Chapter 11
"Kau mengganggu kencanku, sialan!"
Donghae mendengus bosan karena Yesung yang terus-terusan mengumpat padanya. Memilih mengabaikan sikap Yesung yang sangat tidak bersahabat, Donghae mengalihkan pandangannya pada sosok mungil disamping Yesung.
"Sudah lama di sini?"
Cengiran lebar dari Ryeowook membuahkan usapan lembut dikepalanya dari Yesung. "Belum lama. Kenapa, hyung?"
Donghae menggeleng. "Tidak apa-apa, hanya ingin menyapa melihatmu duduk disini." Matanya melirik Yesung sekilas.
Ryeowook terkekeh. "Yesung hyung yang mengajaku kemari. Katanya ia ingin menghabiskan waktu denganku di tempat ini."
Donghae tertawa mendengar perkataan polos Ryeowook. Sementara Yesung hanya terus terdiam membiarkan dua sosok itu berbicara. Sesekali tatapannya berpindah pada pemandangan di luar sana. Ia memang sengaja membawa Ryeowook datang berkunjung ke cafe yang menjadi paforitnya.
"Ya. Ini memang cafe paforit Yesung." susul Donghae.
Mata Ryeowook membulat. "Benarkah?"
"Uh-huh." Donghae mengangguk. "Kyuhyun masih di sana, Wookie?" Pertanyaan Donghae membuat Yesung mengalihkan pandangan pada keduanya.
"Kyuhyun hyung sudah pulang siang tadi."
"Kyuhyun?"
Ryeowook mengangguk menatap Yesung. "Kenapa, hyung?"
"Kyuhyun datang ke rumahmu?"
"Kyuhyun hyung memang datang menginap bersama Donghae hyung beberapa hari kemarin." jelas Ryeowook.
"Eh?"
Yesung menatap Donghae yang balas menatapnya dengan pandangan 'kenapa?'.
"Oh. Aku tidak menyangka jika kau sudah bertindak sejauh itu, Hae."
Donghae mendengus. "Jangan salah paham. Kita memang datang berkunjung bersama. Dan soal kami yang menginap, itu karena Umma Wookie yang memaksa."
"Well, kau tidak perlu menjelaskannya padaku." Seloroh Yesung langsung.
"Sialan."
Donghae memutar-mutar ponsel dalam genggamannya. Benaknya beragumen tentang keinginannya untuk sekedar mengirim pesan pada seseorang yang entah sekarang sedang apa. Ragu itu memang masih ada, sesekali sanggup menciutkan nyalinya. Mengulum lidah, lelaki tampan itu menyender pada punggung kursi. Memandang sebentar pada dua sosok yang tengah saling tertawa. Donghae meringis dalam hati, sadar karena ia memang sudah mengganggu acara kencan Yesung. Pun rasa iri sedikit merasuk ke dalam hati melihat keduanya.
Mengabaikan itu, Donghae menggerakan jemarinya diatas layar ponsel. Mengetikan beberapa kata, dan mengirimkannya dengan keyakinan penuh.
.
..::.. HaeHyuk ..::..
.
Sungmin melirik ponsel Eunhyuk yang bergetar diatas meja. Satu pesan terpampang dilayar ponselnya. Ketika melihat sang pemilik ponsel yang melangkah ke arahnya, Sungmin kembali memandang layar datar di depannya yang tengah menayangkan acara variaty show. Sembari mulutnya sibuk mengunyah kue-kue kering yang dibuat Mrs. Kim.
Menyadari tidak ada pergerakan dari Eunhyuk setelah sosok itu duduk disampingnya, Sungmin mendongak. Menatap bingung Eunhyuk yang terdiam dengan ponsel digenggaman tangannya. Eunhyuk berdehem pelan setelah jeda cukup lama menatap layar ponselnya. Melirik sebentar pada Sungmin yang menatap ingin tahu padanya. Sebaris angka tanpa nama yang sangat ia hapal siapa pemiliknya.
"Kenapa?" Sungmin bersuara.
Eunhyuk menggeleng. Dengan perasaan campur aduk, lelaki itu membuka pesan yang ia terima dengan jantung yang berdebar.
Matahari bersinar terang hari ini. Semoga harimu menyenangkan.
Eunhyuk melongo. Untuk beberapa saat, kepalanya terasa kosong. Tidak percaya ia mendapat pesan basa basi seperti ini, terlebih dari seorang Lee Donghae. Sosok yang beberapa hari kemarin sempat menginap dikediaman orang tuanya. Juga seseorang yang sempat menyelinap masuk ke dalam kamarnya dan berbicara omong kosong. Benarkah sosok itu yang mengirim pesan tadi? Eunhyuk mendengus.
"Ew. Siapa yang mengirim pesan? Kalimatnya menjijikan sekali."
Sungmin yang sempat menatap layar ponsel Eunhyuk, karena sang pemilik hanya terus terdiam, mengernyitkan keningnya melihat pesan yang menurutnya sangat murah sekali.
Eunhyuk berdehem. Mencoba menyamarkan senyum yang hampir terpoles mendengar kalimat sarkas Sungmin.
"Bukan siapa-siapa." Eunhyuk kembali meletakan ponselnya ke atas meja. Kembali menyamankan diri duduk disamping Sungmin sembari menonton acara yang tengah berlangsung di televisi.
Keheningan tercipta beberapa saat. Sungmin menggerakan kepala saat iklan mengintrupsi acara yang tengah mereka tonton. Merasa cukup pegal karena hampir dua jam ia hanya duduk sembari menonton tv.
Melihat Eunhyuk yang kembali sibuk dengan ponselnya, Sungmin mendesah pelan. "Hyuk."
"Hm?"
"Wookie bilang, Donghae sempat menemuimu di kamar. Apa itu benar?"
"Ya."
"Apa yang kalian bicarakan? Ugh, maksudku, apa yang dilakukannya di kamarmu?"
"Kenapa kau ingin tahu?" sahut Eunhyuk datar.
Sungin meringis. Sadar jika rasa penasaran yang sejak tadi menghantuinya, tidak seharusnya ia utarakan. "Tidak apa-apa kalau kau tidak mau memberi tahu." Sungmin berucap kikuk.
Eunhyuk menghela napas. Punggungnya bersandar disofa. Kepalanya tengadah. Penuh dengan pikiran-pikiran akan ucapan... Donghae.
"Min."
Eunhyuk memang lebih terbiasa memanggil Sungmin tanpa embel-embel hyung, sekarang. Dan Sungmin tidak mempermasalahkannya.
"Donghae meminta maaf padaku."
Memang sudah sejak dulu Donghae meminta maaf padanya, dan selama ini Eunhyuk hanya mengabaikannya. Tapi tidak dengan semalam. Melihat bagaimana sorot mata Donghae yang begitu nanar, Eunhyuk tidak bisa jika harus mengabaikannya seperti biasa. Sorot mata itu begitu mengganggu pikirannya.
Ditempatnya, Sungmin sempat tertegun mendengar Eunhyuk berbicara tentang Donghae. Senyum tipis mengukir disudut kanan bibir Sungmin.
"Lalu?" Kaki Sungmin bersila. Duduk tegap menghadap Eunhyuk. "Kau memaafkannya?" tembaknya langsung.
Pertanyaan Sungmin membuahkan keheningan sesaat, Sungmin tidak tahu jika pertanyaannya justru membuat Eunhyuk semakin dilanda bimbang.
Eunhyuk memutar tubuhnya. Memandang Sungmin dengan sorot lirih. "Aku minta maaf."
"Eh?"
"Aku minta maaf untuk semua sikapku selama ini. Aku sudah bersikap sangat kurang ajar padamu tanpa alasan yang benar-benar jelas. Maafkan aku karena rasa benci itu pernah ada untukmu." Suara Eunhyuk mengalun tegas. Eunhyuk sadar jika ia harus lebih dulu mengakui kesalahnnya untuk bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
"Apa maksudmu, Hyuk?" tentu saja Sungmin bingung mendengar ucapan Eunhyuk. Seingatnya, mereka tadi sedang akan membahas tentang Donghae. Lalu kenapa menjadi Eunhyuk yang meminta maaf padanya?
"Aku tau Donghae memang menyukaimu, dan aku justru bersikap jahat padamu hanya karena Donghae memutuskanku. Aku pikir Donghae meninggalkanku karena dia ingin memilikimu." Eunhyuk terdiam. "Aku... aku membenci diriku sendiri ketika bahkan hingga kalian tidak bersama, rasa tidak sukaku padamu justru membuatku semakin merasa... bersalah?"
Sungmin tidak bergeming. Maniknya menatap jauh ke dalam mata Eunhyuk. Dirinya tidak menyangka mendengar pengakuan seperti itu dari mulut Eunhyuk.
"Seharusnya aku tidak memiliki perasaan seperti itu untukmu." Eunhyuk menghela napas. "Seharusnya aku tidak memaksakan diri untuk masuk ke dalam hati Donghae yang sedang terluka. Dan kita tahu bagaimana akhirnya. Dia memutuskanku tepat setelah mendengar kau putus dengan Kyuhyun." Senyum lirih Eunhyuk terpoles. "Dari awal, akulah yang terlalu memaksakan diri."
Sementara Sungmin hanya mampu terdiam mendengar penjelasan Eunhyuk.
Setelah keheningan yang cukup lama, helaan napas panjang Sungmin membuyarkan pikiran keduanya. Kemudian Sungmin tersenyum tipis ketika pemahaman itu menghampirinya "Maksudmu, kau sudah memaafkan Donghae?"
Eh?
Eunhyuk mendongak cepat. Bingung, juga kaget. Kenapa dari semua penjelasan yang ia ucapkan, Sungmin justru menarik kesimpulan seperti itu. "Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Katakan saja, Hyuk."
Eunhyuk berdehem. "Apa kau memaafkanku?" lanjutnya memilih mengabaikan ucapan Sungmin.
"Oh. Aku sudah tau jawabannya." Sungmin tersenyum cerah. Eunhyuk mendesah malas melihatnya.
"Omong kosong."
.
..::.. Give Me a Second Chance~ ..::..
.
Sungmin sedang termangu. Menatap langit-langit kamarnya tanpa fokus. Pikirannya masih memutar ulang semua ucapan Eunhyuk siang tadi. Sedikitnya sempat terbesit perasaan menyalahkan diri sendiri. Pun nama Kyuhyun ikut didalamnya. Senyum lirihnya sempat terpoles mengingat apa yang sudah Kyuhyun lakukan padanya.
Seandainya ia menurut pada Donghae untuk tidak pergi malam itu. Seandainya ia memilih mengabaikan pesan yang dikirim entah siapa ke ponselnya. Seandainya Kyuhyun tidak tidur dengan wanita itu.
Begitu banyak kata seandainya yang terus berputar di dalam otaknya. Hingga satu kalimat melintas dalam pikirannya, membuatnya mencelos.
Ya, seandainya ia tidak... mencintai Kyuhyun.
Sungmin mendesah lelah. Tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri. Sungmin tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.
Pintu kamarnya diketuk pelan. Sungmin terduduk. Maniknya memutar menatap sebentar jam kecil yang berdiri angkuh di atas nakas.
"Wookie?"
Sungmin mengernyit bingung mendapati adik tirinya berdiri di depan pintu kamarnya dengan cengiran lebar.
"Hi, hyung." Sapanya semangat.
"Kau disini? Kapan datang?" Sungmin dan Eunhyuk memang memilih pulang ke rumah mereka sore tadi.
Ryeowook menyengir. "Baru saja."
"Dengan siapa kau kemari?" tanya Sungmin lagi.
Mendadak Ryeowook menjadi gugup. Sungmin yang melihatnya mengernyit. "Kenapa?"
"Lebih baik hyung segera turun. Aku bawa makanan tadi. Kita makan malam bersama." jelasnya kembali tersenyum lebar. Mencoba menutupi kegugupannya.
.
.
TBC~
.
.
Helloooooo everyone... ada yang kangen fanfic ini? Ada yang masih inget fanfic ini? Apa masih ada yang nungguin fanfic ini? #krikrikrik
Maafkan saiia yang sempat melalaikan fanfic saiia ini. WB menghampiri saiia, huhuhu. Juga sempet mendadak ilang feel buat ngelanjut ini fanfic saking lamanya WB melanda diri saiia #buangnapas
Bagaimana dengan chaper ini? Apa memuaskan rasa kangen kalian? Duileeeeeh. Terlalu menye-menye yaaa? Maafkan saiia kalo chapter ini jauh dari ekspetasi kalian #senyummanis
Abis lama semedi, malah cuma kaya gini yang bisa didapet. Ugh~
Mana kgak ada couple moment pulak. Doh!
Ya sudahlah... semoga masih ngefeel ya bacanya... hihihi~
.
.
Hope U like it,
Sorry for typo, and
See Yaa~~
.
.
.
April 18th, 2016
NoonaRyeo ^^
