CHAPTER 4 – This is Sucks

Pelajaran selanjutnya, olahraga. Aku sedang tidak mood sekarang. Tadi pagi Erwin menggangguku lagi. Apa dia tidak kapok?

"Fujisaki!" seru guru olahraga lantang.

Aku kaget setengah mati hingga terloncat. "Ya, pak?"

"Tolong kamu ambil sekeranjang bola voli di gudang penyimpanan! Dan..." guru olahraga terdiam, matanya menjelajahi murid di kelasku satu per satu. "Smith, bantu dia!"

Aku melirik Erwin sekilas. Ia tersenyum lebar, kemudian berlari ke arahku.

'Kenapa harus orang ini?! Tidak ada orang lain apa?'

Aku berjalan meninggalkan Erwin. Aku tidak butuh bantuan dari orang menyebalkan seperti dia.

"Tunggu Chiharu! Kenapa terburu-buru?" Erwin menyusulku, langkahnya jauh lebih cepat dariku.

Sesampainya di gudang penyimpanan, aku segera masuk ke dalam dan bermaksud mengambil bola voli.

"Ugghh..." aku berusaha mengangkat keranjang penuh bola voli yang berat itu.

Drap... Drap... Drap...

'Oh tidak! Dia sudah sampai!'

"Kenapa kau terburu-buru seperti ini, Chiharu?" Erwin menyandarkan tubuhnya di ambang pintu.

Aku mengabaikannya dan terus berusaha menyeret benda ini secepatnya. Sebelum orang itu melakukan hal yang aneh.

"Kenapa kau diam saja?" Erwin berjalan mendekatiku.

'Kumohon bergerak lebih cepat keranjang!'

Erwin mengangkat daguku dengan sedikit paksaan. "Kenapa kau tidak pernah meresponsku? Kau itu gadis yang beruntung bisa disukai oleh cowok paling populer di sekolah."

Huh? Populer? Apa dia membicarakan dirinya sendiri? Aku tidak tahu kalau dia sepopuler itu.

Brak!

Aku dan Erwin bersamaan menoleh ke asal suara. Di ambang pintu, berdiri seorang gadis dengan wajah merah padam dan nafasnya tidak beraturan. Tunggu dulu... bukannya dia salah satu fangirl nya Erwin?

"Fujisaki Chiharu!" Ia menghentakkan kakinya, menghampiriku.

"Siapa kau?" tanya Erwin.

Gadis itu terkejut. "Kau... kau lupa denganku Erwin? Aku ini fangirl mu, ingat?"

Erwin berpikir sejenak. "Aku tidak ingat."

Kesempatan! Aku harus kabur sekarang atau tidak sama sekali.

"Kau pikir kau mau kemana gadis jelek!" seru gadis itu.

"Gadis jelek? Kau memanggilnya gadis jelek?" nada bicara Erwin meninggi.

"Iya, bukankah dia jelek? Tidak punya teman, cupu, sok dekat sama kamu lagi."

Aku mengambil langkah kecil-kecil untuk menjauhi mereka, pelan-pelan.

"Bukankah kau lebih jelek? Aku membenci orang yang suka menghina orang lain tanpa melihat kekurangannya sendiri. Aku benci orang sepertimu," Erwin menatap langsung gadis itu.

Aku semakin dekat ke pintu. Sejauh ini aman, mereka tidak menyadari kalau aku berusaha kabur. Seraya mundur, aku melihat gadis itu terisak. Kemudian Ia berlari keluar gudang. Melihat gadis itu berlari, aku juga ikut kabur sebelum Erwin sadar.

"Hah... hah... hah..." aku berusaha mengatur nafasku. "Aman..."

Aku tiba di bawah pohon besar di dekat lapangan. Di sana aku bersembunyi dari Erwin dan juga guru olahraga.

"Hancur sudah reputasiku," aku mendesah dan menundukkan kepalaku. "Ya... setidaknya keadaan aman dari orang itu."

# # #

"Chiharu Fujisaki kelas 10-2 harap datang ke ruang BP sekarang juga. Sekali lagi, Chiharu Fujisaki kelas 10-2 harap datang ke ruang BP sekarang juga. Terima kasih."

Aku yang sedang memakan bento terkejut mendengar pengumuman itu. Semua pandangan tertuju padaku. Bahkan beberapa anak berbisik-bisik.

"Pasti gara-gara tadi aku bolos pelajarang olahraga," gumamku berjalan melalui pohon sakura besar di samping sekolah.

Pohon sakura besar ini tak berdaun saat ini. Mungkin karena hampir musim dingin. Rumornya jika seseorang menyatakan cinta di bawah pohon legendaris ini, maka hubungan cintanya akan berjalan mulus.

"Hmh, rumor bodoh," aku menyeringai saat mengingat rumor aneh itu.

Aku berhenti sejenak, memandangi pohon sakura besar tak berdaun itu. Aku sengaja lewat sini supaya aku bisa menghirup sedikit udara segar.

"Chotto!"

Suara itu terdengar umm... marah? Dan terdengar langkah kaki banyak orang yang asalnya dari belakang.

Aku tidak memerdulikan mereka. Aku tetap berjalan karena jam makan siang hampir habis.

"Aku bilang tunggu!" seru seseorang menarik tanganku kasar.

"Ugh!" aku dipaksa untuk berbalik menghadap mereka.

Plak!

Salah satu dari mereka menamparku keras, hingga kacamataku terjatuh. Aku memelototi mereka. Fangirls nya Erwin yang super menyebalkan.

"Jangan memelototi kami, dasar cewek jelek!" seru salah satu dari mereka.

Aku mengambil kacamataku yang terjatuh. Tanpa memerdulikan mereka, aku berbalik.

"Jangan mengacuhkan kami!" salah seorang gadis itu menarik rambutku.

Plak!

Aku memukul tangannya. "Jangan macam-macam denganku!"

"Heh, kau pikir kami takut dengan ancaman seperti itu?"

"Seharusnya kalian takut," aku mengambil kuda-kuda, bersiap untuk menghajar mereka.

# # #

Levi P.O.V

Aku berjalan menuju pohon sakura legendaris. Setiap aku merasa buruk, aku selalu duduk di bawah pohon besar itu sambil bergumam sendiri.

"Ribut-ribut apa itu?" gerutuku kesal saat mendengar segerombolan gadis ribut di bawah pohon sakura.

Aku terkejut saat melihat Chiharu dibully oleh fangirl sialan itu. Aku melangkahkan kakiku untuk menghampiri mereka, tetapi terhenti saat aku memikirkan sesuatu yang lain.

"Bagaimana kalau Chiharu..." aku menggelengkan kepalaku kuat. "Sial!"

Aku harus mengehentikan fangirls sialan itu. Aku tidak bisa membiarkan kepecundanganku menguasaiku terus-menerus.

Saat aku melangkahkan satu kaki, tiba-tiba guru BP berlari menghampiri Chiharu dan fangirls sialan itu.

Lagi-lagi aku tidak bisa menolong Chiharu. Mengapa aku sepengecut ini? SIAL! Mengapa juga saat akan menolong Chiharu aku selalu berpikir panjang? Padahal tadi adalah kesempatan yang besar!

"Dasar pengecut kau Levi! Beranilah untuk menatap matanya! Bukalah gorden kamarmu! Gandeng tangannya! Lindungi dia dalam pelukanmu!"

"Tidak mungkin aku bisa melakukan semua hal mustahil itu!" gerutuku menyingkirkan semua pikiranku.

# # #

Reader P.O.V

Aku dan fangirls menyebalkan itu disidang sampai pulang sekolah. Dan yang paling menyebalkan, waktu sidangku lebih panjang dari fangirls itu. Guru BP mengungkit tentang reputasiku sebagai murid jenius, dan hal menyebalkan lainnya yang berkaitan dengan 'murid jenius'.

Sejujurnya, aku lelah menjadi murid jenius. Selalu mendapat peringkat 1 di seluruh sekolah itu membosankan. Selalu dengan mudahnya menyelesaikan soal itu juga membosankan. Aku iri dengan anak-anak lain yang dapat merasakan pusingnya mengerjakan soal sulit, serunya jalan-jalan dengan teman, dan... berkencan.

Aku melangkahkan kakiku entah kemana. Aku hanya berjalan tak tentu arah sambil memikirkan takdirku yang tidak adil. Mengapa bintang memilihkan takdir yang seperti ini untukku?

Sampai akhirnya aku sampai di sebuah bangunan yang terpisah dari gedung sekolah. Dari luar aku dapat mendengar suara instrumen yang dimainkan tanpa nyanyian.

"Oh tidak! Ini ruang band!" seruku tanpa suara. "Apa yang harus ku lakukan? Mereka akan melihatku!"

Suara instrumen berhenti. Tanpa pikir panjang aku bersembunyi di samping jendela ruang band.

Aku mengintip dari jendela. Baguslah, mereka sedang asik mengobrol dan tidak melihat ke sini. Mataku menjelajahi seluruh ruangan, sampai akhirnya aku melihat sesuatu yang menarik. Anggota band itu memasang gantungan kunci di tas mereka, semuanya kecuali satu tas. Dan gantungan kunci itu persis seperti punya penguntit itu.

Dheg... Dheg...

Detak jantungku semakin cepat. "Salah satu dari personil band itu yang nguntit aku."

# # #

Karin P.O.V

"Nee Levi. Mana gantungan kuncimu?" tanyaku saat melihat gantungan kunci band tidak tergantung di tas Levi.

"Bukan urusanmu," kata Levi dingin.

"Itu urusan kami, Levi," Mike menimpali.

"Itu terjatuh."

"Huh? Jatuh? Terus enggak kamu cari?" seruku tidak terima kalau gantungan kunci itu hilang.

Levi hanya diam. Ia menikmati teh hitamnya. Aku mendengus dan berjalan menuju pintu.

"Nee, Karin- chan! Mau kemana?" seru Mai yang sedang menyetel bass nya.

"Beli minum di vending machine," kataku tanpa menoleh.

Kriek...

Entah mengapa tiba-tiba aku mengalihkan pandangan ke sebelah kiriku. Aku pun mendapati Chiharu yang sedang memandangi sesuatu di genggamannya.

"Fujisaki-san?" panggilku.