CHAPTER 3 - Join a Band?

Aku berjalan menuju pagar, memegang pagar yang dingin itu. Sembari menatap langit musim gugur, aku menarik nafas panjang dan mulai menyanyi lagu Hoshi no Nagareru Yoru Ni.

"Egao sakimasu you ni..." dengan itu nyanyianku berakhir.

Drap... Drap... Drap...

Aku mendengar langkah kaki di belakangku. Spontan aku langsung berbalik. Terlihat dua orang gadis menghampiriku dengan ragu.

"Ha-haii..." salah satu gadis itu melambaikan tangannya kepadaku.

Aku kebingungan. "Siapa kau?"

"Uh... aku Mai dan dia Karin," gadis itu terdiam sejenak. "Kami mendengar dari L-"

Puk!

Tiba-tiba Karin menutup mulut Mai. "Umm, tadi kami mendengarmu menyanyi dan suaramu indah sekali. M-maukah kau bergabung dengan band kami?"

Aku terkejut. Bagaimana aku menjawab mereka? Aku- aku dari dulu memang ingin bergabung dengan band. Tapi, aku... tidak yakin.

Aku menundukkan kepalaku. Jujur, aku bingung sekali saat ini. Aku tidak ingin terjebak dalam dunia pertemanan palsu yang kejam. Tapi aku tahu, jauh di dalam hatiku ada keinginan untuk bergabung.

Aku berusaha tegas, dengan yakin aku menatap mereka. "Aku tidak tertarik dengan band atau klub apapun. Hanya menyita waktu belajarku. Aku menolak tawaran kalian," aku berusaha terdengar meyakinkan.

"Ouh..." Mai menundukkan kepalanya. Karin juga terlihat bingung.

"Kalau kalian tidak ada urusan lagi denganku, aku akan pergi," ujarku melangkahkan kakiku.

"Tunggu!" seru Mai. Aku menghentikan langkahku.

"Kumohon! Vocalis band kami pindah ke luar negeri belum lama ini, jadi posisi vocalis kosong. Kumohon bergabunglah! Festival musim dingin tinggal 2 bulan lagi. Bantulah kami!" Mai menggenggam tangan kananku.

Aku hanya diam, tidak tahu harus bilang apa.

"Se-setelah festival kau boleh langsung keluar. Kami janji!" seru Karin cepat.

"Ayolah... bantu kami! Hanya sampai festival musim dingin selesai!" Mai memegang pundakku.

Aku melepaskan pegangannya. "Sudah ku bilang. Aku tidak tertarik dengan band atau klub apapun. Aku menolak tawaran kalian," kataku dingin.

Aku berjalan meninggalkan Mai dan Karin yang terpaku di tempat. Aku yakin keputusanku ini adalah keputusan yang tepat.

# # #

Waktu menunjukkan pukul 17:00. Matahari dengan semburat oranyenya menyinari daun yang berguguran. Hawa dingin semakin terasa saat ini. Dengan sedikit berlari, aku menuju toko.

Cling...

"Selamat datang Chiharu!" seru para pegawai.

"Hai semua!" seruku riang.

"Are? Mana mizuki?" tanya Eren yang sedang membersihkan rak manga.

"Dia ikut kursus mulai hari ini," kataku nyelonong ke ruang Hanji-san.

"Eh? Dia kan jenius sepertimu. Untuk apa ikut kursus?" tanya Eren.

"Iseng katanya. Memang aneh anak itu. Mana Hanji-san?" aku keluar dari ruangannya sambil memegang gitar.

"Bos sedang keluar. Katanya manga pesananmu baru datang minggu depan."

"Oh," kataku singkat.

Jrengg...

"Gitar ini sedikit sumbang," gumamku menyetel gitar Hanji-san.

"Lepaslah topengmu Chiharu," Mikasa berdiri di sampingku.

Aku mengangkat kepalaku. "Haruskah?"

"Bukankah kacamatamu mengganggu saat kau bermain gitar? Kau kan tidak cacat mata."

"Iya juga sih," aku melepas kacamataku dan menggerai rambut panjangku.

"Lagipula bukankah lebih baik kau jujur terhadap teman-temanmu?" Mikasa tiba-tiba mengangkat topik aneh.

"Kau tahu, semua orang benci otaku."

Mikasa mendesah. "Bukan itu maksudku. Yang ku maksud adalah penampilanmu? Bukankah lebih baik kau menjadi diri sendiri. Bukannya memakai topeng seperti ini. Jujur, kau terlihat aneh dengan kacamata dan rambut kuncir kuda."

Aku menghela nafas berat. "Ini sudah menjadi keputusanku. Aku berpikir dengan menjadi anak kutu buku yang jenius dengan penampilan cupu, orang lain akan menganggapku aneh dan tidak ingin bergaul denganku. Dengan cara itu aku bisa menghindari pertemanan yang mengerikan," kataku masih menyetel gitar. "Nah, sudah tidak sumbang."

Mikasa beranjak dari tempatnya, Ia berjalan menuju bagian cosplay.

"Semuanya, minta perhatian!" seruku kepada para pegawai.

Semua mata mengarah kepadaku. "Aku akan menyanyi sambil memainkan gitar! Mumpung enggak ada pelanggan," kataku menjulurkan lidah.

"Yeeyy! Hidup Chiharu!" seru Sasha.

Aku mulai memetik gitar. Aku berencana menyanyikan lagu Ai Kotoba versi Deco*27. Sambil tersenyum lebar, aku mulai bernyayi.

itsu mo boku no kokoro ga o-sewa ni natteiru you de
sasaetekureta anata-sama ni kansha, kansha.
kono go-on wo isshou de wasurenai uchi ni uchi ni himeta
omoi to tomo ni uta ni shitemimashita.
ai kotoba wa "ai, ga tou = arigatou"

Sepertinya hatiku selamanya akan berhutang kepadamu

Untuk selalu mendukungku, aku sangat berterimakasih

Aku tidak akan melupakan kebaikan ini selama aku hidup,

Bersama dengan perasaan ini aku akan menyembunyikannya dan mencoba menaruhnya dalam sebuah lagu.

Kata cintanya adalah terimakasih

boku toka kimi toka koi toka ai toka suki toka kirai toka,
mata utau ne.

Tentangku, tentangmu, tentang kasih sayang, tentang cinta, tentang menyukai seseorang, ataupun membenci mereka.

Aku akan menyanyikan semuanya sekali lagi.

ima kimi ga suki de teka kimi ga suki de
mushiro kimi ga suki de konna BAKAna boku wo
kimi wa suki de aishitekurete
konna uta kiite naitekurete arigatou

Saat ini aku jatuh cinta kepadamu, bagaimana harus ku katakan, aku jatuh cinta kepadamu

Lebih baik aku jatuh cinta kepadamu

Untuk orang yang bodoh sepertiku, kau memberikan kasih sayang mu kepadaku, kau memberiku semua cintamu

Untuk mendengarkan lagu seperti ini dan menangis bersamaku, aku sungguh berterimakasih.

nani shiteta? BAKA!
nani shiteta? (lol) BAKA!
"KIMI no koto omou igai nani mo, dekinai."

Apa yang ku lakukan? Bodoh!

Apa yang ku lakukan? (lol) Bodoh!

Aku tidak bisa memikirkan siapapun kecuali dirimu.

kimi ga suki de tte iu no wa uso de.
HONTO wa daisuki de kizutsuketakunakute
demo kimi ga suki de aishite kurete
konna uta atta ne tte kimi to waraitainda

Aku menyukaimu, itu bohong

Sebenarnya aku benar-benar menyukaimu

Aku hanya tidak ingin menyakitimu, tapi tetap saja,

Aku benar-benar menyukaimu, kau orang yang memberikanku semua cintamu

Aku ingin tertawa bersamamu, berkata "Jadi lagunya seperti ini..."

boku mitaina kimi ga sukina boku wa
kimi to kizutsukenai you ni mamoru tame ni
te wo tsunaide "zutto issho dakara."

Aku menyukaimu, kau yang mencerminkanku

Aku tidak akan pernah ingin menyakitimu pada akhirnya

Jadi aku bisa selalu melindungimu dengan tanganku. Aku akab berkata "Bagaimanapun kita akan bersama selamanya."

boku no kisetsu irodoru kimi kimi no shiawase tasukeru boku
bokura no namae kazaru uta wo nakimushi kara yakimushi he

Kau orang yang menerangi musim untukku. Aku orang yang mengabdikan kebahagiaanmu

Lagu ini dihiasi oleh keberadaan dan nama kita, dari kesedihan yang berubah menjadi sesuatu yang dicemburui.

Jrengg...

Aku mengakhiri nyanyianku dengan menghela nafas. Terdengar riuh tepuk tangan memenuhi toko. Aku memandangi sekitar, ada beberapa pelanggan yang ikut mendengarkan nyanyianku. Tak apa lah, mereka kan tidak mengenalku.

Aku berdiri dari tempat duduk, bermaksud untuk mengembalikan gitar. Seorang gadis mengahampiriku. Aku terkejut, gadis itu...

"Mai..." gumamku.

"A-anu... kau itu Chiharu, kan? Chiharu Fujisaki," Mai semakin mendekat, memperhatikan wajahku dengan seksama.

Aku menghindari pandangan Mai. "Sepertinya kau salah orang."

Tiba-tiba Sasha dan Connie berlarian ke arahku. "Chiharu Fujisaki-sama! Minta tanda tangan!" seru mereka heboh.

Aku menepuk keningku. "Dasar orang-orang bodoh!" seruku kepada mereka. Seketika mereka berhenti.

Mai memegang tanganku. "Kau berbohong. Kenapa harus berbohong?"

Aku hanya diam, tidak merespons perkataannya.

Mai mendesah, kemudian Ia tersenyum. "Aku tahu kau tidak akan mengubah keputusanmu. Tapi jika kau berubah pikiran, temui kami di ruang klub Jum'at ini pulang sekolah. Kami akan menanti," Mai berbalik menuju rak manga.

Tep!

Tiba-tiba Mai menghentikan langkahnya. "Kau tahu? Aku sangat ingin kau berada di band. Selain suaramu yang merdu, kau juga pandai memainkan gitar. Kau adalah vocalis yang sempurna untuk band kami. Kumohon datanglah, kami akan menunggu," Mai terdiam sejenak. "Kau terlihat cantik dengan penampilan seperti itu Chiharu."

Aku hanya diam di tempat. Sebenarnya aku kasihan kepada Mai, dia terus memintaku bergabung. Haruskah aku bergabung? Tapi jika aku bergabung, bagaimana dengan pendirian yang sudah lama aku pegang selama ini?

"Chiharu Fujisaki-sama, minta tanda tangan!" dengan riang Sasha menyerahkan pulpen dan kertas.

Aku mendesah. "Iya, iya," aku menandatangani kertas itu. "Connie, mana punyamu?"

Dengan ragu Connie menyerahkan kertasnya kepadaku. Aku menandatanganinya juga. "Sekarang jangan ganggu aku ya. Aku butuh waktu sendiri."

Aku berjalan lesu menuju pintu. Apa yang harus ku lakukan? Haruskah aku bergabung? Atau tidak?

Aku berjalan dan terus berjalan. Hari mulai gelap dan jalanan sepi.

"Kenapa sepi begini, ya? Biasanya ramai," kataku memandangi sekitar. "Untung saja sudah mau sampai rumah."

Tiba-tiba aku merasakan perasaan aneh. Aku merasa seperti... ada yang sedang mengikutiku. Tapi aku berusaha tenang dan menghilangkan segala pikiran negatif.

Drap... Drap... Drap...

Aku terus berjalan, tapi lama-kelamaan perasaan aneh itu semakin kuat. Aku tidak tahan lagi. Aku berbalik tiba-tiba.

Syut!

Aku melihat siluet seseorang barusan. Kemana dia pergi? Jadi seseorang benar-benar mengikutiku? Bulu kudukku meremang dan seluruh tubuhku merinding.

"SIAPA SIH YANG NGUNTITIN AKU?! KELUAR SINI!" seruku.

Hening. Tidak ada suara apapun.

"Aku harus cepet-cepet pulang."

Krek!

"Eh, apaan ni?" aku memungut barang yang ku injak tadi. Ternyata itu sebuah gantungan kunci. Ada tulisannya. "The Outbreak Band," gumamku membaca tulisan di gantungan kunci.

"Aku ambil saja lah, biar tahu rasa tu penguntit," aku berlari sekencang-kencangnya menuju rumahku.