CHAPTER 1 (Kejadian Itu...)

"Menjijikkan!"

"Dasar sampah! Jangan dekati aku lagi!"

"Tunggu teman-teman! Apa salah jika aku seorang otaku?"

"Apa kamu tahu? Kata Mamaku, otaku itu sampah masyarakat. Menjijikkan!"

# # #

"Hah hah hah. Tunggu dulu! TUNGGU!"

"Nee-chan?"

Aku terbangun dari tidurku. Mimpi itu lagi...

"Nee-chan?" Mizuki mendekatiku.

"Ah, Mizuki. Selamat pagi."

"Nee-chan bermimpi kejadian itu lagi?" tanya Mizuki dengan kekhawatiran tergambar di wajahnya.

"Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir," aku mengambil handuk yang tergantung di dinding.

Mizuki terdiam. Aku melangkahkan kaki ke kamar mandi. Tiba-tiba Mizuki memanggilku.

"Nee-chan!" Mizuki menghampiriku.

"Hm?"

"Carilah teman. Mungkin memori itu akan terlupakan walau perlahan, dan mungkin juga mimpi itu akan berhenti muncul."

Aku menghela nafas. "Mizuki, aku masih trauma dengan kejadian itu. Kejadian itu... meninggalkan luka mendalam di jiwaku, luka yang enggak akan bisa sembuh. Aku enggak mau mencari teman, karena aku tahu kalau teman itu nanti akan memperparah luka lama ini," aku langsung melangkah masuk ke kamar mandi tanpa memerdulikan Mizuki yang masih berdiri di sana.

"Jika kau tidak memercayai teman, mengapa kau bisa jatuh cinta? Bukankah Levi-san bisa memperparah luka lama itu juga kalau sampai dia jadi kekasih nee-chan?" suara Mizuki terdengar dari dalam kamar mandi.

Aku terdiam.

"Aku tahu luka nee-chan enggak akan bisa sembuh. Tapi, cobalah cari teman! Aku sendiri mengalaminya, ketika kau jujur dengan teman, mereka akan mengerti. Walaupun reaksi pertama mereka tidak begitu baik. Tapi, lama-kelamaan mereka akan mengerti. Seperti teman-temanku! Percayalah!"

"Kau dan aku itu berbeda Mizuki. Biarkan aku mengurus kehidupanku sendiri. Sebaiknya kau segera bersiap kalau tidak ingin terlambat."

Aku mendengar Mizuki mendesah, kemudian melangkah menjauh. Aku menghela nafas. "Aku tidak butuh teman. Aku tahu sendiri mereka itu mengerikan. Kau akan baik-baik saja Chiharu. Kau akan baik-baik saja."

# # #

Aku berdiri di halte, menunggu bus yang biasa aku naiki saat akan ke sekolah. Tiba-tiba otakku memutar memori kejadian itu.

# # #

"Hei! Apa semalam kalian menonton-"

BRAK!

Aku terlompat kaget. Ada apa dengan Reiko? Kenapa tiba-tiba dia memukul meja?

"Berhentilah membicarakan anime! Kau membuatku ingin muntah!" seru Reiko.

Mataku melebar, aku berjalan mundur.

"Itu benar Chiharu. Kau menjijikkan!" seru temanku yang lain.

"Kalian kenapa? Apa salahku?" aku menahan air mata yang terus menyerbu keluar.

"Karena kau otaku!"

"Menjijikkan!"

"Dasar sampah! Jangan dekati aku lagi!"

Mereka mengerubungiku, melingkariku dengan wajah jijik.

"Tunggu teman-teman! Apa salah jika aku seorang otaku?" aku berusaha membela diri.

"Apa kamu tahu? Kata Mamaku, otaku itu sampah masyarakat. Menjijikkan!" seru Reiko.

"Kalian ini kenapa? Sebelumnya kalian selalu baik kepadaku, kan? Bahkan kalian menonton anime yang aku sarankan," aku mengelap bulir-bulir air mata yang berjatuhan.

"Itu dulu! Reiko memberi tahu kami kalau orang sepertimu itu sampah. Makanya kami berhenti menonton anime."

"Sa-sampah?"

"Mulai sekarang jangan dekati kami, dasar sampah! Menjijikkan! Ayo teman-teman kita pergi! Jangan berteman lagi dengan gadis menjijikkan sepertinya!" Reiko memimpin teman-teman untuk menjauh dariku.

Aku jatuh terduduk. Menangis sejadi-jadinya.

# # #

"Kau akan telat jika terus melamun," suara seseorang membuyarkan lamunanku.

Aku celingak-celinguk, bus sudah datang. Aku melihat orang yang membuyarkan lamunanku masuk bus. Aku memperhatikannya dengan seksama.

Bruush...

Pintu bus hampir menutup.

"Ah! Tunggu! Aku naik!" seruku berlari masuk ke bus.

Aku menghela nafas lega. Untung orang tadi membuyarkan lamunanku. Kalau tidak, aku bisa benar-benar terlambat dan reputasiku sebagai siswa jenius akan hancur.

Aku memperhatikan sekitar. Aku bermaksud mencari orang itu untuk berterima kasih. Aku melihat orang di depanku, posturnya sama seperti orang yang membuyarkan lamunanku tadi. Dia sedikit pendek untuk anak laki-laki kelas 10.

"Anu... terima kasih telah memperingatkanku," aku berusaha tersenyum sambil menepuk pundaknya.

Orang itu menoleh.

Ya ampun! Dia- dia...

'Levi?! Benarkah dia yang memperingatkanku? Rasanya tidak mungkin!'

Aku menelan ludah. Entah mengapa tiba-tiba aku kepanasan di penghujung musim gugur yang dingin ini.

Mata abu-abunya menatapku tajam. Ia tidak mengatakan apapun, kemudian Ia berbalik.

'Benarkah dia yang memperingatkanku? Dilihat dari sikapnya sepertinya bukan.'

Aku celingak-celinguk mencari orang yang berpostur sama di bus ini. Tapi tidak ada yang berpostur sama. Arrgghh! Ini membuatku gila! Apa aku hanya berimajinasi saja?

Aku memperhatikan Levi dari belakang. Dari sini aku bisa mencium aroma tubuhnya. Aku merasa makin kepanasan, bahkan aku berkeringat. Entah apa yang terjadi padaku. Aku juga merasakan wajahku memanas. Ugh...

# # #

Aku tidak memakan bentoku. Aku hanya duduk di tempat dudukku sambil memandang ke luar jendela. Tiba-tiba otakku memutar kejadian di bus tadi. Aku mengacak-acak rambutku.

"Aku pasti sudah gila. Tidak mungkin Levi yang memperingatkanku. Dia saja tidak pernah melirikku sama sekali," gumamku.

Tiba-tiba aku merasakan bulu kudukku meremang. Aku celingak-celinguk dan mendapati Levi berdiri di sebelahku dan menatapku tajam.

'Ouhh... apa dia dengar yang aku bicarakan? Bodoh! Bodoh! Bodoh!'

"Tch..." dengan itu, Levi pergi meninggalkanku.

"Hhhh..." aku menghela nafas lega.

Levi memang sekelas denganku saat ini. Dulu waktu SD dan SMP kami beda sekolah, sekarang di SMA kami satu sekolah bahkan sekelas!

"Chiharu, kenapa kau tidak memakan bentomu? Apa perlu aku menyuapimu?" seseorang mendekatiku. Saking dekatnya, aku sampai bisa merasakan hembusan nafasnya di leherku.

'Arrgghh! Orang menyebalkan ini lagi...'