CHAPTER 5 (Gone)
Reader's P.O.V
"Fujisaki-san?" spontan aku menoleh ke asal suara itu.
'Ini buruk. Ini buruk. Ini buruk!'
Aku mengambil ancang-ancang untuk kabur dari Karin.
Grep!
Karin berhasil meraih lengan bajuku. Seketika keringat dingin mengucur ke pelipisku. Apa yang harus ku lakukan?
"Apa yang kau lakukan di sini, Fujisaki-san?" Karin mengeraskan suaranya di bagian 'Fujisaki-san'. Entah apa maksudnya.
"Etto... aku tadi hanya lewat," kataku menghindari tatapan mata Karin.
"Jangan berbohong. Tadi aku melihatmu berdiri di sana sambil memandangi sesuatu di genggamanmu."
"Chiharu?" seru Mai terburu-buru menghampiri Karin.
"Iya, dia tadi mengintip," kata Karin.
"Hey! Aku tidak mengintip!" sanggahku.
"Ayo masuk! Ayo masuk!" seru Mai menarikku masuk. "Ini bahkan belum hari Jum'at dan kau sudah datang! Baik sekali."
"A-aku hanya lewat!" seruku.
"Minna-san! Ini dia vocalis baru kita!" seru Mai.
"Hei! Aku tidak bilang ingin-" perkataanku langsung terhenti begitu melihat Levi yang sedang menyesap teh hitamnya.
Seketika aku terpaku. Tak percaya apa yang aku lihat saat ini.
"Dapat!" seru Karin.
"Hei! Kembalikan!" aku lengah hingga gantungan kunci yang ku genggam diambil Karin.
"Are? Ini kan..." kata Mai dan Karin bersamaan.
Aku hanya diam.
'Aku harus kabur sekarang juga. Sekarang atau aku akan dapat lebih banyak masalah.'
Brusshh...
Aku berlari sekencang-kencangnya menuju kelas. Aku sudah tidak peduli lagi apa yang terjadi dengan gantungan kunci itu. Dengan cepat aku menyambar tasku. Kemudian langsung pulang ke rumah. Sambil berjalan aku mengirimkan pesan singkat ke Mizuki.
'Aku langsung pulang. Banyak PR.'
Tap... tap... tap...
Aku memperlambat jalanku sampai akhirnya aku berhenti.
'Apa sebaiknya aku jalan-jalan sebentar?'
Tanpa pikir panjang, aku berjalan menuju pantai. Di kotaku memang ada pantai kecil. Mungkin aku bisa menenangkan pikiran disana.
# # #
Aku melepas sepatuku, menginjak pasir putih yang kasar. Aku berjalan maju sampai ke pasir basah, beberapa kali kakiku terkena air laut. Aku memejamkan mata seraya menikmati angin pantai di penghujung musim gugur yang dingin.
Drrt... Drrt...
Ponselku bergetar beberapa kali. Aku menghiraukannya dan tetap memejamkan mata menikmati angin dingin ini.
Perlahan aku membuka mataku, tampak Matahari yang hampir terbenam di horison. Semburat oranyenya menyinari wajahku. Aku sudah tidak bisa merasakan kakiku lagi, mungkin sudah mati rasa karena terus-menerus terkena ombak yang dingin.
# # #
Levi's P.O.V
Sialan! Mai sama Karin tidak percaya padaku. Mereka terus menginterogasiku. Arrghh! Apa yang harus ku lakukan?
Aku mengingat-ingat kejadian tadi, setelah Chiharu lari, Mai dan Karin menginterogasiku. Mereka terus menanyakan tentang gantungan kunci itu dan bagaimana bisa sampai ke tangan Chiharu. Mereka tidak percaya sepatah kata pun yang ku ucapkan. Payah!
Tok tok tok!
"Masuk aja napa sih?!" seruku jengkel.
Kepala adikku menyembul dari ambang pintu. "Levi-nii, dipanggil Ibu. Disuruh ke bawah sekarang."
Brak!
Dia membanting pintu kamarku dengan keras.
"Tch, bocah sialan," gerutuku seraya melangkahkan kaki keluar kamar.
Drap... drap... drap...
"Levi, kamu lihat Chiharu nggak?" tanya Ibu dengan wajah panik.
Aku mengerutkan dahi. "Memang kenapa?"
"Dia hilang, sudah ku telpon tapi tidak diangkat. Dia sempat mengirim pesan singkat ke adiknya, Ia bilang langsung pulang. Tapi sampai sekarang Dia belum pulang," kepala Ibu Chiharu menyembul dari balik badan Ibu.
Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
'Kemana Dia pergi? Apa Aku harus mencarinya?'
"Ibu akan ikut mencari Chiharu. Kamu jaga rumah ya," omongan Ibu membuyarkan lamunanku.
"Tunggu, aku akan ikut mencari," aku berlari menyambar mantelku, kemudian bergegas menuju garasi untuk mengambil sepeda motor.
Brumm...
Aku mengegas motor menuju pagar.
"Jika Kamu menemukannya, kabari Ibu. Dan jika semisal Ia tidak ketemu, Kamu langsung pulang saja, akan Kami laporkan ke kantor polisi," kata Ibu.
Aku mengangguk kemudian langsung melesat untuk mencarinya.
"Harus ku mulai darimana? Kota ini luas..." gumamku. "Aku mulai dari sekolah."
Sesampainya di sekolah, gerbang tertutup dan terkunci rapat. Tidak ada tanda-tanda manusia disana. Tanpa pikir panjang, aku memanjat pagar sekolah. Dengan tergesa-gesa, aku mencari Chiharu di seluruh penjuru sekolah.
"Hah... hah... hah... sepertinya dia tidak disini," gumamku dengan nafas terengah-engah.
'Aku harus cepat menemukannya, Dia bisa saja kedinginan diluar sana.'
Brumm...
Aku kembali mencari Chiharu. Di taman kota, di gang sempit, di restoran, aku sudah mencari kemana pun tapi tetap saja nihil.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku mantel, lebih baik ku hubungi Ibu. Aku gagal mencarinya.
"Tunggu... aku merasa masih ada satu tempat lagi yang belum ku cari," aku berpikir sejenak, sepertinya sudah ku cari ke semua tempat. Tapi entah mengapa aku merasa masih ada satu tempat lagi yang belum ku cari.
"Ahh..." sebuah tempat terlintas di pikiranku. Tanpa basa-basi aku langsung melesat.
"Dia pasti sudah gila, ke pantai di penghujung musim gugur. Yang benar saja," gumamku.
Ciiitt!
Roda motorku mendecit di jalanan licin. Mungkin aku terlalu tiba-tiba menarik rem. Ah, mana aku peduli. Sekarang aku sudah di pantai, tujuanku hanya satu, menemukan Chiharu dan mendekapnya.
"Dingin banget... semoga Chiharu baik-baik saja," gumamku sambil tergesa-gesa menuruni tangga menuju pantai.
Aku mengarahkan pandangan ke semua arah, berharap Chiharu ada disini.
"CHIHARU!"
Tidak ada jawaban.
"Tch," tanpa berpikir ke arah mana aku harus mencari, kakiku tetap saja melangkah tidak jelas kemana arahnya.
# # #
Reader's P.O.V
'Disini gelap sekali dan dingin. Dimana ya ini? Uhh... aku membeku! Apa bintang-bintang marah sama aku ya?'
Brusshh...
Aku merasakan angin yang dingin sekali berhembus membelai kulitku. Tapi, aku tidak butuh angin ini. Aku hanya ingin tempat yang hangat.
'Are? Aku merasa... sedikit hangat. Kenapa tiba-tiba?'
# # #
Levi's P.O.V
"Syukurlah aku menemukanmu," aku mendekap Chiharu erat, berusaha keras untuk membuatnya hangat.
Seluruh tubuhnya pucat dan dingin sekali, sedingin es. Ia bahkan melepas sepatunya, mantelnya pun basah kuyup.
Aku mengirim pesan singkat ke Ibu bahwa aku sudah menemukan Chiharu, dan aku juga menelpon ambulans. Dengan kondisinya yang seperti ini, aku tidak yakin dia baik-baik saja.
"Bertahanlah Chiharu..." kataku lirih.
