Song and Star

Levi x Otaku Reader (Chiharu Fujisaki)

By : AnemoneARO

PROLOG

Angin musim gugur menyapu wajahku. Hawa musim dingin mulai terasa di penghujung musim gugur ini. Dedaunan menabrak wajahku berkali-kali saat aku sedang berlari menuju sebuah toko.

'DUHH! Dingin banget! Mizuki pasti marah besar' aku terus berlari dan berusaha menghangatkan tanganku.

Aku Chiharu Fujisaki, gadis pendiam dan anti sosial. Sebenarnya dulu aku punya banyak teman, tapi sejak kejadian itu aku tidak pernah percaya lagi dengan 'teman'. Ironisnya, temanku hanya adikku, Mizuki Fujisaki dan semua yang ada di toko.

Sebuah toko mulai terlihat, dengan seorang gadis SMP sedang menunggu di depan pintu. Ia menoleh ke arahku, wajahnya merah, mungkin karena kedinginan atau... ngambek.

"NEE-CHAN!" gadis itu menghentakkan kakinya menuju ke arahku. Aku langsung menghentikan larianku.

"Hehehehe... aku tadi biasalah..." aku menghindari tatapan adikku.

"Nee-chan tahu udah berapa lama aku nunggu di sini?"

"Udahlah, ayo masuk!" aku menarik lengan mantel adikku.

"Enggak bisa gitu! Aku kedinginan nungguin nee-chan! Pokoknya nanti nee-chan yang bayarin belanjaanku!" seru Mizuki dengan nada tidak terima.

"Iya iya," aku memutar bola mataku.

Cling...

"Selamat datang... Chiharu telat lagi, ya? Kasihan tu Mizuki," koor pelayan toko, mereka menggodaku lagi!

Aku menatap mereka satu per satu. Sasha dan Connie malah tertawa geli. Jean nyengir. Eren menyeringai, sementara Mikasa terlihat tidak peduli.

"Woah, akhirnya kau datang juga Chiharu. Adikmu sudah ku suruh masuh, tapi dia bersikeras ingin menunggumu," Hanji-san, pemilik toko ini, terlihat sedang duduk menikmati cokelat panasnya. "Oh iya, pesananmu sudah datang. Ada di rak kedua."

Aku memandangi Hanji-san sesaat. "Enak banget ya, minum cokelat panas," aku bergumam.

Hanji-san menoleh, sepertinya Ia mendengarku. "Mau?" Ia mengacungkan cangkirnya.

Aku menggeleng. "Tidak usah, aku ingin cepat pulang dan membaca manga baru. Aku juga punya PR."

Hanji-san menatapku sesaat. Ok, aku tahu ini akan terjadi. Ceramahnya lagi.

"Kau tahu Chiharu, kau itu gadis SMA. Seharusnya kau lebih menikma-"

"-ti hidup seperti jalan-jalan dengan teman atau kencan dengan pacar. Jangan mengisolasi diri sendiri. Aku tahu Hanji-san... ini keseribu kalinya kau mengatakan itu," aku berjalan menuju rak kedua.

"Hei! Kau selalu bilang keseribu kalinya. Sudah lebih dari seribu kali aku mengatakan itu!"

"Terserah... aku tidak peduli," bola mataku bergerak mencari manga yang ku incar.

"Ah! Ini dia!" seruku meraih sebuah manga. Tiba-tiba pandangan mataku menangkap sebuah manga. Manga langka yang diproduksi tahun lalu. Aku segera mengambilnya.

"Hanji-san!" aku berlari ke arahnya. "Dari mana kau dapat ini?"

Hanji-san menatap manga yang ku tunjukkan. "Oh, itu. Aku nemu di gudang tadi pagi. Tinggal satu itu. Kau beruntung belum ada orang yang mengambil."

"Yeah! Aku memang beruntung. Aku gagal mendapatkan manga ini gara-gara ujian kelulusan tahun lalu, Ibu melarangku untuk membeli barang seperti ini sampai selesai ujian. Payah!"

"Ya ya... kau sudah menggerutukan hal itu kepadaku tahun lalu. Kau mengamuk karena kehabisan manga itu," Hanji-san menyeruput cokelat panasnya yang beruap.

"Nee-chan!" Mizuki berlari ke arahku dengan setumpuk pakaian cosplay.

Mataku melebar. "Mizuki! Kau gila ya? Uang sakuku sebulan bisa habis!"

Mizuki menggembungkan pipinya. "Tapi aku mau semuanya..." Sejenak Ia terlihat sedang berpikir. "Kalau nee-chan bayar separonya aja gimana?"

"Umm..."

Aku melirik jam dinding. 'Kampret! Udah jam segini?!'

"Iya iya deh! Cepetan yuk! Udah jam segini!" aku berlari menuju kasir.

# # #

Waktu menunjukkan pukul 20:30, aku memakai mantelku, bersiap untuk melakukan rutinitasku.

Aku duduk di tepi kasur, menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di kakiku, rasanya geli dan sesuatu itu berasal dari kolong tempat tidurku. Aku langsung menyadari kalau itu adalah rambut.

"AAAAA!" aku menjerit sekeras-kerasnya, menaikkan kakiku ke atas tempat tidur.

"Pergi! Jangan dekati aku!" aku menutup telingaku dengan tangan dan memejamkan mataku kuat-kuat.

Aku mendengar suara cekakakan keras tepat di depanku. Aku membuka mataku perlahan.

"Mizuki!" aku berdiri mendekatinya, mengacak-acak rambutnya. "Berhentilah mengerjaiku!"

Mizuki mencoba mengehentikan tawanya. "Nee-chan lucu sih kalau lagi takut."

"Apa katamu?! Coba katakan sekali lagi? Ayo katakan!" aku menarik-narik pipinya.

"Aduh aduh... iya iya, maaf..."

Aku mendengus. "Mau apa kamu kesini?"

Mizuki mengelus pipinya. "Galak banget sih..." Mizuki terdiam sesaat. "Kakak mau nyanyi lagi di balkon?"

Aku terdiam. "Enggak, mau loncat dari balkon."

"Beneran nih? Sini aku bantu dorong."

Aku menjitak kepala Mizuki. "Udah tahu pake nanya segala."

"Cieehh... nyanyi buat Kak Levi nih..." Mizuki menggodaku.

Rona merah muncul di pipiku. "Enggak! Kamu tahu sendiri, kan? Aku udah mulai nyanyi semenjak Levi belum pindah ke sini!"

"Kata Mama kan kalau kamu nyanyi di bawah bintang, maka harapanmu akan terkabulkan. Pasti nee-chan punya harapan tertentu, kan? Jangan boong deh!"

Aku mendorong Mizuki keluar kamarku. "Aku tidak punya harapan apapun selain bertahan di peringkat 1."

Blam!

Klik!

Aku mengunci pintu kamarku. Dasar Mizuki! Dia memang pengganggu.

Huff...

Aku berhasil lagi mengelak kebenaran yang ku rahasiakan. Ya... sebenarnya, semenjak Levi pindah di rumah sebelahku, aku memiliki harapan baru. Harapan itu lebih kuat dari harapanku yang lain. Aku ingin Levi yang gordennya selalu tertutup, suatu hari gordennya dapat terbuka, menampakkan seisi kamarnya dengan Levi di dalamnya. Dan semoga suatu hari Ia melirik ke arahku, dan membalas perasaanku.

Kamar Levi berada di seberang kamarku. Lebih tepatnya balkon kami berseberangan. Semenjak Ia pindah, Ia tidak pernah membuka gordennya sendiri. Selalu Ibunya yang membuka-tutup.

Aku tahu ini bodoh. Berharap sesuatu yang tidak mungkin. Tidak mungkin karena selama 4 tahun Levi tidak pernah melirikku. Ya, 4 tahun sudah aku menyukainya. Waktu itu aku masih kelas 6, Levi dan keluarganya pindah ke rumah sebelah. Waktu itu aku sedang membaca buku di balkon saat Levi masuk ke kamarnya yang masih kosong. Aku meliriknya, pandangan mata kami bertemu. Kami berpandangan sesaat sampai akhirnya Ia keluar dari kamarnya. Dan saat gorden sudah terpasang di pintu kaca balkonnya, Ia selalu menutupnya. Aku berpikir Ia membenciku. Tapi aku tidak bisa berhenti menyukai Levi begitu saja. Sampai akhirnya perasaan itu bertahan hingga 4 tahun.

Ah terserahlah. Waktu terus berputar, malam semakin larut. Dengan hawa yang dingin ini, aku menapak ke balkon. Menatap bintang, dan bernyanyi sebuah lagu yang berjudul Hoshi no Nagareru Yoru Ni. Lagu ini berisi perasaanku terhadap Levi. Sambil menyanyi, aku berharap dalam hati. Berharap semoga gorden itu dapat dibuka oleh Levi dan semoga Ia membalas perasaanku.

"Semoga angin musim gugur membawa nyanyian dan harapanku kepadamu wahai bintang. Wujudkanlah harapan kecilku ini. Wujudkanlah walaupun itu hal yang tidak mungkin," aku menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip itu beberapa saat sebelum akhirnya aku masuk ke kamarku.