Give Me a Second Chance
.
.
.
NoonaRyeo
.
Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, and Other
.
.
Warning : Yaoi. Boys Love. Male x Male. Fanfic absurd dengan penceritaan yang sangat amburadul. Miss (ty) bergentayangan.
Saiia hanya meminjam nama para Cast disini. Hanya cerita ini yang MURNI Punya Saiia.
Untuk kebetuhan cerita,jadi saiia mengganti marga Eunhyuk menjadi Kim
.
.
"No Plagiat... No Flame... No Copy Paste... and,Don't Bash the Chara..."
.
.
Selalu terapkan prinsip,"DON'T LIKE DON'T READ," Okeeehh.
.
.
Enjoy~
.
.
Chapter 8
"Memikirkan sesuatu?"
"Huh?"
Lembaran buku dibuka pelan. Kacamata minus yang bertengger nyaman dihidung mancungnya seolah ingin menyembunyikan manik indahnya dari terpaan angin yang berhembus sunyi. Kibum menggerakan kedua bola matanya mengikuti deretan huruf yang bersambung pada buku dalam genggamannya.
"Kau melamun sejak tadi. Apa yang sedang kau pikirkan?"
Kibum mendesah,pelan. Tangannya mengelus lehernya yang sedikit terasa sakit karena membungkuk- setelah cukup lama membaca.
Eunhyuk menggeleng. Nafasnya menggaung pelan setelahnya. Sebelum melirik sahabatnya yang duduk disampingnya, dengan sebuah buku tebal yang menjadi fokusnya. Kembali Eunhyuk menghela napas. Membawa punggung sempitnya menyandar pada dinding dibelakang tubuhnya.
"Aku turut bersedih untukmu."
Eunhyuk melirik Kibum yang memandang lembut padanya. Mendecih pelan,dan tersenyum tipis sembari mengangguk pelan.
"Gomawo."
Kibum terdiam menatap wajah manis Eunhyuk. Tangannya terulur untuk meremas lembut bahu kecilnya,dan tersenyum tipis. Berharap jika sahabatnya tidak terlalu lama terpuruk karena kepergian orang tuanya.
"Kau ingatkan,beberapa hari lagi kita akan ujian akhir semester? Aku harap,kepergian orang tuamu tidak membuatmu terus terpuruk." Kibum terdiam sejenak. Memandang lembut Eunhyuk yang menatap kosong padanya. "Hyuk-ah,jangan ragu mengatakannya padaku jika kau membutuhkan teman untuk berbagi cerita, hm?"
Eunhyuk tertawa kecil. Membalas tak kalah lembut tatapan Kibum padanya. Terkadang Eunhyuk bertanya-tanya,ia yang saat itu- saat pertama kali menginjakan kakinya disekolah ini- enggan berbasa-basi atau sekedar bertegur sapa dengan siswa lain- sekalipun itu teman satu kelasnya- tapi entah kenapa,ia mau saja mengeluarkan suaranya untuk Kibum saat itu. Eunhyuk ingat jika disinilah- atap sekolah- keduanya kali pertama bertemu.
"Aku seperti melihat sisi seorang Kim Kibum yang lain," Eunhyuk terkekeh kecil. Membuat Kibum memandang malas padanya. Eunhyuk tergelak melihatnya.
"Memang bagaimana kau melihatku selama ini,eh?" Kibum memutar malas kedua manik indahnya. Menyibukan diri dengan ponselnya ketika benda pintar itu bergetar.
"Haruskah aku mengatakannya?"
"Lupakan." Kibum menyahut datar. Membuat Eunhyuk,sekali lagi tergelak.
Keduanya terdiam setelahnya. Membiarkan sunyi menunjukan eksistensinya sekarang. Eunhyuk mengulurkan tangannya, memungut daun maple kering yang jatuh tepat didepannya,yang terbang melayang karena angin yang berhembus. Kibum melirik sosok disampingnya yang tengah menatap daun maple dalam genggaman jemarinya. Menatapnya dalam diam. Kibum menghela napas pelan. Begitu banyak hal sebenarnya, yang cukup membuat seorang Kim Kibum penasaran. Penasaran akan sosok seorang Kim Hyukjae. Kibum merasa jika Eunhyuk yang selama ini dikenalnya, bukanlah dia yang sebenarnya. Dan jika itu memang benar,lalu apa yang sudah membuatnya menjadi seperti itu? Sosok yang akan menjelma menjadi sosok yang lain jika tidak sedang dengannya ataupun kyuhyun. Eunhyuk hampir tidak pernah mengumbar senyumnya didepan orang lain, jika bukan dengannya. Pengecualian untuk Kyuhyun, karena pernah sekali ia melihat Eunhyuk menangis didepan namja Cho itu.
"Apa yang harus aku lakukan Kibummie?"
Kibum menoleh cepat kala mendengar suara lirih Eunhyuk yang menggaung menyapa gendang telinganya. Tatapan kosongnya membuat Kibum terdiam. Eunhyuk menatapnya dengan senyum miris diujung bibir.
"Wae?" Sahut Kibum lirih.
Eunhyuk terkekeh sarkastik. Membawa kepalanya untuk bersandar dibahu Kibum. Matanya terpejam. Menghalau kristal bening yang kini sudah mulai berkumpul dipelupuk matanya.
"Aku bingung." Bisiknya samar.
"Apa yang sudah membuatmu bingung?"
"Aku tidak tahu." Lanjut Eunhyuk pelan. Kepalanya menunduk. Memandang kosong ujung sepatunya. Kibum terdiam.
"Hyuk-ah."
Eunhyuk mendesau sekali. Mengangkat kembali kepalanya,dan memandang Kibum. Tertawa pelan setelahnya.
"Kau ingin mendengarnya?"
"Hanya jika kau ingin mengatakannya."
Eunhyuk mencibir mendengarnya. Kembali mengalihkan pandangan matanya. Mendongak. Menatap langit biru diatas sana.
"Sungmin."
"Sungmin?"
"Saudara tiriku."
"Eh?"
Eunhyuk tersenyum memandang Kibum. Dia memang belum pernah menceritakan tentang keluarganya kepada siapapun, termasuk Kibum. Kecuali Kyuhyun tentu saja.
.
.
.
.
"Aku penasaran."
Siwon meletakan ponselnya keatas meja bundar didepannya. Punggungnya menyender pada kursi kayu dibelakangnya. Yesung yang duduk tepat disampingnya menatapnya sekilas.
"Tentang?" Yesung menyahut dengan keningnya yang terangkat sebelah.
Siwon menatap Kyuhyun- yang tengah mengunyah apel- dengan tangan yang saling menyilang diatas dada. Yesung ikut menatap Kyuhyun. Dan kembali menatap Siwon.
"Apa?" Tanya Kyuhyun bingung.
"Sebenarnya,apa hubunganmu dengan Eunhyuk, Cho?"
Kyuhyun tidak langsung menjawabnya. Lebih memilih mengunyah apelnya dengan nikmat. Ketika melihat tatapan intens Siwon, ditambah tatapan ingin tahu Yesung, Kyuhyun mendecak kesal. Mengunyah malas sisa apel didalam mulutnya.
"Memang apa yang kau pikirkan?" Kyuhyun menyahut malas.
"Aku tidak memikirkan apapun."
"Kau tidak akan bertanya jika kau tidak memikirkannya,Choi." Kyuhyun menyeringai. Membuahkan decakan malas dari bibir tipis Siwon.
"Terserah apa katamu."
Kyuhyun mengidik tak acuh. "Jawaban apa yang kau inginkan,hm?"
Siwon langsung memutar kedua bola matanya, sedang Yesung menatap malas padanya. Kyuhyun terkekeh keras melihat ekpresi kedua sahabatnya yang memang lebih tua darinya.
"Ayolah,tidak ada hubungan macam apapun diantara kita,kalian tahu itu." Jelas Kyuhyun santai.
"Jika yang dimaksud Siwon adalah hubungan seperti itu,kami percaya,melihat bagaimana selama ini kau mengencani banyak wanita. Tapi aku yakin bukan itu yang Siwon maksud."
Siwon mengangguk mengiyakan. Sedang Kyuhyun memandang malas Yesung karena kalimat ambigunya. Yesung mengangkat bahunya tak acuh. Kyuhyun yang melihatnya mendecak malas.
"Kenapa kalian harus tahu?"
Siwon menghela napas. Kesal karena Kyuhyun yang bertele-tele. Dia berpikir, kenapa Kyuhyun seperti enggan sekali untuk mengatakannya? Semakin meyakinkannya jika memang ada sesuatu diantara keduanya.
"Jangan berpikir macam-macam,Choi." Bola matanya berputar malas. Kyuhyun mencomot buah anggur didepannya.
"Maka cukup kau mengatakannya agar aku tidak berpikir macam-macam seperti yang kau bilang."
Kyuhyun tidak menjawab. Hanya memandang sekilas pada Siwon. Tatapannya beralih pada Yesung yang mengernyit menatap padanya. Memandangnya intens. Pria Kim itu sedikit berpikir, ada apa hingga Kyuhyun menatapnya seperti itu?
"Aku mau bertanya padamu hyung. Sejak kapan kau berpacaran dengan Kim Ryeowook?"
"Huh?"
Siwon mengerut bingung. Sebelum kemudian menoleh cepat kearah Yesung. Menemukan pria yang lebih tua darinya itu tengah terdiam menatap Kyuhyun.
"Siapa Kim Ryeowook?" Suara Siwon terdengar. Menyadarkan Yesung. Membuat kontak mata keduanya terputus. Yesung berdehem gugup. Kyuhyun yang melihatnya menyeringai.
Yesung tidak langsung menjawab. Membiarkan pertanyaan Siwon menggantung diudara. Bertanya-tanya,kenapa Kyuhyun justru menanyakan hal yang- menurutnya- tidak ada hubungannya sama sekali dengan pertanyaan Siwon sebelumnya.
"Well,Kim Ryeowook adalah adik tiri Kim Hyukjae." Jelas Kyuhyun tak acuh.
"Apa?"
Siwon kembali melirik Yesung mendengar pria itu menyahut cepat. Sedikit memekik. Rautnya makin mengerut bingung. Siwon mendesah jengah karena ia merasa seperti orang yang tidak tahu apapun disini.
"Ayolah,jangan membuatku bingung."
Kyuhyun mendelik jengkel pada Siwon. Ada apa dengan lelaki tampan itu sekarang? Kemana perginya otak cerdasnya itu,eoh?
"Kau mengenal Ryeowookie?" Tanya Yesung menatap Kyuhyun. Sorot matanya seolah menuntut jelas.
Kyuhyun mencibir mendengar panggilan manis Yesung untuk Ryeowook. Dalam benaknya menimbang,haruskah ia menceritakannya sekarang? Melihat tatapan mata Yesung dan Siwon,Kyuhyun sadar jika ia tidak punya pilihan lain selain menceritakannya.
"Well,Kim Ryeowook yang sekarang menjadi kekasihmu,dia adalah adik tiri Eunhyuk. Orang tuanya bercerai saat dia ada disekolah dasar_" Kyuhyun melirik sekali lagi kedua orang didepannya."_Ayah Eunhyuk menikah lagi dengan ibu Ryeowook,dan ibu Eunhyuk menikah dengan ayah Sungmin."
Yesung dan Siwon mengangguk hampir bersamaan. Kedua pemuda tampan itu saling melirik,sebelum kembali menatap Kyuhyun. Ketika mendengar langkah kaki yang mendekat, ketiganya mendongak. Menemukan Donghae yang mengernyit bingung. Donghae langsung mendudukan dirinya disamping Siwon.
"Ada apa?" Tanyanya bingung. Menenggak soft drink milik Siwon.
"Sungmin? Lee Sungmin?"
Donghae hampir tersedak mendengar Yesung menyebut nama Sungmin. Kyuhyun kembali mencomot buah anggur dan mengunyahnya pelan sembari mengangguk mengiyakan.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Donghae cepat. Kyuhyun langsung mendecih samar.
"Kau masih belum menjawab pertanyaanku, Cho." Sahut Siwon setelahnya. Mengabaikan Donghae.
"Kami tidak ada hubungan apa-apa. Dia sahabatku sejak sekolah dasar. Seseorang yang selalu datang mencariku ketika kedua orang tuanya bertengkar." Kyuhyun mengatakannya seraya memandang Donghae dalam diam.
"Kami... tidak ada hubungan apapun." Ulang Kyuhyun masih memandang Donghae. Dengan sedikit nada penekanan disana. Yesung dan Siwon terdiam melihat keduanya yang saling menatap. Mereka mengerti sekarang.
Siwon mendecak. Sedikit mengumpati dirinya sendiri ketika ia bahkan tidak tahu jika ternyata hubungan keduanya terlalu rumit. Ia teringat kembali akan ucapan Donghae tempo hari. Yesung menghela napas keras. Membanting pelan punggungnya pada sandaran kursinya. Tangannya bersedikap diatas dada. Menatap Donghae sebentar, dan kemudian memandang Kyuhyun. Dan dia baru sadar jika apa yang Donghae maksud sudah menyakiti Eunhyuk,ternyata pria itu sudah mencampakan sosok manis itu. Dan Yesung sedikit mengutuk dirinya karena ia bahkan tidak tahu kalau ternyata Eunhyuk saudara tiri Kim Ryeowook, kekasihnya.
.
.
.
.
Kamar luas itu masih menjadi tempat persembunyiannya. Seolah mengurungnya untuk tidak bertegur sapa dengan dunia luar. Manik foxy itu menatap hampa kaca bening jendela kamarnya. Memandang apa yang terproyeksi dari benda yang menggantung disamping ranjangnya. Langit hampir sepenuhnya menggelap. Hanya menyisakan sedikit gurat senja yang merayap. Ada kesakitan yang masih terasa didalam dadanya. Membuatnya sesak, bahkan sekalipun itu untuk bernafas.
Segaris air mata menuruni pipinya yang menempel diatas bantal,yang berlanjut dengan tetesan yang lain. Isakannya kembali terdengar diruangan luas kamarnya. Ia sendiri, kini. Tidak ada lagi orang tuanya. Tidak ada lagi ayahnya yang selalu menyayanginya. Tidak ada lagi ibunya yang selalu mengerti dirinya. Kedua orang tuanya telah pergi meninggalkannya. Meninggalkannya sendiri, dengan Eunhyuk yang membencinya.
Mengingat Eunhyuk,isakannya semakin mengeras. Wajah memerahnya- karena tangis- ia benamkan kedalam bantal. Sungmin tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia takut. Takut jika Eunhyuk akan pergi meninggalkannya juga, mengingat kini kedua orang tua mereka sudah tiada. Biar bagaimana, Eunhyuk masih memiliki orang tua yang lain. Percayalah, saat dirinya mengatakan jika Eunhyuk bisa pergi meninggalkan rumah ini, hatinya berdenyut nyeri. Ia tidak ingin Eunhyuk pergi.
Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Membuat ia segera menghentikan isakan tangisnya. Tapi sedikitpun Sungmin tidak berniat membawa tubuhnya untuk beranjak. Bahkan untuk menjawab pun,ia enggan.
Eunhyuk mendesau berat. Maniknya menyorot datar pintu bercat putih didepannya. Ia kesal sekarang. Sungmin pikir hanya dirinya saja yang sedih kehilangan kedua orang tuanya? Ia juga sedih. Bahkan hampir gila memikirkan jika sekarang,ibunya sudah tidak bisa bersamanya lagi. Mengurung diri didalam kamar terus menerus bukanlah solusi yang baik. Itu hanya akan membuatnya terus terpuruk. Dan Eunhyuk tidak ingin Sungmin terus terpuruk.
"Lee Sungmin! Buka pintunya!" Eunhyuk berteriak kencang. Tidak peduli jika Sungmin akan terlonjak kaget karena teriakannya. Faktanya,Sungmin memang terlonjak kaget. Tubuhnya bahkan langsung terduduk hanya karena mendengar teriakan Eunhyuk. Kedua manik kembarnya memandang pintu kamarnya. Selama ini, Eunhyuk tidak pernah berteriak,terlebih padanya.
"Kubilang buka pintungnya,Lee Sungmin! Kau pikir,apa yang kau lakukan didalam,hah!?"
Sungmin mendengus. Tangannya mengusap kasar sisa air mata diwajahnya. Dadanya berderu kencang mendengar teriakan Eunhyuk. Ia kesal karena Eunhyuk berteriak padanya,dan seperti ada rasa rindu yang terobati didalam hatinya. Sungmin membawa tubuhnya untuk melangkah cepat menuju pintu kamarnya. Membuka kasar pintu tak berdosa itu hingga menabrak dinding dibelakangnya. Menyebabkan getaran pelan disektiar mereka.
"Kau pikir,apa yang kau lakukan,hah!? Berteriak seperti orang gila!" Sungmin memandang tajam Eunhyuk,yang langsung melotot karena mengatainya gila.
"Kau yang gila! Kau pikir dengan mengurung diri terus menerus,semuanya akan membaik!? Kau pikir dengan kau mengurung diri didalam sana,mereka akan kembali!?" Eunhyuk membuang nafas kasar. Berkacak pinggang didepan Sungmin yang masih menatap tajam padanya.
"Jangan egois Sungmin! Mereka juga orang tuaku! Menurutmu bagaimana perasaanku!?" Eunhyuk mengalihkan pandangan matanya. Menatap kosong kedalam kamar Sungmin.
Egois?
"Egois?" Sungmin menggumam lirih. Mendongak cepat menatap Eunhyuk dengan sorot terluka."Kau pikir aku egois? Lalu bagaimana denganmu,eoh?" Lanjutnya tersenyum sinis.
Eunhyuk terdiam. Tak berniat menyahut ucapan Sungmin. Masih memandang lurus kedalam kamar Sungmin. Menatap dalam diam boneka kelinci yang kini tergeletak diatas lantai. Eunhyuk tahu boneka kelinci itu.
Sorot mata Sungmin mendatar. Bibirnya terkatup rapat. Ia bukannya tidak tahu perasaan Eunhyuk. Biar bagaimana,adiknya itu juka menyayangi orang tua mereka. Hanya saja,jika ia kembali teringat akan kepergian kedua orang tuanya,selalu berhasil membuatnya berpikir,jika ia sendiri kini.
"Tahu apa kau tentangku,eh?"
Eunhyuk menoleh cepat kearah Sungmin. Mengernyit samar."Apa maksudmu?"
Sungmin mendengus sinis."Kau bahkan tidak tahu apa-apa tentangku,dan kau mengatakan jika aku egois?" Lanjutnya seraya berdecak."Bukankah kau yang egois? Kau menyalahkanku yang bahkan tidak tahu apa-apa karena Donghae memutuskanmu."
"Ini bukan tentang Donghae!" Eunhyuk menyahut cepat. Giginya bergemelatuk menahan geram. Ada apa dengan Sungmin? Kenapa membawa-bawa nama Donghae disini.
"Lalu? Bukankah sama saja!? Kau menyalahkanku! Kau berpikir jika aku yang sudah merusak hubungan kalian! Kau_"
"Kubilang,ini bukan tentang dia!"
"Lalu apa!? Apa!?" Tangis Sungmin kembali pecah. Bahunya bergetar hebat. Hatinya sakit. Sakit sekali. Membuatnya bahkan tidak bisa bernafas dengan baik. Seperti sesuatu menghalangi jalan pernafasannya. Membuatnya sesak,juga perih. Eunhyuk bahkan memilih mengalihkan pandangan matanya. Tidak ingin melihat tubuh sosok yang selalu mengumbar senyum manis itu menangis keras didepannya.
"Aku sendiri sekarang. Ummaku sudah pergi meninggalkanku,dan sekarang,mereka juga meninggalkanku. Lalu kau... kau bahkan membenciku. Kau juga akan meninggalkanku. Apa yang bisa aku lakukan sekarang?" Sungmin tersedu. Tubuhnya bahkan sudah merosot jatuh. Tangannya ia gunakan untuk menangkup wajahnya. Ia menyedihkan. Sangat menyedihkan.
Eunhyuk mendongak. Menghalau kristal bening yang sudah berkumpul dipelupuk matanya. Mencegahnya untuk tidak jatuh menuruni pipinya. Ditatapnya Sungmin dalam diam. Dan segaris air bening berhasil melesak turun dari mata indahnya. Dadanyanya sesak melihat Sungmin yang tersedu. Hatinya berdenyut sakit hanya karena mendengar isakannya. Eunhyuk tersenyum getir. Membawa tubuhnya terduduk didepan Sungmin. Tangannya ia bawa untuk mendekap Sungmin kedalam pelukannya. Eunhyuk menangis.
"Mianhae." Eunhyuk berbisik lirih ditengah isakannya."Mianhae hyung. Mianhae."
Sungmin menganggukan kepalanya yang melesak dileher Eunhyuk. Membalas pelukan Eunhyuk tak kalah erat. Tangisan keduanya saling bersahutan disetiap sudut ruangan luas rumah megah keluarga Lee. Mencoba melepas sesak yang selama ini membelenggu keduanya. Eunhyuk mengeratkan dekapan tangannya. Tetesan air mata masih berlomba menuruni pipinya. Membasahi kaos putih yang Sungmin kenakan. Dalam benak, berjuta kata maaf Eunhyuk rapalkan untuk Sungmin. Ia sadar. Sangat sadar jika selama ini, dirinya sudah menjadi sosok yang sangat egois.
Pada Sungmin,dan juga dirinya sendiri.
.
.
.
Keduanya berbaring nyaman diranjang Sungmin sembari saling memandang. Segukan Sungmin masih terdengar,menandakan jika lelaki imut itu baru saja menangis hebat. Membuat Eunhyuk mau tak mau terkekeh mendengarnya. Eunhyuk tertawa melihat mata sembab Sungmin. Membuatnya semakin sipit. Tidak sadar jika kondisi matanya pun tak jauh beda dari sosok didepannya.
"Apa yang kau tertawakan?" Sungmin mengerut bingung. Menyangga kepalanya dengan kedua tangannya yang berlipat. Ia rindu saat-saat seperti ini dengan Eunhyuk. Dimana mereka akan saling memandang dan berbagi cerita hingga jatuh terlelap.
"Matamu." Eunhyuk tergelak saat Sungmin langsung mendumel dengan bola matanya yang berrotasi malas.
"Kau tidak sadar jika sekarang matamu itu lebih jelek dariku?" Sungmin mencibir.
Eunhyuk menggeleng."Aku tidak yakin." Sahutnya menyeringai.
"Ya!"
Eunhyuk tertawa keras. Tak perduli Sungmin yang mendelik padanya. Keduanya membiarkan Sunyi yang kini merayap. Sungmin terdiam memandang Eunhyuk yang menatap langit-langit kamarnya. Ia rindu tawa itu. Ia rindu suara tawa itu. Ia rindu bagaimana gummy smile indah itu terukir dibibir Eunhyuk. Dan Sungmin sadar sudah lama sekali ia tdak melihatnya.
"Kau... tidak akan pergi meninggalkanku, kan?" Sungmin menggumam ragu. Menggigit pelan bibirnya saat Eunhyuk menoleh cepat menatapnya.
"Kau ingin aku pergi?" Tanya Eunhyuk.
"Tidak." Sungmin menyahut cepat. Berharap jika Eunhyuk tidak akan meninggalkannya sendirian.
Eunhyuk memamerkan senyum lembutnya. Menggunakan kedua tangannya untuk menyangga kepalanya dan berbaring miring memandang Sungmin."Jikapun aku pergi, kau bisa ikut bersama denganku."
Sungmin terdiam beberapa saat,sebelum tersenyum tak kalah lembut menatap Eunhyuk. "Kau tahu aku menyayangimu, kan?"
"Tapi kau tidak mencintaiku,kan?"
"Ya!"
Eunhyuk kembali tergelak. Disusul suara tawa Sungmin. Keduanya tertawa. Dalam benak Eunhyuk berpikir,kapan terakhir kali ia tertawa selepas ini?
Keduanya berhenti saat mendengar bel rumah mereka berbunyi. Sungmin memandang Eunhyuk sebentar,dan membawa tubuhnya untuk beranjak duduk.
"Kurasa itu mereka."
Eunhyuk tidak menjawab. Hanya memejamkan matanya dan berbaring membelakangi Sungmin."Kau saja yang menemui mereka. Aku mengantuk." Katanya pelan.
Sungmin terdiam,dan menghela napas setelahnya. Membawa tubuhnya untuk beranjak dan melangkah menuju pintu kamarnya. Berniat menemui mereka,dua orang yang selalu datang berkunjung kerumahnya beberapa hari ini.
Eunhyuk membuka matanya setelah Sungmin pergi meninggalkannya. Mendesau sekali, Eunhyuk membawa selimut tebal Sungmin untuk menutupi seluruh tubuhnya.
.
.
Give Me a Second Chance~
.
.
Sungmin terdiam memandang sosok didepannya. Dia Kyuhyun,yang balas memandangnya dalam sendiri sekarang,tidak ada Donghae yang datang bersamanya.
"Kau sendiri."
Itu pernyataan. Kyuhyun yang mendengarnya mengidik tak acuh."Dia ada urusan. Tidak bisa datang kemari, jika kau ingin tahu."
Sungmin menunduk. Bukan itu maksudnya.
"Masuklah." Kata Sungmin pelan. Menuntun Kyuhyun menuju ruang tamu.
"Duduklah."
Kyuhyun masih tidak bersuara. Hanya melakukan apa yang Sungmin katakan. Tidak niatan untuk bertanya akan kondisi mata lelaki imut itu. Melihatnya saja dia tahu kalau Sungmin baru saja menangis.
"Dimana Eunhyuk?"
"Dia ada dikamar." Kata Sungmin pelan.
Keduanya terjebak kebisuan yang cukup lama. Sekalipun hubungan mereka tidak sedingin dulu,dan ini bukan kali pertama mereka terjebak kecangguan,tapi tetap saja keduanya masih tidak tahu harus berbicara apa. Terlebih Sungmin, demi Tuhan, dia gugup sekarang.
"Mau minum sesuatu?" Sungmin berujar lirih.
"Tidak perlu."
Lagi. Keduanya terdiam. Membiarkan keheningan membisu lebih lama. Kyuhyun mendesau keras. Ia benci keadaan seperti ini. Sungmin mendongak mendengarnya.
"Kau sudah makan?" Tanya Kyuhyun pelan.
Sungmin menggeleng. Ia ingat jika sejak dirinya dan Eunhyuk menangis bersama, mereka belum makan malam.
Kyuhyun mendecak samar. Dia mengeluarkan smartphonenya. Memandang Sungmin sebentar."Mau makan apa?" Tanyanya bersiap memesan makanan cepat saji.
Sungmin menggeleng. Melirik ragu pada Kyuhyun yang kembali menatapnya."Aku rasa sudah ada makanan dimeja makan." Sungmin menggumam pelan.
Kyuhyun tidak menyahut. Hanya mengangguk mengerti."Kalau begitu, pergilah makan sekarang."
Sungmin berdiri,melirik Kyuhyun sebentar. Dan memilih melangkahkan kakinya dengan pelan. Baru beberapa langkah,Sungmin memutar tubuhnya. Menatap Kyuhyun ragu.
"Kau... kau mau menemaniku?" Bisiknya terlampau lirih. Bahkan jika Kyuhyun tidak sedang menatapnya,mungkin namja jangkung itu tidak akan mendengarnya.
Kyuhyun tidak menyahut. Hanya membawa tubuhnya beranjak dan mengikuti Sungmin. Sungmin segera memutar kembali tubuhnya. Tanpa sadar,senyum tipis terpoles dibibir bershape M miliknya.
.
.
TBC~
.
.
Special thanks for...
chaerashin, rianalupamelulu, dekdes, Adorableun, kartikawaii, Yenie Cho94, Haehyuk546, Always HaeHyuk, eunhyukuke, , Misshae d'cessevil, Rinhyuk, HAEHYUK IS REAL, HaehyukYunjae, nanaxzz, mizukhy yank eny, Namekeysha, cho. .794, Tina KwonLee, el, Polarise437, NkPark, elfishy09, Name hen hen
Okeh... Semoga Chap ini tidak mengecewakan. Walaupun hampir (atau memang tidak ada?)pairing momentnya.
.
.
.
Hope U like it,
Sorry for typo,and
See Yaaaaa...
.
.
.
August,25 2015
NoonaRyeo ^^
