Give Me a Second Chance

.

.

.

.

Author : U Know Me (?)

Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, and Other

Warning : Yaoi. Boys Love. Male x Male. Fanfic absurd dengan penceritaan yang sangat amburadul. Miss (ty) bergentayangan.

Saiia hanya meminjam nama para Cast disini. Hanya cerita ini yang murni punya Saiia.

Untuk kebetuhan cerita,jadi saiia mengganti marga Eunhyuk menjadi Kim.

Don't be Plagiat,Don't be flame, Don't be copy paste.

Selalu terapkan prinsip,"DON'T LIKE DON'T READ," Okeeehh.

.

.

Enjoy Reading~

.

.

Chapter 7

"Kau ingin bercerita?"

Sungmin melirik sebentar pada sosok disampingnya. Sebelum desahan pelannya mengalun kasar. Pria manis itu kembali menatapkan fokus matanya pada air tenang yang terpampang jelas didepannya. Memantulkan sinar senja sang penerang pagi.

Sungmin tersenyum tipis. Memandang kosong titik didepan sana dengan banyak hal yang bertumpuk dikepalanya. Pikirannya tengah melalang buana entah kemana. Membiarkan kesunyian menyelami keduanya lebih lama.

"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan Hae." Sungmin menunduk. Memandang ujung sepatunya. Membiarkan Donghae mengerut bingung. Bertanya- tanya akan maksud ucapan Sungmin.

"Eunhyuk. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan." Sungmin menggumam,diakhiri dengan senyum samar.

Donghae terdiam. Manik teduhnya beralih menatap sungai han didepannya dalam diam. Mendengar bagaimana Sungmin yang selalu menyalahkan diri akan perubahan sikap Eunhyuk,entah kenapa selalu membuatnya didera rasa bersalah. Ia tidak ingin Sungmin menyalahkan dirinya sendiri akan hal yang sebenarnya bukan kesalahannya. Semua yang terjadi diantara mereka,ia lah yang memulainya. Bukan Sungmin,juga bukan Eunhyuk. Tapi dirinya.

"Kau tidak harus menyalahkan dirimu seperti itu." Donghae menyahut pelan. Sorot matanya berpendar sendu.

Donghae tahu pasti jika Sungmin,sahabatnya sejak kecil itu sangat menyayangi Eunhyuk. Sungmin yang sejak dulu selalu mengatakan jika ingin memiliki seseorang sebagai saudara,membuat kehadiran Eunhyuk dalam kehidupannya seperti menjadi sebuah jawaban. Satu hal yang membuat Donghae yakin jika Sungmin tidaklah pernah membenci Eunhyuk. Bahkan hingga sekarang.

"Bukan kau Min. Tapi aku."

Mungkin akan berbeda jika itu Eunhyuk. Kenyataan jika ia lah yang sudah membuat luka itu,membuat Donghae sadar jika apa yang pernah ia lakukan dulu adalah satu-satunya hal yang membuat Eunhyuk bersikap seperti ini. Menutup mata dan juga hatinya tentang semua hal yang terjadi disekelilingnya.

Gumaman samar itu membuat Sungmin memandang padanya. Pria manis itu menatap sendu pria disampingnya. Seseorang yang ia tahu pernah menyukainya. Sungmin tidak tahu,kenapa Donghae bisa memiliki perasaan seperti itu? Ia bahkan sempat berpikir jika semua itu hanya omong kosong. Terlebih, Donghae yang saat itu tengah menjadi milik Eunhyuk.

Tidak. Sungmin tidak pernah mendengar ungkapan cinta itu dari mulut Donghae,sekalipun. Justru ia mendengarnya langsung dari mulut Eunhyuk sendiri. Kenyataan yang mampu menampar dirinya sendiri. Fakta bahwa apa yang selama ini ia lihat tentang hubungan Donghae dan Eunhyuk,tidaklah seindah seperti apa yang dipikirkannya.

Sungmin tersenyum kecil. Tangannya terulur untuk menepuk pelan bahu lebar Donghae. Membuahkan tatapan bingung dari Donghae.

"Aku mau bertanya satu hal padamu."

Sungmin memutar setengah tubuhnya. Menatap wajah tampan Donghae dengan serius. Donghae yang melihatnya makin mengerut bingung. Sebelum mendesah dan ikut memutar setengah tubuhnya untuk menghadap Sungmin.

"Apa?"

"Apa semua itu benar?" Sungmin menatap tepat disepasang manik teduh itu.

"Tentang?"

"Kau dan Eunhyuk."

Donghae diam. Memandang lirih sisi wajah Sungmin dengan mata menerawang. Sebelum mengangkat kedua bahunya tak acuh. Donghae Kembali menatap pada sungai han didepannya. Sungmin masih menatap wajah Donghae, dan helaan napasnya terdengar berat.

"Aku tidak tahu kenapa kau lebih memilih meninggalkan Eunhyuk. Menyukaiku? Ck. Yang benar saja." Ucapan terakhirnya lebih terdengar seperti di tujukan untuk dirinya sendiri.

"Faktanya,aku pernah menyukaimu Min." Donghae terkekeh sinis. Menertawakan dirinya sendiri.

"Lalu? Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku eh?" Sungmin memandang Donghae lagi. Mencoba menuntut jawab dari pertanyaannya. Sungmin hanya ingin memastikannya.

Tawanya mengalun pelan,sebelum terdiam kembali. Donghae melirik pada Sungmin. Menatap wajah imut sahabatnya.

"Entahlah." Gumamannya ragu.

"Kenapa? Apa karena Eunhyuk?"

Donghae tersenyum simpul. Ada getaran aneh didalam dadanya kala mendenger nama Eunhyuk. Langkahnya berpindah maju kedepan. Donghae memejamkan matanya. Membiarkan angin memainkan rambut hitamnya.

"Mungkin seperti itu." Maniknya terbuka. Menatap langit gelap yang sepi dari sinar bulan juga kerlipan bintang.

Sungmin memandang dalam diam punggung lebar Donghae. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menderanya sekarang. Bukan karena ia menyukai Donghae. Sungguh,bukan itu. Hanya saja,ia seperti bisa merasakan bagaimana perasaan yang ditengah dirasakan oleh seseorang yang sudah menjadi sahabatnya itu.

Sungmin tersenyum kecil. Ia hanya bisa berharap, semoga dua orang yang sangat berarti dihidupnya itu bisa saling memahami perasaan masing-masing.

"Kau lebih tahu mana yang terbaik untuk hatimu Hae."

Donghae terdiam. Tak lama sampai senyum kecilnya mengukir. Pria tampan itu menatap pada Sungmin dan terkekeh setelahnya. Donghae kembali menghampiri Sungmin. Berdiri tepat didepan sahabatnya.

"Kenapa?"

"Huh?"

Decakannya terdengar melihat wajah bingung Sungmin. Bukan rahasia lagi jika wajah Sungmin memang sangat menggemaskan untuk seorang pria. Dan Donghae mengakui itu.

"Kau tahu aku sudah menyakiti Eunhyuk. Dan, jika aku mau mengatakannya,kau seperti berharap aku kembali padanya?" Donghae menaikan sebelah alisnya. Sungmin tertawa mendengarnya.

Gelengan Sungmin membuat Donghae memandang bingung padanya. Sungmin mendesah pelan.

"Aku tidak tahu. Tapi,aku berpikir jika sebenarnya kalian memang masih saling menyukai." Sungmin memandang cepat pada Donghae,"Aku benarkan?"

"Kata-kata seperti itu,lebih cocok ditujukan untuk kalian berdua." Donghae menyentil pelan kening Sungmin,"Kau dan Kyuhyun." Lanjut Donghae melihat raut bingung Sungmin.

Sungmin diam. Pria Lee itu menatap pada Donghae. Sebelum helaan napasnya mengalun berat. Sungmin tersenyum tipis. Menatap Donghae sekali lagi dan tertawa kecil menemukan Donghae yang tengah memandangnya dengan intens.

"Ayo pulang. Aku lupa jika ada sesuatu yang harus aku beli untuk makan malam." Sungmin memutar tubuhnya. Memilih menghindar (lagi) dari topik pembicaraan yang selalu coba ia hindari.

"Sungmin."

Langkah Sungmin terhenti. Tak ada niatan memutar tubuhnya untuk menatap Donghae. Donghae mendesah pelan. Pria tampan itu melangkah menghampiri Sungmin. Tersenyum hambar sebelum mengalungkan lengannya pada bahu Sungmin.

"Kha."

Maniknya memandang bingung pada sisi wajah Donghae. Sungmin pikir,Donghae akan membahas tentang dirinya,tapi ternyata pria bermanik teduh itu lebih memilih diam. Sungmin tersenyum kecil, berakhir dengan dengusan geli.

.

.

.

Drrrt... Drrrt...

Getaran panjang pada ponselnya membuat Eunhyuk tersenyum tipis saat melihat nama sang ibu terpampang dilayar smartphonenya. Ia tidak bisa memungkiri jika dirinya merindukan ibunya. Sosok yang hampir satu bulan ini meninggalkannya sendirian,bersama Sungmin tentu saja, karena harus menemani Lee Appa untuk perjalanan bisnis.

"..."

"Ye Umma. Yoboseoyo." Tubuhnya beranjak dari ranjang empuknya. Langkah kakinya terayun menuju balkon kamar.

"..."

"Kami baik-baik saja Umma. Tidak perlu khawatir. Kapan Umma kembali?" Eunhyuk menumpukan lengannya dipagar pembatas. Menatap tak fokus pada kebun bunga ibunya dengan senyum kecil.

"..."

"Benarkah? Lusa?"

"..."

"Arraseo. Perlu kami jemput di Bandara?"

"..."

"Ne. Akan aku sampaikan pada Sungmin Hyung."

"..."

"Kau tau aku juga mencintaimu Umma."

"..."

Kekehan kecilnya mengurai. Eunhyuk memandang sebentar layar ponselnya setelah Mrs. Lee mematikan sambungan teleponnya. Mendesah kecil,lelaki kurus itu mengalihkan pandangan matanya kala mendengar deruman mobil. Eunhyuk terdiam memandang dua sosok yang baru saja keluar dari dalam body mobil. Menghela napas,Eunhyuk memilih untuk kembali masuk kedalam kamarnya. Tidak mau terlalu jauh memikirkan tentang dua orang itu. Yang selalu membuatnya kesal- menurutnya.

Eunhyuk mendecih. Bahkan,tanpa sadar pun ia selalu mencari-cari kesalahan orang lain karena keegoisan dirinya.

Kakinya terayun menuruni anak tangga. Matanya menatap pada pintu utama kediamannya saat seseorang baru saja membukanya. Maniknya menemukan Sungmin yang juga sempat menyempatkan diri untuk menatap padanya. Keduanya terdiam,sampai Sungmin memilih untuk memutus kontak mata keduanya dan melangkah menuju dapur dengan dua kantong plastik ditangan kanannya.

"Umma mengabariku kalau mereka akan kembali lusa."

Gerakan tangan Sungmin yang tengah memasukan bahan makanan kedalam lemari es terhenti. Sebelum kembali melanjutkannya sembari menggumam samar.

Eunhyuk diam,masih menatap pada punggung Sungmin. Desahannya mengalun pelan. Bahunya mengidik tak acuh. Ia bukannya tidak sadar tentang sikap Sungmin. Ia hanya tidak mau mengambil pusing akan sikap sang Hyung. Menurutnya,itu hanya akan membuatnya mengingat pembacaraannya tempo hari. Pembicaraan yang berakhir dengan dirinya yang menangis seorang diri. Cih. Mengingatnya saja enggan Eunhyuk lakukan.

Tapi,lebih dari itu. Ada sisi lain dihatinya yang membenarkan ucapan Sungmin kala itu. Namun dirinya terlalu egois untuk mau mengakuinya. Ia hanya tidak ingin siapapun tahu bagaimana dirinya selama ini. Ia yang selalu mencoba menutupi perasaannya yang sebenarnya. Bagaimana rapuhnya ia selama ini.

Tubuh Sungmin berbalik. Baru selangkah kakinya terayun,suara Eunhyuk mengintrupsi. Lelaki kurus itu melangkah kedepan lemari es. Membukanya, sebelum tangannya terulur untuk mengambil air dingin. Mengabaikan Sungmin yang menatap bingung padanya.

Kepala Eunhyuk berputar. Sebelah alisnya terangkat tidak mengerti pada Sungmin yang memandangnya.

"Umma bilang kalau ia mencintaimu."

Sungmin mendengus kecil karena Eunhyuk yang mengulang ucapannya. Ia menatap pada pria manis itu bukan karena ia tidak mendengar. Tapi lebih dari itu. Dirinya hanya merasa heran saja akan maksud ucapan sang Ibu.

Tidak biasanya.

Kedua bahunya mengidik. Sungmin kembali berbalik. Meninggalkan Eunhyuk yang juga mendesah tak acuh.

Sungmin melangkah meniti tangga menuju tempat kamarnya berada. Sedikit berpikir akan apa yang baru saja dikatakan Eunhyuk,tentang ucapan sang ibu. Hanya sedikit heran sebenarnya. Tidak biasanya Mrs. Lee tidak menghubunginya. Terlebih,wanita paruh baya itu juga tidak biasanya mengatakan kalimat-kalimat manis seperti itu. Hei~ ayolah,selama dirinya hidup bersama sang ibu selama ini,jarang sekali istri ayahnya itu mengatakan hal-hal manis seperti itu. Mrs. Lee lebih suka melakukannya dengan perbuatan.

Langkah kaki Sungmin terhenti dianak tangga terakhir. Kepalanya berputar,pikirannya menerawang,sedikit berpikir akan sikap Eunhyuk akhir-akhir ini. Seingatnya,sejak pembicaraannya dengan Eunhyuk tempo hari,sikap lelaki kurus itu sedikit berubah. Lebih lunak mungkin?

Sungmin mendecak. Tak adakah kata yang lebih baik dari itu? Batinnya mengumpat.

Memilih mengabaikan,Sungmin kembali melangkah. Tangannya terulur untuk membuka pintu kamar. Senyum kecilnya tersemat diujung bibir. Entahlah, kelegaan entah kenapa datang menyelinap masuk kedalam hatinya hanya karena perubahan sikap Eunhyuk.

.

.

.

Niatnya ingin pergi ke toilet untuk sekedar mencuci muka. Mengingat sekarang jam terakhir sementara Kim Saenim tidak masuk kelas. Hanya memberinya tugas yang harus dikumpulkan besok. Membuat Eunhyuk yang sudah merasakan kantuk sejak tadi mengukir senyum bahagia. Setidaknya dia bisa tidur sembari menunggu kelas berakhir. Tapi belum-belum bell berbunyi,pria yang semakin hari semakin terlihat mempesona itu justru terbangun karena suara berisik teman satu kelasnya. Membuatnya mendengus kala niatan untuk kembali melanjutkan tidurnya tak kunjung terlaksana. Sebelum bertemu muka dengan seseorang yang kini menatap padanya.

Eunhyuk diam. Sedikit menyingkir dari bibir pintu. Memberi ruang kosong untuk seseorang itu lewat. Tapi sampai detik berjalan mengejar menit,lelaki didepannya tak kunjung beranjak. Hanya kebisuan yang teredam lama.

Eunhyuk jengah. Terlalu malas hanya untuk sekedar membuka suara. Biarlah.

Dalam hati Eunhyuk menghitung mundur. Berniat menerobos masuk jika lelaki didepannya tak kunjung memberinya jalan.

Donghae bukannya tidak mengerti. Hanya saja,ia pun bahkan tidak tahu kenapa dirinya melakukan hal konyol seperti ini. Benaknya mengukir senyum geli kala mata teduhnya yang tak kunjung lepas menatap wajah ayu didepannya,mendapati tingkah lucu Eunhyuk. Sepasang manik itu mengedar tak jelas. Gelisah.

Tidak mau menatapnya sama sekali.

Deheman pelan mengalun dari bibir Donghae. Sekedar mencoba untuk mencegah senyumnya yang hampir mengukir. Ia hanya tidak mau Eunhyuk menganggap aneh dirinya yang tiba-tiba tersenyum.

Tubuhnya menyingkir. Memberi isyarat pada Eunhyuk jika lelaki manis itu bisa lewat sekarang. Decakan yang sangat pelan terdengar dari bibir Eunhyuk. Bahkan Donghae pun tidak mendengarnya sama sekali. Lelaki tampan itu hanya tetap bersikap tenang. Sekalipun matanya sempat bertemu pandang dengan mata Eunhyuk yang sempat melirik padanya.

Tubuhnya kembali berbalik. Senyum tipisnya langsung tersemat dibibir tipisnya. Donghae berdehem sekali lagi sebelum memilih pergi setelah melihat Eunhyuk yang masuk disalah satu bilik toilet.

"Sial!"

Eunhyuk mengumpat. Tubuhnya yang kini duduk diatas closet,terdiam. Kedua tangannya mengusap wajah manisnya dengan gusar. Tak lama. Karena detik selanjutnya,lelaki bermarga Kim itu menatap kosong lantai toilet. Membiarkan berbagai hal kini menari indah didalam pikirannya. Sampai senyum hambarnya mengukir disudut bibir.

Bibir bawahnya kini digigit kuat saat merasa dadanya berdegup menyesakan. Satu aliran bening terlihat samar menuruni pipinya.

Kenapa? Bahkan kini waktu sudah bergulir lama sejak saat itu,tapi kenapa hatinya tak jua kunjung membaik? Kenapa hatinya masih saja merasa sesak hanya karena bertemu Donghae? Sebisa mungkin Eunhyuk menyingkirkan rasa yang selama ini membelunggunya, tapi dirinya tak kunjung mendapat hasil. Justru rasa rindu itulah yang semakin membumbung tinggi.

Benar. Ia merindukan Donghae. Sangat.

Tapi siapa dia? Bahkan hanya untuk mengatakan apa yang tengah dirasakannya saja Eunhyuk tidak mampu. Tidak. Bukan karena tidak mampu,tapi lebih dari itu. Dia sudahlah tidak punya hak untuk mengungkapkan itu semua. Satu kenyataan yang selalu menampar telak dirinya.

.

.

.

Eunhyuk tengah berjalan ditrotoar jalan yang menuju kediamannya. Ibunya tadi menghubungi jika mereka sudah didalam mobil,dan hampir tiba. Tepat ketika Eunhyuk berdiri ditikungan jalan dekat rumahnya,mobil yang ditumpangi kedua orang tuanya terlihat. Eunhyuk tersenyum tipis. Berniat kembali melanjutkan langkah kakinya saat matanya menemukan mobil lain yang tengah melaju kencang tertangkap kedua pasang matanya.

Semuanya terjadi begitu cepat. Bahkan hanya dalam hitungan detik. Eunhyuk mematung saat mobil yang melaju kencang itu menabrak keras mobil yang ditumpangi kedua orang tuanya yang hendak berbelok.

"ANDWE!"

Jeritannya tersamarkan oleh suara hantaman keras mobil ayahnya yang terbalik. Terseret beberapa meter sebelum akhirnya menabrak tiang listrik yang berdiri angkuh disana.

Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya langsung mengalir cepat. Eunhyuk ingin berlari. Menghampiri kedua orang tuanya. Tapi bahkan ia tidak bisa melakukannya. Kakinya terlalu lemas hanya untuk sekedar bergeser.

"Andwe... Umma."

Hanya gumamannya lah yang terdengar. Bahkan hingga beberapa orang mulai berkerumun disekitar kedua mobil naas itu,Eunhyuk seinci pun tak bergeser dari tempatnya. Hanya air matanya yang semakin mengalir deras. Pikirannya menerawang kosong dengan jantungnya yang kini berdetak menyakitkan. Eunhyuk menggeleng keras. Matanya kembali menatap pada mobil kedua orang tuanya. Seolah seperti mendapat kekuatan,lelaki kurus itu langsung berlari cepat menghampiri mobil ayahnya.

'Aniyo. Umma,kau tidak boleh pergi meninggalkanku.'

.

.

Sungmin tidak tahu lelucan macam apa ini. Bahkan baru beberapa menit lalu ia mendapat kabar mengejutkan dari Ryeowook tentang kabar kecelakaan kedua orang tuanya. Dan sekarang? Kabar yang tak kalah mengejutkan justru langsung menyerang kedua telinganya,tepat saat dirinya baru saja hendak menanyakan tentang hal apa yang sebenarnya sudah terjadi.

Mr. Kim langsung membawa Eunhyuk kedalam dekapan hangatnya. Mencoba memberi kekuatan pada sang anak kandung setelah mendengar diagnosa dokter yang baru saja melangkah meninggalkan mereka. Tangis Eunhyuk langsung pecah. Tangannya terulur untuk mendekap erat tubuh sang ayah. Sementara Ryeowook sudah menangis seraya berpelukan dengan sang ibu yang terdiam.

"Apa maksudnya?"

Sungmin menggumam lirih. Menatap pada tubuh Eunhyuk yang tengah terisak. Bola matanya berpendar gelisah. Sungmin menatap satu persatu wajah orang-orang disekitarnya dengan linglung. Sebelum segaris air mata mengaliri pipinya. Sungmin terisak. Isakan yang semakin lama semakin terdengar keras.

Donghae yang memang datang bersama Sungmin hanya terdiam membisu. Langkah kakinya terayun,berniat menenangkan Sungmin sebelum seseorang membawa tubuh Sungmin kedalam dekapannya. Donghae terdiam.

Tak peduli siapa yang kini tengah memeluknya,Sungmin hanya ingin menumpahkan rasa sesak didalam dadanya. Tangannya mencengkram erat punggung seseorang yang tengah mendekap erat dirinya. Pikirannya terlalu lelah hanya untuk menebak. Tapi saat wangi familiar seseorang menyeruak masuk kedalam hidungnya, barulah Sungmin sadar. Membuat tangisnya semakin terdengar pilu.

"Menangislah selama yang kau ingin."

.

.

.

.

Donghae memandang dalam diam pada Eunhyuk yang tengah menelungkupkan kepalanya diatas meja makan. Sejak kepergian Mr & Mrs. Lee dua hari yang lalu, dirinya memang jadi lebih sering berkunjung hampir disetiap waktu. Sekedar melihat keadaan dua orang itu mungkin?

Helaan napasnya mendesau berat. Sinar matanya menyorot sendu saat mengingat bagaimana dua hari ini, Sungmin dan Eunhyuk hidup layaknya raga tanpa nyawa. Mereka hanya terus mengurung diri didalam kamar masing-masing. Pernah sekali ia mendengar jeritan keras Sungmin ditengah malam. Membuatnya yang saat itu tengah duduk bersama Kyuhyun sembari menonoton tv dibuat kaget. Pada akhirnya,ia hanya membiarkan Kyuhyun lah yang menenangkan Sungmin. Dan lagi,mungkin memang Kyuhyun yang sekarang Sungmin butuhkan.

Tak!

Eunhyuk mengusap cepat pipi basahnya saat merasa seseorang sudah berdiri disisi tubuhnya. Mata beningnya memandang diam segelas air dingin yang tersaji didepannya.

"Minumlah."

Langkah kakinya terayun. Menempatkan diri untuk duduk sisi meja yang lain. Donghae terdiam, membiarkan keheningan menunjukan eksistensi diantara keduanya.

Dari pada Sungmin,entah kenapa,Donghae justru lebih mengkhawatirkan lelaki manis didepannya. Sejak saat Eunhyuk menangis meraung di rumah sakit,ia tidak lagi menjumpai lelaki kurus itu menangis. Hanya diam dengan tatapan yang menerawang kosong lah yang selalu ia lihat. Eunhyuk jadi sering melamun. Mungkin ini kali pertama ia menjumpai Eunhyuk kembali menangis. Sekalipun tanpa isakan.

"Kau sudah makan?"

Donghae menanyakannya bukan tanpa alasan. Kyuhyun sudah mengantarkan makan malam untuk lelaki manis itu kekamarnya tadi. Dan ia tidak tahu apakah Eunhyuk sudah memakannya atau belum. Ia tidak bisa memasuki kamar Eunhyuk seenaknya,ingat?

Eunhyuk tidak menjawab. Ia memang belum menyentuh makan malamnya tadi. Rasanya,sejak kepergian orang tuanya dua hari yang lalu,napsu makannya entah pergi kemana. Ia memang lapar,tapi rasanya enggan sekali tangannya untuk menyentuh makanan yang selalu Kyuhyun bawakan.

Donghae mendesah lelah. Ia bisa menebaknya sekarang."Kau bisa sakit Hyuk."

Donghae memandang lirih pada Eunhyuk yang lagi-lagi melamun. Ingin rasanya ia memarahi lelaki didepannya, tapi Donghae sadar jika ia tidak bisa melakukannya. Tidak tahukah Eunhyuk jika ia mengkhawatirkannya?

"Kenapa kau belum memakan makan malammu Hyuk?"

Suara Kyuhyun mengintrupsi. Pria tinggi itu mendengus kesal dengan tangannya yang tengah membawa nampan berisi makan malam Eunhyuk yang sudah disiapkannya.

"Makan!" Kyuhyun meletakan nampan yang dibawanya kehadapan Eunhyuk. Matanya menyorot tak kalah tegas dengan nada bicaranya.

Eunhyuk mendesah pelan. Tangannya terulur untuk memulai melahap makanannya. Kyuhyun tersenyum tipis. Pria tampan itu membawa tubuhnya untuk duduk tepat disamping Donghae. Keduanya terdiam. Membiarkan suara denting sendok lah yang menjadi pengisi suara ditengah kebisuan mereka.

"Bagaimana Sungmin?"

Donghae bertanya tanpa memandang Kyuhyun. Pria tampan itu masih memfokuskan diri menatap pada Eunhyuk yang tengah melahap makan malamnya. Dia bahkan tahu kala Eunhyuk menghentikan gerakan tangannya untuk beberapa saat.

"Sudah tidur."

Kyuhyun menggumam sebagai jawaban. Ada rasa lelah yang menyerang dirinya sekarang. Sudah dua hari ini ia kurang tidur karena khawatir dengan dua bersaudara itu. Membuatnya bolak balik kemari sekedar melihat keadaan keduanya. Bahkan sudah dua hari ini juga ia membolos sekolah untuk menemani Sungmin yang lebih suka mengurung diri dikamar dari pada pergi sekolah. Setidaknya,ada Donghae yang akan mengawasi Eunhyuk disekolah.

"Kau tidak pulang?"

Donghae menilik pada jam tangannya. Mendesah sekali melihat jarum pendek diangka 11 dengan jarum panjang yang menunjuk angkuh diangka 10. Kepalanya berputar kekiri dan kanan. Sekedar merilekskan otot-ototnya yang menegang kaku.

"Kenapa tidak kau saja yang pulang?"

Kyuhyun menaikan sebelah alisnya sanksi mendengar ucapan Donghae. Sebelum kekehannya mengalun lembut. Sementara sosok lain yang sejak tadi memilih fokus pada kegiatannya,tak ada niatan sedikitpun untuk menyahuti obrolan dua lelaki tampan didepannya.

"Maksudku,kau terlihat kurang tidur Kyuhyun. Lebih baik kau pulang sekarang. Biar aku saja yang disini."

"Eiii~ Kau bercanda? Bahkan wajahmu lebih mengenaskan sekarang."

Donghae mendecak."Terserahlah."

Eunhyuk yang mendengarnya mendesah lirih. Pria manis itu mendongak. Menatap sebentar wajah Donghae sebelum beralih memandang Kyuhyun dalam diam. Meringis dalam hati melihat bagaimana wajah keduanya yang terlihat begitu lelah.

"Kalian pulanglah." Ucap Eunhyuk. Membawa piring kotornya,dan meletakannya diatas meja dapur begitu saja. Kembali mengayun langkah kakinya menuju lemari es. Mengabaikan dua pasang mata yang menatapnya dalam diam.

Kyuhyun mendecih."Aku akan menginap disini!" Sahutnya tegas. Sorot matanya menunjukan jika ia tidak menerima alasan apapun yang mungkin saja akan Eunhyuk layangkan.

Eunhyuk mendecih. Tak berniat menyahuti ucapan Kyuhyun. Jika pun ia melarangnya,ia tahu pasti kalau Kyuhyun akan mengabaikannya. Biarlah. Terserah apa yang akan mereka lakukan dirumahnya. Yang jelas,ia butuh tidur sekarang. Kepalanya pusing.

Setelah kepergian Eunhyuk,yang tak mengucapkan sepatah katapun,keduanya terdiam. Membiarkan kebisuan menyelami eksistensi masing-masing. Sebelum desahan Donghae menguar berat. Pria tampan itu menyenderkan setengah tubuhnya dengan nyaman. Kepalanya mendongak,sedang manik teduhnya menutup pelan.

"Aku tidak tahu hubungan macam apa yang selama kalian jalani."

Donghae mengumpat dalam benaknya mendengar kata-katanya sendiri. Terlalu ambigu. Tapi toh ia tidak mau memikirkannya. Terlalu malas hanya untuk sekedar mencari kata-kata yang tepat.

"Kenapa harus memikirkannya?" Kyuhyun terkekeh kecil.

"Aku tidak memikirkannya. Hanya penasaran." Donghae menyahut tanpa membuka kedua manik matanya yang terpejam.

Kyuhyun mendecak."Yang jelas,hubungan kami tidak seperti hubungan kalian."

Maniknya terbuka. Donghae menatap pada Kyuhyun datar. Tahu pasti akan maksud ucapan lelaki didepannya."Apa maksudmu?"

Kedua bahunya terangkat tak acuh. Kyuhyun memilih beranjak dari kursinya. Tak memiliki niatan sama sekali untuk membahas masalah hubungannya dengan Eunhyuk lebih jauh pada Donghae.

"Sudah malam. Sebaiknya kau cari tempat untukmu tidur." Kyuhyun menyeringai. Membawa langkah kakinya meninggalkan Donghae yang mendengus kesal.

.

.

Give Me a Second Chance~

.

.

Setidaknya,pagi ini Kyuhyun bisa mendesah lega karena Sungmin mau keluar dari kamarnya. Bahkan pria manis itu sudah siap dengan stelan seragam sekolahnya. Walaupun raut wajahnya masih menunjukan kesedihan.

"Kau bisa tinggal dengan Appa Kim mulai sekarang."

Pernyataan Sungmin menghentikan gerakan tangan Eunhyuk. Pria manis itu menatap tak mengerti pada Sungmin yang tak menghiraukannya sama sekali. Eunhyuk mendecak kala mulai mengerti akan maksud ucapan Sungmin.

"Tidak baik berbicara saat sedang makan Min."

Donghae menyahut datar. Pria tampan itu bahkan mengatakannya disela kegiatannya menyendok makanan. Ia paham maksud ucapan Sungmin. Dan ia tidak ingin mendengar dua bersaudara itu berdebat pagi ini.

"Kau berbicara seperti aku tepaksa saja tinggal disini."

Kyuhyun mendesah pendek. Pria Cho itu menatap bergantian dua kakak beradik itu dalam diam. Sebelum napasnya menghela kasar.

"Tidak bisakah membahasnya nanti saja? Kita sedang makan sekarang?"

Keduanya sontak terdiam. Sungmin menunduk. Dari dulu ia memang selalu takut jika Kyuhyun sudah berkata datar seperti itu. Lain Eunhyuk yang mendecak malas mendengarnya. Tanpa sadar ekor matanya melirik samar pada Donghae,yang sontak langsung menunduk saat ternyata pria tampan itu tengah menatap datar padanya. Dalam benaknya,Eunhyuk mencibir. Apa-apaan tatapannya itu?

"Mau kemana?"

Kyuhyun kembali bersuara melihat tubuh dua kakak beradik itu beranjak dari kursinya bersamaan. Sungmin terdiam. Sedang Eunhyuk menghela napas lelah. Kesal karena pertanyaan tidak penting yang dilayangkan Kyuhyun.

"Aku sudah selesai. Aku akan berangkat sekarang."

Eunhyuk melangkah pergi. Tak lama sampai Sungmin menyusul dibelakangnya. Kedua pria tampan berbeda marga itu mendesah bersamaan tanpa sadar,saling melirik sebelum beranjak berniat menyusul Sungmin dan Eunhyuk.

"Aku akan mengantarmu."

Kyuhyun mencekal lengan Sungmin. Menuntunnya menuju mobilnya tanpa menunggu jawaban pria manis itu. Maniknya menatap pada Eunhyuk yang memandangnya dalam diam. Kyuhyun melirik pada Donghae,sebelum kembali menatap Eunhyuk.

"Aku akan mengantar Sungmin. Kau berangkat dengan Donghae."

Eunhyuk mendengus,"Aku bisa berangkat sendiri!"

"Tidak bisakah kau cukup mendengarkanku?"

Lagi-lagi tatapan seperti itu. Eunhyuk mendecak. Matanya melirik pada tangan pria itu yang tengah menggenggam lengan Sungmin. Sementara pria lain yang namanya menjadi perdebatan dua sahabat itu hanya menatap keduanya dalam diam. Menyenderkan setengah tubuhnya pada dinding dengan tangan yang berlipat. Menyempatkan diri melirik pada Sungmin,dan mendengus geli melihat pria manis itu terdiam dengan kepala menunduk.

"Kau antarkan dia."

Donghae tidak menyahut. Hanya gumamannya yang mengantar mobil Kyuhyun yang mulai melaju meninggalkan pelataran rumah Sungmin.

"Naiklah." Kata Donghae setelah duduk dengan nyaman diatas motor sportnya.

"Aku bisa berangkat sendiri."

Gerakan tangannya yang hendak memakai helmet terhenti. Donghae menatap pada Eunhyuk dengan datar. Eunhyuk yang melihatnya mendengus geli. Ada apa dengan lelaki didepannya ini eh? Kenapa sikapnya jadi menyebalkan sekali? Kemana perginya seorang Lee Donghae yang selalu mengabaikan keberadaannya?

"Tsk! Keras kepala." Ucap Donghae saat Eunhyuk melangkah meninggalkannya.

Donghae mulai melajukan motornya. Tak lama karena ia kembali menghentikannya tepat didepan Eunhyuk. Tangannya terulur untuk menggapai lengan Eunhyuk dan membawanya lebih dekat.

"Naiklah. Kau bisa terlambat!"

"Dan itu bukan urusanmu!"

Eunhyuk menghirup napas pelan-pelan. Mencoba meredam setiap emosi yang mulai menjalar disendi tubuhnya.

Keduanya saling menatap untuk beberapa saat. Sampai Eunhyuk memilih memutus kontak mata keduanya,dan kembali melanjutkan langkah kakinya. Donghae terdiam, kepalanya berputar menatap pada punggung Eunhyuk yang menjauh. Senyum simpulnya mengukir. Donghae mendengus sebelum membawa motornya untuk melaju kencang meninggalkan Eunhyuk yang terdiam menatap kepergiannya.

.

.

.

TBC~

Special thanks for,

babyhyukee. Adorableun. 69912052. Etoilepolarise. dekdes. abilhikmah. isroie106. dekdes. nurul. . HHSHelviJjang. jewel0404. she3nno. cho. .794. fine. nuna. nanaxz. haohaehyuk. HAEHYUK IS REAL. cikatatsuya. . ahahyuk. Misshae d'cessevil. 25jewels. krisTaoPanda01. rianalupamelulu. yhajewell. Yenie Cho94. kartikawaii. RisaSano. Haehyuk546, hyona. nanaxzz. Kyuhyuk addict. mizukhyyank eny. Polarise437. Yeri Lixiu. chaerashin. mankhey. kyuhyukhae, Namekeysha. wullancholee. jihyuk44. eunhyukuke. HaehyukYunjae. Tina KwonLee. Rinhyuk. Dan semua para Guest. Buat yang udah ngefollow dan yang ngefav, thank U so much :* Kalian the best (y) #TebarkolorEunhyuk

Apa penceritaannya terlalu lambat? Maaf jika Chap ini mengecewakan. Saiia merasa,alurnya semakin gha sesuai sama genre utama,Hurt/Comfort #Pundung

Tapi yasudahlah,saiia akan berusaha kembali kejalur yang benar #plok

Terima kasih loh yang udah 'meneror' saiia selama ini untuk cepet-cepet update. Hahahaha~~ tjivok dolo sini #Chu

Kalo ada kritikan,saran,atau masukan silahkan katakan saja. Jangan sungkan okeeh. Mau kritikan pedes macem sambel,atau alus macem gula putih(?) saiia terima dengan senang hati kok :) Asal jangan ngebashing aja. Karena saiia benci itu. Saiia yakin kalian pasti tahu,dan bisa ngebedain mana kritik dan mana bashing,begitupun saiia. Jadi tenang saja okeehh. Sampaikan saja unek-unek kalian #Senyummanis

Oia,saiia ada sedikit pengumuman. Mungkin dari kalian ada yang minat mengunjungi blog kami? Kkkkk~ Hanya jaga-jaga jika saiia tidak bisa post disini lagi. Untuk sementara ff yang saiia post disana,sudah pernah saiia post disini. Untuk linknya silahkan cek bio saiia #wink

.

.

Hope U like it :)

Sorry for typo,and

See Yaa~

.

.

Rabu,06 Mei 2015

NoonaRyeo ( -_* )