak mendengar pertanyaannya"
"..."
"Hunnie ?"
"..."
Yifan menepikan mobilnya, lalu menolehkan kepalanya menatap Sehun sepenuhnya.
"Kau benar benar ingin di hukum ? Kau yang bersalah dan bukankah kami yang harusnya marah padamu ?"
"..."
Yifan menghela napas, meredam amarahnya saat Sehun benar benar menghiraukannya.
"Kau benar benar ingin daddy hukum, Sehun ?!"
"Hukum saja hiks- apa daddy tidak sadar kalau selama ini dad sudah menghukum Sehun ?" Namja cantik itu menatap Yifan dengan mata berkaca kacanya. "Apa yang akan daddy lakukan lagi pada ku ? Menghukum ku untuk tidak keluar rumah selain bersekolah ? Bukankah itu sudah dad lakukan sejak dulu ? Mengurungku di perpustakaan dan membiarkan ku terus berkutat dengan buku ? Dad juga sudah melakukan itu sejak dulu, hiks-" Sehun menghapus air matanya. "Atau dad tidak membiarkan ku bermain dengan teman teman ? Hiks- kalau iya hiks- Hunnie tanya pada dad dan mom hiks-"
"Memang nya kalian ingat kapan terakhir kali kalian membolehkan ku bermain bersama teman teman ? Hiks- pasti dad dan mom tidak akan ingat hiks- karena kalian tidak pernah memberi ku waktu untuk bermain hiks-"
.
.
.
Jongin memilih untuk berada di dalam tenda saja malam ini.
Namja tan itu memang sengaja sedikit memisahkan diri dari teman temanya.
Bukan apa apa sih, Jongin hanya ingin sendiri saja. Entahlah, sejak Sehun pergi beberapa jam lalu, rasanya dia sudah tidak semangat lagi ikut perkemahan.
Ia menghela napas, kedua tangannya ia lipat dan menjadikan nya sebagai bantalan di kepala. Mata dengan manik kelam itu menatap langit langit tenda.
"Belum juga pendekatan, masa sudah disuruh menjauhi Sehun sih" gumam nya di barengi dengan dengusan sebal.
Sebenarnya, Jongin itu tipe orang yang tidak gampang menyerah. Kalau belum mendapat apa yang dia inginkan, ya Jongin tidak akan berhenti sampai akhirnya ia bisa mendapatkannya. Tapi kali ini berbeda, bagaimana ia bisa mendapatkan Sehun kalau belum apa apa saja sudah di suruh menjauhi namja cantik itu.
Jongin bisa saja sih tetap mendekati Sehun dan menghiraukan ucapan Yifan samchon tadi. Sayangnya dia bukanlah tipe orang yang seperti itu. Meski Jongin ini memang sedikit bandel dan urakan, tapi kalau sudah menyangkut omongan orang tua, Jongin tidak pernah berani untuk membantah.
Yeah ... Kalau bukan nurut sama orang tua, Jongin mau nurut sama siapa lagi ?
"Tapi-"
Bip ... Bip ... Bip ...
Ucapan Jongin terhenti saat Ponselnya berbunyi. Dengan segera ia mengambil Ponsel yang berada di dalam saku mantel yang di pakainya.
Namja tan itu tersenyum saat tau siapa yang menghubungi nya.
"Anak ini, sudah tau aku berada di hutan, kenapa malah mengajak ku video call ?" Gumamnya sambil menyalakan batre yang tergeletak di sebelahnya. "Untung saja signal 4G nya sampai ke sini"
Yeah ... Beruntung karena jacheon forest ini berada tak jauh dari pusat kota Busan.
Klik ...
"Jongin ..."
Suara lembut di barengi dengan munculnya wajah si namja cantik di screen ponselnya itu membuat Jongin tersenyum.
"Ya ?"
"Umm ... Aku tidak bisa melihat wajah mu dengan jelas" ucapnya lagi.
"Disini minim penerangan, tapi aku bisa melihat mu dengan jelas" Jongin kembali tersenyum. "Apa sudah sampai di rumah ?"
Namja cantik di seberang sana mengangguk. "Aku baru selesai makan dan mandi"
"Syukurlah kalau begitu. Bagaimana dengan kaki mu apa masih terasa sakit ?"
Dan Jongin bisa melihat kalau Sehun -si namja cantik- kembali menganggukan kepalanya. "Sedikit, tapi ini sudah membaik"
"Apa terlihat memar ? Tolong perlihatkan kaki mu pada ku"
"Sebentar" Sehun mengubah mode kamera depan nya menjadi kamera belakang, ia menyingkap selimut yang menutupi kaki jenjang yang di balut celana piyama tersebut, lalu memperlihtkan luka di kakinya pada Jongin. "Hanya memar tapi sangat sakit kalau di gerakan"
Jongin bisa melihat luka memar yang mulai membiru di pergelangan kaki Sehun. "Daddy mommy mu tidak membawa mu ke rumah sakit ?"
"Tidak, tapi dokter keluarga sudah memeriksa ku tadi. Dia sudah memberiku salep dan obat pereda nyeri" Sehun kembali mengganti mode kameranya, jadi Jongin bisa kembali melihat wajahnya.
Jongin mengangguk. "Mungkin kaki mu belum bisa di gerakan untuk beberapa hari. Tapi ku rasa memarnya tidak terlalu parah. Dua hari juga sembuh"
"Eum ... Ya semoga saja"
"Matamu bengkak. Apa kau menangis sepanjang perjalanan pulang ?" Tanya Jongin saat memperhatikan mata sipit Sehun yang memerah dan bengkak. Hidung namja cantik itu juga memerah.
"Ya begitu lah" Sehun tersenyum tipis. "Aku merasa sangat malu pada mu dan teman teman, aku juga marah pada daddy, tapi aku tidak bisa mengeluarkan kemarahan ku begitu saja, rasanya sesak tapi entah kenapa malah air mata ku yang terus keluar"
Jongin tersenyum. "Kenapa merasa malu pada ku ? Kalau kau marah, kau bisa mengeluarkan semua kemarahan mu itu padaku. Cerita saja, aku akan menjadi pendengar yang baik untuk mu"
Sehun sedikit mempoutkan bibirnya. "Aku malu dan ingin meminta maaf tentang apa yang daddy katakan pada mu tadi"
"Eum ?"
"Daddy bilang kalau aku berani berbohong setelah kenal dengan mu. Padahal bukan itu yang sebenarnya"
"Tidak apa apa. Tapi daddy mu mungkin benar" Jongin mendudukan dirinya. "Apa kau merasa aku memberi pengaruh buruk untuk mu ?"
"Tidak!" Sehun menggeleng kuat. "Kau sama sekali tidak memberi ku pengaruh buruk. Sama sekali tidak"
"Tapi kau berani berbohong setelah kenal dengan ku"
"Tidak begitu Jongin!"
"Bolehkah aku menjauhi mu ?"
"Tidak!"
"Tapi daddy mu menyuruh ku begitu"
"Tidak! Tidak! Pokoknya tidak boleh!"
Jongin terkekeh pelan melihat ekspresi namja cantik di screen ponselnya itu.
"Kenapa aku tidak boleh menjauhi mu, eum ?"
"Pokoknya tidak boleh saja" bibir tipis itu mempout. "Aku sudah merasa nyaman kalau bersama Jongin. Rasanya aku bisa menceritakan apa saja yang tidak pernah aku ceritakan sebelum nya pada orang lain. Jongin itu berbeda, pokoknya jangan menjauhi ku meski daddy menyuruh mu begitu!"
"Kau ingin aku menjadi anak yang tidak menuruti perkataan orang tua ?"
"Kalau orang tuanya semenyebalkan daddy ya tidak apa apa!"
"Kkkkk, jangan berkata seperti itu, Sehunnie"
"Habisnya aku kesal sekali!"
"Apa daddy mu memarahi mu lagi saat di rumah ?"
Sehun menggeleng. "Tidak, saat makan pun kami hanya saling diam. Seperti nya akan terjadi perang dingin antara aku, mommy dan daddy"
"Minta maaf pada mereka, Hunnie. Semarah apapun kau pada mereka, tetap saja dalam hal ini kau yang bersalah. Kau berbohong pada mereka, pantas kalau mereka marah"
"Tapi Jongin, aku tidak suka dengan sikap daddy padamu. Aku hanya merasa kalau secara tidak langsung daddy menyalahkan mu atas semua kejadian ini. Aku minta maaf kalau kau merasa tersinggung"
Jongin tersenyum. "Jangan terlalu di pikirkan, Sehun. Aku tidak merasa tersinggung, tenang saja" namja tan itu melirik jam tangan nya sekilas. "Sudah pukul sembilan malam. Sehunnie cepatlah tidur dan istirahat, kaki mu butuh banyak istirahat"
Namja cantik itu mengangguk. "Kau juga, jangan terlalu tidur larut malam, Jonginnie"
"Ya"
"Selamat malam, Jongin"
"Hmm ... Selamat malam, Sehunnie"
.
.
.
Satu minggu kemudian ...
.
Ini adalah hari pertama Sehun kembali memasuki sekolah. Harus nya ia masuk sekolah tiga hari yang lalu tapi karena memar di kakinya belum membaik, jadi ia di haruskan istirahat sampai kakinya benar benar sembuh dan bisa di gerak kan.
Baekhyun dan Kyungsoo sempat menjenguknya beberapa hari yang lalu, Chanyeol juga. Tapi Jongin sama sekali tidak menunjukan batang hidung nya, padahal sehari setelah pulang dari perkemahan ia langsung di bawa ke rumah sakit karena kakinya yang semakin membengkak dan suhu tubuhnya yang meninggi.
"Oy, Sehun!"
Sehun menghentikan langkahnya sebelum kemudian menoleh, menatap namja mungil yang tadi memanggilnya.
"Yo, Baekhyun" balasnya.
"Kau sudah sembuh ?" Namja mungil yang ternyata adalah Baekhyun berlari menghampiri Sehun.
"Eum ..." Namja cantik itu menganggukan kepalanya. "Masih terasa sedikit sakit sih, tapi ini sudah jauh lebih baik"
"Hhhh ... Syukurlah kalau begitu. Aku sempat khawatir kaki mu akan lumpuh, kkkk"
Sehun mendengus. "Oh Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku, Byun"
"Ya sama sama Sehunnie~" Baekhyun tersenyum lebar membuat teman cantik nya itu sedikit mencebikan bibirnya. "Ah ya, nanti sepulang sekolah kau ada waktu kan ?"
"Mau apa ?" Tanya Sehun sambil melanjutkan langkahnya, diikuti oleh Baekhyun yang berjalan di sebelahnya.
"Nonton basket yu"
"Huh ? Basket ?"
"Iya" Baekhyun mengangguk. "Kau tidak tau ya hari ini ada pertandingan basket antar sekolah ?"
"Tau, tau. Dua minggu yang lalu Zitao meminta persetujuan ku untuk mengadakan pertandingan basket antar sekolah, tapi aku tidak tau kalau pertandingannya di mulai Hari ini"
"Sebenarnya dari dua Hari yang lalu, tapi hari ini jadwal sekolah kita yang bertanding dengan SOPA. Jadi kau mau nonton ? Jongin yang jadi kapten nya loh~ kkkkk"
"Loh ? Bukannya Zitao yang menjabat sebagai kapten basket ?" Tanya nya sambil membuka pintu kelas.
"Ya tadinya" Baekhyun mendudukan dirinya di sebelah kursi yang di duduki Sehun. "Tapi Zitao harus mengikuti lomba wushu dan sudah pergi ke China kemarin, makanya kapten basket nya di gantikan Jongin"
"Oh begitu" Sehun menganggukan kepalanya mengerti.
"Jadi bagaimana ? Mau kan ? Tidak akan lama kok. Kamu minta ijin dulu saja pada Yifan samchon"
"Eum ... Aku tidak janji sih, tapi aku mau" Sehun menatap Baekhyun. "Aku ada les matematik hari ini. Dad akan marah kalau aku membolos"
"Yahh sayang sekali" Baekhyun memasang wajah sedihnya. "Padahal Kyungsoo juga mau nonton, Hunnie. Kalau aku menyemangati Chanyeol, lalu Jongin di semangati oleh siapa ?"
"Kan Jongin juga punya banyak penggemar, pasti banyak yang menyemangatinya, benar kan ?"
Baekhyun mendengus. "Ck, bukan itu maksud ku. Kau ini kan 'sedikit' spesial untuk Jongin, pasti kalau kau ikut menyaksikan pertandingannya, semangat Jongin untuk menang naik 100 kali lipat!"
Sehun terdiam sejenak.
"Tapi aku ada les matematik" ucapnya pelan. "Bagaimana ya ?"
"Tidak bisa bolos sehari saja ?"
Sehun dan Baekhyun mengalihkan pandangannya saat si namja bermata bulat tiba tiba saja mendudukan dirinya di kursi yang berada di depan kursi yang di duduki si cantik Sehun.
"Tidak Kyung~ daddy bisa bisa marah besar lagi seperti waktu itu"
Kyungsoo -si namja mata bulat- menatap Sehun yang kini tengah menumpukan kepalanya di atas meja.
"Padahal Jongin butuh sekali support mu loh, Hunnie. Dia sempat bercerita pada ku kalau dia berharap kau datang menonton pertandingannya"
Sehun mengangkat kepalanya menatap Kyungsoo. "Benarkah ? Jongin mengatakan itu padamu ?"
"Eum" Kyungsoo mengangguk sebelum kemudian memutar kursinya menghadap Sehun. "Ya dia sempat bercerita itu padaku, tapi kalau kau tidak bisa ya tidak apa apa sih. Nanti biar aku sampaikan pada Jongin"
Sehun diam. Mata dengan manik sewarna caramel itu menatap kedua teman nya bergantian.
"Aku mau sih, Tapi aku takut daddy marah-" ia mengigit bibir bawahnya. "Tapi, kalau kalian mau membantu ku berbohong pada daddy, sepertinya aku bisa ikut kalian menonton pertandingan basket"
"Benarkah ?!" Kedua teman Sehun yang memiliki mata beda ukuran itu berucap berbarengan.
Sehun mengangguk. "Y-ya, mungkin tidak apa apa kalau tidak ikut less satu kali saja" ucapnya sedikit ragu. "T-tapi nanti pasti dad menjemputku ke tempat less"
"Jam berapa daddy mu menjemput ?" Tanya Kyungsoo.
"Sekitar pukul enam sore. Kalau pertandingan basket nya selesai pukul lima, setelahnya mungkin aku bisa pergi ke tempat less. Dengan begitu saat dad menjemput, aku sudah ada di sana dan dad tidak akan curiga kalau kau berbohong. Bagaimana ? Kalian mau mengantar ku ke tempat less kan setelah pulang menonton pertandingan basket ?"
Baekhyun dan Kyungsoo mengangguk.
"Tentu saja! Kami akan mengantar mu dan menemani mu sampai Yifan samchon menjemput. Aku jamin pertandingannya tidak akan lebih dari pukul lima" ucap Baekhyun.
"Baiklah" namja cantik itu tersenyum. "Aku akan ikut menonton kalau begitu!"
"Yes!"
Pekikan dari Baekhyun dan Kyungsoo mengakhiri percakapan ketiga nya.
Bel tanda pelajaran di mulai sudah berbunyi membuat si mata sipit Baekhyun berpindah tempat duduk di sebelah Kyungsoo.
"Jadi Kyung, Jongin benar benar bercerita kalau dia ingin pertandingannya di saksikan oleh Sehun ?" Baekhyun berucap pelan.
Kyungsoo yang tengah mengeluarkan bukunya itu menoleh. "Tidak tentu saja" ujarnya sambil menyeringai. "Aku hanya berbohong agar Sehun mau menonton pertandingan basket nya, kkkk. Lagipula anak itu perlu hiburan bukan hanya terus berkutat dengan angka angka menyebalkan dan buku tebalnya"
Oh, jawaban Kyungsoo barusan sukses membuat namja bereyeliner itu memutar bola matanya.
Dasar satan Soo -_-
.
.
.
Aula tempat dilaksanakan pertandingan basket antar sekolah itu terlihat sudah ramai oleh para siswa dan siswi Seoul science high school yang ingin menonton pertandingan. Ada juga siswa dan siswi dari School of performing arts Seoul yang datang, meski tidak sebanyak tuan rumah sih, tapi penonton dari SOPA itu lumayan banyak.
Sehun dan Kyungsoo mendudukan diri di kursi penonton paling depan. Kata Baekhyun sih biar mereka bisa sekalian lihat wajah wajah pemain basket SOPA yang Katanya tampan tampan itu.
Ck, si Baekhyun ini. Sudah punya pacar setampan Chanyeol, masih saja suka lirik lirik namja lain. Dasar uke kekinian. -_-
Teriakan riuh mulai menggema memenuhi seisi ruang aula saat kedua Tim mulai memasuki area lapangan di temani oleh para cheerleader.
"Tidak mau turun ? Baekhyun lagi ngasih Chanyeol air minum tuh. Sana kasih Jongin air minum juga!" Kyungsoo menoleh, menatap Sehun yang kini tengah menyedot bubble tea nya.
Sehun menggeleng pelan lalu tersenyum tipis.
"Jongin udah ada yang ngasih tuh. Dari tadi Krystal Kayanya nempel banget sama Jongin" ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari si kapten basket dan si ketua cheerleader yang tengah asik bercengkrama di pinggir lapangan sana.
.
.
.
TBC
.
.
.
Ini gak ada KaiHun moment nya. Maaf ya hehe
See you
Hann hunnie
