Author : Hann Hunnie
Title : Cokelat rasa vanilla Chapter 7
Cast : Kim Jongin, Oh Sehun, and other cast.
Pairing : KaiHun, etc.
Rated : T
Genre : Romance, drama, comedy.
Warning : gak suka ? Gak usah baca -_- disini Sehun nya gue buat agak feminin, jadi yg gak suka Sehun menye menye mending gak usah baca deh, takut nya malah ngeganggu hehe ^^
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
Jongin menghentikan laju motornya di depan sebuah rumah mewah berpagar tinggi milik Sehun, mata dengan manik kelam itu mengedar sebelum kemudian ia menoleh kan kepalanya ke belakang, melirik Sehun yang masih memeluk pinggangnya dengan kepala yang masih bersandar nyaman di bahu tegap miliknya.
"Tidak mau turun, eum?" Jemari besar Jongin mengelus tangan Sehun yang masih melingkar di pinggangnya. Sebuah senyum tipis terpatri di bibir penuhnya saat ia merasa kalau Sehun menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak mau~" rajuk Sehun dengan suara lucunya.
"Hey, ini sudah malam. Kau harus segera masuk ke rumahmu karena angin malam tidak baik untuk tubuh mu, Sehunnie"
"Tidak mau~. Kalau aku sudah berada di rumah itu artinya aku hanya bisa bertemu dengan mu esok hari dan aku tidak mau, aku sudah tidak bertemu dengan mu selama seminggu, dan aku—" kedua pipi putih Sehun perlahan menyepuh merah. Duh, untung saja Jongin membelakanginya, kalau tidak ia pasti sudah malu karena Jongin pasti bisa melihat gumpalan merah muda dikedua pipinya.
"Aku merindukan mu" ucapnya nyaris seperti sebuah bisikan, Jongin bahkan hampir tidak bisa mendengarnya kalau saja namja cantik yang masih memeluk nya itu tidak berucap dekat telinganya.
Jongin terkekeh sebelum membawa Sehun untuk turun dari motornya, menangkup kedua sisi pipi putih memerah milik Sehun dan membiarkan namja dihadapannya itu membalas tatapan manik kelam lembutnya.
"He-hey, esok hari tidak lebih dari 24 jam lagi, Sehunnie. Lagipula kau akan menghabiskan 9 jam waktu tersisa mu hari ini dengan tidurkan? Jadi, mana mungkin kau akan merindukan ku saat kau tidur"
"Tapi tetap saja" Sehun cemberut, kedua manik caramelnya menatap Jongin dengan lapisan cairan bening yang bisa jatuh kapan saja.
Oh... Tuhan, lihat betapa cengengnya putra Wu Yifan dan Kim Joonmyun ini.
"Ketika merindukan seseorang, aku tidak akan bisa tidur dengan nyaman~"
"Eum?" Jongin menaikan sebelah alisnya bingung. "Lalu, kau mau bagaimana?"
Sehun menggeleng pelan sebelum kemudian lebih memilih kembali memeluk tubuh atletis dihadapannya, kembali menyandarkan kepala dengan surai lembutnya di bahu nyaman milik Jongin.
"Aku tidak tau. Tapi aku tidak ingin Jongin pulang ke rumah Jongin dan membiarkan ku sendirian dirumah ku"
Ekhem... Sebenarnya Sehun ini sedang memberi kode pada Jongin agar namja tan itu mau menginap di rumahnya.
"Kau ingin aku menginap dirumah mu?"
Gotcha! Jongin ini memang seme peka, kkk.
"Aku tidak bilang begitu" Sehun mengulum senyumnya kemudian mengangkat kepalanya dan menatap wajah tampan yang hanya berjarak dibeberapa centi dari wajahnya.
Hidung keduanya hampir bersentuhan karena Jongin masih enggan melepas rengkuhan mesranya dipinggang ramping Sehun.
"Hmm, memang" Jongin tersenyum tampan. "Kau memang tidak mengatakannya secara langsung, tapi kata-kata mu tadi itu memiliki makna yang sama dengan kau yang meminta ku menginap di rumah mu, benarkan?"
Sehun menatap Jongin dengan binaran dikedua matanya.
Okay fix! Sehun ingin menjadikan Jongin pacarnya sekarang juga!
Sudah tampan, dewasa, peka-an, jago main basket, jago meluluhkan hati Sehun lagi. Duh, apa lagi coba kurangnya namja dihadapan Sehun ini?
"I-itu kalau Jongin tidak keberatan" ucap si putra Mr. Wu itu dengan malu-malu.
"Bukankah ada Bibi Jung yang akan selalu menemani mu kalau kedua orang tua mu sedang pergi"
"Aku sudah menyuruh Bibi Jung pulang"
"Huh?" Jongin menatap Sehun penuh selidik. "Kau merencanakan semua ini?"
Namja dihadapan Jongin itu mengerjapkan matanya, bingung. "Apa?"
"Eum?" Si namja tan memicingkan matanya, lalu semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah cantik Sehun, membuat kening mereka bersentuhan.
Kening saja ya, tidak dengan yang lainnya, kkk.
"Pak Jung yang tiba-tiba ada urusan dan tidak bisa menjemputmu, membuat ku harus mengantarkan mu sampai rumah. Lalu Bibi Jung yang kau suruh pulang dan membuat mu harus berada sendirian dirumah mu. Kau merencanakan semua ini agar aku menginap di rumah mu, begitu?"
Sehun tersenyum lima jari. Yah, kenapa modusnya bisa ketahuan sama Jongin semudah ini?
"Tidak begitu pada awalnya. Tapi eum- y-ya aku hanya ingin ditemani di rumah, itu saja"
"Baik-baik" Jongin sedikit menjauhkan wajahnya. Bisa gawat kalau tetap berada dijarak tidak aman seperti itu, bisa-bisa ia kelepasan dan tak sadar mengulum bibir pink tipis yang sedari tadi menggodanya.
"Kau sudah minta ijin pada kedua orang tua mu?"
Sehun mengangguk. "Sudah! Aku sudah mengirim pesan Line pada dad! Dan dad mengatakan boleh membawa teman kerumah!"
"Tapi kau tidak bilang kalau itu aku, kan?"
"Eum-"
"Tidak berbohong dan memanfaatkan nama Baekhyun dan Kyungsoo sebagai teman yang akan menemani mu, kan?"
"Tidak!" Sehun cemberut. "Aku hanya mengatakan kalau ada teman yang akan menemani ku, dan aku tidak sebut nama. Kau kan juga teman ku, jadi itu tidak termasuk dalam kategori berbohong karena-"
Chup!
Sehun mengaga, ucapannya terhenti seketika saat bibir tebal Jongin mengecup bibir tipisnya dengan kilat, membuatnya merasa dunia yang di pijaknya berhenti berputar dan waktu terhenti begitu saja.
Oh-
Tuhan-
Hanya perasaannya-
Atau wajah Jongin memang semakin mendekat kearahnya -lagi?
Dan belum juga Sehun tersadar dari keterkejutannya, bibir Jongin kembali menempel dibibirnya.
Kali ini lebih lama dari sebelumnya-
Lebih dari sebuah kecupan-
Lebih dari hanya menempelkan bibir satu sama lain-
Dan Sehun merasa kalau kakinya berubah lemas seperti jelly saat lidah Jongin mulai memasuki rongga mulutnya-
Menguasai seluruh Indra pengecapannya-
Dan berakhir dengan-
"Would you be mine, Wu Sehun? I love you" bisik Jongin tepat di atas bibir tipis milik namja dihadapannya.
Sehun tersenyum dengan binaran bahagia dikedua mata indahnya. Ia tidak bisa berkata tidak saat kepalanya mengangguk begitu saja tanpa bisa ia cegah.
"Ya, aku mau!"
.
.
.
Niat awalnya sih Jongin memang akan menginap di rumah Sehun, tapi apa daya, Eomma nya tiba-tiba saja menelfon dan menyuruh nya untuk segera pulang. Bukan untuk apa-apa sih tapi Jongin juga baru ingat kalau malam ini ada acara keluarga dirumahnya, mau tidak mau Jongin harus pulang deh karena semua saudaranya berkumpul disana.
"Jadi, tidak jadi menginap?" Sehun berucap dengan nada sedih. Manik caramelnya masih menatap Jongin yang tengah menalikan tali sepatunya.
Namja tan itu mendongak sekilas sebelum kembali pada kegiatannya. "Maaf sayang, tapi malam ini benar-benar tidak bisa"
Jongin berdiri setelah selesai menalikan tali sepatu, lalu menangkup kedua sisi pipi putih Sehun yang tengah cemberut. "Maaf ya" ucapnya menyesal.
"Aku sendirian dirumah~" rengek Sehun.
"Bisa hubungi Bibi Jung kan?"
"Tidak mau!" Sehun semakin mempoutkan bibirnya. "Tidak mau Bibi Jung!"
Jongin menghela napas. "Lalu, mau sendirian dirumah begitu?"
Namja anggun dihadapan Jongin itu diam, tapi raut wajah manisnya masih menunjukkan kekesalan yang kentara. "Memangnya—"
Sehun berpikir. Mencoba mencari kata-kata tepat agar Jongin tetap mau menemaninya.
"Memangnya—"
"Memangnya Jongin tega membiarkan ku sendirian dirumah? Bagaimana kalau ada pencuri lalu merampok dan membuhku, atau mungkin yang lebih parah mungkin saja ada sadako yang akan mencekik ku saat aku tidur dan—"
"Baiklah baiklah" Jongin memotong kalimat yang akan kekasihnya itu ucapkan, dibarengi dengan sebuah kecupan singkat dibibir tipis yang masih mempout lucu itu.
"Menginap dirumah ku saja, bagaimana?"
"Huh?"
"Meningap di rumah ku" Jongin tersenyum. "Aku tidak bisa menemani mu dirumah mu karena benar-benar tidak bisa melewatkan acara ini. Jadi, bagaimana kalau kau menginap saja di rumah ku? Dengan begitu aku tetap bisa menemani mu, otte?"
"Tapi—" Sehun menatap Jongin, namun sedetik kemudian ia menunduk malu saat dirasa pipinya mulai merona samar.
Duhhh, menginap di rumah Jongin, pasti ada kedua orang tua Jongin. Astaga, Sehun belum siap di perkenalkan pada calon mertua— eh.
"Aku malu~" cicitnya pelan.
"Malu?" Jongin menaikan sebelah alisnya. "Malu kenapa?"
"Di rumah mu pasti ada orang tua mu lalu saudara-saudara mu"
"Iya, lalu kenapa?"
"Ish! Aku malu!" Sehun berucap kesal.
Jongin ini kenapa sih? Sudah dibilang Sehun malu, masih tanya kenapa!
"Iya iya aku mengerti" Jongin menahan tawanya melihat wajah Sehun yang makin terlihat menggemaskan ketika kesal seperti itu. "Maksud ku kenapa harus malu dengan kedua orang tua dan saudara ku?"
"Malu saja~" ucap Sehun pelan. "Pokoknya malu"
Jongin terkekeh, tangannya terulur mengusak pelan surai lembut Sehun. "Tidak usah malu, okay? Kau kan kekasih ku, wajarkan bila aku mulai menpernalkan mu pada orang tua dan saudara ku?"
"Iya, tapi—" pipi Sehun merona. "Aku—"
"Sudah, segeralah bersiap. Eomma sudah menunggu jadi kita harus cepat-cepat"
"Baiklah, Jongin tunggu disini, aku akan berganti baju dan menyiapkan perlengkapan sekolah untuk besok"
Jongin mengangguk, ia tersenyum saat Sehun sudah setengah berlari menuju kamarnya.
"Sayang berdandanlah secantik mungkin. Buat calon mertua mu berkesan~"
"YA! JANGAN MENGGODA KU!"
Dan teriakan Sehun dari dalam kamarnya sukses membuat si kekasih tampannya itu tertawa terbahak.
.
.
.
"Aku tidak mau hiks— aku mau pulang saja! Hiks— mommy hiks—"
"Ya! Ya! Sayang! Ada apa dengan mu sebenarnya?" Jongin menahan tangan Sehun, membuat namja anggun itu menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu pagar rumah Jongin.
Namja tan itu menaikan sebelah alisnya, menatap sang kekasih yang kini menangis dihadapannya. Err... Kenapa dengan kesayangannya ini? Ia baru saja membawa Sehun masuk ke rumahnya, lalu hendak mengenalkan Sehun pada mereka. Namun belum juga di kenalkan, tiba-tiba saja Sehun langsung berlari keluar dari rumahnya sambil menangis. Ck!
"Hiks— kenapa—" Sehun menatap Jongin dengan mata berkaca-kacanya. "Hiks— kenapa bisa ada Krystal dirumahmu?! Hiks— kau mengundangnya untuk menghadiri acara keluarga mu?!"
"Huh?" Jongin menaikan sebelah alisnya. "Krystal? Soojung maksudmu? Ya~ tentu saja. Eomma ku yang mengundangnya"
"Tuh kan hiks—"
Dan setelahnya Sehun menangis semakin kencang, dan itu membuat Jongin semakin bingung.
Ada apa dengan kekasihnya itu?
"Hiks— sudah sejauh apa hubungan kalian sebenarnya?! Hiks— kenapa bisa Kim eommonim hiks— mengundangnya ke acara keluarga Kim hiks— huweeee kau menganggap aku apa Kim Jongin?! Hiks— kenapa jahat sekali hiks—"
"Huh?" Kening Jongin semakin mengerut bingung. Ck, jahat apanya sih? Kok Jongin tidak mengerti.
"Apa maksudmu— Sehun?"
"Jangan pura-pura bodoh hiks— mengaku saja! Hiks— Krystal itu siapa mu?!"
"Krystal? Siapa ku?" Tanya Jongin memastikan. "Kalau hanya ingin tau soal itu, kenapa sampai harus menangis sih, eum?" Tangan kecoklatan itu terulur, mengusap air mata yang membasahi kedua pipi putih kesayangannya.
"Krystal itu sepupu ku, Memang nya kau tidak tau itu? Dia itu Putri dari adik Eoppa ku, dan dia tentu saja adalah anggota keluarga Kim, itu sebabnya dia diundang keacara keluarga ku"
"Iya hiks— aku tau kalau Krystal itu adalah sepupu mu tapi—"
"Ehhhhh?" Sehun memelototkan matanya, menatap Jongin dengan kedua mata membulat lucu.
"DIA SEPUPU MU?!"
Jongin mengangguk masih dengan ekspresi bingung yang terpatri jelas diwajah tampannya. "Y-ya Memang, dia itu sepupu ku. Kenapa?"
Sehun mengerjapkan matanya beberapa kali, tapi tangisnya benar-benar mereda sekarang. Otak cerdasnya berpikir keras. Mencoba mencerna apa yang baru saja Jongin ucapkan.
"D-dia, ah— maksudku Krystal itu benar-benar sepupu mu?" Sekali lagi, Sehun memastikan, mencoba meyakinkan kalau apa yang baru saja diucapkan Jongin itu nyata(?).
"Tentu saja, dia sepupu ku. Memangnya kau berpikir apa, eum?" Ibu jari milik Jongin kembali mengusap lelehan air mata yang masih tersisa dipipi Sehun.
"Tapi, Kyungsoo bilang, Krystal itu—" Sehun menghentikan ucapannya, mata sabitnya kembali mengerjap lucu. Tapi sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah(?) kesal saat ia sadar sesuatu—
Sial! Pasti satan—bantet—Soo itu mengerjainya!
"Kyungsoo? Kenapa dengan Kyungsoo?" Tanya Jongin penasaran.
"Kyungsoo—" Sehun menatap Jongin. "Kyungsoo bilang eum— Kyungsoo bilang kalau Krystal itu adalah teman dekat mu" ucapnya semakin memelan diakhir kalimat.
"Teman dekat?" Jongin menaikan sebelah alisnya.
"Eum—" Sehun mengangguk. "Kyungsoo bilang kalau Krystal itu sudah menginginkan mu sejak lama" namja anggun itu mempoutkan bibirnya. "Itu alasan kenapa tadi aku berani menemui mu dan memberi mu air minum lalu—"
Kedua pipi Sehun menyepuh merah, ada rasa kesal—merasa dibohongi— dan tentu saja malu karena dia sudah menangis Bombay dihadapan Jongin padahal pada kenyataannya Krystal itu hanya sepupu kekasih nya dan bukan seperti yang Kyungsoo katakan padanya.
"Lalu mencium pipi mu, dan y-ya" pipi Sehun semakin memerah. "Sebenarnya semua itu aku lakukan agar kau merasa kalau aku lebih perhatian padamu dan membuat mu paham kalau sebenarnya aku menyukai mu—" kedua telapak tangan Sehun menutupi wajah memerahnya—saking malunya— "dan tentu saja agar kau memilih ku dan bukan Krystal"
Setelahnya, namja anggun itu segera memeluk Jongin, menyembunyikan wajah merah malunya didada bidang kekasih tampannya yang kini tengah terkekeh geli sesaat setelah mendengar penuturan lucu kesayangannya itu.
Kkk, Sehun itu memang sangat polos ya? Pantas saja Baekhyun selalu bercerita tentang kelucuan Sehun yang selalu jadi bahan penjailan dua bantet Baekhyun-Kyungsoo, kkk.
"Jadi intinya—" Jongin melepas pelukan Sehun, digantikan dengan tangkupan di kedua sisi pipi merah milik namja manis itu. "Kesayangan ku ini, cemburu eum?"
Sehun mempoutkan bibirnya. Mata berkaca-kacanya menatap kesal kearah Jongin yang masih terkekeh.
"Wajarkan?"
"Iyaa... Iyaa baiklah" tangan kecoklatan itu terulur mengusak pelan surai lembut Sehun. "Tolong jangan cemburu lagi pada Krystal, dia itu hanya sepupu ku, okay? Aku tidak mungkin memiliki hubungan special dengan nya, karena aku sudah memiliki mu—" Jongin mengecup kening Sehun. "Oh Sehun, sosok sempurna untuk seorang Kim Jongin"
Manik kelam itu menatap mata sabit berbalut manik sewarna lelehan caramel milik namja anggun di hadapannya. "Kau Percaya padaku, kan?"
Sehun tersenyum, ia mengangguk sebelum kemudian berjinjit, dan—
Chup!
"Aku Percaya padamu, Kim Jongin"
.
.
.
Seperti yang Jongin katakan, acaranya memang dihadiri oleh hampir seluruh anggota keluarga Kim, bahkan Halabeoji dan Halmeoni Kim juga datang. Sehun merasa cukup senang karena mereka terlihat welcome sekali padanya. Bahkan, kini namja cantik itu terlihat tengah mengobrol akrab dengan Kim eommonim, berbeda dengan Jongin yang kini sudah terlalut dengan PlayStation nya bersama Jisung -sepupunya.
Sebenarnya Sehun sangat suka acara-acara keluarga semacam ini, Kim eommonim mengatakan kalau keluarga Kim rutin mengadakan acara keluarga seperti ini setiap bulannya. Berbeda dengan keluarga nya yang memang tidak sebesar keluarga Kim, mommy nya adalah anak tunggal, begitu juga dengan daddy nya. Jadi acara seperti ini Memang sangat jarang di lakukan, jangankan setiap bulan, setiap tahun saja sepertinya tidak.
"Jongin itu orangnya memang sedikit nakal, sangat suka bermain game dan dance. Tapi meski begitu, dia adalah anak penurut yang selalu menuruti perintah orang tua. Yahh, meski memang dia tidak jarang berbohong padaku atau pada Ayahnya, tapi setelah melakukannya, ia akan berterus terang dan meminta maaf pada kami" Kim Eomma menyimpan sepotong kue bulo ke dalam piring kecil milik Sehun, membuat namja anggun yang sedari tadi menyimak cerita nya itu bergumam Terimakasih dengan senyum manis di bibir tipisnya.
Mata sabit Sehun beralih, menatap Jongin yang kini terlihat serius menatap layar televisi dengan kedua tangan yang sibuk menjamah joystick yang dipegangnya, namun sedetik kemudian namja cantik itu kembali menatap Kim Eomma.
"Imonim, apa sebelumnya Jongin eum— pernah mengenalkan seseorang pada mu? Maksudku eum— kekasihnya sebelum aku"
Kim Eomma tersenyum. "Tidak pernah, Sehunnie adalah yang pertama"
"Wow, benarkah?"
"Tentu saja" Kim eomma mengusak pelan rambut Sehun. "Sehunnie adalah yang pertama. Aku memang pernah beberapa kali mendengar kalau Jongin memiliki kekasih, tapi Jongin belum pernah berani membawa nya ke rumah"
Sehun tak bisa lagi menyembunyikan senyum lebarnya sesaat setelah ia mendengar penuturan Kim Eomma.
Oh, jadi dia yang pertama ya? Dan yang pertama itu biasanya special, kkk. Jadi, Sehun itu pacar Jongin yang paling special, begitu? Kkkk~ duhh kok Sehun merasa kedua pipinya memanas.
"Imonim membuat ku sedikit malu" ucapnya pelan membuat wanita paruh baya berumur 49 tahun itu tertawa.
"Aku berkata yang sesungguhnya, Sehunnie. Mungkin Jongin merasa kau adalah sosok yang tepat untuk dikenalkan pada kami, dan ku rasa Jongin tidak salah pilih" Kim Eomma tersenyum. "Sehunnie sangat manis dan ramah. Eomma sudah merestui kalian berdua, jadi cepatlah selesaikan sekolah kalian lalu segera menikah agar aku bisa cepat-cepat menimang cucu, kkkk"
Oh, tolong—
Siapapun, cepat lah bawa Sehun ke masa depan agar Jongin bisa segera menikahinya dan memberi kan cucu untuk Kim eommonim, kkk.
.
.
"Jadi, apa saja yang Eomma ceritakan padamu tentang aku?"
Sehun mengalihkan pandangannya dari layar Ponsel sesaat setelah mendengar suara Jongin yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Kini, keduanya tengah berada di kamar Jongin. Sehun bilang ia mengantuk, makanya ia pamit duluan untuk tidur.
"Banyakkk" Sehun menggeser tubuhnya saat Jongin mulai membaringkan diri disebelahnya. "Kim imonim bercerita banyak tentang mu"
Jongin memiringkan tubuh nya, menghadap kekasihnya. Begitu juga dengan Sehun. "Oh ya? Apa itu? Eomma tidak menceritakan hal-hal yang memalukan kan?"
Sehun tertawa sebelum tangannya terangkat mencubit pelan hidung Jongin. "Tidak, tapi dia bercerita kalau putranya memiliki ketakutan terhadap badut, kkkk~ khahahahaha"
Jongin mendengus melihat Sehun yang kini menertawainya. "Eomma benar-benar menceritkan semua aib ku seperti nya"
"Ya— khahahahah tentu saja tak terlewat satupun, kkk"
"Apanya yang lucu?" Jongin meraih pinggang ramping Sehun, membawa tubuh kecil itu kedalam pelukannya.
"Lucu, khahahaha aku tidak tau kalau seorang Kim Jongin takut oleh badut kkkk~"
"Yak yak! Memiliki phobia terhadap sesuatu itu bukan hal yang aneh kan?"
"Tidak" Sehun mendongak menatap wajah kesal si kekasih tampan. "Tidak ada yang aneh kkk tapi phobia terhadap badut itu terdengar sedikit fffttt—"
"Menggelikan, khahahahaha"
Jongin kembali mendengus, tapi sedetik kemudian ia ikut terkekeh pelan melihat Sehun yang masih asik dengan tawanya.
"Hehey, sudah. Aku punya alasan untuk itu" sebelah kaki nya menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. "Aku akan menceritakannya nanti, tentang phobia ku terhadap badut. Tapi sekarang kau harus tidur, sudah Lebih dari pukul sembilan, dan kau bilang tadi sudah mengantuk kan?"
Sehun mengangguk sambil mengucek sebelah matanya.
Jongin tersenyum. "Kalau begitu, tidurlah" ia menunduk, mengecup kening Sehun lama, sebelum—
"Good night, heart. Mimpikan aku, I love you"
Sehun ikut tersenyum, ia mendongak dan mengecup dagu Jongin.
"Good night, heart. Mimpikan aku juga, I love you too"
Klik..
Jongin mematikan lampu tidurnya, sebelum kemudian kembali membawa tubuh ramping Sehun kedalam pelukannya.
Membawa Sehun kedalam mimpinya.
Mimpi indahnya.
Good night, world. Semoga esok hari akan lebih baik dari hari ini.
.
.
.
To be continue
.
.
.
Hallo, masih inget sama cerita ini? Kkkkk maaf ngaret :v
Ini special untuk kalian yang masih nungguin kelanjutan ff ini, kkk. Gimana udah manis belum? Apa hambar? Apa biasa aja? Wkwkwk
Tuh udah saya bikin KaiHun nya jadian :v sengaja juga gak nampilin Kris daddy sama Joonmyun mommy dulu, saya mau bikin moment manis KaiHun tanpa gangguan soalnya :v
Ah ya mungkin ini 3 chapter lagi ending, jadi yang masih mau fanfic ini lanjut, Tolong sempatkan menulis sepatah dua patah kata di kolom review ya^^
Okay, thanks~
See you next chapter~
Hann hunnie ^^
