CHAPTER 2 – Atap

"Chiharu, kenapa kau tidak memakan bentomu? Apa perlu aku menyuapimu?" seseorang mendekatiku. Saking dekatnya, aku sampai bisa merasakan hembusan nafasnya di leherku.

'Arrgghh! Orang menyebalkan ini lagi...'

Dia Erwin Smith, orang menyebalkan yang selalu sok dekat denganku. Ia selalu menggodaku, bahkan Ia pernah merangkulku. Dasar menyebalkan!

Aku tidak mengatakan apapun. Aku selalu menyikapi Erwin dengan diam. Aku malas berurusan dengan orang ini.

Krak!

Aku berdiri kemudian keluar kelas tanpa memerdulikan Erwin. Aku merasa beberapa gadis memandangiku tajam. Berkat orang itu para gadis jadi memandangku tajam, terima kasih Erwin Smith.

"Hahhh..." aku menghela nafas berat. "Kenapa si Erwin itu selalu menggangguku?"

Aku berjalan dan terus berjalan tanpa tahu akan kemana. Hingga akhirnya kakiku membawaku ke atap.

Kriekk...

Aku membuka pintu perlahan, hawa dingin berhembus membuatku merinding kedinginan. Tanpa pikir panjang aku berjalan keluar, menuju atap tanpa memakai mantel hanya blazer seragamku yang menghangatkanku.

Di sini sepi, tidak ada orang. Tentu saja tidak ada siapapun, karena siswa dilarang berada di atap.

"Dinginnya," aku menggosok-gosok kedua telapak tanganku.

Aku berjalan menuju pagar atap. Kemudian melihat ke bawah, untung saja di bawah itu belakang sekolah. Tidak pernah ada siswa yang kesana, karena rumor aneh tentang penampakan hantu.

"Aku tahu saat ini tidak ada bintang, tapi aku ingin bernyanyi," gumamku memegang pagar.

Himo o toite mieta kokoro no oku
Dareka no tame ni jibun no kizutsuke
Chiisa na kono te de mamoreru you
Tsuyoku tsuyoku negau hoshi no nagareru yoru ni

Melepaskan tali, melihat ke dalam hati

Untuk siapa aku melukai diriku?

Dengan tangan kecil ini aku ingin melindungi

Dan berharap pada bintang jatuh

Yozora ni suikomareru ikuze
Nomatata kitsuka anata ni
Todoke riyugemasu you ni

Ribuan bintang yang berkelip di langit malam

Aku berdoa semoga suatu saat aku dapat meraihmu

Kono uta inoseru de egao
Nodare o itsuka anata ga
Hana o saka semasu youni

Lagu ini yang akan membuat seseorang tersenyum

Aku berharap suatu hari kau akan membuat bunga mekar

Yozora ni uta o nosete chiisa na
Mahou o kakeru zutto hitori de
Kurushimaraide hoshii no

Aku mengirim lagu ini ke langit malas dengan sedikit sihir

Aku tidak ingin selamanya sendirian dalam kesedihan ini

Hoshi sora o miagete negai
Boto o surure itsuka mabayui
Egao sakimasu you ni

Aku melihat ke langit berbintang dan membuat harapan

Bahwa suatu hari sebuah senyuman akan terlukis

Plok... Plok... Plok...

Aku mendengar suara tepuk tangan dari belakangku. Spontan aku langsung menoleh.

"Aku tidak tahu kau memiliki suara seindah itu, Chiharu," Erwin berjalan mendekatiku. Memojokkanku ke pagar.

Aku memandanginya tajam. 'Aku harus kabur sekarang. Hanya ini kesempatanku.'

Aku mencoba melarikan diri dari Erwin.

Grep!

"Kau pikir kau bisa kabur?" Erwin menggenggam erat pergelangan tanganku.

'Orang ini benar-benar membuatku marah. Akan ku hajar kau, Erwin.'

Bruk!
Aku meninju perutnya, kemudian memutar tangannya hingga berbunyi. Erwin melepaskan genggamannya. Chance!

Aku berlari sekuat tenaga menuju pintu. Kemudian menutupnya dengan keras.

# # #

"Hahhh..." aku mendesah keras. "Ini hari terburuk dalam hidupku. Dasar Erwin bodoh! Kenapa dia memperlakukanku seperti itu? Menjijikkan!" gerutuku.

Brusshh...

Angin dingin berhembus kencang, membuat rambutku panjangku beterbangan. Aku menatap bintang dari balkonku ini.

"Bintang, kenapa kau tidak kunjung mengabulkan permintaanku? Kenapa kau tidak melindungiku dari Erwin? Bukankah selama ini aku selalu menghadiahimu sebuah lagu?"

Bulir-bulir air mata perlahan mengalir menuju pipiku. "Kenapa kau memberiku takdir yang kejam? Hik... Kenapa? Tidak bisakah aku merasakan rasanya punya teman? Tidak bisakah Levi membalas perasaanku?"

Aku menyeka air mata yang terus berjatuhan. "Apakah permintaanku terlalu berat? Apa aku terlalu banyak dosa sehingga kau tidak bisa memenuhi permintaanku? Apa aku tidak layak untuk bahagia?" air mata kembali berjatuhan. "JAWAB AKU BINTANG!"

# # #

Aku membuka loker sepatuku. Dari dalam loker, kertas-kertas berjatuhan.

"Kertas apa ini?" aku memungutinya.

Jauhi Erwin dasar sampah! Atau kau akan merasakan akibatnya.

Mati kau sampah! Jangan dekati Erwin lagi!

Aku hanya membaca dua kertas. Kemudian aku melempar semuanya ke tempat sampah.

"Siapa yang menulis itu semua? Fangirls nya Erwin? Lagipula Erwin yang sok dekat sama aku, bukan aku yang dekat-dekat dia. Dasar!" gerutuku.

"Selamat pagi Chiharu," laki-laki beralis tebal itu menyapaku.

"Tch," aku langsung berbalik tanpa memerdulikannya.

Aku berjalan menuju toilet. Hahh... pagi yang buruk. Itu semua gara-gara Erwin! Menyebalkan.

"Hei sampah!" seseorang menghampiriku.

Aku yang sedang membasuh muka menengok. Siapa dia? Fangirl nya Erwin?

Aku berbalik meninggalkannya. Tapi, Ia menyegatku.

"Kau tuli? Aku memanggilmu!" serunya.

Aku menatapnya. "Aku tidak punya urusan denganmu, jadi, menyingkirlah."

"Aku yang punya urusan denganmu di sini!" serunya berkacak pinggang.

"Aku tidak peduli," aku melewatinya.

Grep!

Ia memegang pergelangan tanganku. "Kau itu sombong sekali, ya? Pantas saja kau tidak punya teman."

"Kau ada urusan apa? Cepatlah! Aku tidak punya waktu berbicara denganmu," kataku dengan nada suara yang ku buat dingin.

"Jauhi Erwin kalau kau tidak ingin mati," ancamnya.

"Asal kau tahu, Erwin yang terus menggangguku. Jadi seharusnya kau bicara langsung dengannya. Bukan denganku," aku langsung berjalan keluar toilet.

Drap... drap... drap...

Aku berjalan sambil menundukkan kepalaku. Benar-benar pagi yang buruk!

'Bintang, mengapa kau memberiku pagi yang buruk? Apa salahku? Apa kau marah karena semalam aku tidak bernyanyi? Apa kau marah karena semalam aku berteriak kepadamu?'

Bruk!

"Aw!" aku mengelus kepalaku. Sepertinya aku menabrak... seseorang.

Aku mengadahkan kepalaku. Aku melenguh melihat orang itu. "Ma-maaf!" seruku segera meminta maaf.

Levi hanya diam, Ia menatapku. Lagi-lagi dia tidak merespons perkataanku.

Lama-lama aku risih karena Levi terus menatapku. Aku mulai kepanasan lagi, begitu juga wajahku. Tenggorokanku kering dan nafasku juga tertahan.

Levi berjalan melewatiku. "Temui aku di atap saat makan siang," bisiknya.

"Huh?" aku berbalik ke arahnya.

'Aku tidak salah dengar, kan? Levi tadi benar-benar mengatakan sesuatu, kan? Sesuatu tentang temui aku di atap saat makan siang. Atau aku hanya berimajinasi?'

Aku terpaku di tempat. Mengedipkan mata berkali-kali. Kemudian aku menampar pipiku.

"Sadarlah Chiharu! Dia tidak mungkin berkata seperti itu. Mengajakmu ketemuan di atap? Yang benar saja!" gumamku.

Aku melanjutkan perjalananku menuju kelas. Sejenak aku berpikir. "Mungkin aku datang saja, bisa saja tadi dia benar-benar mengatakannya. Kalau dia tidak ada di atap, aku akan bernyanyi saja."

# # #

Krieek...

Angin musim gugur yang dingin berhembus kencang. Aku memasuki atap, celingak-celinguk mencari keberadaan Levi. Setelah beberapa saat mencari, aku sadar kalau tidak ada seorangpun di sini.

"Ternyata aku memang berimajinasi. Hahh..." desahku. "Kalau begitu, aku akan bernyanyi."

Aku berjalan menuju pagar, memegang pagar yang dingin itu. Sembari menatap langit musim gugur, aku menarik nafas panjang dan mulai menyanyi lagu Hoshi no Nagareru Yoru Ni.

"Egao sakimasu you ni..." dengan itu nyanyianku berakhir.

Drap... Drap... Drap...

Aku mendengar langkah kaki seseorang di belakangku. Spontan aku langsung berbalik.