Give Me a Second Chance

.

.

.

NoonaRyeo

.

Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, and Other

.

.

Warning : Yaoi. Boys Love. Male x Male. Fanfic absurd dengan penceritaan yang sangat amburadul. Miss (ty) bergentayangan.

Saiia hanya meminjam nama para Cast disini. Hanya cerita ini yang MURNI Punya Saiia.

Untuk kebetuhan cerita,jadi saiia mengganti marga Eunhyuk menjadi Kim

.

.

"No Plagiat... No Flame... No Copy Paste... and,Don't Bash the Chara..."

.

.

Selalu terapkan prinsip,"DON'T LIKE DON'T READ," Okeeehh.

.

.

Enjoy~

.

.

Chapter 10

Berjam-jam kemudian, sekali pun Eunhyuk tidak bisa memejamkan matanya untuk kembali tidur. Hanya berbaring diranjangnya dengan pandangan yang menerawang. Hingga kini pagi datang menjemput.

Eunhyuk menghela napas berat. Matanya terpejam erat. Teringat kembali akan apa yang didengarnya semalam. Bibirnya mengukir senyum miris. Eunhyuk tidak tahu apa maksud Donghae mengatakan hal itu kepada ibunya. Entah kenapa, ia justru merasakan hatinya begitu sakit. Secuil rasa bahagia akan pernyataan Donghae semalam, seperti omong kosong. Eunhyuk justru merasakan luka hatinya yang semakin menganga.

"Kau sudah bangun?"

Sungmin menggeliat saat sayup-sayup sinar sang mentari pagi menerobos melalui celah hordeng yang berkibar. Walaupun sinarnya tidak terlalu terang, setidaknya rasa hangat itu bisa sedikit terasa mengingat semalam cuaca begitu ekstrim.

Sungmin memutar tubuhnya menghadap Eunhyuk yang tidak menatapnya. Dia memang lebih memilih untuk tidur bersama Eunhyuk daripada bersama Ryeowook yang terus memintanya tidur dikamar lelaki mungil itu. Terlebih, kondisi Eunhyuk juga sedang tidak terlalu baik.

Eunhyuk memutar kepalanya menatap Sungmin. Matanya yang bulat sipit tampak sayu. Itu wajar. Kondisi tubuhnya sedang tidak terlalu baik, dan semalaman dia tidak bisa tidur.

"Bagaimana keadaanmu?" Sungmin mengulurkan tangannya untuk menyentuh leher Eunhyuk. Mencoba mengecek suhu badan adiknya itu. Tidak terlalu panas seperti kemarin. "Masih pusing?"

Eunhyuk hanya mengangguk samar. Sakit kepalanya seolah bertambah jika teringat akan semalam.

Sungmin mendudukan diri. Dia menatap Eunhyuk lama dan menggeram pelan, merilekskan tubuhnya. Samar-samar dia teringat jika semalam dia melihat Eunhyuk yang keluar dari kamar. Sebelah alisnya terangkat karena bingung.

"Semalam kau keluar dari kamar?"

Eunhyuk mengangguk membenarkan. Bibirnya sedikit meringis saat ia mencoba mendudukan diri. "Hanya ke dapur untuk minum."

"Kenapa tidak membangunkanku?" sahut Sungmin kesal. Nada khawatir begitu kentara disana. Tentu saja, dirinya memilih untuk tidur bersama Eunhyuk karena dia ingin menjaga lelaki kurus itu. Siapa yang tahu jika Eunhyuk membutuhkan bantuannya. Tapi apa yang sudah ia dengar tadi? Eunhyuk justru lebih memilih untuk merepotkan dirinya sendiri.

"Aku hanya tidak tega membangunkanmu. Kau terlihat lelah." Eunhyuk mengelus lehernya yang terasa sedikit nyeri. Menggeleng pelan mencoba mengusir rasa pusing yang terus menyerang kepalanya.

"Kalau begitu, untuk apa aku memilih tidur disini, eh?"

Sungmin menghela napas lelah saat Eunhyuk menatapnya dengan sorot memohon. Pertanda jika Eunhyuk tidak ingin melanjutkan perbincangan tak penting-menurutnya-ini.

Sungmin merutuk dalam benak. Paginya sudah seperti ia baru saja mendapat mimpi buruk. Sudah berapa kali ia menghela napas dipagi ini, yang bahkan kakinya pun belum menginjak lantai?

.

..::.. HaeHyuk ..::..

.

Ryeowook tersenyum lebar menanggapi celotehan Kyuhyun yang terus menggoda Eunhyuk. Lelaki mungil itu merasa begitu bahagia karena pagi ini meja makannya penuh dengan orang-orang yang disayanginya. Tak perduli jika seharusnya mereka semua tidak boleh berceloteh saat sedang makan. Tapi kesempatan kali ini tidak boleh disia-siakannya. Itu kenapa Ryeowook berinisiatif memulai, sekalipun pelolotan dari Appa Kim sempat membuatnya meringis ragu.

Lagi-lagi gelak tawa terdengar sesaat setelah Kyuhyun menyelesaikan ucapannya. Eunhyuk yang menjadi topik pembicaraan hanya mendengus kesal. Dia tidak menyangka jika Kyuhyun akan membuka aibnya didepan keluarganya.

"Umma tahu? Dia dulu bahkan akan menangis kencang hanya karena aku meledeknya cengeng." lanjut Kyuhyun terus tertawa seraya melirik Eunhyuk yang melotot padanya. Mr. Kim bahkan ikut tertawa mendengar cerita tentang anaknya dari Kyuhyun.

"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana wajah menangisnya Eunhyuk hyung dulu." Ryeowook terkikik. "Pasti lucu sekali."

"Aku tidak seperti itu!" Eunhyuk menyahut kesal. Mendengus gusar karena mereka semua menertawakannya. Bahkan saat ia melirik Donghae pun, lelaki itu tengah mengulum bibir menahan senyum. Menyebalkan!

Mrs. Kim menggeleng geli. Tangannya dengan sigap mengambil makanan dan menaruhnya diatas piring sang suami.

"Omong-omong, kenapa Appa tidak tahu kalau kalian sudah dekat sejak dulu?" Mr. Kim bertanya langsung. Bibirnya masih memoles senyum tipis. Mr. Kim baru tahu keduanya sudah saling mengenal sejak dulu saat Eunhyuk memperkenalkan Kyuhyun padanya tepat ketika ia menikahi ibu Ryeowook.

Kyuhyun berdehem mendengar pertanyaan yang dilontarkan Appa Kim. Tawanya memudar perlahan. Sedang Eunhyuk langsung terdiam.

Mr. Kim berdehem pelan saat suasana mendadak sunyi. Karena tanpa sadar sudah membuka topik yang menurutnya sensifit untuk Eunhyuk. Mr. Kim samar-samar mendesau lirih. Ditatapanya Mrs. Kim yang memandangnya lembut dengan senyum tipis. Yang dibalasnya dengan senyum yang tak kalah lembut.

Ryeowook meringis dalam benak. Merasa begitu canggung dengan suasana yang mendadak hening. Ryeowook berdehem. Diliriknya Eunhyuk yang terus terdiam.

"Oh. Aku baru ingat. Kyuhyun hyung, seingatku hyung pernah janji mau mengajakku jalan-jalan saat malam natal. Aku harap, hyung tidak lupa." Ryeowook tersenyum lebar menatap Kyuhyun. Sekalipun dalam hati, lelaki mungil itu meringis ragu.

Sontak, semua pandangan beralih pada Ryeowook. Kyuhyun menaikan sebelah alisnya menatap Ryeowook yang masih tersenyum lebar. Bibir tebalnya mendengus geli menyadari jika Ryeowook tengah mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

"Kapan aku pernah menjanjikanmu hal seperti itu, eh, Wookie?" Kyuhyun menyeringai. Tanpa sadar, ekor matanya melirik Sungmin yang menunduk.

"Eiii~ Jangan pura-pura lupa, hyung." Ryeowook mencebik. Eunhyuk mendengus menyadari Ryeowook yang kembali bersikap manja.

Mrs. Kim tersenyum lembut mendapati suasana dimeja makan yang kembali ramai. Diliriknya sang suami yang tersenyum tipis mendengar Kyuhyun yang tengah menggoda Ryeowook. Perasaan bahagia, juga lega memenuhi rongga dadanya. Mr. Kim menghela napas pelan. Ditatapnya Eunhyuk dengan penuh kelembutan. Dalam hati, rapalan kata maaf menggaung untuk Eunhyuk. Sosok yang dulu sudah ia sakiti.

.

..::.. HaeHyuk ..::..

.

Eunhyuk sedang duduk di beranda rumah. Memandang iri pada Kyuhyun dan Ryeowook yang tengah bermain lempar salju. Jika tidak ingat kalau dirinya sedang tidak sehat, sudah sejak tadi Eunhyuk bergabung dengan keduanya. Eunhyuk mendengus geli saat Kyuhyun tertawa lebar setelah lemaparannya mengenai wajah manis Ryeowook. Bibir adiknya mencebik kesal dan berlari mengejar Kyuhyun untuk balas dendam.

Eunhyuk menggeleng. Seingatnya, tadi Kyuhyun kekeuh menolak permintaan Ryeowook untuk bermain lempar salju karena menurutnya itu kekanakan sekali, tapi sekarang, lelaki tampan itu justru tengah tertawa lebar. Tsk!

Kepalanya mendongak saat merasa kehadiran seseorang. Eunhyuk tersenyum melihat Sungmin yang sudah duduk disampingnya. Tidak ada yang bersuara untuk beberapa saat. Keduanya hanya sibuk memandang geli Kyuhyun dan Ryeowook yang terus berkejaran.

Sungmin tersenyum lembut melihat tawa lebar Kyuhyun. Dia tidak menyangka jika Kyuhyun akan sebahagia itu hanya karena bermain lempar salju dengan Ryeowook.

"Mereka memang seperti itu jika sudah bertemu."

Ucapan Eunhyuk membuatnya mendongak menatap lelaki manis itu. Sungmin tersenyum tipis. "Mereka akrab sekali."

"Wookie sangat manja. Dia pernah bilang padaku jika ia sangat ingin memiliki saudara. Dan dia bilang jika kehadiranku membuatnya sangat bahagia."

Sungmin terkekeh mendengarnya. Dia sangat bisa membayangkan bagaimana wajah bahagia Ryeowook saat itu karena kehadiran Eunhyuk. Melihat akan sikap Ryeowook selama ini, Sungmin setuju jika Ryeowook memang sosok yang manja.

"Dia bahkan lebih dekat dengan Kyuhyun hanya karena ia berpikir, jika Kyuhyun adalah sosok yang sangat menyenangkan untuk diajak bermain." Eunhyuk terkekeh teringat ucapan polos Ryeowook saat itu.

"Ya. Terlihat sangat jelas." sahut Sungmin tersenyum lirih.

Eunhyuk menaikan sebelah alisnya mendengar sahutin lirih Sungmin. "Kau tidak sedang cemburu, kan?"

Sungmin menggeleng. "Kenapa aku harus cemburu?" Sungmin menyahut. Walaupun dalam hati, ia mengangguk membenarkan.

"Kau masih menyukainya, kan?"

Sungmin tertohok. Matanya sontak bergerak liar. Sedetikpun tidak ingin balas menatap Eunhyuk, yang Sungmin yakin tengah menatapnya sekarang ini. Dia tidak menyangka jika ia akan mendengar hal seperti itu dari mulut Eunhyuk.

"Aku bodoh jika aku masih menyukainya." Senyum kakunya terpoles. Dan kau memang bodoh, Sungmin. Lanjutnya dalam hati.

Eunhyuk mendengus. "Kau memang bodoh." Eunhyuk mencomot segenggam salju dan membuatnya membentuk bulatan. Sudut bibirnya membentuk senyum simpul melihat tubuh Kyuhyun yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Dengan kekuatan penuh, dilemparkannya bola salju ditangannya kearah Kyuhyun. Bibirnya tersenyum puas saat bola salju itu mengenai kepala Kyuhyun. Ryeowook tertawa keras melihatnya. Lelaki mungil itu bahkan terpingkal melihat Kyuhyun yang melotot kaget.

"Aku mencintaimu, hyung." Ryeowook memekik senang padanya. Eunhyuk menjulurkan lidahnya pada Kyuhyun yang dengan terpaksa tidak bisa membalas perbuatannya.

"Dan kau lebih bodoh." Gumaman Sungmin tak dihiraukannya. Eunhyuk lebih memilih tergelak bersama Ryeowook yang masih menertawakan wajah mengkeruh Kyuhyun.

.

.

.

"Apa yang sedang kau lakukan disini?"

"Oh, Hae?" Sungmin menggeser posisi tubuhnya. Donghae hanya tersenyum tipis dan menduduki ruang kosong disisi Sungmin.

"Tidak ada." lanjut Sungmin setelahnya. Eunhyuk sudah meninggalkannya sendiri. Berkata jika ia butuh istirahat tadi. Bahkan Ryeowook dan Kyuhyun pun sudah menghentikan permainan mereka. Keduanya pergi keluar entah kemana menggunakan mobil Kyuhyun. Sungmin menghela napas.

Sepanjang mata memandang. Hanya ada tumpukan salju yang masih menggunung. Suara mesin mobil petugas yang tengah membersihkan salju yang mengotori badan jalan terdengar ditelinga keduanya. Mentari masih bersinar malu. Walaupun kini jam sudah menunjukan tengah hari. Cahayanya tidak mampu mencairkan salju yang membungkus. Udara masih terasa dingin,

"Kau dan Eunhyuk, aku senang melihat kalian kembali dekat." Suara Donghae memecah keheningan.

Sungmin tersenyum kecil. Dia tahu apa maksud ucapan lelaki tampan itu. "Aku tidak tahu bagaimana harus menggambarkan rasa senang itu." Sungmin mengulum senyum. Tentu saja dia bahagia. Teramat bahagia. Sungmin tidak menyangka jika hari itu telah tiba. Eunhyuk yang memaafkannya, dan hubungan mereka kembali membaik. Sungmin tersenyum lembut.

"Bagaimana hubunganmu dengan Kyuhyun? Aku lihat, kalian juga tidak lagi canggung seperti sebelum-sebelumnya." Donghae tersenyum lirih. Bagaimana pun kesalnya ia pada Kyuhyun, Donghae tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia juga merasa senang melihat Kyuhyun dan Sungmin kembali dekat. Tidak lagi kaku seperti dulu. Tidak ada lagi menghindar satu sama lain.

Donghae terkekeh. Menertawakan dirinya sendiri. Disaat hubungan mereka semua kembali baik, tapi tidak dengan hubungannya dengan Eunhyuk. Sekalipun lelaki manis itu seperti sudah bisa menerima kehadirannya, tapi ia sadar jika Eunhyuk masih sangat membencinya.

Sungmin tersenyum masam. Mendengus dalam benak teringat hubungannya dengan Kyuhyun. Jika yang Donghae maksud adalah sikap Kyuhyun yang seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka, dia membenarkan itu.

"Aku tidak tahu." Sungmin menghembuskan napasnya berat. "Bukankah aku yang terluka disini? Tapi kenapa sikapnya seperti ia yang enggan berdekatan denganku?" Matanya memandang satu titik didepan sana.

Donghae mengalihkan pandangan pada Sungmin. Tidak menyangka jika justru kalimat seperti itulah yang ia dengar dari mulut Sungmin. "Kenapa?

"Entahlah."

Sungmin mendesau lelah. Benaknya merutuki dirinya sendiri. Mengasikhani dirinya sendiri karena sudah menjadi seperti orang bodoh, yang berpikir jika setidaknya, ia bisa kembali menjalin hubungan baik dengan Kyuhyun. Berteman mungkin?

Sungmin tidak menampik jika rasa itu masih kuat bersemayam didalam hatinya-cintanya untuk Kyuhyun. Tapi sikap Kyuhyun membuatnya terus berpikir. Kyuhyun yang sudah mengkhianatinya. Kyuhyun yang sudah menyakitinya. Tapi perasaan untuk selalu dekat dengan lelaki itu selalu menggebu didalam dirinya.

Sungmin menghela napas, berat. Ditatapnya Donghae yang menatapnya begitu dalam. Melihat sorot mata sendu itu, Sungmin tersenyum lirih. Sungmin selalu merasa sedih jika Donghae sudah mulai menyalahkan dirinya sendiri. Seperti saat ini.

"Dengar, Hae. Berhenti menyalahkan diri sendiri, Oke? Aku dan Eunhyuk, hubungan kami sudah lebih baik sekarang." Sungmin tersenyum lembut pada Donghae. "Dan tentang aku dan Kyuhyun, demi Tuhan Donghae, aku bahkan tidak tahu kenapa kau harus merasa bersalah. Ini tidak ada hubungannya denganmu. Maksudku, kau tahu ini murni permasalahan kami."

Keheningan mengisi untuk beberapa saat. Sungmin kelu, pun begitu dengan Donghae.

"Kita hanya tidak mampu untuk saling jujur tentang perasaan kita, Hae." lanjut Sungmin lagi.

Donghae masih terdiam. Mendadak mendengus geli menatap Sungmin yang memainkan alisnya dengan raut wajah menggoda padanya. Tawanya mengalun pelan. Sungmin dan semua tingkah ajaibnya selalu membuatnya menggeleng tidak habis pikir. Sungmin tersenyum mendengar tawa Donghae.

"Berhenti untuk mengkhawatirkan aku, oke? Fokuslah dengan perjuanganmu mendapat maaf dari Eunhyuk. Setelah itu, dapatkan hatinya kembali." Sungmin mengatakannya seraya terkikik kecil. Membuahkan sentilan pelan dikeningnya. Sungmin mencebik. Tangannya terayun menggeplak lengan Donghae keras.

"Aku sangat yakin jika Eunhyuk pun masih mencintaimu. Percaya padaku."

Donghae tersenyum tipis. "Aku harap begitu."

"Hey! Percaya padaku!" ulang Sungmin sedekit memekik. Merengut karena Donghae yang seperti tidak mempercayai omongannya.

Donghae hanya terkekeh, sembari beranjak dari tempat duduknya saat melihat mobil Kyuhyun memasuki pelataran rumah. Tangannya mengusak gemas rambut Sungmin, dan memilih masuk kembali ke dalam rumah.

.

..::.. HaeHyuk ..::..

.

Sedikit ragu Donghae mengetuk pintu kayu yang berdiri angkuh didepan mata. Tangannya bersiap untuk kembali mengetuk ketika pintu itu tak jua terbuka, tapi terhenti diudara saat suara Kim Ryeowook menyapanya. Donghae berbalik. Tersenyum tipis mendapati lelaki mungil itu mengerut bingung.

"Apa yang sedang hyung lakukan didepan pintu kamar Eunhyuk hyung?"

Donghae gugup. Tidak tahu harus memberi alasan apa pada Ryeowook. Tapi kemudian dia tertegun. Donghae tidak menyangka ia bisa bertindak sejauh ini. Berdiri didepan kamar Eunhyuk, berharap lelaki itu muncul disana, dan menyambut kedatangannya.

Setelah pembicaraannya dengan Sungmin siang tadi, ia seperti lagi-lagi mendapat kesadarannya.

"Tidak ada. Aku hanya ingin melihat keadaannya." Donghae tersenyum meyakinkan. Ryeowook mengangguk mengerti. Melangkah pelan dan berdiri disamping Donghae.

"Kenapa tidak langsung masuk saja, hyung?" Ryeowook memutar kenop pintu kamar Eunhyuk. Kepalanya melongok saat tak mendapati pemilik kamar terjamah mata coklatnya. "Kurasa dia sedang di kamar mandi."

Tanpa sadar, dalam benak Donghae menghela napas lega. Lelaki tampan itu melempar senyum tipis saat Ryeowook menatapnya. "Bolehkan jika aku menunggunya di dalam?"

Ryeowook tersenyum. Mengangguk setelahnya. Tangannya membuka lebar pintu yang kenopnya masih ia genggam. "Masuklah, hyung."

Donghae hanya berdiri sedikit gugup didalam kamar Eunhyuk setelah Ryeowook menutup pintu. Matanya mengedar menatap sekeliling. Kakinya mulai melangkah menyusuri setiap sudut kamar Eunhyuk. Tidak ada yang istimewa sejauh matanya mengedar.

Donghae tersenyum saat mendapati sebuah boneka kayu monyet di dalam lemari disamping meja belajar. Tangannya terulur hendak menggapai boneka kayu itu. Tentu saja ia ingat jika Eunhyuk sangat menyukai buah pisang. Itu kenapa dulu dirinya sempat mengatai lelaki itu seperti monyet-yang suka buah pisang. Dan karena itu dia selalu mendapat cubitan sayang dari Eunhyuk dipinggangnya. Donghae tersenyum lembut.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini?"

Donghae terlonjak mendengar suara datar itu. Tubuhnya berputar. Hanya untuk mendapati Eunhyuk yang menatapnya tajam didepan pintu kamar mandi. Donghae berdehem pelan. Bibirnya mencoba mengulas senyum.

"Aku ingin melihat keadaanmu." ucap Donghae tenang. Dia tidak bohong jika ia merasakan kegugupan yang teramat saat Eunhyuk terus menatapnya tajam. Tapi sebisa mungkin Donghae menahannya.

"Aku sudah baik-baik saja." Eunhyuk berjalan menuju ranjangnya berada. Dia sangat terkejut mendapati lelaki itu ada di dalam kamarnya. Sedikitpun dia tidak berpikir jika Donghae akan lancang memasuki kamarnya.

"Maaf karena sudah lancang memasuki kamarmu." Donghae berujar pelan.

"Kau bisa keluar sekarang." Eunhyuk berusaha keras untuk tetap menjaga nada suaranya. Dia tidak ingin Donghae menyadari kegelisahannya karena keberadaan lelaki itu di kamarnya. Ia benci dengan dirinya sendiri karena dadanya masih saja berdebar karena Donghae. Eunhyuk tidak suka. Begitu dalam luka yang sudah ditorehkan Donghae kepadanya, tapi dengan kurang ajarnya, hati dan pikirannya sekali pun tidak bisa melepaskan sosok Donghae. Ia benci mengetahui fakta jika ia memang masih mengharapkan Donghae.

Donghae mencolos mendengarnya. Eunhyuk mengusirnya. Donghae melangkah ragu mendekati Eunhyuk yang membelakanginya. Menatap punggung yang tampak rapuh itu. Ingin sekali Donghae mendekap tubuh itu. Membawanya ke dalam dekapannya.

Donghae terlonjak pelan. Lamunannya buyar saat Eunhyuk memutar tubuhnya dengan tiba-tiba. Raut kaget tercetak jelas diwajah putih itu. Donghae tahu jika Eunhyuk mungkin terkaget karena keberadaan dirinya tepat dibelakang lelaki itu. Reflek, tangan Donghae mencekal lengan Eunhyuk ketika lelaki manis itu hendak menghindar. Helaan napas, samar terdengar hingga ketelinganya. Donghae mendongak, menemukan raut datar Eunhyuk yang melirik kearah tangannya.

"Maaf."

Ragu, Donghae melepaskan cekalan tangannya. Tidak ada sahutan dari Eunhyuk. Donghae tersenyum kecut menatap tubuh Eunhyuk yang menjauh. Hendak meninggalkan kamarnya.

"Aku mau minta maaf," kata Donghae langsung. "Untuk apa yang sudah aku lakukan padamu. Dulu. Untuk semua sikapku yang sudah menyakitimu." lanjutnya dengan tegas. Menatap lirih Eunhyuk yang membelakanginya.

Donghae tidak bergeming. Bahkan saat tubuh kecil Eunhyuk terhenti dan menegang kaku. Napasnya tertahan. Menunggu reaksi kalimat dari bibir Eunhyuk.

Eunhyuk kembali melangkah. Berhenti didepan pintu kamar. Membuka pintu dan menatap datar ke arah Donghae. "Kau bisa keluar sekarang." kata Eunhyuk mengulang perkataannya.

Donghae menatap sendu pada Eunhyuk. Bukan kata-kata seperti itu yang ingin didengarnya. Kakinya terayun, Donghae berhent didepan Eunhyuk yang tak memandangnya. Tekadnya sudah terlalu bulat. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Eunhyuk. Tidak harus kembali menjadi sepasang kekasih. Tidak, bukan karena ia sudah tidak mencintai lelaki manis yang berdiri didepannya sekarang. Hanya saja, mendapat maaf dari Eunhyuk lah yang menjadi tujuannya untuk sekarang ini.

.

.

.

Sekali pun Eunhyuk tidak melirik Donghae yang terus terdiam didepannya. Jantungnya berdegup sangat kencang, dan Eunhyuk tidak menyukai itu.

"Hyuk, beri aku kesempatan-"

"Kesempatan apa yang kau maksud, Lee Donghae?" Eunhyuk menyela cepat. Sorot matanya dingin menghunus mata sendu Donghae.

Donghae tertegun. Dadanya sakit sekali mendapati sorot dingin itu. "Biarkan aku mengobati luka itu, Hyuk. Aku tahu-"

"Dengan cara apa kau mau mengobatinya? Dengan membuat luka baru untuk menutupnya? Untuk mengobatinya?"

Sesaat Donghae melihat sorot terluka dikedua mata Eunhyuk, sebelum kembali menyorot dingin. Donghae meringis sedih. Ragu, Donghae mendekat selangkah kedepan Eunhyuk. Kedua jemarinya mengepal erat. Donghae ingin menyentuh Eunhyuk. Ingin sekali dia mendekap tubuh kurus itu.

"Maaf. Maafkan aku, Hyuk. Ku mohon." mohon Donghae dengan suara sedikit parau. Donghae tidak tahan dengan rasa sakit yang terus menggerogoti dadanya. Hatinya dan jantungnya begitu terasa sakit didalam sana.

"Keluarlah. Dan pulanglah. Aku tidak ingin melihatmu ada disini, jika kau ingin tau." ucap Eunhyuk datar. Tak diperdulikannya sorot mata Donghae yang begitu terluka mendengar ucapannya.

"Hyuk-

"Adakah dari kata-kataku yang tidak kau mengerti?"

Donghae menunduk. Eunhyuk tidak menyukai keberadaannya disini. Seharusnya ia tidak memaksa untuk tetap tinggal. Seharusnya ia tidak menuruti kemauan Mrs. Kim.

Donghae menghela napas dalam-dalam. Mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih berpacu menyakitkan. Kepalanya mendongak. Menatap Eunhyuk yang tidak menatapnya sama sekali dengan senyum lirih.

"Baiklah. Jika kehadiranku disini sangat mengganggumu, aku akan pulang." ucap Donghae mencoba tersenyum. "Tapi yang harus kau tahu, aku tidak akan menyerah untuk mendapat maaf darimu."

'Juga hatimu.'

.

.

Give Me a Second Chance~

.

.

Eunhyuk menatap datar mobil Donghae yang menjauhi pekarangan rumahnya. Kepalanya mendongak saat salju kembali turun, melayang-layang diudara, didepannya. Tangannya terulur. Seketika dinginnya salju langsung terasa ditelapak tangannya. Eunhyuk memejamkan mata, seraya berbisik dalam hati.

'Ya. Semuanya akan baik-baik saja, Hyuk. Semua akan baik-baik saja.'

TBC~

Special thanks for...

chaerashin, naehyuk6, nurul. , , kartikawaii, Yenie Cho94, LeeDHKyu, baby baekkie, Rinhyuk, Fione Maple, wullancholee, Adorableun, 69912052, , HaehyukYunjae, chu, elfishy09, cho. .794, elferani, Polarise437, SherlyXiu24, gogoflo55, Jiae-haehyuk

Maafkan jika cerita ini semakin Gaje atau apapun itu :)

.

.

Hope U like it,

Sorry for typo,and

See Yaa~~

.

.

.

November 19th, 2015

NoonaRyeo ^^